Para Penjaga Reruntuhan Yang Baru

Penjaga Reruntuhan Baru..!!
Isam bin Habib al-Khallaqi
10/8/1447 H
29/1/2026 M
Bahaya paling besar yang dapat menimpa seorang pembaharu adalah ketika ia terjerumus ke dalam “penyembahan terhadap prestasi”, sehingga ia berhenti pada kenangan-kenangannya sebagaimana penyair jahiliyah berhenti di puing-puing peninggalan lama; menangisi bekas rumah yang telah kosong dan mengajak bicara jejak yang telah usang, sementara kafilah kehidupan terus berjalan dan waktu tidak pernah menunggu orang yang berhenti.
Kita sedang berhadapan dengan sekelompok dai yang tertimpa “kemandulan keberlanjutan”. Mereka mengasingkan diri dari hiruk-pikuk masa kini dan problematikanya, untuk hidup dalam jubah “hari-hari kejayaan masa lalu”. Mereka menjadikan “alasan” seperti baju Utsman yang selalu diangkat untuk menolak setiap ajakan bangkit dan memperbarui diri, seakan-akan mereka ingin sejarah membeku pada satu momen ketika merekalah para pahlawan, seraya lupa bahwa air yang tergenang pasti rusak meskipun asalnya jernih.
Siapa pun yang merenungi wahyu akan mendapati bahwa nilai itu bukan terletak pada “sampai”, melainkan pada “proses berjalan”. Nabi ﷺ yang telah diampuni dosa-dosanya yang lalu dan yang akan datang, tidak pernah berkata: “Cukuplah apa yang telah aku lakukan.” Bahkan beliau terus beribadah hingga kedua telapak kakinya pecah-pecah, dan kebiasaan beliau sebagaimana dalam hadis yang sahih adalah ucapannya: “Tidakkah aku menjadi hamba yang bersyukur?”. Berpaling dan membeku pada masa lalu adalah sejenis “kematian klinis bagi risalah”; sebab dakwah adalah ruh yang tidak menerima belenggu, dan sungai yang tidak mengenal genangan. Allah Ta‘ala menegaskan hakikat gerak yang terus-menerus dalam firman-Nya: “Dan katakanlah: beramallah kalian, maka Allah akan melihat amal kalian, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang beriman” (At-Taubah: 105).
Perintah di sini datang dalam bentuk yang berkesinambungan, bukan “lihatlah apa yang telah kalian kerjakan”. Ukuran itu adalah penutup amal. Perlombaan tidak dimenangkan oleh orang yang melesat kencang di awal lalu duduk bercerita betapa cepatnya ia dahulu, melainkan oleh orang yang meneguhkan langkahnya hingga ia berjumpa dengan Allah.
Mereka berdalih dengan panjangnya jalan dan banyaknya rintangan, lalu menikmati duduk diam dan membungkus kemalasan mereka dengan label “realistis” atau “istirahatnya pejuang”. Padahal hakikatnya, pejuang tidak beristirahat ketika medan sedang bergolak. Jalan terasa panjang bagi mereka karena pandangan mereka berpaling dari tujuan, sibuk menatap diri sendiri dan membesarkan pengaruh masa lalu. Al-Qur’an telah memperingatkan kita dari tipe manusia yang masa lalunya justru memberatkan langkah menuju masa depan. Allah berfirman tentang orang-orang yang merasa berat untuk berangkat: “Seandainya keuntungan itu dekat dan perjalanan itu singkat, niscaya mereka mengikutimu, tetapi jarak itu terasa jauh bagi mereka” (At-Taubah: 42).
“Jarak yang jauh” bukanlah alasan dalam logika langit, melainkan batu uji keimanan. Siapa yang menjadikan prestasi masa lalunya sebagai surat pengampunan untuk kemalasannya hari ini, maka ia telah buruk adabnya dalam penghambaan, dan menyangka dirinya memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah karena apa yang pernah ia lakukan. Padahal Allah Ta‘ala berfirman: “Dan janganlah kamu memberi dengan maksud memperoleh balasan yang lebih banyak” (Al-Muddatstsir: 6).
Menghadirkan capaian-capaian lama di setiap forum, serta memaksakan “arogansi alasan” kepada para pendengar, adalah bentuk “kesombongan atas nama sejarah” untuk lari dari tuntutan zaman. Mereka tidak menyadari bahwa “saldo kemarin tidak laku di pasar hari ini”, dan bahwa bahasa zaman membutuhkan perangkat baru, bukan sekadar kisah-kisah kepahlawanan lama yang seiring waktu hanya menjadi bahan “daur ulang”, bukan “pengembangan”. Masa lalu seharusnya menjadi “bahan bakar”, bukan “belenggu”. Prestasi seharusnya menjadi “fondasi” untuk membangun, bukan “atap” tempat berlindung dari hujan. Jika alasan dijadikan metode hidup, ia akan berubah menjadi penyakit yang menggerogoti urat umat dan mewariskan kelemahan.
Umat hari ini tidak membutuhkan “sejarawan” bagi prestasi pribadi mereka, melainkan “arsitek” masa depannya. Dai yang memenjarakan dirinya dalam satu momen kemenangan lama telah membunuh ruh kreativitas dalam dirinya dan mengubah dakwahnya menjadi “museum kenangan”. Wahai kalian yang berdiam di balik tembok “apa yang telah kami lakukan”: Tuhan masa lalu adalah Tuhan masa kini, dan surga tidak dimasuki dengan kepahlawanan kemarin semata, tetapi dengan kejujuran hari ini dan kesabaran esok hari. Di antara doa Nabi ﷺ adalah: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ketidakmampuan dan kemalasan.” Maka kibaskanlah debu ketergantungan dari pundak kalian, hancurkan berhala-berhala ego, karena jalan ini masih di awal, dan wahyu terus menyeru setiap saat: Wahai orang yang berselimut, bangkitlah lalu berilah peringatan



