Wafatnya Rasulullah ﷺ

Wafatnya Rasulullah ﷺ
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah ﷺ, keluarga beliau, para sahabat beliau, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.
Kapan Wafat Nabi ﷺ ?
Rasulullah Muhammad ﷺ meninggalkan umat Islam pada tanggal 8 Juni tahun 633 M. Oleh karena itu, para ulama menyebutkan bahwa wafatnya Nabi Muhammad ﷺ menurut penanggalan Masehi terjadi pada 8 Juni 633 M.
Wafat beliau ﷺ terjadi pada hari Senin, 12 Rabi’ul Awwal tahun ke-11 Hijriah, yang bertepatan dengan tanggal 8 Juni 633 M, dan saat itu usia beliau adalah 63 tahun.
Para ulama memang berbeda pendapat mengenai usia Rasulullah ﷺ ketika wafatnya.
Telah sahih sebuah hadits dari Ummul Mukminin Aisyah رضي الله عنها bahwa beliau berkata:
«« تُوُفِّيَ النَّبِيُّ ﷺ وَهُوَ ابْنُ ثَلَاثٍ وَسِتِّينَ »
“Nabi ﷺ wafat pada usia enam puluh tiga tahun.”
(HR. Al-Bukhari no. 4466)»
Dalam hadits lain dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما disebutkan:
«« تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وَهُوَ ابْنُ خَمْسٍ وَسِتِّينَ »
“Rasulullah ﷺ wafat pada usia enam puluh lima tahun.”
(HR. Muslim no. 2353)»
Dan terdapat pula riwayat dari Anas bin Malik رضي الله عنه:
«« أَنَّهَا سِتُّونَ سَنَةً »
“Bahwa usia beliau adalah enam puluh tahun.”
(HR. Al-Bukhari no. 5900)»
Imam An-Nawawi رحمه الله berkata:
«”Rasulullah ﷺ wafat pada usia enam puluh tiga tahun. Ada pula yang mengatakan enam puluh lima tahun, dan ada pula yang mengatakan enam puluh tahun. Pendapat pertama adalah yang paling shahih dan paling masyhur, meskipun ketiga pendapat tersebut terdapat dalam hadits-hadits shahih.”»
Mengenai perbedaan riwayat tersebut, Imam An-Nawawi رحمه الله menjelaskan:
«”Para ulama menggabungkan riwayat-riwayat tersebut dengan mengatakan bahwa orang yang meriwayatkan enam puluh tahun tidak menghitung pecahan tahun. Sedangkan yang meriwayatkan enam puluh lima tahun menghitung tahun kelahiran dan tahun wafat. Adapun yang meriwayatkan enam puluh tiga tahun tidak menghitung keduanya. Pendapat yang benar adalah enam puluh tiga tahun.”»
Rasulullah ﷺ wafat di Kota Madinah Al-Munawwarah, di dalam kamar Ummul Mukminin Aisyah رضي الله عنها.
Beliau ﷺ wafat sementara kepala beliau berada di pangkuan Aisyah رضي الله عنها, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits shahih.Sebagian peneliti sejarah modern melakukan konversi kalender Hijriah dan Masehi dengan hasil yang sedikit berbeda, sehingga terdapat perbedaan kecil mengenai tanggal Masehi yang tepat. Namun yang disepakati oleh mayoritas ulama sirah adalah bahwa beliau ﷺ wafat pada hari Senin, 12 Rabi’ul Awwal tahun 11 H, pada usia 63 tahun.
Permulaan Sakit Rasulullah ﷺ
Pada tanggal 29 Shafar, Rasulullah ﷺ menghadiri sebuah pemakaman di Jannatul Baqi.
Setelah beliau kembali dari Baqi’, mulailah penyakit yang kemudian menjadi sebab wafat beliau ﷺ. Peristiwa ini terjadi tepat sekitar dua minggu sebelum wafat beliau ﷺ.
Beliau mulai merasakan sakit kepala yang sangat hebat, disertai demam yang sangat tinggi, hingga beliau mengikatkan kain pada kepalanya sebagai penahan rasa sakit.
Demikian tingginya panas tubuh beliau sehingga para sahabat رضي الله عنهم dapat merasakan panas tersebut bahkan dari atas kain yang melilit kepala beliau.
Beratnya Penyakit Rasulullah ﷺ
Penyakit yang diderita Rasulullah ﷺ berada pada tingkat yang sangat berat.
Pada waktu itu, Ummul Mukminin Aisha bint Abi Bakr رضي الله عنها juga sedang mengalami sakit kepala, lalu beliau berkata:
> « وَارَأْسَاهُ »
“Aduh, kepalaku!”
Maka Rasulullah ﷺ menjawab:
> « بَلْ أَنَا وَارَأْسَاهُ »
“Bahkan aku yang lebih merasakan sakit kepala.”
(HR. Al-Bukhari)
Barangkali inilah pertama kalinya dalam kehidupan beliau ﷺ ketika beliau tidak mengalihkan perhatian kepada sakit yang dirasakan Aisyah رضي الله عنها, karena begitu berat penyakit yang sedang beliau alami sendiri.
Rasulullah ﷺ Meminta Tinggal di Rumah Aisyah رضي الله عنها
Sebagaimana kebiasaan beliau ﷺ, setiap hari beliau berpindah dari rumah salah seorang istri ke rumah istri yang lain sesuai jadwal giliran mereka.
Namun ketika penyakit semakin berat, menjadi sangat sulit bagi beliau untuk berpindah dari satu kamar ke kamar yang lain.
Karena itu Rasulullah ﷺ ingin menetap di rumah salah seorang istri beliau sampai Allah menetapkan keputusan-Nya.
Beliau ingin tinggal di rumah istri yang paling beliau cintai, yaitu:
Aisha bint Abi Bakr رضي الله عنها.
Namun karena kelembutan akhlak dan rasa malu beliau ﷺ, beliau tidak ingin meminta secara langsung kepada istri-istri beliau agar tidak menyakiti perasaan mereka.
Oleh sebab itu beliau hanya bertanya berulang kali:
> « أَيْنَ أَنَا غَدًا؟ أَيْنَ أَنَا غَدًا؟ »
“Besok aku berada di mana? Besok aku berada di mana?”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Beliau terus mengucapkannya hingga tiba hari giliran Aisyah رضي الله عنها, lalu beliau tinggal di rumahnya.
Sikap Mulia Ummahatul Mukminin رضي الله عنهن
Para Ummahatul Mukminin memahami maksud Rasulullah ﷺ.
Karena adab mereka yang tinggi, kecintaan mereka kepada beliau, dan keinginan mereka untuk memberikan kenyamanan kepada Rasulullah ﷺ, mereka semua mengizinkan beliau untuk tinggal di tempat yang paling beliau sukai.
Maka Rasulullah ﷺ tinggal di rumah Aisyah رضي الله عنها sejak tanggal 5 Rabi’ul Awwal hingga akhir hayat beliau ﷺ.
Dengan demikian, beliau menghabiskan sekitar satu pekan terakhir kehidupan beliau di rumah Aisyah رضي الله عنها, rumah yang kemudian menjadi tempat wafat beliau, tempat beliau dimakamkan, dan tempat yang kini berada di dalam kawasan Masjid Nabawi.
Allah telah menggabungkan bagi Aisyah رضي الله عنها beberapa keutamaan besar sekaligus:
Rasulullah ﷺ wafat di rumahnya.
Rasulullah ﷺ wafat pada hari gilirannya.
Rasulullah ﷺ wafat dalam pangkuannya.
Rasulullah ﷺ dimakamkan di rumahnya.
Sebagaimana perkataan Aisyah رضي الله عنها:
> « إِنَّ مِنْ نِعَمِ اللَّهِ عَلَيَّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ تُوُفِّيَ فِي بَيْتِي، وَفِي يَوْمِي، وَبَيْنَ سَحْرِي وَنَحْرِي »
“Di antara nikmat Allah kepadaku adalah bahwa Rasulullah ﷺ wafat di rumahku, pada hari giliranku, dan di antara dada serta leherku.”
(HR. Al-Bukhari)
Semoga Allah meridhai Aisyah Ummul Mukminin dan seluruh istri Rasulullah ﷺ.
Hari-Hari Terakhir dan Wafatnya Rasulullah ﷺ
Allah Ta’ala menetapkan dengan hikmah-Nya bahwa kematian beserta rasa sakit dan sakaratnya merupakan ketentuan yang berlaku bagi setiap manusia, tidak peduli seberapa dekat kedudukannya di sisi Allah.
Tujuannya agar manusia mengetahui bahwa seandainya ada seseorang yang dapat diselamatkan dari kematian, niscaya orang itu adalah manusia terbaik dan makhluk termulia, yaitu Nabi Muhammad ﷺ.
Rasulullah ﷺ merasakan sakitnya penyakit, beratnya sakaratul maut, dan pedihnya kematian, sebagaimana para nabi sebelum beliau juga mengalaminya.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿ إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ ﴾
“Sesungguhnya engkau akan meninggal dan mereka pun akan meninggal.”
(QS. Az-Zumar: 30)
Dan Allah berfirman:
﴿ وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ ۖ أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۖ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ ﴾
“Kami tidak menjadikan keabadian bagi seorang manusia pun sebelum engkau. Maka jika engkau wafat, apakah mereka akan hidup kekal? Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian. Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan, dan hanya kepada Kamilah kalian dikembalikan.”
(QS. Al-Anbiya’: 34–35)
Beratnya Sakit Rasulullah ﷺ
Ummul Mukminin Aisha bint Abi Bakr رضي الله عنها berkata:
« مَا رَأَيْتُ رَجُلًا أَشَدَّ عَلَيْهِ الْوَجَعُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ »
“Aku tidak pernah melihat seseorang yang mengalami sakit lebih berat daripada Rasulullah ﷺ.”
(HR. Muslim)
Demikian pula Abdullah ibn Masud رضي الله عنه berkata:
Aku masuk menemui Rasulullah ﷺ ketika beliau sedang mengalami demam yang sangat berat. Aku menyentuh beliau dengan tanganku lalu berkata:
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau mengalami sakit yang sangat berat.”
Beliau menjawab:
« أَجَلْ، إِنِّي أُوعَكُ كَمَا يُوعَكُ رَجُلَانِ مِنْكُمْ »
“Benar, aku merasakan sakit sebagaimana sakit yang dirasakan oleh dua orang di antara kalian.”
Aku berkata:
“Apakah karena engkau mendapatkan dua pahala?”
Beliau menjawab:
« أَجَلْ »
“Ya.”
Kemudian beliau bersabda:
« مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى مِنْ مَرَضٍ فَمَا سِوَاهُ إِلَّا حَطَّ اللَّهُ بِهِ سَيِّئَاتِهِ، كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا »
“Tidaklah seorang muslim tertimpa gangguan berupa penyakit atau selainnya kecuali Allah akan menggugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya.”
(HR. Al-Bukhari)
Wasiat Rasulullah ﷺ kepada Kaum Anshar
Di antara wasiat terakhir beliau adalah agar umat Islam menjaga dan memuliakan kaum Anshar.
Dari Anas ibn Malik رضي الله عنه:
Rasulullah ﷺ bersabda:
« أُوصِيكُمْ بِالْأَنْصَارِ، فَإِنَّهُمْ كَرِشِي وَعَيْبَتِي، وَقَدْ قَضَوُا الَّذِي عَلَيْهِمْ وَبَقِيَ الَّذِي لَهُمْ، فَاقْبَلُوا مِنْ مُحْسِنِهِمْ، وَتَجَاوَزُوا عَنْ مُسِيئِهِمْ »
“Aku berwasiat kepada kalian agar berbuat baik kepada kaum Anshar, karena mereka adalah orang-orang dekat dan kepercayaanku. Mereka telah menunaikan kewajiban mereka, sedangkan hak mereka masih tersisa. Maka terimalah kebaikan orang-orang baik mereka dan maafkanlah kesalahan orang-orang yang berbuat salah di antara mereka.”
(HR. Al-Bukhari)
Peristiwa Permintaan Alat Tulis
Lima hari sebelum wafatnya, rasa sakit beliau semakin berat.
Beliau bersabda:
« هَلُمُّوا أَكْتُبْ لَكُمْ كِتَابًا لَا تَضِلُّوا بَعْدَهُ »
“Kemarilah, aku akan menuliskan untuk kalian sebuah tulisan yang setelahnya kalian tidak akan tersesat.”
Namun para sahabat berbeda pendapat karena beratnya sakit yang dialami Rasulullah ﷺ sehingga akhirnya beliau bersabda:
« قُومُوا عَنِّي »
“Berdirilah kalian dan tinggalkan aku.”
(HR. Al-Bukhari)
Ibnu Abbas رضي الله عنهما kemudian berkata:
« إِنَّ الرَّزِيَّةَ كُلَّ الرَّزِيَّةِ مَا حَالَ بَيْنَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَبَيْنَ أَنْ يَكْتُبَ لَهُمْ ذَلِكَ الْكِتَابَ »
“Musibah yang sesungguhnya adalah terhalangnya Rasulullah ﷺ dari menuliskan pesan tersebut akibat perselisihan dan keributan mereka.”
Wasiat untuk Berbaik Sangka kepada Allah
Tiga hari sebelum wafat beliau bersabda:
« أَحْسِنُوا الظَّنَّ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ »
“Berbaik sangkalah kepada Allah Azza wa Jalla.”
(HR. Muslim)
Larangan Menjadikan Kuburan Sebagai Tempat Ibadah
Ketika sakaratul maut, Rasulullah ﷺ bersabda:
« لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى، اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ »
“Laknat Allah atas Yahudi dan Nasrani, mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai tempat ibadah.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Aisyah رضي الله عنها berkata:
“Beliau memperingatkan umatnya agar tidak melakukan seperti apa yang mereka lakukan.”
Racun Khaibar dan Sakaratul Maut
Rasulullah ﷺ bersabda kepada Aisyah رضي الله عنها:
« يَا عَائِشَةُ، مَا أَزَالُ أَجِدُ أَلَمَ الطَّعَامِ الَّذِي أَكَلْتُ بِخَيْبَرَ، فَهَذَا أَوَانُ وَجَدْتُ انْقِطَاعَ أَبْهَرِي مِنْ ذَلِكَ السَّمِّ »
“Wahai Aisyah, aku masih terus merasakan sakit akibat makanan yang aku makan di Khaibar, dan sekarang aku merasakan seakan-akan urat nadiku terputus karena racun tersebut.”
(HR. Al-Bukhari)
Wasiat Terakhir: Shalat, Shalat!
Di antara ucapan terakhir Rasulullah ﷺ adalah:
« الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ، وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ »
“Jagalah shalat, jagalah shalat, dan perhatikanlah hamba sahaya yang berada di bawah tanggung jawab kalian.”
(HR. Ibnu Majah)
Anas رضي الله عنه berkata:
« كَانَتْ عَامَّةُ وَصِيَّةِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ حِينَ حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ: الصَّلَاةَ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ »
“Sebagian besar wasiat Rasulullah ﷺ ketika ajal menjemputnya adalah: ‘Jagalah shalat dan perhatikanlah orang-orang yang berada di bawah tanggung jawab kalian.'”
Waktu Wafatnya Rasulullah ﷺ
Rasulullah ﷺ wafat ketika matahari telah meninggi pada waktu dhuha, yaitu pada hari Senin, 12 Rabi’ul Awwal tahun 11 Hijriah.
Hari itu merupakan hari yang paling kelam dalam sejarah Islam, sebuah hari yang tidak pernah disaksikan umat Islam sebelumnya.
Dari Anas ibn Malik رضي الله عنه, beliau berkata:
> مَا رَأَيْتُ يَوْمًا قَطُّ كَانَ أَحْسَنَ وَلَا أَضْوَأَ مِنْ يَوْمِ دَخَلَ عَلَيْنَا فِيهِ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ، وَمَا رَأَيْتُ يَوْمًا كَانَ أَقْبَحَ وَلَا أَظْلَمَ مِنْ يَوْمِ مَاتَ فِيهِ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ
“Aku tidak pernah melihat suatu hari yang lebih indah dan lebih bercahaya daripada hari ketika Rasulullah ﷺ datang kepada kami, dan aku tidak pernah melihat suatu hari yang lebih buruk dan lebih gelap daripada hari ketika Rasulullah ﷺ wafat.”
(HR. Ad-Darimi dan Al-Baghawi)
Shalat Subuh Terakhir Bersama Kaum Muslimin
Anas رضي الله عنه juga menceritakan kejadian pada pagi hari wafatnya Rasulullah ﷺ:
> Pada saat kaum muslimin sedang melaksanakan shalat Subuh pada hari Senin dan Abu Bakar رضي الله عنه menjadi imam mereka, tiba-tiba Rasulullah ﷺ membuka tirai kamar Aisha bint Abi Bakr رضي الله عنها lalu memandang mereka yang sedang berdiri dalam saf-saf shalat.
Kemudian beliau tersenyum dan tertawa kecil.
Melihat hal itu, Abu Bakar رضي الله عنه mundur ke belakang karena mengira Rasulullah ﷺ hendak keluar untuk mengimami shalat.
Anas رضي الله عنه berkata:
> فَهَمَّ الْمُسْلِمُونَ أَنْ يَفْتَتِنُوا فِي صَلَاتِهِمْ فَرَحًا بِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ
“Kaum muslimin hampir kehilangan kekhusyukan dalam shalat mereka karena begitu gembiranya melihat Rasulullah ﷺ.”
Namun Rasulullah ﷺ memberi isyarat dengan tangan beliau:
> « أَتِمُّوا صَلَاتَكُمْ »
“Sempurnakanlah shalat kalian.”
Setelah itu beliau kembali masuk ke kamar dan menutup tirai.
(HR. Al-Bukhari)
Itulah pandangan terakhir Rasulullah ﷺ kepada umatnya yang sedang melaksanakan shalat berjamaah.
Penjelasan Hadits Anas رضي الله عنه:
“Tidak ada lagi kesusahan atas ayahmu setelah hari ini”
Penjelasan Syaikh Muhammad ibn Salih al-Uthaymeen رحمه الله
Dari Anas ibn Malik رضي الله عنه, ia berkata:
> لَمَّا ثَقُلَ النَّبِيُّ ﷺ جَعَلَ يَتَغَشَّاهُ الْكَرْبُ، فَقَالَتْ فَاطِمَةُ رضي الله عنها: وَاكَرْبَ أَبَتَاهُ، فَقَالَ: لَيْسَ عَلَى أَبِيكِ كَرْبٌ بَعْدَ الْيَوْمِ
“Ketika sakit Nabi ﷺ semakin berat, beliau mulai diliputi oleh rasa sakit dan kesusahan yang sangat. Maka Fatimah رضي الله عنها berkata:
‘Aduh beratnya penderitaan ayahku!’
Lalu beliau ﷺ menjawab:
‘Tidak ada lagi kesusahan atas ayahmu setelah hari ini.'”
Kemudian setelah Rasulullah ﷺ wafat, Fatimah رضي الله عنها berkata:
> يَا أَبَتَاهُ، أَجَابَ رَبًّا دَعَاهُ
“Wahai ayahku, beliau telah memenuhi panggilan Rabb yang memanggilnya.”
> يَا أَبَتَاهُ، جَنَّةُ الْفِرْدَوْسِ مَأْوَاهُ
“Wahai ayahku, Surga Firdaus adalah tempat tinggalnya.”
> يَا أَبَتَاهُ، إِلَى جِبْرِيلَ نَنْعَاهُ
“Wahai ayahku, kepada Jibril kami mengabarkan wafatnya.”
Dan ketika Rasulullah ﷺ telah dimakamkan, Fatimah رضي الله عنها berkata:
> أَطَابَتْ أَنْفُسُكُمْ أَنْ تَحْثُوا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ التُّرَابَ؟
“Apakah hati kalian merasa ringan untuk menimbunkan tanah di atas Rasulullah ﷺ?”
(HR. Al-Bukhari no. 4462)
Beratnya Penyakit Rasulullah ﷺ
Syaikh Ibnu Utsaimin رحمه الله menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ mengalami sakit yang sangat berat hingga beberapa kali beliau pingsan karena kerasnya penderitaan yang beliau rasakan.
Beliau ﷺ pernah bersabda:
> « إِنِّي أُوعَكُ كَمَا يُوعَكُ رَجُلَانِ مِنْكُمْ »
“Sesungguhnya aku merasakan sakit sebagaimana sakit yang dirasakan oleh dua orang di antara kalian.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Hikmah dari beratnya sakit beliau
Hikmahnya adalah agar Rasulullah ﷺ memperoleh derajat kesabaran yang paling tinggi.
Kesabaran tidak akan diperoleh kecuali melalui ujian dan cobaan.
Allah Ta’ala berfirman:
> ﴿ وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّىٰ نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَا أَخْبَارَكُمْ ﴾
“Dan sungguh Kami akan menguji kalian hingga Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan orang-orang yang sabar di antara kalian.”
(QS. Muhammad: 31)
Makna “Tidak Ada Lagi Kesusahan Setelah Hari Ini”
Sabda Nabi ﷺ:
> « لَيْسَ عَلَى أَبِيكِ كَرْبٌ بَعْدَ الْيَوْمِ »
“Tidak ada lagi kesusahan atas ayahmu setelah hari ini.”
Artinya, setelah beliau meninggalkan dunia, beliau akan berpindah menuju:
> الرَّفِيقُ الْأَعْلَى
“Teman yang Mahatinggi.”
Ketika sakaratul maut beliau berdoa:
> « اللَّهُمَّ فِي الرَّفِيقِ الْأَعْلَى، اللَّهُمَّ فِي الرَّفِيقِ الْأَعْلَى »
“Ya Allah, bersama Ar-Rafiq Al-A’la, ya Allah bersama Ar-Rafiq Al-A’la.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan Ucapan Fatimah رضي الله عنها
1. “Beliau telah memenuhi panggilan Rabb yang memanggilnya”
> يَا أَبَتَاهُ، أَجَابَ رَبًّا دَعَاهُ
Karena seluruh makhluk berada di bawah kekuasaan Allah.
Allah menentukan ajal seluruh manusia dan mengatur seluruh urusan mereka.
Rasulullah ﷺ telah memenuhi panggilan Rabbnya dan kembali kepada-Nya.
2. “Surga Firdaus adalah tempat tinggalnya”
> يَا أَبَتَاهُ، جَنَّةُ الْفِرْدَوْسِ مَأْوَاهُ
Tidak diragukan bahwa Rasulullah ﷺ menempati derajat tertinggi di surga, yaitu Firdaus Al-A’la.
Beliau ﷺ bersabda:
> « سَلُوا اللَّهَ لِيَ الْوَسِيلَةَ، فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ »
“Mohonkanlah kepada Allah untukku Al-Wasilah, karena ia adalah kedudukan di surga yang tidak layak kecuali bagi satu orang hamba dari hamba-hamba Allah, dan aku berharap akulah orang itu.”
(HR. Muslim no. 384)
Firdaus merupakan tingkatan surga tertinggi, dan di atasnya terdapat Arsy Allah سبحانه وتعالى.
3. “Kepada Jibril kami mengabarkan wafatnya”
> يَا أَبَتَاهُ، إِلَى جِبْرِيلَ نَنْعَاهُ
Karena selama hidup Rasulullah ﷺ, Jibril عليه السلام senantiasa turun membawa wahyu kepada beliau.
Dengan wafatnya Rasulullah ﷺ maka wahyu pun terputus dari bumi.
4. “Apakah hati kalian merasa ringan menimbunkan tanah di atas beliau?”
> أَطَابَتْ أَنْفُسُكُمْ أَنْ تَحْثُوا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ التُّرَابَ؟
Ucapan ini lahir dari besarnya kesedihan Fatimah رضي الله عنها dan kecintaannya kepada ayahnya.
Bukan berarti beliau menolak takdir Allah, tetapi sekadar ungkapan duka yang mendalam.
Pelajaran Penting dari Hadits Ini
1. Rasulullah ﷺ adalah manusia
Beliau mengalami:
sakit,
lapar,
haus,
panas,
dingin,
dan seluruh sifat manusia lainnya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> « إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ، أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ »
“Sesungguhnya aku hanyalah manusia seperti kalian, aku lupa sebagaimana kalian juga lupa.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim).
2. Bantahan terhadap orang yang berdoa kepada Nabi ﷺ
Karena Rasulullah ﷺ sendiri tidak memiliki kemampuan mendatangkan manfaat atau menolak mudarat bagi dirinya sendiri kecuali dengan izin Allah.
Allah memerintahkan beliau untuk mengatakan:
> ﴿ قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ ۖ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ ﴾
“Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepada kalian bahwa aku memiliki perbendaharaan Allah, aku tidak mengetahui yang gaib, dan aku tidak mengatakan bahwa aku adalah malaikat. Aku hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku.”
(QS. Al-An’am: 50)
Dan Allah juga berfirman:
> ﴿ قُلْ إِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا رَشَدًا ﴾
“Katakanlah: Aku tidak memiliki kekuasaan untuk mendatangkan mudarat maupun petunjuk bagi kalian.”
(QS. Al-Jinn: 21)
3. Nabi ﷺ Tidak Dapat Menyelamatkan Kerabatnya dari Azab Allah
Ketika turun firman Allah:
> ﴿ وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ ﴾
“Berilah peringatan kepada kerabatmu yang terdekat.”
(QS. Asy-Syu’ara: 214)
Rasulullah ﷺ bersabda:
> « يَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ، سَلِينِي مَا شِئْتِ مِنْ مَالِي، لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا »
“Wahai Fatimah binti Muhammad, mintalah kepadaku apa saja dari hartaku, tetapi aku tidak dapat melindungimu sedikit pun dari azab Allah.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
4. Bolehnya Tangisan dan Ungkapan Duka yang Wajar
Hadits ini menunjukkan bahwa menangis dan mengungkapkan kesedihan secara wajar diperbolehkan selama tidak disertai:
protes kepada takdir Allah,
ratapan jahiliyah,
atau ucapan yang menunjukkan ketidakridhaan terhadap keputusan Allah.
5. Para Nabi Tidak Mewariskan Harta
Rasulullah ﷺ bersabda:
> « إِنَّا مَعْشَرَ الْأَنْبِيَاءِ لَا نُورَثُ، مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ »
“Kami para nabi tidak diwarisi. Apa yang kami tinggalkan adalah sedekah.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Karena itu Fatimah رضي الله عنها, istri-istri Nabi ﷺ, Abbas رضي الله عنه, dan kerabat beliau lainnya tidak mewarisi harta peninggalan beliau.
Hikmahnya agar tidak ada orang yang mengatakan bahwa para nabi datang membawa risalah demi membangun kerajaan atau kekayaan yang diwariskan kepada keturunannya.
Awal Sakaratul Maut
Setelah peristiwa tersebut, Rasulullah ﷺ tidak lagi melaksanakan shalat bersama kaum muslimin karena sakaratul maut mulai datang.
Kepala beliau disandarkan di dada Aisyah رضي الله عنها.
Aisyah رضي الله عنها berkata:
> إِنَّ مِنْ نِعَمِ اللَّهِ عَلَيَّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ تُوُفِّيَ فِي بَيْتِي، وَفِي يَوْمِي، وَبَيْنَ سَحْرِي وَنَحْرِي
“Di antara nikmat Allah kepadaku adalah bahwa Rasulullah ﷺ wafat di rumahku, pada hari giliranku, dan di antara dadaku dan leherku.”
Beliau juga berkata:
> وَأَنَّ اللَّهَ جَمَعَ بَيْنَ رِيقِي وَرِيقِهِ عِنْدَ مَوْتِهِ
“Dan Allah mempertemukan air liurku dengan air liur beliau pada saat wafatnya.”
(HR. Al-Bukhari)
Siwak Terakhir Rasulullah ﷺ
Pada saat itu, Abd al-Rahman ibn Abi Bakr رضي الله عنه masuk sambil membawa siwak.
Aisyah رضي الله عنها berkata:
> Aku melihat Rasulullah ﷺ memandang siwak tersebut dan aku mengetahui bahwa beliau menyukai siwak.
Aku berkata:
> آخُذُهُ لَكَ؟
“Apakah aku ambilkan untukmu?”
Beliau memberi isyarat dengan kepala beliau:
> نَعَمْ
“Ya.”
Aku mengambil siwak itu, namun ternyata terlalu keras untuk beliau.
Aku bertanya:
> أُلَيِّنُهُ لَكَ؟
“Apakah aku lunakkan untukmu?”
Beliau kembali mengisyaratkan:
> نَعَمْ
“Ya.”
Lalu aku melunakkannya untuk beliau.
(HR. Al-Bukhari)
Kata-kata Terakhir Rasulullah ﷺ
Setelah selesai bersiwak, Rasulullah ﷺ mengangkat tangan atau jari beliau dan memandang ke arah langit-langit rumah.
Bibir beliau bergerak dan Aisyah رضي الله عنها mendengarkan apa yang beliau ucapkan:
> مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ
“(Aku ingin bersama) orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, yaitu para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh.”
Ini merupakan isyarat kepada firman Allah:
> ﴿ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا ﴾
“Barang siapa menaati Allah dan Rasul, maka mereka akan bersama orang-orang yang Allah beri nikmat kepada mereka, yaitu para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah sebaik-baik teman.”
(QS. An-Nisa’: 69)
Kemudian beliau berdoa:
> اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَأَلْحِقْنِي بِالرَّفِيقِ الْأَعْلَى
“Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku, dan pertemukanlah aku dengan Ar-Rafiq Al-A’la (teman tertinggi).”
Kemudian beliau mengucapkan:
> اللَّهُمَّ الرَّفِيقَ الْأَعْلَى
“Ya Allah, bersama Ar-Rafiq Al-A’la.”
Beliau mengulanginya sebanyak tiga kali:
> اللَّهُمَّ الرَّفِيقَ الْأَعْلَى
اللَّهُمَّ الرَّفِيقَ الْأَعْلَى
اللَّهُمَّ الرَّفِيقَ الْأَعْلَى
Lalu tangan beliau terkulai dan ruh beliau yang mulia berpindah menuju Ar-Rafiq Al-A’la.
> إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya kita akan kembali.”
Pelajaran dari Wafatnya Rasulullah ﷺ
Nabi ﷺ tetap bersiwak hingga saat-saat terakhir kehidupannya.
Perhatian terakhir beliau kepada umat adalah keadaan mereka dalam shalat berjamaah.
Seorang mukmin hendaknya mengharapkan perjumpaan dengan Allah ketika datang ajalnya.
Wafatnya Rasulullah ﷺ merupakan musibah terbesar yang pernah menimpa umat Islam.
Sebagaimana sabda beliau ﷺ:
> « إِذَا أَصَابَ أَحَدَكُمْ مُصِيبَةٌ فَلْيَذْكُرْ مُصِيبَتَهُ بِي، فَإِنَّهَا مِنْ أَعْظَمِ الْمَصَائِبِ »
“Apabila salah seorang di antara kalian tertimpa musibah, hendaklah ia mengingat musibah wafatku, karena sesungguhnya itu adalah musibah yang paling besar.”
(HR. Ibnu Majah no. 1599, dinilai hasan oleh sebagian ulama)
Rasulullah ﷺ bersabda:
« يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أَيُّمَا أَحَدٍ مِنَ النَّاسِ أَوِ الْمُؤْمِنِينَ أُصِيبَ بِمُصِيبَةٍ، فَلْيَتَعَزَّ بِمُصِيبَتِهِ بِي عَنِ الْمُصِيبَةِ الَّتِي تُصِيبُهُ بِغَيْرِي، فَإِنَّ أَحَدًا مِنْ أُمَّتِي لَنْ يُصَابَ بِمُصِيبَةٍ بَعْدِي أَشَدَّ عَلَيْهِ مِنْ مُصِيبَتِي »
“Wahai manusia, siapa saja yang tertimpa musibah, hendaklah ia menghibur dirinya dengan mengingat musibah wafatku, karena tidak akan ada seorang pun dari umatku yang tertimpa musibah setelahku yang lebih besar daripada musibah wafatku.”
(HR. Ibnu Majah)
Sebagaimana dikatakan dalam syair:
اصْبِرْ لِكُلِّ مُصِيبَةٍ وَتَجَلَّدِ
وَاعْلَمْ بِأَنَّ الْمَرْءَ غَيْرُ مُخَلَّدِ
Bersabarlah atas setiap musibah dan kuatkanlah dirimu, karena manusia tidaklah hidup kekal.
وَإِذَا أَتَتْكَ مُصِيبَةٌ تَشْجَى بِهَا
فَاذْكُرْ مُصَابَكَ بِالنَّبِيِّ مُحَمَّدِ
Apabila datang kepadamu musibah yang membuatmu bersedih, ingatlah musibah wafatnya Nabi Muhammad ﷺ.
Semoga Allah menghimpunkan kita bersama Nabi Muhammad ﷺ di surga Firdaus yang tertinggi. Aamiin.
Sikap Para Sahabat Saat Rasulullah ﷺ Wafat
Dari Ummul Mukminin Aisha bint Abi Bakr رضي الله عنها, beliau berkata:
> Ketika Rasulullah ﷺ wafat, Abu Bakar رضي الله عنه sedang berada di daerah As-Sunh, sebuah perkampungan di pinggiran Madinah.
Sementara itu, Umar ibn al-Khattab رضي الله عنه berdiri di hadapan manusia seraya berkata:
> « وَاللَّهِ مَا مَاتَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ »
“Demi Allah, Rasulullah ﷺ tidak wafat!”
Aisyah رضي الله عنها berkata:
> Umar berkata:
“Demi Allah, tidak ada yang terlintas dalam hatiku kecuali keyakinan itu. Demi Allah, Allah pasti akan membangkitkan beliau kembali, lalu beliau akan memotong tangan dan kaki orang-orang yang mengatakan beliau telah wafat.”
Kedatangan Abu Bakar رضي الله عنه
Kemudian Abu Bakar رضي الله عنه datang, lalu masuk menemui Rasulullah ﷺ, membuka kain yang menutupi wajah beliau dan menciumnya.
Beliau berkata:
> « بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي، طِبْتَ حَيًّا وَمَيِّتًا »
“Ayah dan ibuku menjadi tebusanmu. Engkau tetap mulia dan harum, baik ketika hidup maupun setelah wafat.”
Kemudian beliau berkata:
> « وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَا يُذِيقُكَ اللَّهُ الْمَوْتَتَيْنِ أَبَدًا »
“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, Allah tidak akan membuatmu merasakan kematian dua kali selama-lamanya.”
(HR. Al-Bukhari)
Pidato Abu Bakar yang Mengokohkan Umat
Kemudian Abu Bakar keluar menemui manusia dan berkata kepada Umar:
> « أَيُّهَا الْحَالِفُ عَلَى رِسْلِكَ »
“Wahai orang yang sedang bersumpah, tenanglah.”
Ketika Abu Bakar mulai berbicara, Umar pun duduk.
Abu Bakar memuji Allah dan kemudian berkata:
> « أَلَا مَنْ كَانَ يَعْبُدُ مُحَمَّدًا ﷺ فَإِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ مَاتَ، وَمَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ فَإِنَّ اللَّهَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ »
“Ketahuilah, barang siapa menyembah Muhammad ﷺ, maka sesungguhnya Muhammad telah wafat. Dan barang siapa menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tidak akan pernah mati.”
Kemudian beliau membaca firman Allah:
> ﴿ إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ ﴾
“Sesungguhnya engkau akan meninggal dan mereka pun akan meninggal.”
(QS. Az-Zumar: 30)
Lalu beliau membaca:
> ﴿ وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ ﴾
“Muhammad hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa rasul. Apakah jika ia wafat atau terbunuh kalian akan berbalik ke belakang? Barang siapa berbalik ke belakang maka ia tidak akan membahayakan Allah sedikit pun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”
(QS. Ali ‘Imran: 144)
Maka manusia pun menangis tersedu-sedu.
(HR. Al-Bukhari)
Seakan-akan Ayat Itu Baru Turun Saat Itu
Abdullah ibn Abbas رضي الله عنهما berkata:
> “Demi Allah, seakan-akan manusia sebelumnya tidak mengetahui bahwa Allah telah menurunkan ayat tersebut hingga Abu Bakar membacakannya kepada mereka. Setelah itu semua orang menerimanya, sehingga tidaklah terdengar seorang pun kecuali ia membacanya.”
Sedangkan Umar رضي الله عنه berkata:
> « فَوَاللَّهِ لَكَأَنِّي لَمْ أَتْلُ هَذِهِ الْآيَةَ قَطُّ »
“Demi Allah, seakan-akan aku belum pernah membaca ayat ini sebelumnya.”
Keadaan Kaum Muslimin Saat Itu
Ibn Rajab al-Hanbali رحمه الله berkata:
> “Ketika Rasulullah ﷺ wafat, kaum muslimin menjadi terguncang. Ada yang kehilangan kesadaran hingga pikirannya kacau, ada yang tidak sanggup berdiri, ada yang lidahnya kelu sehingga tidak mampu berbicara, dan ada pula yang sama sekali menolak kenyataan bahwa beliau telah wafat.”
Tangisan Abu Bakar di Sisi Jenazah Nabi ﷺ
Aisyah رضي الله عنها juga meriwayatkan:
> Abu Bakar رضي الله عنه masuk menemui Rasulullah ﷺ setelah wafat beliau, lalu meletakkan mulutnya di antara kedua mata beliau dan meletakkan kedua tangannya di pelipis beliau seraya berkata:
> « وَا نَبِيَّاهُ، وَا خَلِيلَاهُ، وَا صَفِيَّاهُ »
“Wahai Nabiku, wahai kekasihku, wahai manusia pilihan Allah.”
Kemudian beliau membaca:
> ﴿ إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ ﴾
“Sesungguhnya engkau akan meninggal dan mereka pun akan meninggal.”
(QS. Az-Zumar: 30)
Dan:
> ﴿ وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ ﴾
“Kami tidak menjadikan keabadian bagi seorang manusia pun sebelum engkau. Maka jika engkau wafat, apakah mereka akan hidup kekal?”
(QS. Al-Anbiya’: 34)
Dan:
> ﴿ كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ﴾
“Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian.”
(QS. Ali ‘Imran: 185)
(HR. Ahmad)
Kesedihan Para Sahabat
Uthman ibn Affan رضي الله عنه berkata:
> “Ketika Rasulullah ﷺ wafat, sebagian sahabat sangat bersedih hingga ada di antara mereka yang hampir kehilangan keseimbangan pikirannya. Aku termasuk orang yang sangat bersedih saat itu. Aku sedang duduk di salah satu benteng Madinah ketika Umar lewat dan mengucapkan salam kepadaku, namun aku tidak menyadarinya karena besarnya kesedihanku.”
Sedangkan Anas ibn Malik رضي الله عنه berkata:
> “Tidaklah datang suatu malam kepadaku kecuali aku melihat kekasihku ﷺ dalam mimpiku.”
Lalu Anas mengucapkan kalimat itu sambil meneteskan air mata.
Suasana Kota Madinah
Penyair Arab terkenal Abu Dhu’ayb al-Hudhali berkata:
> “Aku datang ke Madinah, dan aku mendengar suara tangisan penduduknya seperti suara para jamaah haji yang bertalbiyah bersama-sama ketika ihram.”
Aku bertanya:
> “Apa yang terjadi?”
Mereka menjawab:
> “Rasulullah ﷺ telah wafat.”
Kesedihan yang Tetap Terjaga oleh Syariat
Meskipun para sahabat mengalami kesedihan yang sangat mendalam dan musibah yang luar biasa besar, mereka tidak sampai terjerumus ke dalam ratapan dan jeritan yang dilarang syariat.
Dari Qays ibn Asim رضي الله عنه, ketika menjelang wafat beliau berkata:
> « لَا تَنُوحُوا عَلَيَّ، فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ لَمْ يُنَحْ عَلَيْهِ »
“Janganlah kalian meratapiku, karena Rasulullah ﷺ sendiri tidak diratapi dengan ratapan seperti itu.”
Inilah teladan generasi terbaik umat ini: kesedihan yang mendalam, namun tetap berada dalam batas-batas kesabaran dan keridhaan kepada takdir Allah سبحانه وتعالى.



