Khutbah Jumat: Mencintai Para Sahabat Radhiyallahu ‘Anhum

Khutbah Jumat:
Mencintai Para Sahabat Radhiyallahu ‘anhum
Khutbah pertama:
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
إِنّ الْحَمْدَ لِلّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا، وَمن سَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.
أَمّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Ma’asyiral muslimin rahimani warahimakumullah,
Di antara tanda kecintaan kita kepada Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam adalah mencintai orang-orang yang beliau cintai, yaitu para sahabatnya yang mulia, generasi terbaik umat ini.
Sahabat Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang bertemu beliau dalam keadaan beriman dan meninggal dalam keadaan Islam.
Beliau bersabda:
لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا، مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ
“Janganlah kalian mencaci para sahabatku, seandainya salah seorang dari kalian bersedekah emas sebesar gunung Uhud, tidak akan menyamai satu genggam sedekah mereka, bahkan setengahnya” (HR. Bukhari dan Muslim).
Allahu Akbar… betapa agungnya kedudukan para sahabat di sisi Allah.
Sidang jumat yang berbahagia,
Anas bin Malik raḍiyallāhu ‘anhu berkata: Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: Wahai Rasulullah, kapan terjadinya Kiamat? Beliau bersabda: “Apa yang telah engkau persiapkan untuk Kiamat itu?” Orang itu menjawab: (Yang aku persiapkan adalah) kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Beliau bersabda: “Sesungguhnya engkau akan bersama orang yang engkau cintai” Anas berkata: Kami tidak pernah bergembira setelah masuk Islam dengan kegembiraan yang lebih besar daripada ucapan Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya engkau akan bersama orang yang engkau cintai” Anas berkata lagi: Aku mencintai Allah dan Rasul-Nya, serta Abu Bakar dan Umar. Maka aku berharap akan bersama mereka, meskipun aku tidak mengamalkan amalan seperti amalan mereka. (HR. Bukhari dan Muslim).
Cintailah para sahabat, sesungguhnya cinta kepada mereka sebab kita akan bersama mereka di dalam surga Allah subḥānahu wata’ālā, selain itu mencintai mereka adalah tanda keimanan kita kepada Allah azza wajalla, Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tanda keimanan adalah mencintai kaum Anshar, dan tanda kemunafikan adalah membenci kaum Anshar” (HR. Bukhari dan Muslim).
Beliau juga bersabda: “Barang siapa mencintai mereka, Allah akan mencintainya; dan barang siapa membenci mereka, Allah akan membencinya”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Ma’asyiral muslimin rahimani warahimakumullah,
Inilah cinta sejati, siapa yang cinta kepada para sahabat berarti dia cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, dan siapa yang benci dan mencela para sahabat, berarti dia benci Allah dan Rasul-Nya.
Dan ingatlah, cinta kepada para sahabat bukan sekadar sejarah, bukan sekedar perintah, namun hal itu bagian dari akidah Ahlus Sunnah wal Jama‘ah, Imam ath-Thahawi raḥimahullāh berkata dalam kitab Akidahnya: “Kami mencintai para sahabat Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, dan tidak berlebihan dalam mencintai salah seorang dari mereka, serta tidak berlepas diri dari seorang pun di antara mereka. Kami membenci orang yang membenci mereka dan orang yang menyebut mereka dengan selain kebaikan. Kami tidak menyebut mereka kecuali dengan kebaikan. Mencintai mereka adalah bagian dari agama, iman, dan ihsan; sedangkan membenci mereka adalah kekufuran, kemunafikan, dan kedurhakaan”.
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah,
Lihatlah bagaimana indahnya persahabatan mereka, bagaimana kuatnya kecintaan mereka satu dengan lainnya. Ketika Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah, kaum Anshar berkata kepada kaum Muhajirin: “Harta kami untuk kalian, rumah kami terbuka untuk kalian, dan kami tidak merasa lebih utama dari kalian”. Bahkan seorang sahabat, Sa‘d bin Rabi‘, menawarkan kepada Abdurrahman bin ‘Auf setengah dari hartanya dan salah satu istrinya (untuk dinikahi setelah diceraikan). Tapi Abdurrahman menjawab dengan lembut: “Semoga Allah memberkahi keluarga dan hartamu. Tunjukkan saja kepadaku di mana pasar”.
Itulah persaudaraan sejati; tanpa iri, tanpa pamrih, tanpa kebencian.
Mereka bersatu dalam iman, cinta karena Allah, bukan karena perkara-perkara duniawi. Kitapun mesti cintai kepada mereka karena Allah subḥānahu wata’ālā.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُحِبِّينَ لِأَصْحَابِ نَبِيِّكَ، الْمُقْتَدِينَ بِهِمْ، غَيْرَ الْغَالِيْنَ وَلَا الْجَافِيْنَ.
اللَّهُمَّ اجْمَعْنَا بِهِمْ فِي الْفِرْدَوْسِ الْأَعْلَىٰ مَعَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ ﷺ.
أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah kedua:
الحمدُ للهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بالهُدَى ودِيْنِ الحقِّ لِيُظْهِرَه على الدِّينِ كلِّه، ولَوْ كَرِهَ الكافِرُونَ، وأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
Ma’asyiral muslimin rahimani warahimakumullah,
Mari kita hidupkan cinta kepada para sahabat dalam hati kita, tanamkanlah rasa cinta kepada para sahabat di hati anak cucu kita, doakan kebaikan kepeda mereka, mintakan ampunan untuk mereka. Sebagaiman Allah subḥānahu wata’ālā berfirman:
﴿وَالَّذِيْنَ جَاۤءُوْ مِنْۢ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ﴾
Orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar) berdoa, “Ya Tuhan kami, ampunilah kami serta saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ḥasyr:10).
Umat ini tidak akan bersatu jika kita menanam benih kebencian terhadap sahabat. Sebab, mereka adalah pembawa risalah islam kepada kita. Kita mengenal Al-Qur’an, kita mengenal Nabi Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, melalui mereka. Jika kita menuduh mereka, berarti kita merobohkan fondasi agama kita sendiri.
Cintailah Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan sahabat-sahabat yang lainnya, beserta para istri-istri beliau dan para sahabiyyat, mereka adalah orang-orang yang mulia, orang-orang yang agung di sisi Allah subḥānahu wata’ālā, Allah telah meridhai mereka, merekapun ridha kepada-Nya.
Semoga Allah menjadikan kita generasi yang mencintai para sahabat, dan menempatkan bersama mereka di surgaNya.
﴿إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهم َّاغْفِرِ للمُسْلِمِيْنَ والْمُسْلِمَاتِ، والمُؤْمِنِينَ والمُؤْمِنَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ.
عبادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُ اللهَ العَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ، قُوْمُوْا إِلَى صَلَاتِكُمْ.




