Sumur Zamzam

Sumur Zamzam
Lokasi Sumur Zamzam
Sumur Zamzam adalah sumur yang terletak di dalam Masjidil Haram di Makkah Al-Mukarramah, tidak jauh dari Ka’bah yang mulia. Dari sumur inilah memancar air Zamzam yang oleh Rasulullah ﷺ disebut sebagai air yang penuh keberkahan, bahkan beliau menjelaskan bahwa ia merupakan obat bagi berbagai penyakit.
Sumur Zamzam berada di area mathaf (tempat thawaf) di Masjidil Haram, tepatnya di sebelah timur Ka’bah dan berjarak sekitar 21 meter darinya, serta sejajar dengan area Multazam.
Sejarawan Makkah, Al-Azraqi, menggambarkan Sumur Zamzam pada zamannya:
> “Kedalaman Zamzam dari permukaan hingga dasarnya sekitar enam puluh hasta. Di bagian bawahnya terdapat tiga mata air; satu menghadap Hajar Aswad, satu menghadap arah Abu Qubais dan Shafa, dan satu lagi menghadap Marwah.”
Sementara itu, Ibrahim Rifat Pasha pada awal abad ke-13 Hijriah menjelaskan bahwa Sumur Zamzam berada di sebelah selatan Maqam Ibrahim. Bangunan yang menaungi sumur tersebut berbentuk persegi dengan panjang sisi sekitar 5,25 meter dan dilapisi marmer. Bangunan tersebut terdiri dari dua lantai; lantai pertama digunakan untuk pelayanan sumur, sedangkan lantai kedua digunakan oleh para agha (petugas penjaga Masjidil Haram pada masa itu).
—
Nama-nama Zamzam
Penamaan “Zamzam” dikaitkan dengan ucapan Sayyidah Hajar `alaihas salam ketika air mulai memancar dengan deras dari tanah. Beliau menahan dan mengumpulkan air itu sambil berkata:
> زُمِّي زُمِّي
“Berkumpullah, berkumpullah.”
Para ulama bahasa menyebutkan banyak nama lain untuk Zamzam, di antaranya:
رَكْضَةُ جِبْرِيلَ — Hentakan Jibril.
هَزْمَةُ جِبْرِيلَ — Cekungan yang dibuat Jibril.
حَفِيرَةُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ — Sumur yang digali kembali oleh Abdul Muththalib.
مَضْنُونَةٌ — Yang dijaga dan dipelihara.
مَكْتُومَةٌ — Yang tersembunyi.
سُقْيَا الرَّوَاءِ — Minuman yang menghilangkan dahaga.
شُبَاعَةٌ — Yang mengenyangkan.
شِفَاءُ سُقْمٍ — Penyembuh penyakit.
طَعَامُ طُعْمٍ — Makanan yang mengenyangkan.
طَعَامُ الْأَبْرَارِ — Makanan orang-orang saleh.
شَرَابُ الْأَبْرَارِ — Minuman orang-orang saleh.
طَيِّبَةُ — Yang baik dan suci.
—
Kedudukan dan Keutamaan Zamzam
Sumur Zamzam memiliki kedudukan spiritual dan simbolis yang sangat tinggi di hati kaum muslimin. Ia merupakan salah satu syiar terbesar Masjidil Haram dan menjadi tujuan setiap jamaah haji maupun umrah.
Awal kemunculan Zamzam berkaitan erat dengan kisah Nabi Ibrahim alaihis salam, istrinya Sayyidah Hajar, dan putra mereka Nabi Ismail alaihis salam. Air Zamzam memancar di dekat kaki Nabi Ismail yang saat itu masih bayi, sebagai rahmat dan pertolongan dari Allah kepada keluarga Nabi Ibrahim yang ditinggalkan di lembah Makkah yang tandus dan tidak berpenghuni.
Allah Ta’ala mengabadikan doa Nabi Ibrahim:
> رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ
“Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman di dekat rumah-Mu yang dihormati.”
(QS. Ibrahim: 37)
—
Manfaat Air Zamzam
Kaum muslimin meyakini bahwa air Zamzam adalah makanan sekaligus obat dengan izin Allah.
Diriwayatkan dalam Shahih Muslim bahwa Abu Dzar Al-Ghifari pernah tinggal di Masjidil Haram selama tiga puluh hari tanpa makanan selain air Zamzam.
Rasulullah ﷺ bertanya:
> مَنْ كَانَ يُطْعِمُكَ؟
“Siapa yang memberimu makan?”
Abu Dzar menjawab:
> “Aku tidak memiliki makanan selain air Zamzam. Aku menjadi gemuk hingga lipatan perutku bertambah, dan aku tidak merasakan lapar sedikit pun.”
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
> إِنَّهَا مُبَارَكَةٌ، إِنَّهَا طَعَامُ طُعْمٍ
“Sesungguhnya ia adalah air yang diberkahi, dan ia adalah makanan yang mengenyangkan.”
(HR. Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan tambahan:
> وَشِفَاءُ سُقْمٍ
“Dan ia merupakan penyembuh penyakit.”
Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah dalam kitab Zad al-Ma’ad menyebutkan:
> “Aku pernah menyaksikan orang yang hidup hanya dengan air Zamzam selama beberapa hari yang cukup lama, mendekati setengah bulan atau lebih, tanpa merasakan lapar sedikit pun.”
Beliau juga menukil pengalaman seseorang yang mampu bertahan hingga empat puluh hari hanya dengan meminum air Zamzam.
—
Sejarah Zamzam Sebelum Islam
Menurut sumber-sumber Islam, awal munculnya Zamzam terjadi ketika Nabi Ibrahim `alaihis salam membawa Sayyidah Hajar dan putra mereka, Ismail, ke lembah Makkah atas perintah Allah.
Pada saat itu belum ada seorang pun yang tinggal di Makkah. Nabi Ibrahim meninggalkan mereka hanya dengan sedikit kurma dan sekantong air, kemudian beliau beranjak pergi.
Sayyidah Hajar mengikuti beliau sambil berkata:
> “Wahai Ibrahim, ke mana engkau pergi meninggalkan kami di lembah yang tidak ada seorang manusia pun di dalamnya?”
Nabi Ibrahim tidak menjawab hingga akhirnya Hajar bertanya:
> آللَّهُ أَمَرَكَ بِهَذَا؟
“Apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan ini?”
Beliau menjawab:
> نَعَمْ
“Ya.”
Maka Hajar berkata dengan penuh keyakinan:
> إِذًا لَا يُضَيِّعُنَا
“Kalau begitu, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.”
Ketika persediaan air habis dan Ismail mulai menangis karena kehausan, Sayyidah Hajar berlari mencari air antara bukit Bukit Shafa dan Bukit Marwah sebanyak tujuh kali.
Ketika berada di dekat Marwah, beliau mendengar suara. Ternyata Malaikat Jibril `alaihis salam datang ke tempat tersebut lalu menghentakkan tumitnya ke tanah — atau menurut riwayat lain, dengan sayapnya — hingga memancarlah air Zamzam.
Sayyidah Hajar segera membendung air tersebut sambil menampungnya ke dalam kantong airnya, sementara air itu terus memancar.
Malaikat berkata kepadanya:
> لَا تَخَافُوا الضَّيْعَةَ، فَإِنَّ هَاهُنَا بَيْتَ اللَّهِ يَبْنِيهِ هَذَا الْغُلَامُ وَأَبُوهُ، وَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضَيِّعُ أَهْلَهُ
“Janganlah kalian takut akan kesia-siaan dan kehilangan, karena di tempat ini akan dibangun Rumah Allah oleh anak ini dan ayahnya, dan sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan keluarga-Nya.”
Beberapa waktu kemudian, rombongan dari kabilah Jurhum melihat burung berputar-putar di atas wilayah tersebut. Mereka memahami bahwa keberadaan burung itu menunjukkan adanya air.
Ketika mereka mendatangi tempat tersebut, mereka mendapati Sayyidah Hajar bersama air Zamzam. Mereka pun meminta izin untuk menetap di sana.
Sayyidah Hajar mengizinkan mereka tinggal dengan syarat bahwa hak kepemilikan air tetap berada padanya. Mereka menerima syarat tersebut, dan sejak saat itu Makkah mulai dihuni serta berkembang menjadi pusat kehidupan dan ibadah bagi umat manusia hingga hari ini.
Sumur Zamzam pada Masa Quraisy
Setelah masa Nabi Ibrahim `alaihis salam, Sumur Zamzam sempat mengering dan jejak lokasinya pun hilang seiring berjalannya waktu. Hingga akhirnya Allah menakdirkan agar sumur tersebut digali kembali oleh Abdul Muththalib, kakek Rasulullah ﷺ, sehingga airnya kembali memancar dan terus mengalir hingga hari ini.
Pada masa Quraisy, Zamzam bukanlah mata air yang mengalir deras sebagaimana sekarang dikenal. Hal ini dikuatkan oleh riwayat dari Ali bin Abi Thalib mengenai kisah penemuan kembali Zamzam oleh Abdul Muththalib bin Hasyim.
Beliau meriwayatkan bahwa ketika Abdul Muththalib sedang tidur di Hijr Ismail, seseorang datang kepadanya dalam mimpi dan berkata:
> احْفِرْ بَرَّةَ
“Galilah Barrah.”
Abdul Muththalib bertanya:
> “Apakah Barrah itu?”
Namun orang tersebut menghilang.
Keesokan harinya ia kembali tidur di tempat yang sama, lalu datang lagi seseorang dalam mimpinya dan berkata:
> احْفِرِ الْمَضْنُونَةَ
“Galilah Al-Madhnunah.”
Ia bertanya:
> “Apakah Al-Madhnunah itu?”
Namun orang tersebut kembali menghilang.
Pada hari berikutnya ia bermimpi lagi:
> احْفِرْ طَيِّبَةَ
“Galilah Thayyibah.”
Ia bertanya:
> “Apakah Thayyibah itu?”
Orang itu pun menghilang kembali.
Pada hari keempat ia bermimpi lagi dan dikatakan kepadanya:
> احْفِرْ زَمْزَمَ
“Galilah Zamzam.”
Abdul Muththalib bertanya:
> “Apakah Zamzam itu?”
Lalu dijelaskan kepadanya:
> لَا تُنْزَفُ وَلَا تُذَمُّ
“Airnya tidak akan pernah habis diambil dan tidak akan pernah tercela.”
Kemudian ditunjukkan kepadanya lokasi sumur tersebut.
Maka Abdul Muththalib pun mulai menggali di tempat yang telah ditunjukkan kepadanya. Melihat hal itu, kaum Quraisy bertanya:
> “Apa yang sedang engkau lakukan wahai Abdul Muththalib?”
Beliau menjawab:
> “Aku diperintahkan untuk menggali Zamzam.”
Ketika penggalian telah membuka lokasi sumur dan mereka melihat benda-benda berharga yang dahulu dikuburkan di sana, kaum Quraisy berkata:
> “Kami juga memiliki hak atas sumur ini bersamamu, karena ini adalah sumur nenek moyang kami, Nabi Ismail.”
Namun Abdul Muththalib menjawab:
> “Sumur ini diberikan secara khusus kepadaku, bukan kepada kalian.”
Mereka pun berkata:
> “Kalau begitu, marilah kita mencari keputusan dari seorang hakim.”
Abdul Muththalib menyetujuinya, lalu mereka sepakat untuk menemui seorang kahinah (peramal wanita) dari Bani Sa’d bin Hudzaym yang tinggal di wilayah Syam.
—
Perjalanan menuju Syam dan mukjizat di tengah padang pasir
Abdul Muththalib berangkat bersama beberapa orang dari Bani Hasyim, sementara setiap kabilah Quraisy mengirimkan beberapa wakil mereka.
Dalam perjalanan menuju Syam, mereka melewati padang pasir yang luas dan tandus antara Hijaz dan Syam. Di tengah perjalanan, persediaan air Abdul Muththalib dan rombongannya habis hingga mereka yakin akan binasa karena kehausan.
Mereka meminta air kepada rombongan Quraisy lainnya, namun mereka menjawab:
> “Kami tidak mampu memberi kalian air, karena kami khawatir nasib yang sama juga akan menimpa kami.”
Melihat keadaan tersebut, Abdul Muththalib berkata kepada para sahabatnya:
> “Apa pendapat kalian?”
Mereka menjawab:
> “Kami hanya akan mengikuti pendapatmu.”
Beliau berkata:
> “Menurutku setiap orang hendaknya menggali sebuah lubang sesuai dengan sisa tenaga yang dimiliki. Jika salah seorang meninggal, teman-temannya akan menguburkannya di lubang itu hingga akhirnya tinggal orang terakhir. Kehilangan satu orang lebih ringan daripada kehilangan seluruh rombongan.”
Mereka pun melaksanakan saran tersebut.
Namun kemudian Abdul Muththalib berkata:
> “Demi Allah, menyerahkan diri kepada kematian tanpa berusaha mencari pertolongan Allah adalah sebuah kelemahan. Mari kita terus berjalan di bumi, mudah-mudahan Allah memberi kita air.”
Mereka pun melanjutkan perjalanan.
Ketika Abdul Muththalib menaiki untanya dan unta itu mulai bergerak, tiba-tiba memancarlah sebuah mata air tawar dari bawah kaki unta tersebut.
Beliau segera turun dan begitu pula rombongannya. Mereka minum, mengisi tempat-tempat air mereka, dan memberi minum hewan-hewan mereka.
Kemudian mereka memanggil rombongan Quraisy lainnya:
> “Kemarilah menuju air! Allah telah memberi kami minum.”
Mereka pun datang, minum, dan mengisi persediaan air mereka.
Setelah menyaksikan peristiwa itu, mereka berkata kepada Abdul Muththalib:
> “Demi Allah, perkara ini telah diputuskan untukmu. Sesungguhnya Dzat yang telah memberimu air di tengah padang pasir yang tandus ini adalah Dzat yang telah menunjukkan kepadamu Sumur Zamzam. Pergilah, sumur itu adalah milikmu, dan kami tidak akan lagi berselisih denganmu mengenainya.”
Dengan demikian, Allah mengembalikan Sumur Zamzam melalui tangan Abdul Muththalib, dan sejak saat itu Zamzam kembali menjadi sumber kehidupan bagi penduduk Makkah dan para tamu Allah yang datang untuk berhaji dan berumrah hingga hari ini.
Sumur Zamzam pada Masa Kerajaan Arab Saudi
Masa Raja Abdulaziz
Pada masa lalu, masyarakat meminum air Zamzam dengan menggunakan timba. Kemudian Raja Abdulaziz bin Abdurrahman Al Saud memerintahkan pemasangan pompa di Sumur Zamzam pada tahun 1373 H/1953 M.
Pompa tersebut mengangkat air Zamzam menuju dua tangki di bagian atas yang terbuat dari seng. Pada kedua tangki itu dipasang 24 keran, masing-masing tangki memiliki 12 keran. Keran-keran tersebut ditempatkan di sekitar sumur.
Pada saat itu, masyarakat masih diperbolehkan menggunakan timba di samping keran sesuai kebutuhan. Seluruh bangunan yang berdiri di atas Sumur Zamzam kemudian dibongkar.
Selain memasang pompa untuk mengangkat air Zamzam, Raja Abdulaziz juga membangun dua tempat penyediaan air Zamzam untuk umum. Pada tahun 1345 H/1926 M, beliau memerintahkan pembangunan sebuah tempat penyediaan air Zamzam yang dinamakan Sabil Raja.
Pada tahun berikutnya, beliau memerintahkan pembangunan tempat penyediaan air lainnya. Pada tahun yang sama, beliau juga mengeluarkan perintah untuk memperbaiki dan membersihkan sumur serta memasang penutup di atasnya.
Masa Raja Saud
Pada masa Raja Saud bin Abdulaziz Al Saud, penggunaan timba dihentikan secara permanen.
Pada tahun 1382 H/1962 M, beliau mengeluarkan perintah kerajaan untuk memperluas area thawaf. Sebagai dampak perluasan tersebut, bukaan Sumur Zamzam diturunkan ke bawah pelataran thawaf dalam sebuah ruang bawah tanah dengan kedalaman sekitar 2,7 meter.
Ruang bawah tanah tersebut dibagi menjadi dua bagian: satu untuk laki-laki dan satu lagi untuk perempuan.
Salah satu hasil perluasan area thawaf adalah berakhirnya penggunaan timba secara permanen. Air Sumur Zamzam tidak lagi diambil menggunakan timba, tetapi melalui keran.
Sumur tersebut kemudian dikembangkan dan pekerjaan perluasan area thawaf diselesaikan pada tahun 1383 H/1963 M.
Masa Raja Faisal
Raja Faisal bin Abdulaziz Al Saud memberikan perhatian besar terhadap Sumur Zamzam.
Selain ruang bawah tanah yang dibangun sebagai bagian dari perluasan area thawaf pada masa Raja Saud, Raja Faisal pada tahun 1393 H/1973 M memerintahkan pembangunan ruang bawah tanah tambahan untuk Sumur Zamzam.
Hal itu dilakukan untuk memberikan kemudahan dan kenyamanan kepada para tamu Allah selama melaksanakan rangkaian ibadah.
Masa Raja Khalid
Perhatian Raja Khalid bin Abdulaziz Al Saud difokuskan pada peningkatan produksi air Sumur Zamzam.
Pada tahun 1399 H/1979 M, beliau mengeluarkan perintah untuk membersihkan Sumur Zamzam dengan menggunakan sarana dan metode paling modern yang tersedia pada masa itu.
Para penyelam yang memiliki pengalaman dan keahlian khusus didatangkan untuk melaksanakan pekerjaan tersebut.
Proses pembersihan Sumur Zamzam berhasil diselesaikan. Hasilnya, produksi air sumur meningkat dan mata airnya menghasilkan air dalam jumlah yang lebih banyak dibandingkan sebelum proses pembersihan.
Masa Raja Fahd
Proyek perluasan Masjidil Haram tahap kedua pada masa pemerintahan Raja Fahd bin Abdulaziz Al Saud mencakup pembangunan sistem baru untuk penyediaan air minum dan pembuangan air.
Sistem tersebut terdiri atas dua unit. Unit pertama berupa pompa besar untuk air Zamzam yang dilengkapi dengan keran-keran minum. Unit lainnya diperuntukkan bagi lantai dua bangunan perluasan.
Pada tahun 1424 H, berbagai kajian mengenai Masjidil Haram menyimpulkan perlunya menutup pintu-pintu masuk ruang bawah tanah Zamzam.
Tujuannya adalah untuk memaksimalkan pemanfaatan pelataran thawaf dan memberikan kemudahan kepada jamaah umrah serta haji pada masa-masa padat.
Pintu-pintu masuk ruang bawah tanah yang menuju Sumur Zamzam kemudian ditutup dengan atap. Tempat-tempat air minum dipindahkan ke sisi pelataran thawaf.
Pekerjaan tersebut berhasil menambah luas pelataran thawaf sekitar 400 meter persegi.
Masa Raja Abdullah
Raja Abdullah bin Abdulaziz Al Saud memerintahkan pembangunan instalasi pemurnian air Sumur Zamzam.
Beliau juga memerintahkan pembangunan fasilitas yang dilengkapi dengan pabrik pengemasan dan pengangkutan air Zamzam. Fasilitas tersebut bekerja dengan sistem otomatis untuk pengendalian, pengawasan, dan penyimpanan.
Proyek tersebut dinamakan Proyek Raja Abdullah bin Abdulaziz untuk Penyediaan Air Zamzam.
Beliau juga memerintahkan pelaksanaan dua proyek lainnya. Proyek pertama dikhususkan untuk membersihkan wadah-wadah air Zamzam secara otomatis. Proyek kedua bertujuan mendesain ulang wadah-wadah tersebut guna melindungi air, menjamin kelancaran distribusinya, dan memudahkan masyarakat memperolehnya.
Kapasitas maksimum produksi proyek tersebut mencapai 200.000 kemasan dalam satu hari.
Proyek Raja Abdullah bin Abdulaziz beroperasi selama 24 jam. Proyek ini bertujuan melayani jamaah haji, jamaah umrah, dan para pengunjung Masjidil Haram, serta memudahkan mereka memperoleh air Zamzam yang diberkahi dengan cara yang sehat dan aman.
Masa Raja Salman
Pada tahun 1439 H/2018 M, Penjaga Dua Masjid Suci Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud memerintahkan dimulainya kembali pekerjaan berbagai proyek yang berkaitan dengan Sumur Zamzam.
Beliau juga memerintahkan penyelesaian proyek lorong-lorong layanan khusus untuk Sumur Zamzam. Jumlahnya mencapai lima lorong dengan fungsi yang beragam.
Selain itu, beliau memerintahkan penyelesaian tahap terakhir proses sterilisasi, penghilangan kotoran dan endapan, serta pemeriksaan lingkungan di sekitar sumur.
Upaya Ilmiah Arab Saudi dalam Mengembangkan Sumur Zamzam
Pusat Studi dan Penelitian Zamzam
Arab Saudi membentuk sebuah pusat khusus untuk mempelajari Sumur Zamzam yang dinamakan Pusat Studi dan Penelitian Zamzam.
Pusat ini berada di bawah pengawasan Badan Survei Geologi Saudi.
Tujuan pendiriannya adalah untuk mengenali, menentukan, dan mengawasi sumber-sumber air, serta menerapkan solusi ilmiah guna menjaga cadangan air tanah dan Sumur Zamzam.
Menurut berbagai kajian dan penelitian, air Zamzam bersifat basa dan kaya akan mineral yang bermanfaat bagi tubuh manusia. Air tersebut juga disebut memiliki sifat antioksidan, membantu mengeluarkan racun dari tubuh, dan mendukung penyerapan unsur-unsur gizi di dalam tubuh.
Tugas Pusat Studi Zamzam
Tugas utama pusat tersebut mencakup pengawasan menyeluruh terhadap:
– Pengambilan air Zamzam.
– Proses sterilisasi.
– Penyimpanan air.
– Pemantauan jumlah dan kualitas air sumur.
– Seluruh proses penyaringan, sterilisasi, dan penyimpanan air di Makkah Al-Mukarramah dan Madinah Al-Munawwarah.
– Penentuan jumlah pemompaan yang tepat dan aman setiap bulan dan setiap tahun berdasarkan metode modern.
– Pembaruan jumlah pemompaan yang diizinkan setiap tahun.
– Pemantauan proses pemompaan agar sesuai dengan jumlah yang telah ditetapkan.
Pusat tersebut bertugas menjaga air Zamzam melalui sebuah program yang memantau kuantitas dan kualitas air sumur secara berkelanjutan.
Pentingnya Pendirian Pusat Studi Zamzam
Kebutuhan untuk mendirikan Pusat Studi dan Penelitian Zamzam muncul karena tingginya kedudukan Sumur Zamzam di hati kaum muslimin, mengingat awal kemunculannya yang menakjubkan dan airnya yang diberkahi.
Selain itu, terdapat berbagai tantangan akibat aktivitas perkotaan serta perkembangan ekonomi dan sosial Kota Makkah Al-Mukarramah.
Karena itu, Arab Saudi mendirikan sebuah pusat khusus untuk merawat dan menjaga sumber air Sumur Zamzam serta kawasan di sekitarnya.
Pusat tersebut mengkhususkan diri dalam studi dan penelitian serta menerapkan berbagai metode ilmiah dan teknis modern.
Sterilisasi Air Sumur Zamzam
Air Zamzam disterilkan menggunakan sinar ultraviolet untuk menghancurkan DNA kuman dan virus tanpa menambahkan bahan kimia apa pun. Tingkat sterilisasi terhadap bakteri dan virus mencapai 99,77%.
Setiap satu kilowatt listrik dapat digunakan untuk mensterilkan sekitar 12.000 galon air tanpa mengubah warna, rasa, maupun aromanya.
Prosedur Sterilisasi Air Zamzam
Sinar ultraviolet digunakan dalam proses sterilisasi dengan memancarkan energi cahaya yang dihasilkan oleh lampu merkuri bertekanan rendah. Lampu-lampu tersebut dilindungi oleh kaca khusus yang memungkinkan cahaya menembus bakteri, virus, dan mikroorganisme.
Sinar tersebut menembus lapisan luar mikroorganisme dan menghancurkan DNA-nya.
Air kemudian dialirkan melalui tabung berbentuk silinder yang di dalamnya terdapat lampu-lampu penghasil sinar ultraviolet. Jumlah lampu di dalam silinder disesuaikan dengan ukuran silinder dan jumlah air yang hendak disterilkan.
Kecepatan aliran air yang masuk juga diatur agar memperoleh paparan sinar yang cukup untuk membunuh bakteri dan virus.
Otoritas Umum untuk Pengurusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi menerapkan sejumlah prosedur dalam mensterilkan air Zamzam. Di antaranya adalah memompa air dari Sumur Zamzam melalui sistem sirkulasi tertutup.
Air tersebut melewati filter yang menahan kotoran dan pasir, kemudian dialirkan melalui pipa antikarat dari baja tahan karat hingga mencapai tangki-tangki tertutup.
Air juga melewati perangkat sterilisasi awal. Seluruh proses ini diawasi oleh para tenaga ahli untuk memastikan bahwa pekerjaan berjalan sesuai dengan prosedur teknis yang telah ditetapkan.
Kapasitas Produksi Sumur Zamzam
Pemompaan Sumur Zamzam
Sumur Zamzam memompa air paling sedikit sekitar 11 liter per detik dan paling banyak sekitar 18,5 liter per detik. Kedalaman sumur tersebut mencapai sekitar 30 meter.
Di dalamnya beroperasi dua pompa besar dengan kapasitas 360 meter kubik per jam. Kedua pompa tersebut bekerja secara bergantian untuk menarik air Zamzam dari sumur dan memompanya menuju Proyek Raja Abdullah untuk Penyediaan Air Zamzam.
Air dialirkan melalui pipa antikarat sepanjang sekitar empat kilometer yang dirancang untuk menjaga karakteristik air Zamzam.
Sumur Zamzam memasok air ke seluruh area dan lorong Masjidil Haram. Setiap hari, sekitar 150.000 liter air Zamzam dikirim ke Masjid Nabawi pada hari-hari biasa. Pada musim-musim keagamaan, jumlah tersebut meningkat menjadi sekitar 400.000 liter per hari.
Proses pengambilan dan pemompaan air dipantau melalui jaringan serat optik yang dikendalikan dengan sistem SCADA.
Air Zamzam berbeda dengan air biasa karena memiliki kadar garam kalsium dan magnesium yang lebih tinggi. Air tersebut juga mengandung fluorida yang disebut memiliki efektivitas tinggi dalam melawan kuman.
Pengangkutan Air Zamzam
Departemen Penyediaan Air Zamzam di Masjidil Haram bertugas menyediakan air Zamzam dingin dan tidak dingin dalam wadah-wadah yang tersebar di tempat-tempat shalat dan lorong-lorong Masjidil Haram.
Departemen tersebut juga mengawasi laboratorium analisis air Zamzam dan memantau mobil-mobil tangki yang mengangkut air Zamzam dari Makkah Al-Mukarramah menuju Masjid Nabawi di Madinah Al-Munawwarah.
Sumur Zamzam telah mendapatkan perhatian dari para khalifah, penguasa, dan raja pada masa-masa terdahulu. Namun, tahapan pengembangan yang paling menonjol terjadi pada masa pemerintahan Kerajaan Arab Saudi.
Penyimpanan Air Sumur Zamzam
Pusat Studi dan Penelitian Zamzam menjalankan berbagai proyek penelitian lapangan untuk mengenali, menentukan, dan mengawasi sumber-sumber air.
Hal itu dilakukan agar air Zamzam dapat dikelola dengan baik dan terus tersedia, mengingat permintaannya terus meningkat setiap tahun dari penduduk maupun jamaah haji.
Air Sumur Zamzam disimpan dalam sebuah tangki berkapasitas 5.000 meter kubik. Tangki tersebut dibagi menjadi dua bagian dan dibangun dari beton bertulang.
Setelah proses penyimpanan, air dipindahkan ke instalasi pemurnian. Di tempat tersebut, air disaring dan diproses hingga mencapai tingkat kemurnian dan sterilisasi yang tinggi.
Air yang telah diproses kemudian dipindahkan ke Tangki Kudai yang berkapasitas 10.000 meter kubik.
Dari tangki tersebut, air Zamzam digunakan untuk:
– Memasok kebutuhan air Zamzam di Masjidil Haram.
– Memasok Sabil Raja Abdulaziz, tempat pengisian mobil-mobil tangki yang mengangkut air Zamzam ke Masjid Nabawi.
– Dialirkan menuju pabrik produksi untuk dikemas dalam kemasan air Zamzam berukuran lima liter.
Air dari Tangki Kudai juga disalurkan menuju stasiun-stasiun pendinginan air Zamzam yang berada di sekitar Masjidil Haram.
Dari sana, air dipompa menuju titik-titik pengisian wadah dan tempat-tempat minum air Zamzam di dalam Masjidil Haram.



