Tatsqif

Di Gua Hira

Di Gua Hira

Diriwayatkan dari Abdullah bin az-Zubair radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah ﷺ biasa berkhalwat (berdiam diri untuk beribadah) di Gua Hira selama satu bulan setiap tahun. Kebiasaan ini termasuk amalan yang juga dilakukan oleh sebagian orang Quraisy pada masa jahiliah. Tradisi tersebut merupakan sisa-sisa ajaran Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘alaihimassalam yang masih mereka pertahankan.

Yang dimaksud dengan at-tahannuts (التَّحَنُّث) ialah membersihkan diri dari dosa-dosa dan berusaha keluar darinya. Ada pula yang mengatakan bahwa asal katanya adalah at-taḥannuf (التَّحَنُّف), yaitu berasal dari kata al-ḥanīfiyyah (الحنيفية), agama yang lurus. Apa pun asal katanya, baik tahannuts maupun tahannuf, keduanya menunjukkan makna meninggalkan keburukan dan melepaskan diri darinya.

Karena itu, berkhalwat menjadi salah satu kebiasaan orang-orang Quraisy yang masih memiliki semangat beragama. Rasulullah ﷺ sendiri memang menyukai kesendirian untuk beribadah, baik kebiasaan itu merupakan warisan masyarakat Quraisy maupun berasal dari kecenderungan beliau sendiri.

Tempat yang paling beliau sukai untuk berkhalwat adalah Gua Hira, yang letaknya jauh dari keramaian Kota Makkah. Beliau menghabiskan beberapa malam di sana, bahkan terkadang tinggal selama satu bulan penuh, kemudian kembali ke rumah.

Peran Khadijah radhiyallahu ‘anha

Khadijah radhiyallahu ‘anha senantiasa memperhatikan keadaan beliau. Sesekali beliau datang menjenguk, terutama apabila masa khalwat Rasulullah ﷺ berlangsung cukup lama. Beliau membawakan makanan dan minuman, duduk menemani beliau beberapa saat, kemudian membiarkan Rasulullah ﷺ kembali melanjutkan ibadah dan perenungannya.

Dalam hal ini Khadijah merupakan penolong terbaik bagi Rasulullah ﷺ.

Beliau:

mencukupi seluruh kebutuhan rumah tangga,

mengurus anak-anak,

mengatur seluruh urusan rumah ketika Rasulullah ﷺ tidak berada di rumah.

Beliau adalah wanita yang bijaksana, berpengalaman, dan sangat memahami keadaan suaminya.

Karena itu, beliau menjadi istri salehah yang menghadirkan ketenangan bagi Rasulullah ﷺ, menggantikan kasih sayang seorang ibu dan kelembutan seorang ayah yang telah lama beliau kehilangan.

Allah Ta’ala berfirman:

> ﴿وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً﴾

“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan bagi kalian pasangan-pasangan dari jenis kalian sendiri agar kalian memperoleh ketenangan kepadanya. Dan Dia menjadikan di antara kalian rasa kasih sayang dan rahmat.”
(QS. Ar-Rum: 21)

Turunnya Wahyu Pertama

Pada malam Senin, setelah berlalu delapan belas malam bulan Ramadan—ada pula pendapat malam kedua puluh empat atau malam ketujuh belas—dimulailah pengangkatan beliau sebagai Rasul dengan turunnya wahyu pertama.

Allah Ta’ala berfirman:

> ﴿اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ۝ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ﴾

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.”
(QS. Al-‘Alaq: 1–2)

Ketika Rasulullah ﷺ berada di Gua Hira, Malaikat Jibril datang dan berkata:

> “اقْرَأْ”
“Bacalah!”

Beliau menjawab:

> “مَا أَنَا بِقَارِئٍ”

“Aku tidak bisa membaca.”

Kemudian Jibril memeluk beliau dengan sangat kuat hingga beliau merasa sangat kepayahan, lalu melepaskannya.

Jibril kembali berkata:

> “اقْرَأْ”

Beliau menjawab lagi:

> “مَا أَنَا بِقَارِئٍ”

Hal itu terjadi sebanyak tiga kali.

Setelah itu Jibril membacakan firman Allah:

> ﴿اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ۝ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ ۝ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ ۝ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ ۝ عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ﴾

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”
(QS. Al-‘Alaq: 1–5)

Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 3, 4953) dan Muslim (no. 160) dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Kepulangan Rasulullah ﷺ kepada Khadijah

Setelah menerima wahyu pertama, Rasulullah ﷺ pulang dalam keadaan jantung beliau berdebar-debar karena sangat terkejut.

Beliau masuk menemui Khadijah seraya berkata:

> «زَمِّلُونِي، زَمِّلُونِي»

“Selimutilah aku, selimutilah aku!”

Maka Khadijah pun menyelimuti beliau hingga rasa takut itu hilang.

Kemudian Rasulullah ﷺ menceritakan seluruh peristiwa yang beliau alami dan berkata:

> «لَقَدْ خَشِيتُ عَلَى نَفْسِي»

“Sungguh aku khawatir terhadap diriku.”

Namun Khadijah yang bijaksana sama sekali tidak merasa takut.

Beliau berkata:

> «كَلَّا وَاللَّهِ، مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا، إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ، وَتَحْمِلُ الْكَلَّ، وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ، وَتَقْرِي الضَّيْفَ، وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ»
Artinya:

> “Tidak! Demi Allah, Allah tidak akan pernah menghinakanmu. Engkau menyambung silaturahmi, menolong orang yang lemah, membantu orang yang tidak memiliki apa-apa, memuliakan tamu, dan menolong orang-orang yang tertimpa musibah dalam menegakkan kebenaran.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 3) dan Muslim (no. 160).

Khadijah Membawa Rasulullah ﷺ Menemui Waraqah bin Naufal

Setelah mendengar kisah turunnya wahyu, Khadijah radhiyallahu ‘anha segera membawa Rasulullah ﷺ menemui sepupunya, Waraqah bin Naufal.

Waraqah adalah seorang yang telah lanjut usia. Tubuhnya telah lemah dan penglihatannya hampir hilang. Pada masa jahiliah ia telah memeluk agama Nasrani, namun ia dikenal sebagai orang yang memiliki pengetahuan tentang Taurat dan Injil.

Khadijah berkata kepadanya,
يا ابن عم، اسمع من ابن أخيك.
> “Wahai putra pamanku, dengarkanlah cerita anak saudaramu ini.”

Waraqah bertanya,
فقال: يا ابن أخي، ماذا ترى؟
> “Wahai anak saudaraku, apa yang engkau lihat?”
فأخبره رسول الله صلى الله عليه وسلم ما رأى.
Rasulullah ﷺ pun menceritakan seluruh kejadian yang beliau alami di Gua Hira.

Mendengar penuturan tersebut, Waraqah berkata:

> «سُبُّوحٌ سُبُّوحٌ، هَذَا النَّامُوسُ الَّذِي كَانَ يَنْزِلُ عَلَى مُوسَى، يَا لَيْتَنِي فِيهَا جَذَعًا، لَيْتَنِي أَكُونُ حَيًّا حِينَ يُخْرِجُكَ قَوْمُكَ»

Artinya:

> “Mahasuci Allah! Mahasuci Allah! Inilah An-Namus (Jibril) yang dahulu turun kepada Nabi Musa. Andai aku masih muda dan kuat. Andai aku masih hidup ketika kaummu mengusirmu.”

Rasulullah ﷺ merasa heran lalu bertanya:

> «أَوَمُخْرِجِيَّ هُمْ؟»

“Apakah mereka benar-benar akan mengusirku?”

Waraqah menjawab:

> «نَعَمْ، لَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِمِثْلِ مَا جِئْتَ بِهِ إِلَّا عُودِيَ، وَإِنْ يُدْرِكْنِي يَوْمُكَ أَنْصُرْكَ نَصْرًا مُؤَزَّرًا»
Artinya:

> “Ya. Tidak ada seorang pun yang datang membawa seperti apa yang engkau bawa melainkan pasti dimusuhi. Apabila aku masih hidup hingga saat itu, sungguh aku akan menolongmu dengan pertolongan yang kuat.”

Namun tidak lama setelah peristiwa itu, Waraqah pun wafat.

Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 3, 4953) dan Muslim (no. 160).

Riwayat Ibnu Hisyam

Dalam riwayat Ibnu Hisyam disebutkan bahwa Khadijah terlebih dahulu menceritakan kejadian tersebut kepada Waraqah.

Waraqah berkata:
والذي نفس ورقة بيده، لئن كنتِ صدقْتِني يا خديجة لقد جاءه الناموس الأكبر الذي كان يأتي موسى، وإنه لنبي هذه الأمة.
> “Demi Zat yang jiwa Waraqah berada di tangan-Nya, jika apa yang engkau ceritakan benar, maka sungguh telah datang kepada Muhammad An-Namus al-Akbar (Jibril) yang dahulu datang kepada Musa. Sungguh ia adalah nabi umat ini.”

Kemudian suatu ketika Waraqah bertemu Rasulullah ﷺ ketika beliau sedang thawaf di sekitar Ka’bah.

Ia berkata:

> “Wahai anak saudaraku, ceritakanlah kepadaku apa yang engkau lihat dan dengar.”

Rasulullah ﷺ pun menceritakannya kembali.

Setelah itu Waraqah berkata:
والذي نفسي بيده، إنك لنبي هذه الأمة.
> “Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh engkau adalah nabi umat ini.”

Di akhir pertemuan tersebut, Waraqah mencium kepala Rasulullah ﷺ sebagai bentuk penghormatan.

Kedudukan Waraqah bin Naufal

Suatu hari Rasulullah ﷺ ditanya tentang Waraqah.

Beliau bersabda:

> «قَدْ رَأَيْتُهُ، فَرَأَيْتُ عَلَيْهِ ثِيَابَ بَيَاضٍ، فَأَحْسَبُهُ لَوْ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ يَكُنْ عَلَيْهِ ثِيَابُ بَيَاضٍ»
Artinya:

> “Aku telah melihatnya mengenakan pakaian putih. Menurut dugaanku, seandainya ia termasuk penghuni neraka, tentu ia tidak akan mengenakan pakaian putih.”

Dalam riwayat lain beliau bersabda:

> «أَبْصَرْتُهُ فِي بُطْنَانِ الْجَنَّةِ وَعَلَيْهِ السُّنْدُسُ»

Artinya:

> “Aku melihatnya berada di bagian dalam surga dengan mengenakan pakaian dari sutra halus.”

> Catatan: Hadis-hadis tentang keadaan Waraqah diperselisihkan tingkat kesahihannya oleh para ulama. Sebagiannya dinilai hasan, sementara sebagian lainnya dilemahkan. Namun maknanya menunjukkan harapan baik terhadap Waraqah karena ia membenarkan kenabian Rasulullah ﷺ.

Zaid bin ‘Amr bin Nufail

Rasulullah ﷺ juga pernah ditanya tentang Zaid bin ‘Amr bin Nufail, seorang pencari agama yang lurus sebelum datangnya Islam.

Beliau bersabda:

> «يُبْعَثُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أُمَّةً وَحْدَهُ»

Artinya:

> “Pada hari Kiamat ia akan dibangkitkan sebagai satu umat tersendiri.”

Hadis ini dinilai hasan oleh sejumlah ulama, di antaranya Syaikh al-Albani dalam As-Silsilah ash-Shahihah.

Abu Thalib

Rasulullah ﷺ juga pernah ditanya tentang pamannya, Abu Thalib.

Beliau bersabda:

> «أَخْرَجْتُهُ مِنْ غَمَرَةٍ مِنْ جَهَنَّمَ إِلَى ضَحْضَاحٍ مِنْهَا»

Artinya:

> “Aku mengeluarkannya dari bagian neraka yang paling dalam menuju bagian yang dangkal.”

Dalam riwayat yang lebih masyhur disebutkan:

> «إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا أَبُو طَالِبٍ، وَهُوَ مُنْتَعِلٌ بِنَعْلَيْنِ يَغْلِي مِنْهُمَا دِمَاغُهُ»

Artinya:

> “Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan azabnya adalah Abu Thalib. Ia memakai dua sandal dari api sehingga otaknya mendidih karenanya.”
HR. Al-Bukhari (3883) dan Muslim (210).

Kedudukan Khadijah radhiyallahu ‘anha

Rasulullah ﷺ juga pernah ditanya mengenai Khadijah radhiyallahu ‘anha, karena beliau wafat sebelum sebagian besar syariat Islam disempurnakan.

Beliau bersabda:

> «أَبْصَرْتُهَا عَلَى نَهْرٍ فِي الْجَنَّةِ فِي بَيْتٍ مِنْ قَصَبٍ، لَا صَخَبَ فِيهِ وَلَا نَصَبَ»

Artinya:

> “Aku melihatnya berada di tepi sungai di surga, di sebuah rumah dari mutiara berongga, yang di dalamnya tidak ada kebisingan dan tidak ada kelelahan.”

Dalam riwayat sahih disebutkan bahwa Malaikat Jibril datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata:

> «بَشِّرْ خَدِيجَةَ بِبَيْتٍ فِي الْجَنَّةِ مِنْ قَصَبٍ، لَا صَخَبَ فِيهِ وَلَا نَصَبَ»
Artinya:

> “Sampaikanlah kabar gembira kepada Khadijah tentang sebuah rumah di surga yang terbuat dari mutiara berongga, yang di dalamnya tidak ada kebisingan dan tidak ada keletihan.”
HR. Al-Bukhari (3820) dan Muslim (2432).

Di Gua Hira (Bagian 3 – Terakhir)

Terhentinya Wahyu (فترة الوحي)

Setelah peristiwa turunnya wahyu pertama di Gua Hira, wahyu berhenti turun untuk beberapa waktu (فترة الوحي).

Keadaan ini membuat Rasulullah ﷺ sangat bersedih dan dada beliau terasa sempit. Beliau sangat merindukan turunnya wahyu kembali. Walaupun pada awalnya beliau merasa takut ketika pertama kali bertemu Jibril, namun setelah itu Allah menanamkan kerinduan yang mendalam di dalam hati beliau untuk kembali menerima wahyu.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:

> «بَيْنَمَا أَنَا أَمْشِي، إِذْ سَمِعْتُ صَوْتًا مِنَ السَّمَاءِ، فَرَفَعْتُ بَصَرِي، فَإِذَا الْمَلَكُ الَّذِي جَاءَنِي بِحِرَاءٍ جَالِسٌ عَلَى كُرْسِيٍّ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، فَرُعِبْتُ مِنْهُ، فَرَجَعْتُ، فَقُلْتُ: زَمِّلُونِي، زَمِّلُونِي»
Artinya:

> “Ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit. Aku pun mengangkat pandanganku, ternyata malaikat yang dahulu datang kepadaku di Hira sedang duduk di atas sebuah kursi antara langit dan bumi. Aku pun merasa takut kepadanya. Lalu aku pulang dan berkata: ‘Selimutilah aku! Selimutilah aku!'”

Maka Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya:

> ﴿يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ ۝ قُمْ فَأَنْذِرْ ۝ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ ۝ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ ۝ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ ۝ وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ﴾

“Wahai orang yang berselimut! Bangunlah, lalu berilah peringatan! Agungkanlah Tuhanmu! Bersihkanlah pakaianmu! Tinggalkanlah segala bentuk najis dan kemusyrikan! Dan janganlah engkau memberi dengan maksud memperoleh balasan yang lebih banyak.”
(QS. Al-Muddatstsir: 1–6)

Takhrij: Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 4954) dan Muslim (no. 161).

Surah Al-Muddatstsir Bukan Wahyu Pertama Secara Mutlak

Sebagian riwayat menyebutkan bahwa Surah Al-Muddatstsir adalah wahyu pertama yang turun.

Namun yang benar—sebagaimana dijelaskan para ulama—ialah:

Wahyu pertama secara mutlak adalah Surah Al-‘Alaq ayat 1–5.

Adapun Surah Al-Muddatstsir merupakan wahyu pertama yang turun setelah terhentinya wahyu beberapa waktu (فترة الوحي).

Inilah pendapat yang dipilih oleh jumhur ulama berdasarkan penggabungan seluruh riwayat yang sahih.

Kecerdasan Khadijah dalam Memastikan Bahwa yang Datang Adalah Malaikat

Di antara kisah yang menunjukkan kecerdasan, ketenangan, dan kebijaksanaan Khadijah radhiyallahu ‘anha adalah apa yang diriwayatkan bahwa suatu hari beliau berkata kepada Rasulullah ﷺ:

> “Apakah engkau dapat memberitahuku apabila sahabatmu (yakni Jibril) datang kepadamu?”

Rasulullah ﷺ menjawab,

> «نَعَمْ»

“Ya.”

Khadijah berkata,

> “Kalau begitu, apabila ia datang lagi, beritahukanlah kepadaku.”

Beberapa waktu kemudian Jibril datang.

Rasulullah ﷺ berkata,

> “Wahai Khadijah, Jibril telah datang.”

Khadijah berkata,

> “Kalau begitu, bangunlah dan duduklah di atas paha kiriku.”

Beliau pun duduk di atas paha kiri Khadijah.

Khadijah bertanya,

> “Apakah engkau masih melihatnya?”

Beliau menjawab,

> «نَعَمْ»

“Ya.”

Kemudian Khadijah berkata,

> “Sekarang pindahlah ke paha kananku.”

Beliau pun berpindah.

Khadijah kembali bertanya,

> “Apakah engkau masih melihatnya?”

Beliau menjawab,

> «نَعَمْ»

“Ya.”

Kemudian Khadijah berkata,

> “Sekarang duduklah di pangkuanku.”

Beliau pun duduk di pangkuannya.

Khadijah bertanya lagi,

> “Apakah engkau masih melihatnya?”

Beliau menjawab,

> «نَعَمْ»

“Ya.”

Lalu Khadijah membuka kerudungnya (khimarnya), kemudian bertanya lagi,

> “Apakah engkau masih melihatnya?”

Rasulullah ﷺ menjawab,

> «لَا»

“Tidak.”

Maka Khadijah berkata,

> «يَا ابْنَ عَمِّ، اثْبُتْ وَأَبْشِرْ، فَوَاللَّهِ إِنَّهُ لَمَلَكٌ، وَمَا هُوَ بِشَيْطَانٍ.»

Artinya:

> “Wahai putra pamanku, tetaplah tenang dan bergembiralah. Demi Allah, yang datang itu benar-benar malaikat, bukan setan.”

MASA TERHENTINYA WAHYU

Pertama: Wahyu Pernah Terhenti Dua Kali

Wahyu kepada Rasulullah ﷺ pernah terhenti (فتر الوحي) sebanyak dua kali.

1. Pertama, pada awal turunnya wahyu. Setelah masa terhentinya wahyu tersebut, Allah menurunkan Surah Al-Muddatstsir.
2. Kedua, setelah beberapa surah Al-Qur’an telah diturunkan. Setelah masa terhentinya wahyu yang kedua ini, Allah menurunkan Surah Adh-Dhuha.

Dalil

Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:

> «ثُمَّ فَتَرَ عَنِّي الْوَحْيُ فَتْرَةً، فَبَيْنَا أَنَا أَمْشِي سَمِعْتُ صَوْتًا مِنَ السَّمَاءِ، فَرَفَعْتُ بَصَرِي قِبَلَ السَّمَاءِ، فَإِذَا الْمَلَكُ الَّذِي جَاءَنِي بِحِرَاءٍ قَاعِدٌ عَلَى كُرْسِيٍّ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، فَجُئِثْتُ مِنْهُ، حَتَّى هَوَيْتُ إِلَى الْأَرْضِ، فَجِئْتُ أَهْلِي فَقُلْتُ: زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي، فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ﴾ إِلَى ﴿وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ﴾

Artinya:

“Kemudian wahyu terhenti dariku untuk beberapa waktu. Ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit. Aku mengangkat pandanganku ke langit, ternyata malaikat yang dahulu datang kepadaku di Gua Hira sedang duduk di atas sebuah kursi di antara langit dan bumi. Aku sangat terkejut sehingga aku segera pulang kepada keluargaku dan berkata, ‘Selimutilah aku! Selimutilah aku!’ Maka Allah menurunkan firman-Nya:

> ﴿يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ ۝ قُمْ فَأَنْذِرْ ۝ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ ۝ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ ۝ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ﴾
“Wahai orang yang berselimut! Bangunlah lalu berilah peringatan. Agungkanlah Tuhanmu. Bersihkanlah pakaianmu. Tinggalkanlah segala bentuk najis dan kemusyrikan.” (QS. Al-Muddatstsir: 1–5)

HR. Al-Bukhari no. 3238 dan Muslim no. 161.

Penjelasan Imam An-Nawawi رحمه الله

Beliau berkata:

> “قوله: (ثم تتابع الوحي) يعني بعد فترته، فالصواب أن أول ما نزل: (اقرأ)، وأن أول ما نزل بعد فترة الوحي: (يا أيها المدثر).”

Artinya:

“Yang dimaksud dengan ‘kemudian wahyu datang berturut-turut’ ialah setelah masa terhentinya wahyu. Pendapat yang benar adalah bahwa wahyu pertama yang turun ialah ‘Iqra”, sedangkan wahyu pertama setelah masa terhentinya wahyu ialah Surah Al-Muddatstsir.”

Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang permulaan wahyu, di mana Waraqah bin Naufal berkata kepada Nabi ﷺ:

> «إِنْ يُدْرِكْنِي يَوْمُكَ حَيًّا أَنْصُرْكَ نَصْرًا مُؤَزَّرًا»

“Jika aku masih hidup ketika hari itu tiba, sungguh aku akan menolongmu dengan pertolongan yang besar.”

Aisyah berkata:

> «ثُمَّ لَمْ يَنْشَبْ وَرَقَةُ أَنْ تُوُفِّيَ، وَفَتَرَ الْوَحْيُ»

“Tidak lama kemudian Waraqah meninggal dunia, lalu wahyu pun terhenti.”

Inilah masa terhentinya wahyu yang pertama.

Terhentinya Wahyu yang Kedua

Dari Jundub bin Sufyan radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

> «اشْتَكَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فَلَمْ يَقُمْ لَيْلَتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا، فَجَاءَتِ امْرَأَةٌ فَقَالَتْ: يَا مُحَمَّدُ، إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ يَكُونَ شَيْطَانُكَ قَدْ تَرَكَكَ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ: ﴿وَالضُّحَى ۝ وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى ۝ مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى﴾»

Artinya:

“Rasulullah ﷺ pernah sakit sehingga tidak bangun malam selama dua atau tiga malam. Lalu datang seorang wanita berkata, ‘Wahai Muhammad, aku berharap setanmu telah meninggalkanmu, sebab aku tidak melihatnya mendatangimu sejak dua atau tiga malam yang lalu.’ Maka Allah menurunkan firman-Nya:

> ﴿وَالضُّحَى ۝ وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى ۝ مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى﴾

“Demi waktu dhuha. Demi malam apabila telah sunyi. Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak pula membencimu.” (QS. Adh-Dhuha: 1–3)

HR. Al-Bukhari no. 4950 dan Muslim no. 1797.

Inilah masa terhentinya wahyu yang kedua.

Perkataan Ibnu Hajar رحمه الله

Beliau berkata:

> “الفترة المذكورة في سبب نزول (والضحى) غير الفترة المذكورة في ابتداء الوحي، فإن تلك دامت أيامًا، وهذه لم تكن إلا ليلتين أو ثلاثًا.”

Artinya:

“Masa terhentinya wahyu yang disebutkan sebagai sebab turunnya Surah Adh-Dhuha berbeda dengan masa terhentinya wahyu pada awal kenabian. Yang pertama berlangsung beberapa hari, sedangkan yang kedua hanya dua atau tiga malam.”

(Fathul Bari, 8/710)

Perkataan Ibnu ‘Asyur رحمه الله

Beliau berkata:

> “واحتباس الوحي عن النبي ﷺ وقع مرتين…”

Artinya:

“Terhentinya wahyu kepada Nabi ﷺ terjadi dua kali.

Yang pertama sebelum turunnya Surah Al-Muddatstsir atau Al-Muzzammil. Pada masa itulah Rasulullah ﷺ khawatir wahyu telah terputus darinya, hingga kemudian beliau melihat Jibril duduk di atas kursi antara langit dan bumi.

Yang kedua terjadi setelah turunnya sekitar delapan surah, yaitu beberapa surah yang turun setelah masa terhentinya wahyu yang pertama.”

(At-Tahrir wat Tanwir, 30/396)

Kedua: Berapa Lama Wahyu Terhenti?

Para ulama berbeda pendapat mengenai lamanya masa terhentinya wahyu yang pertama.

Di antaranya:

tiga tahun,

hampir dua tahun,

dua setengah tahun,

dua belas hari,

lima belas hari,

dua puluh lima hari,

empat puluh hari,

dan pendapat-pendapat lainnya.

Perkataan Ibnu Hajar

> “وقع في تاريخ أحمد بن حنبل عن الشعبي أن مدة فترة الوحي كانت ثلاث سنين، وبه جزم ابن إسحاق.”

“Dalam Tarikh Imam Ahmad dari Asy-Sya’bi disebutkan bahwa masa terhentinya wahyu berlangsung tiga tahun. Pendapat ini juga dipastikan oleh Ibnu Ishaq.”

(Fathul Bari, 1/27)

Perkataan Ibnu Katsir

> “قال بعضهم: كانت مدة الفترة قريبًا من سنتين أو سنتين ونصف.”

“Sebagian ulama mengatakan masa itu berlangsung hampir dua tahun atau dua setengah tahun.”

(Al-Bidayah wan Nihayah, 4/42)

Perkataan Imam Ar-Razi

Beliau menyebutkan berbagai pendapat:

Ibnu Juraij: 12 hari.

Al-Kalbi: 15 hari.

Ibnu Abbas: 25 hari.

As-Suddi dan Muqatil: 40 hari.

(Tafsir Ar-Razi, 31/192)

Perkataan Ibnu ‘Asyur

Beliau berkata:

> “وقد قيل إن مدة انقطاع الوحي في الفترة الأولى كانت أربعين يومًا.”

“Ada pula yang berpendapat bahwa masa terhentinya wahyu yang pertama berlangsung selama empat puluh hari.”

(At-Tahrir wat Tanwir, 30/396)

Adapun masa terhentinya wahyu yang kedua hanyalah dua atau tiga malam, sebagaimana disebutkan dalam hadis Jundub bin Sufyan di atas.

Ibnu Katsir berkata:

> “نزلت سورة والضحى بعد فترة أخرى كانت ليالي يسيرة.”

“Surah Adh-Dhuha turun setelah masa terhentinya wahyu yang kedua, yang hanya berlangsung beberapa malam saja.”

(Al-Bidayah wan Nihayah, 4/41)

Ketiga: Hikmah Terhentinya Wahyu

Para ulama menjelaskan bahwa di antara hikmah Allah menghentikan wahyu sementara waktu adalah:

agar rasa takut yang pertama kali dirasakan Rasulullah ﷺ ketika bertemu Jibril hilang;

agar tumbuh kerinduan dan keinginan yang kuat terhadap datangnya wahyu kembali;

sebagai penghibur dari Allah kepada Rasul-Nya sehingga keimanan dan keteguhan beliau semakin bertambah;

sebagai ujian bagi manusia, sehingga orang beriman semakin kokoh dan orang kafir semakin sesat.

Perkataan Ibnu Hajar رحمه الله

> “وفتور الوحي عبارة عن تأخره مدة من الزمان، وكان ذلك ليذهب ما كان صلى الله عليه وسلم وجده من الروع، وليحصل له التشوف إلى العود.”

Artinya:

“Yang dimaksud dengan terhentinya wahyu ialah tertundanya wahyu selama beberapa waktu. Hal itu terjadi agar hilang rasa takut yang dirasakan Rasulullah ﷺ, serta agar tumbuh kerinduan beliau terhadap kembalinya wahyu.”

(Fathul Bari, 1/27)

Mu’tamir bin Sulaiman meriwayatkan dari ayahnya:

> “وفتر الوحي فقالوا: لو كان من عند الله لتتابع، ولكن الله قلاه، فأنزل الله: (والضحى) و(ألم نشرح).”

Artinya:

“Ketika wahyu terhenti, orang-orang kafir berkata, ‘Kalau benar wahyu itu berasal dari Allah, tentu ia akan terus turun. Tetapi Allah telah meninggalkannya.’ Maka Allah menurunkan Surah Adh-Dhuha dan Surah Asy-Syarh secara lengkap.”

(Fathul Bari, 8/710)

Keempat: Apa yang Dilakukan Nabi ﷺ Selama Masa Terhentinya Wahyu?

Tidak ada riwayat yang sahih yang menjelaskan secara rinci apa yang dilakukan Rasulullah ﷺ selama masa terhentinya wahyu.

Yang dapat dipastikan adalah:

beliau sangat bersedih;

beliau sangat merindukan kembalinya wahyu;

setelah rasa takut pada awal kenabian hilang, beliau justru merasa tenteram dengan wahyu dan berharap ia kembali turun.

Ibnu Ishaq رحمه الله berkata:

> “ثم فتر الوحي عن رسول الله ﷺ فترة من ذلك، حتى شق ذلك عليه فأحزنه، فجاءه جبريل بسورة الضحى يقسم له ربه… ما ودعه وما قلاه.”
Artinya:

“Kemudian wahyu terhenti beberapa waktu sehingga hal itu sangat memberatkan Rasulullah ﷺ dan membuat beliau bersedih. Setelah itu Jibril datang membawa Surah Adh-Dhuha, di mana Allah bersumpah bahwa Dia tidak meninggalkan Nabi-Nya dan tidak membencinya.”

(Sirah Ibnu Hisyam, 1/225)

Bantahan terhadap Riwayat Bunuh Diri

Adapun riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ berkali-kali ingin menjatuhkan diri dari puncak gunung karena sedih akibat terhentinya wahyu, maka riwayat tersebut adalah batil dan tidak sahih. Para ulama hadis menjelaskan bahwa tambahan riwayat itu tidak memiliki sanad yang dapat dijadikan hujah, sehingga tidak boleh dinisbatkan kepada Rasulullah ﷺ.

Apakah Surah Pertama yang Diturunkan dalam Al-Qur’an?

Apakah surah pertama yang diturunkan dalam Al-Qur’an?

Apakah surah itu turun sekaligus sejak awal, atau turun secara bertahap?

Apa perbedaan antara ayat pertama yang diturunkan dengan surah pertama yang turun secara lengkap?

Pertanyaan-pertanyaan ini sering diajukan, khususnya oleh mereka yang ingin memahami awal mula turunnya wahyu.

Ayat Pertama yang Diturunkan dari Al-Qur’an

Para ulama telah bersepakat (ijma’) bahwa wahyu pertama yang diturunkan kepada Rasulullah ﷺ adalah lima ayat pertama Surah Al-‘Alaq.

Allah Ta’ala berfirman:

> ﴿اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ۝ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ ۝ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ ۝ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ ۝ عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ﴾

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”

(QS. Al-‘Alaq: 1–5)

Lima ayat pertama inilah yang turun sebagai permulaan wahyu, berisi perintah Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ untuk membaca.

Adapun ayat 6 sampai 19 dari Surah Al-‘Alaq baru diturunkan beberapa tahun kemudian, yaitu setelah lebih dari tiga tahun sejak turunnya wahyu pertama.

Dalilnya adalah hadis sahih dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha:

> «أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مِنَ الْوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ… فَجَاءَهُ الْمَلَكُ فَقَالَ: اقْرَأْ…»

“Permulaan wahyu yang diterima Rasulullah ﷺ adalah mimpi yang benar… Kemudian malaikat datang dan berkata: ‘Bacalah!'”

HR. Al-Bukhari no. 3 dan Muslim no. 160.

Mengapa Ayat Selanjutnya Turun Belakangan?

Ayat-ayat selanjutnya dari Surah Al-‘Alaq turun berkaitan dengan Abu Jahal, yang melarang Rasulullah ﷺ melaksanakan shalat di dekat Ka’bah.

Allah berfirman:

> ﴿أَرَأَيْتَ الَّذِي يَنْهَى ۝ عَبْدًا إِذَا صَلَّى﴾

“Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang seorang hamba ketika dia sedang shalat?”

(QS. Al-‘Alaq: 9–10)

Karena sebab turunnya berkaitan dengan peristiwa tersebut, para ulama menjelaskan bahwa Surah Al-‘Alaq tidak turun sekaligus, melainkan dalam dua tahap yang dipisahkan oleh waktu cukup lama.

Surah Pertama yang Turun Secara Lengkap

Para ulama berbeda pendapat mengenai surah pertama yang turun secara lengkap.

Perbedaan itu berkisar pada tiga surah:

Surah Al-‘Alaq

Surah Al-Muddatstsir

Surah Al-Fatihah

Pendapat Pertama: Surah Al-Muddatstsir

Mayoritas ulama berpendapat bahwa Surah Al-Muddatstsir adalah surah pertama yang turun secara lengkap.

Pendapat ini dipilih oleh Al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi dalam kitab الإتقان في علوم القرآن.

Alasan mereka:

Wahyu pertama memang lima ayat pertama Surah Al-‘Alaq.

Namun Surah Al-‘Alaq tidak turun sekaligus.

Sedangkan Surah Al-Muddatstsir turun secara utuh.

Dalilnya adalah hadis Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma:

> «يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ ۝ قُمْ فَأَنْذِرْ»

“Wahai orang yang berselimut! Bangunlah, lalu berilah peringatan!”

HR. Al-Bukhari no. 4954 dan Muslim no. 161.

Karena itu, banyak ulama menilai bahwa Al-Muddatstsir adalah surah pertama yang turun secara lengkap, sedangkan Al-‘Alaq adalah wahyu pertama secara mutlak.

Pendapat Kedua: Surah Al-Fatihah

Sebagian ulama berpendapat bahwa Surah Al-Fatihah merupakan surah pertama yang turun secara lengkap.

Pendapat ini didasarkan pada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dari Abu Maisarah, yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ diperintahkan mengucapkan:

> ﴿الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾

Namun para ulama ahli hadis, seperti Al-Qadhi Abu Bakar al-Baqillani, menjelaskan bahwa sanad hadis tersebut munqathi’ (terputus) sehingga tidak dapat dijadikan hujah.

Oleh sebab itu pendapat ini dianggap lemah.

Kesimpulan

Dengan demikian, apabila ditanya:

Apa yang pertama kali diturunkan dari Al-Qur’an?

Jawabannya adalah:

> Lima ayat pertama Surah Al-‘Alaq.

Yaitu firman Allah:

> ﴿اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ﴾

Surah pertama yang turun secara lengkap?

Pendapat yang paling kuat ialah:

> Surah Al-Muddatstsir.

Ini merupakan pendapat yang dipilih oleh Imam as-Suyuthi dan banyak ulama lainnya.

Demikian pula Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa wahyu pertama secara mutlak adalah firman Allah:

> ﴿اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ﴾

Sedangkan Surah Al-Muddatstsir turun setelah terhentinya wahyu beberapa waktu (فترة الوحي) dan menjadi surah pertama yang turun secara lengkap.

Tahapan Turunnya Al-Qur’an

Para ulama menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan melalui tiga tahapan.

Tahap Pertama: Diturunkan ke Lauhul Mahfuzh

Allah Ta’ala berfirman:

> ﴿بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَجِيدٌ ۝ فِي لَوْحٍ مَحْفُوظٍ﴾

“Bahkan Al-Qur’an itu adalah bacaan yang mulia, yang tersimpan di Lauhul Mahfuzh.”

(QS. Al-Buruj: 21–22)

Bagaimana hakikat turunnya ke Lauhul Mahfuzh merupakan perkara gaib yang hanya diketahui Allah.

Tahap Kedua: Diturunkan ke Baitul ‘Izzah di Langit Dunia

Setelah itu Al-Qur’an diturunkan sekaligus dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di langit dunia pada malam Lailatul Qadar.

Allah Ta’ala berfirman:

> ﴿إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ﴾

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam Lailatul Qadar.”

(QS. Al-Qadr: 1)

Juga firman-Nya:

> ﴿إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ﴾

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang penuh berkah.”

(QS. Ad-Dukhan: 3)

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan sekaligus ke langit dunia pada malam Lailatul Qadar, kemudian diturunkan kepada Nabi ﷺ secara berangsur-angsur.

Atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dan dinilai sahih oleh para ahli tafsir, di antaranya dalam Tafsir Ibnu Katsir.

Tahap Ketiga: Diturunkan Berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad ﷺ

Tahap terakhir adalah turunnya Al-Qur’an secara bertahap kepada Rasulullah ﷺ selama kurang lebih 23 tahun.

Allah Ta’ala berfirman:

> ﴿وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ ۝ نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ ۝ عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ ۝ بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ﴾

“Sesungguhnya Al-Qur’an benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam. Ia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu agar engkau menjadi salah seorang pemberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.”

(QS. Asy-Syu’ara: 192–195)

Allah juga berfirman:

> ﴿وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلًا﴾

“Dan Al-Qur’an itu Kami turunkan secara berangsur-angsur agar engkau membacakannya kepada manusia dengan perlahan, dan Kami benar-benar menurunkannya secara bertahap.”

(QS. Al-Isra’: 106)

Hikmah Diturunkannya Al-Qur’an Secara Bertahap

Di antara hikmahnya adalah:

Menguatkan hati Rasulullah ﷺ.

Menjawab berbagai peristiwa dan persoalan yang terjadi pada masa kenabian.

Memudahkan para sahabat menghafal dan memahami Al-Qur’an.

Menanamkan syariat secara bertahap sesuai kesiapan umat.

Allah Ta’ala berfirman:

> ﴿وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً ۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا﴾

“Orang-orang kafir berkata, ‘Mengapa Al-Qur’an tidak diturunkan kepadanya sekaligus?’ Demikianlah, agar Kami meneguhkan hatimu dengannya, dan Kami membacakannya secara tartil (bertahap).”

(QS. Al-Furqan: 32)

Pelajaran yang Dapat Diambil dari Peristiwa Gua Hira

1. Allah mempersiapkan Rasulullah ﷺ sebelum menerima risalah, dengan menanamkan kecintaan kepada khalwat dan ibadah.
2. Wahyu pertama dimulai dengan perintah membaca (اقرأ), menunjukkan bahwa ilmu adalah fondasi dakwah Islam.
3. Khadijah radhiyallahu ‘anha merupakan pendukung pertama dakwah Nabi ﷺ, baik secara moral, emosional, maupun materi.
4. Akhlak mulia merupakan sebab pertolongan Allah, sebagaimana kesaksian Khadijah terhadap Rasulullah ﷺ.
5. Para ahli ilmu mengenali tanda-tanda kebenaran, sebagaimana Waraqah bin Naufal yang mengetahui bahwa Jibril adalah malaikat yang dahulu datang kepada Nabi Musa ‘alaihis salam.
6. Terhentinya wahyu bukan berarti Allah meninggalkan Rasul-Nya, tetapi merupakan bagian dari pendidikan ilahi agar kerinduan beliau kepada wahyu semakin kuat.
7. Turunnya Surah Al-Muddatstsir menandai dimulainya tugas dakwah secara terbuka, setelah sebelumnya Nabi ﷺ menerima wahyu pertama di Gua Hira.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mengambil pelajaran dari perjalanan hidup Rasulullah ﷺ, meneladani kesabaran beliau, serta meneladani keimanan dan pengorbanan Khadijah radhiyallahu ‘anha. Aamiin.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button