Tarbawi

Kunci-Kunci Khusyuk Dalam Salat (16)

Kunci-Kunci Khusyuk Dalam Salat (16)

Buah Kekhusyukan

Kekhusyukan memiliki buah dan manfaat yang sangat agung, di antaranya:

Memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya.

Bentuk kepatuhan ini adalah sifat yang melekat pada setiap seruan yang Allah dan Rasul-Nya ajukan. Sesungguhnya hidupnya hati dan ruh adalah dengan beribadah kepada Allah Ta’ala, senantiasa berpegang teguh pada ketaatan kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya.[1]

Yang dimaksudka di sini adalah respons lisan, hati, dan anggota badan. Ketika hati seorang mukmin menjadi lembut dan khusyuk, ketika anggota tubuhnya tunduk dan tenang, maka ia termasuk golongan orang-orang beriman yang memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya.

Dalam keadaan khusyuk saat shalat: telinga mendengar, lisan melafalkan, hati memahami, dan anggota badan melaksanakan. Orang yang khusyuk adalah orang yang memenuhi perintah Allah Ta’ala dan melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Tuhannya. Seandainya dalam kekhusyukan tidak ada keutamaan selain ini, niscaya itu sudah cukup. Lalu bagaimana jika disertai pula dengan berbagai manfaat dan buah yang menghadirkan kebahagiaan dunia dan akhirat bagi seorang hamba.

Kecintaan hamba terhadap ibadah.

Tidak diragukan bahwa saat-saat terindah adalah ketika seorang hamba berdiri di hadapan Rabbnya, bermunajat kepada-Nya, merendahkan diri kepada-Nya, mengharap rahmat-Nya dan takut terhadap azab-Nya. Pada saat itu, orang yang khusyuk melupakan dunia dan segala isinya. Hatinya terbebas dari segala kesibukan yang mengalihkan dari Sang Pencipta dan Penguasa-Nya.

Ia merasakan dalam shalat ketenangan dan kebahagiaan. Demikianlah keadaannya hingga selesai shalat. Setelah selesai, ia merasakan semangat, ketenangan, dan kerinduan kepada shalat berikutnya. Ibadah ini adalah musim semi hatinya, seperti air bagi pepohonan. Bagaimana keadaan pohon jika tanpa air?

Karena itu, tidaklah mengherankan jika kita melihat kerinduan orang-orang yang khusyuk terhadap ibadah, atau mendengarnya. Keadaan mereka lebih besar dari sekadar bisa digambarkan. Mereka mencintai setiap amal yang dicintai oleh Rabb mereka. Keadaan mereka sampai pada derajat ihsan, karena mereka beribadah kepada Allah dengan maqam muraqabah (merasa diawasi Allah).

Ketika seorang hamba terikat hatinya dengan shalat, ia berada di alam iman yang tinggi, naik dan semakin mulia. Kerinduan dan kecintaan terhadap shalat memiliki kedudukan besar dan pengaruh yang mendalam dalam jiwa. Ia adalah kedudukan yang diperebutkan oleh para pesaing dalam kebaikan, tujuan yang dituju oleh para pekerja amal, ketinggian yang dikejar oleh orang-orang terdahulu, dan tempat pengorbanan para pecinta. Shalat adalah makanan hati, nutrisi ruh, penyejuk mata. Ia adalah kehidupan; siapa yang terhalang darinya maka ia termasuk golongan orang mati. Ia adalah cahaya; siapa yang kehilangannya maka ia berada dalam lautan kegelapan. Ia adalah obat; siapa yang tidak memilikinya maka berbagai penyakit hati akan menimpanya. Ia adalah kenikmatan; siapa yang tidak mendapatkannya maka hidupnya penuh kesedihan dan penderitaan.[2]

Jika pohon cinta ini tertanam di hati seorang hamba dan ia menyiraminya dengan air keikhlasan, maka ia akan berbuah dengan buah yang matang dan memberikan hasilnya setiap waktu dengan izin Rabbnya. Akar-akar cinta itu kokoh dalam hati dan cabangnya menjulang tinggi.

Selalu Terhubung dengan Allah.

Ini adalah salah satu buah terbaik dari kekhusyukan dan pengaruhnya. Engkau akan melihat pemilik hati yang khusyuk senantiasa terhubung dengan Tuhannya, banyak berlindung kepada-Nya, banyak menghadap kepada-Nya. Hatinya penuh rasa takut dan kelembutan, bercahaya oleh iman, karena hubungannya yang terus-menerus dengan Yang Maha Tinggi.

Ia bersandar kepada-Nya dalam keadaan lapang maupun sempit, dan menghadap kepada-Nya dalam seluruh kebutuhannya. Orang yang khusyuk berlindung kepada Allah dalam setiap musibah dan perkara besar, serta berpegang kepada-Nya dalam setiap ketakutan dan harapan.

Dalam perkara kecil maupun besar, ia tidak mengenal selain Allah, karena ia yakin bahwa

لَّا مَلْجَاَ مِنَ اللّٰهِ اِلَّآ اِلَيْهِۗ

Artinya: “Tidak ada tempat berlindung dari Allah kecuali kepada-Nya”. QS. At Taubah: 118.

Dalam segala urusan, ia tidak mengarah kepada selain-Nya. Betapa sering ia mengangkat kedua tangannya berdoa:

“Wahai Dzat yang melihat apa yang tersembunyi dalam hati dan mendengar,
Engkaulah yang menyediakan segala yang diharapkan.
Wahai Dzat yang perbendaharaan kerajaan-Nya hanya dengan berkata “Kun”,
Wahai Dzat yang kepada-Nya tempat mengadu dan berlindung.
Wahai Dzat yang diharapkan dalam seluruh kesulitan,
Limpahkanlah karunia-Mu, karena segala kebaikan berasal dari-Mu seluruhnya[3].

Orang yang khusyuk senantiasa terhubung dengan Rabbnya siang dan malam, setiap waktu dan saat. Jika ia berbuat dosa, ia beristighfar. Jika diuji, ia bersabar. Jika diberi nikmat, ia bersyukur.

Ini adalah kedudukan agung yang menjadikan seorang mukmin tidak berpaling kepada penghalang jalan dan rintangan zaman. Ia terus melanjutkan perjalanan dengan muhasabah, kesabaran, dan keteguhan.

Merasa dekat dengan Allah.

Di antara buah terbesar kekhusyukan adalah keakraban dengan Allah Ta’ala dan kelapangan dada yang dirasakan oleh orang yang khusyuk. Kenikmatan, kebahagiaan, dan keakraban ini hanya diketahui oleh orang-orang yang diberi taufik.

Kenikmatan iman ini pernah dirasakan dan dihayati oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, terutama ketika beliau dipenjara. Beliau berada dalam puncak kebahagiaan karena menjadikan penjara sebagai kesempatan untuk berkhalwat dengan Rabbnya.

Beliau menggambarkan keadaannya dengan mengatakan bahwa Allah telah membukakan baginya pintu-pintu karunia dan rahmat-Nya yang tidak pernah terlintas dalam benaknya. Kenikmatan, kegembiraan, kebahagiaan, dan keindahan waktu yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata itu terletak dalam mengenal Allah, mentauhidkan-Nya, dan beriman kepada-Nya.

Sebagaimana sebagian ulama berkata:
“Pernah aku berada dalam keadaan yang jika penduduk surga berada dalam keadaan seperti ini, sungguh mereka berada dalam kehidupan yang baik.”

Yang lain berkata:
“Sungguh ada saat-saat yang melewati hati, ia hampir menari karena kegembiraan.”

Tidak ada kenikmatan di dunia yang menyerupai kenikmatan akhirat kecuali kenikmatan mengenal Allah dan iman kepada-Nya. Oleh karena itu Nabi ﷺ bersabda: “Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan shalat.”[4]

Ketenangan dan Kewibawaan.

Ketenangan (sakinah) adalah sifat orang-orang yang khusyuk. Ia tampak pada wajah mereka, pada gerakan dan diam mereka.

Ketika Allah menurunkan ketenangan dalam hati seorang hamba, lahirlah keyakinan dan kepercayaan, kewibawaan dan keteguhan, kepasrahan dan keridhaan.

Ketenangan inilah yang layak bagi hati seorang mukmin yang khusyuk dan terhubung dengan Rabbnya, yang tenteram dengan kepercayaannya, dan selalu merasa diawasi oleh-Nya dalam setiap gerakan. Ia tidak melampaui batas dan tidak marah karena kepentingan dirinya, melainkan marah karena Rabb dan agama-Nya.

Jika kita memperhatikan keadaan orang-orang yang khusyuk, kita akan dapati hati mereka tenang, anggota badan mereka tenteram, dan lisan mereka berbicara dengan kebenaran.

Allah telah menyebutkan tentang sakinah (ketenangan) dalam Kitab-Nya yang mulia pada lima tempat:

Pertama: Firman Allah:

ثُمَّ اَنْزَلَ اللّٰهُ سَكِيْنَتَهٗ عَلٰى رَسُوْلِهٖ وَعَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ

Artinya: “Kemudian, Allah menurunkan ketenangan (dari)-Nya kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin”. QS. At Taubah: 26.

Kedua: Firman Allah:

اِذْ يَقُوْلُ لِصَاحِبِهٖ لَا تَحْزَنْ اِنَّ اللّٰهَ مَعَنَاۚ فَاَنْزَلَ اللّٰهُ سَكِيْنَتَهٗ عَلَيْهِ وَاَيَّدَهٗ بِجُنُوْدٍ لَّمْ تَرَوْهَا

Artinya: “Ketika dia berkata kepada sahabatnya, “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” Maka, Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Nabi Muhammad), memperkuatnya dengan bala tentara (malaikat) yang tidak kamu lihat”. QS. At Taubah: 40.

Ketiga: Firman Allah:

هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ فِيْ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ لِيَزْدَادُوْٓا اِيْمَانًا مَّعَ اِيْمَانِهِمْ ۗوَلِلّٰهِ جُنُوْدُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَكَانَ اللّٰهُ عَلِيْمًا حَكِيْمًاۙ

Artinya: “Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). Milik Allahlah bala tentara langit dan bumi dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana”. QS. Al Fath: 4.

Keempat: Firman Allah:

۞ لَقَدْ رَضِيَ اللّٰهُ عَنِ الْمُؤْمِنِيْنَ اِذْ يُبَايِعُوْنَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِيْ قُلُوْبِهِمْ فَاَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ عَلَيْهِمْ وَاَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيْبًاۙ

Artinya: “Sungguh, Allah benar-benar telah meridai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Nabi Muhammad) di bawah sebuah pohon. Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia menganugerahkan ketenangan kepada mereka dan memberi balasan berupa kemenangan yang dekat”. QS. Al Fath: 18.

Kelima: Firman Allah:

اِذْ جَعَلَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فِيْ قُلُوْبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ فَاَنْزَلَ اللّٰهُ سَكِيْنَتَهٗ عَلٰى رَسُوْلِهٖ وَعَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ

Artinya: “(Kami akan mengazab) orang-orang yang kufur ketika mereka menanamkan kesombongan dalam hati mereka, (yaitu) kesombongan jahiliah, lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan orang-orang mukmin”. QS. Al Fath: 26.

  1. . Tafsir as Sa’di Hal. 318.
  2. . Madaarij as Saalikin Karya Ibnul Qayyim (3/8).
  3. . Oleh Abu Qasim Abdurrahman bin Abdullah as Suhaili al Andalusi al Maliki. Penulis buku “Raudh al Anfu” (Wafat: 581 H). Sebagaimana syair ini disebutkan juga di dalam Al Matrab min asy’ar ahlil magrib (Hal.234), Faidh al Qadiir (3/543), Nafhu at Tiib (2/102). Berkata Ibnu Dihyah al Kalbi dalam kitab Al Matrab min asy’ar ahlil magrib (Hal.234): “As Suhaili mengabarkanku bahwa tidaklah berdoa kepada Allah dengan syair syair ini melainkan Allah mengabulkan doanya, dan juga setiap orang yang menggunakan syairnya (dalam berdoa)”.
  4. . Majmu Fatawa (28/30-31) dan hadis yang disebutkan di akhir telah ditakhrij sebelumnya.

Darul Idam, Lc., M.A.

Kandidat Doktor Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button