Ramadan 1447

Ramadan Momentum Mengasah Keikhlasan

RAMADAN MOMENTUM MENGASAH KEIKHLASAN

Sebuah stigma yang melekat kuat pada bulan Ramadan, dan senantiasa menghiasi percakapan dan nasihat-nasihat menjelang datangnya bulan Ramadan, yaitu bahwa Ramadan adalah madrasah.

Ya benar, Ramadan merupakan institut yang mendidik dan mengasah kaum muslimin dengan nilai-nilai ketakwaan yang berkualitas, ia bak kawah Candradimuka bagi kamu muslimin untuk menggodok mereka agar menjadi insan yang berhias dengan ketakwaan, tujuannya adalah agar kaum muslimin lebih berkualitas ketakwaan dan keimanannya.

Diantara nilai-nilai ketakwaan yang ditanamkan di bulan Ramadan adalah keikhlasan, yang merupakan salah satu nilai tertinggi dari ketakwaan, dan merupakan salah satu manifestasi teragung dari tauhid, tujuan mulia ini terekam dalam banyak sisi, diantaranya pada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya,”Barangsiapa yang berpuasa Ramadan dengan penuh keimanan dan berharap pahala dari Allah (ikhlas), maka dosa-dosanya yang lalu akan diampuni.” HR. Bukhari dan Muslim.

Hadis ini memaparkan tentang tiga hal; menjelaskan tentang ibadah yang dilakukan di bulan Ramadan, tentang dasar dan niat dari ibadah tersebut, serta menjelaskan tentang keutamaan dari ibadah tersebut, yaitu pengampunan dosa.

Ibadah yang disyariatkan di bulan Ramadan adalah puasa, yang substansinya adalah menahan diri dari makan, minum dan perkara-perkara yang dapat membatalkan puasa, seperti jimak dan lain sebagainya, mulai sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari, dan puasa ini termasuk ibadah yang agung, bahkan ia termasuk salah satu rukun Islam, sehingga wajib seluruh kaum muslimin untuk mengerjakannya.

Kemudian hadis tersebut menjelaskan tentang dasar dan niat yang harus diwujudkan ketika melaksanakan ibadah tersebut, yaitu dengan narasinya imanan wa ihtisaban. Yang dimaksud dengan imanan menurut para ulama -diantaranya Al-‘Iraqi- adalah,

تَصْدِيقًا بِأَنَّهُ حَقٌّ وَطَاعَةٌ

Artinya:,” Yaitu dengan meyakini bahwa puasa Ramadan tersebut adalah benar dan merupakan bagian dari ketaatan.”

Sedang Ibnu Hubairah mengatakan terkait makna diksi ini,

والمراد من صامه تصديقًا بالأمر به، عالمًا بوجوبه، خائفًا من عقاب تركه

Artinya:,”Maksudnya adalah barangsiapa yang berpuasa Ramadan berdasarkan keyakinannya bahwa ibadah itu adalah perintah Allah, mengetahui kewajibannya dan karena takut terhadap siksa Allah.

Dari penjelasan para ulama ini, bisa disimpulkan bahwa ibadah puasa yang berkualitas adalah ibadah yang dilakukan dengan landasan keimanan bahwa Allah memerintahkannya, dan berdasarkan keyakinan terkait kewajibannya, jadi bukan berpuasa hanya disebabkan karena ikut-ikutan belaka, namun harus berdasarkan prinsip-prinsip yang sudah dijelaskan diatas.

Adapun makna ihtisaban, para ulama mengatakan,

طلبا لمرضاة الله تعالى وثوابه لا بقصد رؤية الناس ولا غير ذلك مما يخالف الإخلاص

Artinya,” Yaitu dengan mencari rida Allah dan berharap pahala dari-Nya, bukan dengan tujuan riya kepada manusia, atupun niat yang lainya yang dapat menyelisihi keikhlasan.”

Sedangkan Ibnu Hubairah mengatakan,

محتسبًا جزيل الأجر في صومه

Artinya,” yaitu dengan berharap mendapat pahala yang besar ketika berpuasa.”

Maksudnya, hendaknya ketika berpuasa, harus berlandaskan niat ikhlas kepada Allah Azza wajalla, dan jauh dari perkara-perkara yang dapat merusak keikhlasan, berupa riya, sum’ah dan lain sebagainya.

Dari hadis ini bisa disimpulkan bahwa bulan Ramadan merupakan madrasah yang menanamkan dan melatih keikhlasan bagi kaum muslimin, uniknya hampir semua ibadah yang dilakukan di bulan Ramadan, harus berlandaskan dua landasan pokok tersebut diatas, hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallahu alaihi wasallam,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya, “Barangsiapa yang melakukan salat (tarawih) di bulan Ramadan, dengan penuh keimanan dan berharap pahala dari Allah (ikhlas), maka dosa-dosanya yang lalu akan diampuni.”

Dan kalimat imanan wa ihtisaban juga terselib dalam sabdanya,

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya, “Barangsiapa yang melaksanakan ibadah di malam Lailatul Qadar, dengan penuh keimanan dan berharap pahala dari Allah (ikhlas), maka dosa-dosanya yang lalu akan diampuni.”

Semua nas-nas hadis ini menegaskan bahwa Ramadan merupakan sarana untuk mendidik dan melatih kaum muslimin untuk berhias dengan keikhlasan pada setiap ibadahnya, dan lebih dahsyat lagi, dalam nas hadis tersebut, dijelaskan bahwa keutamaan puasa, salat tarawih dan ibadah di malam Lailatul Qadar tidak akan didapatkan oleh seorang muslim kecuali dengan merealisasikan dua hal tersebut, yaitu berdasarkan keimanan dan niat ikhlas kepada Allah Azza wajalla, tentu ini memotivasi kaum muslimin agar menguatkan usahanya dan menambah effortnya untuk mewujudkan ibadah dengan penuh keimanan dan keikhlasan, agar mendapatkan keutamaan yang dipaparkan dalam hadis.

Lukmanul Hakim, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Bidang Tafsir & Hadits, King Saud University, Riyadh, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button