Malam Nisfu Sya’ban: Keutamaan, Status Hadis, dan Hukum Pengkhususan Amalan

No Fatwa: 37 / 14-02-2026 / TF 03-MI
Dari Sdr.
Waktu: Sabtu, 26 Syakban 1447 H
Pertanyaan
“Sebagian masyarakat indonesia di malam nifsu sya’ban selalu merayakannya dengan amalan2an tertuntu, bagaimana hukumnya ustad?aapakah ada dalil baik dr hadist nabi atau Alquran yg menjelaskan tentang malam nifsu sya’ban?bagaimana status hadist2 yg beredar di masyarakat mengenai amalan2 khusus di malam bifsu sya’ban.
jazakumulloh ustad”
Jawaban
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga keselamatan, rahmat Allah, dan keberkahan-Nya tercurah kepada kalian. Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam. Dan semoga shalawat serta salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan seluruh sahabat beliau. Amma ba’du:
Sesungguhnya tentang keutamaan malam pertengahan bulan Sya‘ban terdapat beberapa hadis. Sebagiannya layak dijadikan hujah, dan sebagiannya lemah sehingga tidak dapat dijadikan hujah.
Di antara hadis yang layak dijadikan hujah adalah riwayat Al-Baihaqi dalam Syu‘ab al-Iman dari Abu Tsa‘labah Al-Khusyani radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ اطَّلَعَ اللَّهُ إِلَى خَلْقِهِ، فَيَغْفِرُ لِلْمُؤْمِنِينَ، وَيُمْلِي لِلْكَافِرِينَ، وَيَدَعُ أَهْلَ الْحِقْدِ بِحِقْدِهِمْ حَتَّى يَدَعُوهُ»
رواه البيهقي والطبراني.
“Apabila datang malam pertengahan Sya‘ban, Allah melihat kepada makhluk-Nya, lalu Dia mengampuni orang-orang beriman, menangguhkan (urusan) orang-orang kafir, dan membiarkan orang-orang yang memiliki kebencian dengan kebencian mereka sampai mereka meninggalkannya.”
Hadis ini juga diriwayatkan Ath-Thabrani, dan dinilai hasan oleh Al-Albani رحمه الله dalam Shahih al-Jami‘ no. 771.
Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ، إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ»
رواه ابن ماجه وابن حبان.
“Sesungguhnya Allah melihat pada malam pertengahan Sya‘ban, lalu Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya kecuali orang musyrik atau orang yang bermusuhan.”
Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dari Mu‘adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu.
Atha’ bin Yasar berkata:
ما من ليلة بعد ليلة القدر أفضل من ليلة النصف من شعبان، يتنزل الله تبارك وتعالى إلى السماء الدنيا، فيغفر لعباده كلهم، إلا لمشرك أو مشاجر أو قاطع رحم.
“Tidak ada malam setelah malam Lailatul Qadar yang lebih utama daripada malam pertengahan Sya‘ban. Allah Ta‘ala turun ke langit dunia lalu mengampuni semua hamba-Nya kecuali orang musyrik, orang yang bermusuhan, atau orang yang memutus silaturahmi.”
Karena itu seorang hamba hendaknya melakukan ketaatan yang menjadikannya layak mendapatkan ampunan Allah, serta menjauhi dosa yang menghalangi ampunan tersebut. Di antara dosa itu:
syirik kepada Allah, karena ia menghalangi semua kebaikan
permusuhan dan kebencian terhadap kaum muslimin, yang menghalangi ampunan pada waktu-waktu turunnya rahmat
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
«تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ، فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا، إِلَّا رَجُلًا كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ، فَيُقَالُ: أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا»
رواه مسلم.
“Pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis, lalu Allah mengampuni setiap hamba yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, kecuali seseorang yang antara dia dan saudaranya ada permusuhan. Maka dikatakan: tangguhkan kedua orang ini sampai mereka berdamai.”
(HR Muslim)
Amalan terbaik setelah iman kepada Allah adalah hati yang bersih dari segala bentuk kebencian.
Tidak ada riwayat sahih dari Nabi ﷺ maupun para sahabat tentang pengkhususan malam pertengahan Sya‘ban dengan shalat atau doa tertentu. Kemunculan amalan khusus pada malam ini pertama kali berasal dari sebagian tabi‘in.
Ibnu Rajab berkata dalam Latha’if al-Ma‘arif:
( وليلة النصف من شعبان كان التابعون من أهل الشام كخالد بن معدان، ومكحول، ولقمان بن عامر وغيرهم، يعظمونها ويجتهدون فيها في العبادة، وعنهم أخذ الناس فضلها وتعظيمها. وقد قيل: إنه بلغهم في ذلك آثار إسرائيلية، فلما اشتهر ذلك عنهم في البلدان اختلف الناس في ذلك فمنهم من قبله منهم ووافقهم على تعظيمها، منهم طائفة من عباد أهل البصرة وغيرهم، وأنكر ذلك أكثر العلماء من أهل الحجاز).
Tabi‘in di negeri Syam seperti Khalid bin Ma‘dan, Makhul, dan Luqman bin ‘Amir memuliakan malam ini dan bersungguh-sungguh beribadah padanya. Dari merekalah orang-orang mengambil keutamaannya. Dikatakan bahwa mereka menerima riwayat Israiliyat tentang hal itu. Ketika hal itu menyebar, para ulama berselisih. Sebagian menerimanya, khususnya sebagian ahli ibadah dari Basrah. Namun mayoritas ulama Hijaz mengingkarinya.
Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata:
( وأما ليلة النصف من شعبان ففيها فضل، وكان في السلف من يصلي فيها، لكن الاجتماع فيها لإحيائها في المساجد بدعة).
“Malam pertengahan Sya‘ban memang memiliki keutamaan, dan sebagian salaf melakukan shalat pada malam itu. Tetapi berkumpul di masjid untuk menghidupkannya secara berjamaah adalah bid‘ah.”
Imam Asy-Syafi‘i رحمه الله berkata:
بلغنا أن الدعاء يستجاب في خمس ليال: ليلة الجمعة، والعيدين، وأول رجب ونصف شعبان.
Telah sampai kepada kami bahwa doa dikabulkan pada lima malam: malam Jumat, dua malam hari raya, awal Rajab, dan pertengahan Sya‘ban.
Adapun puasa pada tanggal 15 Sya‘ban, maka disunnahkan jika diniatkan sebagai bagian dari tiga hari putih (tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan hijriyah), bukan karena pengkhususan pertengahan Sya‘ban. Hadis yang memerintahkan puasa khusus hari itu tidak sah, bahkan termasuk hadis palsu, yaitu:
«إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا»
حديث موضوع لا يصح.
“Jika datang malam pertengahan Sya‘ban maka hidupkan malamnya dan berpuasalah pada siangnya.”
Semoga Allah Ta‘ālā menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang memilih ilmu yang bermanfaat, meninggalkan hal yang sia-sia, dan mengamalkan apa yang telah diketahui. Kami memohon kepada Allah Ta‘ālā agar memberikan taufik kepada kami dan kepada kalian semua untuk melakukan apa yang Dia cintai dan ridhai. Aamiin
وَاللَّهُ أَعْلَمُ، وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.
