Tatsqif

Jabal Tsur

Jabal Tsur

Segala puji bagi Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, memohon ampunan kepada-Nya, dan bertobat kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan dari keburukan amal-amal kita. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, tidak ada yang dapat menyesatkannya. Barang siapa disesatkan-Nya, tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada beliau, keluarga beliau, para sahabat beliau, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari Kiamat.

Amma ba‘du.

Kawasan Jabal Tsur adalah kawasan budaya dan wisata di Makkah yang menceritakan kisah Gua Tsur yang memiliki kedudukan penting dalam sejarah awal Islam dan peristiwa hijrah Nabi ﷺ dari Makkah menuju Madinah. Kawasan ini memanfaatkan nilai sejarah dan spiritual dari peristiwa agung tersebut serta berkontribusi dalam memperkaya pengalaman para pengunjung dan peziarah.

Kawasan Budaya Jabal Tsur sebagai Destinasi Wisata

Melalui proyek Kawasan Budaya Jabal Tsur, Gua Tsur dan Gunung Tsur di Makkah dikembangkan menjadi sebuah proyek budaya dan destinasi wisata yang bertujuan memperkaya pengalaman religius dan budaya para pengunjung situs-situs bersejarah serta para tamu Allah yang datang untuk menunaikan ibadah haji dan umrah.

Lokasi Jabal Tsur

Jabal Thawr terletak di sebelah tenggara Kota Makkah dan di sebelah selatan Masjid al-Haram dengan jarak sekitar 4 kilometer dari Masjidil Haram.

Adapun Gua Tsur merupakan sebuah rongga batu yang berada di bagian atas gunung, sedikit di bawah puncaknya. Gua tersebut memiliki dua pintu, satu di sebelah timur dan satu lagi di sebelah barat. Melalui salah satu pintu itulah Nabi Muhammad ﷺ bersama sahabat beliau, Abu Bakr al-Siddiq رضي الله عنه, memasuki gua tersebut.

Gunung ini berada pada ketinggian sekitar 760 meter di atas permukaan laut. Bagian bawah gunung relatif mudah dilalui, sedangkan bagian atasnya cukup terjal dan berbatu. Jalur pendakiannya tergolong sulit, dan di dekatnya terdapat kawasan yang dikenal dengan nama Hayy al-Hijrah (Kawasan Hijrah).

Kedudukan Gua Tsur

Cave of Thawr memiliki kedudukan sejarah yang sangat agung karena berkaitan dengan salah satu peristiwa terpenting dalam sirah Nabi ﷺ, yaitu peristiwa hijrah.

Gua inilah yang dijadikan tempat berlindung oleh Rasulullah ﷺ ketika beliau berhijrah dari Makkah menuju Madinah. Di dalam Gua Tsur, Nabi ﷺ bersama sahabat beliau, Abu Bakr al-Siddiq رضي الله عنه, tinggal selama tiga malam.

Al-Qur’an pun mengabadikan peristiwa tersebut dalam firman Allah Ta’ala:

> ﴿ إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ ﴾

> “Jika kalian tidak menolongnya (Muhammad), maka sungguh Allah telah menolongnya, yaitu ketika orang-orang kafir mengusirnya, sedangkan dia adalah salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada di dalam gua, ketika dia berkata kepada sahabatnya: ‘Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.’ Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepadanya dan menguatkannya dengan bala tentara yang tidak kalian lihat, serta menjadikan kalimat orang-orang kafir itu rendah, sedangkan kalimat Allah itulah yang tinggi. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
> (QS. At-Taubah: 40)

Kisah Hijrah Nabi: Peristiwa Gua Tsur dan Dialog Suraqah bin Malik dengan Rasulullah ﷺ

Sesungguhnya dalam sirah Nabi kita Muhammad ﷺ terdapat banyak hikmah, pelajaran, petunjuk yang lurus, dan jalan yang benar. Semua itu layak direnungkan oleh orang-orang beriman dan diamalkan sesuai tuntutannya.

Sirah beliau ﷺ penuh dengan kebaikan dan keberkahan. Di dalamnya tampak jelas karunia Allah Ta‘ala kepada Nabi yang mulia ini dan kepada umat ini berupa berbagai kebaikan yang terus mengalir hingga Allah mewarisi bumi beserta seluruh isinya.

Pada masa-masa seperti ini, kebutuhan kita untuk merenungkan petunjuk Rasulullah ﷺ semakin besar. Kita perlu meneladani petunjuk dan jalan hidup beliau, karena umat ini tidak akan menjadi baik kecuali dengan sesuatu yang telah menjadikan generasi awalnya baik, yaitu Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabat beliau yang mulia.

Sirah yang harum dari Nabi yang mulia ini, baik selama 63 tahun usia beliau yang penuh kemuliaan maupun selama 23 tahun sejak beliau diutus sebagai nabi, semuanya berisi petunjuk dan pelajaran yang patut direnungkan oleh seorang mukmin. Karena itu, sebagian ulama berkata bahwa seorang muslim seharusnya mengetahui petunjuk dan sirah Rasulullah ﷺ dalam kadar yang membuatnya tidak termasuk orang yang jahil terhadap beliau.

Pada salah satu fase yang mulia dalam kehidupan Nabi yang agung ini, kita berhenti sejenak untuk merenungkan sebuah peristiwa besar dan mulia. Peristiwa itu terjadi pada tahun ketiga belas kenabian, ketika Allah Ta‘ala mengizinkan Nabi-Nya ﷺ untuk berhijrah dari Makkah menuju Madinah.

Sejak Allah mengutus Nabi kita ﷺ, beliau terus menyeru kaumnya kepada pokok-pokok agama yang agung ini, yaitu mentauhidkan Allah Rabb seluruh makhluk. Sementara itu, kaumnya yang musyrik menghadapi beliau dengan gangguan dan permusuhan.

Beliau tetap bersabar. Orang-orang mulai mengikuti beliau satu demi satu, kemudian kelompok demi kelompok. Akan tetapi, mereka masih berjumlah sedikit dan dalam keadaan lemah. Quraisy semakin bertambah kesombongan dan gangguannya kepada Nabi ﷺ, juga semakin keras menyakiti orang-orang yang mengikuti beliau, terutama mereka yang tidak memiliki pelindung dari kaumnya.

Gangguan Quraisy terus berlanjut hingga sampai kepada pribadi Nabi yang mulia ﷺ. Ketika gangguan kepada kaum muslimin di Makkah semakin berat, Nabi ﷺ menyarankan mereka untuk berhijrah ke Habasyah. Beliau mengabarkan bahwa di sana terdapat seorang raja yang tidak menzalimi siapa pun.

Ketika gangguan dan pengepungan Quraisy terhadap Nabi ﷺ semakin parah, serta mereka terus menghalangi dakwah beliau, Allah Ta‘ala pun mengizinkan Nabi-Nya berhijrah dari Makkah menuju Madinah.

Peristiwa agung ini bukanlah peristiwa biasa. Ia menjadi pemisah antara dua fase dakwah Islam, yaitu fase Makkah dan fase Madinah.

Apabila keagungan suatu peristiwa diukur dari besarnya hal yang terjadi di dalamnya, tokoh yang menjalankannya, dan tempat peristiwa itu terjadi, maka pelaku utama peristiwa hijrah ini adalah makhluk paling mulia, yaitu Muhammad ﷺ. Adapun tempatnya, tidak ada tempat yang lebih mulia daripada Makkah dan Madinah.

Dengan izin dan kemudahan dari Allah Ta‘ala, hijrah Nabi ini mengubah arah sejarah. Di dalamnya terkandung pengorbanan, kesabaran, pertolongan, tawakal, dan persaudaraan. Allah menjadikannya sebagai jalan menuju kemenangan, kemuliaan, pengibaran panji Islam, dan berdirinya negara Islam yang masih muda.

Hijrah juga merupakan peristiwa sejarah yang dengannya Allah Ta‘ala menjamin keberlangsungan Islam hingga Allah mewarisi bumi beserta seluruh isinya. Allah Ta‘ala berfirman:

﴿ هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ ﴾
“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas seluruh agama, walaupun orang-orang musyrik membencinya.”
(QS. At-Taubah: 33; Ash-Shaff: 9)

Peristiwa besar ini diabadikan oleh Al-Qur’an dalam konteks penegasan bahwa Allah pasti menolong Nabi yang mulia ini. Allah tidak akan menyerahkan beliau kepada siapa pun dari makhluk-Nya. Allah sendiri yang menjaga, menguatkan, dan menolong beliau.

Bukankah Rabb kita berfirman:

﴿ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ﴾
“Maka Allah akan mencukupkan engkau dari mereka. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 137)

Bukankah Allah Yang Mahaperkasa juga berfirman:

﴿ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا ﴾
“Sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan Kami.”
(QS. Ath-Thur: 48)

Pada fase mulia ini, Al-Qur’an mencatat:

﴿ إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ ﴾
“Jika kalian tidak menolongnya, maka sungguh Allah telah menolongnya, yaitu ketika orang-orang kafir mengusirnya, sedangkan dia adalah salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada di dalam gua. Ketika dia berkata kepada sahabatnya, ‘Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.’ Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepadanya, menguatkannya dengan bala tentara yang tidak kalian lihat, menjadikan kalimat orang-orang kafir itu rendah, sedangkan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”
(QS. At-Taubah: 40)

Pada masa itu, Quraisy terus menyiapkan pengepungan demi pengepungan terhadap Nabi ﷺ, gangguan demi gangguan, hingga akhirnya mereka berencana membunuh beliau.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿ وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ ﴾
“Ketika orang-orang kafir membuat makar terhadapmu untuk menahanmu, membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka membuat makar, Allah pun membalas makar mereka. Allah adalah sebaik-baik pembalas makar.”
(QS. Al-Anfal: 30)

Pada waktu itu, Quraisy tidak mengetahui bahwa Allah telah mewahyukan izin kepada Nabi-Nya ﷺ untuk keluar dari tengah-tengah mereka menuju negeri pertolongan dan negeri hijrah, yaitu Madinah Nabawiyah yang mulia.

Beliau ﷺ meninggalkan rumahnya yang mulia setelah mengabarkan berita rahasia kepada Abu Bakar yang tidak diketahui oleh seorang pun.

Beliau ﷺ keluar pada malam 27 Shafar tahun keempat belas kenabian. Pada waktu siang yang terik, beliau datang ke rumah Abu Bakar secara sembunyi-sembunyi, tidak seperti kebiasaan beliau. Tujuannya adalah untuk memberitahukan kepada sahabatnya tentang hijrah dan izin Allah Ta‘ala untuk melakukannya.

Ketika Rasulullah ﷺ datang ke rumah Abu Bakar, Abu Bakar mengetahui bahwa ini bukan perkara biasa. Saat mulai mendengar kabar bahwa Nabi ﷺ hendak berhijrah, Abu Bakar khawatir kehilangan kehormatan besar untuk menemani Nabi ﷺ. Maka ia segera meminta izin agar dapat menyertai beliau. Nabi ﷺ pun mengizinkannya.

Abu Bakar telah menyiapkan dua ekor hewan tunggangan sebagai persiapan hijrah. Ia juga menyewa seorang laki-laki dari Bani Ad-Dail bernama Abdullah bin Uraiqith. Ia adalah orang yang mahir dan sangat mengenal jalan.

Abu Bakar menyerahkan dua hewan tunggangan itu kepadanya untuk dijaga. Mereka sepakat bertemu di Gua Tsur setelah tiga malam.

Pada saat yang sama, Aisyah dan Asma’, dua putri Abu Bakar رضي الله عنهما, menyiapkan bekal dan perlengkapan. Asma’ رضي الله عنها membelah ikat pinggangnya, yaitu kain yang biasa ia gunakan, menjadi dua bagian untuk mengikat makanan. Sejak saat itu ia dikenal dengan julukan Dzatun Nithaqain, pemilik dua ikat pinggang.

Nabi ﷺ memerintahkan Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه untuk tetap tinggal di Makkah agar mengembalikan barang-barang titipan manusia yang dahulu mereka titipkan kepada Rasulullah ﷺ.

Kemudian Nabi ﷺ dan Abu Bakar keluar dari pintu belakang agar dapat meninggalkan Makkah sebelum fajar menyingsing.

Nabi ﷺ mengetahui bahwa jalan yang biasa menuju Madinah pasti akan diawasi. Orang-orang Quraisy akan mengirim mata-mata dan para pencari jejak. Karena itu, alih-alih bergerak ke utara menuju jalan Madinah, beliau memilih arah berlawanan, yaitu ke selatan Makkah menuju arah Yaman, hingga sampai di sebuah gunung yang dikenal dengan nama Jabal Tsur.

Abdullah bin Uraiqith Al-Laitsi, Amir bin Fuhairah, dan Asma’ binti Abu Bakar, masing-masing memiliki peran dalam membantu persembunyian Nabi ﷺ dan keberadaan beliau di gua.

Kaum musyrikin pun bergerak mencari Nabi ﷺ dan sahabatnya di setiap jalan setelah kehilangan keduanya di Makkah. Mereka menyisir gunung-gunung Makkah hingga sampai di dekat Gua Tsur. Mereka berada sangat dekat dengan Nabi ﷺ dan Abu Bakar.

Nabi ﷺ mendengar suara langkah kaki kaum musyrikin yang berada di dekat mereka. Abu Bakar رضي الله عنه berkata sebagaimana disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari, dengan berbisik kepada Rasulullah ﷺ:

“Wahai Rasulullah, seandainya salah seorang dari mereka melihat ke bawah telapak kakinya, pasti ia akan melihat kita.”

Maka Nabi ﷺ bersabda:

«يَا أَبَا بَكْرٍ، مَا ظَنُّكَ بِاثْنَيْنِ اللَّهُ ثَالِثُهُمَا»
“Wahai Abu Bakar, bagaimana menurutmu tentang dua orang yang Allah menjadi pihak ketiganya?”

Demikianlah beliau ﷺ mengucapkannya dengan penuh tawakal kepada Rabbnya, keyakinan kepada-Nya, penyerahan diri kepada-Nya, serta optimisme terhadap akhir yang baik. Allah sesuai dengan prasangka baik hamba-Nya kepada-Nya.

Nabi ﷺ tinggal di gua tersebut selama tiga malam setelah kaum musyrikin dipalingkan dari menemukan beliau dan sahabatnya. Setelah pencarian mereda, beliau dan Abu Bakar keluar dari gua pada malam pertama bulan Rabi‘ul Awwal tahun keempat belas kenabian.

Bersama mereka berangkat Abdullah bin Uraiqith sebagai penunjuk jalan, serta Amir bin Fuhairah yang melayani dan membantu mereka. Mereka bertiga, sedangkan sang penunjuk jalan menjadi orang keempat.

Demikianlah peristiwa yang dicatat oleh Al-Qur’an dan diagungkan kedudukannya.

Kita melihat bahwa Quraisy tidak berhenti berusaha menangkap Nabi ﷺ. Mereka menyadari bahwa apabila beliau berhasil keluar dari tengah-tengah mereka, beliau akan menemukan orang-orang yang menolongnya. Setelah itu, mereka tidak akan mampu menguasai beliau dan tidak akan mampu menghalangi dakwah beliau. Mereka tahu bahwa beliau memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap hati manusia.

Pada saat itu, Quraisy menetapkan hadiah dan pemberian besar bagi siapa pun yang dapat membawa Nabi ﷺ dan sahabatnya, baik hidup maupun mati. Mereka menjanjikan hadiah seratus ekor unta.

Salah seorang penunggang kuda Quraisy berhasil menyusul Nabi ﷺ dan Abu Bakar di perjalanan. Abu Bakar رضي الله عنه sangat menjaga Nabi kita ﷺ. Karena besarnya perhatian beliau kepada Nabi ﷺ, terkadang ia berjalan di samping Rasulullah untuk menemani dan berbicara dengan beliau. Terkadang ia berjalan di depan, terkadang di belakang, terkadang ke kanan, dan terkadang ke kiri. Semua itu ia lakukan sambil berkata, “Seandainya pengejar Quraisy sampai kepada kita, akulah yang terbunuh dan akulah yang ditangkap, agar engkau selamat wahai Rasulullah.”

Salah seorang penunggang kuda Quraisy, yaitu Suraqah bin Malik, berhasil mendekati posisi dua sahabat mulia itu, yaitu Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar.

Suraqah رضي الله عنه menceritakan bahwa ia ingin mendapatkan hadiah dari Quraisy. Abu Bakar رضي الله عنه juga menceritakan peristiwa itu. Ketika melihat Suraqah, ia memberitahu Rasulullah ﷺ dan berkata, “Aku melihat beberapa orang di pesisir.”

Suraqah sendiri mengatakan bahwa ketika berada dekat dengan jalur yang tidak biasa menuju Madinah, ia melihat bayangan beberapa orang yang sedang berjalan di dekat pesisir. Suraqah pun mengambil kudanya dan tombaknya, lalu berangkat dengan cepat.

Ketika ia mendekati mereka, kudanya tersandung hingga ia terjatuh. Ia kembali bangkit, menaiki kudanya, dan bergerak lagi menuju Nabi ﷺ. Kudanya kembali jatuh. Namun karena sangat ingin mendapatkan hadiah dan kemuliaan di sisi Quraisy, ia mencoba lagi.

Padahal apa yang terjadi padanya sangat aneh. Tanah yang keras dan padat, tetapi kaki kudanya justru terbenam ke dalamnya. Saat itu ia mulai mengetahui bahwa ada sesuatu yang luar biasa sedang terjadi di hadapannya, dan bahwa Nabi ﷺ serta Abu Bakar dijaga dengan perintah Allah.

Ia mencoba lagi, lalu kedua kaki kudanya tenggelam ke tanah hingga lutut. Maka ia yakin bahwa keduanya benar-benar dijaga oleh penjagaan Allah. Ia pun meminta jaminan keamanan dari keduanya dan berjanji akan menyembunyikan keberadaan mereka.

Di hadapan Nabi ﷺ, ia dibuat terkejut ketika beliau bersabda kepadanya:

“Bagaimana keadaanmu, wahai Suraqah, ketika engkau dipakaikan dua gelang Kisra?”

Suraqah pun sangat heran. Nabi ﷺ keluar dari Makkah dalam keadaan dikejar dan terancam, namun beliau menjanjikan kepadanya sesuatu yang sangat besar, yaitu perhiasan yang dikenakan oleh salah satu raja terbesar dari negara paling kuat pada masa itu.

Suraqah menepati janjinya. Setelah kembali, setiap kali ia bertemu seseorang, ia berkata, “Kembalilah, tidak ada seorang pun di sana.”

Peristiwa Suraqah رضي الله عنه ini juga diceritakan oleh Abu Bakar رضي الله عنه. Suraqah benar-benar menepati ucapannya dan menjauhkan manusia dari pencarian terhadap Nabi ﷺ.

Maksudnya, wahai saudara-saudara kaum mukminin, melalui hijrah yang diizinkan Allah Ta‘ala ini, Nabi ﷺ telah memenuhi perintah Rabbnya dengan penuh tawakal kepada-Nya.

Padahal beliau mengetahui bahwa seandainya Allah berkehendak, tentu Allah mampu membawa beliau dari Makkah ke Madinah dalam sekejap mata. Beliau telah menyaksikan mukjizat serupa sebelumnya ketika diperjalankan pada malam Isra’ dari Makkah ke Baitul Maqdis, kemudian dari Baitul Maqdis menuju langit yang tinggi. Semua itu terjadi dalam waktu yang sangat singkat.

Bahkan Allah mampu mengatur waktu, karena Allah adalah Pencipta waktu dan Dia pula yang mengaturnya. Allah membawa Nabi-Nya ﷺ di atas Buraq, kendaraan dari surga, dalam sekejap mata, lalu menuju langit yang tinggi. Jarak langit itu pada masa kini diukur dengan hitungan tahun cahaya yang sangat panjang.

Nabi ﷺ tidak hanya sampai ke langit dunia, tetapi naik menuju langit yang lebih tinggi hingga mencapai tempat yang belum pernah dicapai oleh makhluk mana pun, bahkan oleh Jibril عليه السلام. Beliau sampai ke tempat yang di sana terdengar suara goresan pena. Rabb beliau جل وعلا berbicara langsung kepada beliau di langit yang tinggi, kemudian beliau kembali ke tempatnya di Makkah sementara waktu tidak berubah.

Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Allah Ta‘ala berfirman:

﴿ إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ ﴾
“Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, ‘Jadilah,’ maka terjadilah ia.”
(QS. Yasin: 82)

Meski demikian, hijrah ini berlangsung dengan perencanaan dan pengaturan manusiawi agar manusia belajar bahwa sebab-sebab harus ditempuh, perencanaan harus dilakukan, setelah bertawakal dan menyerahkan segala urusan kepada Allah جل وعلا.

Dalam Shahih Muslim disebutkan dari Abu Bakar رضي الله عنه, ia berkata:

«نَظَرْتُ إِلَى أَقْدَامِ الْمُشْرِكِينَ وَنَحْنُ فِي الْغَارِ وَهُمْ عَلَى رُؤُوسِنَا، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ نَظَرَ إِلَى قَدَمَيْهِ أَبْصَرَنَا تَحْتَ قَدَمَيْهِ، فَقَالَ: يَا أَبَا بَكْرٍ، مَا ظَنُّكَ بِاثْنَيْنِ اللَّهُ ثَالِثُهُمَا»
“Aku melihat kaki-kaki kaum musyrikin ketika kami berada di gua, sementara mereka berada di atas kepala kami. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, seandainya salah seorang dari mereka melihat ke arah kakinya, pasti ia akan melihat kita di bawah kakinya.’ Maka beliau bersabda, ‘Wahai Abu Bakar, bagaimana menurutmu tentang dua orang yang Allah menjadi pihak ketiganya?’”

Imam An-Nawawi رحمه الله berkata ketika mengomentari bagian ini: “Di dalamnya terdapat penjelasan agung tentang tawakal Nabi ﷺ, bahkan dalam keadaan seperti ini. Di dalamnya juga terdapat keutamaan Abu Bakar رضي الله عنه, dan ini termasuk salah satu manaqib beliau yang paling agung.”

Benarlah Imam An-Nawawi رحمه الله. Peristiwa ini termasuk manaqib Abu Bakar yang paling agung, karena Allah سبحانه وتعالى mencatatnya di dalam Al-Qur’an:

﴿ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا ﴾
“Ketika orang-orang kafir mengusirnya, sedangkan dia adalah salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada di dalam gua, ketika dia berkata kepada sahabatnya, ‘Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.’”
(QS. At-Taubah: 40)

Sayyidina Abu Bakar رضي الله عنه menceritakan apa yang terjadi antara dirinya, Rasulullah ﷺ, dan Suraqah, sebagaimana disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari. Ia berkata:

«ارْتَحَلْنَا بَعْدَمَا مَالَتِ الشَّمْسُ، وَاتَّبَعَنَا سُرَاقَةُ بْنُ مَالِكٍ، فَقُلْتُ: أُتِينَا يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَقَالَ: لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا»
“Kami berangkat setelah matahari condong. Suraqah bin Malik mengejar kami. Aku berkata, ‘Kita telah didatangi, wahai Rasulullah.’ Maka beliau bersabda, ‘Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.’”

Demikianlah Nabi ﷺ senantiasa bersama tawakal dan penyerahan diri kepada Rabbnya جل وعلا. Beliau berkata:

«لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا»
“Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”

Kemudian Nabi ﷺ mendoakan keburukan atas Suraqah. Kudanya pun terperosok hingga perutnya. Suraqah berkata, “Aku melihat bahwa kalian berdua telah berdoa atas keburukan untukku. Maka berdoalah untukku. Demi Allah, aku akan menahan orang-orang yang mencari kalian.”

Nabi ﷺ pun berdoa untuknya, lalu ia selamat. Setelah itu, setiap kali ia bertemu seseorang, ia berkata, “Aku telah mencukupkan kalian dari arah sini.” Tidaklah ia bertemu seseorang melainkan ia mengembalikannya. Abu Bakar berkata, “Ia benar-benar menepati janjinya kepada kami.” Demikian riwayat Al-Bukhari رحمه الله.

Anas berkata, “Pada awal siang, Suraqah sangat bersungguh-sungguh dan bersemangat mencari Rasulullah ﷺ serta ingin menyakiti beliau. Pada akhir siang, ia justru menjadi penjaga bersenjata bagi beliau.” Maksudnya, Suraqah رضي الله عنه menjadi penjaga beliau dengan senjatanya. Setelah itu Suraqah masuk Islam karena melihat mukjizat agung ini.

Hari-hari pun berlalu. Setelah Suraqah masuk Islam, setelah Fathu Makkah, Hunain, dan penaklukan negeri Persia, harta rampasan perang datang kepada Umar رضي الله عنه pada masa kekhalifahannya. Umar memberikan kepada Suraqah dua gelang Kisra sebagai pelaksanaan janji Nabi ﷺ yang dahulu beliau kabarkan.

Para ulama menyebut peristiwa ini sebagai salah satu mukjizat Nabi ﷺ.

Al-‘Allamah Al-Mawardi berkata bahwa di antara mukjizat Nabi ﷺ adalah penjagaan Allah terhadap beliau dari musuh-musuhnya. Padahal jumlah mereka sangat banyak, kebencian mereka kepada beliau sangat besar, dan keinginan mereka untuk mengusir beliau sangat kuat. Beliau berada di tengah-tengah mereka, bergaul dengan mereka, sementara pandangan mereka memandang beliau dengan penuh kebencian. Namun tangan mereka tertahan karena takut.

Para sahabat beliau telah berhijrah lebih dahulu karena khawatir terhadap gangguan mereka, hingga beliau menyempurnakan masa tinggal beliau di Makkah selama 13 tahun. Kemudian beliau keluar dari tengah-tengah mereka dalam keadaan selamat, tidak terluka pada jiwa maupun tubuh. Semua itu tidak terjadi kecuali karena penjagaan Ilahi yang telah Allah janjikan dan Allah wujudkan.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ ﴾
“Allah akan menjagamu dari manusia.”
(QS. Al-Ma’idah: 67)

Maka Allah pun menjaga beliau dari mereka.

Selesai ucapan Al-Mawardi رحمه الله.

Maksudnya, wahai saudara-saudara kaum mukminin, hijrah Nabi memiliki pengaruh-pengaruh yang penuh berkah serta pelajaran dan bukti-bukti yang agung. Pelajaran itu tidak hanya berlaku pada masa kenabian, tetapi seharusnya terus diambil dan dimanfaatkan di setiap zaman dan tempat.

Hijrah mengandung pengaruh yang mulia dan kebaikan, bukan hanya bagi kaum muslimin, tetapi juga bagi seluruh manusia dan semua makhluk, karena agama ini tetap bertahan hingga Allah mewarisi bumi beserta seluruh isinya.

Peradaban Islam yang berdiri setelah itu memberikan jalan terang kepada manusia setelah mereka berada di jalan-jalan gelap akibat kesyirikan kepada Allah جل وعلا. Mereka kembali kepada tauhid melalui syariat Muhammad ﷺ.

Syariat ini, meskipun banyak disalahpahami dan dicemarkan oleh musuh-musuhnya atau oleh sebagian pengikutnya sendiri, tetap membawa keselamatan bagi manusia dari kezaliman di antara mereka dan dari penindasan sebagian manusia atas sebagian lainnya, sebagaimana kita saksikan pada hari ini.

Tidak ada jalan keluar bagi siapa pun dari kesempitan dan kesulitannya, baik sebagai individu, kelompok, maupun umat, kecuali dengan kembali kepada jalan kenabian dan syariat Muhammad ﷺ ini.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿ لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا ﴾
“Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi orang yang mengharapkan Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.”
(QS. Al-Ahzab: 21)

Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman. Janganlah Engkau jadikan dalam hati kami rasa dengki terhadap orang-orang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.

Ya Allah, jagalah keamanan dan stabilitas negeri kami. Ya Allah, kekalkanlah nikmat iman atas kami dan teguhkanlah kami di atasnya hingga kami berjumpa dengan-Mu, wahai Dzat Yang Mahamulia.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button