Di dunia ada Surga yang Disegerakan Sebelum Surga Akhirat

Di dunia ada Surga yang Disegerakan Sebelum Surga Akhirat
Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, kepada keluarga beliau, dan para sahabatnya. Amma ba‘du:
Betapa indahnya kehidupan ketika engkau merasakan kebahagiaan di dalamnya dan terus melangkah maju di hamparan buminya, sementara hatimu senantiasa bergantung kepada langit.
Dalam setiap langkah dan setiap hembusan napas di taman-tamannya yang hijau nan subur, engkau mengharap pahala dari Allah.
Kita semua harus meyakini tanpa sedikit pun keraguan bahwa di dunia ini ada “Jannatud Dunyā”, yaitu surga dunia yang dirasakan oleh orang-orang beriman berupa ketenangan hati, manisnya iman, lezatnya ketaatan, dan kedekatan dengan Allah.
Inilah kenikmatan ruhani yang menjadi isyarat dan pengantar menuju surga akhirat, surga yang penuh dengan kenikmatan abadi dan tak terbayangkan.
Sedangkan kenikmatan dunia hanyalah semu dan sering kali menyisakan rasa sakit. Adapun kenikmatan akhirat menghadirkan ketenangan, kedamaian, dan rasa tenteram yang hakiki.
Bukankah dalam setiap doa kita sisipkan berucap,
“﴿رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ﴾
(سورة البقرة: 201)
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami kebaikan di dunia dan anugerahkan pula kepada kami kebaikan di akhirat, serta peliharalah kami dari siksa api neraka.”
Islam dan tauhid kita kepada Allah adalah kenikmatan surga jika dibandingkan dengan perbudakan sesama manusia pemuja makhluk…
Shalat kita adalah ketenangan bathin surgawi jika kita sejajarkan dengan mereka hamba dunia yang tidak tenang kecuali dengan bergantung kepada dunia…
Zakat dan shadaqah kita adalah kebahagian surga kita bersama, kita rasakan kebahagian bersama-sama, jika disejajarkan dengan kapitalis, oligarki dan feodal rakus yang menyisakan surga semu hanya untuk circlenya sendiri.
Puasa kita adalah kebahagiaan surgawi tiada tara disaat kita mengetahui bahwa haus dan lapar ini ada ujungnya waktu untuk berbuka bersama-sama.
Haji kita adalah puncak dari kebahagiaan jika kita sadar bahwa kita tidak sendiri di dunia ini, semua muslim sama dengan kita secara hati dan fakta.
Berbahagialah di sini, di dunia ini, seperti engkau akan berbahagia juga nanti di sana di akhirat.
Sesungguhnya surga dunia adalah beriman kepada Allah, menghadapkan diri kepada-Nya, mencintai-Nya, ridha terhadap takdir-Nya, dan selain itu dari cabang-cabang keimanan. Inilah yang dimaksud oleh Ibnu Taimiyah dan muridnya Ibnul Qayim rahimahumallah dengan kalimat mereka: “Sesungguhnya di dunia ini ada surga. Barang siapa tidak memasukinya, maka ia tidak akan masuk surga akhirat.”
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata dalam kitab Al-Wābiluṣ-Ṣayyib:
والإقبال على الله تعالى، والإنابة إليه، والرضا به وعنه، وامتلاء القلب من محبته واللهج بذكره، والفرح والسرور بمعرفته ثواب عاجل، وجنة وعيش لا نسبة لعيش الملوك إليه البتة، وسمعت شيخ الإسلام ابن تيمية -قدس الله روحه- يقول: إن في الدنيا جنة من لم يدخلها لا يدخل جنة الآخرة. انتهى
“Menghadap kepada Allah Ta‘ālā, kembali dan bertobat kepada-Nya, ridha kepada-Nya dan terhadap ketetapan-Nya, hati yang dipenuhi dengan cinta kepada-Nya, lisan yang terus menyebut zikir kepada-Nya, serta kegembiraan dan kebahagiaan karena mengenal-Nya; semua itu adalah pahala yang disegerakan, surga, dan kehidupan yang kenikmatannya sama sekali tidak dapat dibandingkan dengan kehidupan para raja.”
Aku juga mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
“Sesungguhnya di dunia ini ada surga. Barang siapa tidak memasukinya, maka ia tidak akan masuk surga akhirat.” Selesai.
Inti dan kebahagiaan utama
Berkata Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah:
«احْرِصْ أَنْ يَكُونَ هَمُّكَ وَاحِدًا، وَأَنْ يَكُونَ هُوَ اللَّهَ وَحْدَهُ، فَهٰذَا غَايَةُ سَعَادَةِ الْعَبْدِ، وَصَاحِبُ هٰذِهِ الْحَالِ فِي جَنَّةٍ مُعَجَّلَةٍ قَبْلَ جَنَّةِ الْآخِرَةِ وَفِي نَعِيمٍ عَاجِلٍ».
رِسَالَةُ ابْنِ الْقَيِّمِ إِلَى أَحَدِ إِخْوَانِهِ ص ٣٤.
“Berusahalah agar kegelisahan dan perhatianmu hanya satu, yaitu Allah semata.
Karena inilah puncak kebahagiaan seorang hamba.
Orang yang memiliki keadaan seperti ini berada dalam surga yang disegerakan sebelum surga akhirat, dan dalam kenikmatan yang segera dirasakan.”
(Risalah Ibnu Qayyim kepada salah seorang saudaranya, hlm. 34)
Surga yang disegerakan adalah kenikmatan yang Allah bukakan bagi seorang hamba di dunia berupa nikmat iman, lezatnya ketaatan, ketenteraman hati, dan rasa akrab dengan Allah, sebelum surga akhirat.
Para salaf dahulu banyak membicarakan makna ini. Di antara ucapan yang paling masyhur adalah perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله:
“إن في الدنيا جنةً من لم يدخلها لم يدخل جنة الآخرة”.
“Sesungguhnya di dunia ini ada surga. Barang siapa tidak memasukinya, maka ia tidak akan masuk surga akhirat.”
Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah رحمه الله berkata:
Cinta adalah asal dari setiap amalan.
Jika cinta merupakan asal dari setiap amal, baik yang benar maupun yang batil, maka asal dari amalan-amalan agama adalah cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana asal dari ucapan-ucapan agama adalah membenarkan Allah dan Rasul-Nya.
Setiap keinginan yang menghalangi sempurnanya cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, serta menyaingi cinta tersebut, atau setiap syubhat yang menghalangi sempurnanya pembenaran terhadap Allah dan Rasul-Nya, maka itu bertentangan dengan pokok iman atau melemahkannya. Jika hal itu menguat hingga menentang pokok cinta dan pembenaran, maka jadilah ia kekufuran atau kesyirikan besar. Namun jika tidak sampai menentangnya, maka ia mencederai kesempurnaan iman dan menimbulkan kelemahan serta kelesuan dalam tekad dan usaha.
Perkara-perkara itu menghalangi orang yang ingin sampai kepada Allah, memutus perjalanan pencari kebenaran, dan membalikkan semangat orang yang menginginkannya.
Tidak akan benar loyalitas (al-walā’) kecuali dengan permusuhan (al-barā’ah). Sebagaimana Allah Ta‘ālā mengisahkan tentang imam para pencinta Allah, yaitu Ibrahim عليه السلام, ketika berkata kepada kaumnya:
﴿أَفَرَأَيْتُمْ مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمُ الْأَقْدَمُونَ فَإِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِي إِلَّا رَبَّ الْعَالَمِينَ﴾
“Maka apakah kalian memperhatikan apa yang dahulu kalian sembah, kalian dan nenek moyang kalian yang terdahulu? Sesungguhnya mereka itu adalah musuh bagiku kecuali Rabb semesta alam.”
(Surah Asy-Syu‘arā’: 75–77)
Tidaklah persahabatan dan kecintaan khusus kepada Allah yang dimiliki Khalīlullāh itu menjadi benar kecuali dengan merealisasikan permusuhan terhadap segala sesembahan selain-Nya. Tidak ada loyalitas kecuali dengan berlepas diri dari setiap sesembahan selain Allah.
Allah Ta‘ālā berfirman:
﴿قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ …﴾
“Sungguh telah ada teladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, ketika mereka berkata kepada kaum mereka: ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah…’”
(Surah Al-Mumtaḥanah: 4)
Allah juga berfirman:
﴿وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ﴾
“Dan ketika Ibrahim berkata kepada ayah dan kaumnya: ‘Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah, kecuali Dzat yang menciptakanku, karena Dia akan memberi petunjuk kepadaku.’ Dan Allah menjadikan kalimat itu tetap ada pada keturunannya agar mereka kembali.”
(Surah Az-Zukhruf: 26–28)
Maksudnya, Allah menjadikan loyalitas kepada-Nya dan berlepas diri dari setiap sesembahan selain-Nya sebagai kalimat yang terus diwariskan pada keturunan Ibrahim. Para nabi dan pengikut mereka saling mewarisinya dari generasi ke generasi, yaitu kalimat:
“La ilaha illallah.”
Itulah kalimat tauhid.
Kalimat yang dengannya langit dan bumi ditegakkan. Allah menciptakan seluruh makhluk di atas fitrah itu. Di atasnya agama ditegakkan, kiblat ditetapkan, dan pedang jihad dihunuskan.
Kalimat itu adalah hak Allah yang paling murni atas seluruh hamba-Nya. Ia adalah kalimat yang menjaga darah, harta, dan keturunan di dunia ini. Ia juga penyelamat dari azab kubur dan azab neraka.
Ia adalah surat izin yang tidak seorang pun masuk surga kecuali dengannya. Ia adalah tali yang siapa tidak berpegang dengannya tidak akan sampai kepada Allah. Ia adalah kalimat Islam dan kunci negeri keselamatan.
Dengan kalimat itu manusia terbagi menjadi orang yang sengsara dan bahagia, diterima dan ditolak. Dengannya pula terpisah negeri kufur dari negeri iman, serta terbedakan negeri kenikmatan dari negeri kesengsaraan dan kehinaan.
Ia adalah tiang penyangga seluruh kewajiban dan sunnah. Barang siapa ucapan terakhirnya “Lā ilāha illallāh”, maka ia masuk surga.
Ruh dari kalimat tauhid ini dan rahasianya adalah mengesakan Rabb جلّ ثناؤه dalam:
cinta,
pengagungan,
pemuliaan,
rasa takut,
harapan,
tawakal,
kembali kepada-Nya,
rasa berharap,
rasa takut kepada-Nya.
Maka tidak boleh mencintai selain-Nya secara tandingan. Semua yang dicintai selain Allah hanyalah mengikuti cinta kepada-Nya dan menjadi sarana untuk menambah cinta kepada-Nya.
Tidak takut kecuali kepada-Nya. Tidak berharap kecuali kepada-Nya. Tidak bertawakal kecuali kepada-Nya. Tidak meminta pertolongan ketika kesulitan kecuali kepada-Nya. Tidak bersujud kecuali kepada-Nya. Tidak menyembelih kecuali untuk-Nya dan dengan nama-Nya.
Seluruh makna itu terkumpul dalam satu kalimat:
“Tidak disembah dengan benar kecuali Allah semata.”
Inilah hakikat syahadat “Lā ilāha illallāh”.
Karena itulah Allah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan “Lā ilāha illallāh” dengan sebenar-benarnya penghayatan terhadap syahadat tersebut. Mustahil orang yang benar-benar merealisasikan syahadat ini akan kekal di neraka.
Allah Ta‘ālā berfirman:
﴿وَالَّذِينَ هُمْ بِشَهَادَاتِهِمْ قَائِمُونَ﴾
“Dan orang-orang yang menegakkan kesaksian mereka.”
(Surah Al-Ma‘ārij: 33)
Yakni, ia menegakkan syahadat itu lahir dan batin, dalam hati dan anggota tubuhnya.
Di antara manusia ada yang syahadatnya mati. Ada yang tertidur, jika dibangunkan ia sadar. Ada yang lemah hampir bangkit. Ada pula yang hidup sehat dan tegak.
Kedudukan syahadat di dalam hati seperti ruh dalam jasad:
ada ruh yang mati,
ada ruh yang sakit,
ada ruh yang lebih dekat kepada kehidupan,
dan ada ruh yang sehat yang mengatur seluruh maslahat badan.
Dalam hadis sahih Nabi ﷺ bersabda:
“Aku benar-benar mengetahui suatu kalimat yang tidaklah seorang hamba mengucapkannya ketika mati melainkan ruhnya akan mendapatkan kehidupan karenanya.”
Kehidupan ruh itu tergantung pada hidupnya kalimat tauhid dalam dirinya.
Sebagaimana jasad hidup dengan adanya ruh, maka orang yang mati di atas kalimat tauhid akan berada di surga. Demikian pula orang yang hidup dengan merealisasikan tauhid dan menegakkannya, maka ruhnya hidup dalam surga tempat kembali, dengan kehidupan yang paling baik.
Allah Ta‘ālā berfirman:
﴿وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى﴾
“Adapun orang yang takut akan kedudukan Rabb-nya dan menahan dirinya dari hawa nafsu, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya.”
(Surah An-Nāzi‘āt: 40–41)
Surga itu menjadi tempat tinggalnya pada hari perjumpaan dengan Allah.
Adapun surga ma‘rifat kepada Allah, cinta kepada-Nya, merasa dekat dengan-Nya, rindu bertemu dengan-Nya, bergembira dengan-Nya, dan ridha kepada-Nya, maka itulah tempat tinggal ruhnya di dunia ini.
Barang siapa menjadikan surga ini sebagai tempat tinggalnya di dunia, maka surga kekal akan menjadi tempat tinggalnya di akhirat. Dan barang siapa terhalang dari surga dunia ini, maka ia lebih terhalang lagi dari surga akhirat.
Orang-orang saleh berada dalam kenikmatan walaupun kehidupan mereka sempit. Sedangkan orang-orang durhaka berada dalam neraka walaupun dunia dilapangkan bagi mereka.
Allah Ta‘ālā berfirman:
﴿مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً﴾
“Barang siapa beramal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka Kami pasti akan memberinya kehidupan yang baik.”
(Surah An-Naḥl: 97)
Kehidupan yang baik itulah surga dunia.
Allah juga berfirman:
﴿فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ﴾
“Barang siapa Allah kehendaki mendapat petunjuk, niscaya Allah lapangkan dadanya untuk Islam.”
(Surah Al-An‘ām: 125)
Nikmat apakah yang lebih baik daripada lapangnya dada? Dan azab apakah yang lebih pahit daripada sempitnya dada?
Allah Ta‘ālā juga berfirman:
﴿أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ﴾
“Ingatlah, sesungguhnya para wali Allah tidak ada rasa takut atas mereka dan mereka tidak bersedih.”
(Surah Yūnus: 62)
فالمؤمن المخلص لله من أطيب الناس عيشاً، وأنعمهم بالاً، وأشرحهم صدراً، وأسرّهم قلباً، وهذه جنة عاجلة قبل الجنة الآجلة.
Maka seorang mukmin yang ikhlas kepada Allah adalah manusia yang paling baik kehidupannya, paling tenang jiwanya, paling lapang dadanya, dan paling bahagia hatinya. Inilah surga yang disegerakan sebelum surga akhirat.
Nabi ﷺ bersabda:
“Apabila kalian melewati taman-taman surga maka singgahlah.”
Para sahabat bertanya: “Apa itu taman-taman surga?”
Beliau menjawab: “Majelis-majelis zikir.”
Dan termasuk dalam makna ini sabda beliau ﷺ:
“Antara rumahku dan mimbarku adalah satu taman dari taman-taman surga.”
(Ad-Dā’ wad-Dawā’, hlm. 459)
Yang dimaksud adalah surga iman, keyakinan, cinta kepada Allah, dan zikir kepada-Nya, bukan surga kekal yang ada di akhirat.
Di antara makna surga yang disegerakan:
Manisnya iman.
Nikmatnya ibadah dan ketaatan.
Tenangnya hati dengan mengingat Allah.
Ketenangan saat menghadapi fitnah dan musibah.
Lapangnya dada dengan tauhid dan sunnah.
Rasa aman dan tenteram.
Allah Ta‘ālā berfirman:
﴿أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ﴾
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
Dan Allah سبحانه berfirman:
﴿مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً﴾
“Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.”
Ibnu Qayyim رحمه الله juga pernah berkata:
“Kasihan penduduk dunia. Mereka keluar darinya, namun belum merasakan sesuatu yang paling lezat di dalamnya.”
Beliau ditanya: “Apa yang paling lezat di dalamnya?”
Beliau menjawab:
“Cinta kepada Allah, merasa akrab dengan-Nya, dan rindu untuk bertemu dengan-Nya.”
Semakin kuat iman seorang hamba, semakin istiqamah di atas tauhid dan sunnah, serta semakin jauh dari maksiat dan bid‘ah, maka semakin besar pula bagian yang ia peroleh dari surga yang disegerakan ini.
Ibnu al-Wazir رحمه الله berkata:
القاصد لوجه الله لا يخاف أن ينقد عليه خلل في كلامه، ولا يهاب أن يُدَل على بطلان قوله، بل يحب الحق من حيث أتاه.
“Orang yang benar-benar menginginkan wajah Allah tidak takut apabila ditemukan kekurangan dalam ucapannya, dan tidak gentar apabila ditunjukkan kesalahan pendapatnya. Bahkan ia mencintai kebenaran dari mana pun datangnya.”
Ada banyak perilaku yang seharusnya dimiliki oleh seorang mukmin yang saleh dengannya dia akan merasakan nikmatnya surga di dunia sebelum mendapatkan surga di akhirat, dan hal itu telah disebutkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an serta hadis-hadis Nabi yang mulia.
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا جَنَّةَ الدُّنْيَا قَبْلَ جَنَّةِ الْآخِرَةِ،
وَاجْعَلْ قُلُوبَنَا مُطْمَئِنَّةً بِذِكْرِكَ،
وَعَامِرَةً بِمَحَبَّتِكَ،
وَمُنِيبَةً إِلَيْكَ،
وَارْزُقْنَا لَذَّةَ الطَّاعَةِ، وَحَلَاوَةَ الْإِيمَانِ، وَالْأُنْسَ بِكَ،
وَلَا تَحْرِمْنَا جَنَّةَ الْفِرْدَوْسِ فِي الْآخِرَةِ،
يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
“Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami surga dunia sebelum surga akhirat.
Jadikan hati kami tenteram dengan mengingat-Mu,
dipenuhi dengan cinta kepada-Mu,
dan selalu kembali kepada-Mu.
Karuniakan kepada kami lezatnya ketaatan, manisnya iman, dan rasa dekat dengan-Mu.
Dan janganlah Engkau menghalangi kami dari Surga Firdaus di akhirat, wahai Dzat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.”
اللَّهُمَّ أَنْتَ حَسْبُنَا حِينَ تَضِيقُ الْحَيَاةُ،
وَأَنْتَ الْمُنْتَصِرُ لَنَا حِينَ تَغْلِبُنَا الْأَوْجَاعُ،
وَأَنْتَ عَوْنُنَا وَنَجَاتُنَا حِينَ نَفْقِدُ الْحِيلَةَ،
اللَّهُمَّ صَبِّحْنَا بِبَشَائِرِ خَيْرِكَ،
وَامْدُدْنَا بِوَافِرِ جُودِكَ،
وَاجْعَلْ لَنَا مَعَ نَسَمَاتِ هَذَا الصَّبَاحِ
رِزْقًا وَسَعَادَةً وَعَافِيَةً دَائِمَةً،
يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَحَبِيبِنَا مُحَمَّدٍ ﷺ
“Ya Allah, Engkaulah penolong dan pencukup bagi kami ketika kehidupan terasa sempit.
Engkaulah yang memenangkan kami ketika rasa sakit mengalahkan kami.
Engkaulah penolong dan penyelamat kami ketika kami kehilangan daya dan upaya.
Ya Allah, pagi-kanlah kami dengan kabar-kabar gembira dari kebaikan-Mu.
Limpahkanlah kepada kami keluasan karunia-Mu.
Jadikanlah bersama hembusan pagi ini
rezeki, kebahagiaan, dan kesehatan yang terus-menerus,
wahai Dzat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.”
“Ya Allah, limpahkanlah shalawat, salam, dan keberkahan kepada junjungan dan kekasih kami, Nabi Muhammad ﷺ.”
Semoga bermanfaat.



