Fatawa Umum

Bagaimana Dengan Sifat 20 Bagi Allah?

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu ustaz

Bagaimana sifat Allah yang 20 yang di ajarkan Di, MTs,MA

Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Terjemahan:

Jawaban

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, dan para sahabatnya. Amma ba‘d:

Untuk menjawab tentang Asma wa shifat bagi Allah harus dipelajari melalui metode salafus shaleh memahami ayat Dan Hadis tentang Asma washifat.

Seorang muslim wajib beriman terhadap sifat-sifat yang Allah tetapkan bagi diri-Nya atau yang ditetapkan Rasulullah ﷺ untuk-Nya. Begitu pula wajib menyucikan Allah dari segala yang Allah sucikan diri-Nya darinya, atau yang Rasulullah ﷺ sucikan dari-Nya. Maka seluruh sifat kesempurnaan itu pasti ada pada Allah Ta‘ālā, dan sifat kekurangan mustahil bagi-Nya. Karena itu, seorang muslim hendaknya sibuk membaca Al-Qur’an dan As-Sunnah, merenungkan maknanya, dan meyakini apa yang terkandung di dalamnya. Tidak membahayakan dirinya jika ada sebagian sifat yang tidak diketahuinya, selama ia tidak meyakini sesuatu yang bertentangan dengan keduanya.

Adapun membatasi sifat-sifat yang wajib maupun yang mustahil bagi Allah dengan tujuh, lima, dua puluh lima, atau enam puluh enam sifat, itu adalah metode kalangan ahli kalam.

Kaum Asy‘ariyyah dan selain mereka dari kalangan mutakallimīn membagi sifat Allah Ta‘ālā menjadi tiga bagian:

1. Sifat wajib bagi Allah Ta‘ālā, yakni sifat yang secara akal mesti ada, dan akal tidak bisa membayangkan ketiadaannya.

2. Sifat mustahil bagi Allah Ta‘ālā, yakni sifat yang secara akal mustahil ada, dan akal tidak bisa membayangkan keberadaannya.

3. Sifat ja’iz bagi Allah Ta‘ālā, yakni sifat yang secara akal mungkin saja ada atau tidak ada.

Menurut mereka, sifat wajib ada dua puluh, yaitu:

al-Wujūd (وجود – adanya Allah),

al-Qidam (القدم – terdahulu tanpa permulaan),

al-Baqā’ (البقاء – kekal),

Mukhalafatuhū Ta‘ālā lil-ḥawādits (مخالفته تعالى للحوادث – berbeda dengan makhluk),

Qiyāmuhū Ta‘ālā binafsih (قيامه تعالى بنفسه – berdiri sendiri, tidak bergantung pada selain-Nya),

al-Waḥdāniyyah (الوحدانية – keesaan),

al-Qudrah (القدرة – kuasa),

al-Irādah (الإرادة – berkehendak),

al-‘Ilm (العلم – mengetahui),

al-Ḥayāh (الحياة – hidup),

as-Sam‘ (السمع – mendengar),

al-Baṣar (البصر – melihat),

al-Kalām (الكلام – berbicara),

serta keadaan-Nya sebagai Yang Maha Kuasa, Maha Berkehendak, Maha Mengetahui, Maha Hidup, Maha Mendengar, Maha Melihat, dan Maha Berbicara.

Adapun Ahlus Sunnah wal Jama‘ah, metode mereka ringkasnya adalah: menetapkan apa yang Allah tetapkan bagi diri-Nya dan yang Rasulullah ﷺ tetapkan bagi-Nya, tanpa taḥrīf (menyelewengkan makna), tanpa ta‘ṭīl (meniadakan), tanpa tajsīm (menyerupakan dengan jasad), dan tanpa takyīf (menentukan bentuk/kaifiyatnya). Baik sifat itu termasuk dua puluh sifat tersebut maupun sifat-sifat lain yang disebutkan dalam dalil. Karena itu mereka menetapkan pula sifat-sifat lain yang datang kabarnya dalam dalil, baik sifat fi‘liyyah (berkaitan dengan perbuatan) seperti: sifat istiwā’, al-ma‘iyyah (kebersamaan), al-qurb (kedekatan), nuzūl ke langit dunia sebagaimana layak bagi-Nya, datang pada hari kiamat, sifat ta‘ajjub (heran), rahmat, ridha, dhahik (tertawa), farah (gembira), dan ghaḍab (marah).

Juga sifat dzātiyyah (yang melekat pada dzat-Nya), seperti sifat wajah, nafs (diri), tangan, jari-jemari, mata, betis, dan kaki.

Telah diketahui bahwa yang benar adalah pendapat bahwa salaf menetapkan sifat dan menyerahkan kaifiyatnya kepada Allah.

Sebagai contoh untuk menjelaskan perbedaan antara metode salaf dan metode khalaf (mutakallimīn) dalam salah satu sifat dari dua puluh sifat di atas, yaitu sifat MukhalafatuLlahi lil-ḥawādits (Allah berbeda dengan makhluk). Menurut salaf, artinya Allah tidak serupa dengan seorang pun dari makhluk-Nya, dan makhluk pun tidak serupa dengan-Nya. Hal ini tidak menafikan keberadaan sifat-sifat yang Allah tetapkan untuk diri-Nya atau yang Rasul-Nya ﷺ tetapkan, sebagaimana firman Allah Ta‘ālā:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. asy-Syūrā: 11).

Adapun mutakallimīn, yang mereka maksud dengan mukhalafatuLlahi lil-ḥawādits ialah menafikan sebagian sifat kesempurnaan dari Allah. Mereka beranggapan bahwa siapa yang menetapkan sifat-sifat seperti istiwā’ dan datang (al-majī’), berarti telah menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya.

Segala hal yang diperselisihkan kaum muslimin, baik dalam masalah ilmiah maupun amaliah, pokok maupun cabang, wajib dikembalikan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tidak halal bagi siapa pun untuk berbicara dalam masalah pokok agama dan tauhid hanya dengan pendapat, dugaan, atau khayalan. Tidak boleh berbicara tentang itu kecuali yang mengambilnya dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta ijmā‘ salaf umat ini.

Masalah-masalah yang sangat detail dalam aqidah tidak boleh dibicarakan di hadapan kaum awam, dan mereka tidak boleh diajak berbicara dengannya. Mereka hanya diperintahkan dengan pokok-pokok yang tetap dari Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ijmā‘, tanpa menyibukkan mereka dengan perincian yang pelik dan rumit.

Wallāhu a‘lam.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button