Biografi

Biografi Imam Ibnu Hazm

Biografi Imam Ibnu Hazm رحمه الله

Wafat: 456 H
Asal: Keturunan Persia
Masa: Dinasti Umayyah di Andalusia dan masa Muluk ath-Thawa’if (kerajaan-kerajaan kecil) di Andalusia.

Beliau adalah Abu Muhammad Ali bin Ahmad bin Sa‘id al-Farisi al-Andalusi al-Yazidi, seorang ulama besar Andalusia pada zamannya, salah seorang imam Islam pada abad kelima Hijriah, dan tokoh utama Mazhab Zhahiri dalam fikih.

Data Pribadi

Nama: Ibnu Hazm
Nama lengkap: Ali bin Ahmad bin Sa‘id bin Hazm bin Ghalib bin Shalih
Kunyah: Abu Muhammad
Nisbah: Al-Andalusi

Lahir: 384 H / 994 M di kota Cordoba (Qurthubah).
Wafat: 456 H / 1064 M.

Perjalanan Hidup

384 H / 994 M: Lahir di kota Cordoba.

398 H / 1009 M: Bersama keluarganya berpindah dari rumah baru mereka di sebelah timur Cordoba menuju kediaman lama mereka di sebelah barat kota.

404 H / 1014 M: Meninggalkan Cordoba menuju kota Almería (Al-Mariyyah).

408 H / 1018 M: Pergi ke Valencia (Balansiyah).

409 H / 1019 M: Kembali ke Cordoba dan mendapatinya telah menjadi puing-puing.

414 H / 1023 M: Menjadi salah seorang menteri Dinasti Umayyah di Cordoba.

418 H / 1027 M: Untuk terakhir kalinya menjabat sebagai menteri.

456 H / 1064 M: Wafat.

Karya-Karya

Di antara karya Ibnu Hazm adalah:

1. Al-Īṣāl ilā Fahmi Kitāb al-Khiṣāl — الإيصال إلى فهم كتاب الخصال.
2. Al-Khiṣāl al-Ḥāfiẓ li Jumali Syarā’i‘ al-Islām — الخصال الحافظ لجمل شرائع الإسلام.
3. Al-Mujallā fī al-Fiqh — المجلّى في الفقه.
4. Al-Muḥallā fī Syarḥ al-Mujallā bi al-Ḥujaj wa al-Ātsār — المحلى في شرح المجلى بالحجج والآثار.
5. Ḥujjat al-Wadā‘ — حجة الوداع.
6. Qismat al-Khums fī ar-Radd ‘alā Ismā‘īl al-Qāḍī — قسمة الخمس في الرد على إسماعيل القاضي.
7. Al-Ātsār allatī Ẓāhiruhā at-Ta‘āruḍ wa Nafy at-Tanāquḍ ‘anhā — الآثار التي ظاهرها التعارض ونفي التناقض عنها; kitab ini tidak sempat beliau selesaikan.
8. Ar-Radd ‘alā Ibn Zakariyyā ar-Rāzī — الرد على ابن زكريا الرازي.
9. At-Tarsyīd fī ar-Radd ‘alā Kitāb al-Farīd li Ibn ar-Rāwandī fī I‘tirāḍihi ‘alā an-Nubuwwāt — الترشيد في الرد على كتاب الفريد لابن الراوندي في اعتراضه على النبوات.
10. Ar-Radd ‘alā Man Kaffara al-Muta’awwilīn min al-Muslimīn — الرد على من كفر المتأولين من المسلمين.
11. Mukhtaṣar fī ‘Ilal al-Ḥadīts — مختصر في علل الحديث.
12. At-Taqrīb li Ḥadd al-Manṭiq bi al-Alfāẓ al-‘Āmmiyyah — التقريب لحد المنطق بالألفاظ العامية.
13. Al-Istijلب — الاستجلاب.
14. Nasab al-Barbar — نسب البربر.

Keluarga dan Masa Pertumbuhan

Ibnu Hazm berasal dari keluarga terpandang. Kakeknya, Khalaf bin Ma‘dan, disebut sebagai orang pertama dari keluarganya yang menginjakkan kaki di Andalusia bersama para pengikut Abdurrahman ad-Dakhil. Keluarganya kemudian memiliki kedudukan penting dalam pemerintahan Andalusia, khususnya dalam jabatan kementerian.

Ibnu Hazm sendiri pernah menjabat sebagai menteri bagi beberapa penguasa. Namun, setelah itu beliau memilih meninggalkan aktivitas politik dan memusatkan perhatian pada ilmu.

Pada masa kecil, beliau menghafal Al-Qur’an dan sejumlah syair. Dalam kitabnya Ṭawq al-Ḥamāmah, Ibnu Hazm menceritakan bahwa masa kecilnya banyak dihabiskan di lingkungan kaum wanita. Beliau baru banyak bergaul dengan kaum laki-laki ketika mendekati usia dewasa. Para wanita di lingkungan keluarganya mengajarinya Al-Qur’an, meriwayatkan banyak syair kepadanya, dan melatihnya menulis.

Meskipun tumbuh dalam lingkungan tersebut, Ibnu Hazm dikenal menjaga kehormatan dirinya. Hal ini antara lain karena pengawasan ketat ayahnya terhadap perilakunya.

Pada awal masa mudanya, beliau juga bersahabat dengan Abu al-Husain bin Ali al-Farisi, seorang yang wara‘ dan bertakwa, menjauhkan diri dari wanita dan tidak menikah. Ibnu Hazm menyebutnya:

«الشَّيْخُ الْحَصُورُ»

“Syekh yang sangat menjaga dirinya.”

Tokoh ini menjadi salah satu teladan bagi Ibnu Hazm.

Kepribadian dan Karakter Keilmuannya

Syekh Muhammad Abu Zahrah menyebut bahwa Imam Ibnu Hazm memiliki sejumlah sifat terpuji, antara lain: hafalan yang sangat kuat, ketajaman berpikir, kecerdasan spontan, kedalaman dalam menelaah hakikat suatu persoalan, kesabaran, ketabahan, ketekunan, keikhlasan, keterusterangan dalam menyampaikan kebenaran, kesetiaan, harga diri tanpa kesombongan, serta karakter yang tegas.

Masa Fitnah di Andalusia

Kehidupan tenang dan berkecukupan yang sebelumnya dinikmati Ibnu Hazm dan keluarganya tidak berlangsung lama. Ayahnya merupakan seorang menteri pada penghujung kekuasaan awal Bani Umayyah di Andalusia, tepat ketika kekuasaan mulai terlepas dari tangan mereka dan beralih kepada Abu Manshur al-‘Amiri beserta keluarganya.

Saat itu Ibnu Hazm berusia sekitar lima belas tahun.

Fitnah dan kekacauan tidak hanya menimpa keluarga Ibnu Hazm, tetapi melanda seluruh Andalusia. Cordoba menjadi sasaran berbagai pasukan yang melakukan penjarahan dan menyebabkan penduduknya tercerai-berai.

Pada tahun 398 H, Ibnu Hazm bersama keluarganya berpindah dari rumah baru mereka di bagian timur Cordoba menuju rumah lama di bagian barat untuk menghindari kekacauan.

Pada tahun 402 H, ayahnya meninggal dunia di tengah kekacauan politik yang terus melanda Dinasti Umayyah.

Kemudian pada tahun 404 H, Ibnu Hazm meninggalkan Cordoba menuju Almería.

Keterlibatan dalam Politik

Andalusia kemudian terpecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Keluarga Bani Hammud, yang merupakan keturunan Ali bin Abi Thalib dan memiliki pengaruh di Ceuta, Maroko, menguasai Cordoba.

Bani Hammud berusaha memburu para pendukung Bani Umayyah. Gubernur Almería menuduh Ibnu Hazm bekerja untuk mengembalikan kekuasaan Bani Umayyah. Akibatnya, beliau ditahan selama satu bulan kemudian diasingkan.

Beberapa bulan setelah itu beliau pindah ke Valencia untuk mendukung khalifah Umayyah Abdurrahman bin Muhammad yang bergelar al-Murtadha, yang disebut sebagai salah seorang keturunan Bani Umayyah terbaik yang masih tersisa.

Ibnu Hazm membantunya hingga kemudian menjadi salah seorang menterinya.

Ibnu Hazm turut bersama Abdurrahman al-Murtadha dalam pasukan yang hendak menguasai Granada. Namun, Abdurrahman terbunuh sebelum rencana tersebut berhasil. Ibnu Hazm kemudian ditawan selama beberapa waktu sebelum akhirnya dibebaskan.

Pada tahun 409 H beliau kembali ke Cordoba dan mendapati kota tersebut telah menjadi puing-puing.

Menjadi Menteri Bani Umayyah

Kekuasaan Bani Hammud kemudian semakin melemah. Penduduk Cordoba memberontak dan akhirnya mengembalikan pemerintahan kepada Bani Umayyah.

Mereka memilih Abdurrahman bin Hisyam bin Abdul Jabbar dan membaiatnya pada Ramadan 414 H. Ia diberi gelar al-Mustazhhir, dan Ibnu Hazm menjadi salah seorang menterinya.

Namun, kekuasaan al-Mustazhhir tidak berlangsung lama. Ia memenjarakan sejumlah penduduk Cordoba karena menduga mereka mendukung salah seorang kerabatnya dari Bani Umayyah dan menyita harta mereka.

Penduduk Cordoba kemudian memberontak, membebaskan para tahanan tersebut, dan khalifah akhirnya terbunuh. Ibnu Hazm juga dipenjara, meskipun tidak dalam waktu lama.

Penguasa terakhir yang menjadikan Ibnu Hazm sebagai menteri adalah Hisyam al-Mu‘tadd Billah bin Muhammad bin Abdul Malik bin Abdurrahman an-Nashir pada tahun 418 H. Ia merupakan penguasa terakhir Bani Umayyah di Andalusia.

Peristiwa ini sekaligus menandai berakhirnya keterlibatan Ibnu Hazm dalam dunia politik dan kementerian.

Mengabdikan Diri kepada Ilmu

Setelah itu Ibnu Hazm mencurahkan hidupnya untuk ilmu dan menyebarkan pemikirannya.

Perhatian intensifnya terhadap fikih yang kemudian menjadikannya seorang imam dalam bidang tersebut berkembang terutama setelah beliau pergi ke Valencia dan tinggal di sana pada tahun 408 H.

Pada awalnya beliau mempelajari fikih Mazhab Maliki, karena mazhab tersebut merupakan mazhab resmi dan dominan di Andalusia.

Setelah itu beliau berpindah kepada Mazhab Syafi‘i, karena ketertarikannya terhadap keterikatan mazhab tersebut kepada nash-nash syariat. Namun, beliau tidak lama berada dalam mazhab tersebut.

Di antara faktor yang memengaruhinya adalah salah seorang gurunya dalam fikih, Mas‘ud bin Sulaiman bin Muflit, seorang ulama yang zuhud, cenderung berpegang kepada makna zahir nash dan memilih pendapat berdasarkan dalil dari berbagai pendapat yang ada.

Ibnu Hazm menyukai metode tersebut karena memberinya keleluasaan berpikir tanpa harus terikat dengan mazhab tertentu, melainkan terikat dengan nash dan atsar.

Karena itu pada akhirnya beliau mengatakan:

«أَنَا أَتَّبِعُ الْحَقَّ وَأَجْتَهِدُ وَلَا أَتَقَيَّدُ بِمَذْهَبٍ»

“Aku mengikuti kebenaran dan berijtihad, serta tidak mengikat diriku dengan suatu mazhab.”

Penyebaran Mazhab dan Pemikirannya

Ibnu Hazm senantiasa mengkaji dan menyebarkan pandangannya di mana pun beliau berada. Beliau berpindah antara Valencia dan Mallorca karena keduanya relatif berdekatan, kemudian kembali lagi ke Cordoba.

Di Mallorca, Ibnu Hazm memperoleh banyak pengikut. Salah satu faktor yang mendukung penyebaran pemikirannya adalah sahabatnya, Ahmad bin Rasyiq (w. 440 H), yang menjadi gubernur Mallorca.

Setelah gubernur tersebut meninggal, posisi Ibnu Hazm melemah. Para ahli fikih bersatu menentangnya dan mendorong penguasa mengambil tindakan terhadapnya.

Ibnu Hazm mendapat kritik dari banyak ulama dan fuqaha. Namun beliau juga sangat keras dalam mempertahankan pendapatnya dan mengkritik lawan-lawannya.

Abu al-Abbas Ibnu al-‘Arif berkata:

«لِسَانُ ابْنِ حَزْمٍ وَسَيْفُ الْحَجَّاجِ شَقِيقَانِ»

“Lisan Ibnu Hazm dan pedang Al-Hajjaj adalah dua saudara.”

Ungkapan ini menggambarkan ketajaman dan kerasnya bahasa Ibnu Hazm dalam perdebatan.

Pujian Para Ulama

Sejumlah ulama besar memberikan pujian kepada Ibnu Hazm.

Imam Abu Hamid al-Ghazali

Al-Ghazali berkata:

«وَجَدْتُ فِي أَسْمَاءِ اللَّهِ تَعَالَى كِتَابًا أَلَّفَهُ أَبُو مُحَمَّدِ بْنُ حَزْمٍ الْأَنْدَلُسِيُّ، يَدُلُّ عَلَى عِظَمِ حِفْظِهِ وَسَيَلَانِ ذِهْنِهِ»

“Aku menemukan sebuah kitab tentang nama-nama Allah Ta‘ala yang ditulis oleh Abu Muhammad Ibnu Hazm al-Andalusi. Kitab tersebut menunjukkan betapa kuat hafalannya dan betapa lancar serta tajam pikirannya.”

Imam Abu al-Qasim Sha‘id bin Ahmad

Beliau berkata:

«كَانَ ابْنُ حَزْمٍ أَجْمَعَ أَهْلِ الْأَنْدَلُسِ قَاطِبَةً لِعُلُومِ الْإِسْلَامِ، وَأَوْسَعَهُمْ مَعْرِفَةً، مَعَ تَوَسُّعِهِ فِي عِلْمِ اللِّسَانِ، وَوُفُورِ حَظِّهِ مِنَ الْبَلَاغَةِ وَالشِّعْرِ، وَالْمَعْرِفَةِ بِالسِّيَرِ وَالْأَخْبَارِ»

“Ibnu Hazm adalah orang Andalusia yang paling menghimpun berbagai disiplin ilmu Islam dan paling luas pengetahuannya. Di samping itu, ia memiliki keluasan dalam ilmu bahasa serta bagian yang besar dalam balaghah, syair, sirah, dan sejarah.”

Beliau kemudian menyampaikan keterangan dari putra Ibnu Hazm, al-Fadhl, bahwa karya-karya yang terkumpul dalam tulisan tangan ayahnya mencapai 400 jilid, mencakup hampir 80.000 lembar.

Abu Abdullah al-Humaidi

Al-Humaidi berkata:

«كَانَ ابْنُ حَزْمٍ حَافِظًا لِلْحَدِيثِ وَفِقْهِهِ، مُسْتَنْبِطًا لِلْأَحْكَامِ مِنَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ، مُتَفَنِّنًا فِي عُلُومٍ جَمَّةٍ، عَامِلًا بِعِلْمِهِ…»

“Ibnu Hazm adalah seorang hafizh dalam hadis dan fikih hadis. Ia mampu menggali hukum dari Al-Qur’an dan Sunnah, menguasai berbagai disiplin ilmu, serta mengamalkan ilmunya.”

Al-Humaidi melanjutkan bahwa ia belum pernah melihat orang yang menyamai Ibnu Hazm dalam perpaduan kecerdasan, kecepatan menghafal, kemuliaan jiwa, dan keberagamaan.

Ibnu Hazm juga memiliki kemampuan yang luas dalam sastra dan syair. Al-Humaidi bahkan mengatakan bahwa ia belum pernah melihat seseorang yang lebih cepat daripada Ibnu Hazm dalam menggubah syair secara spontan.

Izzuddin bin Abdissalam

Syekh Izzuddin bin Abdissalam berkata:

«مَا رَأَيْتُ فِي كُتُبِ الْإِسْلَامِ فِي الْعِلْمِ مِثْلَ الْمُحَلَّى لِابْنِ حَزْمٍ، وَكِتَابِ الْمُغْنِي لِلشَّيْخِ مُوَفَّقِ الدِّينِ»

“Aku tidak melihat dalam kitab-kitab Islam—dalam hal keluasan ilmu—kitab yang seperti Al-Muhalla karya Ibnu Hazm dan Al-Mughni karya Syekh Muwaffaquddin.”

Pembakaran Kitab-Kitab Ibnu Hazm

Kitab-kitab Ibnu Hazm dibakar pada masa pemerintahan al-Mu‘tadhid, penguasa Sevilla, dalam periode antara 440–456 H, yaitu sekitar masa setelah Ibnu Hazm meninggalkan Mallorca hingga wafatnya.

Terdapat beberapa faktor yang disebut sebagai penyebab pembakaran tersebut. Di antara yang terpenting adalah bersatunya sebagian fuqaha dalam menentangnya dan mendorong penguasa mengambil tindakan terhadapnya karena Ibnu Hazm menyelisihi Mazhab Maliki, yang saat itu merupakan mazhab resmi, serta karena beliau mengembangkan pendekatan fikih yang berada di luar empat mazhab yang masyhur.

Faktor lainnya adalah bahwa Ibnu Hazm juga seorang sejarawan dan dikenal mengkritik al-Mu‘tadhid.

Wafat

Imam Ibnu Hazm رحمه الله wafat pada petang hari Ahad, dua malam menjelang berakhirnya bulan Sya‘ban tahun 456 H, bertepatan dengan tahun 1064 M.

Usianya ketika wafat adalah sekitar 71 tahun beberapa bulan.

Guru, Sahabat, dan Murid Imam Ibnu Hazm

Ibnu Hazm telah menuntut ilmu sejak usia dini. Hal ini memberinya kesempatan untuk mengambil ilmu dari para ulama senior pada masanya. Lingkungan keluarganya juga sangat membantu proses pendidikannya sehingga ia dapat belajar kepada banyak ulama.

Jaringan keilmuan Ibnu Hazm sangat luas, meliputi fikih, hadis, sejarah, Al-Qur’an, bahasa dan sastra, perbandingan agama, kedokteran, filsafat, serta logika.

Guru-Guru dalam Fikih, Hadis, dan Sejarah

1. Ahmad bin Muhammad bin Sa‘id bin al-Jusur al-Qurthubi (320–401 H / 932–1010 M).
Ia termasuk guru pertama yang didengar riwayatnya oleh Ibnu Hazm sebelum tahun 400 H. Ibnu Hazm belajar kepadanya dalam bidang fikih, hadis, dan sejarah. Darinya ia meriwayatkan Al-Muwaththa’ karya Imam Malik, Al-Mudawwanah melalui riwayat Sahnun, Musnad Ibnu Abi Syaibah, fikih Abu Ubaid al-Qasim bin Sallam, Musnad Abd bin Humaid, serta membaca Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk karya ath-Thabari.
2. Mas‘ud bin Sulaiman bin Muflit asy-Syantarini al-Qurthubi, yang dikenal dengan Abu al-Khiyar (w. 426 H / 1034 M).
Guru Ibnu Hazm dalam fikih dan hadis beserta ilmu-ilmunya. Darinya Ibnu Hazm mengambil kecenderungan berpegang kepada makna zahir nash, menyerukan ijtihad, dan meninggalkan taklid.
3. Abu Abdullah bin Abdurrahman bin Jahhaf al-Ma‘afiri (w. 417 H / 1026 M), qadhi Valencia. Guru dalam bidang fikih.
4. Muhammad bin Abdullah bin Hani’ al-Lakhmi al-Bazzar (w. 410 H / 1019 M). Guru dalam fikih, hadis, dan sejarah.
5. Abu Sa‘id, maula al-Hajib Ja‘far (w. 425 H / 1033 M). Guru dalam bahasa dan hadis. Ibnu Hazm meriwayatkan Sunan an-Nasa’i darinya.
6. Qadhi Abu Bakar Hammam bin Ahmad al-Athrusy al-Qurthubi (357–421 H / 967–1030 M). Guru dalam bahasa, sastra, hadis, dan ilmu hadis. Ibnu Hazm meriwayatkan darinya Shahih al-Bukhari, karya Ibnu Abi Syaibah, Baqi bin Makhlad, dan Musnad Abdurrazzaq.
7. Ahmad bin Qasim bin Muhammad bin Ashbagh al-Qurthubi (w. 429 H / 1037 M). Guru hadis. Ibnu Hazm meriwayatkan darinya karya-karya kakeknya, Qasim bin Ashbagh.
8. Abu Muhammad Abdullah bin Yusuf bin Nami ar-Rahwani al-Qurthubi (348–435 H / 959–1043 M). Guru hadis. Ibnu Hazm meriwayatkan Shahih Muslim darinya.
9. Abu al-Qasim Salamah bin Sa‘id al-Anshari al-Istiji (w. 406 H / 1015 M). Guru dalam fikih dan hadis. Disebut sebagai salah seorang guru yang darinya Ibnu Hazm mempelajari fikih Syafi‘i.
10. Abu al-Mutharrif Abdurrahman bin Muhammad bin Isa bin Futhais (348–402 H / 959–1011 M), seorang qadhi dan menteri.
11. Abdullah bin Yahya bin Ahmad bin Dahhun (w. 431 H / 1040 M). Guru fikih. Ibnu Hazm meriwayatkan Al-Muwaththa’ karya Imam Malik darinya.
12. Abu Ali al-Husain bin Salmun (w. 431 H / 1039 M). Guru dalam bidang fikih.
13. Di antara guru lainnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Sa‘id bin Jaraj al-Qurthubi, Abu al-Husain Ali al-Fasi, Muhammad bin Abdul A‘la bin Hisyam al-Qurthubi, Abu Umar Ahmad bin Jabrun, dan Abu Abdullah Muhammad bin Ishaq bin Idris bin Khalid. Tahun kelahiran dan wafat mereka tidak diketahui secara pasti dalam sumber tersebut.
14. Abdurrahman bin Muhammad bin Abi Zaid Khalid al-Azdi al-Ataki (w. 410 H / 1019 M). Guru dalam sejarah, hadis, ilmu kalam, dan perdebatan. Ibnu Hazm juga meriwayatkan Shahih al-Bukhari darinya.
15. Muhammad bin al-Hasan ar-Razi ash-Shufi (w. setelah 450 H / 1058 M). Guru dalam hadis dan ilmu hadis. Ibnu Hazm menerima hadis darinya melalui mukatabah.
16. Abdullah bin Muhammad bin Yusuf al-Azdi, yang dikenal sebagai Ibnu al-Faradhi (w. 403 H / 1012 M). Guru dalam fikih, sejarah, hadis, dan ilmu hadis. Ibnu Hazm meriwayatkan Shahih Muslim darinya.
17. Abu Bakar Yahya bin Abdurrahman bin Mas‘ud bin Musa bin Wajh al-Jannah al-Qurthubi (304–402 H / 916–1011 M). Guru hadis. Ibnu Hazm meriwayatkan Musnad Ahmad dan sebagian riwayat Waki‘ bin al-Jarrah darinya.
18. Abu al-Qasim Abdurrahman bin Abdullah bin Khalid bin Musafir bin al-Hazzaz al-Hamdani al-Wahrani al-Bajani (w. 411 H / 1020 M). Guru hadis. Ibnu Hazm meriwayatkan Shahih al-Bukhari darinya pada sekitar tahun 401 H.
19. Abu Muhammad Abdullah bin Rabi‘ at-Taimi al-Qurthubi, yang dikenal sebagai Ibnu Banusy (330–414 H / 941–1023 M). Guru dalam hadis dan bahasa. Ibnu Hazm meriwayatkan darinya Shahih Muslim, Shahih al-Bukhari, Sunan Abi Dawud, dan sejumlah riwayat hadis lainnya.
20. Muhammad bin Sa‘id bin Nabat (w. 429 H / 1037 M). Guru dalam fikih dan hadis. Ibnu Hazm meriwayatkan darinya berbagai karya Imam Ahmad, Qasim bin Ashbagh, Abdurrazzaq, Hammad bin Salamah, dan lainnya.
21. Abdullah bin Ibrahim bin Muhammad, yang dikenal sebagai al-Ashili (w. sekitar 400 H / 1009 M). Guru dalam fikih dan hadis.
22. Abu al-Walid Yunus bin Abdullah bin ash-Shaffar al-Qurthubi (338–429 H). Qadhi al-Qudhat Cordoba dan guru dalam hadis serta fikih. Ibnu Hazm meriwayatkan darinya Sunan an-Nasa’i, karya Ibnu Abi Syaibah, Ma‘ani al-Atsar karya ath-Thahawi, dan karya-karya lainnya.
23. Muhammad bin Ismail bin Qurnasy al-Udzri (w. 453 H / 1061 M), qadhi Zaragoza. Guru hadis. Ibnu Hazm meriwayatkan Al-Mustadrak karya al-Hakim darinya.
24. Abu Umar Yusuf bin Abdullah bin Abdil Barr an-Namari (368–463 H / 978–1071 M). Ibnu Abdil Barr merupakan sahabat sekaligus memiliki hubungan periwayatan dengan Ibnu Hazm. Ibnu Hazm meriwayatkan darinya sejumlah karya dan musnad.
25. Abu al-Walid Hisyam bin Sa‘id al-Khair bin Fathun al-Qaisi al-Wasyqi (w. 430 H / 1038 M). Guru dalam hadis.
26. Ahmad bin Sa‘id bin Hazm, ayah Ibnu Hazm. Ia menjadi guru putranya terutama dalam sastra, fikih, dan sejarah. Kedudukannya dalam pemerintahan membuatnya memiliki pengetahuan luas tentang berbagai peristiwa politik dan sejarah yang kemudian disampaikannya kepada putranya. Ia juga berperan menanamkan sifat zuhud dan sabar kepada Ibnu Hazm.
27. Ahmad bin Umar al-Udzri. Guru dalam sejarah, hadis, dan ilmu hadis. Ibnu Hazm meriwayatkan darinya Mushannaf Abdurrazzaq, Al-Kamil karya Ibnu Adi, Musnad Abd bin Humaid, beberapa karya al-Bukhari, Sunan ad-Daraquthni, dan Al-Mustadrak karya al-Hakim.
28. Abu Sulaiman Dawud bin Yahya al-Mishri. Guru hadis. Ibnu Hazm meriwayatkan Ma‘ani al-Atsar karya ath-Thahawi darinya melalui mukatabah.
29. Abu Muhammad bin Masrur. Guru dalam hadis.
30. Abdullah bin Muhammad bin Ali al-Baji al-Qairawani. Guru hadis. Ibnu Hazm meriwayatkan Mushannaf Abdurrazzaq darinya.
31. Al-Bara’ bin Abdul Malik al-Baji al-Andalusi.
32. Abu al-Marja al-Husain bin Abdullah bin Dzarwan al-Mishri. Guru hadis. Ibnu Hazm meriwayatkan Musnad Ahmad darinya melalui mukatabah.
33. Abu Sulaiman Dawud bin Babsyadz Dawud bin Sulaiman. Guru hadis.
34. Ja‘far, maula Ahmad bin Hudair, yang dikenal sebagai al-Balisyi.
35. Abu al-Afiyah, maula Muhammad bin Abbas bin Abi Abdah.
36. Ibrahim bin Qasim al-Athrabulusi.
37. Abdullah bin Muhammad bin Abdul Malik bin Jahwar.
38. Abu Bakar bin Abi al-Fayyadh. Guru dalam bidang sejarah.

Guru dalam Kedokteran, Filsafat, dan Logika

Abu al-Futuh Tsabit bin Muhammad al-Jurjani al-Adawi (350–431 H / 961–1039 M). Guru dalam filsafat, logika, astronomi, hikmah, dan ilmu-ilmu klasik lainnya.

Abu Abdullah Muhammad bin al-Hasan al-Kinani al-Qurthubi (w. sekitar 426 H / 1034 M). Guru Ibnu Hazm dalam kedokteran, filsafat, dan logika.

Guru dalam Al-Qur’an dan Ilmu-Ilmunya

Abu Umar Ahmad bin Muhammad al-Ma‘afiri ath-Thalamanki (340–429 H / 951–1037 M).

Ia merupakan guru Ibnu Hazm dalam Al-Qur’an dan ilmu-ilmunya, hadis dan ilmu hadis, serta pokok-pokok agama. Ibnu Hazm meriwayatkan darinya sejumlah kitab, termasuk Musnad al-Bazzar dan Mushannaf Sa‘id bin Manshur.

Guru dalam Kajian Agama dan Sekte

Muhammad bin Ubaid, tidak diketahui tahun kelahiran dan wafatnya.

Abu al-Ash al-Hakam bin al-Mundzir bin Sa‘id al-Balluthi (w. 420 H / 1029 M). Guru dalam bidang sastra dan kajian agama-agama.

Guru dalam Bahasa dan Sastra

Di antaranya:

Abdul Aziz bin Muhammad bin Abdul Aziz, Abdurrahman bin Salamah al-Kinani, Abu Abdah Hassan bin Malik, dan Abu al-Hasan Ali bin Muhammad.

Sahabat-Sahabat Ibnu Hazm

Di antara sahabat dan tokoh yang memiliki hubungan dekat dengan Ibnu Hazm adalah:

Abu Umar Yusuf bin Abdullah bin Abdil Barr an-Namari (368–463 H / 978–1071 M), seorang ulama besar Maliki dan sahabat Ibnu Hazm.

Ahmad bin Abdul Malik bin Syahid (382–426 H / 992–1034 M), penulis Risalat at-Tawabi‘ wa az-Zawabi‘.

Ahmad bin Muhammad al-Khaulani, seorang penyair.

Ibrahim bin Yahya bin Muhammad at-Taimi (w. 407 H / 1016 M), seorang menteri.

Abu Ahmad Abdurrahman bin Khalaf al-Ma‘afiri ath-Thulaithuli, yang dikenal sebagai Ibnu al-Hawwat (w. sekitar 450 H / 1058 M), seorang fakih, ahli hadis, penyair, sastrawan, dan ahli debat.

Abu Syakir Abdul Wahid bin Muhammad bin Mauhab al-Qabri (w. 456 H / 1064 M), seorang fakih, ahli hadis, sastrawan, penyair, dan khatib.

Ahmad bin Rasyiq (w. 440 H / 1048 M), penguasa Mallorca yang memberikan perlindungan kepada Ibnu Hazm.

Abu Ja‘far Ahmad bin Abbas (w. 427 H / 1035 M), seorang menteri yang dikenal kuat dalam membela Ibnu Hazm.

Di antara sahabat lainnya ialah Mush‘ab bin Abdullah bin Muhammad al-Azdi, Abu Bakar Hisyam bin Muhammad, Abdurrahman bin Hisyam bin Abdul Jabbar, Abu al-Mutharrif Abdurrahman bin Ahmad bin Basyir, Abu Abdullah Muhammad bin Ali bin Abdurrauf, Ubaidullah bin Abdurrahman bin al-Mughirah, Ahmad bin Umar bin Anas, Abu Abdullah Muhammad bin Abdurrahman bin Uqbah, Abu Bakar Ibrahim bin Yahya bin Muhammad, Abu Abdullah Muhammad bin al-Hasan, Abu Bakar Muhammad bin Baqi al-Hajari, al-Hasan bin Baqi, Abdul Malik bin Ziyadatillah bin Ali bin al-Husain, Ahmad bin Muhammad bin Hamd bin Barr, Abu al-Muzhaffar Abdurrahman bin Ahmad bin Mahmud, Muhammad bin al-Walid bin Mukaisir, Abu as-Sari Ammar bin Ziyad, Abu Ishaq Ibrahim bin Isa ats-Tsaqafi, Abu Bakar Abdurrahman bin Sulaiman al-Balawi as-Sabti, Abu Bakar Muhammad bin Qasim al-Qurasyi asy-Syambanasi, Abu Amir Muhammad bin Amir, dan Abu Bakar Muhammad bin Ishaq.

Murid-Murid Ibnu Hazm

Di antara murid Ibnu Hazm yang terkenal adalah:

1. Abu Abdullah Muhammad bin Abi Nashr Futuh bin Abdullah bin Humaid al-Azdi, yang dikenal sebagai al-Humaidi (w. 491 H / 1097 M). Penulis Jadzwa al-Muqtabis. Ia tetap berpegang kepada Mazhab Zhahiri dan berusaha menyebarkannya di Andalusia maupun di wilayah Timur.
2. Abu Bakar Muhammad bin al-Walid al-Fihri ath-Thurthusyi (w. 520 H / 1126 M), penulis Siraj al-Muluk.
3. Muhammad bin Syuraih ar-Ru‘aini (392–476 H / 1001–1093 M).
4. Syuraih bin Muhammad bin Syuraih (w. 537 H / 1142 M). Ia memperoleh ijazah dari Ibnu Hazm.
5. Al-Husain bin Muhammad al-Katib.
6. Al-Husain bin Abdurrahim. Ia memperoleh ijazah dari Ibnu Hazm.
7. Abu Bakar Abdul Baqi bin Muhammad bin Baryal al-Hajari (416–502 H / 1025–1108 M). Ia tetap mengikuti Mazhab Zhahiri dan berperan menyebarkan serta menjaga karya-karya gurunya.
8. Umar bin Hayyan bin Khalaf bin Hayyan (w. 474 H / 1081 M), putra sejarawan terkenal Ibnu Hayyan.
9. Ali bin Sa‘id al-Abdari al-Mayurqi (w. setelah 491 H / 1097 M). Setelah wafatnya Ibnu Hazm, ia meninggalkan Mazhab Zhahiri dan kemudian mempelajari Mazhab Syafi‘i.
10. Abdul Malik bin Ziyadatillah bin Ali bin Husain al-Hammani al-Qurthubi (396–456 H / 1005–1064 M), murid sekaligus sahabat Ibnu Hazm.
11. Muhammad bin Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Maslamah al-Qurthubi (434–511 H / 1042–1117 M).
12. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad bin al-Arabi al-Ma‘afiri al-Isybili (435–493 H / 1043–1099 M). Ia mendampingi Ibnu Hazm selama tujuh tahun dan mendengar karya-karyanya, kecuali jilid terakhir kitab Al-Fishal. Ia juga memperoleh ijazah dari Ibnu Hazm lebih dari sekali.
13. Sha‘id bin Ahmad bin Abdurrahman bin Muhammad bin Sha‘id ats-Tsa‘labi (420–462 H / 1029–1069 M), qadhi Toledo dan penulis Thabaqat al-Umam.
14. Abu Bakar Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi (w. 450 H / 1058 M).
15. Abu Rafi‘ al-Fadhl bin Ali bin Hazm (w. 479 H / 1086 M).
16. Abu Usamah Ya‘qub bin Ali bin Hazm (w. 503 H / 1109 M).

17. Sa‘id bin Ali bin Hazm.

18. Abu Sulaiman al-Mush‘ab Ali bin Hazm.

Dengan demikian, jaringan keilmuan Ibnu Hazm sangat luas. Ia mengambil ilmu dari para ahli hadis, fikih, sejarah, Al-Qur’an, bahasa, perbandingan agama, kedokteran, filsafat, dan logika. Di antara murid-muridnya terdapat pula tokoh yang kemudian berperan penting dalam meriwayatkan karya-karyanya dan menyebarkan Mazhab Zhahiri.

Ibnu Hazm: Kedudukan Keilmuan dan Penilaian Ulama terhadap Akidahnya

Beliau adalah Abu Muhammad Ali bin Ahmad bin Sa‘id bin Hazm, berasal dari keturunan Persia, kemudian menjadi ulama Andalusia yang tinggal di Cordoba—semoga Allah merahmatinya—dan merupakan seorang ulama yang memiliki banyak karya tulis.

Orang yang memiliki pengetahuan sekecil apa pun tentang ilmu dan para ulama tidak akan meragukan kecerdasan Ibnu Hazm yang luar biasa, ketajaman pikirannya, serta pengagungannya terhadap Sunnah dan atsar. Namun, kesempurnaan adalah sesuatu yang langka. Tidak ada seorang pun kecuali sebagian perkataannya dapat diterima dan sebagian lainnya dapat ditinggalkan.

Sikap Ibnu Hazm terhadap Salaf dan Ahli Bid‘ah

Ibnu Hazm رحمه الله menjelaskan bahwa secara umum dirinya menempuh jalan Salaf dan meninggalkan ahli bid‘ah. Beliau berkata:

«وَإِنَّمَا نَعْنِي بِقَوْلِنَا الْعُلَمَاءَ مَنْ حُفِظَ عَنْهُ الْفُتْيَا مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَتَابِعِيهِمْ وَعُلَمَاءِ الْأَمْصَارِ وَأَئِمَّةِ أَهْلِ الْحَدِيثِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِينَ، وَلَسْنَا نَعْنِي أَبَا الْهُذَيْلِ وَلَا ابْنَ الْأَصَمِّ وَلَا بِشْرَ بْنَ الْمُعْتَمِرِ وَلَا إِبْرَاهِيمَ بْنَ سَيَّارٍ وَلَا جَعْفَرَ بْنَ حَرْبٍ وَلَا جَعْفَرَ بْنَ مُبَشِّرٍ وَلَا ثُمَامَةَ وَلَا أَبَا غِفَارٍ وَلَا الرَّقَاشِيَّ وَلَا الْأَزَارِقَةَ وَالصُّفْرِيَّةَ وَلَا جُهَّالَ الْإِبَاضِيَّةِ وَلَا أَهْلَ الرَّفْضِ؛ فَإِنَّ هَؤُلَاءِ لَمْ يَتَعَنَّوْا مِنْ تَثْقِيفِ الْآثَارِ وَمَعْرِفَةِ صَحِيحِهَا مِنْ سَقِيمِهَا وَلَا الْبَحْثَ عَنْ أَحْكَامِ الْقُرْآنِ لِتَمْيِيزِ حَقِّ الْفُتْيَا مِنْ بَاطِلِهَا بِطَرَفٍ مَحْمُودٍ، بَلِ اشْتَغَلُوا عَنْ ذَلِكَ بِالْجِدَالِ فِي أُصُولِ الِاعْتِقَادَاتِ، وَلِكُلِّ قَوْمٍ عِلْمُهُمْ».

“Yang kami maksud dengan ‘para ulama’ adalah orang-orang yang dinukil fatwanya dari kalangan sahabat, tabi‘in, generasi setelah mereka, para ulama berbagai negeri, para imam Ahlul Hadis, dan orang-orang yang mengikuti mereka—semoga Allah meridhai mereka semuanya.

Yang kami maksud bukanlah Abu al-Hudzail, Ibnu al-Ashamm, Bisyr bin al-Mu‘tamir, Ibrahim bin Sayyar, Ja‘far bin Harb, Ja‘far bin Mubasysyir, Tsumamah, Abu Ghifar, ar-Raqasyi, kelompok Azariqah dan Shufriyyah, orang-orang bodoh dari kalangan Ibadhiyyah, ataupun kaum Rafidhah.

Sebab, mereka tidak mencurahkan perhatian yang layak dalam meneliti atsar, membedakan yang sahih dari yang lemah, ataupun mengkaji hukum-hukum Al-Qur’an untuk membedakan fatwa yang benar dari yang batil. Sebaliknya, mereka disibukkan dari semua itu dengan perdebatan mengenai pokok-pokok akidah. Setiap kelompok memiliki bidang pengetahuannya masing-masing.”

(Ibnu Hazm, Marātib al-Ijmā‘, hlm. 12–15).

Meskipun Imam Ibnu Hazm sangat mengagungkan Sunnah dan para pengikutnya, memiliki penguasaan yang mendalam terhadap hadis dan ilmu-ilmunya, hafalan yang luas, serta pengetahuan yang sangat besar, beliau tetap memiliki sejumlah pendapat yang dinilai menyelisihi Sunnah dan para ulama Sunnah dalam beberapa persoalan usul maupun furu‘.

Penilaian Imam adz-Dzahabi

Imam adz-Dzahabi رحمه الله berkata dalam biografi Ibnu Hazm:

«نَشَأَ فِي تَنَعُّمٍ وَرَفَاهِيَةٍ، وَرُزِقَ ذَكَاءً مُفْرِطًا، وَذِهْنًا سَيَّالًا، وَكُتُبًا نَفِيسَةً كَثِيرَةً، وَكَانَ وَالِدُهُ مِنْ كُبَرَاءِ أَهْلِ قُرْطُبَةَ، عَمِلَ الْوِزَارَةَ فِي الدَّوْلَةِ الْعَامِرِيَّةِ، وَكَذَلِكَ وَزَرَ أَبُو مُحَمَّدٍ فِي شَبِيبَتِهِ، وَكَانَ قَدْ مَهَرَ أَوَّلًا فِي الْأَدَبِ وَالْأَخْبَارِ وَالشِّعْرِ، وَفِي الْمَنْطِقِ وَأَجْزَاءِ الْفَلْسَفَةِ، فَأَثَّرَتْ فِيهِ تَأْثِيرًا لَيْتَهُ سَلِمَ مِنْ ذَلِكَ، وَلَقَدْ وَقَفْتُ لَهُ عَلَى تَأْلِيفٍ يَحُضُّ فِيهِ عَلَى الِاعْتِنَاءِ بِالْمَنْطِقِ، وَيُقَدِّمُهُ عَلَى الْعُلُومِ، فَتَأَلَّمْتُ لَهُ، فَإِنَّهُ رَأْسٌ فِي عُلُومِ الْإِسْلَامِ، مُتَبَحِّرٌ فِي النَّقْلِ، عَدِيمُ النَّظِيرِ؛ عَلَى يُبْسٍ فِيهِ، وَفَرْطِ ظَاهِرِيَّةٍ فِي الْفُرُوعِ لَا الْأُصُولِ».

“Ibnu Hazm tumbuh dalam kemewahan dan kehidupan yang berkecukupan. Ia dianugerahi kecerdasan yang luar biasa, pikiran yang sangat lancar, serta banyak kitab yang berharga. Ayahnya termasuk pembesar penduduk Cordoba dan pernah menjabat sebagai menteri pada pemerintahan al-‘Amiriyyah. Abu Muhammad [Ibnu Hazm] juga pernah menjadi menteri pada masa mudanya.

Pada awalnya ia sangat menguasai sastra, sejarah, syair, ilmu logika, dan beberapa bagian filsafat. Ilmu-ilmu tersebut memberikan pengaruh kepadanya—seandainya saja ia selamat dari pengaruh tersebut.

Aku pernah membaca sebuah karyanya yang mendorong untuk memberikan perhatian kepada ilmu logika dan mendahulukannya atas ilmu-ilmu lainnya. Aku merasa prihatin karenanya. Padahal ia adalah seorang tokoh besar dalam ilmu-ilmu Islam, sangat mendalam dalam ilmu naqli, dan hampir tidak ada tandingannya; meskipun terdapat kekakuan pada dirinya dan sikap Zhahiri yang sangat kuat dalam persoalan furu‘, bukan dalam persoalan usul.”

Kemudian adz-Dzahabi berkata:

«قِيلَ: إِنَّهُ تَفَقَّهَ أَوَّلًا لِلشَّافِعِيِّ، ثُمَّ أَدَّاهُ اجْتِهَادُهُ إِلَى الْقَوْلِ بِنَفْيِ الْقِيَاسِ كُلِّهِ جَلِيِّهِ وَخَفِيِّهِ، وَالْأَخْذِ بِظَاهِرِ النَّصِّ وَعُمُومِ الْكِتَابِ وَالْحَدِيثِ، وَالْقَوْلِ بِالْبَرَاءَةِ الْأَصْلِيَّةِ، وَاسْتِصْحَابِ الْحَالِ، وَصَنَّفَ فِي ذَلِكَ كُتُبًا كَثِيرَةً، وَنَاظَرَ عَلَيْهِ، وَبَسَطَ لِسَانَهُ وَقَلَمَهُ، وَلَمْ يَتَأَدَّبْ مَعَ الْأَئِمَّةِ فِي الْخِطَابِ، بَلْ فَجَّجَ الْعِبَارَةَ، وَسَبَّ وَجَدَّعَ، فَكَانَ جَزَاؤُهُ مِنْ جِنْسِ فِعْلِهِ…»

“Disebutkan bahwa pada mulanya ia mempelajari fikih menurut Mazhab Syafi‘i. Kemudian ijtihadnya membawanya kepada pendapat menolak seluruh bentuk qiyas, baik yang jelas maupun yang tersembunyi. Ia berpegang kepada makna lahiriah nash serta keumuman Al-Qur’an dan hadis, berpendapat dengan prinsip bara’ah ashliyyah dan istishhab.

Ia menulis banyak kitab mengenai hal tersebut dan berdebat untuk mempertahankannya. Ia sangat leluasa menggunakan lisan dan penanya serta tidak menjaga adab dalam berbicara mengenai para imam. Bahkan ungkapannya kasar; ia mencela dan melontarkan perkataan keras. Maka balasan yang diterimanya sejenis dengan perbuatannya.”

Adz-Dzahabi melanjutkan:

«بِحَيْثُ إِنَّهُ أَعْرَضَ عَنْ تَصَانِيفِهِ جَمَاعَةٌ مِنَ الْأَئِمَّةِ، وَهَجَرُوهَا، وَنَفَرُوا مِنْهَا، وَأُحْرِقَتْ فِي وَقْتٍ، وَاعْتَنَى بِهَا آخَرُونَ مِنَ الْعُلَمَاءِ، وَفَتَّشُوهَا انْتِقَادًا وَاسْتِفَادَةً، وَأَخْذًا وَمُؤَاخَذَةً، وَرَأَوْا فِيهَا الدُّرَّ الثَّمِينَ مَمْزُوجًا فِي الرَّصْفِ بِالْخَرَزِ الْمَهِينِ، فَتَارَةً يَطْرَبُونَ، وَمَرَّةً يَعْجَبُونَ، وَمِنْ تَفَرُّدِهِ يَهْزَؤُونَ».

“Akibatnya, sejumlah imam berpaling dari karya-karyanya, meninggalkannya, dan menjauh darinya. Bahkan karya-karyanya pernah dibakar. Namun, sebagian ulama lainnya justru memberikan perhatian kepadanya. Mereka menelitinya untuk mengkritik sekaligus mengambil manfaat, menerima sebagian dan mengkritik sebagian lainnya.

Mereka melihat di dalam karya-karyanya mutiara yang sangat berharga, tetapi tersusun bercampur dengan manik-manik yang rendah nilainya. Terkadang mereka merasa kagum dan senang, pada kesempatan lain mereka merasa heran, dan terhadap sebagian pendapatnya yang menyendiri mereka mencelanya.”

Kemudian adz-Dzahabi memberikan penilaian yang seimbang:

«وَفِي الْجُمْلَةِ فَالْكَمَالُ عَزِيزٌ، وَكُلُّ أَحَدٍ يُؤْخَذُ مِنْ قَوْلِهِ وَيُتْرَكُ، إِلَّا رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم. وَكَانَ يَنْهَضُ بِعُلُومٍ جَمَّةٍ، وَيُجِيدُ النَّقْلَ، وَيُحْسِنُ النَّظْمَ وَالنَّثْرَ. وَفِيهِ دِينٌ وَخَيْرٌ، وَمَقَاصِدُهُ جَمِيلَةٌ، وَمُصَنَّفَاتُهُ مُفِيدَةٌ، وَقَدْ زَهِدَ فِي الرِّئَاسَةِ، وَلَزِمَ مَنْزِلَهُ مُكِبًّا عَلَى الْعِلْمِ، فَلَا نَغْلُو فِيهِ، وَلَا نَجْفُو عَنْهُ، وَقَدْ أَثْنَى عَلَيْهِ قَبْلَنَا الْكِبَارُ».

“Secara umum, kesempurnaan itu langka. Setiap orang dapat diambil sebagian perkataannya dan ditinggalkan sebagian lainnya, kecuali Rasulullah ﷺ.

Ibnu Hazm menguasai banyak disiplin ilmu, sangat baik dalam menukil riwayat, serta mahir dalam syair dan prosa. Pada dirinya terdapat agama dan kebaikan. Tujuan-tujuannya baik dan karya-karyanya bermanfaat.

Ia telah meninggalkan ambisi kepemimpinan dan menetap di rumahnya dengan mencurahkan perhatian kepada ilmu. Oleh karena itu, kita tidak boleh berlebihan dalam mengagungkannya dan tidak pula bersikap tidak adil kepadanya. Para ulama besar sebelum kita pun telah memujinya.”

(Adz-Dzahabi, Siyar A‘lām an-Nubalā’, 18/186–187; biografi lengkap Ibnu Hazm terdapat pada 18/184–212).

Penilaian Ibnu Katsir

Ibnu Katsir رحمه الله berkata:

«كَانَ مِنْ أَشَدِّ النَّاسِ تَأْوِيلًا فِي بَابِ الْأُصُولِ وَآيَاتِ الصِّفَاتِ؛ لِأَنَّهُ كَانَ أَوَّلًا قَدْ تَضَلَّعَ مِنْ عِلْمِ الْمَنْطِقِ، أَخَذَهُ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْحَسَنِ الْمَذْحِجِيِّ الْكِنَانِيِّ الْقُرْطُبِيِّ، فَفَسَدَ بِذَلِكَ حَالُهُ فِي بَابِ الصِّفَاتِ».

“Ibnu Hazm termasuk orang yang paling banyak melakukan takwil dalam masalah usul dan ayat-ayat sifat. Hal itu karena pada awalnya ia telah mendalami ilmu logika yang dipelajarinya dari Muhammad bin al-Hasan al-Madzhhaji al-Kinani al-Qurthubi. Akibatnya, hal tersebut merusak pendiriannya dalam pembahasan sifat-sifat Allah.”

Kedudukan Kitab Al-Muhalla

Adapun mengenai kitab Al-Muḥallā, Imam adz-Dzahabi menyebutkan dalam As-Siyar bahwa Syekh Izzuddin bin Abdissalam—yang merupakan salah seorang mujtahid—berkata:

«مَا رَأَيْتُ فِي كُتُبِ الْإِسْلَامِ فِي الْعِلْمِ مِثْلَ الْمُحَلَّى لِابْنِ حَزْمٍ، وَكِتَابِ الْمُغْنِي لِابْنِ قُدَامَةَ».

“Aku tidak pernah melihat dalam kitab-kitab Islam, dalam hal keluasan ilmu, karya seperti Al-Muḥallā karya Ibnu Hazm dan Al-Mughnī karya Ibnu Qudamah.”

Adz-Dzahabi kemudian berkata:

«قُلْتُ: صَدَقَ الشَّيْخُ عِزُّ الدِّينِ، وَثَالِثُهُمَا السُّنَنُ الْكُبْرَى لِلْبَيْهَقِيِّ، وَرَابِعُهَا التَّمْهِيدُ لِابْنِ عَبْدِ الْبَرِّ، فَمَنْ حَصَّلَ هَذِهِ الدَّوَاوِينَ، وَكَانَ مِنْ أَذْكِيَاءِ الْمُفْتِينَ، وَأَدْمَنَ الْمُطَالَعَةَ فِيهَا، فَهُوَ الْعَالِمُ حَقًّا».

“Aku katakan: Syekh Izzuddin benar. Kitab ketiga setelah keduanya adalah As-Sunan al-Kubrā karya al-Baihaqi, dan yang keempat adalah At-Tamhīd karya Ibnu Abdil Barr. Barang siapa menguasai kitab-kitab besar tersebut, termasuk mufti yang cerdas, serta terus-menerus menelaahnya, maka dialah seorang alim yang sebenarnya.”

Penilaian Ibnu Taimiyah terhadap Keilmuan Hadis Ibnu Hazm

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata:

«فَالْمَسْأَلَةُ الَّتِي يَكُونُ فِيهَا حَدِيثٌ، يَكُونُ جَانِبُهُ فِيهَا ظَاهِرَ التَّرْجِيحِ، وَلَهُ مِنَ التَّمْيِيزِ بَيْنَ الصَّحِيحِ وَالضَّعِيفِ وَالْمَعْرِفَةِ بِأَقْوَالِ السَّلَفِ مَا لَا يَكَادُ يَقَعُ مِثْلُهُ لِغَيْرِهِ مِنَ الْفُقَهَاءِ».

“Dalam suatu masalah yang terdapat hadis di dalamnya, sisi pendapat Ibnu Hazm biasanya tampak lebih kuat. Ia memiliki kemampuan membedakan antara hadis sahih dan lemah serta pengetahuan terhadap perkataan-perkataan Salaf dengan kadar yang hampir tidak ditemukan pada fuqaha lainnya.”

Pujian Para Ulama terhadap Ibnu Hazm

Para ulama besar, baik dahulu maupun belakangan, telah memberikan pujian kepada al-‘Allamah Ibnu Hazm.

Imam adz-Dzahabi رحمه الله berkata dalam As-Siyar:

«الْإِمَامُ الْأَوْحَدُ، الْبَحْرُ، ذُو الْفُنُونِ وَالْمَعَارِفِ، الْفَقِيهُ الْحَافِظُ الْمُتَكَلِّمُ الْأَدِيبُ الْوَزِيرُ الظَّاهِرِيُّ صَاحِبُ التَّصَانِيفِ».

“Seorang imam yang tiada duanya, lautan ilmu, pemilik berbagai disiplin ilmu dan pengetahuan, seorang fakih, hafizh, ahli dalam pembahasan teologis, sastrawan, menteri, tokoh Zhahiri, dan pemilik banyak karya tulis.”

Adz-Dzahabi melanjutkan:

«رُزِقَ ذَكَاءً مُفْرِطًا، وَذِهْنًا سَيَّالًا، وَكُتُبًا نَفِيسَةً، مَهَرَ أَوَّلًا فِي الْأَدَبِ وَالْأَخْبَارِ وَالشِّعْرِ، وَفِي الْمَنْطِقِ وَأَجْزَاءِ الْفَلْسَفَةِ، فَأَثَّرَتْ فِيهِ تَأْثِيرًا لَيْتَهُ سَلِمَ مِنْ ذَلِكَ، فَإِنَّهُ رَأْسٌ فِي عُلُومِ الْإِسْلَامِ، مُتَبَحِّرٌ فِي النَّقْلِ، عَدِيمُ النَّظِيرِ، عَلَى يُبْسٍ فِيهِ وَفَرْطِ ظَاهِرِيَّةٍ فِي الْفُرُوعِ لَا الْأُصُولِ».

“Ia dianugerahi kecerdasan yang luar biasa, pikiran yang sangat lancar, dan kitab-kitab yang berharga. Pada awalnya ia sangat menguasai sastra, sejarah, syair, ilmu logika, dan beberapa bagian filsafat. Semua itu memberikan pengaruh kepadanya—seandainya saja ia selamat dari pengaruh tersebut. Sebab ia adalah seorang tokoh besar dalam ilmu-ilmu Islam, sangat mendalam dalam ilmu naqli, dan hampir tidak ada tandingannya, meskipun terdapat kekakuan pada dirinya dan kecenderungan Zhahiri yang sangat kuat dalam masalah furu‘, bukan usul.”

Adz-Dzahabi juga berkata:

«وَبَسَطَ لِسَانَهُ وَقَلَمَهُ، وَلَمْ يَتَأَدَّبْ مَعَ الْأَئِمَّةِ فِي الْخِطَابِ، بَلْ فَجَّجَ الْعِبَارَةَ، وَسَبَّ وَجَدَّعَ، فَكَانَ جَزَاؤُهُ مِنْ جِنْسِ فِعْلِهِ، بِحَيْثُ أَعْرَضَ عَنْ تَصَانِيفِهِ جَمَاعَةٌ مِنَ الْأَئِمَّةِ، هَجَرُوهَا وَنَفَرُوا مِنْهَا».

“Ia membebaskan lisan dan penanya [dalam mengkritik], dan tidak menjaga adab ketika berbicara mengenai para imam. Bahkan ungkapannya kasar, mencela, dan melontarkan perkataan keras. Maka balasan yang diterimanya sejenis dengan perbuatannya. Akibatnya, sejumlah imam berpaling dari karya-karyanya, meninggalkannya, dan menjauh darinya.”

Namun adz-Dzahabi kemudian memberikan penilaian yang seimbang:

«وَبِالْجُمْلَةِ فَالْكَمَالُ عَزِيزٌ، وَكُلٌّ يُؤْخَذُ مِنْ قَوْلِهِ وَيُتْرَكُ إِلَّا رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم، فَلَا نَغْلُو فِيهِ وَلَا نَجْفُو عَنْهُ، وَقَدْ أَثْنَى عَلَيْهِ قَبْلَنَا الْكِبَارُ».

“Secara keseluruhan, kesempurnaan itu langka. Setiap orang dapat diambil sebagian perkataannya dan ditinggalkan sebagian lainnya, kecuali Rasulullah ﷺ. Oleh karena itu, kita tidak berlebihan dalam mengagungkannya dan tidak pula bersikap tidak adil terhadapnya. Para ulama besar sebelum kita pun telah memujinya.”

Pujian Al-Humaidi

Al-Humaidi رحمه الله berkata:

«كَانَ ابْنُ حَزْمٍ حَافِظًا لِلْحَدِيثِ وَفِقْهِهِ، مُسْتَنْبِطًا لِلْأَحْكَامِ مِنَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ، مُتَفَنِّنًا فِي عُلُومٍ جَمَّةٍ، عَامِلًا بِعِلْمِهِ، مَا رَأَيْنَا مِثْلَهُ فِيمَا اجْتَمَعَ لَهُ مِنَ الذَّكَاءِ وَسُرْعَةِ الْحِفْظِ وَكَرَمِ النَّفْسِ وَالتَّدَيُّنِ».

“Ibnu Hazm adalah seorang hafizh dalam hadis dan fikih hadis, mampu menggali hukum-hukum dari Al-Qur’an dan Sunnah, menguasai banyak cabang ilmu, serta mengamalkan ilmunya. Kami belum pernah melihat orang seperti dirinya dalam perpaduan kecerdasan, kecepatan menghafal, kemuliaan jiwa, dan keberagamaan yang terkumpul pada dirinya.”

Penilaian Terperinci Ibnu Taimiyah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata:

«وَكَذَلِكَ أَبُو مُحَمَّدِ بْنُ حَزْمٍ فِيمَا صَنَّفَهُ مِنَ الْمِلَلِ وَالنِّحَلِ، فَإِنَّهُ يُسْتَحْمَدُ بِمُوَافَقَةِ السُّنَّةِ وَالْحَدِيثِ، مِثْلَ مَا ذَكَرَهُ فِي مَسَائِلِ الْقَدَرِ وَالْإِرْجَاءِ وَنَحْوِ ذَلِكَ، بِخِلَافِ مَا انْفَرَدَ بِهِ مِنْ قَوْلِهِ فِي التَّفْضِيلِ بَيْنَ الصَّحَابَةِ».

“Demikian pula Abu Muhammad Ibnu Hazm dalam karya-karyanya mengenai agama-agama dan kelompok-kelompok. Ia patut dipuji ketika bersesuaian dengan Sunnah dan hadis, seperti apa yang disebutkannya dalam persoalan takdir, irja’, dan yang semisalnya. Hal ini berbeda dengan pendapat-pendapat yang menjadi kekhususannya, seperti pandangannya mengenai pengutamaan di antara para sahabat.”

Ibnu Taimiyah melanjutkan:

«وَكَذَلِكَ مَا ذَكَرَهُ مِنْ بَابِ الصِّفَاتِ فَإِنَّهُ يُسْتَحْمَدُ فِيهِ بِمُوَافَقَةِ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْحَدِيثِ لِكَوْنِهِ يُثْبِتُ الْأَحَادِيثَ الصَّحِيحَةَ وَيُعَظِّمُ السَّلَفَ وَأَئِمَّةَ الْحَدِيثِ، وَيَقُولُ إِنَّهُ مُوَافِقٌ لِلْإِمَامِ أَحْمَدَ فِي مَسْأَلَةِ الْقُرْآنِ وَغَيْرِهَا، وَلَا رَيْبَ أَنَّهُ مُوَافِقٌ لَهُ وَلَهُمْ فِي بَعْضِ ذَلِكَ».

“Demikian pula apa yang disebutkannya dalam bab sifat. Ia patut dipuji dalam bagian yang bersesuaian dengan Ahlus Sunnah dan Ahlul Hadis, karena ia menetapkan hadis-hadis sahih serta mengagungkan Salaf dan para imam hadis. Ia mengatakan bahwa dirinya sejalan dengan Imam Ahmad dalam persoalan Al-Qur’an dan masalah lainnya. Tidak diragukan bahwa dalam sebagian perkara tersebut ia memang sejalan dengan Imam Ahmad dan mereka.”

Namun beliau kemudian menjelaskan letak penyimpangannya:

«وَإِنْ كَانَ ابْنُ حَزْمٍ فِي مَسَائِلِ الْإِيمَانِ وَالْقَدَرِ أَقْوَمَ مِنْ غَيْرِهِ وَأَعْلَمَ بِالْحَدِيثِ وَأَكْثَرَ تَعْظِيمًا لَهُ وَلِأَهْلِهِ مِنْ غَيْرِهِ، لَكِنْ قَدْ خَالَطَ مِنْ أَقْوَالِ الْفَلَاسِفَةِ وَالْمُعْتَزِلَةِ فِي مَسَائِلِ الصِّفَاتِ مَا صَرَفَهُ عَنْ مُوَافَقَةِ أَهْلِ الْحَدِيثِ فِي مَعَانِي مَذْهَبِهِمْ فِي ذَلِكَ، فَوَافَقَ هَؤُلَاءِ فِي اللَّفْظِ وَهَؤُلَاءِ فِي الْمَعْنَى».

“Meskipun Ibnu Hazm dalam persoalan iman dan takdir lebih lurus daripada sebagian yang lain, lebih mengetahui hadis, serta lebih mengagungkan hadis dan para ahlinya daripada yang lain, tetapi dalam persoalan sifat telah bercampur ke dalam pemikirannya sejumlah pendapat filsuf dan Mu‘tazilah. Hal tersebut menjauhkannya dari kesesuaian dengan Ahlul Hadis dalam memahami hakikat mazhab mereka dalam persoalan tersebut. Akibatnya, ia bersesuaian dengan kelompok ini dalam lafaz dan dengan kelompok lainnya dalam makna.”

Ibnu Taimiyah melanjutkan:

«وَبِمِثْلِ هَذَا صَارَ يَذُمُّهُ مَنْ يَذُمُّهُ مِنَ الْفُقَهَاءِ وَالْمُتَكَلِّمِينَ وَعُلَمَاءِ الْحَدِيثِ بِاتِّبَاعِهِ لِظَاهِرٍ لَا بَاطِنَ لَهُ، كَمَا نَفَى الْمَعَانِيَ فِي الْأَمْرِ وَالنَّهْيِ، مَضْمُومًا إِلَى مَا فِي كَلَامِهِ مِنَ الْوَقِيعَةِ فِي الْأَكَابِرِ وَالْإِسْرَافِ فِي نَفْيِ الْمَعَانِي وَدَعْوَى مُتَابَعَةِ الظَّاهِرِ».

“Karena perkara seperti inilah, sebagian fuqaha, ahli kalam, dan ulama hadis mengkritiknya karena dianggap mengikuti makna zahir yang tidak memiliki kedalaman makna, sebagaimana ia menafikan berbagai makna dalam masalah perintah dan larangan. Ditambah lagi dengan perkataannya yang mencela sejumlah tokoh besar, sikapnya yang berlebihan dalam menafikan makna-makna, serta klaimnya mengikuti makna zahir.”

Meskipun demikian, Ibnu Taimiyah kembali menegaskan keutamaan Ibnu Hazm:

«وَإِنْ كَانَ لَهُ مِنَ الْإِيمَانِ وَالدِّينِ وَالْعُلُومِ الْوَاسِعَةِ الْكَثِيرَةِ مَا لَا يَدْفَعُهُ إِلَّا مُكَابِرٌ، وَيُوجَدُ فِي كُتُبِهِ مِنْ كَثْرَةِ الِاطِّلَاعِ وَالْمَعْرِفَةِ بِالْأَحْوَالِ وَالتَّعْظِيمِ لِدَعَائِمِ الْإِسْلَامِ مَا لَا يَجْتَمِعُ مِثْلُهُ لِغَيْرِهِ».

“Namun, Ibnu Hazm memiliki keimanan, agama, serta ilmu-ilmu yang luas dan banyak yang tidak akan diingkari kecuali oleh orang yang keras kepala. Dalam kitab-kitabnya terdapat keluasan telaah, pengetahuan tentang berbagai keadaan, dan pengagungan terhadap fondasi-fondasi Islam dengan kadar yang sulit ditemukan terkumpul pada orang lain.”

Beliau kemudian berkata:

«فَالْمَسْأَلَةُ الَّتِي يَكُونُ فِيهَا حَدِيثٌ، يَكُونُ جَانِبُهُ فِيهَا ظَاهِرَ التَّرْجِيحِ. وَلَهُ مِنَ التَّمْيِيزِ بَيْنَ الصَّحِيحِ وَالضَّعِيفِ وَالْمَعْرِفَةِ بِأَقْوَالِ السَّلَفِ مَا لَا يَكَادُ يَقَعُ مِثْلُهُ لِغَيْرِهِ مِنَ الْفُقَهَاءِ».

“Dalam persoalan yang terdapat hadis di dalamnya, sisi Ibnu Hazm biasanya tampak lebih kuat. Ia memiliki kemampuan membedakan antara hadis sahih dan lemah serta pengetahuan tentang perkataan Salaf dengan kadar yang hampir tidak ditemukan pada fuqaha lainnya.”

(Ibnu Taimiyah, Majmū‘ al-Fatāwā, 4/19–20).

Kritik Ibnu Taimiyah terhadap Ibnu Hazm dalam Bab Sifat

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله juga berkata:

«وَكَذَلِكَ أَبُو مُحَمَّدِ بْنُ حَزْمٍ مَعَ مَعْرِفَتِهِ بِالْحَدِيثِ وَانْتِصَارِهِ لِطَرِيقَةِ دَاوُدَ وَأَمْثَالِهِ مِنْ نُفَاةِ الْقِيَاسِ أَصْحَابِ الظَّاهِرِ قَدْ بَالَغَ فِي نَفْيِ الصِّفَاتِ وَرَدِّهَا إِلَى الْعِلْمِ، مَعَ أَنَّهُ لَا يُثْبِتُ عِلْمًا هُوَ صِفَةٌ، وَيَزْعُمُ أَنَّ أَسْمَاءَ اللَّهِ كَالْعَلِيمِ وَالْقَدِيرِ وَنَحْوِهِمَا لَا تَدُلُّ عَلَى الْعِلْمِ وَالْقُدْرَةِ، وَيَنْتَسِبُ إِلَى الْإِمَامِ أَحْمَدَ وَأَمْثَالِهِ مِنْ أَئِمَّةِ السُّنَّةِ، وَيَدَّعِي أَنَّ قَوْلَهُ هُوَ قَوْلُ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْحَدِيثِ».

“Demikian pula Abu Muhammad Ibnu Hazm. Meskipun ia memiliki pengetahuan tentang hadis dan membela metode Dawud [azh-Zhahiri] serta orang-orang semisalnya dari kalangan Zhahiriyyah yang menolak qiyas, ia sangat jauh dalam menafikan sifat-sifat dan mengembalikannya kepada ilmu. Padahal ia sendiri tidak menetapkan adanya ilmu sebagai suatu sifat.

Ia beranggapan bahwa nama-nama Allah seperti Al-‘Alīm (Yang Maha Mengetahui), Al-Qadīr (Yang Mahakuasa), dan yang semisalnya tidak menunjukkan sifat ilmu dan kekuasaan. Ia menisbatkan dirinya kepada Imam Ahmad dan imam-imam Sunnah yang semisalnya serta mengklaim bahwa pendapatnya adalah pendapat Ahlus Sunnah dan Ahlul Hadis.”

Kemudian Ibnu Taimiyah berkata:

«وَيَذُمُّ الْأَشْعَرِيَّ وَأَصْحَابَهُ ذَمًّا عَظِيمًا، وَيَدَّعِي أَنَّهُمْ خَرَجُوا عَنْ مَذْهَبِ السُّنَّةِ وَالْحَدِيثِ فِي الصِّفَاتِ. وَمِنَ الْمَعْلُومِ الَّذِي لَا يُمْكِنُ مُدَافَعَتُهُ أَنَّ مَذْهَبَ الْأَشْعَرِيِّ وَأَصْحَابِهِ فِي مَسَائِلِ الصِّفَاتِ أَقْرَبُ إِلَى مَذْهَبِ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْحَدِيثِ مِنْ مَذْهَبِ ابْنِ حَزْمٍ وَأَمْثَالِهِ فِي ذَلِكَ».

“Ia sangat keras mencela al-Asy‘ari dan para pengikutnya serta mengklaim bahwa mereka telah keluar dari mazhab Sunnah dan hadis dalam persoalan sifat. Padahal termasuk perkara yang diketahui dan tidak dapat ditolak bahwa mazhab al-Asy‘ari dan para pengikutnya dalam persoalan sifat lebih dekat kepada mazhab Ahlus Sunnah dan Ahlul Hadis daripada mazhab Ibnu Hazm dan orang-orang semisalnya dalam masalah tersebut.”

(Ibnu Taimiyah, Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql, 3/24).

Ibnu Hazm dan Dalalah Asmaul Husna terhadap Sifat

Ibnu Taimiyah رحمه الله juga berkata:

«وَزَعَمَ ابْنُ حَزْمٍ أَنَّ أَسْمَاءَ اللَّهِ تَعَالَى الْحُسْنَى لَا تَدُلُّ عَلَى الْمَعَانِي، وَهَذَا يُشْبِهُ قَوْلَ مَنْ يَقُولُ بِأَنَّهَا تُقَالُ بِالِاشْتِرَاكِ اللَّفْظِيِّ…»

“Ibnu Hazm beranggapan bahwa nama-nama Allah Ta‘ala yang indah tidak menunjukkan makna-makna [sifat]. Pendapat ini menyerupai pendapat orang yang mengatakan bahwa nama-nama tersebut digunakan hanya berdasarkan kesamaan lafaz.”

Kemudian beliau menjelaskan sumber kekeliruan tersebut:

«وَهَذَا مَأْخَذُ ابْنِ حَزْمٍ؛ فَإِنَّهُ مِنْ نُفَاةِ الصِّفَاتِ مَعَ تَعْظِيمِهِ لِلْحَدِيثِ وَالسُّنَّةِ وَالْإِمَامِ أَحْمَدَ، وَدَعْوَاهُ أَنَّ الَّذِي يَقُولُهُ فِي ذَلِكَ هُوَ مَذْهَبُ أَحْمَدَ وَغَيْرِهِ، وَغَلَطُهُ فِي ذَلِكَ بِسَبَبِ أَنَّهُ أَخَذَ أَشْيَاءَ مِنْ أَقْوَالِ الْفَلَاسِفَةِ وَالْمُعْتَزِلَةِ عَنْ بَعْضِ شُيُوخِهِ، وَلَمْ يَتَّفِقْ لَهُ مَنْ يُبَيِّنُ لَهُ خَطَأَهُمْ، وَنَقَلَ الْمَنْطِقَ بِالْإِسْنَادِ عَنْ مَتَّى التَّرْجُمَانِ».

“Inilah landasan Ibnu Hazm. Ia termasuk orang yang menafikan sifat-sifat, meskipun ia sangat mengagungkan hadis, Sunnah, dan Imam Ahmad. Ia mengklaim bahwa pendapatnya dalam persoalan tersebut merupakan mazhab Imam Ahmad dan ulama lainnya.

Kekeliruannya dalam masalah ini terjadi karena ia mengambil beberapa pendapat filsuf dan Mu‘tazilah dari sebagian gurunya, sementara ia tidak mendapatkan orang yang menjelaskan kepadanya kekeliruan mereka. Ia juga meriwayatkan ilmu logika dengan sanad dari Matta sang penerjemah.”

(Ibnu Taimiyah, Minhāj as-Sunnah an-Nabawiyyah, 2/353).

Penilaian Ibnu Katsir

Al-Hafizh Ibnu Katsir رحمه الله berkata:

«كَانَ كَثِيرَ الْوَقِيعَةِ فِي الْعُلَمَاءِ بِلِسَانِهِ وَقَلَمِهِ، فَأَوْرَثَهُ ذَلِكَ حِقْدًا فِي قُلُوبِ أَهْلِ زَمَانِهِ، وَمَا زَالُوا بِهِ حَتَّى بَغَّضُوهُ إِلَى مُلُوكِهِمْ، فَطَرَدُوهُ عَنْ بِلَادِهِ، حَتَّى كَانَتْ وَفَاتُهُ فِي قَرْيَةٍ لَهُ فِي شَعْبَانَ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ».

“Ibnu Hazm banyak melontarkan kritik terhadap para ulama melalui lisan dan penanya. Hal itu menimbulkan kebencian dalam hati sebagian orang pada zamannya terhadap dirinya. Mereka terus menentangnya hingga membuat para penguasa tidak menyukainya dan mengusirnya dari negerinya. Hingga akhirnya ia wafat di sebuah desa miliknya pada bulan Sya‘ban tahun tersebut.”

Kemudian Ibnu Katsir berkata:

«وَالْعَجَبُ كُلُّ الْعَجَبِ مِنْهُ أَنَّهُ كَانَ ظَاهِرِيًّا حَائِرًا فِي الْفُرُوعِ، لَا يَقُولُ بِشَيْءٍ مِنَ الْقِيَاسِ لَا الْجَلِيِّ وَلَا غَيْرِهِ… وَكَانَ مَعَ هَذَا مِنْ أَشَدِّ النَّاسِ تَأْوِيلًا فِي بَابِ الْأُصُولِ، وَآيَاتِ الصِّفَاتِ وَأَحَادِيثِ الصِّفَاتِ؛ لِأَنَّهُ كَانَ أَوَّلًا قَدْ تَضَلَّعَ مِنْ عِلْمِ الْمَنْطِقِ…»

“Yang sangat mengherankan darinya adalah bahwa dalam masalah furu‘ ia seorang Zhahiri yang tidak menerima qiyas sedikit pun, baik qiyas jali maupun selainnya. Hal inilah yang menurunkan kedudukannya di sisi sebagian ulama dan menyebabkan banyak kekeliruan dalam penalaran dan penerapannya.

Namun bersamaan dengan itu, dalam masalah usul, ayat-ayat sifat, dan hadis-hadis sifat, ia justru termasuk orang yang sangat banyak melakukan takwil. Sebab pada awalnya ia telah mendalami ilmu logika.”

Ibnu Katsir menyebut bahwa Ibnu Hazm mempelajarinya dari Muhammad bin al-Hasan al-Madzhhaji al-Kinani al-Qurthubi, kemudian mengatakan:

«فَفَسَدَ بِذَلِكَ حَالُهُ فِي بَابِ الصِّفَاتِ».

“Karena hal tersebut, pendiriannya dalam bab sifat menjadi rusak.”

(Ibnu Katsir, Al-Bidāyah wa an-Nihāyah, 12/113. Lihat pula Ibnu Abdil Hadi, Ṭabaqāt ‘Ulamā’ al-Ḥadīts, 3/349).

Penilaian Ulama Al-Lajnah Ad-Da’imah

Para ulama Al-Lajnah Ad-Da’imah mengatakan tentang Ibnu Hazm:

«مِنَ الْعُلَمَاءِ الْمُبَرِّزِينَ فِي الْأُصُولِ، وَالْفُرُوعِ، وَفِي عِلْمِ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ، إِلَّا أَنَّهُ خَالَفَ جُمْهُورَ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي مَسَائِلَ كَثِيرَةٍ أَخْطَأَ فِيهَا الصَّوَابَ؛ لِجُمُودِهِ عَلَى الظَّاهِرِ، وَعَدَمِ قَوْلِهِ بِالْقِيَاسِ الْجَلِيِّ الْمُسْتَوْفِي لِلشُّرُوطِ الْمُعْتَبَرَةِ، وَخَطَؤُهُ فِي الْعَقِيدَةِ بِتَأْوِيلِ نُصُوصِ الْأَسْمَاءِ وَالصِّفَاتِ أَشَدُّ وَأَعْظَمُ».

“Ibnu Hazm termasuk ulama terkemuka dalam bidang usul, furu‘, serta ilmu Al-Qur’an dan Sunnah. Akan tetapi, ia menyelisihi mayoritas ulama dalam banyak persoalan dan tidak mencapai kebenaran dalam persoalan-persoalan tersebut karena kekakuannya dalam berpegang kepada makna zahir dan karena tidak menerima qiyas jali yang telah memenuhi syarat-syarat yang diakui.

Adapun kekeliruannya dalam masalah akidah berupa penakwilan terhadap nash-nash nama dan sifat Allah lebih berat dan lebih besar.”

(Fatāwā al-Lajnah ad-Dā’imah, 12/223).

Kesimpulan

Secara umum, Ibnu Hazm رحمه الله menyelisihi Ahlus Sunnah dalam sejumlah persoalan besar, baik dalam usul maupun furu‘. Hal tersebut menyebabkan sebagian ulama mengkritik dirinya dan beberapa aspek akidahnya, sebagaimana telah disebutkan.

Kesimpulannya, Imam Abu Muhammad Ibnu Hazm رحمه الله merupakan salah seorang ulama besar, hafizh hadis, tokoh yang sangat mengagungkan Sunnah dan Ahlus Sunnah, mencari Sunnah, memberikan perhatian besar kepadanya, serta berusaha mengikutinya.

Namun, sejumlah prinsip pemikiran filsafat dan ahli bid‘ah masuk ke dalam pemikirannya sehingga melahirkan beberapa pendapat yang menyelisihi Ahlul Hadis dan Sunnah, khususnya dalam bab nama-nama dan sifat-sifat Allah, serta dalam sejumlah persoalan usul dan furu‘ lainnya.

Oleh sebab itu—menurut kesimpulan penulis teks ini—Ibnu Hazm tidak disebut sebagai Ahlus Sunnah secara mutlak, khususnya dalam bab sifat. Namun, ia juga tidak dikeluarkan secara keseluruhan dari Sunnah dan para pengikutnya serta tidak serta-merta dihukumi sebagai ahli bid‘ah, mengingat pengagungannya terhadap Sunnah, pembelaannya terhadap metode Sunnah, anjurannya untuk mengikutinya, serta seruannya meninggalkan segala sesuatu yang menyelisihinya, meskipun ia keliru dalam beberapa rincian persoalan.

Semoga Allah merahmati Imam Ibnu Hazm, mengampuni beliau, dan membalas jasa besarnya terhadap ilmu-ilmu Islam dengan sebaik-baik balasan.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button