Tatsqif

Pura-Pura Tidak Tahu: Hidup Tenang di Era Overthinking

Pura-Pura Tidak Tahu: Hidup Tenang di Era Overthinking

Pernahkah Anda tinggal serumah atau bekerja sekantor dengan seseorang yang hidupnya berantakan dan tidak teratur? Handuk diletakkan sembarangan, piring dibiarkan begitu saja setelah makan, atau berkas-berkas kerja berserakan di atas meja. Atau mungkin Anda pernah merasa jengkel melihat komentar yang tidak jelas di grup WhatsApp?

Rasa kesal tentu wajar. Kita hidup di zaman ketika hampir segala sesuatu di sekitar kita berpotensi menjadi sumber gangguan. Namun, mengapa ada sebagian orang yang tetap tenang menghadapi semua itu?

Salah satu rahasianya adalah mereka memiliki kemampuan mengelola hati melalui sebuah sikap mulia yang disebut at-tagāful.

Apa Itu At-Tagāful?

Secara bahasa, at-tagāful berasal dari kata ghafala–yaghfulu yang berarti lalai. Namun, istilah ini memiliki makna yang lebih khusus, yaitu berpura-pura tidak mengetahui sesuatu padahal sebenarnya mengetahui dan menyadarinya.

Tentu yang dimaksud bukan berpura-pura bodoh, bukan pula kemunafikan. At-tagāful adalah strategi untuk menjaga hati, hubungan, dan kewarasan dalam menghadapi berbagai kekurangan manusia.

Allah menggambarkan sikap ini pada diri Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam dalam urusan rumah tangga beliau. Allah Ta’ala berfirman:

عَرَّفَ بَعْضَهٗ وَاَعْرَضَ عَنْۢ بَعْضٍۚ

Artinya: “Dia (Nabi) memberitahukan (kepada Hafsah) sebagian dan menyembunyikan sebagian yang lain”. QS. At Tahrim: 3

Dalam tafsirnya, As-Sa’di menjelaskan bahwa Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam memberitahukan kepada Hafsah sebagian kesalahannya, sementara sebagian lainnya beliau abaikan dan tidak dibahas. Inilah salah satu bentuk at-tagāful. Tidak semua kesalahan harus diurai secara rinci; ada yang cukup diisyaratkan dan ada yang cukup diabaikan demi menjaga perasaan serta keharmonisan.

At-Tagāful dalam Pandangan Para Ulama

Para salaf sangat memuji akhlak ini karena mereka memahami bahwa keluhuran budi tidak mungkin terwujud tanpa kemampuan bertoleransi terhadap kekurangan orang lain.

Imam Ahmad bin Hambal berkata: “Keselamatan itu terdiri dari sepuluh bagian, dan semuanya terdapat dalam sikap at tagaful”[1].

‘Amr bin Utsman al Makki berkata: “Muru’ah (keluhuran budi dan kehormatan diri) adalah berpura-pura tidak melihat (bertoleransi) terhadap kesalahan-kesalahan saudara”[2].

Namun, yang dimaksud di sini adalah kesalahan-kesalahan ringan, bukan dosa atau maksiat.

Sufyan At Tsauri berkata: “Sejak dahulu sikap at tagaful termasuk perangai orang-orang yang mulia”[3].

Ja’far as Shodiq berkata: “Agungkanlah nilai dan kedudukan diri kalian dengan sikap at tagaful”[4].

Ali bin Abi Talib berkata: “Sikap at tagaful dapat mengangkat (menghilangkan) banyak musibah”[5].

Perkataan ini sangat realistis. Sebab, kebiasaan mengomentari segala sesuatu, termasuk perkara-perkara sepele, sering kali justru mendatangkan masalah bagi diri sendiri, seperti stres, kelelahan mental, dan rusaknya hubungan dengan orang lain. Hatim berkata: “Orang yang berakal adalah orang yang cerdas dan memahami keadaan, namun tetap bersikap at tagaful”[6].

Ibnu Qayyim menjelaskan tentang at tagaful terhadap kesalahan: “Adapun bersikap at tagaful terhadap suatu kekeliruan, yaitu ketika seseorang melihat kesalahan dari orang lain yang menurut syariat tidak wajib untuk menindak atau menghukumnya, maka ia menampakkan seolah-olah tidak melihatnya. Hal itu agar pelakunya tidak merasa tersinggung atau terasing, serta agar ia tidak terbebani untuk memberikan alasan dan pembelaan diri.”[7]

Kapan At-Tagāful Diterapkan?

Agar tidak salah memahami konsep ini, para ulama menjelaskan bahwa at-tagāful memiliki batasan yang jelas. Tidak semua kesalahan boleh diabaikan.

Di antara kondisi yang layak untuk diterapkan at-tagāful adalah:

  • Kesalahan pribadi yang tidak berdampak pada orang lain.
  • Kekeliruan yang terjadi karena ketidaksengajaan atau keceplosan.
  • Perbedaan pendapat dalam masalah furu’iyah.
  • Kekurangan adab yang ringan dan tidak melanggar syariat.

Tujuannya adalah menjaga ukhuwah, menjaga perasaan, serta menutup pintu masuk bagi setan.

Adapun perkara yang berkaitan dengan akidah, dosa dan maksiat yang dilakukan secara terang-terangan, kehormatan, harta, nyawa, atau berbagai bentuk kezaliman, maka tidak ada ruang untuk at-tagāful. Dalam perkara tersebut, syariat memerintahkan amar ma’ruf nahi mungkar. Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ ‌مُنْكَرًا ‌فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ. فَإِنْ لم يستطع فبلسانه. ومن لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ. وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ

Artinya: “Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu, maka ubahlah dengan lisannya, jika masih belum mampu, maka ubahlah dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman” HR. Muslim No. 78

Hikmah Sikap At-Tagāful

1. Menjaga Hubungan

Tidak ada rumah tangga yang langgeng karena suami dan istri tidak pernah berbuat salah. Yang ada adalah pasangan yang pandai saling memaafkan dan menerapkan at-tagāful. Persahabatan dapat bertahan bertahun-tahun bukan karena tidak pernah berbeda pendapat, tetapi karena masing-masing memahami mana hal yang perlu dibahas dan mana yang cukup diabaikan.

2. Menghemat Energi Mental

Pikiran manusia memiliki batas. Jika setiap informasi diproses dan setiap kesalahan dikomentari, energi mental akan habis pada hal-hal yang tidak penting. At-tagāful berfungsi sebagai filter yang membantu kita membedakan mana yang perlu direspon dan mana yang cukup dilewatkan.

3. Menutup Pintu Setan

Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ ‌تَرْكُهُ ‌مَا ‌لَا ‌يَعْنِيهِ

Artinya: “Di antara bentuk kebaikan islamnya seseorang adalah ia meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya” HR. Tirmidzi No. 2317.

Banyak permusuhan, perceraian, perpecahan komunitas berawal dari hal kecil yang dipaksa jadi besar, at tagaful dapat memutus rantai itu dari awal.

Bagaimana Melatih At-Tagāful?

Sikap at-tagāful bukanlah bawaan lahir, melainkan keterampilan yang perlu dilatih.

1. Berpikir Sebelum Bertindak

Sebelum lisan berkomentar atau jari mengetik, tanyakan kepada diri sendiri: “Apakah ucapan atau tindakan ini akan membawa manfaat atau justru menimbulkan mudarat?”

2. Mengingat Tujuan yang Lebih Besar

Anda menikah untuk meraih sakinah, bukan untuk memenangkan setiap perdebatan dengan pasangan. Anda bekerja untuk menghasilkan manfaat dan prestasi, bukan untuk menjadi pengawas kesalahan rekan kerja. Ketika tujuan utama selalu diingat, banyak hal sepele akan terasa tidak layak dipermasalahkan.

3. Memperbanyak Doa dan Melapangkan Dada

Allah mengajarkan Nabi Musa ‘alaihis salam sebuah doa yang agung:

رب اشرح لي صدري

Artinya: “Ya Rabb, lapangkanlah dadaku” QS. Taha : 25.

Dada yang lapang membuat seseorang lebih mudah memaafkan dan lebih mudah menerapkan at-tagāful. Karena itu, mintalah pertolongan kepada Allah. Hati tidak akan mampu menjalankan akhlak mulia ini dengan sempurna tanpa taufik dan pertolongan-Nya.

At-tagāful bukan berarti menutup mata terhadap kebenaran dan bukan pula membiarkan kezaliman terjadi. At-tagāful adalah kemampuan menentukan prioritas: memilih ketenangan hati, kejernihan pikiran, dan keharmonisan hubungan daripada larut dalam perkara-perkara yang tidak mendatangkan manfaat.

Imam Asy-Syafi’i berkata: “Orang yang cerdas dan berakal adalah yang cerdas sekaligus pandai at tagaful”.[8]

Mulailah melatihnya hari ini. Tidak semua hal harus dijadikan status, tidak semua kesalahan harus disidang, dan tidak semua orang harus Anda luruskan. Terkadang, berpura-pura tidak tahu justru merupakan bentuk tertinggi dari pemahaman tentang apa yang benar-benar penting dalam hidup.

Semoga Allah melapangkan hati kita, menghiasi kita dengan akhlak yang mulia, dan menganugerahkan kemampuan untuk bersikap bijaksana dalam menghadapi kekurangan sesama manusia. Āmīn.

  1. Syu’ab al-Iman (10/575/8028).
  2. Syu’ab al-Iman (10/574/8025).
  3. Garaib at-Tafsir (2/1225).
  4. Adab al-Asy’aroh wa dzikru as-Suhbah wa al-Ukhuwah Hal.55.
  5. Kasf al-Khafa (2/60).
  6. ‘Uyun al-Akhbar (3/9).
  7. Madarij as-Salikin (3/93).
  8. Syuab al-Iman (6/331/8387).

Darul Idam, Lc., M.A.

Kandidat Doktor Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button