Buku: Menghidupkan 10 Terakhir Ramadan: Meneladani Nabi ﷺ dalam Mencari Lailatul Qadar

Download Pdfnya Klik
Menghidupkan 10 Terakhir Ramadan: Meneladani Nabi ﷺ dalam Mencari Lailatul Qadar
(Berdasarkan Kitab
لطائف المعارف فيما لمواسم العام من الوظائف
karya Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali)
Daftar isi
Sepuluh Malam Terakhir Ramadan 78
Mukadimah
Segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى yang telah memberikan kepada umat ini musim-musim kebaikan dan waktu-waktu yang penuh keberkahan. Di antara waktu yang paling agung dalam setahun adalah bulan Ramadan, dan puncak kemuliaannya terdapat pada sepuluh malam terakhir.
Pada malam-malam inilah Rasulullah ﷺ memberikan teladan yang luar biasa dalam beribadah. Beliau meningkatkan kesungguhan ibadahnya, menghidupkan malam dengan berbagai amal ketaatan, serta membangunkan keluarganya agar turut meraih keberkahan malam-malam tersebut.
Sebagaimana diriwayatkan oleh Aisyah رضي الله عنها:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ الأَوَاخِرُ مِنْ رَمَضَانَ شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
“Rasulullah ﷺ apabila memasuki sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadan, beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” (HR. Al-Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174)
Ini menunjukkan bahwa sepuluh malam terakhir Ramadan adalah waktu yang sangat istimewa. Di dalamnya terdapat Lailatul Qadar, malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan. Oleh karena itu para ulama dan orang-orang saleh sangat bersungguh-sungguh memanfaatkan malam-malam tersebut dengan berbagai ibadah seperti shalat malam, membaca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa, dan beritikaf di masjid.
Kajian ini mengambil pelajaran dari kitab agung karya Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali رحمه الله, yaitu Lataif al-Ma’arif yang menjelaskan berbagai hikmah dan amalan pada musim-musim ibadah dalam setahun, khususnya tentang keutamaan sepuluh malam terakhir Ramadan dan usaha para salaf dalam mencari Lailatul Qadar.
Resensi Buku:
Disadur dari kitab: لَطَائِفُ الْمَعَارِفِ فِيمَا لِمَوَاسِمِ الْعَامِ مِنَ الْوَظَائِفِ
Terjemahan : “Keindahan Hikmah tentang Amalan-Amalan pada Musim-Musim Ibadah Sepanjang Tahun”
Penulis : Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali
Nama lengkap: Zainuddin ‘Abdurrahman bin Ahmad bin Rajab bin Al-Hasan As-Salami, Al-Baghdadi kemudian Ad-Dimasyqi, Al-Hanbali
Wafat : 795 H
Bidang : Tazkiyatun Nafs, Hadis, dan Fikih Ibadah
Mazhab : Hanbali
Pendahuluan
Kitab Lataif al-Ma’arif merupakan salah satu karya klasik yang sangat terkenal dalam literatur Islam yang membahas keutamaan waktu-waktu ibadah sepanjang tahun. Kitab ini ditulis oleh ulama besar abad ke-8 Hijriah, yaitu Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali, seorang ahli hadis, fakih, sekaligus ulama yang sangat mendalam dalam ilmu tazkiyah (penyucian jiwa).
Buku ini menjadi rujukan penting bagi para ulama dan penuntut ilmu dalam memahami bagaimana memanfaatkan musim-musim ketaatan yang Allah sediakan sepanjang tahun, seperti bulan Ramadan, sepuluh hari terakhir Ramadan, Lailatul Qadar, bulan Muharram, Rajab, Sya‘ban, dan berbagai waktu istimewa lainnya.
Keistimewaan kitab ini terletak pada perpaduan antara dalil Al-Qur’an, hadis Nabi ﷺ, atsar para sahabat, dan nasihat para ulama salaf, sehingga pembaca tidak hanya memahami hukum dan keutamaan suatu amalan, tetapi juga merasakan dorongan spiritual untuk memperbaiki diri.
Isi dan Pembahasan Buku
Secara umum, kitab ini membahas amalan-amalan yang berkaitan dengan waktu-waktu tertentu dalam setahun. Imam Ibnu Rajab menjelaskan keutamaan setiap musim ibadah serta amal yang dianjurkan pada waktu tersebut.
Beberapa tema utama yang dibahas dalam kitab ini antara lain:
1. Keutamaan Bulan Ramadan
Penulis menjelaskan kemuliaan bulan Ramadan sebagai bulan yang penuh rahmat, ampunan, dan pembebasan dari neraka. Ia juga menjelaskan berbagai amalan yang dianjurkan pada bulan ini seperti puasa, qiyamul-lail, membaca Al-Qur’an, dan sedekah.
2. Sepuluh Malam Terakhir Ramadan
Bagian ini termasuk pembahasan yang paling terkenal dalam kitab ini. Ibnu Rajab menjelaskan bagaimana Rasulullah ﷺ sangat bersungguh-sungguh dalam beribadah pada sepuluh malam terakhir Ramadan.
Sebagaimana disebutkan dalam hadis:
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ.
“Apabila Nabi ﷺ memasuki sepuluh (hari terakhir Ramadan), beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Beliau juga menjelaskan tentang pencarian Lailatul Qadar, i‘tikaf, serta berbagai amalan yang dilakukan oleh para salaf pada malam-malam tersebut.
3. Lailatul Qadar
Imam Ibnu Rajab menjelaskan bahwa Lailatul Qadar merupakan malam yang lebih baik daripada seribu bulan, sehingga para ulama dan orang-orang saleh sangat bersungguh-sungguh dalam mencarinya.
4. Amalan pada Bulan Muharram
Dalam kitab ini juga dijelaskan keutamaan puasa pada bulan Muharram, khususnya puasa ‘Asyura.
5. Keutamaan Bulan Rajab dan Sya‘ban
Ibnu Rajab juga membahas berbagai amalan yang dianjurkan pada bulan Rajab dan Sya‘ban serta sikap para ulama salaf dalam menyambut bulan Ramadan.
Keunggulan Buku
1. Kaya Dalil
Kitab ini dipenuhi dengan ayat Al-Qur’an, hadis Nabi ﷺ, dan atsar para sahabat, sehingga pembahasannya memiliki landasan ilmiah yang kuat.
2. Menghidupkan Semangat Ibadah
Ibnu Rajab tidak hanya menjelaskan hukum, tetapi juga memberikan nasihat yang menyentuh hati, sehingga pembaca terdorong untuk meningkatkan ibadah.
3. Menggambarkan Teladan Para Salaf
Buku ini juga memuat banyak kisah tentang kesungguhan para sahabat dan ulama terdahulu dalam beribadah, yang menjadi inspirasi bagi umat Islam hingga hari ini.
4. Relevan Sepanjang Masa
Walaupun ditulis lebih dari enam abad yang lalu, pesan-pesan dalam kitab ini tetap relevan karena membahas pengelolaan waktu dan peningkatan kualitas ibadah.
Kekurangan Buku
Sebagai karya klasik, gaya bahasa kitab ini cukup padat dan memerlukan pemahaman bahasa Arab yang baik. Oleh karena itu sebagian pembaca mungkin membutuhkan syarah atau penjelasan tambahan agar dapat memahami seluruh isi kitab dengan lebih mendalam.
Kesimpulan
Kitab Lataif al-Ma’arif merupakan karya yang sangat berharga dalam khazanah keilmuan Islam. Buku ini tidak hanya menjelaskan keutamaan berbagai waktu ibadah dalam setahun, tetapi juga memberikan bimbingan spiritual agar seorang muslim dapat memanfaatkan waktunya dengan sebaik-baiknya.
Melalui kitab ini, Imam Ibnu Rajab mengingatkan bahwa kehidupan seorang mukmin dipenuhi dengan musim-musim kebaikan yang Allah sediakan, dan orang yang beruntung adalah orang yang mampu memanfaatkannya untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Kitab ini sangat direkomendasikan bagi para penuntut ilmu, dai, dan kaum muslimin yang ingin meningkatkan kualitas ibadah dan memanfaatkan waktu-waktu terbaik dalam Islam.
Majelis Keempat:
Penjelasan tentang Keutamaan Sepuluh Malam Terakhir Ramadan
Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim diriwayatkan dari Aisyah رضي الله عنها, ia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ الأَوَاخِرُ مِنْ رَمَضَانَ شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ.
“Apabila telah masuk sepuluh malam terakhir Ramadan, Rasulullah ﷺ mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” Ini adalah lafaz Al-Bukhari (2024).
Dalam lafaz Muslim (1174) disebutkan:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ الأَوَاخِرُ أَحْيَا اللَّيْلَ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ، وَجَدَّ، وَشَدَّ الْمِئْزَرَ.
“Apabila Nabi ﷺ memasuki sepuluh (hari terakhir Ramadan), beliau menghidupkan malamnya, bersungguh-sungguh (dalam ibadah), membangunkan keluarganya, dan mengencangkan sarungnya.”
Dalam riwayat lain disebutkan dari Aisyah رضي الله عنها juga disebutkan:
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهَا.
“Nabi ﷺ bersungguh-sungguh dalam beribadah pada sepuluh malam terakhir (Ramadan) lebih daripada kesungguhan beliau pada waktu lainnya.” (HR. Muslim, 1175)
Penjelasan
Nabi ﷺ mengkhususkan sepuluh malam terakhir Ramadan dengan amalan-amalan yang tidak beliau lakukan pada malam-malam lainnya.
Di antara amalan tersebut adalah:
Menghidupkan malam dengan ibadah.
Para ulama menjelaskan bahwa maksudnya adalah menghidupkan seluruh malam dengan berbagai ibadah, seperti:
- shalat malam
- membaca Al-Qur’an
- berdzikir
- berdoa
- dan beristighfar.
Hal ini menunjukkan besarnya keutamaan sepuluh malam terakhir Ramadan, karena di dalamnya terdapat Lailatul Qadar yang lebih baik daripada seribu bulan.
Dari Aisyah رضي الله عنها, beliau berkata:
مَا أَعْلَمُهُ ﷺ قَامَ لَيْلَةً حَتَّى الصَّبَاحِ.
“Aku tidak mengetahui bahwa Nabi ﷺ pernah berdiri shalat sepanjang malam hingga pagi.” (HR. Muslim, 746)
Ini menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan “menghidupkan malam” kemungkinan adalah menghidupkan sebagian besar malam, bukan seluruhnya.
Membiasakan keluarga bangun untuk shalat malam
Di antara amalan Nabi ﷺ pada sepuluh malam terakhir Ramadan adalah membangunkan keluarganya untuk shalat malam, berbeda dengan malam-malam lainnya.
Sufyan Ats-Tsauri رحمه الله berkata:
“Aku lebih suka apabila telah masuk sepuluh malam terakhir Ramadan seseorang melakukan shalat malam dengan sungguh-sungguh dan membangunkan keluarganya serta anak-anaknya untuk shalat, jika mereka mampu melakukannya.”
Dalil Nabi ﷺ membangunkan keluarga
Telah sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau pernah membangunkan Fatimah dan Ali رضي الله عنهما pada malam hari.
«أَلَا تَقُومَانِ فَتُصَلِّيَانِ؟».
“Tidakkah kalian bangun lalu shalat?”
(HR. Bukhari, 1127; HR. Muslim, 775).
Anjuran membangunkan pasangan untuk shalat malam
Dianjurkan pula bagi suami atau istri untuk saling membangunkan pasangannya untuk shalat malam.
Disebutkan pula bahwa Nabi ﷺ:
كَانَ يُوقِظُ عَائِشَةَ بِاللَّيْلِ إِذَا قَضَى تَهَجُّدَهُ وَأَرَادَ أَنْ يُوتِرَ.
“Nabi ﷺ membangunkan Aisyah pada malam hari setelah beliau selesai shalat tahajud dan hendak melakukan shalat witir.” (HR. Muslim, 746)
Teladan para sahabat
Dalam Al-Muwaththa’ disebutkan bahwa Umar bin Al-Khaththab رضي الله عنه biasa shalat malam, kemudian ketika sampai pertengahan malam beliau membangunkan keluarganya untuk shalat.
Beliau berkata:
الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ
“Shalat, shalatlah kalian.”
Kemudian beliau membaca firman Allah تعالى:
﴿وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا﴾ (طه: 132)
“Perintahkanlah keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah dalam melaksanakannya.”
Nasihat para salaf tentang qiyamullail
Sebagian orang saleh berkata kepada suaminya pada malam hari:
“Malam telah berlalu, sedangkan perjalanan kita masih jauh. Bekal kita sedikit, dan rombongan orang-orang saleh telah berjalan di depan kita.”
Lalu ia berkata:
يَا حَبِيبِي قُمْ قَدْ دَنَا الْمَوْعِدُ *** يَا نَائِمًا بِاللَّيْلِ كَمْ تَرْقُدُ
“Wahai kekasihku, bangunlah! Waktu pertemuan telah dekat. Wahai orang yang tidur di malam hari, sampai kapan engkau tidur?”
Makna “mengencangkan sarung”
Di antara amalan Nabi ﷺ pada sepuluh malam terakhir adalah:
شَدُّ الْمِئْزَرِ
Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkannya:
Sebagian mengatakan: Ini adalah kiasan tentang kesungguhan dalam ibadah.
Namun penafsiran yang lebih kuat adalah: menjauhi hubungan dengan istri pada sepuluh malam terakhir Ramadan agar fokus pada ibadah.
Ini adalah penafsiran yang dipilih oleh para salaf dan para imam terdahulu.
Nabi ﷺ biasanya beri‘tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadan.
Orang yang beri‘tikaf dilarang mendekati istri (berhubungan suami istri) berdasarkan nash Al-Qur’an dan ijma’ para ulama.
﴿وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ﴾ (البقرة: 187)
“Dan janganlah kalian mencampuri mereka (istri-istri kalian) ketika kalian sedang beri‘tikaf di dalam masjid.”
Sebagian ulama salaf menjelaskan ayat tersebut berkaitan dengan pencarian Lailatul Qadar.
Maksudnya adalah bahwa ketika Allah Ta‘ala membolehkan suami istri berhubungan pada malam-malam Ramadan hingga terbit fajar, sebagaimana dalam firman-Nya:
﴿وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ﴾ (البقرة: 187)
“Makan dan minumlah kalian hingga jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.”
Namun Allah memerintahkan orang yang sedang beri‘tikaf untuk meninggalkan hubungan dengan istri, agar seorang muslim tidak disibukkan oleh kenikmatan yang mubah sepanjang malam Ramadan, sehingga ia tidak lalai dalam mencari Lailatul Qadar.
Oleh karena itu, Nabi ﷺ meninggalkan hubungan dengan istrinya dan memfokuskan diri untuk mencari Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadan.
Dalam dua puluh malam pertama Ramadan, beliau ﷺ masih bersama keluarganya, namun ketika masuk sepuluh malam terakhir beliau menjauhi mereka dan menyibukkan diri dengan ibadah.
Di antara amalan yang dilakukan oleh para salaf pada malam-malam yang diharapkan bertepatan dengan Lailatul Qadar adalah mereka memakai pakaian terbaik, menggunakan wewangian, dan memharumkan masjid dengan minyak wangi.
Hammad bin Salamah رحمه الله berkata:
“Adalah Tsabit Al-Bunani dan Humaid Ath-Thawil memakai pakaian terbaik mereka, menggunakan wewangian, dan memharumkan masjid dengan نَضُوح (minyak wangi cair) dan دُخْنَة (bakhur/incense).”
Mandi antara Maghrib dan Isya
Di antara amalan yang disebutkan juga adalah mandi pada malam yang diharapkan bertepatan dengan Lailatul Qadar, yaitu antara Maghrib dan Isya.
Tsabit Al-Bunani رحمه الله berkata:
“Tamim Ad-Dari رضي الله عنه memiliki satu pakaian yang ia beli dengan harga seribu dirham. Ia mengenakannya pada malam yang diharapkan sebagai malam Lailatul Qadar.”
Anjuran berhias dan membersihkan diri
Dari keterangan ini dapat dipahami bahwa dianjurkan pada malam-malam yang diharapkan sebagai Lailatul Qadar untuk:
- membersihkan diri
- berhias
- memakai pakaian terbaik
- menggunakan wewangian
- sebagaimana juga dianjurkan pada hari Jumat dan hari raya.
Hal ini termasuk bentuk berhias untuk ibadah kepada Allah.
قال الله تعالى: ﴿يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ﴾ (الأعراف: 31)
“Wahai anak Adam, pakailah pakaian terbaik kalian setiap kali memasuki masjid.”
Ibnu Umar رضي الله عنهما berkata:
اللَّهُ أَحَقُّ أَنْ يُتَزَيَّنَ لَهُ.
“Allah lebih berhak untuk dihiasi (dengan penampilan terbaik ketika beribadah kepada-Nya).”
Riwayat ini juga disebutkan dalam bentuk hadis marfu‘.
Hakikat berhias yang sebenarnya
Namun berhias secara lahir tidak akan sempurna kecuali dengan berhias secara batin, yaitu dengan:
- taubat kepada Allah
- kembali kepada-Nya
- membersihkan hati dari dosa dan kotorannya
Karena sesungguhnya hiasan hati dengan taubat dan keikhlasan lebih agung daripada hiasan pakaian.
Penjelasan istilah:
النَّضُوح: minyak wangi cair yang disemprotkan pada lantai atau karpet masjid.
الدُّخْنَة: bakhur atau dupa yang digunakan untuk mengharumkan rumah atau masjid.
Disebutkan bahwa pada bulan Ramadan, terutama pada sepuluh malam terakhir, bakhur sering dibawa berkeliling di masjid, dan manusia merasa senang dengan aroma tersebut karena wewangian dapat melapangkan dada dan menyegarkan semangat dalam beribadah.
Namun hiasan lahir tidak akan sempurna kecuali dengan hiasan batin, yaitu dengan:
- taubat kepada Allah
- kembali kepada-Nya
- membersihkan diri dari kotoran dosa.
Sebab berhias secara lahir sementara batin rusak tidak akan memberikan manfaat apa pun.
Allah تعالى berfirman:
﴿يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ﴾ (الأعراف: 26)
“Wahai anak Adam, sungguh Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan sebagai perhiasan. Tetapi pakaian takwa itulah yang paling baik.”
Sesungguhnya tidak pantas seseorang bermunajat kepada para raja dalam keadaan sendirian kecuali orang yang telah menghiasi lahir dan batinnya serta membersihkan keduanya.
Terlebih lagi ketika bermunajat kepada Raja segala raja, yaitu Allah , yang mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi.
Allah tidak melihat rupa kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian. Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَا إِلَى أَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ».
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim, 2564)
Karena itu, siapa yang berdiri di hadapan Allah hendaknya menghiasi lahirnya dengan pakaian yang baik dan menghiasi batinnya dengan pakaian takwa.
Sebagaimana dikatakan dalam syair:
إِذَا الْمَرْءُ لَمْ يَلْبَسْ ثِيَابًا مِنَ التُّقَى *** تَقَلَّبَ عُرْيَانًا وَإِنْ كَانَ كَاسِيًا
“Jika seseorang tidak mengenakan pakaian takwa, maka ia tetap telanjang walaupun memakai pakaian.”
Di antara amalan pada sepuluh malam terakhir
I’tikaf
Di dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Aisyah رضي الله عنها disebutkan bahwa:
أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ.
“Nabi ﷺ selalu beri‘tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadan hingga Allah mewafatkan beliau.” HR. Bukhari (2026), Muslim (1172).
Dalam Shahih Al-Bukhari juga diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَعْتَكِفُ فِي كُلِّ رَمَضَانَ عَشْرَةَ أَيَّامٍ، فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا.
“Rasulullah ﷺ beri‘tikaf pada setiap Ramadan selama sepuluh hari. Namun pada tahun beliau wafat, beliau beri‘tikaf selama dua puluh hari.” HR. Bukhari (2044).
Hikmah i‘tikaf
Nabi ﷺ melakukan i‘tikaf pada sepuluh malam terakhir karena pada malam-malam tersebut dicari Lailatul Qadar.
Beliau memutuskan diri dari kesibukan dunia untuk:
- memfokuskan hati
- mengosongkan pikiran dari urusan lain
- bermunajat kepada Allah
- berdzikir
- berdoa.
Cara i‘tikaf Nabi ﷺ
Disebutkan bahwa Nabi ﷺ membuat semacam pembatas dari tikar (حصير) sebagai tempat khusus di masjid untuk beliau menyendiri dari manusia.
Tujuannya agar beliau dapat mengurangi interaksi dengan manusia dan memfokuskan diri pada ibadah.
Pendapat Imam Ahmad
Oleh karena itu Imam Ahmad رحمه الله berpendapat bahwa bagi orang yang beri‘tikaf tidak dianjurkan banyak bergaul dengan manusia, bahkan untuk:
- mengajar ilmu
- mengajarkan Al-Qur’an.
Yang lebih utama adalah menyendiri untuk bermunajat kepada Allah, berdzikir, dan berdoa.
Hakikat i‘tikaf
Hakikat i‘tikaf adalah:
قَطْعُ العَلَائِقِ عَنِ الخَلَائِقِ لِلِاتِّصَالِ بِخِدْمَةِ الخَالِقِ
“Memutus keterikatan dengan makhluk agar tersambung dengan pengabdian kepada Sang Pencipta.”
Semakin kuat ma‘rifat kepada Allah dan kecintaan kepada-Nya, serta semakin kuat keakraban seorang hamba dengan Rabbnya, maka hal itu akan melahirkan totalitas penghambaan kepada Allah تعالى.
Karena itu khalwat (menyendiri) yang disyariatkan dalam Islam bagi umat ini adalah i‘tikaf di masjid, khususnya:
- pada bulan Ramadan
- terutama pada sepuluh malam terakhir,
- sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi ﷺ.
يَا لَيْلَةَ القَدْرِ! لِلْعَابِدِينَ اشْهَدِي.
يَا أَقْدَامَ القَانِتِينَ! ارْكَعِي لِرَبِّكِ وَاسْجُدِي.
يَا أَلْسِنَةَ السَّائِلِينَ! جُدِّي فِي المَسْأَلَةِ وَاجْتَهِدِي.
مَنْ لَهُ عَزْمٌ وَجِدٌّ مَا يَقُومُ اللَّيْلَ إِلَّا هُوَ.
رُبَّ دَاعٍ لَا يُرَدُّ.
Wahai malam Lailatul Qadar, saksikanlah para hamba yang beribadah.
Wahai kaki orang-orang yang taat, rukuklah dan bersujudlah kepada Tuhanmu.
Wahai lisan para pemohon, bersungguh-sungguhlah dalam berdoa dan berusaha.
Barangsiapa memiliki tekad dan kesungguhan, dialah yang bangun menegakkan malam.
Betapa banyak orang yang berdoa dan doanya tidak ditolak oleh Allah.
Wahai orang yang umurnya telah berlalu dalam perkara yang sia-sia!
Segeralah mengejar apa yang telah terlewat darimu pada malam Lailatul Qadar, karena malam itu nilainya dihitung seperti umur yang panjang.
Sebagian ulama menggambarkan keutamaan malam ini dengan ungkapan syair:
زَمَانًا فَكَانَتْ لَيْلَةً بِلَيَالِي ***شَفَيْتُ بِهَا قَلْبًا أُطِيلَ عَلِيلُهُ
Sekian lama berlalu, namun ada satu malam yang menyembuhkan hatiku yang lama menanggung sakit.
سَمِيرِيَ فِيهَا بَعْدَ طُولِ مَطَالِ *** وَلَيْلَةِ وَصْلٍ بَاتَ مُنْجِزُ وَعْدِهِ
Di malam itu kekasihku menemani setelah penantian panjang, dan pada malam pertemuan itu ia menepati janjinya.
Karena itu dikatakan:
اسْتَدْرِكْ مَا فَاتَكَ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ؛ فَإِنَّهَا تُحْسَبُ بِالْعُمْرِ.
“Susullah apa yang telah terlewat darimu pada malam Lailatul Qadar, karena nilainya seperti umur yang panjang.”
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ﴾
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Lailatul Qadar. Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu? Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 1–3)
Para ulama menjelaskan bahwa amal pada malam tersebut lebih baik daripada amal selama seribu bulan yang tidak terdapat Lailatul Qadar di dalamnya.
Diriwayatkan dari Imam Malik رحمه الله bahwa beliau berkata:
بَلَغَنِي أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ أُرِيَ أَعْمَارَ النَّاسِ قَبْلَهُ أَوْ مَا شَاءَ اللَّهُ مِنْ ذَلِكَ، فَكَأَنَّهُ تَقَاصَرَ أَعْمَارَ أُمَّتِهِ أَنْ لَا يَبْلُغُوا مِنَ الْعَمَلِ الَّذِي بَلَغَ غَيْرُهُمْ فِي طُولِ الْعُمُرِ، فَأَعْطَاهُمُ اللَّهُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ خَيْرًا مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ.
“Telah sampai kepadaku bahwa Rasulullah ﷺ diperlihatkan umur umat-umat sebelum beliau atau apa yang Allah kehendaki dari itu. Seakan-akan umur umat beliau lebih pendek sehingga mereka tidak dapat mencapai amal umat terdahulu yang panjang umurnya. Maka Allah memberikan kepada mereka Lailatul Qadar yang lebih baik daripada seribu bulan.”
Atsar ini diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al-Muwaththa’ (Kitab I’tikaf) secara Balagh (riwayat tanpa sanad lengkap).
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه bahwa Nabi ﷺ bersabda:
«مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا؛ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»
“Barangsiapa menegakkan ibadah pada malam Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhari no. 2008), (HR. Muslim no. 759).
Makna dan Pelajaran
Lailatul Qadar adalah kesempatan besar bagi seorang hamba untuk mengejar umur yang terlewat, karena satu malam yang dihidupkan dengan ibadah dapat bernilai lebih baik daripada ibadah selama lebih dari 83 tahun.
Karena itu para salaf sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh malam terakhir Ramadan agar tidak kehilangan kesempatan yang sangat agung ini.
Maka segeralah, segeralah memanfaatkan amal pada sisa bulan (Ramadan) yang masih ada.
وَمَا لِيَ فِي الَّذِي ضَيَّعْتُ مِنْ عُمْرِيَ مِنْ عُذْرِ
Aku tidak memiliki alasan atas umur yang telah kusia-siakan.
فَيَا ضَيْعَةَ مَا أَنْفَقْتُ مِنَ الأَيَّامِ مِنْ عُمْرِي
Betapa ruginya hari-hari dari umurku yang telah kuhabiskan.
تَوَلَّى الْعُمْرُ فِي سَهْوٍ وَفِي لَهْوٍ وَفِي خُسْرِ
Umur telah berlalu dalam kelalaian, permainan, dan kerugian.
فَعَسَى أَنْ يُسْتَدْرَكَ بِهِ مَا فَاتَ مِنْ ضَيَاعِ الْعُمْرِ.
Semoga dengan malam itu dapat dikejar apa yang telah hilang dari umur yang tersia-sia.
أَمَا قَدْ خَصَّنَا اللَّهُ بِشَهْرٍ أَيَّمَا شَهْرِ
Bukankah Allah telah mengkhususkan kita dengan sebuah bulan yang sangat agung.
فَمَا أَغْفَلَنَا عَنْ وَاجِبَاتِ الْحَمْدِ وَالشُّكْرِ
Namun betapa kita lalai dari kewajiban memuji dan bersyukur kepada-Nya.
فَطُوبَى لِامْرِئٍ يَطْلُبُهَا فِي هَذِهِ الْعَشْرِ
Maka beruntunglah orang yang mencarinya pada sepuluh malam terakhir.
فَإِنَّهَا تُطْلَبُ فِي الْوِتْرِ
Karena Lailatul Qadar dicari pada malam-malam ganjil.
رَوَيْنَا عَنْ ثِقَاتٍ أَنَّهَا فِيهَا مِنَ الْخَيْرِ
Telah diriwayatkan dari para ulama yang terpercaya tentang kebaikan yang besar di dalamnya.
فَكَمْ مِنْ خَبَرٍ صَحَّ وَفِيهِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ
Betapa banyak riwayat sahih yang menyebutkan bahwa di dalamnya terdapat Lailatul Qadar.
وَهَلْ يُشْبِهُهُ شَهْرٌ
Adakah bulan yang dapat menyamainya?
بِشَهْرٍ أَنْزَلَ الرَّحْمَنُ فِيهِ أَشْرَفَ الذِّكْرِ
Yaitu bulan yang di dalamnya Allah Yang Maha Pengasih menurunkan Al-Qur’an yang mulia.
أَلَا فَادَّخِرُوهَا
Maka simpanlah kesempatan itu.
فَإِنَّهَا مِنْ أَنْفَسِ الذُّخْرِ
Karena ia termasuk simpanan yang paling berharga.
وَقَدْ قَالَ: سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ
Allah telah berfirman: “Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar.”
فَفِيهَا تَنْزِلُ الْأَمْلَاكُ بِالْأَنْوَارِ وَالْبِرِّ
Pada malam itu para malaikat turun membawa cahaya dan kebaikan.
فَكَمْ مِنْ مُعْتَقٍ فِيهَا مِنَ النَّارِ وَهُوَ لَا يَدْرِي
Betapa banyak orang yang dibebaskan dari neraka pada malam itu, sementara ia sendiri tidak menyadarinya.
Penutup
Sepuluh malam terakhir Ramadan adalah kesempatan emas yang mungkin tidak akan kita temui lagi pada tahun-tahun berikutnya. Banyak manusia yang telah melewati Ramadan tahun lalu, namun hari ini mereka telah berada di alam kubur.
Karena itu, orang yang berakal tidak akan menyia-nyiakan malam-malam yang penuh kemuliaan ini. Ia akan berusaha meneladani Nabi ﷺ dan para sahabat dalam menghidupkan malam dengan ibadah, memperbanyak doa, memperbanyak membaca Al-Qur’an, serta membersihkan hati dengan taubat dan keikhlasan.
Lailatul Qadar adalah kesempatan untuk mengejar apa yang telah terlewat dari umur kita. Satu malam yang penuh ibadah dapat bernilai lebih baik daripada ibadah selama lebih dari delapan puluh tahun.
Maka marilah kita memanfaatkan sisa Ramadan dengan sebaik-baiknya. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendapatkan Lailatul Qadar dan diampuni dosa-dosanya.
Doa
Ya Allah, segala puji bagi-Mu atas nikmat iman dan Islam.
Ya Allah, sampaikanlah kami kepada Lailatul Qadar dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mendapatkan keberkahannya.
Ya Allah, bantulah kami untuk menghidupkan malam-malam Ramadan dengan shalat, dzikir, membaca Al-Qur’an, dan doa.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dan dosa seluruh kaum muslimin.
Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari dosa dan maksiat, dan hiasilah hati kami dengan iman, takwa, dan keikhlasan.
Ya Allah, jadikanlah Ramadan ini sebagai Ramadan terbaik dalam hidup kami, dan jangan Engkau jadikan ini sebagai Ramadan terakhir kecuali Engkau telah mengampuni kami.
Ya Allah, bebaskanlah kami dari api neraka dan masukkanlah kami ke dalam surga-Mu bersama orang-orang yang saleh.
Ya Allah, perbaikilah keadaan kaum muslimin di seluruh dunia, satukan hati mereka, dan berikanlah kemenangan kepada agama-Mu.
Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.
Amin ya Rabbal ‘alamin.
Majelis Kelima:
Penjelasan tentang Tujuh Malam Terakhir dari Bulan Ramadan
Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar رضي الله عنهما bahwa beberapa sahabat Nabi ﷺ diperlihatkan Lailatul Qadar dalam mimpi pada tujuh malam terakhir Ramadan.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رِجَالًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ ﷺ أُرُوا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْمَنَامِ فِي السَّبْعِ الأَوَاخِرِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِي السَّبْعِ الأَوَاخِرِ، فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيَهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي السَّبْعِ الأَوَاخِرِ»
“Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa beberapa orang dari sahabat Nabi ﷺ diperlihatkan dalam mimpi bahwa Lailatul Qadar terjadi pada tujuh malam terakir (dari Ramadan). Maka Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Aku melihat bahwa mimpi kalian saling bertepatan pada tujuh malam terakhir, maka barang siapa ingin mencarinya hendaklah mencarinya pada tujuh malam terakhir.’” (HR. Al-Bukhari no. 2015), (HR. Muslim no. 1165).
Dalam riwayat lain yang terdapat dalam Shahih Muslim, dari Ibnu ‘Umar رضي الله عنهما, Nabi ﷺ bersabda:
«الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ، فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلَا يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِي»
“Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir. Jika salah seorang di antara kalian lemah atau tidak mampu (menghidupkan seluruh sepuluh malam), maka jangan sampai ia kalah pada tujuh malam yang tersisa.” (HR. Muslim no. 1165)
Penjelasan
Telah disebutkan sebelumnya bahwa Nabi ﷺ sangat bersungguh-sungguh pada bulan Ramadan untuk mencari Lailatul Qadar.
Pada awalnya beliau pernah beri‘tikaf pada sepuluh hari pertama Ramadan, kemudian setelah itu beliau mencarinya lagi dengan beri‘tikaf pada sepuluh hari pertengahan Ramadan.
Setelah itu dijelaskan kepada beliau bahwa Lailatul Qadar berada pada sepuluh malam terakhir, maka beliau pun memfokuskan ibadahnya pada sepuluh malam terakhir Ramadan.
Hal ini menunjukkan betapa besar perhatian Rasulullah ﷺ terhadap malam yang penuh keberkahan ini, dan menjadi pelajaran bagi umat Islam untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah pada sepuluh malam terakhir, khususnya tujuh malam terakhir Ramadan.
Rasulullah ﷺ terus mencari Lailatul Qadar, dan hal itu terjadi berulang kali. Kemudian akhirnya beliau menetapkan untuk beri‘tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadan dalam rangka mencarinya, dan beliau juga memerintahkan umatnya untuk mencarinya pada waktu tersebut.
Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim diriwayatkan dari Aisyah رضي الله عنها bahwa Nabi ﷺ bersabda:
«تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي العَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ»
“Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadan.” (HR. Al-Bukhari no. 2020), (HR. Muslim no. 1169).
Dan hadis-hadis yang menjelaskan hal ini sangat banyak.
Anjuran Mencari pada Malam-Malam Ganjil
Rasulullah ﷺ juga memerintahkan agar mencarinya pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir.
«الْتَمِسُوا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي العَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ، فِي تَاسِعَةٍ تَبْقَى، فِي سَابِعَةٍ تَبْقَى، فِي خَامِسَةٍ تَبْقَى».
“Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadan, pada malam kesembilan yang tersisa, ketujuh yang tersisa, atau kelima yang tersisa.”
(HR. Al-Bukhari no. 2021),
Penjelasan Ulama
Mayoritas ulama berpendapat bahwa Lailatul Qadar berada pada sepuluh malam terakhir Ramadan, namun mereka berbeda pendapat mengenai malam mana yang paling mungkin terjadi.
Setelah itu Nabi ﷺ juga memerintahkan agar mencarinya secara khusus pada tujuh malam terakhir Ramadan, sebagaimana disebutkan dalam hadis-hadis sahih.
Hal ini menunjukkan bahwa seorang muslim hendaknya bersungguh-sungguh dalam beribadah pada seluruh sepuluh malam terakhir, agar tidak kehilangan kesempatan mendapatkan Lailatul Qadar, malam yang lebih baik daripada seribu bulan.
Malam Mana dari Sepuluh Malam Terakhir yang Paling Diharapkan?
Para ulama berbeda pendapat mengenai malam mana dari sepuluh malam terakhir yang paling besar kemungkinan terjadinya Lailatul Qadar.
Mayoritas ulama mengatakan bahwa sebagian malam lebih besar harapannya daripada malam lainnya, dan mereka menyatakan bahwa malam-malam ganjil secara umum lebih diharapkan.
Kemudian mereka juga berbeda pendapat mengenai malam ganjil mana yang paling diharapkan.
Sebagian ulama berpendapat bahwa malam ke-21 Ramadan adalah yang paling diharapkan. Pendapat ini dikenal sebagai salah satu pendapat Imam Asy-Syafi‘i.
Namun diriwayatkan pula dari Imam Asy-Syafi‘i pendapat lain bahwa malam yang paling diharapkan adalah malam ke-23.
Ada pula sekelompok ulama yang lebih menguatkan malam ke-27 sebagai Lailatul Qadar.
Pendapat ini juga diriwayatkan oleh Sufyan Ats-Tsauri dari para ulama Kufah. Ia berkata:
“Kami berpendapat bahwa Lailatul Qadar adalah malam ke-27, karena riwayat yang sampai kepada kami dari Ubay bin Ka‘b.”
Di antara para sahabat dan tabi‘in yang berpendapat demikian adalah:
- Ubay bin Ka‘b رضي الله عنه
- Zirr bin Hubaisy
- ‘Abdah bin Abi Lubabah
- Atsar dari Para Sahabat
Diriwayatkan dari Qanan bin ‘Abdullah An-Nahmi, ia berkata:
“Aku bertanya kepada Zirr bin Hubaisy tentang Lailatul Qadar. Ia berkata:
‘Umar, Hudzaifah, dan beberapa sahabat Rasulullah ﷺ tidak meragukan bahwa Lailatul Qadar adalah malam ke-27.’”
Riwayat ini dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah.
Pendapat ini juga merupakan pendapat Imam Ahmad dan Ishaq bin Rahuyah.
Salah satu alasan yang menguatkan pendapat bahwa Lailatul Qadar adalah malam ke-27 adalah hadis dari Ubay bin Ka‘b رضي الله عنه.
Ia bersumpah bahwa malam tersebut adalah malam ke-27, dan ia berkata bahwa ia mengetahui tandanya dari tanda yang diberitahukan oleh Rasulullah ﷺ. Ubay bin Ka‘b رضي الله عنه berkata:
بِالْآيَةِ أَوْ بِالْعَلَامَةِ الَّتِي أَخْبَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَنَّ الشَّمْسَ تَطْلُعُ صَبِيحَتَهَا لَا شُعَاعَ لَهَا
“Demi tanda atau ayat yang telah diberitahukan kepada kami oleh Rasulullah ﷺ, yaitu bahwa matahari pada pagi harinya terbit tanpa sinar yang menyilaukan.” (HR. Muslim no. 762).
Dalam Musnad Imam Ahmad diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما:
Seorang laki-laki berkata kepada Nabi ﷺ:
“Wahai Rasulullah, aku adalah seorang yang sudah tua dan sakit. Sulit bagiku untuk menghidupkan malam (dengan ibadah). Maka tunjukkanlah kepadaku satu malam yang semoga Allah memberiku taufik untuk mendapatkan Lailatul Qadar.”
Maka Nabi ﷺ bersabda:
«عَلَيْكَ بِالسَّابِعَةِ»
“Peganglah malam ketujuh (yakni malam ke-27).” (HR. Ahmad no. 2149).
Sanadnya sesuai syarat Al-Bukhari, dan dinilai hadis sahih oleh para ulama.
Kesimpulan
Walaupun sebagian ulama menguatkan malam ke-27, namun pendapat yang paling kuat adalah bahwa Lailatul Qadar dapat terjadi pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir Ramadan.
Karena itu para ulama menasihatkan agar seorang muslim bersungguh-sungguh beribadah pada seluruh sepuluh malam terakhir, agar tidak kehilangan malam yang sangat agung tersebut.
Telah diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:
«مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا؛ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»
“Barangsiapa menegakkan ibadah pada malam Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Al-Bukhari no. 2008), (HR. Muslim no. 759)
Penjelasan
Yang dimaksud dengan “menghidupkan malam Lailatul Qadar” adalah mengisinya dengan berbagai ibadah seperti:
- shalat malam (tahajud)
- qiyamul-lail
- membaca Al-Qur’an
- dzikir
- doa.
Rasulullah ﷺ juga memerintahkan Aisyah رضي الله عنها untuk memperbanyak doa pada malam tersebut.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ، مَا أَقُولُ فِيهَا؟ قَالَ: «قُولِي: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي».
“Aku bertanya: Wahai Rasulullah, jika aku mengetahui malam mana Lailatul Qadar, apa yang harus aku baca pada malam itu?”
Beliau menjawab: “Ucapkanlah: Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.”
(HR. At-Tirmidzi no. 3513), (HR. Ibnu Majah no. 3850). Dishahihkan oleh Al-Albani
Perkataan Ulama
Sufyan Ats-Tsauri رحمه الله berkata:
الدُّعَاءُ فِي تِلْكَ اللَّيْلَةِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الصَّلَاةِ
“Berdoa pada malam itu lebih aku sukai daripada shalat.”
Maksud beliau adalah bahwa memperbanyak doa lebih utama daripada shalat yang sedikit doanya. Namun jika seseorang membaca Al-Qur’an sekaligus berdoa, maka itu adalah amalan yang sangat baik.
Cara Nabi ﷺ Menghidupkan Malam
Rasulullah ﷺ biasa melakukan shalat malam pada malam-malam Ramadan dan pada malam lainnya dengan membaca Al-Qur’an secara tartil dan perlahan.
Beliau tidak melewati ayat yang berisi rahmat kecuali beliau memohon kepada Allah, dan tidak melewati ayat yang berisi azab kecuali beliau memohon perlindungan kepada Allah.
Dengan demikian beliau menggabungkan beberapa ibadah sekaligus:
- shalat
- membaca Al-Qur’an
- berdoa
- berdzikir
- serta bertafakkur.
Inilah amalan yang paling sempurna pada malam-malam sepuluh terakhir Ramadan.
Para ulama juga menjelaskan bahwa shalat mencakup semua ibadah tersebut, karena di dalamnya terdapat bacaan Al-Qur’an, doa, dzikir, rukuk, sujud, dan berbagai bentuk ibadah lainnya.
Karena itu seorang muslim dianjurkan untuk lebih banyak menyibukkan diri dengan shalat malam pada sepuluh malam terakhir Ramadan, disertai dengan doa dan ibadah lainnya.
Wallāhu a‘lam
Angin pada waktu sahur di malam-malam itu membawa rintihan para pendosa, nafas orang-orang yang mencintai Allah, serta kisah-kisah para hamba yang bertaubat.
Seandainya para pendosa bangun pada waktu sahur tersebut dengan hati yang penuh kerendahan dan kehancuran di hadapan Allah, lalu mereka mengangkat surat permohonan maaf (permintaan ampun) kepada Allah, yang isinya sebagaimana firman Allah:
﴿قَالُوا يَا أَيُّهَا الْعَزِيزُ مَسَّنَا وَأَهْلَنَا الضُّرُّ وَجِئْنَا بِبِضَاعَةٍ مُزْجَاةٍ﴾
“Mereka berkata: Wahai Al-‘Aziz, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesusahan, dan kami datang membawa barang yang tidak berharga.” (Surah Yusuf: 88)
Maka akan tampak bagi mereka jawaban dan keputusan dari Allah sebagaimana firman-Nya:
﴿قَالَ لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ ۖ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ﴾
“Dia (Yusuf) berkata: Tidak ada cercaan atas kalian pada hari ini. Semoga Allah mengampuni kalian, dan Dia adalah Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.” (Surah Yusuf: 92)
Doa yang Dianjurkan pada Malam Lailatul Qadar
Dari Aisyah رضي الله عنها, ia berkata: Aku bertanya kepada Nabi ﷺ:
«يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَرَأَيْتَ إِنْ وَافَقْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ؛ مَا أَقُولُ فِيهَا؟»
“Wahai Rasulullah, jika aku mendapatkan Lailatul Qadar, apa yang harus aku baca pada malam itu?”
Beliau menjawab:
«قُولِي: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي»
“Ucapkanlah: Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.” (HR. At-Tirmidzi no. 3513, beliau berkata: Hadis hasa shahih).
Penjelasan:
Nama العفوّ (Al-‘Afuw) termasuk di antara asma Allah Ta‘ala, yang berarti:
Yang Maha Menghapus dosa-dosa hamba-Nya dan memaafkan kesalahan mereka.
Karena itu, pada malam yang agung seperti Lailatul Qadar, seorang hamba sangat dianjurkan untuk memperbanyak doa memohon ampunan kepada Allah, karena malam tersebut adalah malam turunnya rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka.
Majelis Keenam
Perpisahan dengan Bulan Ramadan
1. Keutamaan Puasa Ramadan
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا؛ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ».
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ beliau bersabda:
“Barang siapa berpuasa Ramadan dengan penuh iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari no. 1901. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim no. 760.
2. Keutamaan Qiyam Ramadan
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَيْضًا، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا؛ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ».
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu juga, dari Nabi ﷺ bersabda:
“Barang siapa menghidupkan malam-malam Ramadan (dengan qiyamul-lail) karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari no. 2008. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim no. 759.
3. Keutamaan Lailatul Qadr
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا؛ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ».
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa menghidupkan malam Lailatul Qadr dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari no. 1901. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim no. 760.
4. Tentang Hari Raya sebagai Hari Ganjaran
Disebutkan dalam sebagian riwayat bahwa orang-orang yang berpuasa akan kembali pada hari Idul Fitri dalam keadaan telah diampuni dosa-dosanya, dan hari itu disebut “Yaum al-Jawaiz” (Hari Pemberian Ganjaran).
Namun hadis-hadis tentang penamaan tersebut berstatus lemah (ضعيف) menurut para ulama hadis.
5. Makna Perpisahan dengan Ramadan
Jika orang-orang yang berpuasa telah menyempurnakan puasa Ramadan dan qiyamnya, maka mereka telah menunaikan kewajiban amal yang dibebankan kepada mereka.
Adapun yang tersisa bagi mereka adalah balasan dari Allah, yaitu ampunan dosa.
Maka ketika mereka kembali ke rumah-rumah mereka pada hari raya, mereka kembali setelah menyempurnakan amal dan menerima pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Barang siapa menunaikan apa yang menjadi kewajibannya dari amal secara sempurna, maka akan disempurnakan pula pahala baginya secara sempurna. Dan barang siapa menyerahkan kewajiban yang ada padanya secara penuh, maka ia akan menerima haknya (pahala) secara tunai, tidak ditunda.
Salman radhiyallahu ‘anhu berkata:
الصَّلَاةُ مِكْيَالٌ، فَمَنْ وَفَّى؛ وُفِّيَ لَهُ، وَمَنْ طَفَّفَ؛ فَقَدْ عَلِمْتُمْ مَا قِيلَ فِي الْمُطَفِّفِينَ.
“Salat itu seperti sebuah takaran. Barang siapa menyempurnakannya, maka akan disempurnakan pula balasannya. Dan barang siapa menguranginya, maka kalian telah mengetahui apa yang dikatakan tentang orang-orang yang curang dalam takaran.”
Maka puasa dan seluruh amal ibadah lainnya berjalan dengan cara yang sama. Barang siapa menyempurnakannya, maka ia termasuk hamba-hamba Allah yang terbaik yang menunaikan amal dengan sempurna. Dan barang siapa menguranginya, maka celakalah orang-orang yang curang.
Tidakkah seseorang merasa malu, ketika ia menuntut penuh takaran untuk memuaskan syahwatnya, tetapi justru mengurangi takaran dalam puasa dan salatnya?
Ingatlah, kebinasaan bagi kaum Madyan!
Catatan:
Ungkapan “أَلَا بُعْدًا لِمَدْيَنَ” merupakan kutipan makna dari ayat Al-Qur’an tentang kaum Madyan yang terkenal dengan kecurangan dalam takaran.
Dalil Al-Qur’an:
﴿أَلَا بُعْدًا لِّمَدْيَنَ كَمَا بَعِدَتْ ثَمُودُ﴾
“Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum Madyan sebagaimana telah binasa kaum Tsamud.” (QS. Hud: 95)
Dalam sebuah hadis disebutkan:
«النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ صَلَاتَهُ». قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَيْفَ يَسْرِقُ صَلَاتَهُ؟ قَالَ: «لَا يُتِمُّ رُكُوعَهَا وَلَا سُجُودَهَا».
“Seburuk-buruk pencuri adalah orang yang mencuri dari salatnya.”
Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana seseorang mencuri dari salatnya?”
Beliau menjawab: “Yaitu ia tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya.”
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad Ahmad (no. 11532). Adapun hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad Ahmad (no. 11532), dan Al-Haitsami berkata: para perawinya adalah perawi hadis sahih.
Jika ancaman celaka (ويل) ditujukan kepada orang yang mengurangi takaran dalam urusan dunia, maka bagaimana keadaan orang yang mengurangi takaran dalam urusan agama?!
Para salafus shalih dahulu bersungguh-sungguh dalam menyempurnakan amal, melengkapinya, dan memperbaikinya. Kemudian setelah itu mereka sangat memperhatikan diterimanya amal tersebut dan mereka takut jika amal itu ditolak.
Mereka adalah orang-orang yang disebut dalam firman Allah:
﴿وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ﴾
“Dan orang-orang yang memberikan apa yang mereka berikan, sementara hati mereka penuh rasa takut, karena mereka akan kembali kepada Rabb mereka.” (QS. Al-Mu’minun: 60)
Diriwayatkan dari Ali رضي الله عنه, beliau berkata:
كُونُوا لِقَبُولِ الْعَمَلِ أَشَدَّ اهْتِمَامًا مِنْكُمْ بِالْعَمَلِ، أَلَمْ تَسْمَعُوا اللَّهَ يَقُولُ:
“Hendaklah kalian lebih memperhatikan diterimanya amal daripada sekadar melakukan amal itu.”
Tidakkah kalian mendengar Allah berfirman:
﴿إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ﴾
“Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Ma’idah: 27)
Malik bin Dinar berkata:
الخَوْفُ عَلَى العَمَلِ أَنْ لَا يُتَقَبَّلَ أَشَدُّ مِنَ العَمَلِ.
“Rasa takut bahwa amal tidak diterima itu lebih berat daripada amal itu sendiri.”
Bulan Ramadan adalah bulan yang banyak sebab-sebab ampunan di dalamnya. Di antara sebab-sebab ampunan itu adalah puasanya, qiyamnya, dan qiyam pada malam Lailatul Qadr, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.
Di antaranya juga dzikir, istighfar (memohon ampun), doa orang yang berpuasa yang dikabulkan ketika ia berpuasa dan ketika berbuka, memberi makan orang yang berpuasa, dan meringankan beban budak atau pekerja.
Karena itu Ibnu Umar ketika berbuka puasa beliau berdoa:
«اللَّهُمَّ يَا وَاسِعَ الْمَغْفِرَةِ اغْفِرْ لِي»
“Ya Allah, Wahai Dzat yang Maha Luas ampunan-Nya, ampunilah aku.”
Maka ketika sebab-sebab ampunan begitu banyak di bulan Ramadan, orang yang tidak mendapatkan ampunan di dalamnya adalah orang yang benar-benar sangat terhalang dan sangat merugi.
Dalam Shahih Ibnu Hibban diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi ﷺ naik ke mimbar lalu beliau berkata: “Amin, amin, amin.”
Kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya Jibril datang kepadaku lalu berkata: ‘Wahai Muhammad, siapa saja yang mendapati bulan Ramadan tetapi tidak diampuni dosanya, kemudian ia meninggal lalu masuk neraka, maka Allah menjauhkannya dari rahmat-Nya. Katakanlah: Amin.’
Maka aku pun mengatakan: Amin.
Dan siapa saja yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya, namun ia tidak berbakti kepada mereka hingga ia meninggal lalu masuk neraka, maka Allah menjauhkannya dari rahmat-Nya. Katakanlah: Amin.’
Maka aku mengatakan: Amin.
Dan siapa saja yang disebut namamu di hadapannya tetapi ia tidak bershalawat kepadamu, lalu ia meninggal dan masuk neraka, maka Allah menjauhkannya dari rahmat-Nya. Katakanlah: Amin.’
Maka aku mengatakan: Amin.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahih Ibnu Hibban. Juga diriwayatkan oleh Ahmad, At-Tirmidzi, dan Al-Hakim, dan dinilai hasan sahih oleh sebagian ulama hadis.
تَرَحَّلَ الشَّهْرُ وَا لَهْفَاهُ وَانْصَرَمَا *** وَاخْتَصَّ بِالْفَوْزِ فِي الْجَنَّاتِ مَنْ خَدَمَا
“Bulan itu telah pergi — ah betapa sayangnya — dan ia pun berlalu, dan berbahagialah dengan kemenangan di surga orang yang telah bersungguh-sungguh mengisinya (dengan amal).”
مَنْ فَاتَهُ الزَّرْعُ فِي وَقْتِ الْبِذَارِ فَمَا *** يَحْصُدُ إِلَّا الْهَمَّ وَالنَّدَمَا
Barang siapa melewatkan waktu menanam di musimnya, maka tiada yang akan ia tuai selain kesedihan dan penyesalan.”.
Pada bulan itu terdapat pembebasan dari neraka. Maka siapa yang dibebaskan dari neraka pada dua hari itu, baginya hari raya. Adapun orang yang terluput dari pembebasan pada dua hari itu, maka baginya hari ancaman.
Hari yang sebelumnya adalah hari Arafah, yaitu hari yang pada hari itu tidak terlihat dalam satu hari pun di dunia ini lebih banyak orang yang dibebaskan dari neraka. Pada hari itu orang-orang yang berdosa dari kalangan orang yang berpuasa dibebaskan dari neraka, lalu mereka bergabung dengan orang-orang yang saleh.
Sebagaimana hari Nahr (Idul Adha) adalah hari raya terbesar, demikian pula hari Idul Fitri dari Ramadan menjadi hari raya bagi seluruh umat, karena pada hari itu mereka memperoleh ampunan dan pembebasan dari neraka.
Adapun orang yang terlewat menanam pada musim menanam, maka ia tidak akan menuai apa pun kecuali penyesalan dan kesedihan.
Dan ketika ampunan dan pembebasan dari neraka itu berkaitan dengan puasa Ramadan dan qiyamnya, maka Allah memerintahkan setelah menyempurnakan bilangan hari-harinya untuk bertakbir dan memuji-Nya, sebagaimana firman Allah:
﴿وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ﴾
“Dan hendaklah kalian menyempurnakan bilangannya serta mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepada kalian, agar kalian bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Yaitu agar mereka mengingat-Nya, bersyukur kepada-Nya, dan bertakwa kepada-Nya dengan sebenar-benar takwa, atas nikmat yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya berupa taufik untuk berpuasa, pertolongan dalam melaksanakannya, serta ampunan dan pembebasan mereka dari neraka.
Ibnu Mas’ud menafsirkan firman Allah “bertakwalah kepada-Nya dengan sebenar-benar takwa” dengan makna:
أَنْ يُطَاعَ فَلَا يُعْصَى، وَيُذْكَرَ فَلَا يُنْسَى، وَيُشْكَرَ فَلَا يُكْفَرَ.
“Allah ditaati dan tidak didurhakai, diingat dan tidak dilupakan, disyukuri dan tidak dikufuri.”
Wahai orang-orang yang memiliki dosa-dosa besar!
Raihlah keuntungan, raihlah kesempatan pada hari-hari yang mulia ini. Hari-hari itu tidak ada penggantinya dan tidak ternilai harganya.
Betapa banyak pada hari-hari itu orang yang dibebaskan dari neraka, meskipun ia sebelumnya memiliki dosa dan kesalahan. Maka siapa yang dibebaskan dari neraka pada hari-hari itu, sungguh ia telah memperoleh kemenangan besar dan anugerah yang agung.
Wahai orang yang dibebaskan oleh Tuhannya dari neraka!
Janganlah engkau kembali lagi setelah engkau menjadi orang yang merdeka, kembali kepada perbudakan dosa dan beban maksiat.
Apakah pantas Rabbmu menjauhkanmu dari neraka, sementara engkau justru mendekatinya?
Dia menyelamatkanmu darinya, tetapi engkau menjerumuskan dirimu kembali ke dalamnya dan tidak menjauh darinya?!
وَإِنَّ امْرَأً يَنْجُو مِنَ النَّارِ بَعْدَمَا *** تَزَوَّدَ مِنْ أَعْمَالِهَا لَسَعِيدٌ
“Sesungguhnya seseorang yang selamat dari neraka setelah ia mengambil bekal dari amal-amal (kebaikan) padanya, benar-benar adalah orang yang berbahagia.”
Jika rahmat itu diperuntukkan bagi orang-orang yang berbuat baik, maka orang yang berbuat dosa tidak boleh berputus asa darinya. Ia tidaklah terhalang dari rahmat tersebut.
إِنْ كَانَ عَفْوُكَ لَا يَرْجُوهُ ذُو خَطَإٍ *** فَمَنْ يَجُودُ عَلَى الْعَاصِينَ بِالْكَرَمِ
Jika ampunan-Mu tidak diharapkan oleh orang yang bersalah, maka siapakah yang akan bermurah hati kepada para pendosa dengan karunia?
Wahai orang yang bermaksiat – dan kita semua demikian – janganlah engkau berputus asa dari rahmat Allah karena buruknya amalmu. Betapa banyak orang seperti dirimu yang dibebaskan dari neraka pada hari-hari ini.
Maka berbaik sangkalah kepada Tuhanmu dan bertobatlah kepada-Nya, karena tidak ada yang binasa di sisi Allah kecuali orang yang benar-benar binasa.
Allah berfirman:
﴿قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ﴾
“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)
إِنْ كَانَ لَا يَرْجُوكَ إِلَّا مُحْسِنٌ *** فَمَنِ الَّذِي يَرْجُو وَيَدْعُو الْمُذْنِبُ
Jika yang berharap kepada-Mu hanyalah orang yang berbuat baik, maka kepada siapa lagi orang yang berdosa akan berharap dan berdoa?
إِذَا أَوْجَعَتْكَ الذُّنُوبُ فَدَاوِهَا *** بِرَفْعِ يَدٍ بِاللَّيْلِ وَاللَّيْلُ مُظْلِمٌ
Jika dosa-dosa telah menyakitimu, maka obatilah ia dengan mengangkat tangan (berdoa) pada malam hari ketika malam gelap.
وَلَا تَقْنَطَنَّ مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّمَا *** قُنُوطُكَ مِنْهَا مِنْ ذُنُوبِكَ أَعْظَمُ
Janganlah sekali-kali berputus asa dari rahmat Allah, karena keputusasaanmu dari rahmat-Nya lebih besar daripada dosa-dosamu.
فَرَحْمَتُهُ لِلْمُحْسِنِينَ كَرَامَةٌ *** وَرَحْمَتُهُ لِلْمُذْنِبِينَ تَكَرُّمٌ
Rahmat-Nya bagi orang-orang yang berbuat baik adalah kemuliaan, dan rahmat-Nya bagi para pendosa adalah kemurahan dan karunia.
Sepatutnya orang yang mengharapkan pembebasan dari neraka pada bulan Ramadan mendatangi dan melakukan sebab-sebab yang dapat menyebabkan terbebas dari neraka, dan sebab-sebab itu mudah dilakukan pada bulan ini.
كَانَ أَبُو قِلَابَةَ يُعْتِقُ فِي آخِرِ الشَّهْرِ جَارِيَةً حَسْنَاءَ مُزَيَّنَةً، يَرْجُو بِعِتْقِهَا الْعِتْقَ مِنَ النَّارِ.
“Dahulu Abu Qilabah pada akhir bulan Ramadan membebaskan seorang budak perempuan yang cantik dan berhias, dengan harapan bahwa dengan membebaskannya ia juga akan dibebaskan dari neraka.”
Dalam hadis Salman yang marfu’ yang terdapat dalam Shahih Ibnu Khuzaimah disebutkan:
«مَنْ فَطَّرَ فِيهِ صَائِمًا؛ كَانَ عِتْقًا لَهُ مِنَ النَّارِ، وَمَنْ خَفَّفَ فِيهِ عَنْ مَمْلُوكِهِ؛ كَانَ عِتْقًا لَهُ مِنَ النَّارِ».
“Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa untuk berbuka, maka itu menjadi pembebasan baginya dari neraka. Dan barang siapa meringankan beban budaknya, maka itu menjadi pembebasan baginya dari neraka.”
Catatan:
Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (no. 1887) dan statusnya lemah.
Dalam hadis tersebut juga disebutkan:
«فَاسْتَكْثِرُوا فِيهِ مِنْ خَصْلَتَيْنِ تُرْضُونَ بِهِمَا رَبَّكُمْ، وَخَصْلَتَيْنِ لَا غِنَى بِكُمْ عَنْهُمَا. فَأَمَّا الْخَصْلَتَانِ اللَّتَانِ تُرْضُونَ بِهِمَا رَبَّكُمْ: فَشَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَالِاسْتِغْفَارُ،وَأَمَّا اللَّتَانِ لَا غِنَى بِكُمْ عَنْهُمَا: فَتَسْأَلُونَ اللَّهَ الْجَنَّةَ وَتَتَعَوَّذُونَ بِهِ مِنَ النَّارِ».
“Perbanyaklah pada bulan ini dua perkara yang dengannya kalian dapat meridhakan Tuhan kalian, dan dua perkara yang kalian sangat membutuhkannya.
Adapun dua perkara yang dengannya kalian meridhakan Tuhan kalian adalah: bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah dan memperbanyak istighfar.
Adapun dua perkara yang kalian sangat membutuhkannya adalah: memohon kepada Allah surga dan meminta perlindungan kepada-Nya dari neraka.”
Maka empat amalan yang disebutkan dalam hadis ini, masing-masing darinya merupakan sebab untuk memperoleh pembebasan dari neraka dan ampunan.
Adapun kalimat tauhid, maka ia meruntuhkan dosa-dosa dan menghapusnya, dan ia sebanding dengan memerdekakan budak, yaitu sesuatu yang menyebabkan pembebasan dari neraka. Barang siapa mengucapkannya empat kali ketika pagi dan empat kali ketika petang, maka Allah akan membebaskannya dari neraka. Dan barang siapa mengucapkannya dengan ikhlas dari hatinya, maka Allah mengharamkan neraka atasnya.
Adapun kalimat istighfar, maka ia termasuk sebab terbesar untuk mendapatkan ampunan, karena istighfar adalah doa untuk memohon ampunan, sedangkan doa orang yang berpuasa dikabulkan ketika ia sedang berpuasa dan ketika berbuka.
Telah disebutkan sebelumnya hadis Abu Hurairah:
«وَيُغْفَرُ فِيهِ لِكُلِّ امْرِئٍ إِلَّا مَنْ أَبَى» قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: «مَنْ أَبَى أَنْ يَسْتَغْفِرَ اللَّهَ».
“Dan di dalamnya (yakni bulan Ramadan) diampuni dosa-dosa, kecuali bagi orang yang enggan.”
Para sahabat bertanya: “Wahai Abu Hurairah, siapakah orang yang enggan itu?”
Beliau menjawab: “Orang yang enggan untuk memohon ampun kepada Allah.”
Al-Hasan berkata:
أَكْثِرُوا مِنَ الِاسْتِغْفَارِ؛ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْرُونَ مَتَى تَنْزِلُ الرَّحْمَةُ.
“Perbanyaklah istighfar, karena kalian tidak mengetahui kapan rahmat Allah turun.”
Luqman berkata kepada anaknya:
يَا بُنَيَّ، عَوِّدْ لِسَانَكَ الِاسْتِغْفَارَ؛ فَإِنَّ لِلَّهِ سَاعَاتٍ لَا يَرُدُّ فِيهَا سَائِلًا.
“Wahai anakku, biasakanlah lisanmu dengan istighfar, karena sesungguhnya Allah memiliki waktu-waktu di mana Dia tidak menolak orang yang meminta kepada-Nya.”
Catatan:
Maknanya adalah bahwa tidak ada amal saleh yang dapat mendahuluinya dalam keutamaan, yakni bahwa ia termasuk amal yang paling utama secara mutlak.
Dan Allah telah menggabungkan tauhid dan istighfar dalam firman-Nya:
﴿فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ﴾
“Maka ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan mohonlah ampun atas dosamu serta bagi orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kalian berusaha dan tempat tinggal kalian.” (QS. Muhammad: 19)
Dalam sebagian atsar disebutkan bahwa Iblis berkata:
أَهْلَكْتُ النَّاسَ بِالذُّنُوبِ، وَأَهْلَكُونِي بِـلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَالِاسْتِغْفَارِ.
“Aku telah membinasakan manusia dengan dosa-dosa, sedangkan mereka membinasakanku dengan Lā ilāha illā Allāh dan istighfar.”
Istighfar adalah penutup bagi semua amal saleh. Ia menjadi penutup bagi salat, haji, dan qiyamul-lail. Ia juga dijadikan penutup bagi majelis-majelis. Jika majelis itu berisi kebaikan dan dzikir, maka istighfar menjadi seperti stempel penutupnya. Jika majelis itu berisi kesia-siaan, maka istighfar menjadi penghapus (kafarah) baginya.
Demikian pula seharusnya puasa Ramadan ditutup dengan istighfar.
كَتَبَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ إِلَى الْأَمْصَارِ يَأْمُرُهُمْ بِخَتْمِ شَهْرِ رَمَضَانَ بِالِاسْتِغْفَارِ وَصَدَقَةِ الْفِطْرِ.
“Umar bin Abdul Aziz menulis surat kepada berbagai wilayah, memerintahkan mereka agar menutup bulan Ramadan dengan istighfar dan sedekah, yaitu sedekah fitrah.”
Karena sedekah fitrah merupakan penyucian bagi orang yang berpuasa dari perkataan sia-sia dan perkataan kotor, sedangkan istighfar menambal kekurangan yang terjadi dalam puasa akibat perkataan sia-sia dan perkataan kotor.
Karena itu sebagian ulama terdahulu berkata:
صَدَقَةُ الْفِطْرِ لِلصَّائِمِ كَسَجْدَتَيِ السَّهْوِ لِلصَّلَاةِ.
“Sesungguhnya sedekah fitrah bagi orang yang berpuasa seperti dua sujud sahwi bagi salat.”
Umar bin Abdul Aziz berkata dalam suratnya:
«قُولُوا كَمَا قَالَ أَبُوكُمْ آدَمُ»
“Katakanlah sebagaimana yang dikatakan oleh bapak kalian Adam:
﴿رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ﴾
“Wahai Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A‘raf: 23)
«وَقُولُوا كَمَا قَالَ نُوحٌ»
Dan katakanlah sebagaimana yang dikatakan oleh Nuh:
﴿رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ ۖ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ﴾
“Wahai Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari memohon kepada-Mu sesuatu yang aku tidak memiliki pengetahuan tentangnya. Jika Engkau tidak mengampuni aku dan tidak merahmati aku, niscaya aku termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Hud: 47)
«وَقُولُوا كَمَا قَالَ إِبْرَاهِيمُ».
Dan katakanlah sebagaimana yang dikatakan oleh Ibrahim:
﴿وَالَّذِي أَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ﴾
“Dan Dialah yang aku harapkan akan mengampuni kesalahanku pada hari pembalasan.” (QS. Asy-Syu‘ara: 82)
«وَقُولُوا كَمَا قَالَ مُوسَى»
Dan katakanlah sebagaimana yang dikatakan oleh Musa:
﴿رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي﴾
“Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku.” (QS. Al-Qasas: 16)
«وَقُولُوا كَمَا قَالَ ذُو النُّونِ» (نبي الله يونس)
Dan katakanlah sebagaimana yang dikatakan oleh Dzun-Nun (Nabi Yunus):
﴿لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ﴾
“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya: 87).”
Puasa adalah perisai dari neraka selama tidak dilubangi. Perkataan buruk dapat melubangi perisai tersebut, sedangkan istighfar menambal apa yang telah robek darinya.
Betapa sering kita menambal robekan puasa kita dengan jarum amal-amal kebaikan, kemudian kita merobeknya kembali dengan panah-panah perkataan yang buruk, sehingga robekannya semakin besar.
Maka puasa kita ini sangat membutuhkan istighfar yang bermanfaat dan amal saleh yang menjadi penolong baginya.
Sebagian salaf dahulu, apabila mereka selesai melaksanakan suatu salat, mereka memohon ampun kepada Allah atas kekurangan mereka dalam salat tersebut, sebagaimana seorang pendosa memohon ampun atas dosanya.
Jika keadaan orang-orang yang berbuat baik dalam ibadah mereka seperti ini, maka bagaimana keadaan orang-orang yang lalai seperti kita dalam kebiasaan-kebiasaan kita?
Hal yang serupa juga tampak pada perintah Nabi ﷺ kepada Aisyah pada malam Lailatul Qadr agar ia memohon ampunan (العفو). Sesungguhnya seorang mukmin bersungguh-sungguh di bulan Ramadan dalam puasa dan qiyamnya, tetapi ketika hampir selesai dan bertepatan dengan malam Lailatul Qadr, ia tidak memohon kepada Allah kecuali ampunan, seperti orang yang berdosa dan penuh kekurangan.
Adapun memohon surga dan berlindung dari neraka, maka itu termasuk doa yang paling penting. Nabi ﷺ bersabda:
«حَوْلَهَا نُدَنْدِنُ».
“Di sekeliling dua perkara itulah kami berdoa dan memohon.”
Orang yang berpuasa diharapkan doanya dikabulkan, maka hendaknya ia tidak berdoa kecuali dengan perkara-perkara yang paling penting.
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ﴾
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untuk kalian.”
Dan Allah juga berfirman tentang orang-orang beriman bahwa mereka berdoa memohon surga dan perlindungan dari neraka.
Dan Allah juga berfirman:
﴿إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ﴾
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Tuhan kami adalah Allah’, kemudian mereka istiqamah, maka para malaikat turun kepada mereka (seraya berkata): Janganlah kalian takut dan jangan bersedih, dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepada kalian.”
Dan Allah juga berfirman:
﴿وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ﴾
“Dan bersegeralah kalian menuju ampunan dari Tuhan kalian dan menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.”
Wahai hamba-hamba Allah!
Sesungguhnya bulan Ramadan telah bersiap untuk pergi, dan tidak tersisa darinya kecuali sedikit hari dan malam.
Barang siapa di antara kalian yang telah berbuat baik di dalamnya, maka hendaklah ia menyempurnakannya. Dan barang siapa yang telah lalai, maka hendaklah ia menutupnya dengan kebaikan, karena amal itu dinilai dari penutupnya.
Maka manfaatkanlah sisa malam dan hari yang sedikit ini, dan titipkanlah di dalamnya amal saleh yang akan menjadi saksi bagi kalian di hadapan Allah Yang Maha Mengetahui. Dan ucapkanlah selamat tinggal kepadanya dengan sebaik-baik penghormatan dan salam.
Wahai bulan Ramadan, bersikaplah lembutlah…
Air mata para pecintamu mengalir karena kepergianmu, hati mereka terbelah oleh rasa sakit perpisahan.
Semoga saat perpisahan ini memadamkan api kerinduan yang membakar, semoga orang yang berhak masuk neraka dibebaskan, semoga orang yang tertinggal dari rombongan orang-orang yang diterima amalnya dapat menyusul.
Semoga satu saat taubat dan kembali kepada Allah dapat menambal robekan puasa, semoga orang yang patah hatinya diperbaiki, dan orang yang bertobat diterima.
عَسَى وَعَسَى مِنْ قَبْلِ وَقْتِ التَّفَرُّقِ *** إِلَى كُلِّ مَا تَرْجُو مِنَ الْخَيْرِ تَلْتَقِي
فَيُجْبَرُ مَكْسُورٌ وَيُقْبَلُ تَائِبٌ *** وَيُعْتَقُ خَطَّاءٌ وَيَسْعَدُ مَنْ شَقِيَ
Semoga, sebelum tiba waktu perpisahan, engkau dapat bertemu dengan segala kebaikan yang engkau harapkan.
Sehingga orang yang patah hatinya diperbaiki, orang yang bertobat diterima, orang yang banyak berbuat salah dibebaskan (dari neraka), dan orang yang sengsara menjadi bahagia.
Sepuluh Malam Terakhir Ramadan
(Pasal: Penjelasan tentang Keutamaan Sepuluh Malam Terakhir Ramadan)
Allah adalah Dzat Yang Maha Pemaaf, Dia mencintai pemaafan dan mencintai untuk memaafkan hamba-hamba-Nya. Dia juga mencintai agar para hamba-Nya saling memaafkan satu sama lain. Jika mereka saling memaafkan, maka Allah akan memperlakukan mereka dengan pemaafan-Nya. Dan sesungguhnya pemaafan Allah lebih Dia cintai daripada menghukum.
Oleh karena itu Nabi ﷺ biasa berdoa:
«أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ»
“Aku berlindung dengan keridaan-Mu dari kemurkaan-Mu, dan dengan keselamatan (ampunan)-Mu dari hukuman-Mu.” (HR. Muslim no. 486)
Ketika orang-orang yang mengenal Allah (العارفون بالله) mengetahui keagungan-Nya, mereka pun tunduk dan merendahkan diri kepada-Nya.
Dan ketika para pendosa mendengar tentang keluasan ampunan-Nya, mereka pun berharap kepada-Nya.
Seandainya para pendosa tidak memiliki harapan terhadap ampunan Allah, niscaya hati mereka akan terbakar oleh keputusasaan dari rahmat-Nya. Namun ketika hati mengingat pemaafan Allah, maka hati pun menjadi tenang dan merasakan kesejukan dari ampunan-Nya.
Sebagaimana disebutkan dalam syair:
يَا كَبِيرَ الذَّنْبِ عَفْوُ اللَّهِ مِنْ ذَنْبِكَ أَكْبَرُ
Wahai orang yang dosanya besar, ampunan Allah lebih besar daripada dosamu.
فَلَا تَيْأَسْ فَإِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ مَا هُوَ أَكْبَرُ
Maka janganlah engkau berputus asa, karena Allah mampu mengampuni dosa yang lebih besar daripada itu.
إِنَّ ذَنْبَكَ عِنْدَ عَفْوِ اللَّهِ يَصْغُرُ
Sesungguhnya dosamu menjadi kecil di hadapan ampunan Allah.
Maknanya adalah bahwa sebesar apa pun dosa seorang hamba, ia tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah, karena ampunan Allah jauh lebih luas daripada dosa manusia.
Sebagaimana firman Allah تعالى:
﴿قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا﴾
“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa.” (Surah Az-Zumar: 53)
Sesungguhnya Nabi ﷺ memerintahkan memohon ampunan pada malam Lailatul Qadar, setelah seseorang bersungguh-sungguh dalam berbagai ibadah pada malam itu dan pada sepuluh malam terakhir Ramadan.
Hal ini karena orang-orang yang mengenal Allah biasanya bersungguh-sungguh dalam amal ibadah, tetapi setelah itu mereka tidak memandang amal mereka sebagai sesuatu yang besar. Mereka tidak melihat diri mereka memiliki amal saleh, keadaan yang baik, ataupun ucapan yang pantas dibanggakan.
Karena itu mereka kembali memohon ampunan kepada Allah, seperti keadaan seorang pendosa yang lalai dan penuh kekurangan.
Hal ini sesuai dengan doa yang diajarkan Nabi ﷺ kepada Aisyah رضي الله عنها untuk dibaca pada malam Lailatul Qadar.
Dari Aisyah رضي الله عنها, ia berkata: Aku bertanya kepada Nabi ﷺ:
«يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَرَأَيْتَ إِنْ وَافَقْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ؛ مَا أَقُولُ فِيهَا؟»
“Wahai Rasulullah, jika aku mendapatkan Lailatul Qadar, apa yang harus aku baca pada malam itu?”
Beliau menjawab:
«قُولِي: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي»
“Ucapkanlah: Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.”
(HR. At-Tirmidzi no. 3513), (HR. Ibnu Majah no. 3850). Dishahihkan oleh Al-Albani.
Syair Nasihat
يَا رَبِّ عَبْدُكَ قَدْ أَتَى
Wahai Tuhanku, hamba-Mu telah datang.
وَقَدْ أَسَاءَ وَقَدْ هَفَا
Sedangkan ia telah berbuat salah dan banyak tergelincir.
يَكْفِيهِ مِنْكَ حَيَاؤُهُ
Rasa malunya kepada-Mu sudah cukup baginya.
مِنْ سُوءِ مَا قَدْ أَسْلَفَا
Atas keburukan yang telah ia lakukan sebelumnya.
حَمَلَ الذُّنُوبَ عَلَى الذُّنُوبِ
Ia memikul dosa di atas dosa-dosanya.
وَقَدِ اسْتَجَارَ بِذَيْلِ عَفْوِكَ مُلْحِفًا
Dan ia berlindung dengan bersungguh-sungguh pada naungan ampunan-Mu.
يَا رَبِّ فَاعْفُ وَاعْفُ عَنْهُ
Wahai Tuhanku, maka ampunilah dan maafkanlah dia.
فَأَنْتَ أَوْلَى مَنْ عَفَا
Karena Engkau adalah Dzat yang paling pantas memberi ampunan.



