Tarikh

Keutamaan Sirah Nabawiyah

Keutamaan Sirah Nabawiyah

Sirah Nabawiyah menghimpun berbagai keutamaan yang menjadikan mempelajarinya sebagai kenikmatan spiritual, intelektual, dan historis. Ia juga menjadikan kajian ini sebagai sesuatu yang sangat diperlukan oleh para ulama syariat, para da‘i yang menyeru kepada Allah Ta‘ala, dan para pemerhati perbaikan sosial, agar mereka dapat menjamin penyampaian syariat kepada manusia dengan metode yang membuat manusia melihat di dalamnya teladan tertinggi ketika jalan-jalan kehidupan menjadi kacau dan badai-badai ujian semakin dahsyat. Dengan itu pula hati dan nurani manusia akan terbuka bagi para da‘i, dan perbaikan yang diserukan oleh para pembaharu akan lebih dekat kepada keberhasilan dan lebih tepat sasaran.

Berikut ini kami ringkaskan keutamaan-keutamaan paling menonjol dari Sirah Nabawiyah:

Pertama

Sesungguhnya Sirah Nabawiyah adalah sirah yang paling sahih dalam sejarah seorang nabi yang diutus atau seorang pembaharu besar. Sirah Rasulullah ﷺ telah sampai kepada kita melalui metode ilmiah yang paling sahih dan paling kuat dalam penetapannya, sehingga tidak menyisakan ruang keraguan terhadap peristiwa-peristiwa penting dan kejadian-kejadian besarnya. Hal ini juga memudahkan kita untuk mengetahui apa saja yang ditambahkan ke dalamnya pada masa-masa belakangan berupa peristiwa, mukjizat, atau kisah-kisah yang diinspirasi oleh akal yang dangkal, yang berkeinginan menambah kesan menakjubkan pada diri Rasulullah ﷺ melebihi apa yang Allah Ta‘ala kehendaki bagi Rasul-Nya berupa keagungan kedudukan, kesucian risalah, dan kebesaran sirah.

Imam adz-Dzahabi berkata:
“Demi Allah, jika memperbanyak hadis pada masa pemerintahan ‘Umar radhiyallahu ‘anhu saja mereka melarangnya padahal para perawi itu jujur dan adil, dan sanad-sanadnya masih pendek serta belum tercampuri cacat maka bagaimana dugaanmu terhadap memperbanyak riwayat-riwayat ganjil dan mungkar di zaman kita, dengan panjangnya sanad, banyaknya waham dan kesalahan? Maka lebih pantas untuk mencegah mereka dari hal itu. Seandainya mereka membatasi diri dari meriwayatkan hadis ganjil dan lemah bahkan demi Allah, mereka meriwayatkan hadis-hadis palsu, kebatilan, dan perkara mustahil dalam pokok-pokok dan cabang-cabang agama, juga dalam kisah peperangan dan zuhud. Kita memohon keselamatan kepada Allah.

Barang siapa meriwayatkan hal tersebut dengan mengetahui kebatilannya dan menipu kaum mukminin, maka ia telah menzalimi dirinya sendiri dan melanggar sunnah serta atsar. Ia harus diminta bertobat dari perbuatannya itu. Jika ia bertobat dan berhenti, maka baik; jika tidak, maka ia adalah orang fasik. Cukuplah dosa bagi seseorang ketika ia menceritakan setiap apa yang ia dengar. Dan jika ia tidak mengetahui, hendaklah ia bersikap wara‘ dan meminta bantuan orang yang dapat menolongnya menyaring riwayat-riwayatnya. Kita memohon keselamatan kepada Allah.”

Kedua

Sesungguhnya kehidupan Rasulullah ﷺ sangat jelas kejelasannya dalam seluruh fase kehidupannya, sejak pernikahan ayah beliau ‘Abdullah dengan ibu beliau Aminah hingga wafatnya beliau ﷺ. Kita mengetahui banyak hal tentang kelahiran beliau, masa kecilnya, masa mudanya, mata pencahariannya sebelum kenabian, dan perjalanan-perjalanan beliau ke luar Makkah. Hingga ketika Allah mengutus beliau sebagai rasul yang mulia, kemudian kita mengetahui dengan lebih rinci, lebih jelas, dan lebih sempurna seluruh keadaan beliau setelah itu, tahun demi tahun. Hal ini menjadikan sirah beliau ﷺ tampak seterang matahari.

Sebagaimana dikatakan oleh sebagian kritikus Barat: “Sesungguhnya Muhammad ﷺ adalah satu-satunya manusia besar yang dilahirkan di bawah cahaya matahari.”

Hal ini tidak dimiliki bahkan tidak mendekatinya oleh seorang pun dari para rasul Allah terdahulu ‘alaihimus salam. Musa عليه السلام, misalnya, kita tidak mengetahui sama sekali tentang masa kecilnya, masa mudanya, dan cara kehidupannya sebelum kenabian, dan kita hanya mengetahui sedikit tentang kehidupannya setelah kenabian, yang tidak memberikan gambaran utuh tentang kepribadiannya. Demikian pula halnya dengan Isa عليه السلام dan nabi-nabi lainnya.

Bandingkan hal itu dengan apa yang disebutkan oleh sumber-sumber sirah yang sahih tentang detail paling rinci dalam kehidupan pribadi Rasulullah ﷺ: tentang cara makan beliau, cara berdiri, duduk, dan berbaring beliau, pakaian beliau, fisik dan penampilan beliau, cara berbicara beliau, perlakuan beliau terhadap keluarganya, ibadah dan shalat beliau, pergaulan beliau dengan para sahabat, bahkan ketelitian para perawi sampai menyebutkan jumlah rambut putih di kepala dan janggut beliau ﷺ.

Ketiga

Sesungguhnya Sirah Rasulullah ﷺ menggambarkan sirah seorang manusia yang Allah Ta‘ala muliakan dengan risalah, tanpa mengeluarkannya dari sifat kemanusiaannya. Beliau menikah dan menceraikan, ridha dan marah, membeli dan menjual. Beliau adalah manusia dengan seluruh makna kemanusiaan, yang dapat menjadi teladan bagi siapa saja yang menginginkannya. Kehidupan beliau ﷺ tidak diselimuti oleh legenda, dan tidak ditambahkan kepadanya unsur ketuhanan sedikit pun.

Jika kita bandingkan hal ini dengan apa yang diriwayatkan kaum Nasrani tentang sirah Isa عليه السلام, atau apa yang diriwayatkan kaum Buddha tentang Buddha, atau kaum penyembah berhala tentang tuhan-tuhan yang mereka sembah, maka akan tampak jelas perbedaan besar antara sirah beliau ﷺ dan sirah tokoh-tokoh tersebut. Klaim ketuhanan terhadap Isa dan Buddha menjadikan keduanya sangat jauh untuk dapat dijadikan teladan nyata bagi manusia dalam kehidupan pribadi dan sosialnya. Sebaliknya, Muhammad ﷺ tetap dan akan selalu menjadi teladan manusiawi yang sempurna bagi siapa pun yang ingin hidup bahagia dan mulia dalam dirinya, keluarganya, dan lingkungannya.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ﴾

Keempat

Sesungguhnya Sirah Rasulullah ﷺ mencakup seluruh sisi kemanusiaan pada diri manusia. Ia menggambarkan Muhammad ﷺ sebagai pemuda yang amanah dan lurus sebelum dimuliakan Allah Ta‘ala dengan risalah; menggambarkan Rasulullah ﷺ sebagai da‘i yang menyeru kepada Allah Ta‘ala dengan mencari cara paling efektif agar dakwahnya diterima; menggambarkan beliau sebagai kepala negara yang meletakkan sistem paling lurus dan paling sehat bagi negaranya; menggambarkan beliau sebagai suami dan ayah dengan kelembutan kasih sayang, akhlak yang baik, serta pembagian hak dan kewajiban yang jelas antara suami, istri, dan anak-anak; menggambarkan beliau sebagai pendidik dan pembimbing yang membina para sahabat dengan pendidikan ideal; menggambarkan beliau sebagai sahabat sejati; sebagai pejuang yang berani; sebagai panglima yang menang; sebagai politikus yang berhasil; sebagai tetangga yang amanah; dan sebagai mitra perjanjian yang jujur.

Kelima

Sesungguhnya Sirah Nabi ﷺ memberikan kepada kita bukti yang tidak menyisakan keraguan tentang kebenaran risalah dan kenabiannya. Ia adalah sirah seorang manusia sempurna yang menapaki jalan dakwahnya dari satu kemenangan ke kemenangan lainnya, bukan melalui jalan keajaiban dan mukjizat semata, tetapi melalui jalan alami sepenuhnya. Beliau berdakwah lalu disakiti, menyampaikan risalah lalu memperoleh para penolong, terpaksa berperang lalu berperang, dan beliau senantiasa bijaksana serta berhasil dalam kepemimpinannya. Ketika tiba saat wafat beliau ﷺ, dakwahnya telah meliputi seluruh Jazirah Arab melalui iman, bukan melalui paksaan.

Sirah beliau ﷺ membuktikan kebenaran risalahnya melalui dalil akal yang murni. Mukjizat-mukjizat yang terjadi bukanlah fondasi utama keimanan manusia terhadap dakwah beliau. Dalil terbesar itu adalah Al-Qur’an, sebagai mukjizat akal yang mewajibkan setiap orang berakal dan adil untuk mengakui kebenaran risalah Muhammad ﷺ.

Referensi: Al-Lu’lu’ al-Maknūn fī Sīrat an-Nabī al-Ma’mūn karya Mūsā bin Rāsyid al-‘Āzimī

Sayyid Syadly, Lc

Mahasiswa S2, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button