Tatsqif

Bulan Dzulhijjah dan Keutamaan Haji

Bulan Dzulhijjah dan Keutamaan Haji

Bulan Dzulhijjah adalah salah satu musim kebaikan terbesar dalam Islam. Ia bukan hanya termasuk empat bulan haram yang dimuliakan, tetapi juga menjadi waktu berkumpulnya ibadah-ibadah agung seperti haji, wukuf di Arafah, dzikir, takbir, puasa, dan kurban, sehingga seorang muslim semestinya menyambutnya dengan iman, semangat amal, dan taubat yang tulus.

Di antara keistimewaan Dzulhijjah, Allah sendiri menyinggung kemuliaan sepuluh hari pertamanya dalam Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman:

وَالْفَجْرِ ۝ وَلَيَالٍ عَشْرٍ

“Demi fajar, dan malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1–2)

Mayoritas ulama tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “malam yang sepuluh” adalah sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Penafsiran ini menunjukkan betapa agungnya hari-hari tersebut, karena Allah tidaklah bersumpah kecuali dengan sesuatu yang besar kedudukannya.

Kemuliaan Dzulhijjah juga terkait langsung dengan ibadah haji. Allah Ta’ala berfirman:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi.” (QS. Al-Baqarah: 197)

Dalam penjelasan ulama , bulan-bulan haji mencakup Syawal, Dzulqa’dah, dan sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Ini menunjukkan bahwa Dzulhijjah bukan sekadar nama bulan terakhir dalam kalender hijriah, tetapi bulan ibadah agung yang telah Allah pilih untuk pelaksanaan manasik haji.

Allah juga berfirman tentang panggilan haji:

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ ۝ لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus, yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan…” (QS. Al-Hajj: 27–28)

Ayat ini menggambarkan bahwa haji adalah panggilan tauhid yang menyatukan manusia dari berbagai penjuru bumi. Mereka datang bukan untuk kemegahan dunia, tetapi untuk menyaksikan manfaat agama, menghidupkan dzikir, dan menampakkan penghambaan yang utuh di hadapan Allah.

Keutamaan sepuluh hari pertama Dzulhijjah juga ditegaskan dalam sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shalallahu alaihi wasalam bersabda bahwa tidak ada amalan pada hari-hari lain yang lebih dicintai Allah daripada amalan pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah, bahkan para ulama menjelaskan keutamaannya sangat besar hingga hanya dapat disaingi oleh jihad yang paling sempurna pengorbanannya.

Karena itu, masuknya Dzulhijjah seharusnya membangunkan hati seorang muslim. Bila Ramadhan dikenal sebagai bulan pembinaan Rohani, maka Dzulhijjah adalah bulan penyempurna ketaatan dengan syiar, pengorbanan, dzikir, dan kepasrahan. Pada bulan ini, seorang mukmin diajak untuk kembali menata niat, memperbanyak amal saleh, dan meninggalkan dosa-dosa yang sering diremehkan.

Di puncak kemuliaan Dzulhijjah berdirilah ibadah haji, salah satu rukun Islam yang diwajibkan bagi yang mampu. Haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Makkah, tetapi perjalanan hati menuju ketundukan total kepada Allah. Karena itu, banyak hadits Nabi menjelaskan keagungan haji dan besarnya ganjaran bagi orang yang menunaikannya dengan benar.

Di antara dalil yang sangat masyhur adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya tentang amalan paling utama:

سُئِلَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم أَىُّ الأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ « إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « جِهَادٌ فِى سَبِيلِ اللَّهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « حَجٌّ مَبْرُورٌ »

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, ‘Amalan apa yang paling afdal?’ Beliau menjawab, ‘Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.’ Ditanya lagi, ‘Kemudian apa?’ Beliau menjawab, ‘Jihad di jalan Allah.’ Ditanya lagi, ‘Kemudian apa?’ Beliau menjawab, ‘Haji mabrur.’” (HR. Bukhari no. 1519)

Hadits ini menunjukkan betapa tinggi derajat haji mabrur. Haji yang diterima bukan sekadar gugur kewajiban, tetapi haji yang membekas dalam akhlak, melahirkan ketundukan, menjauhkan pelakunya dari riya’, maksiat, dan dosa setelah pulang dari tanah suci.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

“Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga.” (HR. Bukhari dan Muslim )

Ini adalah kabar gembira yang sangat besar bagi orang-orang yang berhaji dengan ikhlas dan benar. Balasan surga menunjukkan bahwa haji mabrur memiliki kedudukan yang luar biasa, sebab ia mengumpulkan ibadah hati, lisan, harta, fisik, kesabaran, dan pengorbanan dalam satu rangkaian amal.

Keutamaan lain dari haji adalah bahwa ia dapat menggugurkan dosa-dosa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Siapa yang berhaji karena Allah lalu tidak berkata kotor dan tidak berbuat kefasikan, maka ia pulang seperti hari ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari )

Hadits ini menjadi motivasi besar agar seorang muslim mempersiapkan hajinya bukan hanya dengan biaya, tetapi juga dengan ilmu, adab, dan keikhlasan. Sebab yang dikejar bukan semata gelar “pernah haji”, melainkan ampunan Allah dan perubahan hidup setelah kembali.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

يَا رَسُولَ اللَّهِ ، نَرَى الْجِهَادَ أَفْضَلَ الْعَمَلِ ، أَفَلاَ نُجَاهِدُ قَالَ « لاَ ، لَكِنَّ أَفْضَلَ الْجِهَادِ حَجٌّ مَبْرُورٌ »

“Wahai Rasulullah, kami memandang bahwa jihad adalah amalan yang paling afdal. Apakah kami harus berjihad? Beliau menjawab, ‘Tidak. Jihad yang paling utama adalah haji mabrur.’” (HR. Bukhari no. 1520)

Hadits ini menunjukkan bahwa haji memiliki nilai perjuangan yang besar. Di dalamnya ada kesabaran, pengorbanan harta, kepayahan badan, pengendalian nafsu, dan latihan tunduk kepada aturan Allah dalam setiap detail manasik.

Keutamaan berikutnya, orang yang berhaji adalah tamu Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْغَازِى فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالْحَاجُّ وَالْمُعْتَمِرُ وَفْدُ اللَّهِ دَعَاهُمْ فَأَجَابُوهُ وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ

“Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang berhaji serta berumrah adalah tamu-tamu Allah. Allah memanggil mereka, mereka pun memenuhi panggilan. Jika mereka meminta kepada-Nya, niscaya Dia memberi mereka.” (HR. Ibnu Majah; dinilai hasan oleh Al-Albani)

Betapa mulianya kedudukan seorang tamu Allah. Karena itu, setiap muslim yang belum mampu berhaji hendaknya memohon dengan sungguh-sungguh agar suatu saat dipanggil ke Baitullah, sedangkan yang telah mampu hendaknya tidak menunda-nunda tanpa alasan syar’i.

Dari sini tampak bahwa Dzulhijjah adalah bulan dakwah yang hidup. Ia mengajarkan tauhid melalui talbiyah, mengajarkan persaudaraan melalui pertemuan kaum muslimin dari seluruh dunia, mengajarkan pengorbanan melalui haji dan kurban, serta mengajarkan kedisiplinan ibadah melalui rangkaian amal pada hari-hari yang mulia.

Maka, siapa pun yang menjumpai bulan Dzulhijjah hendaknya mengisinya dengan amal terbaik. Bagi yang berhaji, sempurnakan manasik dengan ilmu, keikhlasan, dan adab. Bagi yang tidak berhaji, hidupkan hari-hari itu dengan puasa, dzikir, takbir, membaca Al-Qur’an, sedekah, dan taubat nasuha, karena pintu pahala pada hari-hari ini terbuka sangat luas.

Semoga Allah mempertemukan kaum muslimin dengan Dzulhijjah yang penuh berkah, memberi taufik untuk mengagungkan syiar-syiar-Nya, dan menganugerahkan haji yang mabrur bagi yang menunaikannya. Sebab ketika hati benar-benar memuliakan Dzulhijjah, ia sedang belajar menempatkan Allah di atas segala-galanya dan menjadikan ibadah sebagai poros kehidupan.

Zayyinni Izzal Faqih B.A

Alumni Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button