Fikih

Hukum menyembelih akikah sebelum hari ketujuh atau setelahnya

Hukum menyembelih akikah sebelum hari ketujuh atau setelahnya

الحمدُ للهِ ربِّ العالمين، والصلاةُ والسلامُ على نبيِّنا محمدٍ، وعلى آله وصحبِه أجمعين. أمّا بعدُ:

Boleh menyembelih hewan akikah sebelum hari ketujuh atau setelahnya. Ini merupakan pendapat mazhab Syafi‘iyah lihat: Al-Majmū‘ karya an-Nawawi (8/431), Tuhfah al-Muhtāj karya Ibnu Hajar al-Haitami (9/370), al-Ghurar al-Bahiyyah karya Zakariya al-Anshari (5/171).

dan Hanabilah lihat: Al-Iqnā‘ karya al-Hajjawi (1/409), Kasyyāf al-Qinā‘ karya al-Buhuti (3/25).

serta pendapat sebagian ulama salaf, lihat: Ibnu Hazm berkata:

(ورُوِّينا عنِ ابنِ سِيرينَ أنَّه كان لا يُبالي أنْ يَذبحَ العَقيقةَ قبلَ السَّابعِ أو بَعدَهـ).

“Diriwayatkan kepada kami dari Ibnu Sirin bahwa beliau tidak mempermasalahkan penyembelihan akikah sebelum hari ketujuh atau setelahnya.”

(Al-Muhallā 6/239).

Lihat pula: Al-Muṣannaf karya Ibnu Abi Syaibah (no. 24739).

Ibnu ‘Abd al-Barr berkata:

(وقال اللَّيثُ: يُعَقُّ عن المولودِ في أيَّامِ سابِعِه كلِّها، في أيِّها شاء منها، فإنْ لم تَتهيَّأْ لهمُ العَقيقةُ في سابِعِه فلا بأسَ أنْ يُعَقَّ عنه بعدَ ذلك).

“Al-Laits berkata: Akikah untuk bayi dilakukan pada hari-hari ketujuhnya, pada hari mana saja dari hari-hari itu yang ia kehendaki. Jika akikah belum dapat dilaksanakan pada hari ketujuhnya, maka tidak mengapa dilakukan setelah itu.”

(Al-Istidzkar 5/317).

Dan beliau juga berkata:

(وقال اللَّيثُ بنُ سعدٍ: يُعَقُّ عن المولودِ في أيَّامِ سابِعِه، في أيِّها شاء، فإنْ لم تَتهيَّأْ لهمُ العَقيقةُ في سابِعِه فلا بأسَ أنْ يُعَقَّ عنه بعدَ ذلك، وليس بواجبٍ أنْ يُعَقَّ عنه بعدَ سبعةِ أيَّامٍ).

“Al-Laits bin Sa‘d berkata: Akikah dilakukan untuk bayi pada hari-hari ketujuhnya, pada hari mana saja yang dikehendaki. Jika akikah belum dapat dilaksanakan pada hari ketujuhnya, maka tidak mengapa dilakukan setelah itu, dan tidak wajib mengakikahinya setelah tujuh hari.”

(At-Tamhīd limā fī al-Muwaṭṭa’ min al-Ma‘ānī wa al-Asānīd 4/311).

Pendapat ini juga dipilih oleh Ibnu al-Qayyim: Ibnu al-Qayyim berkata:

(الظَّاهرُ: أنَّ التَّقييدَ بذلك – أي: اليومِ السَّابعِ – استِحبابٌ، وإلَّا فلو ذبح عنه في الرَّابعِ أو الثامنِ أو العاشرِ أو ما بعدَه أَجزَأَتْ).

“Yang tampak jelas, pembatasan pada hari ketujuh itu hanyalah bersifat anjuran. Jika disembelihkan pada hari keempat, kedelapan, kesepuluh, atau setelahnya, maka itu sudah mencukupi.”

(Tuhfah al-Maudūd bi Aḥkām al-Maulūd, hlm. 63).

dan Ibnu ‘Utsaimin, Ibnu ‘Utsaimin berkata:

(فالأفضلُ أنْ تَكونَ في اليومِ السَّابعِ. قال العلماءُ: فإنْ فات اليومُ السَّابعُ ففي اليومِ الرَّابعَ عشَرَ، فإنْ فات ففي اليومِ الحادي والعِشرينَ، فإنْ فات ففي أيِّ وقتٍ، على أنَّه لا حَرجَ أنْ يَذبَحَ العَقيقةَ في اليومِ السَّادسِ، أوِ الخامسِ، أوِ العاشرِ، أوِ الثَّاني عشَرَ، لكنِ الأوقاتُ المُفضَّلةُ هي فقط: السَّابع، والرَّابعَ عشَرَ، والحادي، والعشرون).

“Yang paling utama adalah dilakukan pada hari ketujuh. Para ulama berkata: Jika terlewat hari ketujuh, maka pada hari keempat belas. Jika terlewat, maka pada hari kedua puluh satu. Jika terlewat, maka pada waktu kapan saja. Namun tidak mengapa menyembelih akikah pada hari keenam, kelima, kesepuluh, atau kedua belas. Akan tetapi waktu yang utama hanyalah hari ketujuh, keempat belas, dan kedua puluh satu.”

(Majmū‘ Fatāwā wa Rasā’il Ibnu ‘Utsaimin 25/215).

Beliau juga berkata:

 (لأنَّ كَوْنَ العَقيقةِ في اليومِ السَّابعِ سُنَّةٌ فقط، ولو ذُبِحَتْ في غيرِ اليومِ السَّابعِ أجزأَتْ).

“Karena pelaksanaan akikah pada hari ketujuh hanyalah sunnah. Apabila disembelihkan pada selain hari ketujuh, maka sudah sah dan mencukupi.”

(Majmū‘ Fatāwā wa Rasā’il Ibnu ‘Utsaimin 25/229).

dan difatwakan oleh Lajnah Da’imah (Komite Tetap Fatwa).

Dalam fatwa Lajnah Da’imah disebutkan:

 (وتحديدُ اليومِ السَّابعِ للذَّبحِ لا يُؤخَذُ منه أنَّ مَشروعيَّتَها لا تَبدأُ إلَّا في اليومِ السَّابعِ؛ فإنَّ الوِلادةَ هي سببُ طلبِ العَقيقةِ، واليومُ السَّابعُ هو الوقتُ الأفضلُ لتنفيذِ هذا الأمرِ المشروعِ، ولهذا لو ذَبَحها قبلَ السَّابعِ أجزأَتْ كما قال ابنُ القيِّمِ ومَن وافَقَه مِن أهلِ العِلمِ).

“Penentuan hari ketujuh untuk penyembelihan tidak berarti bahwa pensyariatan akikah baru dimulai pada hari ketujuh. Kelahiranlah yang menjadi sebab disyariatkannya akikah, sedangkan hari ketujuh adalah waktu yang paling utama untuk melaksanakan syariat tersebut. Oleh karena itu, apabila disembelih sebelum hari ketujuh, maka itu telah mencukupi, sebagaimana yang dinyatakan oleh Ibnu al-Qayyim dan para ulama yang sependapat dengannya.”

(Fatāwā al-Lajnah ad-Dā’imah 11/445–446).

Hal tersebut didasarkan pada alasan-alasan berikut:

Pertama: Karena akikah dilakukan setelah sebabnya ada, maka hal itu dibolehkan, sebagaimana bolehnya mendahulukan kafarat sebelum terjadinya pelanggaran. Lihat: Al-Kāfī karya Ibnu Qudamah (1/547), Fatāwā al-Lajnah ad-Dā’imah (11/445–446).

Kedua: Karena kelahiran adalah sebab disyariatkannya akikah, maka waktu pelaksanaannya dimulai sejak terjadinya kelahiran tersebut. Lihat: Fatāwā al-Lajnah ad-Dā’imah (11/445–446).

Wallāhu a‘lam

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button