Tatsqif

Film Kartun: Bahaya yang Mengintai dan Orang Tua yang Lalai

Film Kartun: Bahaya yang Mengintai dan Orang Tua yang Lalai

Begitu pembicaraan tentang anak-anak dan generasi muda dibuka, hampir semua orang mengeluh. Mulai dari hiperaktivitas dan sulit konsentrasi, kekerasan tanpa sebab yang jelas, pembicaraan yang tidak sesuai usia, hingga budaya yang keluar dari warisan nilai budaya dan peradaban serta adat orang tua yang justru dirasa menyesakkan. Nilai-nilai agama pun menjadi beban berat yang tidak diterima oleh sebagian anak, bahkan selera baru telah menyentuh hingga identitas asli masyarakat kita.

Lalu kita bertanya-tanya: dari mana anak-anak mendapatkan semua ini, padahal kita menjaga mereka di dalam rumah, di lingkungan yang aman, tidak bergaul dengan siapa pun, dan tidak terpapar kecuali apa yang kita pilihkan dari saluran televisi, serta kita lindungi dari kerusakan moral yang ditampilkan oleh bioskop dan film?!

Ironisnya, justru kitalah yang memasukkan mereka ke dalam lingkungan kerusakan itu dengan tangan kita sendiri. Bahkan kita menyediakan pelatihan harian bagi mereka atas konsep-konsep yang sangat jauh dari agama dan masyarakat kita. Kita biarkan mereka menjadi tawanan film kartun dan saluran anak-anak yang telah berubah menjadi ibu pengganti dan keluarga asuh.

Benih apa yang kalian tanam, sehingga kini kalian menunggu hasil panennya?

Bahaya Akidah dalam Film Kartun

Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤول عَنْ رَعِيَّتِهِ، الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْؤولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْؤولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْؤولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا.

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Pemimpin adalah pemimpin atas rakyatnya dan bertanggung jawab atas mereka. Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan bertanggung jawab atas mereka. Dan seorang perempuan adalah pemimpin di rumah suaminya dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.”

Di antara kebutuhan paling mendasar yang dijaga oleh Islam adalah penjagaan agama. Dan yang pertama kali dirusak oleh film kartun adalah akidah. Mulai dari dongeng-dongeng yang memenuhi pikiran anak-anak, klaim adanya banyak tuhan, film yang dibangun di atas sihir dan penyihir, pengabulan keinginan melalui tongkat sihir atau “orang tua ajaib”, hingga hilangnya sama sekali simbol dan ritual Islam. Bahkan jilbab hanya muncul jika yang ditampilkan adalah seorang biarawati, dan shalat tidak lebih dari sekadar duduk berlutut sambil mengaitkan jari.

Doa pun diarahkan kepada berhala, “ibu alam”, atau “kantong harapan”. Semua ini diperparah oleh kelalaian orang tua dalam memantau apa yang diterima anak-anak mereka. Anak akhirnya tersesat dalam dunia penuh bahaya akidah yang tidak mampu ia pahami atau selesaikan sendiri. Ia terombang-ambing antara apa yang ia terima dari dunia kartun dan apa yang ia terima dari orang tua serta lingkungannya tentang tauhid, agama, sihir, ibadah, hukum, puasa, shalat, dan hijab, serta banyak perkara lain yang tidak mampu dicerna oleh akal anak.

Berikut sebagian bahaya akidah yang diterima anak-anak kita—jika mereka tidak terpengaruh dan menyerapnya sepenuhnya.

 Tentang Ketuhanan

Banyak film kartun dibangun atas gagasan pertarungan para dewa, atau pembagian tugas para dewa untuk mengelola bagian-bagian alam semesta. Para “dewa” ini digambarkan sebagai sosok berjisim besar, cahaya di langit, atau bahkan patung. Contohnya terlihat jelas dalam kartun Yu-Gi-Oh dan Smurfs, di mana Papa Smurf hampir selalu mengucapkan terima kasih kepada “Ibu Alam”.

Ditambah lagi gambaran adanya dewa-dewa kejahatan yang menggerakkan manusia untuk kerusakan, pembunuhan, dan kekacauan, bahkan menghidupkan kembali yang mati untuk melanjutkan peran mereka dalam kerusakan, seperti dalam Jackie Chan Adventures dan Mad Hatter.

Pengokohan Keimanan terhadap Sihir

Hampir tidak ada film kartun yang bebas dari unsur sihir. Entah sebagai penyihir jahat yang mencelakai tokoh utama, atau sihir “baik” yang digunakan untuk menyelesaikan masalah dan memberikan kekuatan super.

Mulai dari orang tua ajaib yang mengabulkan semua permintaan tokoh utama (yang sering berujung bencana), hingga sihir nyata seperti pada putri-putri Disney, ramuan Papa Smurf, Merlin, Doraemon, Nobita, Ben 10, Digimon, hingga Powerpuff Girls yang diciptakan dari campuran kimia menurut klaim mereka.

Ini adalah bahaya besar bagi akidah anak, karena mereka melihat ratusan masalah diselesaikan dengan sihir, sehingga menganggap sihir sebagai solusi dan jalan memperoleh kekuatan. Terlebih dengan kemudahan internet, anak dapat mencari apa saja dalam hitungan detik, termasuk “cara membuat sihir”. Meskipun tidak serta-merta terjun ke dunia sihir, keyakinannya terhadap hakikat sihir pasti akan berubah, meski Islam telah menetapkan hukumnya.

 Natal dan Halloween

Nuansa gerejawi Barat sangat jelas dalam film kartun, khususnya perayaan. Hampir semua film kartun menampilkan episode Natal: pohon Natal, hadiah, lonceng gereja, dan Santa Claus, semua dalam bingkai kegembiraan dan cinta. Anak-anak kita pun mulai menunggu tahun baru Masehi, meminta pohon Natal, pakaian Santa, dan merayakan Halloween dengan kostum.

Bahaya semakin besar ketika semua ini berpadu dengan kegemaran meniru budaya Barat, maraknya pohon Natal di toko dan restoran, serta pesta tahun baru yang menghabiskan jutaan demi kembang api. Bagaimana seorang anak yang mencintai permainan dan perayaan mampu menolak semua ini?

 Pakaian dan Hijab

Soal pakaian dan hijab, hampir tidak ada tokoh perempuan berhijab dalam film kartun. Semua tokoh perempuan mengenakan pakaian yang tidak pantas dikenakan muslimah, bahkan jika rambutnya tertutup. Bukan kartunnya yang disalahkan—mereka menampilkan budaya mereka—tetapi kesalahan ada pada kita yang mengimpor budaya itu apa adanya.

Anak perempuan tumbuh dengan jarak emosional terhadap hijab. Sejak kecil ia ingin mengenakan gaun Cinderella dan dipuji karenanya. Ketika ibunya meminta ia mulai berhijab, ia menolak atau merasa tidak nyaman, karena teladan yang ia lihat sejak kecil bertentangan dengan itu.

 Bahaya Moral

Hampir semua film kartun menampilkan persahabatan antara anak laki-laki dan perempuan, bahkan hidup bersama, seperti Adnan dan Lina. Ini berdampak nyata di sekolah campuran. Ditambah lagi adegan-adegan tidak pantas dan kisah-kisah yang mengandung unsur malu, seperti The Frog Prince, putri-putri Disney, Shrek, dan Beauty and the Beast.

 Bahaya Perilaku: Kekerasan

Kekerasan adalah ciri paling menonjol dalam film kartun dan berdampak negatif pada perilaku anak. Anak yang terus melihat kekerasan akan menirunya. Mereka melihat tokoh terbang, melompat, dan saling menghantam tanpa cedera, lalu menganggap tidak ada yang benar-benar sakit.

Akibatnya, anak meniru apa yang dilihatnya, bahkan memukul adik atau temannya. Tom and Jerry, Road Runner, Teenage Mutant Ninja Turtles, dan lainnya sarat dengan kekerasan tanpa konsekuensi nyata.

Bahaya Kesehatan dan Sosial*

Duduk berjam-jam di depan televisi menyebabkan gangguan penglihatan, masalah tulang belakang, obesitas akibat kurang gerak, kebiasaan makan buruk, serta ketergantungan pada makanan cepat saji.

Selain itu, kecanduan kartun menyebabkan isolasi sosial, ketidakpedulian, penarikan diri dari keluarga, agresivitas, dan egosentrisme. Anak menjadi kurang tertarik bermain dengan teman sebayanya dan kesulitan berinteraksi di masa depan, disertai penurunan prestasi akademik.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Masalah utama adalah kurangnya waktu orang tua untuk anak, sehingga anak mencari hiburan pengganti. Orang tua sering lalai terhadap jenis konten yang dikonsumsi anak, sementara minimnya produksi tontonan Islami berkualitas mempersempit pilihan.

Keluarga wajib:

Menyaring tontonan anak sebelum membiarkannya menonton.

Membatasi waktu menonton maksimal satu jam per hari.

Membangun gaya hidup seimbang.

Masyarakat juga harus mendukung produksi kartun berkualitas tinggi yang Islami, bernilai, menarik, dan mendidik.

Tanggung Jawabmu, Jangan Menyia-nyiakan Mereka

Anak-anak adalah amanah dari Allah. Membiarkan mereka menjadi mangsa kartun dan saluran anak-anak berarti meruntuhkan fondasi nilai. Orang tua wajib mencari alternatif yang sesuai usia dan kemampuan anak: olahraga, keterampilan, sains, seni, pemrograman, menghafal Al-Qur’an dan Sunnah, serta pendidikan agama.

Jika tidak, kita akan terbangun ketika serigala telah memakan kambing-kambing itu.

 Sumber

Al-Haitham Muhammad Za‘fan, Bahaya Akidah dalam Saluran Anak Arab

Dr. Mustafa Abu Sa‘d, Bahaya Saluran Anak dan Film Kartun

Dampak Film Kartun pada Anak-anak Kita, Noon Press

Media dan Pengaruhnya terhadap Anak-anak

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button