Apa Itu Takfir?

Pertanyaan
Apa itu Takfir?
Jawaban
Jawaban atas pertanyaan sederhana ini membutuhkan beberapa episode, karena berkaitan dengan hak seorang muslim untuk tetap berada dalam keislaman dan mendapatkan haknya.
Semoga jawaban berikut membuka pandangan.
Pengantar & Muqaddimah
Segala puji bagi Allah, dan semoga shalawat serta salam tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti petunjuknya serta berpegang dengan sunnahnya hingga Hari Kiamat.
Dalil-dalil syariat telah menunjukkan bahwa seseorang masuk Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, dan dengan itu terjagalah darah, harta, dan kehormatannya di dunia.
Adapun negeri akhirat adalah negeri kemuliaan bagi orang-orang beriman, di sana orang beriman akan selamat dengan keimanannya.
Sebagaimana Nabi ﷺ telah mengabarkan:
“فإن الله حرم على النار من قال: لا إله إلا الله، يبتغي وجه الله”.
“Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi siapa saja yang mengucapkan ‘Lā ilāha illallāh’ dengan mengharap wajah Allah.”
(HR. Al-Bukhārī dan Muslim)
Jika seorang muslim bermaksiat dan berhak masuk neraka karena kemaksiatannya, maka ia tidak akan kekal di dalamnya, tetapi ia akan mendapatkan manfaat dari kalimat tauhid ini sehingga dengannya ia akan dikeluarkan dari neraka.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“يخرج من النار من قال: لا إله إلا الله، وفي قلبه وزن شعيرة من خير، ويخرج من النار من قال: لا إله إلا الله، وفي قلبه وزن برة من خير، ويخرج من النار من قال: لا إله إلا الله، وفي قلبه وزن ذرة من خير”.
“Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan ‘Lā ilāha illallāh’ di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji gandum. Dan akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan ‘Lā ilāha illallāh’ di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji gandum kecil. Dan akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan ‘Lā ilāha illallāh’ di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji sawi.” (HR. Al-Bukhārī dan Muslim)
Para ulama mengatakan:
من ثبت له عقد الإسلام بيقين لا يخرج منه إلا بيقين.
“Barang siapa telah terbukti keislamannya dengan yakin, maka ia tidak keluar dari Islam kecuali dengan yakin pula.”
⚠️ Fokus Pembahasan
Pembahasan kita dalam artikel ini bukan tentang orang kafir asli, tetapi tentang pengkafiran terhadap seorang muslim yang telah sah keislamannya, serta peringatan terhadap bahaya besar terjatuh dalam menuduh kafir seorang muslim tanpa bukti yang jelas dan se terang matahari di siang hari.
Sebab, hukum murtad (keluar dari Islam) memiliki dampak hukum yang besar baik bagi individu maupun masyarakat.
Al-Ghazali رحمه الله berkata:
“ينبغي التحرز عن التكفير ما وجد إليه سبيلا؛ فإن استباحة دماء المصلين المقرين بالتوحيد خطأ، والخطأ في ترك ألف كافر في الحياة أهون من الخطأ في سفك دم مسلم واحد”.
“Wajib berhati-hati dari menuduh kafir selama masih ada jalan untuk tidak melakukannya.
Karena menghalalkan darah orang-orang yang salat dan mengakui tauhid adalah kesalahan besar.
Kesalahan membiarkan seribu orang kafir hidup lebih ringan daripada kesalahan menumpahkan darah satu orang muslim.”
📜 Peringatan dari Al-Qur’an
Syariat Islam telah memberikan peringatan keras dari menghukumi kafir seorang muslim tanpa bukti yang jelas dan tegas.
Allah berfirman:
{يا أيها الذين آمنوا إذا ضربتم في سبيل الله فتبينوا ولا تقولوا لمن ألقى إليكم السلام لست مؤمنا تبتغون عرض الحياة الدنيا فعند الله مغانم كثيرة كذلك كنتم من قبل فمن الله عليكم فتبينوا إن الله كان بما تعملون خبيرا} (النساء: 94).
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian berperang di jalan Allah, maka telitilah, dan janganlah kalian berkata kepada orang yang mengucapkan salam kepadamu: ‘Kamu bukan seorang mukmin’, karena kalian menginginkan harta kehidupan dunia; padahal di sisi Allah ada harta rampasan yang banyak. Dahulu kalian juga seperti itu, lalu Allah memberikan nikmat kepada kalian, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. An-Nisā’ [4]: 94)
Imam Ath-Thabari رحمه الله menafsirkan ayat ini:
فتبينوا “، يقول: فتأنوا في قتل من أشكل عليكم أمره، فلم تعلموا حقيقة إسلامه ولا كفره، ولا تعجلوا فتقتلوا من التبس عليكم أمره، ولا تتقدموا على قتل أحد إلا على قتل من علمتموه يقينا حربا لكم ولله ولرسوله.
“‘Telitilah’ maksudnya:” berhati-hatilah dalam membunuh orang yang keadaannya meragukan bagi kalian. Jangan terburu-buru membunuh orang yang status keislamannya belum jelas, dan jangan kalian mendahului membunuh siapa pun kecuali orang yang kalian ketahui dengan pasti bahwa ia memerangi kalian dan Allah serta Rasul-Nya.”
🧭 Peringatan dari Hadis Nabi ﷺ
Rasulullah ﷺ juga memperingatkan umatnya dengan sabdanya:
“إذا قال الرجل لأخيه: يا كافر، فقد باء بها أحدهما”.
“Apabila seseorang berkata kepada saudaranya: ‘Wahai kafir’, maka ucapan itu akan kembali kepada salah satu dari keduanya.” (HR. Al-Bukhārī dan Muslim)
Dan dalam hadis lain, beliau ﷺ bersabda:
“لا يرمي رجل رجلا بالفسوق، ولا يرميه بالكفر، إلا ارتدت عليه، إن لم يكن صاحبه كذلك”.
“Tidaklah seseorang menuduh orang lain sebagai fasik atau kafir, kecuali tuduhan itu akan kembali kepadanya jika orang yang dituduh tidak seperti itu.” (HR. Al-Bukhārī dan Muslim)
Ibn ‘Abdil Barr رحمه الله berkata:
فقد باء القائل بذنب كبير وإثم عظيم، واحتمله بقوله ذلك، وهذا غاية في التحذير من هذا القول والنهي عن أن يقال لأحد من أهل القبلة: يا كافر.
“Ucapan tersebut menyebabkan si penuduh menanggung dosa besar dan kesalahan yang sangat berat. Ini adalah bentuk peringatan keras agar tidak sembarangan mengatakan kepada seorang muslim: ‘Wahai kafir.’”
Ibn Daqīq al-‘Īd رحمه الله berkata:
وهذا وعيد عظيم لمن أكفر أحدا من المسلمين وليس كذلك، وهي ورطة عظيمة وقع فيها خلق كثير من المتكلمين، ومن المنسوبين إلى السنة وأهل الحديث لما اختلفوا في العقائد، فغلظوا على مخالفيهم، وحكموا بكفرهم.
“Ini merupakan ancaman besar bagi siapa saja yang menuduh kafir seorang muslim padahal tidak demikian. Banyak orang yang terjatuh dalam kesalahan ini — termasuk para ahli kalam dan sebagian orang yang mengaku Ahlus Sunnah — ketika mereka berselisih dalam masalah akidah, mereka memperkeras sikap dan memvonis kafir lawannya.”
Al-Hafizh Ibn Hajar رحمه الله menjelaskan makna hadis tersebut:
والتحقيق أن الحديث سيق لزجر المسلم من أن يقول ذلك لأخيه المسلم … وقيل: معناه رجعت عليه نقيصته لأخيه ومعصية تكفيره … فمعنى الحديث: فقد رجع عليه تكفيره، فالراجع التكفير لا الكفر، فكأنه كفر نفسه لكونه كفر من هو مثله …
“Hadis ini datang sebagai peringatan agar seorang muslim tidak sembarangan mengatakan ‘kafir’ kepada saudaranya. Maknanya: jika tuduhan itu tidak benar, maka dosa tuduhan itu kembali kepada si penuduh. Seakan-akan ia mengkafirkan dirinya sendiri karena telah menuduh kafir orang yang sama-sama muslim dengannya.”
Al-Qurthubi رحمه الله berkata:
والحاصل أن المقول له إن كان كافرا كفرا شرعيا، فقد صدق القائل، وذهب بها المقول له، وإن لم يكن رجعت للقائل معرة ذلك القول وإثمه). (التكفير وضوابطه – منقذ السقار).
“Kesimpulannya: jika orang yang dituduh benar-benar kafir, maka si penuduh benar dalam ucapannya.
Namun jika tidak, maka dosa ucapan itu kembali kepada si penuduh.”
⚠️ Takfir Disamakan Nabi ﷺ dengan Dosa Besar: Pembunuhan
Nabi ﷺ telah menyamakan perbuatan menuduh kafir seorang muslim dengan dosa besar pembunuhan dengan sengaja, sebagaimana sabda beliau:
“ومن قذف مؤمنا بكفر فهو كقتله”.
“Barang siapa menuduh seorang mukmin dengan kekafiran, maka hal itu seperti membunuhnya.”
(HR. Al-Bukhārī)
🧠 Syarat Takfir: Adanya Niat dan Keyakinan Kafir
Asy-Syaukani رحمه الله melanjutkan penjelasannya:
“إن الحكم على الرجل بخروجه من دين الإسلام ودخوله في الكفر، لا ينبغي لمسلم يؤمن بالله واليوم الآخر أن يقدم عليه إلا ببرهان أوضح من شمس النهار؛ فإنه قد ثبت في الأحاديث الصحيحة المروية من طريق جماعة أن:
““Sesungguhnya menghukumi seseorang bahwa ia telah keluar dari agama Islam dan masuk ke dalam kekafiran, tidak sepatutnya dilakukan oleh seorang Muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir, kecuali dengan dalil yang lebih jelas daripada terangnya matahari di siang hari.
Sebab telah tetap dalam hadis-hadis sahih yang diriwayatkan dari banyak jalur, bahwa:
(من قال لأخيه: يا كافر، فقد باء بها أحدهما))
‘Barang siapa berkata kepada saudaranya: “Wahai kafir!”, maka sungguh tuduhan itu akan kembali kepada salah satu dari keduanya.’ (HR. al-Bukhārī dan Muslim).
Dalam redaksi lain yang terdapat dalam dua kitab sahih dan lainnya:
(من دعا رجلا بالكفر أو قال: عدو الله، وليس كذلك، إلا حار عليه)
‘Barang siapa memanggil seseorang dengan sebutan kafir, atau mengatakan: “Wahai musuh Allah!”, padahal orang itu tidak demikian, maka tuduhan itu akan kembali kepadanya.’*
Dalam redaksi lain dalam hadis sahih disebutkan:
((فقد كفر أحدهما)
‘Maka sungguh telah kafir salah satu dari keduanya.’*
Hadis-hadis ini dan yang semakna dengannya merupakan *peringatan yang sangat keras dan nasihat yang sangat agung* agar *tidak tergesa-gesa dalam mengkafirkan* seseorang.
Allah Ta‘ālā berfirman:
{وَلَٰكِن مَّن شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا}
“Akan tetapi (yang kafir adalah) orang yang dadanya terbuka untuk kekafiran.”* (QS. An-Naḥl: 106)
Maka, syarat pengkafiran adalah adanya keterbukaan dada terhadap kekafiran, ketenangan hati terhadapnya, dan ketundukan jiwa kepadanya.
Karena itu, tidak dianggap (tidak sah) pengkafiran terhadap:
Keyakinan-keyakinan kesyirikan yang sekadar melintas sesaat dalam hati (tidak menetap), terutama bila terjadi karena ketidaktahuan terhadap ajaran Islam.
Perbuatan-perbuatan yang secara lahir tampak kufur, jika pelakunya tidak bermaksud keluar dari Islam menuju agama kufur.
Ucapan-ucapan yang secara lahir mengandung makna kufur, jika orang yang mengucapkannya tidak meyakini makna tersebut.
⚖️ Hukum Takfir Adalah Hukum Syar‘i, Bukan Hawa Nafsu
Hukum mengkafirkan seorang muslim adalah hukum syar‘i. Maka, tidak boleh dilakukan berdasarkan perasaan, hawa nafsu, atau dugaan pribadi.
Ia harus didasarkan pada dalil-dalil yang tegas dari Al-Qur’an dan Sunnah serta penjelasan para ulama yang terpercaya dan kokoh keilmuannya.
Oleh karena itu, para sahabat sangat berhati-hati dalam masalah ini.
Ibn ‘Abdil Barr meriwayatkan dari Abu Sufyan:
“قلت لجابر: أكنتم تقولون لأحد من أهل القبلة: كافر؟ قال: لا. قلت: فمشرك؟ قال: معاذ الله. وفزع”.
“Aku berkata kepada Jābir: ‘Apakah kalian pernah mengatakan kafir kepada salah satu dari ahli kiblat (sesama muslim)?’ Ia menjawab: ‘Tidak.’ Aku bertanya: ‘Apakah kalian menyebut mereka musyrik?’
Ia berkata: ‘A‘ūdzu billāh (Aku berlindung kepada Allah)!’ — dan ia merasa takut.” (Lihat: At-Tamhīd)
🕌 Sikap Para Sahabat terhadap Ahlul Jamal dan Shiffin
Al-Qurthubi dalam tafsirnya meriwayatkan:
Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه ditanya tentang penduduk Jamal dan Shiffin (dua kelompok yang bertempur dalam fitnah besar):
أمشركون هم؟ قال: “لا، من الشرك فروا. فقيل: أمنافقون؟ قال: لا؛ لأن المنافقين لا يذكرون الله إلا قليلا. قيل له: فما حالهم؟ قال: إخواننا بغوا علينا”.
“Apakah mereka itu orang-orang musyrik?” Beliau menjawab: “Tidak, mereka lari dari kesyirikan.” Lalu ditanya lagi: “Apakah mereka itu orang-orang munafik?” Beliau menjawab: “Tidak, karena orang-orang munafik tidak menyebut Allah kecuali sedikit.” Mereka bertanya:
“Lalu bagaimana keadaan mereka?” Beliau menjawab: “Mereka adalah saudara-saudara kita, hanya saja mereka memberontak (bughat) terhadap kita.”
🧭 Perkataan Ulama tentang Hati-hati dalam Takfir
Ibn Taimiyyah رحمه الله berkata:
” الكفر حكم شرعي متلقى عن صاحب الشريعة، والعقل قد يعلم به صواب القول وخطؤه، وليس كل ما كان خطأ في العقل، يكون كفرا في الشرع، كما أنه ليس كل ما كان صوابا في العقل، تجب في الشرع معرفته”.
“Kekafiran adalah hukum syar‘i yang diambil dari Rasulullah ﷺ. Akal hanya dapat mengetahui benar atau salahnya sebuah ucapan, tetapi tidak setiap kesalahan menurut akal berarti kekafiran dalam syariat. Sebagaimana tidak setiap kebenaran menurut akal wajib diketahui dalam agama.” (Majmū‘ al-Fatāwā)
Beliau juga berkata:
“إذا تبين ذلك، فاعلم أن مسائل التكفير والتفسيق هي من مسائل الأسماء والأحكام التي يتعلق بها الوعد والوعيد في الدار الآخرة، وتتعلق بها الموالاة والمعاداة والقتل والعصمة وغير ذلك في الدار الدنيا، فإن الله سبحانه أوجب الجنة للمؤمنين، وحرم الجنة على الكافرين، وهذا من الأحكام الكلية في كل وقت ومكان”.
“Ketahuilah bahwa masalah takfir dan tafsiq termasuk masalah nama dan hukum yang berkaitan dengan janji dan ancaman di akhirat, serta berkaitan dengan loyalitas, permusuhan, pembunuhan, dan penjagaan jiwa di dunia.
Allah mewajibkan surga bagi orang-orang beriman dan mengharamkan surga bagi orang-orang kafir. Ini adalah hukum universal yang berlaku sepanjang masa.”
📚 Penjelasan Para Ulama tentang Kaidah Takfir
Imam Ibn al-Wazīr رحمه الله berkata:
إن التكفير سمعي محض لا مدخل للعقل فيه”،
“Sesungguhnya takfir (pengkafiran) adalah perkara yang sepenuhnya bersifat sam‘ī murni (bersumber dari dalil wahyu), tidak ada peran akal di dalamnya.”
Ia juga berkata:
ويقول: “إن الدليل على الكفر والفسق لا يكون إلا سمعيا قطعيا”.
“Bahwa dalil atas kekafiran dan kefasikan harus berupa dalil syar‘i yang qath‘i (pasti).”
Maksudnya, seseorang tidak boleh mengkafirkan orang lain hanya dengan logika, perasaan, atau penilaian pribadi, melainkan harus ada dalil yang tegas dan pasti dari Al-Qur’an atau Sunnah.
Dari keterangan di atas, para ulama menegaskan bahwa menghukum seseorang dengan murtad atau kafir adalah hukum syar‘i, sehingga tidak boleh dilakukan berdasarkan hawa nafsu atau prasangka, sebab konsekuensinya sangat besar.
Pengkafiran berarti mengeluarkan seseorang dari Islam.
Akibatnya: hilang hak-haknya sebagai muslim, halal darah dan hartanya, batal pernikahannya, dan konsekuensi hukum-hukum besar lainnya.
Maka, sangat berbahaya jika dilakukan tanpa dasar yang kokoh.
📌 Oleh karena itu, menahan lisan lebih selamat, dan menghindari takfir tanpa ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.
Perkataan Ibn ‘Abd al-Barr
Ibn ‘Abd al-Barr berkata:
“ومن جهة النظر الصحيح الذي لا مدفع له، أن كل من ثبت له عقد الإسلام في وقت بإجماع من المسلمين، ثم أذنب ذنبا أو تأول تأويلا، فاختلفوا بعد في خروجه من الإسلام لم يكن لاختلافهم بعد إجماعهم معنى يوجب حجة، ولا يخرج من الإسلام المتفق عليه إلا باتفاق آخر أو سنة ثابتة لا معارض لها، وقد اتفق أهل السنة والجماعة، وهم أهل الفقه والأثر على أن أحدا لا يخرجه ذنبه – وإن عظم – من الإسلام، وخالفهم أهل البدع، فالواجب في النظر أن لا يكفر إلا من اتفق الجميع على تكفيره، أو قام على تكفيره دليل لا مدفع له من كتاب أو سنة”.
“Dari sudut pandang yang benar dan tidak dapat dibantah, siapa pun yang telah tetap status keislamannya pada suatu waktu dengan kesepakatan kaum Muslimin, kemudian ia melakukan suatu dosa atau menakwil suatu perkara, lalu setelah itu para ulama berselisih mengenai apakah ia keluar dari Islam atau tidak, maka perselisihan mereka setelah adanya kesepakatan sebelumnya tidak memiliki nilai sebagai hujjah.
Tidak boleh seseorang dikeluarkan dari Islam yang telah disepakati, kecuali dengan kesepakatan baru atau dalil dari sunnah yang sahih yang tidak memiliki penentang.
Para ulama Ahlus Sunnah wal Jama‘ah — yaitu para ahli fikih dan ahli hadis — telah sepakat bahwa tidak ada satu dosa pun, walaupun sangat besar, yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam.
Adapun para ahli bid‘ah, mereka menyelisihi kesepakatan ini.
Maka kewajiban menurut kaidah yang benar adalah: tidak boleh mengkafirkan seseorang kecuali terhadap orang yang telah disepakati kekafirannya secara ijma‘, atau terhadap orang yang ada dalil yang tidak dapat dibantah dari Al-Qur’an atau As-Sunnah yang menetapkan kekafirannya.” *(At-Tamhīd, Ibn ‘Abd al-Barr)*
Perkataan Imam ath-Thahawi رحمه الله
Ath-Thahawi berkata ketika menjelaskan tentang Ahlul Qiblah dan menetapkan akidah salaf:
“لا نشهد عليهم بالكفر ولا بشرك ولا بنفاق، ما لم يظهر شيء من ذلك، ونذر سرائرهم إلى الله تعالى”.
“Kami tidak bersaksi atas mereka dengan kekafiran, tidak pula kesyirikan, dan tidak pula kemunafikan selama tidak tampak dengan jelas salah satu dari ketiga hal tersebut.
Kami menyerahkan urusan hati dan rahasia mereka kepada Allah Ta‘ālā.”
Beliau juga berkata:
” ما تيقن أنه ردة يحكم بها، وما يشك أنه ردة لا يحكم بها، إذ الإسلام الثابت لا يزول بشك، مع أن الإسلام يعلو، وينبغي للعالم إذا رفع إليه هذا أن لا يبادر بتكفير أهل الإسلام”.
“Perkara yang diyakini secara pasti sebagai kemurtadan, maka harus diputuskan (dihukumi) sebagai murtad. Adapun perkara yang masih diragukan sebagai kemurtadan, maka tidak boleh diputuskan sebagai murtad.
Sebab, Islam yang telah tetap tidak bisa hilang hanya dengan keraguan, sedangkan Islam itu tinggi (mengalahkan yang lain).
Seorang alim, jika ada permasalahan seperti ini diajukan kepadanya, tidak seharusnya tergesa-gesa dalam mengkafirkan kaum Muslimin.” *(Syarḥ ‘Aqīdah ath-Thahāwiyyah)*
Perkataan Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah رحمه الله
Ibn Taimiyyah berkata:
“ليس لأحد أن يكفر أحدا من المسلمين، وإن أخطأ وغلط، حتى تقام عليه الحجة وتبين له المحجة، ومن ثبت إسلامه بيقين لم يزل ذلك عنه بالشك، بل لا يزول إلا بعد إقامة الحجة وإزالة الشبهة”.
“Tidak boleh seorang pun mengkafirkan seorang Muslim, meskipun ia telah berbuat kesalahan atau keliru, sampai tegak padanya hujjah dan jelas baginya keterangan.
Siapa pun yang keislamannya telah tetap dengan keyakinan, maka tidak boleh status keislamannya dihapus dengan keraguan.
Bahkan, keislamannya tidak akan hilang kecuali setelah tegaknya hujjah dan hilangnya syubhat.”
Beliau juga berkata:
“ومن جالسني يعلم ذلك مني: أني من أعظم الناس نهيا عن أن ينسب معين إلى تكفير وتفسيق ومعصية، إلا إذا علم أنه قد قامت عليه الحجة الرسالية، التي من خالفها كان كافرا تارة، وفاسقا أخرى، وعاصيا أخرى، وإني أقرر أن الله قد غفر لهذه الأمة خطأها، وذلك يعم الخطأ في المسائل الخبرية القولية والمسائل العملية”.
“Siapa yang pernah duduk bersamaku, maka ia tahu benar bahwa aku termasuk orang yang paling keras melarang menuduh kafir, fasik, atau maksiat secara pribadi terhadap seorang Muslim tertentu, kecuali bila telah benar-benar tegak padanya hujjah risalah (dakwah Rasul).
Siapa yang menentang hujjah itu, maka terkadang ia kafir, terkadang fasik, terkadang hanya bermaksiat.
Aku juga menetapkan bahwa Allah telah mengampuni kesalahan umat ini, dan itu mencakup kesalahan dalam masalah-masalah keyakinan (akidah) maupun masalah-masalah amaliah (praktik).” *(Majmū‘ al-Fatāwā)*.
Bahkan para ulama menasihati untuk berhati-hati dan meneliti dengan seksama serta mencari-cari alasan (udzur) bagi kaum Muslimin sebelum tergesa-gesa dalam mengkafirkan mereka. Sesungguhnya kesalahan dalam memberi maaf lebih ringan daripada kesalahan dalam menjatuhkan hukuman, dan dengan sikap berhati-hati ini seorang hamba akan selamat dari terjerumus ke dalam fitnah (ujian besar).
Asy-Syaukani رحمه الله berkata:
“فحينئذ تنجو من معرة الخطر، وتسلم من الوقوع في المحنة، فإن الإقدام على ما فيه بعض البأس لا يفعله من يشح على دينه، ولا يسمح به فيما لا فائدة فيه ولا عائدة، فكيف إذا كان يخشى على نفسه إذا أخطأ أن يكون في عداد من سماه رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم كافرا، فهذا يقود إليه العقل فضلا عن الشرع .. فحتم على كل مسلم أن لا يطلق كلمة الكفر إلا على من شرح بالكفر صدرا، ويقصر ما ورد مما تقدم على موارده، وهذا الحق ليس به خفاء، فدعني من بنيات الطريق يأبى الفتى إلا اتباع الهوى … ومنهج الحق له واضح”.
“Dengan sikap berhati-hati itu, engkau akan selamat dari bahaya besar dan terhindar dari terjatuh dalam cobaan yang berat. Karena tergesa-gesa melakukan sesuatu yang mengandung sedikit saja unsur bahaya, bukanlah sifat orang yang menjaga agamanya dengan ketat. Orang seperti itu tidak akan memberi kelonggaran pada dirinya untuk melakukan sesuatu yang tidak membawa manfaat dan tidak ada faedahnya.
Maka bagaimana mungkin seseorang berani melangkah, sementara ia khawatir jika keliru, dirinya akan termasuk dalam golongan orang yang oleh Rasulullah ﷺ disebut sebagai kafir?!
Ini semua sudah cukup untuk mendorong seseorang agar berhati-hati, bahkan akal sehat pun — selain syariat — menunjukkan kewajiban ini.
Wallahu a’lam



