Akidah

Tapi Allah Maha Tahu

Walakinnallah yadri Kisah: Namun Allah Maha Tahu

1) Kisah ar-Rabi‘ dan amal tersembunyi

Diriwayatkan kepada kami oleh Waki‘, dari al-A‘masy, dari Mundzir, dari ar-Rabi‘, bahwa ia berkata kepada keluarganya:

اصنعوا لي خبيصا ، فصنع فدعا رجلا به خبل فجعل ربيع يلقمه ولعابه يسيل ، فلما أكل وخرج قال له أهله : تكلفنا وصنعنا ثم أطعمته ما يدري هذا ما أكل ، قالالربيع : لكن الله يدري .

“Buatkan untukku makanan khabīṣ.”

Maka mereka pun membuatnya. Lalu ia memanggil seorang laki-laki yang mengalami gangguan akal. Ar-Rabi‘ pun menyuapinya, sementara air liurnya mengalir. Setelah orang itu selesai makan dan pergi, keluarganya berkata kepadanya:

“Kami sudah bersusah payah membuatnya, lalu engkau memberinya kepada orang yang tidak tahu apa yang ia makan.”

Ar-Rabi‘ menjawab:

“Namun Allah mengetahuinya.”

2) Kisah Umar bin al-Khaththab dan para syuhada yang tidak dikenal

Ath-Thabari menyebutkan dalam Tarikhnya sebuah kisah yang sangat menyentuh, yaitu ketika Allah menyempurnakan penaklukan Nahawand pada tahun 21 Hijriah, yang oleh kaum Muslimin disebut sebagai “Penaklukan segala penaklukan”.

As-Sa’ib bin al-Aqra‘ datang kepada al-Faruq Umar رضي الله عنه dan berkata:

أَبْشِرْ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ بِفَتْحٍ أَعَزَّ اللَّهُ بِهِ الإِسْلامَ وَأَهْلَهُ، وَأَذَلَّ بِهِ الْكُفْرَ وَأَهْلَهُ قَالَ: فَحَمَدَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ، ثُمَّ قَالَ: النُّعْمَانُ بَعَثَكَ؟ قَالَ: احْتَسَبِ النُّعْمَانَ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، قَالَ: فَبَكَى عُمَرُ وَاسْتَرْجَعَ قَالَ: وَمَنْ وَيْحَكَ! قَالَ: فُلانٌ وَفُلانٌ، حَتَّى عَدَّ لَهُ نَاسًا كَثِيرًا، ثُمَّ قَالَ: وَآخَرِينَ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ لا تَعْرِفُهُمْ، فَقَالَ عُمَرُ وَهُوَ يَبْكِي: لا يَضُرُّهُمْ أَلا يَعْرِفَهُمْ عُمَرُ، وَلَكِنَّ اللَّهَ يَعْرِفُهُمْ.

“Bergembiralah wahai Amirul Mukminin dengan sebuah kemenangan yang dengannya Allah memuliakan Islam dan kaum Muslimin, serta menghinakan kekufuran dan para pengikutnya.”

Umar pun memuji Allah عز وجل, lalu bertanya:

“Apakah an-Nu‘man yang mengutusmu?”

Ia menjawab:

“Anggaplah an-Nu‘man telah gugur, wahai Amirul Mukminin.”

Maka Umar menangis dan mengucapkan istirja‘ (إنا لله وإنا إليه راجعون), lalu berkata:

“Celaka engkau! Siapa saja (yang gugur)?”

Ia menyebutkan: “Fulan dan fulan,” hingga ia menyebut banyak orang.

Kemudian ia berkata:

“Dan yang lainnya, wahai Amirul Mukminin, yang tidak engkau kenal.”

Umar berkata sambil menangis:

“Tidak merugikan mereka jika Umar tidak mengenal mereka, tetapi Allah mengenal mereka.”

3) Kisah Abdullah bin al-Mubarak dan pelunasan utang secara rahasia

Muhammad bin ‘Isa berkata:

كان عبد الله بن المبارك كثير الاختلاف إلى طرسوس، وكان ينزلالرقة في خان، فكان شاب يختلف إليه ويقوم بحوائجه ويسمع منه الحديث. قال: فقدم عبد الله الرقة مرة فلم ير ذلك الشاب وكان مستعجلاً، فخرج في النفير فلما قفل من غزوته ورجع إلى الرقة سأل عن الشاب فقالوا: إنه محبوس لدين ركبه. فقال عبد الله: وكم مبلغ دينه؟ قالوا عشرة آلاف درهم فلم يزل يستقصي حتى دل على صاحب المال فدعا به ليلاً ووزن له عشرة آلاف درهم وحلفه أن لا يخبر أحداً ما دام عبد الله حياً. وقال: إذا أصبحت فأخرج الرجل من الحبس. وأدلج عبد الله وأخرج الفتى من الحبس، وقيل له: عبد الله بن المبارك كان ها هنا وكان يذكرك، وقد خرج. فخرج الفتى في أثره فلحقه على مرحلتين أو ثلاث من الرقة، فقال: يا فتى أين كنت؟ لم أرك في الخان؟ قال: نعم يا أبا عبد الرحمن كنت محبوساً بدين. قال: وكيف كان سبب خلاصك؟ قال: جاء رجل وقضى ديني ولم أعلم به حتى أخرجت من الحبس. فقال له عبد الله: يا فتى احمد الله على ما وفق لك من قضاء دينك. فلم يخبر ذلك الرجل أحداً إلا بعد موت عبد الله.

Abdullah bin al-Mubarak sering bepergian ke Tarsus, dan biasanya singgah di ar-Raqqah di sebuah penginapan. Ada seorang pemuda yang sering mendatanginya, membantu keperluannya, dan mendengar hadis darinya.

Suatu ketika Abdullah datang ke ar-Raqqah namun tidak melihat pemuda itu, sementara ia sedang terburu-buru. Ia pun berangkat ikut pasukan.

Ketika kembali dari peperangan dan kembali ke ar-Raqqah, ia menanyakan pemuda tersebut. Mereka menjawab:

“Dia dipenjara karena utang.”

Abdullah bertanya:

“Berapa jumlah utangnya?”

Mereka menjawab:

“Sepuluh ribu dirham.”

Abdullah terus mencari hingga ditunjukkan kepadanya orang yang memberi utang. Pada malam hari ia memanggil orang itu, menimbang sepuluh ribu dirham untuknya, dan mengambil sumpah agar ia tidak memberitahukan siapa pun selama Abdullah masih hidup.

Ia berkata:

“Jika pagi tiba, keluarkan orang itu dari penjara.”

Abdullah pun pergi pada malam hari, dan pemuda itu dikeluarkan dari penjara. Dikatakan kepadanya:

“Abdullah bin al-Mubarak tadi ada di sini dan menyebut-nyebutmu, namun ia telah berangkat.”

Pemuda itu pun menyusulnya dan bertemu dengannya setelah dua atau tiga marhalah dari ar-Raqqah. Abdullah bertanya:

“Wahai pemuda, ke mana engkau? Aku tidak melihatmu di penginapan.”

Ia menjawab:

“Benar wahai Abu ‘Abdurrahman, aku dipenjara karena utang.”

Abdullah bertanya:

“Apa sebab engkau bisa bebas?”

Ia menjawab:

“Ada seseorang datang dan melunasi utangku, dan aku tidak tahu siapa dia hingga aku dikeluarkan dari penjara.”

Abdullah berkata kepadanya:

“Wahai pemuda, pujilah Allah atas apa yang Dia mudahkan bagimu berupa pelunasan utang.”

Orang yang melunasi utang itu tidak pernah menceritakan perbuatannya kepada siapa pun hingga Abdullah wafat.

4) Allah mengetahui dan akan memutuskan dengan keadilan

Dari Abu Dzar رضي الله عنه, bahwa Rasulullah ﷺ melihat dua ekor kambing yang saling menanduk, lalu beliau bersabda:

“يَا أَبَا ذَرٍّ هَلْ تَدْرِي فِيمَ تَنْتَطِحَانِ؟ “

قَالَ: لَا. قَالَ: “‌لَكِنَّ ‌اللهَ ‌يَدْرِي، وَسَيَقْضِي بَيْنَهُمَا.”

“Wahai Abu Dzar, tahukah engkau mengapa keduanya saling menanduk?”

Abu Dzar menjawab:

“Tidak.”

Beliau bersabda:

“Akan tetapi Allah mengetahuinya, dan Dia akan memutuskan perkara di antara keduanya.”

Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya, dan al-Albani berkata: Hadis ini sahih.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button