Tatsqif

Jabal Tsabir

Jabal Tsabir

«أَشْرِقْ ثَبِيرُ كَيْ نُغِيرَ»
“Wahai Tsabir, terbitlah matahari agar kami dapat berangkat!”

Gunung Tsabir, Gunung yang Menjadi Saksi Peristiwa Tebusan Nabi Ismail alaihissalam

Gunung-gunung di Kota Makkah yang suci bukan hanya berfungsi sebagai pasak yang menjaga keseimbangan bumi, tetapi juga menjadi saksi perjalanan para nabi dan menyimpan berbagai peristiwa penting dalam sejarah Islam.

Di antara gunung-gunung yang menjulang itu, terdapat Jabal Thabir — yang juga dikenal dengan nama Tsabir Al-Atsbirah — sebagai salah satu gunung terbesar dan paling bersejarah di Makkah. Gunung ini berdiri megah menghadap kawasan Mina, seakan menyimpan di antara bebatuannya kisah pengorbanan dan awal turunnya wahyu.

Gunung Tsabir terletak di sebelah timur Kota Makkah, tepat berhadapan dengan Jabal Al Noor yang di dalamnya terdapat Gua Hira. Gunung ini termasuk salah satu gunung tertinggi di Makkah, dengan ketinggian sekitar 883 meter di atas permukaan laut. Gunung tersebut membentang di sepanjang sisi utara Mina serta menghadap kawasan Al-Ma’abidah dan Ar-Raudhah.

Asal Penamaan

Gunung ini dinamakan Tsabir karena dinisbatkan kepada seorang laki-laki dari kabilah Hudhail yang meninggal dunia di tempat tersebut. Ada pula yang mengatakan bahwa nama itu berasal dari bentuknya yang tinggi dan besar.

Para sejarawan juga menyebutnya dengan nama Tsabir Ghainā’, untuk membedakannya dari beberapa gunung lain di Makkah yang juga bernama Tsabir, seperti Tsabir Az-Zanj dan Tsabir Al-A’raj.

Gunung yang Menjadi Saksi Tebusan Nabi Ismail

Gunung Tsabir memiliki kedudukan istimewa dalam sejarah Islam karena dikaitkan dengan kisah Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail `alaihimassalam, dalam peristiwa penyembelihan yang agung.

Beberapa riwayat sejarah menyebutkan bahwa kambing kibas yang Allah jadikan sebagai tebusan bagi Nabi Ismail `alaihissalam diturunkan di gunung ini. Karena itulah, banyak kaum muslimin memandang gunung ini dengan penuh penghormatan, sebab ia dikaitkan dengan salah satu kisah pengorbanan terbesar dalam sejarah manusia, yang menunjukkan rahmat dan karunia Allah Ta’ala.

Hubungannya dengan Masa Jahiliah dan Islam

Pada masa jahiliah, orang-orang Arab tidak berangkat dari Muzdalifah menuju Mina hingga matahari terbit di atas puncak Gunung Tsabir. Mereka biasa mengucapkan semboyan terkenal:

> «أشرق ثبير كي نغير»

“Wahai Tsabir, terbitlah matahari agar kami dapat bergerak (berangkat).”

Ketika Islam datang, syariat justru menyelisihi kebiasaan tersebut. Jamaah haji diperintahkan meninggalkan Muzdalifah menuju Mina sebelum terbit matahari, sebagai penegasan bahwa ibadah dalam Islam memiliki tuntunan dan waktu-waktu syar’i yang tersendiri.

Hubungan Gunung Tsabir dengan Nabi ﷺ

Gunung Tsabir tidak terpisahkan dari perjalanan hidup Rasulullah ﷺ. Disebutkan dalam beberapa atsar bahwa Nabi ﷺ pernah mendakinya.

Sebagian riwayat juga menyebutkan bahwa gunung tersebut pernah bergetar karena keberadaan Nabi ﷺ bersama para sahabat beliau di atasnya, sebagai bentuk penghormatan dan pengagungan terhadap Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya.

Selain itu, karena lokasinya sangat dekat dengan Gua Hira, gunung ini juga menjadi saksi masa-masa awal turunnya wahyu, sehingga kawasan di sekitarnya dapat disebut sebagai kawasan yang sangat erat kaitannya dengan sejarah kenabian.

Struktur Geologi dan Kondisi Saat Ini

Gunung Tsabir memiliki formasi batuan granit yang kokoh dengan warna yang cenderung gelap kehitaman.

Di gunung ini terdapat sebuah gua yang dikenal dengan nama Gua Tsabir atau Gua Al-Mursalat, yang hingga kini masih dikunjungi sebagian peneliti dan pemerhati sejarah sirah Nabi, meskipun jalur menuju tempat tersebut cukup sulit dan medannya terjal.

Dari puncaknya, kawasan Mina dapat terlihat dengan sangat jelas, seolah-olah gunung tersebut berdiri sebagai penjaga perbatasan tanah suci yang mengawasi jutaan jamaah haji yang datang setiap tahun.

Upaya Pelestarian

Di tengah pesatnya perkembangan pembangunan di Makkah, Gunung Tsabir mendapatkan perhatian dari para peneliti dan sejarawan di Saudi untuk mendokumentasikan batas-batas dan situs-situs sejarah yang ada di sekitarnya.

Royal Commission for Makkah City and Holy Sites juga berupaya menjaga dan melestarikan situs-situs pegunungan bersejarah ini melalui berbagai proyek pengayaan pengalaman religius bagi para tamu Allah, agar gunung tersebut tetap menjadi warisan sejarah dan geografis yang dapat dikenal oleh generasi mendatang.

Sesungguhnya Gunung Tsabir bukan sekadar tumpukan batu dan bebatuan. Ia adalah bagian yang tak terpisahkan dari sejarah Makkah; gunung yang dikaitkan dengan peristiwa tebusan Nabi Ismail `alaihissalam, yang menyaksikan langkah-langkah awal kenabian, dan selama ribuan tahun menjadi penunjuk jalan bagi para musafir yang menuju Masjidil Haram.

Catatan

Riwayat mengenai turunnya kambing tebusan Nabi Ismail di Gunung Tsabir termasuk riwayat sejarah yang disebutkan oleh sebagian ahli sejarah dan tidak terdapat dalil sahih yang secara tegas menetapkan lokasi tersebut. Oleh karena itu, hal tersebut dipahami sebagai informasi sejarah, bukan sebagai keyakinan agama yang pasti.

Kisah Penyembelihan Nabi Ismail `alaihissalam

Allah Ta’ala berfirman tentang hamba dan kekasih-Nya, Nabi Ibrahim `alaihissalam:

> ﴿وَقَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَى رَبِّي سَيَهْدِينِ ۝ رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ ۝ فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ ۝ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى ۖ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ ۝ فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ ۝ وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ ۝ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚ إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ ۝ إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ ۝ وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ ۝ وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ ۝ سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ۝ كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ ۝ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ ۝ وَبَشَّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ نَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ ۝ وَبَارَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلَى إِسْحَاقَ ۚ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَظَالِمٌ لِنَفْسِهِ مُبِينٌ﴾

> “Ibrahim berkata, ‘Sesungguhnya aku akan pergi menuju Rabbku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang termasuk orang-orang saleh.’ Maka Kami memberi kabar gembira kepadanya dengan seorang anak yang sangat penyantun. Ketika anak itu telah sampai pada usia sanggup berusaha bersama ayahnya, Ibrahim berkata, ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.’ Ia menjawab, ‘Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’ Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkannya di atas pelipisnya, Kami memanggilnya, ‘Wahai Ibrahim! Sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu.’ Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar merupakan ujian yang nyata. Kami menebusnya dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim pujian di kalangan orang-orang yang datang kemudian. Kesejahteraan bagi Ibrahim. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami memberi kabar gembira kepadanya dengan kelahiran Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang saleh. Kami limpahkan keberkahan kepada Ibrahim dan Ishaq. Di antara keturunan keduanya ada yang berbuat baik dan ada pula yang menzalimi dirinya sendiri dengan nyata.”

(QS. Ash-Shaffat: 99–113)

Penjelasan Ibnu Katsir rahimahullah

Ibnu Katsir rahimahullah berkata:
يذكر تعالى عن خليله إبراهيم أنه لما هاجر من بلاد قومه سأل ربه أن يهب له ولدا صالحا فبشره الله تعالى بغلام حليم وهو إسماعيل عليه السلام لأنه أول من وُلد ( لإبراهيم الخليل عليه السلام ) ، وهذا لا خلاف فيه بين أهل الملل ( أنّ إسماعيل كان ) أول ولده وبكره .
> “Allah Ta’ala menceritakan tentang kekasih-Nya, Ibrahim alaihissalam, bahwa ketika beliau berhijrah meninggalkan negeri kaumnya, beliau memohon kepada Rabbnya agar dianugerahi seorang anak yang saleh. Maka Allah memberikan kabar gembira kepadanya dengan seorang anak yang penyantun, yaitu Ismail alaihissalam, karena dialah anak pertama yang dilahirkan bagi Ibrahim `alaihissalam. Tidak ada perselisihan di antara para pemeluk agama samawi bahwa Ismail adalah anak pertama dan anak sulung beliau.”

Tentang firman Allah:

> ﴿فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ﴾

Ibnu Katsir menjelaskan:

> “Yakni ketika Ismail telah tumbuh besar dan mampu membantu ayahnya dalam berbagai urusan dan pekerjaan.”

Mujahid bin Jabr berkata:

> “Maksudnya, ketika ia telah dewasa, mampu bepergian, dan sanggup melakukan pekerjaan sebagaimana yang dilakukan ayahnya.”

Pada saat itulah Ibrahim `alaihissalam melihat dalam mimpinya bahwa beliau diperintahkan untuk menyembelih putranya.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas secara marfu’:

> «رُؤْيَا الْأَنْبِيَاءِ وَحْيٌ»

> “Mimpi para nabi adalah wahyu.”

Perintah ini merupakan ujian besar dari Allah kepada kekasih-Nya agar menyembelih anak yang sangat dicintainya, yang dianugerahkan kepadanya pada usia tua, setelah sebelumnya beliau diperintahkan meninggalkan Ismail bersama ibunya di sebuah lembah tandus yang tidak memiliki penduduk, tanaman, maupun sumber kehidupan.

Namun Ibrahim melaksanakan perintah Allah dengan penuh kepercayaan dan tawakal kepada-Nya. Allah pun memberikan jalan keluar, pertolongan, dan rezeki kepada mereka dari arah yang tidak disangka-sangka.

Kemudian, setelah semua itu, beliau diperintahkan lagi untuk menyembelih anak sulungnya yang merupakan satu-satunya anak yang beliau miliki saat itu. Maka beliau segera memenuhi perintah Rabbnya dan bersegera melaksanakan ketaatan tersebut.

Meskipun demikian, Ibrahim tetap menyampaikan hal itu kepada putranya agar lebih ringan bagi hati Ismail dan tidak melakukannya secara paksa.

Beliau berkata:

> ﴿يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى﴾

Maka anak yang penyantun itu segera menjawab:

> ﴿يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ﴾

Ibnu Katsir berkata:

> “Jawaban ini merupakan puncak kebenaran, ketaatan kepada ayah, dan kepatuhan kepada Rabb seluruh alam.”

Makna Firman Allah:

> ﴿فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ﴾

Sebagian ulama menafsirkan:

> ﴿أَسْلَمَا﴾

artinya:

> “Keduanya telah berserah diri sepenuhnya kepada perintah Allah dan bertekad untuk melaksanakannya.”

Adapun:

> ﴿وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ﴾

artinya:

> “Ibrahim membaringkan Ismail dengan wajah atau pelipisnya menempel ke tanah.”

Sebagian ulama seperti Abdullah bin Abbas, Mujahid, Said bin Jubair, Qatadah bin Di’amah dan Adh-Dhahhak menyebutkan bahwa Ibrahim membaringkan Ismail dengan posisi tengkurap agar beliau tidak melihat wajah putranya ketika menyembelihnya.

Sebagian ulama juga menyebutkan bahwa Ibrahim bertakbir dan menyebut nama Allah, sedangkan Ismail mengucapkan syahadat dan bersiap menghadapi kematian dengan penuh kerelaan.

Disebutkan pula oleh As-Suddi dan selainnya bahwa Ibrahim menggerakkan pisau di leher Ismail, tetapi pisau tersebut tidak mampu memotongnya. Sebagian riwayat menyebutkan bahwa Allah menjadikan penghalang antara pisau dan leher Ismail.

Allah Menebus Ismail dengan Seekor Sembelihan yang Besar

Kemudian Allah berfirman:

> ﴿قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا﴾

Yakni:

> “Tujuan ujian telah tercapai melalui ketaatanmu, kesegeraanmu memenuhi perintah Rabbmu, dan kesediaanmu mengorbankan putramu demi Allah.”

Sebagaimana sebelumnya Ibrahim rela menghadapi api demi Allah dan rela mengorbankan hartanya demi para tamu, kini beliau juga siap mengorbankan anaknya demi menjalankan perintah Allah.

Karena itu Allah berfirman:

> ﴿إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ﴾

> “Sesungguhnya ini benar-benar merupakan ujian yang nyata.”

Kemudian Allah berfirman:

> ﴿وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ﴾

Artinya:

> “Kami menebus Ismail dengan seekor sembelihan yang besar.”

Mayoritas ulama berpendapat bahwa hewan tersebut adalah seekor kambing kibas putih yang bertanduk.

Abdullah bin Abbas berkata:

> “Kambing itu telah merumput di surga selama empat puluh tahun.”

Diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas bahwa kepala kambing tersebut pernah tergantung di talang air Ka’bah dalam keadaan telah mengering.

Ibnu Katsir berkata:

> “Riwayat ini menjadi salah satu dalil bahwa yang disembelih adalah Ismail, karena Ismail tinggal di Makkah, sedangkan Ishaq tidak diketahui pernah tinggal di sana saat kecil.”

Lihat: Al-Bidayah wa An-Nihayah, jilid 1, hlm. 157–158.

Mengapa Yang Disembelih Adalah Ismail, Bukan Ishaq?

Ibnu Katsir menyebutkan beberapa dalil yang menunjukkan bahwa putra yang diperintahkan untuk disembelih adalah Ismail `alaihissalam:

1. Ismail adalah anak pertama yang diberikan kabar gembira kepada Ibrahim, dan beliau lebih tua daripada Ishaq berdasarkan kesepakatan kaum muslimin dan Ahli Kitab.

2. Anak pertama memiliki kedudukan istimewa dalam hati orang tua, sehingga perintah menyembelihnya merupakan ujian yang jauh lebih berat.

3. Allah terlebih dahulu menyebut kabar gembira tentang seorang anak yang penyantun, lalu menyebut kisah penyembelihannya, kemudian setelah itu Allah berfirman:

> ﴿وَبَشَّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ نَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ﴾

Adapun ketika para malaikat memberi kabar gembira tentang Ishaq, mereka berkata:

> ﴿إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ عَلِيمٍ﴾

4. Allah berfirman:

> ﴿فَبَشَّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ وَمِنْ وَرَاءِ إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ﴾

Artinya, Allah telah menjanjikan bahwa Ishaq akan memiliki seorang putra bernama Ya’qub dan keturunan setelahnya. Oleh karena itu, tidak mungkin Ishaq diperintahkan untuk disembelih saat masih kecil sebelum janji tersebut terwujud.
5. Dalam ayat-ayat ini, Ismail disebut sebagai “ghulāmin halīm” (anak yang sangat penyantun), dan sifat ini sangat sesuai dengan sikap beliau ketika menerima perintah penyembelihan tersebut.

Ibnu Katsir menutup penjelasannya dengan menyatakan bahwa pendapat yang benar adalah bahwa putra yang diperintahkan untuk disembelih adalah Nabi Ismail alaihissalam.

Lihat: Tafsir Ibnu Katsir, 4/15.

Wallahu a’lam.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button