Ebook

Buku: Kunci-Kunci Rezeki dan Sebab-Sebabnya

Download Pdfnya Klik

Daftar isi:

Daftar isi: 2

Kunci-Kunci Rezeki dan Sebab-Sebabnya 4

Mukadimah 4

Kunci Pertama: Istighfar dan Taubat 6

Kunci Kedua: Berinfak di Jalan Kebaikan dan Tidak Kikir 8

Kunci Ketiga: Menyambung Silaturahim 9

Kunci Keempat: Takwa kepada Allah Ta’ala 10

Kunci Kelima: Hijrah di Jalan Allah 11

Kunci Keenam: Haji dan Umrah, serta Mengiringi Keduanya 13

Kunci Ketujuh: Bertawakal kepada Allah 14

Kunci Kedelapan: Mencurahkan Diri untuk Ibadah kepada Allah 15

Kunci Kesembilan: Berinfak untuk Para Penuntut Ilmu 16

Kunci Kesepuluh: Berbuat Baik dan Menaruh Kasih Sayang kepada Orang-Orang Lemah dan Fakir Miskin 17

Kunci Kesebelas: Berlindung kepada Allah dengan Doa 18

Kunci Kedua Belas: Shalat dan Zikir 20

Kunci Ketiga Belas: Bersegera di Pagi Hari dalam Mencari Rezeki 22

Kunci Keempat Belas: Menikah bagi yang Menginginkan Kesucian Diri 23

Kunci Kelima Belas: Bersyukur kepada Allah Ta’ala 24

Kunci Keenam Belas: Kejujuran dalam Perdagangan 25

Kunci Ketujuh Belas: Menegakkan Syariat Allah di Bumi 26

Catatan Penting 29

Sebab dan Yang Menentukan 29

Untuk Apa Rezeki Diberikan 29

Pemberian Bukan Tanda Cinta, Kekurangan Bukan Tanda Murka 30

Empat yang Menarik Rezeki dan Empat yang Menghalanginya 30

Ragam Rezeki 31

Rezeki Lahir dan Batin 31

Rezeki Telah Ditentukan, Maka Jangan Gelisah 32

Manusia dalam Mencari Harta Ada Tiga Golongan 32

Rezeki Ada Dua Macam 33

Kunci-Kunci Rezeki dan Sebab-Sebabnya

Mukadimah

Bismillahirrahmanirrahim

Segala puji bagi Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Maha Mengetahui lagi Maha Pengampun, Yang menetapkan segala urusan sesuai kehendak dan pilihan-Nya. Aku memuji-Nya dan bersyukur kepada-Nya. Karunia-Nya tercurah berlimpah kepada siapa saja yang bersyukur.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, Penentu segala takdir.

Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya yang terpilih. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada beliau, keluarga, dan para sahabatnya yang mulia. Amma ba’du:

Sesungguhnya manusia pada zaman ini banyak mengeluhkan sempitnya rezeki, hilangnya keberkahan, serta beratnya beban dan tuntutan hidup. Mencari rezeki dan mengatur penghidupan menjadi hal yang menyita pikiran bahkan menimbulkan kegelisahan. Akhirnya, mereka menempuh segala cara untuk memperolehnya dan menempuh setiap jalan. Ada yang menipu dan mencuri, ada yang melakukan riba dan suap, ada yang bermuka dua dan berkhianat, ada yang menumpahkan darah, memutus silaturahim, serta meninggalkan ketaatan kepada Allah. Semua itu dilakukan demi menyaingi orang lain serta memenuhi tuntutan hawa nafsu, keluarga, dan anak-anak.

Mereka lupa bahwa Allah Ta’ala telah mensyariatkan bagi hamba-hamba-Nya sebab-sebab dan kunci-kunci yang mendatangkan rezeki, menjelaskannya dengan gamblang, serta menjanjikan kelapangan rezeki bagi siapa yang berpegang teguh dan menggunakannya dengan baik. Allah juga menjamin keselamatan dari hal-hal yang dikhawatirkan dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka bagi siapa yang menempuh sebab-sebab tersebut.

Wahai saudaraku tercinta, berikut ini sebab-sebab dan kunci-kunci tersebut:

Kunci Pertama: Istighfar dan Taubat

Apabila manusia bertaubat kepada Allah dan kembali kepada-Nya, niscaya Allah akan memberkahi rezeki mereka dan memperbaiki keadaan mereka. Semakin banyak engkau beristighfar, semakin ditambah rezekimu dengan izin Allah.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿ فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً * يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَاراً * وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ * وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَاراً ﴾

“Maka aku berkata kepada mereka: Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan kepadamu dengan lebat, memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta menjadikan untukmu kebun-kebun dan sungai-sungai.” [Surah Nuh: 10–12]

Wahai saudaraku, perbanyaklah istighfar. Nabimu ﷺ bersabda:

«مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجاً، وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجاً، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ»

“Barang siapa membiasakan istighfar, Allah akan memberinya jalan keluar dari setiap kesempitan, kelapangan dari setiap kesedihan, dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”[1]

Dan beliau ﷺ bersabda:

«طُوبَى لِمَنْ وُجِدَ فِي صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا»

“Beruntunglah orang yang dalam catatan amalnya banyak didapati istighfar.”[2]

Kunci Kedua: Berinfak di Jalan Kebaikan dan Tidak Kikir

Barang siapa memudahkan orang yang kesulitan, Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat. Barang siapa melapangkan kesusahan orang lain, Allah akan melapangkan kesusahannya di dunia dan akhirat. Sayangilah sesama, niscaya Dzat yang di langit akan menyayangi kalian. Allah menyayangi hamba-hamba-Nya yang penyayang.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿ وَمَا أَنفَقْتُمْ مِّن شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ ﴾

“Apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya, dan Dia sebaik-baik Pemberi rezeki.” [Surah Saba’: 39]

Dan firman-Nya:

﴿ مَثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّئَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُ ﴾

“Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki.” [Surah Al-Baqarah: 261]

Jangan biarkan satu hari berlalu tanpa sedekah, meski sedikit. Allah akan memberkahi rezekimu dan menolak bala darimu.

Kunci Ketiga: Menyambung Silaturahim

Silaturahim memiliki dua manfaat besar: melapangkan rezeki dan memanjangkan umur. Barang siapa menginginkan keduanya, hendaklah ia memperbanyak silaturahim, meskipun dengan kerabat yang renggang hubungannya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ»

“Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahim.”[3]

Dan beliau ﷺ bersabda:

«إِنَّ أَعْجَلَ الطَّاعَةِ ثَوَابًا صِلَةُ الرَّحِمِ…»

“Sesungguhnya ketaatan yang paling cepat pahalanya adalah silaturahim.”[4]

Kunci Keempat: Takwa kepada Allah Ta’ala

Allah Ta’ala berfirman:

﴿وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ﴾

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”

Takwa bukan sekadar penampilan, pakaian, atau gerakan tertentu, melainkan menjalankan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya. Wali Allah bukanlah orang yang terbang di udara atau berjalan di atas air, tetapi orang yang berada di sisi halal dan haram, hadir saat diperintah dan menjauh saat dilarang.

Termasuk takwa adalah mengambil sebab-sebab yang disyariatkan dan meninggalkan sikap malas serta meminta-minta.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا»

“Sungguh jika salah seorang dari kalian mengumpulkan kayu bakar di punggungnya, itu lebih baik baginya daripada meminta-minta kepada orang lain.”[5]

Kunci Kelima: Hijrah di Jalan Allah

Yang dimaksud dengan hijrah di sini adalah berpindah dari suatu tempat yang penuh dengan kemaksiatan dan kefasikan menuju tempat di mana engkau dapat merasa aman dalam menjaga agama dan ibadahmu.

Maka janganlah engkau tinggal bersama orang-orang durhaka dan fasik, lalu berharap kepada Allah kelapangan rezeki, kecuali jika engkau benar-benar aman dalam ibadahmu dan tidak terpengaruh oleh mereka.

Betapa banyak orang yang meninggalkan negeri mereka, padahal negeri itu adalah yang paling mereka cintai. Seandainya diberi pilihan, tentu mereka akan memilihnya dibandingkan negeri lain. Namun karena urusan rezeki, Allah membukakan bagi mereka pintu-pintu rezeki di negeri lain dan di tanah yang bukan tanah kelahiran mereka.

Dan milik Allah-lah segala urusan, baik sebelumnya maupun sesudahnya.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿وَمَن يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللّهِ يَجِدْ فِي الأَرْضِ مُرَاغَماً كَثِيراً وَسَعَةً﴾

“Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya ia akan mendapatkan di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak.”[6]

Kunci Keenam: Haji dan Umrah, serta Mengiringi Keduanya

Dan berhati-hatilah engkau dari berprasangka bahwa hartamu akan berkurang karena haji atau umrah. Tanyalah kepada orang-orang yang terbiasa melaksanakannya, apakah harta mereka berkurang atau justru bertambah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«تابعوا بين الحج والعمرة، فإنهما ينفيان الفقر والذنوب كما ينفي الكير خبث الحديد والذهب والفضة، وليس للحج المبرور إلا الجنة»

“Iringilah antara haji dan umrah, karena keduanya dapat menghapus kemiskinan dan dosa sebagaimana alat pandai besi menghilangkan kotoran dari besi, emas, dan perak. Dan tidak ada balasan bagi haji yang mabrur kecuali surga.”[7]

Kunci Ketujuh: Bertawakal kepada Allah

Makna tawakal adalah engkau mengambil seluruh sebab yang ada, kemudian meyakini sepenuh hati bahwa rezekimu pasti akan sampai kepadamu apa pun yang terjadi.

Tawakal berbeda dengan tawakul (sikap pasrah yang keliru), yaitu bermalas-malasan dalam mencari rezeki dengan alasan bahwa Allah telah menetapkan seluruh rezeki.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا﴾

“Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah menetapkan ukuran bagi segala sesuatu.” [Surah Ath-Thalaq: 2–3]

Dan Rasulullah ﷺ bersabda:

«لو أنكم تتوكلون على الله حق توكله لرزقكم كما يرزق الطير، تغدو خماصاً وتروح بطاناً»

“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Dia akan memberi kalian rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung itu pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.”[8]

Kunci Kedelapan: Mencurahkan Diri untuk Ibadah kepada Allah

Yaitu dengan meninggalkan persaingan dunia, merasa cukup dengan sedikit yang mencukupi kebutuhanmu, serta mengerahkan sisa waktumu untuk beribadah dan berdakwah kepada Allah.

Dalam hadis qudsi disebutkan:

«يا ابن آدم، تفرغ لعبادتي أملأ صدرك غنى وأسد فقرك، وإن لم تفعل ملأت يدك شغلاً ولم أسد فقرك»

“Wahai anak Adam, luangkanlah dirimu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan memenuhi dadamu dengan rasa cukup dan menutup kefakiranmu. Jika tidak, Aku akan memenuhi tanganmu dengan kesibukan dan tidak menutup kefakiranmu.”[9]

Kunci Kesembilan: Berinfak untuk Para Penuntut Ilmu

Barang siapa memiliki saudara, teman, atau tetangga yang miskin namun menuntut ilmu untuk memberi manfaat bagi kaum muslimin, lalu ia mampu membantunya, melapangkan kebutuhannya, dan mencukupinya agar ia tidak meninggalkan ilmu dan proses belajarnya, maka hal itu termasuk pintu rezeki baginya.

Dari Anas bin Malik رضي الله عنه berkata:

“Pada masa Rasulullah ﷺ ada dua orang bersaudara. Salah satunya sering mendatangi Nabi ﷺ, sedangkan yang lain bekerja mencari nafkah. Orang yang bekerja itu mengadukan saudaranya kepada Nabi ﷺ. Maka beliau bersabda:

«لعلك تُرزق به»

“Boleh jadi engkau diberi rezeki melalui perantara dirinya.”[10]

Kunci Kesepuluh: Berbuat Baik dan Menaruh Kasih Sayang kepada Orang-Orang Lemah dan Fakir Miskin

Hal itu karena hati mereka lebih dekat dan terhubung dengan Allah, disebabkan lemahnya daya dan kefakiran mereka. Maka berbuat baiklah kepada orang-orang lemah di sekitarmu, niscaya Allah akan berbuat baik kepadamu.

Janganlah engkau melupakan orang-orang lemah dan fakir miskin, karena sesungguhnya melalui merekalah kalian diberi rezeki dan pertolongan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُونَ إِلَّا بِضُعَفَائِكُمْ»

“Bukankah kalian ditolong dan diberi rezeki melainkan karena orang-orang lemah di antara kalian?”[11]

Kunci Kesebelas: Berlindung kepada Allah dengan Doa

Doa adalah tempat berlindung saat kesulitan. Apabila rezekimu terasa sempit, kegundahan dan kesedihanmu semakin berat, serta utangmu menumpuk, maka berlindunglah kepada Allah. Ketuklah pintu yang tidak pernah mengecewakan siapa pun yang mengetuknya. Mohonlah kepada Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Dermawan. Tidak ada seorang pun yang berdiri di pintu-Nya lalu Dia berpaling darinya, dan tidak ada hamba yang berharap kepada-Nya lalu Dia mengecewakannya.

Karena itu, Rasulullah ﷺ menasihati salah seorang sahabatnya dengan sabda:

«قُلْ إِذَا أَصْبَحْتَ وَإِذَا أَمْسَيْتَ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ»

Abu Sa‘id Al-Khudri رضي الله عنه berkata:

“Aku mengamalkannya, lalu Allah menghilangkan kegelisahanku dan melunasi utangku.”[12]

“Ucapkanlah pada pagi dan petang: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan kikir, serta aku berlindung kepada-Mu dari lilitan utang dan penindasan manusia.”

Kunci Kedua Belas: Shalat dan Zikir

Barang siapa menjaga keduanya, maka shalat dan zikir akan menjadi cahaya, keselamatan, keberkahan, dan kebahagiaan baginya di dunia dan akhirat.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿ وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى ﴾

“Perintahkanlah keluargamu untuk melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” [Surah Thaha: 132]

Artinya, jika engkau menegakkan shalat, maka rezekimu akan datang dari arah yang tidak engkau sangka.

Sebuah rumah yang di dalamnya shalat ditinggalkan, keberkahannya akan berkurang. Manusia berada di masjid-masjid mereka, sementara Allah berada dalam pemenuhan kebutuhan mereka.

Dan Allah berfirman tentang orang-orang yang meninggalkan Jumat demi perdagangan:

﴿ وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انْفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا ۚ قُلْ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ مِنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ ۚ وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ ﴾

“Apabila mereka melihat perdagangan atau permainan, mereka segera bergegas kepadanya dan meninggalkan engkau berdiri. Katakanlah: Apa yang ada di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perdagangan. Dan Allah adalah sebaik-baik Pemberi rezeki.” [Surah Al-Jumu‘ah: 11]

Kunci Ketiga Belas: Bersegera di Pagi Hari dalam Mencari Rezeki

Dari Shakhr Al-Ghamidi رضي الله عنه berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

«اللَّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا»

“Ya Allah, berkahilah umatku pada waktu pagi mereka.”[13]

Dan diriwayatkan dari Fathimah رضي الله عنها, ia berkata:

“Rasulullah ﷺ pernah melewatiku ketika aku sedang berbaring, lalu beliau menggerakkanku dengan kakinya dan bersabda:

‘Wahai putriku, bangunlah, saksikanlah rezeki Allah dan jangan termasuk orang-orang yang lalai. Sesungguhnya Allah membagi rezeki manusia antara terbit fajar hingga terbit matahari.’”[14]

Kunci Keempat Belas: Menikah bagi yang Menginginkan Kesucian Diri

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

«ثلاثةٌ حقٌ على الله عونهم، المجاهد في سبيل الله، والمكاتب يريد الأداء، والناكح يريد العفاف»

“Ada tiga golongan yang menjadi hak Allah untuk ditolong: orang yang berjihad di jalan Allah, budak yang menebus dirinya dan ingin melunasi tebusannya, serta orang yang menikah dengan tujuan menjaga kesucian diri.”[15]

Allah Ta’ala berfirman:

﴿ وَأَنكِحُوا الأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ ﴾

“Nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kalian, serta orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kecukupan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.” [Surah An-Nur: 32]

Kunci Kelima Belas: Bersyukur kepada Allah Ta’ala

Termasuk sebab datangnya rezeki, tetapnya rezeki, dan berkembangnya rezeki adalah bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى. Bersyukur dilakukan dengan menaati-Nya dan menggunakan nikmat-Nya pada hal-hal yang diridhai-Nya.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿ وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ ﴾

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan: ‘Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepada kalian. Namun jika kalian kufur, sungguh azab-Ku sangat pedih.’”[16]

Kunci Keenam Belas: Kejujuran dalam Perdagangan

Termasuk sebab keberkahan adalah kejujuran dalam berdagang. Rasulullah ﷺ bersabda:

«الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا… فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا، وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا»

“Penjual dan pembeli memiliki hak memilih selama mereka belum berpisah. Jika keduanya jujur dan menjelaskan (cacat barang), maka akan diberkahi jual beli mereka. Namun jika keduanya menyembunyikan dan berdusta, maka akan dihapus keberkahan jual beli mereka.”[17]

Kunci Ketujuh Belas: Menegakkan Syariat Allah di Bumi

Bagaimana mungkin tidak, sementara Allah Ta’ala berfirman:

﴿ وَلَوْ أَنَّهُمْ أَقَامُوا التَّوْرَاةَ وَالإِنجِيلَ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْهِمْ مِنْ رَبِّهِمْ لَأَكَلُوا مِنْ فَوْقِهِمْ وَمِنْ تَحْتِ أَرْجُلِهِمْ ﴾

“Seandainya mereka menegakkan Taurat, Injil, dan apa yang diturunkan kepada mereka dari Tuhan mereka, niscaya mereka akan makan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka.” [Surah Al-Ma’idah: 66]

Dari mana datangnya kekeringan, kesempitan, kerusakan, dan berbagai bencana, jika bukan dari kemaksiatan dan berpaling dari syariat Allah?

Allah Ta’ala berfirman:

﴿ ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ ﴾

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali.” [Surah Ar-Rum: 41]

Dan Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ»

“Sesungguhnya seseorang benar-benar terhalang dari rezeki karena dosa yang ia lakukan.” [HR. Ahmad dan Ibnu Majah, dinilai lemah oleh Al-Albani]

Apabila kaum muslimin hidup dengan agama ini, berhukum dengan syariat Allah, menegakkan hukum-hukum-Nya, melaksanakan perintah-Nya, serta mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, niscaya Allah akan memuliakan mereka, meninggikan kedudukan mereka, dan memberkahi rezeki mereka.

Catatan Penting

Sebab dan Yang Menentukan

Rezeki memiliki sebab, namun Allah semata adalah Penguasa segala sebab. Maka jangan bergantung pada sebab dan melupakan Allah. Jika Allah menghendaki rezeki bagi seorang hamba, tidak ada siapa pun yang mampu menghalanginya meskipun seluruh penduduk langit dan bumi bersatu.

Untuk Apa Rezeki Diberikan

Rezeki diberikan agar seorang hamba dapat menggunakannya untuk taat kepada Rabb-nya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata:

“Allah menciptakan makhluk agar mereka beribadah kepada-Nya, dan Dia menciptakan rezeki bagi mereka agar mereka dapat menggunakannya untuk beribadah kepada-Nya.”

Pemberian Bukan Tanda Cinta, Kekurangan Bukan Tanda Murka

Kelapangan rezeki bukan bukti cinta Allah, dan sempitnya rezeki bukan bukti murka-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

﴿ وَمَن كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَىٰ عَذَابِ النَّارِ ﴾

“Dan siapa yang kafir, maka akan Aku beri dia kesenangan (di dunia) untuk sementara, kemudian Aku paksa dia menuju azab neraka.” [Surah Al-Baqarah: 126]

Allah bisa memberi rezeki yang luas kepada orang-orang durhaka dan bahkan orang kafir, lebih banyak daripada yang diberikan kepada orang-orang beriman.

Empat yang Menarik Rezeki dan Empat yang Menghalanginya

Seorang saleh berkata:

“Empat hal yang mendatangkan rezeki: shalat malam, banyak istighfar di waktu sahur, menjaga sedekah, serta zikir di awal dan akhir siang.

Dan empat hal yang menghalangi rezeki: tidur pagi berlebihan, sedikit shalat, malas, dan berkhianat.”

Ragam Rezeki

Rezeki tidak terbatas pada harta. Jika Allah memberimu kedudukan, kelapangan berbicara, hikmah, harta, jabatan, atau ilmu, maka infakkanlah dari apa yang Allah rezekikan kepadamu.

Rezeki Lahir dan Batin

Rezeki lahir mencakup makanan, minuman, rumah, kendaraan, dan segala yang bermanfaat bagi tubuh.

Rezeki batin adalah mengenal Allah, dekat kepada-Nya, taat kepada-Nya, bertawakal kepada-Nya, percaya kepada-Nya, dan cahaya yang Allah letakkan di dalam hati. Semua itu adalah rezeki.

Rezeki Telah Ditentukan, Maka Jangan Gelisah

Allah telah menetapkan takdir, membagi rezeki, dan menentukan ajal lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi. Setiap manusia ditulis rezekinya, ajalnya, dan apakah ia bahagia atau celaka. Maka tenanglah dan jangan gelisah.

Manusia dalam Mencari Harta Ada Tiga Golongan

  1. Orang yang dunia melalaikannya dari akhirat, maka ia termasuk orang yang binasa.
  2. Orang yang akhirat melalaikannya dari dunia, maka ia termasuk orang yang beruntung.
  3. Orang yang menjadikan dunia sebagai sarana menuju akhirat, maka ia termasuk orang yang pertengahan.

Sedikit yang disyukuri lebih baik daripada banyak yang tidak disyukuri. Sedikit yang mencukupi lebih baik daripada banyak yang melampaui batas.

Rezeki Ada Dua Macam

Rezeki yang mencarimu dan rezeki yang engkau cari.

Rezeki yang mencarimu pasti akan datang meskipun engkau lemah.

Adapun rezeki yang engkau cari tidak akan datang kecuali dengan usaha, dan itu pun tetap bagian dari rezekimu.

Yang pertama adalah karunia Allah, dan yang kedua adalah keadilan Allah.

Semoga bermanfaat.

  1. (HR. Abu Dawud no. 1518 dan Ibnu Majah no. 3819)
  2. (HR. Ibnu Majah dengan sanad sahih)
  3. (Muttafaq ‘alaih)
  4. (As-Silsilah Ash-Shahihah no. 918)
  5. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 2074 dan Muslim no. 1042).
  6. [Surah An-Nisa’: 100].
  7. [HR. Ahmad, dan disahihkan oleh Al-Albani].
  8. [Musnad Ahmad 1/30, Sunan At-Tirmidzi no. 2344, beliau berkata: hadis hasan sahih]
  9. [Sunan Ibnu Majah, Kitab Az-Zuhd, Bab: Kesibukan dengan Dunia no. 4107; dishahihkan Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1359]
  10. [HR. At-Tirmidzi]
  11. [HR. Al-Bukhari dalam Kitab Jihad, Bab: Meminta Pertolongan kepada Orang-Orang Lemah dan Saleh dalam Perang no. 2896]
  12. [HR. Abu Dawud, Kitab Al-Witr, Bab: Doa Perlindungan]
  13. [HR. Ahmad, Shahih Al-Jami‘ no. 1300]
  14. [Faydh Al-Qadir Syarh Al-Jami‘ Ash-Shaghir no. 1457]
  15. [Hadis hasan, sebagaimana dalam Shahih Ibnu Majah karya Al-Albani no. 2041]
  16. [Surah Ibrahim: 7]
  17. [Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Buyu‘: 2079, 2082, 2110, 2114]

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button