Buah Dari Kesalehan Orang Tua Terhadap Anaknya

BUAH DARI KESALEHAN ORANG TUA TERHADAP ANAKNYA
Banyak orang tua menaruh perhatian besar pada urusan pendidikan anak. Mereka mengikuti perkembangan terbaru dalam ilmu pendidikan, membaca teori-teori modern, dan berusaha memahami berbagai metode terbaik dalam membina generasi.
Tak sedikit di antara mereka yang terus bertanya: bagaimana cara mendidik anak agar menjadi pribadi yang saleh dan bertakwa kepada Rabb-nya? Bagaimana rahasia memberi ganjaran dan hukuman yang tepat, bagaimana menumbuhkan motivasi, dan bagaimana memperbaiki kesalahan anak dengan cara yang benar?
Karena itulah, banyak ayah dan ibu mengerahkan segala upaya untuk memperbaiki dan membentuk anak-anak mereka agar menjadi pribadi yang bermanfaat bagi agama dan masyarakat. Kegelisahan untuk melihat anak tumbuh menjadi baik hampir menguasai pikiran kebanyakan orang tua. Namun usaha mereka berbeda-beda.
Ada yang hanya berangan-angan dan berharap tanpa langkah nyata. Ada pula yang mengorbankan harta dan tenaga, menyediakan segala sarana pendidikan dan pembinaan. Meski demikian, hasil akhirnya tetap berbeda-beda, dan buah dari segala usaha itu pada hakikatnya berada dalam ilmu dan kehendak Allah subhanahu wa ta’ala.
Sebab yang sering dilupakan
Yang menarik, banyak orang tua hanya bergantung pada sebab-sebab lahiriah dan materi semata. Mereka lupa bahwa ada sebab-sebab lain yang justru memiliki pengaruh besar terhadap kesalehan anak, seperti doa, rezeki yang halal, amanah, berbakti kepada orang tua, dan amal-amal saleh lainnya.
Pertanyaan tentang pendidikan anak memang banyak, dan jawaban pun beragam. Setiap orang berbicara sesuai dengan kadar ilmu dan ketakwaannya. Namun jika kita kembali kepada Al-Qur’an, Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamم, dan penjelasan para ulama, kita akan menemukan jawaban yang jelas dan menenteramkan.
Allah ta’ala berfirman:
﴿وَأَمَّا ٱلۡجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَٰمَيۡنِ يَتِيمَيۡنِ فِي ٱلۡمَدِينَةِ وَكَانَ تَحۡتَهُۥ كَنز لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَٰلِحا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَن يَبۡلُغَآ أَشُدَّهُمَا وَيَسۡتَخۡرِجَا كَنزَهُمَا رَحۡمَة ﴾
“Adapun dinding itu milik dua anak yatim di kota itu, dan di bawahnya tersimpan harta milik mereka berdua. Ayah mereka adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar mereka berdua mencapai usia dewasa dan mengeluarkan harta simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu.”
(QS. Al-Kahfi: 82)
Allah menjaga harta kedua anak yatim itu, padahal harta tersebut hanyalah kenikmatan dunia yang fana. Mengapa? Karena ayah mereka adalah seorang yang saleh.
Sa‘id bin Jubair menjelaskan bahwa ayah mereka dikenal sebagai orang yang menunaikan amanah dan mengembalikan titipan kepada pemiliknya. Karena kesalehannya, Allah menjaga harta itu sampai anak-anaknya dewasa. Ayat ini menjadi bukti bahwa kesalehan orang tua membawa perlindungan dan kebaikan bagi anak-anaknya.
Ibnu Katsir mengatakan bahwa ayat ini menunjukkan bahwa seorang yang saleh akan dijaga keturunannya. Keberkahan ibadahnya meliputi mereka di dunia dan akhirat. Bahkan Allah bisa meninggikan derajat mereka di surga demi menenangkan hati orang tua mereka.
Ibnu Abbas juga menyatakan bahwa Allah memperbaiki keadaan anak dan cucu seseorang karena kesalehan orang tersebut, bahkan menjaga rumah dan lingkungan sekitarnya dalam perlindungan-Nya.
Para ulama salaf sangat menyadari hakikat ini.
Sa‘id bin Al-Musayyib berkata kepada putranya, “Aku akan memperbanyak shalatku demi dirimu, berharap Allah menjagamu.”
Mereka memahami bahwa amal saleh orang tua adalah warisan paling berharga bagi anak-anaknya.
Kisah teladan para salaf
Abdullah bin Mas‘ud pernah shalat malam sementara anaknya tidur. Ia memandang anaknya sambil berkata, “Demi engkau, wahai anakku,” lalu membaca ayat:
وَكَانَ أَبُوهُمَا صَٰلِحٗا
“Dan ayah mereka adalah seorang yang saleh.”
Umar bin Abdul Aziz dikenal zuhud dan tidak meninggalkan harta dunia bagi keluarganya. Namun orang-orang sezamannya berkata: “Kami melihat anak-anak Umar bin Abdul Aziz menjadi orang-orang terkaya, sedangkan anak-anak Abdul Malik bin Marwan justru meminta-minta kepada manusia.”
Kesalehan, kejujuran, sedekah, dan meninggalkan yang haram adalah bekal yang tidak akan hilang, karena semuanya diserahkan kepada Dzat yang menguasai langit dan bumi.
Allah berfirman:
وَلۡيَخۡشَ ٱلَّذِينَ لَوۡ تَرَكُواْ مِنۡ خَلۡفِهِمۡ ذُرِّيَّةٗ ضِعَٰفًا خَافُواْ عَلَيۡهِمۡ فَلۡيَتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡيَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدًا
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang sekiranya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah yang mereka khawatirkan kesejahteraannya. Maka hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar.”
Memilih pasangan yang saleh
Termasuk sebab penting dalam melahirkan generasi saleh adalah memilih pasangan hidup yang saleh. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamم bersabda:
“Wanita dinikahi karena empat hal: hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah yang beragama, niscaya engkau beruntung.”
Memilih ibu yang salehah adalah hak anak sebelum ia lahir. Dari ayah dan ibu yang saleh akan lahir generasi yang baik.
Pendidikan yang benar
Pendidikan yang baik ibarat benih yang ditanam di tanah subur. Allah berfirman:
وَٱلۡبَلَدُ ٱلطَّيِّبُ يَخۡرُجُ نَبَاتُهُۥ بِإِذۡنِ رَبِّهِۦۖ وَٱلَّذِي خَبُثَ لَا يَخۡرُجُ إِلَّا نَكِدٗاۚ
“Tanah yang baik, tanamannya tumbuh subur dengan izin Tuhannya, sedangkan tanah yang buruk hanya menumbuhkan tanaman yang merana.”
Karena itu, benih tidak layak ditanam kecuali di tanah yang baik.
Sejarah mencatat banyak contoh. Ayah Imam Al-Bukhari memastikan tidak ada satu dirham pun yang haram masuk ke rumahnya. Hasilnya, lahirlah Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, penyusun kitab hadis paling sahih setelah Al-Qur’an.
Para ulama bahkan sangat berhati-hati dalam makanan anak mereka, karena satu suapan yang haram dapat merusak tabiat.
Bukan sekadar metode pendidikan
Kesalehan anak bukan hanya hasil pengajaran, sekolah terbaik, atau biaya pendidikan yang besar. Ia juga bergantung pada kesalehan pribadi orang tua: rasa takut kepada Allah, amal tersembunyi, dakwah, berbakti kepada orang tua, dan ibadah malam.
Orang tua wajib mendidik anak sesuai Al-Qur’an dan Sunnah, serta tidak menjerumuskan mereka pada hal-hal yang merusak akhlak dan iman.



