Syarat Wajib Puasa Ramadan

Syarat-syarat wajibnya puasa Ramadan:
Puasa Ramadan wajib atas orang yang terpenuhi padanya syarat-syarat berikut:
1. Islam:
Maka tidak wajib dan tidak sah puasa dari orang kafir, karena puasa adalah ibadah, dan ibadah tidak sah dari orang kafir. Apabila ia masuk Islam, ia tidak wajib mengqadha puasa yang telah ia tinggalkan.
2. Baligh:
Maka tidak wajib puasa atas orang yang belum mencapai batas taklif (baligh), berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
رفع القلم عن ثلاثة
“Diangkat pena (beban hukum) dari tiga orang…” (HR. Ahmad, Abu Daud, dishahihkan al-Albani) — dan beliau menyebutkan di antaranya anak kecil hingga ia bermimpi (baligh). Akan tetapi, puasa sah dari anak yang belum baligh jika ia berpuasa, selama ia sudah mumayyiz, dan seyogianya wali (orang tuanya) memerintahkannya berpuasa agar ia terbiasa dan akrab dengannya.
3. Berakal:
Maka tidak wajib puasa atas orang gila dan yang tidak berakal, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Diangkat pena (beban hukum) dari tiga orang…” — dan beliau menyebutkan di antaranya orang gila hingga ia sadar kembali.
4. Sehat:
Barang siapa sakit dan tidak mampu berpuasa, maka tidak wajib baginya berpuasa. Namun jika ia tetap berpuasa, puasanya sah, berdasarkan firman Allah Ta‘ala:
وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
“Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan, maka (wajib mengganti) sebanyak hari yang ditinggalkannya pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 185).
Jika penyakitnya telah hilang, maka wajib baginya mengqadha hari-hari yang ia berbuka.
5. Bermukim (tidak dalam safar):
Maka tidak wajib puasa atas musafir, berdasarkan firman Allah Ta‘ala:
وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
“Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan, maka (wajib mengganti) sebanyak hari yang ditinggalkannya pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 185).
Jika seorang musafir berpuasa, maka puasanya sah, dan wajib baginya mengqadha hari-hari yang ia berbuka dalam perjalanan.
6. Suci dari haid dan nifas:
Wanita yang haid dan nifas tidak wajib berpuasa, bahkan haram atas keduanya berpuasa, berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
أليس إذا حاضت لم تصلِّ، ولم تصم؟، فذلك من نقصان دينها
“Bukankah apabila ia haid, ia tidak shalat dan tidak berpuasa? Maka itulah bagian dari kekurangan agamanya.” (HR. Bukhari no. 304).
Dan wajib atas keduanya mengqadha puasa, berdasarkan perkataan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:
كان يصيبنا ذلك، فنؤمر بقضاء الصوم، ولا نؤمر بقضاء الصلاة
“Dahulu kami mengalami hal itu (haid), lalu kami diperintahkan untuk mengqadha puasa, dan tidak diperintahkan untuk mengqadha shalat.” (HR. Muslim no. 335).
Sumber Fikih Muyassar



