Mimbar Jumat

Khutbah Idulfitri 1447 H / 2026 M

 

Download Pdfnya Klik Khutbah Idulfitri 1447 H

Khutbah Pertama

ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَىٰ يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ:

فَاتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَىٰ حَقَّ التَّقْوَىٰ، وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ مَا أَنْعَمَ وَأَوْلَىٰ، بَلَّغَنَا رَمَضَانَ، وَأَعَانَ عَلَى الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ، وَمَنَّ بِإِدْرَاكِ التَّمَامِ، وَنَسْأَلُهُ بِفَضْلِهِ أَنْ يُتِمَّ عَلَيْنَا النِّعْمَةَ بِالْقَبُولِ.

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾

﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا﴾

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ۝ يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا﴾

Ma‘āsyiral muslimīn wa zumratal mu’minīn raḥimakumullāh.

Segala puji hanya milik Allah. Kami memuji Allah, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, serta berlindung kepada Allah dari keburukan diri kami dan dari kejelekan amal-amal. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa disesatkan maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga, para sahabatnya dan pengikutnya,l hingga hari kiamat.

Saudara-saudara kaum muslimin yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala 

Bertakwalah kepada Allah Ta’ala dengan sebenar-benar takwa, dan bersyukurlah kepada-Nya atas segala nikmat dan karunia yang telah Dia berikan. Dia telah mempertemukan kita dengan Ramadan, menolong kita untuk berpuasa dan qiyamul lail, serta menganugerahkan kepada kita kesempatan menyempurnakannya. Dan kita memohon kepada-Nya dengan karunia-Nya agar Dia menyempurnakan nikmat itu atas kita dengan menerima amal-amal kita.

Wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya hari yang mulia ini adalah hari Idul Fitri, sekaligus hari pertama dari bulan-bulan haji. Allah mewajibkan berbuka pada hari ini, mengharamkan puasanya, dan menjadikannya hari kebahagiaan dan kegembiraan. Kaum muslimin bergembira pada hari ini dengan berbuka setelah berpuasa, dengan telah menyempurnakan rukun keempat dari rukun agama mereka, dan dengan harapan akan kegembiraan yang lebih besar pada hari ketika mereka bertemu dengan Rabb mereka dalam keadaan amal-amal saleh mereka telah diterima dan dosa-dosa mereka yang lalu telah diampuni. Lalu dikatakan kepada mereka:

﴿كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ﴾

“Makan dan minumlah dengan nikmat, sebagai balasan atas apa yang telah kalian kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.”

Betapa indahnya kegembiraan ini dan betapa agungnya.

Nabi kita Muhammad ﷺ bersabda:

«لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا: إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ بِفِطْرِهِ، وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ»

“Orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan: ketika berbuka ia bergembira dengan berbukanya, dan ketika bertemu Rabbnya ia bergembira dengan puasanya.”

Ya Allah, sebagaimana Engkau telah mempertemukan kami dengan kegembiraan yang dekat melalui berbuka ini, maka pertemukanlah kami dengan kegembiraan yang lebih besar pada hari kami bertemu dengan-Mu, wahai Rabb semesta alam.

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

Ma‘āsyiral muslimīn wa zumratal mu’minīn raḥimakumullāh.

Sesungguhnya agama kita, agama Islam, dibangun di atas lima pokok pondasi yang kokoh, Lima rukun Islam. Yang pertama adalah dua kalimat syahadat.

Persaksian “La ilaha illallah” 

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ

“Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah”. 

Persaksian ini menuntut pengesaan Allah dalam ibadah, yaitu bahwa tidak ada satu pun di alam semesta ini yang berhak disembah selain Allah.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ﴾

“Itu karena Allah, Dialah Yang Maha Benar, dan apa yang mereka sembah selain-Nya adalah batil.” (QS. Luqman: 30).

Maka ikhlaskanlah agama ini hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Janganlah kalian memalingkan sedikit pun ibadah kepada selainnya jangan meminta pertolongan kepada makhluk dan benda-benda mati, seperti: penghuni gunung-gunung, lautan, pepohonan, penghuni kuburan, bersekutu dengan bangsa jin untuk sihir dan pesugihan, dan jangan pula menyajikan kepada mereka sesajian atau menyembelih untuk mereka.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ﴾

“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali agar beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan hanya kepada-Nya dalam keadaan lurus.” (Al-Bayyinah ayat 5).

Dan Allah Ta’ala berfirman:

﴿قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ۝ لَا شَرِيكَ لَهُ﴾

“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb seluruh alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya.” (QS. Al-An‘am: 162–163)

Dan sesungguhnya kita, wahai hamba-hamba Allah, tidak diciptakan kecuali untuk beribadah kepada Allah semata, sebagaimana firman Rabb kita Yang Mahamulia:

﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ﴾

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat ayat 56).

Maka siapa yang bertemu Allah dalam keadaan mentauhidkan-Nya akan masuk surga. Dan siapa yang bertemu-Nya dalam keadaan mempersekutukan-Nya dalam ibadah dengan sesuatu selain-Nya, maka ia akan masuk neraka dan kekal di dalamnya.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ﴾

“Sesungguhnya siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh Allah telah mengharamkan surga baginya, dan tempat tinggalnya ialah neraka. Dan tidak ada bagi orang-orang zalim seorang penolong pun.” (QS. Al-Mā’idah ayat 72).

Dan Rukun Islam pasangan berikutnya:

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ.

“dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

Persaksian bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah utusan sebagai Nabi dan Rasul Allah, Persaksian ini menuntut untuk:

طَاعَتُهُ فِيمَا أَمَرَ، وَتَصْدِيقُهُ فِيمَا أَخْبَرَ، وَاجْتِنَابُ مَا نَهَى عَنْهُ وَزَجَرَ، وَأَنْ لَا يُعْبَدَ اللَّهُ إِلَّا بِمَا شَرَعَ.

“Menaati Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam apa yang beliau perintahkan, membenarkannya dalam apa yang beliau kabarkan, menjauhi apa yang beliau larang dan beliau peringatkan, serta tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang beliau syariatkan.”

Maka wujudkanlah persaksian kalian terhadap kerasulan beliau ﷺ dengan sebaik-baik ittiba’ (mengikuti sunnah) dan dengan menjauhi segala bentuk bid‘ah.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ﴾

“Katakanlah (wahai Muhammad): Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Surat Āli ‘Imrān: 31)

Dan rukun kedua dari agama adalah shalat lima waktu yang diwajibkan setiap hari dan malam secara berjamaah. 

Dalam shalat itu seorang hamba berdiri di hadapan Tuhannya dengan penuh kerendahan diri, memohon kepada-Nya, mengharap karunia-Nya, dan takut akan siksa-Nya. Dengan shalat itu iman bertambah, keyakinan menjadi kuat, hati menjadi tenang, jiwa menjadi tenteram, dan kehidupan dunia serta akhiratnya menjadi terang.

Betapa agungnya shalat ini, yang merupakan hubungan besar antara hamba yang fakir lagi lemah dengan Rabbnya, Raja Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

Maka jagalah shalat itu dan berhati-hatilah dari menyia-nyiakannya, karena shalat adalah batas pemisah antara Islam dan kekufuran.

Nabi ﷺ bersabda:

عَنْ بُرَيْدَةَ بْنِ الْحُصَيْبِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:

«الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلَاةُ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ».

Dari Buraidah bin Al-Hushaib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:”

“Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat. Barang siapa meninggalkannya maka sungguh ia telah kafir.”

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad (5/346), At-Tirmidzi no. 262, An-Nasa’i no. 463, dan Ibnu Majah no. 1079, dan dinilai shahih.

Diantara ciri munafiq adalah meninggalkan shalat berjamaah di Masjid, marilah kita dengarkan perkataan sahabat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wassalam, Dari Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:”

«مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللَّهَ غَدًا مُسْلِمًا فَلْيُحَافِظْ عَلَى هَؤُلَاءِ الصَّلَوَاتِ حَيْثُ يُنَادَى بِهِنَّ، فَإِنَّ اللَّهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ ﷺ سُنَنَ الْهُدَى، وَإِنَّهُنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى، وَلَوْ أَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ كَمَا يُصَلِّي هَذَا الْمُتَخَلِّفُ فِي بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ، وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ، وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلَّا مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ، وَلَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُؤْتَى بِهِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ».

“Barang siapa ingin bertemu Allah esok hari dalam keadaan Muslim, hendaklah ia menjaga shalat-shalat ini di tempat adzan dikumandangkan. Sesungguhnya Allah telah mensyariatkan kepada Nabi kalian sunnah-sunnah petunjuk, dan shalat-shalat itu termasuk sunnah petunjuk. Jika kalian shalat di rumah seperti orang yang tertinggal itu shalat di rumahnya, niscaya kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian. Jika kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian, niscaya kalian akan tersesat. Sungguh kami dahulu melihat bahwa tidak ada yang meninggalkan shalat berjamaah kecuali orang munafik yang jelas kemunafikannya. Bahkan ada seseorang yang dipapah di antara dua orang hingga ditegakkan dalam shaf.”

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim nomor 654, pada bab: Keutamaan shalat berjamaah dan penjelasan tentang kerasnya peringatan bagi orang yang meninggalkannya.”

 Dan rukun ketiga dari agama Islam adalah zakat, baik zakat maal (harta) yang diwajibkan sekali dalam setahun setelah sampai nisabnya (batas minimal jumlah harta). Juga zakat tanaman yang wajib dikeluarkan saat panen dan peternakan yang wajib dikeluarkan saat sampai nisabnya.

Zakat adalah bagian kecil dari harta yang banyak yang dikeluarkan oleh seorang Muslim.

Sebagai contoh: Nisab zakat mal mengikuti nilai 85 gram emas. Misalnya harga emas sekitar Rp1.200.000 per gram.

Maka nisab:

85 gram × Rp1.200.000 = Rp102.000.000. Jika harta mencapai Rp102.000.000 (nisab), maka zakat mal yang dikeluarkan adalah 2,5% atau (1/40).

Perhitungannya:

102.000.000 ÷ 40 = 2.550.000

Jadi zakatnya adalah Rp2.550.000.

Dengan zakat itu jiwa menjadi bersih, harta berkembang, keberkahan turun padanya, dan pelakunya mendapatkan pahala yang sangat besar.

Dalam zakat terdapat pemenuhan kebutuhan fakir, miskin, dan orang yang berhutang; menghilangkan kesedihan mereka dan meringankan kesusahan mereka. Zakat juga menumbuhkan kasih sayang antara kaum Muslimin yang kaya dan yang miskin.

Betapa baiknya zakat dan betapa besar manfaatnya. Maka keluarkanlah zakat itu sebelum ia berubah menjadi api yang akan membakar dahi, lambung, dan punggung orang-orang yang menahannya, pada hari yang lamanya lima puluh ribu tahun. Kita berlindung kepada Allah dari murka dan azab-Nya.

Dan rukun keempat dari agama adalah puasa Ramadan setiap tahun.

Allah mensyariatkannya sebagai sarana untuk mencapai ketakwaan, melatih kesabaran, serta mengangkat manusia menuju derajat ihsan dan takut kepada Allah dalam keadaan tidak terlihat oleh manusia.

Di dalamnya juga terdapat kebaikan bagi tubuh, mengingatkan keadaan orang-orang lemah dan miskin, serta mengingatkan akan nikmat makanan dan minuman. Karena sesungguhnya suatu nikmat apabila hilang atau terhalang, maka akan diketahui nilainya.

Dan rukun kelima dari agama adalah haji ke Baitullah yang haram sekali seumur hidup.

Dalam haji kaum Muslimin bertalbiyah dengan tauhid, berdiri di tempat-tempat yang dahulu ditempati oleh bapak mereka Ibrahim alaihis salam, dan melaksanakan manasik sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Muhammad ﷺ.

Mereka mengenakan pakaian ihram sehingga mengingatkan mereka akan keluarnya dari dunia dengan kain kafan. Mereka berkumpul di satu tempat sehingga mengingatkan mereka akan hari kebangkitan yang agung. Kaum Muslimin datang dari timur dan barat, saling mengenal, saling mengambil manfaat, dan saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan.

Kemudian mereka kembali dari haji mereka apabila hajinya mabrur seperti pada hari ketika ibu mereka melahirkan mereka, dosa-dosa mereka telah dihapus dan kesalahan mereka telah diampuni, dan tidak ada balasan bagi mereka kecuali surga.

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

Wahai hamba-hamba Allah,

Sesungguhnya agama kita adalah agama yang agung, diturunkan dari langit. Tidak ada agama yang paling sempurna dan paling paripurna kecuali Islam, Allah sendiri yang menjamin penjagaannya dan menjamin kemenangan bagi orang-orang yang menegakkannya. Ia adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia dan akal yang lurus, mencakup seluruh kemaslahatan para hamba, dan cocok untuk setiap zaman dan tempat.

Agama ini menghalalkan segala yang baik dan mengharamkan segala yang buruk. Ia adalah agama rahmat dan keadilan, kasih sayang dan kebaikan, menyambung tali kekerabatan, berbuat baik kepada tetangga, serta memperbaiki hubungan di antara manusia. Ia adalah agama kejujuran, kesucian diri, dan seluruh akhlak yang mulia.

Agama ini melarang perpecahan dan perselisihan, melarang perbuatan keji dan kemungkaran, durhaka kepada orang tua, memutuskan hubungan kekerabatan, berdusta, berkata kotor, dan seluruh akhlak yang buruk.

Maka segala puji bagi Allah atas agama yang sempurna ini, yang tentangnya Allah berfirman:

﴿الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا﴾

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian, telah Aku cukupkan nikmat-Ku atas kalian, dan Aku ridhai Islam sebagai agama kalian.” (QS. Al-Mā’idah ayat 3).

Wahai saudara-saudara kaum Muslimin,

Pelajarilah agama kalian dengan baik, berpegang teguhlah kepadanya dan banggalah dengannya. Didiklah keluarga dan anak-anak kalian di atas agama ini. Karena tidak ada kemuliaan kecuali dengan Islam yang murni, bersih dari noda-noda bid‘ah. Tidak ada keberuntungan, kebahagiaan, dan petunjuk kecuali dengan Islam.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ﴾

“Barang siapa mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima darinya, dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Āli ‘Imrān ayat 85).

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

أَقُولُ هَذَا الْقَوْلَ، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah Kedua

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَىٰ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَىٰ تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ؛ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.

أَمَّا بَعْدُ:

Ma‘āsyiral muslimīn wa zumratal mu’minīn raḥimakumullāh.

Maka bertakwalah kepada Allah wahai hamba-hamba Allah, dan bersyukurlah kepada-Nya atas nikmat-nikmat-Nya dengan menaati-Nya. Karena sesungguhnya syukur adalah pengikat nikmat, maka janganlah kalian melepaskannya dengan kemaksiatan.

Jagalah nikmat keamanan dengan tetap bersama jamaah kaum Muslimin, dengan mendengar dan taat, dengan kejujuran loyalitas kepada para pemimpin kita, serta dengan menjauhi perpecahan, perselisihan, fanatisme golongan, dan kelompok-kelompok yang memecah belah. Karena sesungguhnya:

«لَا إِسْلَامَ إِلَّا بِجَمَاعَةٍ، وَلَا جَمَاعَةَ إِلَّا بِإِمَامَةٍ، وَلَا إِمَامَةَ إِلَّا بِسَمْعٍ وَطَاعَةٍ».

“Tidak ada Islam tanpa jamaah, tidak ada jamaah tanpa kepemimpinan, dan tidak ada kepemimpinan tanpa mendengar dan taat.”

Jagalah pula apa yang Allah karuniakan kepada kalian berupa kelapangan rezeki dan banyaknya kebaikan, dengan bersikap hemat dalam menggunakannya, menjauhi pemborosan dan penghamburan, serta berhati-hati dari sikap berbangga-bangga dengannya.

Sesungguhnya Allah adalah Dzat yang memberi dan yang menahan. Dia mampu mencabut apa yang telah Dia berikan dan menjadikan miskin orang yang sebelumnya Dia kayakan.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ﴾

“Dan Allah membuat perumpamaan sebuah negeri yang dahulu aman dan tenteram, rezekinya datang kepadanya dengan melimpah dari segala tempat, tetapi penduduknya mengingkari nikmat-nikmat Allah, maka Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan karena apa yang telah mereka perbuat.” (QS. An-Naḥl ayat 112).

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

Wahai hamba-hamba Allah,

Sesungguhnya para wanita adalah saudara kandung bagi para lelaki dan pendidik generasi. Islam telah memberikan perhatian besar kepada wanita dan memuliakannya dengan kemuliaan yang tidak ada tandingannya dalam agama atau sistem apa pun.

Islam memerintahkan untuk berbakti kepadanya ketika ia menjadi ibu, mempergaulinya dengan baik ketika ia menjadi istri, menyayanginya ketika ia menjadi anak perempuan, dan memuliakannya ketika ia menjadi saudari.

Islam juga menjaga wanita dengan penjagaan yang sempurna dari penghinaan dan pelecehan, serta melindunginya dari keinginan orang-orang yang hatinya sakit. Karena itu Islam mensyariatkan baginya untuk menetap di rumahnya, memerintahkannya berhijab, melarangnya berdua-duaan dengan laki-laki yang bukan mahramnya, melarang berjabat tangan dengannya, melarang berbicara dengan nada lembut yang menggoda, dan melarang menampakkan perhiasannya di hadapannya.

Islam juga melarang wanita bepergian tanpa mahram, memerintahkannya untuk menundukkan pandangan, dan memerintahkan para lelaki untuk menundukkan pandangan mereka darinya. Semua itu demi menjaga kehormatan, agama, dan akhlaknya.

Maka hendaklah seorang wanita Muslimah menjaga dengan sungguh-sungguh hijab, kehormatan, dan rasa malunya, karena hal itu merupakan kemuliaan baginya di dunia dan keselamatan baginya pada hari kiamat.

Adapun berhias dan bertabarruj di hadapan laki-laki asing, baik secara langsung maupun melalui media sosial, maka itu termasuk perilaku jahiliyah.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى﴾

“Dan janganlah kalian bertabarruj seperti tabarrujnya wanita-wanita jahiliyah dahulu.” (QS. Al-Aḥzāb ayat 33).

Dan perbuatan tersebut termasuk sebab masuk neraka. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

«صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا: قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ، رُؤُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا».

“Ada dua golongan dari penghuni neraka yang belum pernah aku lihat: suatu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi yang mereka gunakan untuk memukul manusia, dan para wanita yang berpakaian tetapi telanjang, yang berjalan berlenggak-lenggok dan membuat orang lain condong kepada mereka. Kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal bau surga dapat tercium dari jarak sekian dan sekian.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim nomor 2128, pada Kitab Pakaian dan Perhiasan.”

Maka hendaklah setiap wanita Muslimah berusaha menyelamatkan dirinya.

Wahai hamba-hamba Allah,

Pada hari kalian ini berkumpul dua hari raya. Maka siapa yang telah menghadiri shalat Id, ia diberi pilihan: jika ia mau ia boleh menghadiri shalat Jumat, dan jika ia mau ia boleh menggantinya dengan shalat Zhuhur.

Adapun siapa yang tidak menghadiri shalat Id, maka ia wajib menghadiri shalat Jumat. Jika ia tidak sempat menghadiri shalat Jumat, maka ia shalat Zhuhur.

Segala puji bagi Allah atas kemudahan dan kebaikan-Nya.

Marikah kita tutup khutbah ini dengan doa, menundukkan hati kita kepada Allah:

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ، وَيُكَافِئُ مَزِيدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلَالِ وَجْهِكَ، وَلِعَظِيمِ سُلْطَانِكَ.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا، وَاعْتِقْ رِقَابَنَا وَرِقَابَ وَالِدِينَا مِنَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ.

Ya Allah, terimalah puasa dan qiyam kami, bebaskanlah leher kami dan leher kedua orang tua kami dari api neraka, dan masukkanlah kami ke dalam surga bersama orang-orang yang saleh.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَاحْمِ حَوْزَةَ الدِّينِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin, hinakanlah kesyirikan dan orang-orang musyrik, lindungilah agama ini, dan tolonglah hamba-hamba-Mu yang bertauhid.

اللَّهُمَّ وَفِّقْ إِمَامَنَا وَرَئِيسِ جُمْهُورِيَّتِنَا إِنْدُونِيسِيَا بْرَابُوُو سُوبِيَانْتُو وَوَفِّقْ نَائِبَهُ وَأَعْوَانَهُ وَجَمِيعَ شَعْبِهِ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَخُذْ بِنَوَاصِيهِمْ لِلْبِرِّ وَالتَّقْوَى، وَجَنِّبْهُمُ الْفَوَاحِشَ وَجَمِيعَ الرَّدَى.

اللَّهُمَّ انْصُرْ بِهِمْ دِينَكَ، وَأَعْلِ بِهِمْ كَلِمَتَكَ، وَارْزُقْهُمُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ النَّاصِحَةَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

“Ya Allah, berilah taufik kepada pemimpin kami dan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Berilah pula taufik kepada wakilnya, para pembantunya, dan seluruh rakyatnya kepada apa yang Engkau cintai dan Engkau ridhai.

Tuntunlah mereka kepada kebaikan dan ketakwaan, serta jauhkanlah mereka dari segala perbuatan keji dan dari seluruh kebinasaan.”

Ya Allah, menangkanlah agama-Mu melalui mereka, tinggikanlah kalimat-Mu dengan mereka, dan karuniakan kepada mereka para penasihat yang baik dan jujur.

اللَّهُمَّ انْصُرْ جُنُودَنَا، وَاحْفَظْ حُدُودَنَا، وَاجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ، إِنَّكَ أَنْتَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ.

Ya Allah, tolonglah para tentara kami, jagalah perbatasan kami, dan jadikanlah negeri ini negeri yang aman dan tenteram, serta seluruh negeri kaum Muslimin. Sesungguhnya Engkau Maha Kuat lagi Maha Perkasa.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.

“Ya Allah, ampunilah kaum Muslimin dan Muslimat, Mukminin dan Mukminat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Maha Dekat, dan Maha Mengabulkan doa.

اللَّهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

عِبَادَ اللَّهِ:

﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ﴾.

فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ،

﴿وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ﴾.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button