Konsultasi

Hukum Jual Beli Kucing Peliharaan

ARTIKEL ISLAMI

Nomor Fatwa: 204

Pertanyaan

Afwan, Ustaz. Izin bertanya, bagaimana pendapat yang kuat terkait jual beli kucing peliharaan? Jazakallahu khairan.

Jawaban:

Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah ﷺ. Amma ba‘du:

☷ Daftar Isi Artikel
  1. Hadis Larangan Menjual Kucing
  2. Pendapat Mayoritas Ulama
  3. Penjelasan Ibnu Qudāmah
  4. Penjelasan Ibnu Rajab
  5. Penjelasan Syaikh Ibnu ‘Utsaimīn
  6. Kesimpulan

Hadis Larangan Menjual Kucing

Telah datang larangan menjual kucing (الهر), sebagaimana diriwayatkan:

Muslim meriwayatkan (no. 1569) dari Abu az-Zubair, ia berkata:

روى مسلم (1569) عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ قَالَ: سَأَلْتُ جَابِرًا عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَالسِّنَّوْرِ قَالَ: زَجَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ.

“Aku bertanya kepada Jābir tentang harga anjing dan kucing. Ia menjawab, ‘Nabi ﷺ melarang hal itu.’”

Diriwayatkan pula oleh Abu Dawud (3479), at-Tirmidzi (1279), dan an-Nasā’i (4295) dengan lafaz:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَالسِّنَّوْرِ.

“Rasulullah ﷺ melarang harga anjing dan kucing.”

HR. Abu Dawud (3479), at-Tirmidzi (1279), dan an-Nasā’i (4295).

Kata as-sinnaūr (السِّنَّوْر) berarti al-hirr (الهر), yaitu kucing.

Hadis ini diperselisihkan kesahihannya. Sebagian ulama, seperti at-Tirmidzi, al-Baghawi, Ibn al-Mundzir, dan Ibn ‘Abd al-Barr, menilainya lemah. Sementara itu, Imam Muslim, al-Bayhaqi, dan an-Nawawi menilainya sahih.

Pendapat Mayoritas Ulama

Mayoritas ulama (jumhūr) berpendapat bahwa jual beli kucing dibolehkan. Mereka menilai hadis tersebut lemah, atau menafsirkan larangannya sebagai larangan makruh (bukan haram), atau memahaminya khusus berlaku pada kucing liar yang tidak bermanfaat atau kucing yang bukan milik seseorang.

Mereka berdalil dengan hadis sahih riwayat Muslim (no. 2619) dari Abu Hurairah رضي الله عنه, dari Rasulullah ﷺ:

دَخَلَتِ امْرَأَةٌ النَّارَ مِنْ جَرَّاءِ هِرَّةٍ لَهَا، أَوْ هِرٍّ، رَبَطَتْهَا؛ فَلَا هِيَ أَطْعَمَتْهَا، وَلَا هِيَ أَرْسَلَتْهَا تُرَمْرِمُ مِنْ خَشَاشِ الْأَرْضِ حَتَّى مَاتَتْ هَزْلًا.

“Seorang wanita masuk neraka karena seekor kucing yang ia miliki. Ia mengikatnya, tidak memberinya makan, dan tidak pula membiarkannya mencari makan sendiri dari serangga bumi, hingga mati kelaparan.”

HR. Muslim, no. 2619.

Mereka berkata bahwa kata “لها” (miliknya) menunjukkan kepemilikan, dan sesuatu yang dimiliki serta bisa dimanfaatkan boleh dijual.

Lihat: Kasyf al-Qinā‘, 3/153.

Penjelasan Ibnu Qudāmah رحمه الله

Ibnu Qudāmah رحمه الله berkata:

وأما الهر، فقال الخرقي: يجوز بيعها. وبه قال ابن عباس، والحسن، وابن سيرين، والحكم، وحماد، والثوري، ومالك، والشافعي، وإسحاق، وأصحاب الرأي.

وعن أحمد أنه كره ثمنها. وروي ذلك عن أبي هريرة، وطاوس، ومجاهد، وجابر بن زيد. واختاره أبو بكر ; لما روى مسلم عن جابر، أنه سئل عن ثمن السنور، فقال: زجر النبي صلى الله عليه وسلم عن ذلك. وفي لفظ رواه أبو داود عن جابر، أن النبي صلى الله عليه وسلم نهى عن ثمن السنور. قال الترمذي: هذا حديث حسن، وفي إسناده اضطراب.

ولنا، ما ذكرنا فيما يصاد به من السباع [أي أنه يباح بيعها لأنه قد أذن في الانتفاع والصيد بها]، ويحمل الحديث على غير المملوك منها، أو ما لا نفع فيه منها ; بدليل ما ذكرنا، ولأن البيع شرع طريقا للتوصل إلى قضاء الحاجة، واستيفاء المنفعة المباحة ; ليصل كل واحد إلى الانتفاع بما في يد صاحبه، مما يباح الانتفاع به، فينبغي أن يشرع ذلك فيه ; ليصل كل واحد إلى الانتفاع بما في يد صاحبه، فما يباح الانتفاع به، ينبغي أن يجوز بيعه

“Adapun kucing, al-Khiraqī berkata, ‘Boleh menjualnya.’ Ini juga pendapat Ibn ‘Abbās, al-Hasan, Ibn Sīrīn, al-Hakam, Hammad, ats-Tsaurī, Malik, asy-Syāfi‘ī, Ishāq, dan para ulama Hanafiyah.

Diriwayatkan dari Ahmad bahwa beliau tidak menyukai harga kucing. Pendapat ini juga diriwayatkan dari Abu Hurairah, Thāwūs, Mujāhid, dan Jābir bin Zayd. Abu Bakr memilih pendapat ini, berdasarkan riwayat Muslim dari Jābir bahwa ia ditanya tentang harga kucing, lalu menjawab, “Nabi ﷺ melarang hal itu.” Dalam lafaz yang diriwayatkan Abu Dawud dari Jābir disebutkan bahwa Nabi ﷺ melarang harga kucing. At-Tirmidzi berkata, “Hadis ini hasan, tetapi sanadnya mengandung idhtirāb.”

Dalil kami adalah apa yang telah kami sebutkan tentang hewan buas yang digunakan untuk berburu [yakni bahwa hewan tersebut boleh dijual karena pemanfaatan dan penggunaannya untuk berburu telah diizinkan]. Hadis itu dipahami berlaku untuk kucing yang bukan milik seseorang atau kucing yang tidak memiliki manfaat, berdasarkan dalil yang telah kami sebutkan. Jual beli disyariatkan sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan dan memperoleh manfaat yang dibolehkan, agar setiap orang dapat mengambil manfaat dari sesuatu yang berada di tangan orang lain dan boleh dimanfaatkan. Karena itu, sesuatu yang boleh dimanfaatkan semestinya boleh pula dijual.”

Al-Mughnī, 4/175.

Penjelasan Ibnu Rajab رحمه الله

Ibnu Rajab رحمه الله berkata:

فأما بيع الهر فقد اختلف العلماء في كراهته، فمنهم من كرهه، وروى ذلك عن أبي هريرة وجابر وعطاء وطاوس ومجاهد وجابر بن زيد والأوزاعي وأحمد في رواية عنه وقال: هو أهون من جلود السباع، وهذا اختيار أبي بكر من أصحابنا.

ورخص في بيع الهر ابن عباس وعطاء في رواية الحسن وابن سيرين والحكم وهناد، وهو قول الثوري وأبي حنيفة رحمه الله تعالى ومالك والشافعي وأحمد في المشهور عنه. وعن إسحاق روايتان، وعن الحسن أنه كره بيعها ورخص في شرائها للانتفاع بها.

وهؤلاء منهم من لم يصحح النهي عن بيعها. قال أحمد: ما أعلم فيه شيئا يثبت أو يصح. وقال أيضا: الأحاديث فيه مضطربة.

ومنهم من حمل النهي على ما لا نفع فيه كالبري ونحوه. ومنهم من قال: إنما نهى عن بيعها لأنه دناءة وقلة مروءة، لأنها متيسرة الوجود والحاجة إليها داعية، فهي مرافق الناس التي لا ضرر عليهم في بذل فضلها، فالشحُّ بذلك من أقبح الأخلاق الذميمة، فلذلك زجر عن أخد ثمنها

“Tentang jual beli kucing, para ulama berbeda pendapat mengenai kemakruhannya. Sebagian memakruhkannya. Pendapat ini diriwayatkan dari Abu Hurairah, Jābir, ‘Athā’, Thāwūs, Mujāhid, Jābir bin Zayd, al-Awzā‘ī, dan Ahmad dalam salah satu riwayat darinya. Ahmad berkata, ‘Hal itu lebih ringan daripada kulit hewan buas.’ Pendapat ini dipilih oleh Abu Bakr dari kalangan ulama mazhab kami.

Ibn ‘Abbās, ‘Athā’ dalam salah satu riwayat, al-Hasan, Ibn Sīrīn, al-Hakam, dan Hannād memberi keringanan untuk menjual kucing. Ini juga pendapat ats-Tsaurī, Abu Hanīfah رحمه الله تعالى, Mālik, asy-Syāfi‘ī, dan pendapat masyhur dari Ahmad. Dari Ishāq terdapat dua riwayat. Dari al-Hasan diriwayatkan bahwa ia memakruhkan penjualannya, tetapi memberi keringanan untuk membelinya demi mengambil manfaat darinya.

Di antara mereka ada yang tidak menilai sahih hadis larangan menjualnya. Ahmad berkata, ‘Aku tidak mengetahui adanya sesuatu yang kuat atau sahih dalam masalah ini.’ Beliau juga berkata, ‘Hadis-hadis tentangnya mudhtharib.’

Di antara mereka ada yang memahami larangan itu berlaku untuk kucing yang tidak bermanfaat, seperti kucing liar dan semisalnya. Sebagian lainnya berkata bahwa jual beli kucing dilarang karena termasuk perbuatan rendah dan menunjukkan kurangnya muruah. Kucing mudah ditemukan dan manusia membutuhkannya. Kucing termasuk sesuatu yang diperlukan orang banyak, dan mereka tidak dirugikan dengan memberikan kelebihannya. Sikap kikir dalam hal itu termasuk akhlak tercela yang paling buruk. Karena itulah Nabi ﷺ menegur pengambilan harganya.”

Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Hikam, hlm. 418.

Penjelasan Syaikh Ibnu ‘Utsaimīn رحمه الله

Syaikh Ibnu ‘Utsaimīn رحمه الله berkata:

قال الفقهاء: إنه يجوز بيع الهر، لكن قد ورد في صحيح مسلم أن النبي صلى الله عليه وسلم نهى عن بيع الهر، ولهذا اختلف العلماء في ذلك.

فمنهم من أجازه، وحمل الحديث الذي فيه النهي على هر لا فائدة منه؛ لأن أكثر الهررة معتدٍ، لكن إذا وجدنا هرا مربى ينتفع به، فالقول بجواز بيعه ظاهر؛ لأن فيه نفعا.

“Para fuqaha mengatakan bahwa menjual kucing itu boleh. Namun, dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa Nabi ﷺ melarang menjual kucing. Karena itu, para ulama berbeda pendapat.

Sebagian ulama membolehkannya dan memahami larangan tersebut berlaku untuk kucing yang tidak bermanfaat, karena kebanyakan kucing bersifat liar dan mengganggu. Namun, jika terdapat kucing peliharaan yang dapat dimanfaatkan, maka pendapat yang kuat adalah boleh menjualnya karena kucing tersebut memiliki manfaat.”

Kesimpulan

Kesimpulannya, ulama yang mengharamkan jual beli kucing mendasarkan pendapatnya pada kesahihan hadis larangan. Namun, jika hadis itu sahih sekalipun, larangan tersebut dipahami sebagai makruh atau sebagai anjuran untuk bersikap lapang, bukan pengharaman mutlak. Inilah pendapat jumhur ulama.

Lihat: al-Majmū‘ karya an-Nawawi, 9/274.

Namun, yang lebih utama adalah menghentikan perdagangan ini pada masa mendatang.

Wallāhu a‘lam.

↑ Kembali ke atas

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA. & Narasumber di https://chat.whatsapp.com/DdLUj6dLOnD9UlRoOiENpF?s=cl&p=a&mlu=4&ilr=4

Related Articles

Back to top button