Masjid Al-Ijabah di Madinah Masjid Bani Mu’awiyah

Masjid Al-Ijabah di Madinah
Masjid Bani Mu’awiyah
Masjid Al-Ijabah terletak di Kota Madinah Al-Munawwarah. Masjid ini juga dikenal dengan nama Masjid Bani Mu’awiyah atau Masjid Al-Mubāhalah. Masjid ini dibangun pada masa Rasulullah ﷺ.
Masjid ini berada sekitar 385 meter di sebelah utara Baqi’, tepatnya di Jalan As-Sittin (Jalan Enam Puluh). Jaraknya dari Masjid Nabawi setelah perluasan hanya sekitar 580 meter, dan letaknya berada di sebelah timur laut Masjid Nabawi.
Perlu diketahui bahwa nama Masjid Bani Mu’awiyah adalah nama asal yang disebut dalam riwayat-riwayat terdahulu, sedangkan nama Masjid Al-Ijabah menjadi terkenal karena peristiwa doa Rasulullah ﷺ di tempat tersebut, ketika beliau memohon kepada Allah tiga perkara untuk umatnya dan dua di antaranya dikabulkan. Adapun sebutan Masjid Al-Mubāhalah digunakan karena menurut sebagian riwayat dan pendapat sejarawan, lokasi ini dikaitkan dengan peristiwa mubahalah, meskipun penyebutan ini tidak seterkenal nama Masjid Al-Ijabah atau Masjid Bani Mu’awiyah.
Masjid ini pada asalnya adalah Masjid Bani Mu’awiyah bin Malik bin Auf dari kabilah Aus. Adapun penamaannya sebagai Masjid Al-Ijabah, sebagaimana disebutkan oleh sejarawan Ali bin Abdullah As-Samhudi, kemungkinan disebabkan oleh riwayat bahwa Rasulullah ﷺ pernah melewati Masjid Bani Mu’awiyah, lalu masuk ke dalamnya, melaksanakan shalat dua rakaat, kemudian bermunajat kepada Allah Ta’ala sebelum akhirnya keluar dari masjid tersebut.
Lokasi
Masjid ini terletak di sebelah utara Al-Baqi’, di sebelah kiri jalan menuju daerah Al-‘Aridh.
Masjid ini berada di tengah-tengah gundukan tanah yang merupakan bekas perkampungan Bani Mu’awiyah, sekitar 385 meter di utara Baqi’, tepatnya di sisi timur Jalan Raja Faisal (Jalan Enam Puluh). Jaraknya sekitar 580 meter dari perluasan Saudi kedua Masjid Nabawi.
Deskripsi dan Perkembangannya
As-Samhudi menukil dari Muhammad bin Mahmud Ibn An-Najjar bahwa ketika beliau melihat masjid tersebut, keadaannya telah rusak dan terbengkalai. Yang masih tersisa hanyalah beberapa tiang yang berdiri tegak serta sebuah mihrab yang indah, sementara bagian lainnya telah hancur.
Namun As-Samhudi menyatakan bahwa pada masanya tiang-tiang tersebut sudah tidak ada lagi, meskipun sebagian kerusakan masjid telah diperbaiki.
Beliau mengukur ukuran masjid:
Dari timur ke barat sekitar 25 hasta, sedikit kurang dari itu.
Dari arah kiblat ke arah utara sekitar 20 hasta, juga sedikit kurang dari ukuran tersebut.
Kemudian sejarawan Ibrahim Al-Ayyasyi yang wafat pada tahun 1400 H menyebutkan bahwa pada masanya masjid tersebut hampir runtuh dan hanya tersisa setinggi tubuh manusia.
Saat itu bangunan masjid terbagi menjadi dua bagian:
Bagian selatan yang memiliki mihrab.
Bagian utara yang sebelumnya tampak memiliki kubah.
Keadaan ini berlangsung cukup lama hingga akhirnya kawasan sekitarnya berkembang menjadi permukiman penduduk. Setelah itu pihak wakaf melakukan pembangunan kembali sehingga kedua bagian tersebut disatukan menjadi sebuah masjid yang megah, lengkap dengan menara yang menonjol di atas bangunan sekitarnya.
Selanjutnya pada masa pemerintahan Fahd bin Abdulaziz Al Saud, tepatnya tahun 1418 H / 1997 M, masjid ini dibangun kembali dan diperluas. Bangunan tersebut masih berdiri hingga sekarang.
Kondisi Masjid Saat Ini
Saat ini Masjid Al-Ijabah merupakan bangunan beratap dengan luas total sekitar 1.000 meter persegi.
Fasilitasnya meliputi:
Tempat shalat wanita di sisi timur laut dengan luas sekitar 100 meter persegi.
Tinggi atap bangunan bervariasi antara:
3,70 meter
5,70 meter
7,70 meter
Di bagian depan masjid terdapat sebuah kubah dengan:
Tinggi sekitar 11,7 meter (tanpa hilal).
Diameter sekitar 9,5 meter.
Pada sisi tenggara terdapat sebuah menara dengan:
Tinggi sekitar 33,75 meter.
Tinggi keseluruhan bersama hilal mencapai 36 meter.
Peristiwa Sejarah yang Berkaitan Dengannya
Tampaknya lokasi Masjid Bani Mu’awiyah memang sudah ada pada masa Rasulullah ﷺ, karena terdapat riwayat shahih dalam Sahih Muslim yang menyebutkan bahwa Nabi ﷺ pernah shalat di tempat tersebut.
Namun demikian, nama “Masjid Al-Ijabah” baru dikenal pada masa-masa belakangan. Kemungkinan orang pertama yang menyebutkannya dengan nama tersebut adalah Ibn An-Najjar (wafat tahun 643 H), ketika beliau mengatakan:
> “Masjid ini dikenal dengan nama Masjid Al-Ijabah, di dalamnya terdapat beberapa tiang yang masih berdiri dan sebuah mihrab yang indah, sedangkan bagian lainnya telah rusak.”
Hal ini menunjukkan bahwa nama asli masjid yang disebutkan dalam hadis adalah Masjid Bani Mu’awiyah, sedangkan nama Masjid Al-Ijabah merupakan nama yang muncul kemudian.
Catatan Penting
Meskipun masjid ini memiliki nilai sejarah yang berkaitan dengan Rasulullah ﷺ dan sirah Nabawiyah, para ulama menegaskan bahwa:
> Tidak terdapat dalil yang menunjukkan adanya keutamaan khusus atau pelipatan pahala shalat di Masjid Al-Ijabah sebagaimana keutamaan Masjidil Haram, Masjid Nabawi, atau Masjid Al-Aqsha.
Karena itu, mengunjunginya diperbolehkan dalam rangka mengenal sejarah Islam dan perjalanan dakwah Nabi ﷺ, bukan dengan keyakinan adanya keutamaan ibadah khusus yang tidak ditetapkan oleh syariat.
Sebuah masjid yang dimuliakan karena pernah digunakan oleh Rasulullah ﷺ untuk melaksanakan shalat dan berdoa dengan tiga permohonan, yang dua di antaranya dikabulkan oleh Allah Ta’ala.
Pengantar Singkat
Masjid Al-Ijabah adalah salah satu musala peninggalan Nabi ﷺ yang terletak di sebelah utara Masjid Nabawi yang mulia. Bangunan pertamanya didirikan oleh Bani Mu’awiyah pada masa Rasulullah ﷺ.
Kisah Masjid
Masjid ini terkenal dengan nama “Masjid Al-Ijabah” (Masjid Dikabulkannya Doa) karena sebuah peristiwa yang berkaitan dengan Rasulullah ﷺ.
Diriwayatkan bahwa suatu hari Rasulullah ﷺ datang dari daerah Al-‘Aliyah, lalu melewati masjid milik Bani Mu’awiyah. Beliau masuk ke dalamnya, kemudian melaksanakan shalat dua rakaat, dan sebagian sahabat رضي الله عنهم ikut shalat bersama beliau.
Setelah itu, Rasulullah ﷺ berdoa kepada Allah dalam waktu yang cukup lama. Kemudian beliau menoleh kepada para sahabat dan bersabda:
> «سَأَلْتُ رَبِّي ثَلَاثًا، فَأَعْطَانِي اثْنَتَيْنِ وَمَنَعَنِي وَاحِدَةً، سَأَلْتُهُ أَنْ لَا يُهْلِكَ أُمَّتِي بِالسَّنَةِ فَأَعْطَانِيهَا، وَسَأَلْتُهُ أَنْ لَا يُهْلِكَ أُمَّتِي بِالْغَرَقِ فَأَعْطَانِيهَا، وَسَأَلْتُهُ أَنْ لَا يَجْعَلَ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ فَمَنَعَنِيهَا»
“Aku memohon kepada Rabbku tiga perkara. Dia mengabulkan dua di antaranya dan menolak satu. Aku memohon agar umatku tidak dibinasakan dengan paceklik dan kekeringan, maka Dia mengabulkannya. Aku memohon agar umatku tidak dibinasakan dengan banjir besar atau tenggelam, maka Dia mengabulkannya. Dan aku memohon agar Dia tidak menjadikan permusuhan dan peperangan di antara mereka sendiri, namun Dia tidak mengabulkannya.”
Karena peristiwa inilah, masjid tersebut kemudian dikenal dengan nama Masjid Al-Ijabah.
Masjid Sepanjang Sejarah
Bangunan pertama masjid ini didirikan pada masa Rasulullah ﷺ oleh Bani Mu’awiyah.
Pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, masjid ini mengalami renovasi.
Pada abad ke-9 Hijriah, dinding-dinding masjid kembali diperbaiki dan dipugar.
Pada masa pemerintahan Fahd bin Abdulaziz Al Saud tahun 1418 H, masjid ini dibangun kembali dan diperluas hingga mencapai luas sekitar 1.000 meter persegi.
Luas bagian dalam masjid diperkirakan sekitar 500 meter persegi, atau sekitar empat kali lebih besar dibandingkan luasnya pada abad ke-10 Hijriah.
Masjid ini kemudian dimasukkan ke dalam proyek pengembangan dan pelestarian masjid-masjid bersejarah guna memperbaiki fasilitasnya serta memperkuat identitas sejarahnya.
Lokasi dan Kunjungan
Masjid Al-Ijabah terletak di sebelah utara Masjid Nabawi dengan jarak sekitar 580 meter dari Masjid Nabawi.
Masjid ini terbuka untuk dikunjungi sepanjang hari, dan shalat lima waktu tetap dilaksanakan di dalamnya. Karena nilai sejarahnya yang erat kaitannya dengan kehidupan Rasulullah ﷺ, masjid ini menjadi salah satu tujuan penting para peziarah dan pengunjung Kota Madinah Al-Munawwarah.



