Nabi ﷺ bersungguh-sungguh menjalankan dakwah secara sembunyi-sembunyi. Beliau mengajak keluarga, orang-orang terdekat, serta orang-orang yang beliau percayai dan harapkan kebaikannya dari kalangan kenalan dan sahabatnya. Para sahabat juga turut mengajak kerabat dan teman-teman yang mereka percayai. Nabi ﷺ biasa berkumpul bersama para sahabat di rumah Al-Arqam bin Abi Al-Arqam. Di sana, beliau mengajarkan pokok-pokok keimanan dan hakikat tauhid, mendidik mereka agar berakhlak mulia dan mengerjakan amalan-amalan utama, memberikan nasihat, serta menjelaskan tentang surga dan neraka. Apabila hendak melaksanakan shalat dan ibadah, mereka pergi ke celah-celah pegunungan di luar Makkah untuk bersembunyi dari kaum musyrikin. Saat itu, shalat lima waktu belum diwajibkan. Shalat dilaksanakan dua kali sehari, yaitu pada awal dan akhir siang.
Suatu ketika, Sa‘ad bin Abi Waqqash bersama sejumlah sahabat berada di sebuah celah pegunungan di Makkah. Ketika mereka sedang shalat, sekelompok orang musyrik memergoki mereka. Orang-orang musyrik itu mengecam dan mencela apa yang mereka lakukan hingga terjadilah perkelahian. Pada hari itu, Sa‘ad memukul salah seorang musyrik dengan tulang rahang unta hingga melukai kepalanya. Itulah darah pertama yang tertumpah dalam Islam.
Pada awal dakwah, termasuk bentuk kebijaksanaan Rasulullah ﷺ adalah berkumpul dengan para sahabat secara rahasia dan mencegah mereka mengumumkan keislamannya. Sebab, seandainya beliau berkumpul bersama mereka secara terang-terangan, kaum musyrikin tentu akan menghalangi beliau dalam mengajar dan membimbing mereka. Hal itu juga mungkin menimbulkan pertempuran yang tidak seimbang antara kedua pihak sehingga melemahkan kaum muslimin dan mematahkan kekuatan mereka.