Tatsqif

Lailatul Juhani

(Lailatul Juhani)

Dari ‘Abdullah bin Unais Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

“Aku berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki tempat tinggal di pedalaman (badiah). Aku sering berada di sana dan aku menunaikan shalat di sana, alhamdulillah. Maka perintahkanlah kepadaku satu malam agar aku datang ke masjid ini (Masjid Nabawi).

Maka Nabi ﷺ bersabda:

«انزل ليلة ثلاث وعشرين»

“Datanglah pada malam kedua puluh tiga.”

Muhammad bin Ibrahim (perawi hadis) berkata kepada Ibnu ‘Abdullah bin Unais:

“Bagaimana ayahmu dahulu melakukannya?”

Ia menjawab:

“Apabila beliau telah menunaikan shalat Ashar, beliau masuk ke masjid dan tidak keluar darinya untuk suatu keperluan pun sampai menunaikan shalat Subuh.

Jika telah selesai shalat Subuh, beliau mendapati kendaraannya di pintu masjid, lalu beliau menaikinya dan kembali ke tempat tinggalnya di pedalaman.”

[HR. Abu Dawud]

Diriwayatkan pula dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa malam itu adalah Lailatul Qadar.

Dan diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa beliau memercikkan air kepada keluarganya pada malam ke-23 (agar mereka bangun dan beribadah).

Malam ini dahulu dikenal dengan nama:

“Lailatul Juhani” (ليلة الجهني).

Ibnu ‘Abdil Barr berkata dalam kitab At-Tamhid:

“Dikatakan bahwa Lailatul Juhani di Madinah dikenal sebagai malam kedua puluh tiga. Hadisnya ini masyhur di kalangan orang khusus maupun umum di sana.”

Dalam Shahih Muslim, dari ‘Abdullah bin Unais Al-Juhani, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

«أُرِيتُ لَيْلَةَ القَدْرِ ثُمَّ أُنسِيتُهَا، وَأُرَانِي صُبْحَهَا أَسْجُدُ فِي مَاءٍ وَطِينٍ»

“Aku pernah diperlihatkan Lailatul Qadar, kemudian aku dibuat lupa tentangnya. Dan aku diperlihatkan bahwa pada pagi harinya aku sujud di atas air dan tanah lumpur.”

Ia berkata:

“Maka pada malam ke-23 turun hujan, lalu Rasulullah ﷺ shalat bersama kami. Ketika beliau selesai shalat, terlihat bekas air dan tanah pada dahi dan hidung beliau.”

Kemudian dikatakan:

“وعند جهينة الخبر اليقين”

“Pada kabilah Juhainah terdapat kabar yang pasti.”

Kita memohon kepada Allah Yang Maha Mulia agar menganugerahkan kepada kita karunia-Nya.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button