Tatsqif

At Thaif

At Thaif

Penyebab penamaan kota Thaif (الطائف) dengan nama tersebut disebutkan dalam beberapa pendapat berikut:

1. Disebutkan bahwa kota Thaif yang berada di wilayah dataran rendah (Al-Ghawr) dinamakan demikian karena adanya tembok atau pagar yang mengelilinginya (الحائط المطاف بها). Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Abu Thalib bin Abdul Muththalib dalam syairnya:

> لقد بنينا طائفاً حصيناً

“Sungguh kami telah membangun sebuah kota Thaif yang kokoh dan terlindungi.”

2. Ada pula yang mengatakan bahwa kata Thaif berasal dari kata ath-thaif (الطيف) yang berarti sesuatu yang datang pada malam hari atau bayangan yang melintas. Pendapat ini dikaitkan dengan firman Allah Ta’ala:

> ﴿ إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِّنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُم مُّبْصِرُونَ ﴾

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka ditimpa gangguan dari setan, mereka segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.”
(QS. Al-A’raf: 201)

Kata thaif di sini bermakna sesuatu yang datang pada malam hari, karena thaif biasanya tidak terjadi pada siang hari, melainkan pada waktu malam.

3. Ada yang mengatakan bahwa Thaif adalah nama bagi Wadi Wajj (وادي وجّ), yaitu wilayah yang kemudian dikenal sebagai negeri suku Tsaqif.

4. Diriwayatkan pula bahwa Mas’ud bin Mu’attib Ats-Tsaqafi datang ke tempat yang kemudian menjadi kota Thaif. Ia adalah seorang pedagang kaya raya. Ia berkata kepada penduduk setempat:
أحالفكم لتزوجوني، وأزوجكم، وأبني لكم طوفاً شبيه بالحائط، ويحول هذا الطوف عن وصول أحد من العرب إلى أهل الطائف

> “Aku akan bersekutu dengan kalian jika kalian menikahkanku dengan wanita dari kalian, dan aku pun akan menikahkan kalian. Aku juga akan membangun untuk kalian sebuah pagar atau benteng seperti tembok yang akan menghalangi orang-orang Arab menyerang kalian.”

Benteng atau pagar yang mengelilingi wilayah tersebut disebut طوف (thauf), sehingga daerah itu kemudian dinamakan Thaif.

5. Disebutkan pula bahwa ketika Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menempatkan keluarganya di lembah Makkah yang tandus, beliau berdoa kepada Allah agar penduduknya diberi rezeki berupa buah-buahan dan berbagai kebaikan. Allah mengabulkan doa tersebut dengan memerintahkan sebidang tanah yang dipenuhi pepohonan untuk bergerak menuju wilayah Thaif. Sebelum menetap di sana, tanah tersebut terlebih dahulu mengelilingi Ka’bah kemudian menetap di Thaif. Karena tanah itu bertawaf mengelilingi Baitullah, maka wilayah tersebut dinamakan Thaif.

6. Ada pula yang mengatakan bahwa Thaif berarti penjaga malam atau peronda malam (العاسّ) yang berkeliling di sekitar rumah-rumah untuk menjaga dan melindungi penduduknya.

Tempat-tempat Terkenal di Thaif

Masuk ke kota Thaif biasanya memberikan rasa senang dan nyaman bagi siapa pun yang mengunjunginya. Hal ini disebabkan oleh udaranya yang sejuk dan anginnya yang menyegarkan. Di antara tempat-tempat terkenal di Thaif adalah:

Jabal ‘Arwan (جبل عروان), tempat tinggal sebagian kabilah Hudzail. Gunung ini merupakan daerah paling dingin di kawasan tersebut hingga air dapat membeku di sana. Pada masa dahulu, air tidak membeku di wilayah Hijaz kecuali di Jabal ‘Arwan.

Terdapat sebuah lembah yang mengalir melewati kota Thaif dan membelah kota tersebut menjadi dua bagian.

Thaif terkenal dengan kebun-kebun anggur yang sangat banyak dan berkualitas.

Di sana terdapat Wajj Thaif (وجّ الطائف), yaitu kawasan yang Rasulullah ﷺ melarang perburuan hewan di dalamnya serta melarang mencabut tumbuh-tumbuhannya.

Di Thaif juga terdapat batu Al-Lat (حجر اللات) yang dahulu menjadi tempat sesembahan kaum Tsaqif, yang lokasinya disebut berada di bawah menara dekat batu besar di kawasan Masjid Thaif.

Letak Geografis Kota Thaif

Kota Thaif terletak di wilayah Makkah Al-Mukarramah di Kerajaan Arab Saudi. Kota ini berada di puncak Pegunungan As-Sarawat (السروات) pada ketinggian sekitar 1.700 meter di atas permukaan laut.

Jumlah penduduknya mencapai sekitar 1.750.000 jiwa. Thaif terkenal sebagai salah satu pusat pertanian penting di Arab Saudi karena iklimnya yang sangat mendukung sektor pertanian. Berbagai hasil pertanian yang ditanam di Thaif antara lain: anggur, gandum, kebun-kebun buah, serta berbagai jenis buah-buahan lainnya.

Kemajuan sektor pertaniannya membuat Thaif mendapat julukan “Taman Hijaz” (حديقة الحجاز).

Selain itu, Thaif juga memiliki nilai religius yang penting, karena setiap tahun kota ini menjadi salah satu tujuan yang dikunjungi oleh para jamaah haji dan umrah yang datang ke Tanah Suci.

“Salah Satu dari Dua Kota”

Kota Thaif merupakan salah satu kota tertua di Jazirah Arab dan sejak dahulu memiliki hubungan yang sangat erat dengan Makkah Al-Mukarramah.

Allah Ta’ala berfirman:

> ﴿ وَقَالُوا لَوْلَا نُزِّلَ هَذَا الْقُرْآنُ عَلَىٰ رَجُلٍ مِّنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيمٍ ﴾

“Dan mereka berkata: ‘Mengapa Al-Qur’an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dari dua negeri ini?'” (QS. Az-Zukhruf: 31)

Para ahli tafsir menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan “dua negeri” (القريتين) dalam ayat tersebut adalah: Makkah Al-Mukarramah, dan Thaif.

Nama Lama Thaif: “Wajj”

Pada masa dahulu, Thaif dikenal dengan nama Wajj (وَجّ), dinisbatkan kepada Wajj bin Abdul Hayy dari kaum ‘Amaliqah, yang disebut sebagai orang pertama yang menjadikan daerah tersebut sebagai tempat peristirahatan musim panas.

Nama Wadi Wajj (وادي وج) juga dinisbatkan kepadanya.

Setelah itu, kota tersebut dikenal dengan nama Thaif, dan terdapat beberapa pendapat mengenai sebab penamaannya.

Pendapat Pertama

Menurut sebagian riwayat dan penafsiran para ulama tafsir, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabulkan doa Nabi Ibrahim `alaihis salam ketika beliau berdoa:

> ﴿ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ ﴾

“Dan berilah mereka rezeki berupa buah-buahan agar mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37)

Diceritakan bahwa:

> “Malaikat Jibril diperintahkan untuk mencabut sebuah daerah dari negeri Syam lengkap dengan mata air, pepohonan, dan lahan pertaniannya. Kemudian beliau membawanya mengelilingi Baitullah dan meletakkannya di lokasi Thaif sekarang, sehingga dinamakan Thaif.”

Sejarawan Al-Miyurqi dalam kitabnya Bahjatul Muhaj menyebutkan:

> “Keberkahan Thaif lebih besar daripada keberkahan Syam, karena Thaif pernah bertawaf mengelilingi Baitul Atiq (Ka’bah).”

Pendapat Kedua (Yang Lebih Dekat kepada Kebenaran)

Pendapat yang dianggap lebih kuat menyatakan bahwa Thaif dinamakan demikian karena tembok besar yang dibangun oleh suku Tsaqif mengelilingi kota tersebut pada masa Jahiliyah.

Abu Thalib menyinggung benteng ini dalam syairnya:

> منعنا أرضنا من كل حيٍّ
كما امتنعت بطائفها ثقيف

أتاهم معشر كي يسلبوهم
فحالت دون ذلكم السيوف

> “Kami melindungi negeri kami dari setiap kabilah, sebagaimana Tsaqif melindungi Thaif mereka.

Datang sekelompok orang yang ingin merampas mereka, namun pedang-pedang menjadi penghalang bagi mereka.”

Benteng Kota Thaif

Tujuan pembangunan tembok tersebut adalah untuk:

memperkuat pertahanan kota,

melindungi penduduk dari serangan suku-suku lain,

serta menjaga keamanan wilayah.

Benteng itu dibangun dari batu bata tanah liat, memiliki dinding yang tinggi dan tebal, dilengkapi dengan beberapa menara pengawas serta dua pintu gerbang utama.

Kota Thaif pada waktu itu terletak di sisi selatan Wadi Wajj.

Kemajuan Suku Tsaqif

Penduduk Thaif dari suku Tsaqif terkenal unggul dalam bidang:

pertanian,

penyamakan kulit,

dan perdagangan.

Mereka memasarkan hasil-hasil pertanian dan produk mereka ke berbagai daerah, sehingga hubungan ekonomi, sosial, dan pernikahan dengan penduduk Quraisy di Makkah semakin erat.

Karena kuatnya hubungan kedua kota tersebut, orang-orang Arab dahulu mengatakan:

> مكة من الطائف والطائف من مكة

“Makkah adalah bagian dari Thaif, dan Thaif adalah bagian dari Makkah.”

Ungkapan ini menggambarkan eratnya hubungan antara kedua kota tersebut.

Setelah Penduduk Thaif Memeluk Islam

Setelah penduduk Thaif masuk Islam, mereka berpindah dan menetap di daerah sekitar:

Masjid Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dan pemakaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum.

Dari kawasan inilah kemudian berkembang cikal bakal kota Thaif yang dikenal pada masa sekarang.

Perkembangan Thaif pada Masa Berikutnya

Pada abad ke-12 Hijriah, pembangunan dan perkembangan Thaif semakin pesat. Banyak pendatang dari: Afghanistan, Kurdistan, dan India, yang bermigrasi ke kota tersebut.

Akibat pertumbuhan penduduk yang semakin besar, Thaif berkembang dan terbentuk tiga kawasan utama, yaitu:

1. Harat Fauq (حارة فوق) — Kampung Atas.
2. Harat Asfal (حارة أسفل) — Kampung Bawah.
3. Harat As-Sulaimaniyah (حارة السليمانية).

Thaif di Era Modern

Pada zaman modern, kota Thaif berkembang dan meluas jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya.

Kini Thaif memiliki banyak distrik dan kawasan pemukiman baru, dan tidak lagi menjadi kota kecil yang terbatas di dalam benteng kuno sebagaimana pada masa lampau.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button