Bagaimana Menanggapi Sebutan Pelakor Bagi Istri Poligami?

Pertanyaan
Di negara kita ini masih tabu dengan poligami, yang ada nantinya istri kedua, ketiga dan keempat dilaqabi dengan sebutan pelakor, gimana menanggapinya ya Ustadzuna?
Jawaban
Kesetiaan suami kepada istrinya adalah kemuliaan dan tanda kehormatan, maka hilangnya kesetiaan menunjukkan kehinaan dan keburukan jiwa.
Pengkhianatan, membuka rahasia rumah tangga, sikap acuh, meninggalkan istri tanpa sebab, dan kekerasan hati adalah bentuk kezaliman yang tidak diridhai Allah.
Suami akan ditanya di hadapan Allah pada hari kiamat tentang istrinya — bagaimana ia memperlakukannya.
«إن الله تعالى سائل كل راعٍ عمّا استرعاه حفظ أم ضيّع حتى يسأل الرجل عن أهل بيته»
“Sesungguhnya Allah akan bertanya kepada setiap pemimpin tentang orang yang dipimpinnya — apakah ia menjaga atau menelantarkan mereka — bahkan seorang suami akan ditanya tentang keluarganya.”
Pada hari itu, tidak ada dinar dan dirham — hanya pahala dan dosa yang menjadi gantinya.
«من كانت عنده مظلمة لأخيه فليتحلل منها… فإن لم يكن له حسنات أُخذ من سيئات أخيه فطُرحت عليه»
“Barang siapa memiliki kezaliman terhadap saudaranya, hendaklah ia memintakan maaf sebelum datang hari di mana tidak ada dinar dan dirham; jika ia tidak punya kebaikan, dosa saudaranya akan diambil dan dibebankan kepadanya.”
Pada hari itu, seorang istri yang dizalimi suaminya akan datang menuntut haknya. Ia akan berkata:
“Ya Rabb, suamiku telah menzalimiku, maka ambillah hakku darinya.”
Lalu diambil dari pahala suaminya hingga ia merasa puas.
Allah ﷻ berfirman:
{يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ * وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ * وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ * لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ}
“Pada hari ketika seseorang lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istrinya dan anak-anaknya. Setiap orang pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” – QS. ‘Abasa: 34–37)
Istri yang dizalimi itulah “الصاحبة” (pasangan) yang akan dijauhi oleh suaminya di akhirat karena dosa dan pengkhianatannya di dunia.
🌿 *Penutup: Semoga Allah ﷻ menganugerahkan kepada kita pasangan dan keturunan sebagai penyejuk mata, menjadikan rumah tangga kita sakinah, mawaddah, dan rahmah, serta menjauhkan dari kezaliman dan kelalaian.*
اللهم هب لنا من أزواجنا وذرياتنا قرة أعين، واجعلنا للمتقين إماماً
Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan sebagai penyejuk mata, dan jadikan kami imam bagi orang-orang bertakwa.
Kecemburuan (al-Ghirah) adalah sifat fitrah yang Allah tanamkan pada wanita sejak asal penciptaannya — dan tidak hanya terbatas pada kaum wanita saja, karena sifat ini juga ada pada laki-laki.
Kecemburuan ini memiliki hikmah tersendiri, di antaranya adalah hikmah ujian dan cobaan sebagaimana firman Allah Ta‘ala:
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
“(Dialah) yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2)
Syaikh ‘Abdurrahman bin ‘Abdillah As-Suhaim berkata:
“Kecemburuan pada wanita termasuk bagian dari ujian (ibtilā’) yang dengannya Allah menguji para hamba-Nya. Dan Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat, sedang merekalah yang akan ditanya.”
Dalam ujian ini, ada wanita yang mampu melewatinya dengan sabar, keyakinan, dan kendali terhadap kecemburuan, namun ada pula yang gagal di dalamnya — karena mengikuti hawa nafsu, kebencian, kedengkian, dan permusuhan, padahal semua itu telah dilarang dalam agama.
Maka, tidak ada dosa atas wanita selama kecemburuannya tidak menimbulkan ucapan atau perbuatan yang dibenci oleh Allah.
Al-Ḥāfiẓ Ibn Ḥajar dalam Fatḥ al-Bārī, ketika berbicara tentang dua istri yang saling cemburu, berkata:
“Kecemburuan keduanya — jika berasal dari tabiat manusiawi yang tidak ada seorang pun wanita yang selamat darinya — maka hal itu dapat dimaklumi selama tidak melampaui batas hingga menyebabkan ucapan atau perbuatan yang diharamkan. Dan atas dasar ini pula difahami sikap para wanita dari kalangan salafus shalih.”
Dalam kecemburuan juga terdapat tanda cinta seorang wanita kepada suaminya.
Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari ‘Āisyah رضي الله عنها, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya:
« مَا لَكِ؟ يَا عَائِشَةُ أَغِرْتِ؟ »
فَقُلْتُ: وَمَا لِي لَا يَغَارُ مِثْلِي عَلَى مِثْلِكَ؟
“Ada apa denganmu, wahai ‘Aisyah, apakah engkau cemburu?”
Aku menjawab: “Bagaimana mungkin orang seperti aku tidak cemburu terhadap orang seperti engkau (wahai Rasulullah)?”
Mulla ‘Alī al-Qārī dalam Mirqāt al-Mafātīḥ menjelaskan:
“Maksudnya, bagaimana mungkin seseorang dengan sifat cintaku (kepada Rasulullah) tidak merasa cemburu terhadap beliau?”
Maka, walaupun kecemburuan terhadap madunya menimbulkan rasa sakit dalam diri seorang wanita, kemudaratan kecil ini tidak dapat dijadikan alasan untuk menolak berbagai kebaikan besar yang terkandung dalam pernikahan.
Dalam kehidupan dunia, hampir tidak ada yang sepenuhnya bebas dari mudarat. Karena itu, menimbang antara maslahat dan mafsadat (kebaikan dan keburukan) adalah jalan yang ditempuh oleh orang-orang berakal.
Ketahuilah, kecemburuan ini hanya ada di dunia, adapun di akhirat — di surga — semua hati akan bersih dari rasa itu, sebab surga adalah tempat kenikmatan sempurna dan kebahagiaan abadi.
Allah Ta‘ālā berfirman:
وَأَمَّا الَّذِينَ سُعِدُوا فَفِي الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ عَطَاءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ
“Adapun orang-orang yang berbahagia, maka mereka di dalam surga, kekal di dalamnya selama masih ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.”
(QS. Hūd: 108).
Dalam Shahih Muslim diriwayatkan dari Abu Sa‘īd al-Khudrī dan Abu Hurairah رضي الله عنهما, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
« يُنَادِي مُنَادٍ: إِنَّ لَكُمْ أَنْ تَصِحُّوا فَلَا تَسْقَمُوا أَبَدًا، وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَحْيَوْا فَلَا تَمُوتُوا أَبَدًا، وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَشِبُّوا فَلَا تَهْرَمُوا أَبَدًا، وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَنْعَمُوا فَلَا تَبْأَسُوا أَبَدًا »
“Akan ada penyeru yang menyeru: Sesungguhnya bagi kalian (wahai penduduk surga) kesehatan yang tidak akan pernah sakit selamanya, kehidupan yang tidak akan mati selamanya, masa muda yang tidak akan tua selamanya, dan kenikmatan yang tidak akan pernah berakhir selamanya.”
Jika kecemburuan ini ada pada wanita afifaat yang menjaga kehormatan, maka sifat ini tidak ada pada para pezina, dan ungkapan bahwa wanita yang dipoligini itu adalah pelakor ungkapan yang muncul dari circle pelacuran, sebagaimana ungkapan:
“الزانية تود لو زنى النساء كلهن”
“Wanita pezina berharap agar semua wanita berzina seperti dirinya.”
Ini adalah perumpamaan yang digunakan oleh para ulama untuk menjelaskan sifat orang-orang yang mengikuti hawa nafsu dan tenggelam dalam maksiat.
Mereka tidak merasa cukup dengan dosa yang mereka lakukan sendiri, tetapi berharap orang lain pun ikut berbuat dosa seperti mereka.
Tujuannya agar lenyap rasa bersalah, agar aibnya terasa ringan, dan agar ia tidak tampak buruk sendirian.
Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:
وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً
“Mereka menginginkan agar kamu kafir sebagaimana mereka telah kafir, sehingga kamu menjadi sama (dengan mereka).”
(QS. An-Nisā’: 89)
📚 Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata dalam Al-Istiqāmah (hal. 480):
Sesungguhnya orang-orang yang mengikuti syahwat dan maksiat bersemangat untuk menyesatkan orang-orang saleh, dan sebab-sebabnya bermacam-macam, di antaranya:
1. Untuk mendapatkan bantuan dalam maksiat.
Mereka ingin orang lain ikut berbuat dosa agar bisa saling membantu dan jumlah mereka bertambah, sehingga celaan terhadap mereka berkurang.
2. Karena merasa nikmat dengan adanya kesamaan.
Mereka merasakan kepuasan batin bila melihat orang lain berbuat maksiat seperti mereka, seakan-akan dosa mereka menjadi ringan karena dilakukan bersama.
3. Karena benci jika orang saleh itu berbeda dan lebih baik dari mereka.
Mereka tidak suka ada seseorang yang menonjol dalam kebaikan, karena hal itu membuat mereka merasa hina di hadapannya.
4. Karena dengki terhadap ketaatannya.
Sebagaimana orang duniawi iri kepada orang yang sukses, demikian pula orang ahli maksiat iri kepada orang yang taat dan istiqamah.
5. Agar ia tidak lebih mulia dan tidak lebih dipuji daripada mereka.
Mereka ingin menjatuhkannya ke dalam dosa agar tidak lagi dipuji dan tidak memiliki keutamaan di atas mereka.
6. Agar ia tidak memiliki hujjah (bukti) terhadap mereka.
Karena ketaatan dan kesalehan orang itu menjadi hujjah dan cela bagi kemaksiatan mereka, maka mereka berusaha menjatuhkannya agar hilang pengaruh teladannya.
7. Karena takut ia akan menegur, menghukum, atau melarang mereka.
Mereka berusaha menjatuhkannya agar ia berhenti mengingatkan mereka atau menegakkan amar makruf nahi mungkar atas mereka.
Kesimpulan
Semakin seseorang saleh dan istiqamah, mempraktekkan yang halal dengan menikah, maka semakin besar pula usaha orang-orang ahli maksiat untuk menyesatkannya.
Sebab, kesalehan orang itu merupakan cermin yang menyingkap keburukan mereka, serta menjadi penghalang bagi mereka untuk menikmati maksiat dengan tenang.
Karena itu, janganlah engkau lemah di hadapan godaan mereka.
Sesungguhnya ajakan mereka bukanlah karena kasih, tetapi karena dengki, iri, dan benci terhadap cahaya ketaatan.



