Mimbar Jumat

Khutbah Jumat: Muhasabah Awal Tahun, Memperbaiki Keimanan Dan Amal Saleh

MUHASABAH AWAL TAHUN, MEMPERBAIKI KEIMANAN DAN AMAL SALEH

KHUTBAH PERTAMA

الحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ الْمَعَادِ، وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta‘ala, karena dengan rahmat-Nya kita masih dipertemukan dengan hari Jumat yang mulia, di awal perjalanan tahun ini. Bertambahnya hari, bergantinya bulan, dan berlalunya tahun bukanlah peristiwa biasa. Semua itu adalah isyarat bahwa umur kita terus berkurang, dan perjalanan menuju akhirat semakin dekat.

Allah Subhanahu wa Ta‘ala mengingatkan kita agar tidak lalai oleh perjalanan waktu:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.”
(QS. Al-Hasyr: 18)

Ayat ini adalah seruan muhasabah, seruan untuk berhenti sejenak, menundukkan hati, dan bertanya dengan jujur kepada diri sendiri: apa yang telah aku persiapkan untuk akhiratku?

Jamaah yang dirahmati Allah,

Awal tahun bukan sekadar pergantian kalender, bukan pula hanya tradisi tahunan. Bagi seorang mukmin, awal tahun adalah momen evaluasi iman dan amal, karena setiap detik hidup akan dimintai pertanggungjawaban.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ

“Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya, untuk apa ia habiskan.” (HR. At-Tirmidzi)

Setahun telah berlalu. Banyak di antara kita yang berencana, tetapi tidak semuanya terlaksana. Ada ketaatan yang tertunda, ada dosa yang masih dilakukan, ada ibadah yang mulai ditinggalkan karena sibuk urusan dunia.

Muhasabah bukan untuk membuat kita putus asa, tetapi untuk membangunkan hati agar kembali kepada Allah.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Awal tahun adalah kesempatan untuk kembali dari nol, kembali dengan lembaran yang lebih bersih. Kembali bukan berarti melupakan masa lalu, tetapi menjadikannya pelajaran agar kesalahan tidak terulang.

Allah Ta‘ala berfirman:

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung.” (QS. An-Nur: 31)

Taubat bukan hanya untuk pelaku dosa besar, tetapi juga untuk orang-orang saleh. Bahkan Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

“Sungguh aku beristighfar dan bertaubat kepada Allah lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.” (HR. Bukhari)

Jika Nabi ﷺ yang maksum saja memperbanyak taubat, maka kita yang penuh kekurangan tentu lebih membutuhkannya.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Iman bukan sekadar pengakuan lisan, tetapi keyakinan yang melahirkan amal. Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.

Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka surga Firdaus sebagai tempat tinggal.” (QS. Al-Kahfi: 107)

Karena itu, muhasabah sejati harus berujung pada perbaikan iman dan peningkatan amal saleh, bukan sekadar penyesalan yang berlalu tanpa perubahan.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Kita semua menyaksikan di akhir tahun lalu berbagai musibah yang menimpa negeri ini dan kaum muslimin: bencana alam, kecelakaan, wabah, kehilangan orang-orang tercinta. Semua itu bukan sekadar berita, tetapi peringatan dari Allah.

Allah Ta‘ala berfirman:

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ

“Musibah apa pun yang menimpa kalian adalah akibat dari perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan banyak kesalahan.” (QS. Asy-Syura: 30)

Musibah bukan hanya azab, tetapi bisa menjadi:

  • Teguran bagi yang lalai
  • Penghapus dosa bagi orang beriman
  • Pengangkat derajat bagi orang yang sabar

Maka, awal tahun ini hendaknya kita sambut dengan taubat kolektif, memperbaiki diri, keluarga, dan masyarakat.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Muhasabah tidak akan bermakna tanpa rencana amal yang jelas. Orang beriman bukan hanya meninggalkan dosa, tetapi juga menargetkan kebaikan.

Di antara target amal yang patut kita niatkan dan usahakan:

1. Khatam Al-Qur’an secara rutin

Al-Qur’an adalah cahaya hati dan petunjuk hidup.

Rasulullah ﷺ bersabda:

اقْرَؤُوا الْقُرْآنَ، فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.” (HR. Muslim)

Mulailah dengan target yang realistis dan konsisten.

2. Menjaga Shalat Jamaah di Masjid

Shalat jamaah adalah benteng iman dan syiar Islam.

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

“Salat berjamaah lebih utama daripada salat sendirian dengan keutamaan dua puluh tujuh derajat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Menghidupkan Sunnah Qabliyah dan Ba‘diyah

Shalat sunnah adalah penyempurna kekurangan shalat wajib.

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّي لِلَّهِ كُلَّ يَوْمٍ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا إِلَّا بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

“Tidaklah seorang hamba Muslim mengerjakan salat sunnah dua belas rakaat setiap hari karena Allah, selain salat wajib, melainkan Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga.” (HR. Muslim)

4. Memperbaiki Akhlak Sosial

Islam bukan hanya ibadah ritual, tetapi juga akhlak dalam bermasyarakat.

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. At-Tirmidzi)

أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

KHUTBAH KEDUA

الحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ التُّقَى، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Sebagai umat Islam, penanggalan Hijriyah tetap yang utama dalam kehidupan beragama. Ibadah-ibadah besar seperti puasa, zakat, dan haji terikat dengan kalender Hijriyah.

Allah berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan.” (QS. At-Taubah: 36)

Menghidupkan kesadaran Hijriyah adalah bagian dari menjaga identitas dan syiar Islam.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Saat ini kita berada di bulan Sya‘ban, sebuah bulan yang agung namun sering dilalaikan oleh banyak manusia, padahal ia merupakan gerbang terakhir menuju bulan Ramadan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Itulah bulan yang sering dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadan. Pada bulan itu amalan-amalan diangkat kepada Rabb semesta alam, dan aku senang jika amalanku diangkat dalam keadaan aku berpuasa.”

(HR. An-Nasa’i, dinilai hasan)

Para ulama menjelaskan bahwa Sya‘ban adalah bulan pengangkatan amalan tahunan, sebagaimana Ramadan adalah bulan pengampunan, dan Rajab adalah bulan pembuka persiapan. Oleh karena itu, Nabi ﷺ memperbanyak puasa di bulan Sya‘ban melebihi bulan-bulan sunnah lainnya.

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

“Rasulullah ﷺ tidak pernah berpuasa dalam satu bulan sunnah lebih banyak daripada puasa beliau di bulan Sya‘ban.”

(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Para salaf mengatakan:

Rajab adalah bulan menanam, Sya‘ban bulan menyiram, dan Ramadan bulan memanen.

Maka Sya‘ban adalah waktu menyempurnakan persiapan, melatih jiwa dengan puasa, membiasakan diri dengan tilawah Al-Qur’an, memperbanyak dzikir, taubat, dan amal ketaatan, agar ketika Ramadan tiba, ibadah terasa ringan, hati telah siap, dan amal lebih mudah diterima oleh Allah Ta‘ala.

Betapa merugilah orang yang lalai di bulan Sya‘ban, lalu berharap meraih kesempurnaan di bulan Ramadan, sementara ia tidak menyiapkan bekalnya. Dan betapa beruntungnya orang yang memanfaatkan Sya‘ban sebagai jembatan ruhani menuju Ramadan, dengan harapan amalan tahunannya diangkat dalam keadaan terbaik dan ibadah Ramadannya dikabulkan oleh Allah.

Semoga Allah Ta‘ala memberi kita taufik untuk menghidupkan bulan Sya‘ban dengan ketaatan, dan menyampaikan kita ke bulan Ramadan dalam keadaan iman, kesehatan, dan kesiapan beramal.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Mari kita awali tahun ini dengan: Taubat yang tulus, iman yang diperbaiki, amal saleh yang terencana, hati yang bersih dan kepedulian terhadap sesama.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا تَوْبَةً نَصُوحًا.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا وَأَعْمَالِنَا.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ هٰذَا الْعَامَ عَامَ طَاعَةٍ وَقُرْبٍ مِنْكَ.
اللَّهُمَّ ارْفَعْ عَنْ بِلَادِنَا وَبِلَادِ الْمُسْلِمِينَ الْفِتَنَ وَالْمَصَائِبَ، وَاحْفَظْنَا مِنَ الزَّلَازِلِ وَالْبَلَايَا.

عِبَادَ اللَّهِ،
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُوا اللَّهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Mu'tashim Billah, Lc., M.A.

Alumni S1 dan S2 Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button