Keluarga

Etika dan Seni Memuji dalam Islam

Etika dan Seni Memuji dalam Islam

Setiap orang di dunia ini pasti ingin punya nama baik. Itu sudah menjadi sifat alami kita sebagai manusia, dan inilah yang membedakan kita dengan makhluk lainnya. Ada pepatah yang mengatakan:

“Menyukai pujian adalah tabiat manusia.”

Keinginan untuk dianggap baik inilah yang sebenarnya membuat banyak orang tetap bertindak adil. Bayangkan kalau seseorang sudah tidak peduli lagi dicela dan tidak merasa senang dipuji, orang seperti itu biasanya baru akan berhenti berbuat jahat kalau sudah diancam hukuman atau kekerasan. Ada Empat hal yang bisa menjaga seseorang menjauhi keburukan dan tetap berada di jalan yang baik yaitu Akal sehat, rasa malu, adanya pujian dan celaan dari orang lain, Adanya apresiasi dan hukuman.

Siapa yang celaan tidak menghalanginya dari melakukan keburukan, dan pujian tidak mendorongnya untuk melakukan kebaikan, maka ia ibarat benda mati atau binatang. Demi mendapatkan pujian pula, manusia saling berebut kekuasaan dan kedudukan yang tinggi.

Pujian itu sendiri pada dasarnya bukanlah sesuatu yang terpuji maupun tercela, melainkan dinilai baik atau buruk berdasarkan tujuannya. Barangsiapa yang bermaksud mencari hal-hal yang membuatnya layak menerima pujian dengan cara yang dicintai Allah maka hal itu adalah terpuji, Ini adalah jalan Nabi Ibrahim al-Khalil ‘alaihissalam sebagaimana beliau berdoa,

وَاجْعَلْ لِّيْ لِسَانَ صِدْقٍ فِى الْاٰخِرِيْنَۙ ۝٨٤

“Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian.” (QS. Asy-Syu’ara: 84).

Maksud ayat tersebut adalah ‘Jadikanlah aku melakukan sesuatu yang membuat orang yang memujiku menjadi jujur (karena pujiannya sesuai dengan kenyataan)’. Atas dasar inilah, seseorang dianjurkan ketika dipuji untuk berdoa,

الْلًّهُمَّ اجْعَلْنِي خَيْرًا مِمًّا يَظُنُّوْنَ

‘Ya Allah, jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka duga.’

Adapun sisi yang tercela dari pujian adalah ketika seseorang cenderung merasa puas dengan pujian tersebut tanpa benar-benar melakukan apa yang mendasari pujian itu. Hal ini termasuk bencana besar bagi orang yang mengalaminya, karena dapat membuka pintu kedengkian (hasad), dan hasad itu sendiri membuka pintu kebohongan, sedangkan kebohongan adalah pangkal dari segala keburukan. Allah Ta’ala telah memberikan ancaman bagi orang yang mengharapkan pujian tanpa melakukan kebaikan yang mendasarinya. Allah Ta’ala berfirman,

لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ يَفْرَحُوْنَ بِمَآ اَتَوْا وَّيُحِبُّوْنَ اَنْ يُّحْمَدُوْا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوْا فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِّنَ الْعَذَابِۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ۝١٨٨

“Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka dipuji atas perbuatan yang belum mereka lakukan, janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka azab yang pedih.” (QS. Ali ‘Imran: 188).

Maka orang yang mulia membenci pujian yang ditujukan langsung ke hadapannya, terutama jika pujian itu datang dari orang yang suka memuji secara berlebihan, teman yang manipulatif, atau dari orang-orang yang bertujuan mencari muka sebelum mereka benar-benar mengenalnya. Juga dari orang-orang yang jika mendapati pencela maka ia ikut mencela, dan jika mendapati pemuji maka ia pun ikut memuji.

Pujian yang Terlarang

Pujian itu dilarang jika dilakukan secara berlebihan, dikhawatirkan dapat menimbulkan fitnah (godaan bagi hati) bagi orang yang dipuji, atau jika mengandung unsur ithra’ (pujian palsu/melampaui batas).

Dari Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,

«إِيَّاكُمْ وَالتَّمَادُحَ فَإِنَّهُ الذَّبْحُ»

“Waspadalah kalian terhadap saling memuji, karena sesungguhnya itu adalah penyembelihan.”’ (HR. Ibnu Majah No. 3032)

Suatu ketika seseorang memuji orang lain di dekat Nabi ﷺ, beliau menegur si pemuji tersebut, beliau mengingkarinya karena rasa khawatir terhadap orang yang dipuji jangan sampai ia terperdaya dan merasa bangga diri (ujub), sehingga ia pun jatuh ke dalam fitnah.

فعَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرَةَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ :

أَثْنَى رَجُلٌ عَلَى رَجُلٍ عِنْدَ النَّبِيِّ ﷺ ، فَقَالَ: وَيْلَكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبكَ، قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ مِرَارًا، ثُمَّ قَالَ: مَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَادِحًا أَخَاهُ لَا مَحَالَةَ، فَلْيَقُلْ أَحْسِبُ فُلَانًا ، وَاللهُ حَسِيبُهُ، وَلا أُزَكِّي عَلَى اللهِ أَحَدًا أَحْسِبُهُ كَذَا وَكَذَا، إِنْ كَانَ يَعْلَمُ ذَلِكَ مِنْهُ.

Artinya : Dari Abdurrahman bin Abi Bakrah dari ayahnya ia berkata, ‘Seorang pria memuji pria lain di hadapan Nabi ﷺ, maka beliau bersabda, “Celaka kamu! Kamu telah memotong leher temanmu, kamu telah memotong leher temanmu!’ beliau mengucapkannya berulang kali.’ Kemudian beliau bersabda, ‘Jika salah seorang di antara kalian harus memuji saudaranya, maka hendaklah ia mengucapkan, “Aku mengira si fulan (begini), dan Allah yang mengetahui hakikatnya, dan aku tidak menyucikan seorang pun di hadapan Allah, aku mengiranya begini dan begitu, jika ia memang mengetahui hal itu darinya.”’ (HR. Bukhari No. 2662).

Dan dalam riwayat Muslim disebutkan,

عَنِ النَّبِيِّ أَنَّهُ ذُكِرَ عِنْدَهُ رَجُلٌ، فَقَالَ رَجُلٌ : يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا مِنْ رَجُلٍ، بَعْدَ رَسُولِ اللهِ، أَفْضَلُ مِنْهُ فِي كَذَا وَكَذَا، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ : وَيْحَكَ قَطَّعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ مِرَارًا يَقُولُ ذَلِكَ، ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ : إِنْ كَانَ أَحَدُكُمْ مَادِحًا أَخَاهُ، لَا مَحَالَةَ، فَلْيَقُلْ أَحْسِبُ فُلَانًا، إِنْ كَانَ يُرَى أَنَّهُ كَذَلِكَ، وَلَا أُزَكِّي عَلَى اللَّهِ أَحَدًا.

Bahwa dari Nabi ﷺ, disebutkan kepada beliau bahwa ada seseorang disebut-sebut di dekat beliau, lalu seorang pria berkata, ‘Wahai Rasulullah, tidak ada seorang pun (setelah Rasulullah ﷺ) yang lebih utama darinya dalam hal ini dan itu.’ Maka Nabi ﷺ bersabda, “Celaka kamu! Kamu telah memotong leher temanmu,’ beliau mengucapkannya berkali-kali.” Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian memang harus memuji saudaranya, maka hendaklah ia mengucapkan, ‘Aku mengira si fulan (begini)’, jika memang ia melihatnya demikian, ‘dan aku tidak menyucikan seorang pun di hadapan Allah.'” (HR. Bukhari No. 3000).

وعبد الله بن بريدة رضي الله عنه قَالَ سَمِعَ رَسُولُ اللهِ ﷺ رَجُلًا يُصَلِّي، يَقْرَأُ، فَقَالَ لِبُرَيْدَةَ: «أَتَعْرِفُ هَذَا؟» قَالَ قُلْتُ: نَعَمْ يَا رَسُولَ اللهِ، هَذَا أَكْثَرُ أَهْلِ الْمَدِينَةِ صَلَاة. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ : لَا تُسْمِعُهُ فَيَهْلِكَ، إِنَّكُمْ أُمَّةٌ أُريدُ بِكُمُ الْيُسْرَ.

Artinya : Dari Abdullah bin Buraidah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, ‘Rasulullah ﷺ mendengar seorang laki-laki sedang shalat dan membaca Al-Qur’an, lalu beliau bertanya kepada Buraidah: ‘Apakah engkau mengenal orang ini?’ Aku menjawab: ‘Ya, wahai Rasulullah. Dia adalah orang yang paling banyak shalatnya di antara penduduk Madinah.’ Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Janganlah engkau perdengarkan pujian itu kepadanya, karena itu bisa membuatnya binasa. Sesungguhnya kalian adalah umat yang diinginkan kemudahan baginya.”’ (Shahih, Diriwayatkan oleh Ath-Thabari dalam kitab Tahdzib Al-Atsar Musnad Umar).

وقَالَ مِحْجَنُ بن الأدرع الأسلمي : كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ آخِذًا بِيَدِي ، فَأَتَيْنَا الْمَسْجِدَ، فَرَأَى رَجُلًا يُصَلِّي، فَقَالَ : مَنْ هَذَا ؟ قُلْتُ: هَذَا فُلَانٌ كَذَا وَكَذَا، فَأَثْنَيْتُ عَلَيْهِ، فَقَالَ: لَا تُسْمِعُهُ فَتُهْلِكَهُ.

Dari Mihjan bin al-Adra’ al-Aslami radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Rasulullah ﷺ pernah menggandeng tanganku, lalu kami mendatangi masjid. Beliau melihat seorang laki-laki sedang shalat, lalu beliau bertanya, ‘Siapa ini?’ Aku menjawab, ‘Ini adalah si fulan, dia begini dan begitu,’ lalu aku memujinya. Maka beliau bersabda, “Jangan perdengarkan (pujian itu) kepadanya, karena engkau bisa membinasakannya.”’ (Shahih, Diriwayatkan oleh Ath-Thabari dalam kitab Tahdzib Al-Atsar Musnad Umar).

وعن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه قال : سَمِعَ النَّبِيُّ ﷺ رَجُلًا يُثْنِي عَلَى رَجُلٍ وَيُطْرِيهِ فِي مَدْحِهِ، فَقَالَ: أَهْلَكْتُمْ – أَوْ قَطَعْتُمْ – ظَهَرَ الرَّجُل.

Artinya : Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahuanhu, dia berkata, ‘Nabi ﷺ pernah mendengar seorang lelaki sedang menyanjung lelaki lainnya dan melampaui batas dalam memujinya lalu beliau bersabda, “Kalian telah menghancurkan atau mematahkan punggung orang tersebut.”’ (HR. Bukhari (2663) dan Muslim (3001)).

Dan atas dasar inilah, para sahabat radhiyallahu ‘anhum senantiasa memberikan teguran keras kepada orang yang memuji dan mengingkarinya karena rasa khawatir terhadap orang yang dipuji.”

Sikap Umar bin Khattab

Ini adalah tindakan Khalifah Rasyid, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, Dari Ibrahim al-Taimi, dari ayahnya, ia berkata, ‘Kami sedang duduk bersama Umar bin Khattab, lalu seorang pria masuk dan mengucapkan salam kepadanya. Kemudian ada seseorang dari kaum tersebut yang memuji pria itu di hadapannya.

Maka Umar berkata kepadanya, ‘Kamu telah mencelakakan orang itu, semoga Allah membalasmu! Apakah kamu memujinya di hadapannya mengenai urusan agamanya?”’

Sikap Abdullah bin Umar

Ini adalah putra beliau, Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma menyerupai ayahnya, ia tidak berbuat zalim. Dari Abu al-Wazza’, ia berkata, ‘Aku mendengar Ibnu Umar, ketika ada seorang pria berkata kepadanya, ‘Kami akan senantiasa dalam kebaikan selama Allah mengekalkanmu untuk kami.’

Maka Ibnu Umar menjawab: “Celaka kamu! (semoga ibumu kehilanganmu). Apa yang kamu tahu tentang apa yang dirahasiakan oleh saudaramu di balik pintunya (saat dia sendirian)?”. (Isnaduhu Laa ba’sa bihi)

Riwayat dari Atha’ bin Abi Rabah, ‘Bahwa ada seorang pria memuji pria lain di hadapan Ibnu Umar, maka Ibnu Umar mulai mengambil pasir dan menaburkannya ke arah mulut yang memuji tersebut, seraya berkata, ‘Rasulullah ﷺ bersabda, “Jika kalian melihat orang-orang yang suka memuji (secara berlebihan), maka taburkanlah pasir ke wajah mereka.’” (Shahih, HR. Ahmad (5684)).

Sikap Al-Miqdad bin al-Aswad radhiyallahu ‘anhu,

Dari Abu Ma’mar, ia berkata, ‘Seorang pria berdiri memuji salah seorang gubernur, lalu Al-Miqdad mulai menaburkan pasir kepadanya, dan ia berkata, ‘Rasulullah ﷺ memerintahkan kami untuk menaburkan pasir ke wajah orang-orang yang suka memuji (secara berlebihan).'” (HR. Muslim (3002)).

Kisah Miqdad dan Utsman bin Affan:

Dari Hammam bin al-Harits, Bahwa ada seorang pria mulai memuji Utsman bin Affan, maka Al-Miqdad segera berlutut di atas kedua lututnya dan beliau adalah seorang pria yang bertubuh besar lalu beliau mulai melemparkan kerikil/pasir ke wajah pria tersebut.

Utsman kemudian bertanya kepadanya: ‘Ada apa denganmu?’ Maka Al-Miqdad menjawab: ‘Sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda: “Jika kalian melihat orang-orang yang suka memuji (secara berlebihan), maka taburkanlah pasir ke wajah mereka.'”

Definisi Al-Maddahun (Para Pemuji)

Al-Maddahun  adalah mereka yang menjadikan kegiatan memuji orang lain sebagai kebiasaan, dan menjadikannya sebagai barang dagangan untuk mencari makan (materi) dari orang yang dipuji, serta dapat memberikan fitnah (godaan hati) baginya.”

Dan Ummul Mu’minin Aisyah radhiyallahu ‘anha sempat merasa enggan jika Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma masuk menemuinya sebelum wafatnya, karena beliau khawatir Ibnu Abbas akan memujinya.

Dari Ibnu Abi Mulaikah, ia berkata, “Ibnu Abbas meminta izin menemui Aisyah menjelang wafatnya saat beliau sedang dalam keadaan sangat lemah. Aisyah berkata: ‘Aku takut dia akan memujiku.’”

Lalu dikatakan kepadanya: ‘Dia adalah putra paman Rasulullah ﷺ dan termasuk tokoh terpandang di antara kaum muslimin.’ Akhirnya Aisyah berkata: ‘Izinkanlah dia masuk.’

Ibnu Abbas pun bertanya: ‘Bagaimana keadaanmu?’ Aisyah menjawab: ‘Dalam kebaikan, jika aku bertaqwa.’

Ibnu Abbas berkata: ‘Engkau berada dalam kebaikan, insya Allah. Engkau adalah istri Rasulullah ﷺ, beliau tidak menikahi perawan selain dirimu, dan kesucianmu diturunkan (oleh Allah) dari langit.’

Setelah Ibnu Abbas keluar Ibnu az-Zubayr masuk. Aisyah kemudian berkata: ‘Ibnu Abbas masuk menemuiku dan memujiku. Sungguh, aku berharap sekiranya aku menjadi sesuatu yang tidak berarti dan dilupakan sama sekali.'”

Hamdy Arifan Halim, S.H., Lc.

Alumni S1, Universitas Al Qashim, Arab Saudi

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button