Nasihat: Bertanyalah tentang Ilmu yang Bermanfaat dan Mengantarkan kepada Amal
Nasihat: Bertanyalah tentang Ilmu yang Bermanfaat dan Mengantarkan kepada Amal
☷ Daftar Isi Artikel
Saudaraku @semua yang dirahmati Allah,
Hendaknya kita senantiasa memperhatikan tujuan ketika bertanya tentang agama. Jangan sampai waktu, pikiran, dan kesempatan yang Allah berikan habis untuk memperbanyak pertanyaan yang tidak membawa manfaat bagi keimanan, ibadah, dan akhlak kita.
Utamakanlah pertanyaan yang jawabannya dapat kita pahami, yakini, amalkan, dan menjadi sebab bertambah beratnya timbangan kebaikan kita pada hari kiamat.
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan katakanlah: Wahai Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.” (QS. Thaha: 114)
Allah juga berfirman:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh.” (QS. Al-‘Ashr: 1–3)
Perhatikanlah, Allah tidak hanya menyebutkan keimanan, tetapi juga menggandengkannya dengan amal saleh.
1. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membuahkan amal
Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله berkata:
“Dahulu, apabila seseorang menuntut ilmu, tidak lama kemudian pengaruh ilmu itu terlihat pada kekhusyukannya, pandangannya, lisannya, tangannya, salatnya, dan kezuhudannya.”
(Diriwayatkan oleh Ad-Darimi dalam Sunan-nya, dalam pembahasan ilmu.)
Inilah ilmu yang seharusnya kita cari: ilmu yang menjadikan salat lebih khusyuk, hati lebih ikhlas, lisan lebih terjaga, akhlak lebih baik, dan kehidupan lebih dekat kepada Allah.
2. Jangan menjadikan ilmu sekadar bahan pembicaraan
Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه bahwa beliau berkata:
“Wahai para pembawa ilmu, amalkanlah ilmu kalian. Sesungguhnya orang berilmu adalah orang yang mengetahui kemudian mengamalkannya, dan amalnya sesuai dengan ilmunya.”
(Dinukil dalam Jami’ Bayan Al-‘Ilm wa Fadhlih karya Ibnu Abdil Barr.)
Maka, jangan sampai kita mengetahui banyak persoalan agama, tetapi masih lalai menjaga salat, mudah menyakiti sesama, gemar menggunjing, atau belum bersungguh-sungguh memperbaiki hati.
3. Setiap ilmu akan dimintai pertanggungjawaban
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya, untuk apa dihabiskan, dan tentang ilmunya, apa yang telah diamalkannya.”
(HR. At-Tirmidzi, no. 2417, bagian dari hadis yang lebih panjang.)
Perhatikanlah, yang akan ditanyakan bukan hanya seberapa banyak ilmu yang kita kumpulkan, tetapi juga apa yang telah kita lakukan dengan ilmu tersebut.
4. Carilah ilmu yang memberatkan timbangan kebaikan
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Dua kalimat yang ringan diucapkan oleh lisan, berat dalam timbangan, dan dicintai oleh Ar-Rahman, yaitu Subhanallahi Al-‘Azhim dan Subhanallahi wa Bihamdih.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Betapa banyak amal sederhana yang pahalanya sangat besar, tetapi justru jarang kita tanyakan, pelajari, dan amalkan.
5. Pertanyaan yang sebaiknya kita utamakan
Marilah memperbanyak pertanyaan seperti:
- Bagaimana cara memperbaiki tauhid dan keikhlasan?
- Bagaimana agar salat lebih khusyuk dan diterima Allah?
- Amalan apa yang paling dicintai Allah dan mampu kita kerjakan secara rutin?
- Bagaimana cara berbakti kepada orang tua dan menjaga hak keluarga?
- Bagaimana menjaga lisan dari gibah, dusta, dan menyakiti orang lain?
- Bagaimana cara membersihkan hati dari riya, ujub, sombong, dan hasad?
- Bagaimana agar kita istiqamah, mudah bertobat, dan mendapatkan husnul khatimah?
Semua ini merupakan pertanyaan yang langsung berkaitan dengan kehidupan kita dan dapat mendorong lahirnya amal saleh.
Namun, bukan berarti pembahasan teori, akidah, sejarah, atau persoalan ilmiah tidak bermanfaat. Ilmu-ilmu tersebut juga sangat penting apabila membantu memahami agama, meluruskan keyakinan, membantah kesesatan, atau menjadi sarana mengamalkan syariat. Yang hendaknya dihindari ialah perdebatan dan pertanyaan yang tidak memiliki manfaat yang jelas, terlebih apabila melalaikan kewajiban yang lebih utama.
Penutup
Saudaraku, umur kita terbatas, sedangkan perjalanan menuju akhirat sangat panjang.
Jangan sampai kita sibuk mengetahui banyak hal, tetapi sedikit mengamalkannya. Jangan pula kita merasa cukup dengan banyaknya pertanyaan dan jawaban, sementara hati belum berubah dan amal belum bertambah.
Rasulullah ﷺ mengajarkan doa:
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, jiwa yang tidak pernah merasa puas, dan doa yang tidak dikabulkan.”
(HR. Muslim, no. 2722)
Karena itu, mari kita arahkan pertanyaan-pertanyaan kita kepada ilmu yang bermanfaat, memperbaiki iman, membimbing amal, membersihkan hati, dan menjadi pemberat timbangan kebaikan pada hari kiamat.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang tidak hanya pandai bertanya dan mengetahui, tetapi juga bersungguh-sungguh mengamalkan ilmu yang telah dipelajari.
والله أعلم بالصواب.