Tatsqif

Harrah Rahat

Harrah Rahat (حرّة رهاط)

Arab Saudi berdiri di atas lebih dari dua ribu gunung berapi yang telah tidak aktif selama ribuan tahun. Meskipun demikian, gunung-gunung berapi tersebut bukan berarti telah mati. Sepanjang sejarah geologinya yang panjang, aktivitas vulkanik telah membentuk 13 kawasan harrah (hamparan lava) utama yang berasal dari aliran lava purba yang sangat besar.

Wilayah Medina merupakan daerah yang memiliki jumlah harrah dan kawah vulkanik berbatu hitam terbanyak di Arab Saudi.

Gunung berapi terakhir yang meletus di wilayah Hijaz adalah Gunung al-Malsā’ (جبل الملساء) yang terletak di sebelah tenggara Madinah.

https://maps.app.goo.gl/cueF8ALtaLri6hLZ8?g_st=aw

Letusan itu terjadi pada tahun 654 H/1256 M dan berlangsung selama beberapa hari. Lava yang keluar mengalir sejauh sekitar 23 km, sedangkan lidah lava terpanjang berhenti sekitar 8,2 km sebelum mencapai Masjid Nabawi. Hamparan lava yang terbentuk akibat letusan tersebut kemudian dikenal dengan nama Harrah Rahat (حرة رهاط).

Menurut Saudi Geological Survey, selama 6.000 tahun terakhir telah terjadi 11 kali letusan di kawasan Harrah Rahat saja. Letusan yang paling akhir adalah letusan besar pada tahun 654 H, yang aktivitas vulkaniknya berlangsung lebih dari 52 hari.

Harrah Rahat adalah hamparan lava vulkanik terbesar di Arab Saudi dan salah satu lapangan vulkanik yang saat ini tidak aktif. Dahulu kawasan ini dikenal dengan nama Harrah al-Qurā (atau al-Kurā) dan Harrah al-Hijaz. Harrah Rahat termasuk salah satu gunung berapi tertua di Jazirah Arab serta menjadi salah satu destinasi wisata geologi penting di Arab Saudi. Kawasan ini memanjang dari utara ke selatan dan terletak di sebelah selatan Harrah Khaybar.

Kawasan ini telah ditetapkan oleh Kementerian Pariwisata Arab Saudi (dahulu Otoritas Umum Pariwisata dan Warisan Nasional) sebagai taman geologi terbuka pertama di Arab Saudi, sekaligus termasuk dalam proyek perlindungan situs-situs geologi.

Letak Harrah Rahat

Harrah Rahat terletak di antara wilayah Madinah dan Makkah, tepat di perbatasan administratif keduanya. Luasnya mencapai sekitar 20.000 km², menjadikannya harrah terbesar di Arab Saudi.

Di dalamnya terdapat Jabal Munawwar dengan ketinggian sekitar 1.783 meter, yang merupakan kerucut gunung berapi tertinggi di kawasan tersebut.

Di sekitar Harrah Rahat juga terdapat beberapa hamparan lava yang lebih kecil dan bercabang darinya, di antaranya:

Harrah di utara Makkah,

Harrah di timur laut Jeddah,

Harrah al-‘Athawiyah,

Harrah al-Hazm.

Adapun beberapa kerucut vulkaniknya antara lain:

Jabal as-Sahlah,

Jabal Bis,

Jabal al-Malsa’,

Jabal Mitan,

Jabal Masu’da’ah.

Di antara gunung-gunung penting di Harrah Rahat ialah:

Jabal Na’am (1.506 m),

Jabal Sin (1.452 m),

Jabal asy-Sha’tsa’ (1.361 m),

Jabal Mitan (1.367 m),

Jabal Bis (1.214 m),

Jabal Masuliyya (1.226 m).

Aktivitas Vulkanik Harrah Rahat

Pada tahun 1438 H / 2016 M, Asosiasi Ilmu Kebumian Arab Saudi bekerja sama dengan para pakar melakukan penelitian geotermal di kawasan-kawasan vulkanik Arab Saudi, termasuk Harrah Rahat yang memiliki potensi panas bumi tinggi di sekitar Madinah.

Hasil penelitian menyimpulkan bahwa aktivitas vulkanik modern saat ini terkonsentrasi di bagian utara Harrah Rahat.

Bagian utara kawasan ini memiliki:

644 kerucut skoria (scoria cones),

36 gunung api perisai (shield volcanoes),

24 kubah batuan trakit (trachyte domes), serta sejumlah kawah, di antaranya Kawah Umm Janb dan Kawah Umm ar-Risy.

Selain itu, Harrah Rahat memiliki banyak terowongan lava yang terbentuk ketika lava mengalir di permukaan bumi. Permukaan lava yang mendingin membentuk lapisan keras, sementara bagian dalamnya tetap cair. Setelah lava cair tersebut mengalir keluar, terbentuklah lorong-lorong bawah tanah dengan ukuran yang beragam.

Peta vulkanik menunjukkan bahwa sebagian besar gunung berapi di Harrah Rahat berada di sekitar garis bujur 40° BT. Di bagian selatan, jalurnya sedikit bergeser ke arah timur, sedangkan di bagian utara sedikit bergeser ke arah barat. Kawasan ini memiliki panjang sekitar 310 km dan lebar maksimum sekitar 65 km.

Gunung Berapi Terbaru di Harrah Rahat

Gunung berapi Hulaylat al-Labah (gunung berapi bersejarah), yang berada di ujung utara Harrah Rahat, merupakan gunung berapi yang terakhir meletus di Arab Saudi.

Letusannya terjadi pada tahun 654 H / 1256 M, ketika lava basalt mengalir hingga mendekati bagian timur Kota Madinah.

Letusan tersebut membentuk sejumlah kerucut skoria dan menghasilkan aliran lava yang mencapai jarak sekitar 12 km dari Kota Madinah.

Peristiwa ini tercatat dengan baik dalam berbagai manuskrip dan kitab sejarah. Beberapa hari sebelum letusan terjadi, kawasan tersebut lebih dahulu diguncang oleh beberapa gempa bumi yang kuat.

Desa-desa di sekitar Harrah Rahat

Di sisi timur dan barat Harrah Rahat terdapat banyak desa.

Di sisi timur, di antaranya:

Maktan,

Al-Furai’,

Al-Mahani,

Ash-Shalhaniyyah,

Safinah,

As-Suwairiqiyyah,

Adh-Dhumairiyyah.

Di sisi barat, di antaranya:

Abar al-Masyi,

Al-Yutamah,

Ar-Rayyan,

Al-Akhal,

Hajar,

Asy-Syara’,

Al-Majma’ah.

Adapun di ujung selatan terdapat Desa al-Qa’dhabah, yang berada di Wadi adh-Dharibah di sebelah timur laut Makkah. Di dekatnya terdapat Miqat Dzatu ‘Irq, yaitu miqat bagi penduduk Irak. Sementara ujung utara Harrah Rahat membentang hingga mendekati Kota Madinah.

Ibn Kathir menggambarkan peristiwa itu secara detail sebagai berikut:

Tahun 654 H: Munculnya Api Besar di Tanah Hijaz

Pada tahun ini terjadi peristiwa keluarnya api besar dari bumi Hijaz yang cahayanya menerangi leher-leher unta hingga terlihat dari kota Busra (di Syam), sebagaimana telah diberitakan oleh hadis yang diriwayatkan dalam dua kitab sahih.

Peristiwa ini telah dijelaskan secara panjang lebar oleh Imam, ahli hadis, dan sejarawan besar, Abu Syamah al-Maqdisi, dalam kitabnya Adz-Dzail. Beliau mengumpulkan berbagai laporan yang datang secara beruntun dari Madinah mengenai peristiwa tersebut, lengkap dengan kesaksian para saksi mata tentang bagaimana api itu muncul dan bagaimana keadaannya.

Seluruh pembahasan ini juga telah disebutkan dalam kitab Dalā’il an-Nubuwwah ketika menjelaskan tanda-tanda kenabian Rasulullah ﷺ.

Ringkasan riwayat Abu Syamah

Beliau berkata,

> “Telah sampai ke Damaskus surat-surat dari Kota Madinah, kota Nabi ﷺ, yang mengabarkan munculnya api besar pada tanggal 5 Jumadil Akhir tahun 654 H.

Surat-surat itu ditulis pada tanggal 5 Rajab, sedangkan api masih terus menyala. Surat-surat tersebut baru tiba di Damaskus pada tanggal 10 Sya’ban.”

Kemudian beliau berkata:

> بسم الله الرحمن الرحيم
“Telah sampai kepada kami di Kota Damaskus—semoga Allah menjaganya—pada awal bulan Sya’ban tahun 654 H beberapa surat dari Kota Rasulullah ﷺ yang menjelaskan sebuah peristiwa luar biasa.

Peristiwa itu membenarkan hadis sahih yang diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

> «لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَخْرُجَ نَارٌ مِنْ أَرْضِ الْحِجَازِ تُضِيءُ أَعْنَاقَ الْإِبِلِ بِبُصْرَى»

“Kiamat tidak akan terjadi hingga keluar api dari tanah Hijaz yang cahayanya menerangi leher-leher unta di Busra.”
Muttafaq ‘alaih (HR. Imam al-Bukhari dan Imam Muslim).

Salah seorang yang aku percaya dan menyaksikan sendiri peristiwa itu menceritakan kepadaku bahwa ia mendengar kabar, di kota Tayma’, orang-orang dapat menulis surat pada malam hari hanya dengan cahaya api tersebut, tanpa memerlukan lampu.

Ia juga berkata,

> “Kami berada di rumah-rumah kami pada malam-malam itu, seakan-akan di setiap rumah terdapat sebuah pelita yang menyala. Padahal api itu sama sekali tidak memberikan panas ataupun hawa yang membakar kepada kami, meskipun ukurannya sangat besar. Sungguh, ia hanyalah salah satu tanda kekuasaan Allah Ta’ala.”

Isi salah satu surat dari Madinah

> “Pada malam Rabu, tanggal 3 Jumadil Akhir tahun 654 H, terdengar suara gemuruh yang sangat dahsyat.

Sesudah itu terjadilah gempa bumi yang sangat kuat.

Gempa tersebut mengguncang bumi, tembok-tembok, atap-atap rumah, kayu-kayu penyangga, hingga pintu-pintu rumah.

Guncangan itu terus berulang dari waktu ke waktu sampai hari Jumat tanggal 5 Jumadil Akhir.

Kemudian muncullah api yang sangat besar di kawasan Harrah dekat perkampungan Bani Quraizhah.

Kami dapat melihatnya dari dalam rumah-rumah kami di Kota Madinah, seakan-akan api itu berada sangat dekat dengan kami.

Api itu sangat besar. Tinggi kobarannya melebihi tiga menara.

Darinya mengalir sungai-sungai api menuju Wadi Syazha, tempat biasa mengalir air. Lava tersebut memenuhi lembah itu hingga aliran air tidak dapat lagi melewatinya.

Demi Allah, kami keluar bersama-sama untuk menyaksikannya.

Kami melihat gunung-gunung seolah-olah mengalirkan api.

Hamparan lava itu menutup jalan para jamaah haji dari Irak.

Lava terus mengalir hingga mencapai Harrah, lalu berhenti setelah kami sangat khawatir api itu akan sampai ke Kota Madinah.

Setelah itu aliran api berbelok ke arah timur.

Di tengah-tengahnya tampak dataran dan gunung-gunung yang semuanya berupa api.

Api itu melahap bebatuan.

Pemandangan tersebut benar-benar menggambarkan firman Allah Ta’ala:

> ﴿إِنَّهَا تَرْمِي بِشَرَرٍ كَالْقَصْرِ ۝ كَأَنَّهُ جِمَالَتٌ صُفْرٌ﴾

“Sesungguhnya neraka itu melemparkan bunga api sebesar dan setinggi istana, seakan-akan ia seperti iring-iringan unta yang kuning.” (QS. Al-Mursalat: 32–33)

Api itu benar-benar memakan bumi.

Aku menulis surat ini pada tanggal 5 Rajab 654 H, sementara api masih terus bertambah besar dan belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.

Seluruh kawasan Harrah, mulai dari daerah Bani Quraizhah hingga jalan jamaah haji Irak, dipenuhi kobaran api.

Pada malam hari kami melihatnya dari Madinah seperti barisan obor yang dibawa para jamaah haji.

Adapun sumber utama api itu berupa gunung-gunung besar yang memerah menyala.

Gunung induk tempat keluarnya lava berada di dekat Bani Quraizhah.

Hingga kini kobarannya terus bertambah besar.

Orang-orang sudah tidak mengetahui lagi apa yang akan terjadi setelah ini.

Kami hanya berharap semoga Allah menjadikan akhir dari semua ini sebagai kebaikan.

Sungguh, aku tidak sanggup menggambarkan kedahsyatan api tersebut.”

Kesaksian Penduduk Madinah tentang Letusan Besar Tahun 654 H

Abu Syamah al-Maqdisi berkata,

> “Dalam surat yang lain disebutkan:

> ‘Pada hari Jumat pertama bulan Jumadil Akhir tahun 654 H, muncul api yang sangat besar di sebelah timur Kota Madinah. Jaraknya sekitar setengah hari perjalanan dari kota.

> Api itu memancar keluar dari dalam bumi, lalu mengalir membentuk sungai api hingga sejajar dengan Gunung Uhud. Setelah itu aliran tersebut berhenti, dan hingga saat ini masih tetap berada di tempatnya.

> Kami benar-benar tidak mengetahui apa yang harus kami lakukan.

> Ketika api itu mulai muncul, seluruh penduduk Madinah segera mendatangi makam Nabi ﷺ. Mereka memohon ampun kepada Allah, bertaubat dengan sungguh-sungguh, dan kembali kepada Rabb mereka.

> Sungguh, semua ini termasuk tanda-tanda besar menjelang hari Kiamat.”

Beliau juga menukil isi surat lainnya:

> “Pada hari Senin, tanggal 1 Jumadil Akhir tahun 654 H, terdengar di Madinah suara yang mirip gemuruh petir dari kejauhan. Kadang terdengar keras, kadang melemah. Keadaan itu berlangsung selama dua hari.

> Ketika tiba malam Rabu tanggal 3 Jumadil Akhir, suara tersebut disusul oleh gempa bumi yang sangat kuat.

> Gempa terus berlangsung selama tiga hari.

> Dalam sehari semalam terjadi sekitar empat belas kali gempa.

> Pada hari Jumat tanggal 5 Jumadil Akhir, kawasan Harrah tiba-tiba terbelah dan memuntahkan api yang sangat besar.

> Besarnya hampir menyerupai luas Masjid Nabawi apabila dipandang dengan mata.

> Dari Kota Madinah kami melihat api itu melemparkan bunga-bunga api yang sangat besar, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

> ﴿إِنَّهَا تَرْمِي بِشَرَرٍ كَالْقَصْرِ﴾

> “Sesungguhnya neraka itu melemparkan bunga api sebesar istana.” (QS. Al-Mursalat: 32)

> Letusan itu terjadi di suatu tempat yang dikenal dengan nama Ahilain.

Sungai Lava yang Sangat Besar

Penulis surat melanjutkan,

> “Dari gunung api itu mengalir sebuah sungai lava sepanjang kira-kira empat farsakh (sekitar 20–22 km).

> Lebarnya sekitar empat mil (sekitar 6–7 km), sedangkan kedalamannya mencapai satu setengah kali tinggi badan manusia.

> Lava itu mengalir di atas permukaan bumi.

> Di dalamnya muncul gundukan-gundukan dan bukit-bukit kecil dari api yang terus bergerak mengikuti aliran lava.

> Batu-batu keras yang dilaluinya mencair hingga menyerupai timah cair.

> Setelah dingin, warnanya berubah menjadi hitam pekat, sedangkan sebelum membeku warnanya merah menyala.”

Penduduk Madinah Bertaubat

Penulis surat tersebut berkata,

> “Peristiwa ini menyebabkan masyarakat meninggalkan berbagai kemaksiatan.

> Mereka berlomba-lomba mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai amal ketaatan.

> Penguasa Madinah pun mengembalikan banyak hak masyarakat yang sebelumnya pernah dizalimi.”

Surat Qadhi Madinah

Abu Syamah kemudian berkata,

> “Di antara surat yang paling menarik adalah surat yang ditulis oleh Syamsuddin Sinan bin Abdul Wahhab bin Numailah al-Husaini kepada salah seorang sahabatnya.”

Beliau menulis:

> “Pada malam Rabu tanggal 3 Jumadil Akhir terjadi gempa bumi yang sangat dahsyat di Madinah.

> Kami benar-benar ketakutan.

> Gempa terus berlangsung siang dan malam, setiap hari sekitar sepuluh kali guncangan.

> Demi Allah, suatu ketika kami sedang berada di sekitar kamar Rasulullah ﷺ.

> Tiba-tiba terjadi gempa yang membuat mimbar Nabi ﷺ berguncang, hingga kami mendengar bunyi besi-besi penyusunnya saling beradu.

> Lampu-lampu di Masjid Nabawi juga bergoyang hebat.

> Gempa itu terus berlangsung sampai hari Jumat menjelang waktu duha.

> Suaranya seperti petir yang menggelegar.”

Muncul Gunung Api yang Sangat Besar

Beliau melanjutkan,

> “Pada pagi hari Jumat tampak di kawasan Harrah, di antara dua gunung, api yang sangat besar.

> Besarnya seperti sebuah kota.

> Kami baru dapat melihatnya dengan jelas pada malam Sabtu.

> Kami sangat ketakutan.

> Aku segera menemui Amir Madinah dan berkata kepadanya:

> ‘Azab Allah telah mengepung kita. Bertobatlah kepada Allah!’

> Mendengar nasihat itu, sang Amir langsung:

membebaskan seluruh budaknya,

mengembalikan seluruh harta yang pernah dizaliminya kepada para pemiliknya.

> Setelah itu aku berkata kepadanya,

> ‘Sekarang marilah turun bersama kami menuju Rasulullah ﷺ.’

> Maka beliau pun ikut turun.

Seluruh Penduduk Berkumpul di Masjid Nabawi

Beliau melanjutkan:

> “Malam Sabtu itu seluruh penduduk Madinah berkumpul di sekitar Nabi ﷺ.

> Laki-laki, perempuan, anak-anak, semuanya hadir.

> Tidak ada seorang pun yang tetap tinggal di rumah-rumah maupun di kebun-kebun kurma.

> Semuanya berkumpul di Masjid Nabawi.

> Kami benar-benar sangat takut.

> Cahaya api itu terlihat hingga dari arah Makkah dan seluruh padang pasir di sekitarnya.”

Sungai Lava Mengalir dan Penduduk Madinah Tenggelam dalam Taubat

Qadhi Madinah, Syamsuddin Sinan bin Abdul Wahhab bin Numailah al-Husaini, melanjutkan kesaksiannya:

> “Kemudian dari gunung itu mengalir sebuah sungai api.

> Aliran tersebut memasuki Wadi Ajilain, lalu menutup jalan yang biasa dilalui orang.

> Setelah itu lava mengalir menuju jalur para jamaah haji, sehingga terbentuk lautan api yang terus bergerak.

> Bara api berada di bagian atasnya, sedangkan aliran lava terus melaju hingga memotong Wadi asy-Syazha.

> Sejak saat itu air tidak pernah lagi mengalir melalui lembah tersebut, karena lava telah memenuhi dan meninggikannya hingga sekitar dua pertiga tinggi manusia.”

Beliau kemudian berkata:

> “Demi Allah, wahai saudaraku, kehidupan kami benar-benar dipenuhi kegelisahan.

> Seluruh penduduk Madinah telah bertaubat.

> Tidak lagi terdengar suara alat-alat musik.

> Tidak ada lagi rebana.

> Tidak ada lagi orang yang meminum minuman yang diharamkan.

> Api itu terus bergerak hingga menutup sebagian jalur jamaah haji dan sebagian kawasan Harrah mereka.

> Asapnya mulai mendekati arah kami.

> Kami khawatir lava itu akan sampai ke Madinah.”

Seluruh Penduduk Berlindung di Masjid Nabawi

Beliau berkata:

> “Karena rasa takut itu, seluruh masyarakat kembali berkumpul di Masjid Nabi ﷺ.

> Mereka bermalam di sana bersama-sama.

> Adapun aliran lava yang mengarah ke sisi kami, Allah menghentikannya dengan kekuasaan-Nya.

> Sampai saat aku menulis surat ini, api itu belum juga berkurang.

> Kami masih melihat batu-batu sebesar unta yang menyala merah.

> Suara letusannya tidak membiarkan kami tidur, makan ataupun minum dengan tenang.

> Aku benar-benar tidak sanggup menggambarkan kedahsyatannya.”

Beliau melanjutkan:

> “Penduduk Yanbu juga melihat api tersebut.

> Mereka mengutus qadhi mereka, yaitu Ibnu As’ad, untuk menyaksikannya.

> Setelah beliau datang dan melihatnya secara langsung, beliau pun tidak mampu melukiskan betapa dahsyatnya peristiwa itu.

> Surat ini kutulis pada tanggal 5 Rajab, sementara api masih terus menyala dan masyarakat tetap berada dalam ketakutan.

> Sejak munculnya api itu, matahari dan bulan tampak seolah-olah selalu mengalami gerhana.

> Kami memohon keselamatan kepada Allah.”

Dampaknya Terlihat Hingga Damaskus

Abu Syamah al-Maqdisi berkata:

> “Di Damaskus kami juga melihat cahaya matahari tampak lemah ketika mengenai dinding-dinding rumah.

> Kami merasa heran terhadap perubahan itu.

> Barulah setelah surat-surat dari Madinah datang kami mengetahui bahwa penyebabnya adalah letusan api besar tersebut.”

Beliau kemudian menambahkan bahwa sebelum surat-surat itu tiba, beliau sendiri telah mencatat beberapa fenomena langit yang terjadi pada tahun tersebut.

Beliau menulis:

> “Pada malam Senin tanggal 16 Jumadil Akhir, terjadi gerhana bulan pada awal malam.

> Warna bulan tampak merah pekat, kemudian kembali normal.

> Setelah itu terjadi pula gerhana matahari.

> Sejak keesokan harinya, matahari tampak berwarna kemerahan ketika terbit maupun terbenam.

> Keadaan itu berlangsung selama beberapa hari.

> Cahayanya tampak lemah dan warnanya berubah.

> Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Kemudian Abu Syamah berkata:

> “Dengan peristiwa ini menjadi jelas benarnya pembahasan para ulama fikih mengenai kemungkinan berkumpulnya beberapa fenomena langit dalam satu masa, meskipun para ahli astronomi ketika itu menganggapnya sangat tidak mungkin.”

Kabar Besar dari Baghdad

Dalam salah satu surat lain yang diterima dari Madinah disebutkan pula berita dari Irak:

> “Pada bulan Jumadil Akhir datang utusan dari Irak yang mengabarkan bahwa Baghdad dilanda banjir besar.

> Air meluap hingga menembus tembok kota.

> Sebagian besar wilayah Baghdad terendam.

> Air bahkan masuk ke kompleks istana khalifah.

> Rumah wazir runtuh.

> Sekitar 380 rumah roboh.

> Gudang persenjataan khalifah hancur dan banyak senjata musnah.

> Penduduk berada di ambang kebinasaan.

> Perahu-perahu sampai dapat berlayar di tengah kota dan melewati jalan-jalan Baghdad.”

Penulis surat kemudian berkata:

> “Sementara kami di Madinah mengalami musibah yang berbeda.

> Dua hari sebelum Rabu, kami mulai mendengar suara seperti petir, padahal langit sama sekali tidak berawan.

> Setelah itu bumi berguncang sangat keras disertai suara gemuruh.

> Seluruh penduduk terbangun dari tidur.

> Mereka berteriak memohon ampun kepada Allah.

> Semua bergegas menuju Masjid Nabawi untuk shalat dan berdoa.

> Gempa terus berlangsung hingga pagi, kemudian berlanjut sepanjang hari Rabu, malam Kamis, hari Kamis, malam Jumat, hingga pagi Jumat.”

Api Menjulang ke Langit dan Taubat Massal Penduduk Madinah

Penulis surat melanjutkan:

> “Pada pagi hari Jumat bumi kembali berguncang dengan sangat keras, hingga menara Masjid Nabawi saling bergoyang, sebagian bangunannya bergetar, dan terdengar bunyi berderit yang keras dari atap masjid.

> Penduduk benar-benar merasa takut karena dosa-dosa mereka.

> Setelah itu gempa sempat berhenti menjelang waktu Zuhur.

> Tidak lama kemudian, di kawasan Harrah, di belakang perkampungan Bani Quraizhah, pada jalur menuju As-Suwairiqiyyah, tampak api yang sangat besar memancar dari dalam bumi.

> Seluruh masyarakat sangat ketakutan ketika melihatnya.”

Beliau melanjutkan:

> “Kemudian muncul asap yang sangat tebal, membumbung ke langit hingga menyerupai awan putih.

> Menjelang matahari terbenam pada hari Jumat, kobaran api tampak semakin jelas.

> Lidah-lidah api menjulang tinggi ke angkasa.

> Warnanya merah pekat, bagaikan segumpal darah.

> Kobarannya semakin lama semakin besar.”

Seluruh Penduduk Berkumpul di Masjid Nabawi

Beliau berkata:

> “Seluruh masyarakat bergegas menuju Masjid Nabawi.

> Mereka berkumpul di sekitar kamar Rasulullah ﷺ.

> Mereka memohon perlindungan kepada Allah.

> Mereka membuka penutup kepala sebagai tanda kerendahan diri.

> Mereka mengakui dosa-dosa mereka.

> Mereka menangis, berdoa, dan memohon kepada Allah.

> Mereka juga bertawassul dengan doa Rasulullah ﷺ, yakni memohon kepada Allah di tempat yang mulia tersebut.

> Orang-orang berdatangan dari seluruh penjuru Madinah.

> Penduduk kebun-kebun kurma juga masuk ke kota.

> Para wanita keluar dari rumah-rumah mereka.

> Anak-anak ikut berkumpul.

> Seluruh masyarakat bersatu dalam doa dan taubat kepada Allah.”

Beliau melanjutkan:

> “Cahaya merah dari api memenuhi seluruh langit.

> Malam itu menjadi terang benderang seperti malam bulan purnama.

> Langit tampak merah pekat.

> Seluruh masyarakat benar-benar yakin bahwa azab Allah akan segera turun.”

Malam Dipenuhi Ibadah

Beliau berkata:

> “Malam itu masyarakat menghabiskan waktu dengan:

shalat,

membaca Al-Qur’an,

rukuk,

sujud,

berdoa,

beristigfar,

menangisi dosa-dosa mereka,

dan bertaubat kepada Allah.

> Adapun api tetap berada di tempatnya.

> Kobarannya sedikit berkurang, namun nyalanya tetap sangat besar.”

Amir Madinah Bertaubat

Beliau berkata:

> “Para ulama dan qadhi mendatangi Amir Madinah untuk menasihatinya.

> Setelah menerima nasihat tersebut, beliau:

menghapus berbagai pungutan zalim atau pajak (muks),

membebaskan seluruh budaknya,

mengembalikan seluruh harta yang pernah diambil secara zalim kepada pemiliknya.”

Gambaran Dahsyatnya Gunung Api

Penulis surat berkata:

> “Api itu terus menyala.

> Tingginya seperti sebuah gunung besar.

> Lebarnya hampir menyerupai sebuah kota.

> Dari dalamnya terlontar batu-batu besar yang melesat tinggi ke langit lalu jatuh kembali.

> Kobaran api yang keluar menyerupai gunung besar.

> Letusannya disertai suara yang menggelegar seperti petir.”

Beliau melanjutkan:

> “Keadaan itu berlangsung beberapa hari.

> Setelah itu lava mulai mengalir menuju Wadi Ahilain, kemudian turun mengikuti lembah hingga mencapai Wadi asy-Syazha.

> Aliran tersebut terus bergerak sampai bertemu dengan kawasan Harrah para jamaah haji.

> Batu-batu besar ikut hanyut bersama lava.

> Lava hampir mencapai Harrah al-‘Aridh, kemudian berhenti.”

Namun beberapa hari kemudian:

> “Gunung itu kembali memuntahkan batu-batu ke depan dan ke belakang.

> Tumpukan batu itu akhirnya membentuk dua gunung baru.

> Setelah itu lava hanya keluar melalui celah di antara kedua gunung tersebut dalam bentuk satu lidah api yang panjang.”

Api Tetap Menyala Selama Sebulan

Beliau berkata:

> “Hingga saat aku menulis surat ini, kobaran api masih sangat besar.

> Setiap malam menjelang fajar terdengar suara gemuruh yang sangat keras.

> Keajaiban-keajaiban yang kami saksikan begitu banyak sehingga aku tidak sanggup menceritakan semuanya.

> Apa yang kutuliskan ini hanyalah sebagian kecil saja.

> Matahari dan bulan hingga sekarang tampak seperti sedang mengalami gerhana.

> Ketika surat ini kutulis, telah berlalu satu bulan, sedangkan api masih tetap berada di tempatnya; tidak maju dan tidak pula mundur.”

Sesudah itu, Ibnu Kathir menyebutkan sebuah syair panjang yang digubah oleh salah seorang penyair pada masa itu tentang letusan Harrah Rahat. Syair tersebut berisi doa, pengakuan dosa, dan penegasan bahwa peristiwa ini merupakan salah satu tanda kebesaran Allah dan bukti kebenaran sabda Rasulullah ﷺ. Setelah syair, Ibn Kathir menegaskan bahwa peristiwa ini merupakan realisasi hadis sahih Nabi ﷺ tentang keluarnya api dari tanah Hijaz yang cahayanya menerangi leher-leher unta di Busra.

Sumber:

Badan Survei Geologi Arab Saudi.

Kantor Berita Arab Saudi (SPA).

Risalah Universitas, King Saud University.

Al-Bidāyah wan-Nihāyah
(Permulaan dan Akhir Sejarah)

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button