Durus Minas Sirah – Persaudaraan antara Kaum Muhajirin dan Ansar
Serial Terjemahan Kitab Durūs min as-Sīrah
Persaudaraan antara Kaum Muhajirin dan Ansar
لَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ ﷺ الْمَدِينَةَ آخَى بَيْنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ، وَكَانُوا تِسْعِينَ رَجُلًا، نِصْفُهُمْ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ، وَنِصْفُهُمْ مِنَ الْأَنْصَارِ، آخَى بَيْنَهُمْ عَلَى الْمُسَاوَاةِ، وَالتَّوَارُثِ بَعْدَ الْمَوْتِ، فَلَمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَىٰ بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ﴾ رُدَّ التَّوَارُثُ، وَبَقِيَ عَقْدُ الْأُخُوَّةِ.
Ketika Nabi ﷺ tiba di Madinah, beliau mempersaudarakan kaum Muhajirin dan kaum Ansar. Jumlah mereka adalah sembilan puluh orang laki-laki, separuh berasal dari kaum Muhajirin dan separuh lainnya dari kaum Ansar. Rasulullah ﷺ menjalin persaudaraan di antara mereka atas dasar persamaan hak dan bahkan saling mewarisi apabila salah seorang di antara mereka meninggal dunia. Namun, ketika Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan firman-Nya: “Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah, sebagian mereka lebih berhak terhadap sebagian yang lain menurut Kitab Allah.” (QS. Al-Anfal: 75) Maka ketentuan saling mewarisi berdasarkan ikatan persaudaraan tersebut dihapus, sedangkan ikatan persaudaraan di antara mereka tetap dipertahankan.
وَلَقَدْ تَسَابَقَ الْأَنْصَارُ فِي إِيوَاءِ إِخْوَانِهِمُ الْمُهَاجِرِينَ، وَأَكْرَمُوهُمْ، وَآثَرُوهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ، وَعَرَضُوا عَلَيْهِمْ أَنْ يُقَاسِمُوهُمْ أَمْوَالَهُمْ وَمَزَارِعَهُمْ، وَقَدْ أَثْنَى اللَّهُ عَلَيْهِمْ فِي قَوْلِهِ: ﴿وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾.
Kaum Ansar berlomba-lomba memberikan tempat tinggal kepada saudara-saudara mereka dari kalangan Muhajirin. Mereka memuliakan dan mendahulukan kepentingan kaum Muhajirin daripada kepentingan diri mereka sendiri. Bahkan, kaum Ansar menawarkan kepada saudara-saudara mereka dari kalangan Muhajirin untuk berbagi harta kekayaan dan lahan pertanian milik mereka. Allah telah memberikan pujian kepada kaum Ansar melalui firman-Nya: “Dan orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang-orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin), dan mereka mengutamakan (Muhajirin) atas dirinya sendiri, sekalipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)
وَكَانَ لِهَذِهِ التَّضْحِيَةِ أَثَرٌ بَالِغٌ فِي نُفُوسِ الْمُهَاجِرِينَ، حَتَّى إِنَّهُمْ قَالُوا: «يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا رَأَيْنَا قَوْمًا قَدِمْنَا عَلَيْهِمْ أَحْسَنَ مُوَاسَاةً فِي قَلِيلٍ، وَلَا أَحْسَنَ بَذْلًا فِي كَثِيرٍ مِنْهُمْ، لَقَدْ حَسِبْنَا أَنْ يَذْهَبُوا بِالْأَجْرِ كُلِّهِ».
Pengorbanan yang begitu besar tersebut memberikan pengaruh yang sangat mendalam dalam hati kaum Muhajirin. Bahkan, mereka berkata kepada Rasulullah ﷺ: “Wahai Rasulullah, kami belum pernah melihat suatu kaum yang kami datangi yang lebih baik dalam memberikan bantuan ketika mereka memiliki sedikit harta, dan lebih dermawan dalam memberikan sesuatu ketika mereka memiliki banyak harta, dibandingkan mereka. Sungguh, kami sampai mengira bahwa mereka akan memperoleh seluruh pahala.”
وَلَقَدْ أَثْنَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَلَى الْأَنْصَارِ، فَقَالَ: «لَوْلَا الْهِجْرَةُ لَكُنْتُ امْرَأً مِنَ الْأَنْصَارِ، وَلَوْ سَلَكَ النَّاسُ وَادِيًا أَوْ شِعْبًا لَسَلَكْتُ وَادِيَ الْأَنْصَارِ وَشِعْبَهُمْ».
Rasulullah ﷺ juga memberikan pujian kepada kaum Ansar. Beliau bersabda: “Seandainya bukan karena hijrah, niscaya aku menjadi salah seorang dari kaum Ansar. Seandainya manusia menempuh suatu lembah atau jalan di antara dua gunung, niscaya aku akan menempuh lembah dan jalan yang ditempuh oleh kaum Ansar.”