Akulah yang Membutuhkan-Mu Bag 3
Akulah yang Membutuhkan-Mu (Bagian 3)
☷ Daftar Isi Artikel
Kefakiran adalah Pintu yang Paling Luas
Ibnul Qayyim رحمه الله berkata:
“Pintu yang paling dekat bagi seorang hamba untuk masuk menuju Allah adalah pintu al-iflās (merasa tidak memiliki apa-apa dan sepenuhnya membutuhkan Allah).
Yaitu ketika seorang hamba tidak lagi memandang dirinya memiliki kedudukan, kemuliaan, ataupun derajat tertentu.
Ia juga tidak merasa memiliki sebab yang dapat diandalkan, maupun perantara yang dapat dijadikan sandaran.
Sebaliknya, ia datang menghadap Allah melalui pintu kefakiran yang mendalam dan kebangkrutan diri (merasa tidak memiliki apa-apa).
Ia masuk dalam keadaan benar-benar merasa hina, sementara kefakiran dan ketidakberdayaan telah menghancurkan hatinya, hingga kehancuran itu merasuk ke dalam lubuk hatinya yang paling dalam.
Kefakiran itu telah meliputi seluruh dirinya, menyelimutinya dari segala sisi, sehingga ia menyadari betapa besar kebutuhan dan ketidakberdayaannya.
Ia menyaksikan bahwa dirinya benar-benar membutuhkan Allah dalam setiap aspek kehidupannya, bahkan dalam setiap zarah dari seluruh keberadaannya, baik lahir maupun batin.
Ia menyadari bahwa kefakiran dan kebutuhannya kepada Allah adalah sesuatu yang sempurna dan mutlak.
Ia pun menyadari bahwa seandainya Allah membiarkannya bergantung pada dirinya sendiri, meskipun hanya sekejap mata, niscaya ia akan binasa dan mengalami kerugian yang tidak mungkin dapat diperbaiki.
Tidak ada yang dapat menyelamatkannya kecuali jika Allah menerima tobatnya dan merengkuhnya dengan rahmat-Nya.”
Memahami Hakikat Dunia (فهم طبيعة الدنيا)
A. Dunia adalah Tempat Kelelahan dan Kesulitan (دار تعب)
Tidak ada kenyamanan yang sempurna bagi siapa pun di dunia ini, baik orang beriman maupun orang kafir, baik orang miskin maupun orang kaya, baik orang sehat maupun orang sakit.
Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Abbas Al-‘Aqqad dalam bait-bait syairnya:
Anak kecil mengeluhkan masa kecilnya,
Orang tua pun berangan-angan seandainya ia kembali muda.
Orang yang menganggur merasa lelah karena tidak bekerja,
Sedangkan orang yang bekerja merasa letih karena pekerjaannya.
Pemilik harta merasa lelah karena hartanya,
Sedangkan orang miskin merasa lelah karena kemiskinannya.
Seseorang merasa sesak karena kesedihan yang menimpanya,
Namun orang yang memperoleh kemenangan pun tidak sepenuhnya merasa tenteram.
Apakah mereka sedang kebingungan menghadapi takdir,
Ataukah justru mereka sendiri yang bingung dalam menyikapi takdir?
Semua ini bertujuan untuk menyadarkanmu akan kefakiran dan kebutuhanmu kepada Allah.
Agar engkau senantiasa memohon pertolongan kepada Al-Mu‘īn (Allah Yang Maha Memberi Pertolongan) dan memohon keteguhan kepada Al-Qadīr (Allah Yang Mahakuasa).
B. Dunia adalah Tempat Kefanaan (دار فناء)
Wahai dunia, wahai tempat kebahagiaan yang sementara!
- Keindahanmu hanyalah sedikit, sedangkan ketamakan untuk meraihmu sungguh menghinakan.
- Kegembiraanmu selalu bercampur dengan kesedihan.
- Kesehatanmu senantiasa diiringi oleh penyakit.
- Masa tinggal di dalamnya hanya sementara, sedangkan yang halal darinya akan dihisab dan yang haram darinya mendatangkan hukuman.
- Cahayamu akan berakhir dengan kegelapan.
- Kenikmatan syahwatmu selalu disertai penderitaan.
- Hartamu pada akhirnya akan berpindah kepada orang lain.
- Seindah apa pun kecantikanmu, semuanya hanyalah sesuatu yang dipinjamkan.
- Manisnya kehidupan di dalam dirimu sering kali bercampur dengan kesedihan.
- Kegemukan yang engkau banggakan hanyalah sesuatu yang dapat lenyap.
- Dan susu yang engkau berikan pun pada akhirnya akan berhenti.
- Racun syahwatmu dapat membinasakan.
- Kilauan kenikmatanmu pun akan segera memudar.
C. Dunia adalah Tempat Kesibukan (دار شغل)
Ibnul Qayyim رحمه الله berkata dalam kitab Al-Fawā’id:
“Bagaimana mungkin seseorang dapat hidup dengan tenteram di dunia, sementara ia memiliki:
- Istri yang tidak menyayanginya.
- Anak yang tidak menghargai dan memaklumi keadaannya.
- Tetangga yang tidak memberikan rasa aman kepadanya.
- Teman yang tidak menasihatinya dengan tulus.
- Rekan yang tidak berlaku adil kepadanya.
- Musuh yang tidak berhenti memusuhinya.
- Hawa nafsu yang selalu mengajak kepada keburukan.
- Dunia yang dihiasi dengan berbagai godaan.
- Keinginan dan syahwat yang terus menguasainya.
- Kelemahan yang menyelimuti dirinya.
- Setan yang senantiasa menghias-hiasi keburukan.
- Serta kelemahan dan ketidakberdayaan yang menguasai dirinya.
Jika Allah tidak memberikan pertolongan dan perlindungan kepadanya, niscaya semua perkara tersebut akan menyeretnya menuju kehancuran.
Namun, apabila Allah melindungi dan menolongnya, serta menyerahkan semua musuh tersebut kepada dirinya untuk dihadapi, niscaya ia akan selamat.”
Betapa Kita Membutuhkan Allah
Wahai saudara-saudaraku,
Kapan kita akan terbebas dari segala hal yang membinasakan ini dalam hiruk-pikuk kehidupan yang telah menenggelamkan kita?
Kita terus memohon pertolongan kepada-Nya. Kita memohon dengan penuh kelembutan dan kerendahan hati kepada-Nya. Kita terus bermunajat kepada-Nya.
Syair Munajat kepada Allah
Wahai Zat Yang melihat apa yang tersembunyi dalam hati dan mendengar segala sesuatu,
Engkaulah Yang Maha Menyiapkan segala sesuatu yang diharapkan terjadi.
Wahai Zat Yang menjadi tempat berharap untuk menghilangkan seluruh kesulitan,
Wahai Zat Yang menjadi tempat mengadu segala keluh kesah dan kegundahan.
Wahai Zat Yang perbendaharaan kemurahan-Nya tersimpan dalam satu kata: “Jadilah!”,
Karunia-Mu senantiasa melimpah, sebab seluruh kebaikan berada di sisi-Mu.
Tiada yang kumiliki selain kefakiranku sebagai sarana untuk mendekat kepada-Mu,
Dan dengan kefakiran serta kebutuhanku kepada-Mu, wahai Rabbku, aku merendahkan diri.
Tiada yang kumiliki selain mengetuk pintu-Mu sebagai jalan untuk mendekat kepada-Mu,
Jika aku diusir dari pintu-Mu, pintu manakah lagi yang dapat kuketuk?
Dan kepada siapakah aku akan berdoa dan menyebut namanya,
Jika kemurahan-Mu tidak diberikan kepada hamba-Mu yang miskin dan membutuhkan?
Mahasuci dan Mahaluas kemurahan-Mu, sungguh mustahil orang yang bermaksiat mampu membatasi-Nya,
Sebab karunia-Mu jauh lebih agung dan pemberian-Mu jauh lebih luas.
(Diterjemahkan dari kitab Hibbi Ya Rihal Iman, karya Khalid Abu Syadi)