Buku: Keagungan Hari Arafah

Download Pdfnya Klik
Keagungan Hari Arafah
Daftar isi
Keagungan dan Keutamaan Hari Arafah 3
Hari Jibril (Pemulihan) dan Terkabulnya Harapan 4
Keutamaan Puasa Arafah dan Pembebasan dari Neraka 6
Keutamaan Arafah untuk Seluruh Umat 10
Nasihat untuk yang Tidak Sedang Wukuf 15
Memperbanyak Pujian dan Memohon Pertolongan 17
Keagungan dan Keutamaan Hari Arafah
Dr. Thala bin Fawaz Al-Hassan -hafidzahullah-
Segala puji bagi Allah, Yang Maha Luas karunia dan kebaikan-Nya, Yang Maha Mulia lagi Maha Pemberi, yang telah menjadikan bagi hamba-hamba-Nya musim-musim kebaikan dan hembusan-hembusan rahmat. Aku memuji-Nya—Subhanahu wa Ta’ala—dan bersyukur kepada-Nya atas pemberian-Nya yang melimpah dan nikmat-Nya yang luas. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga selawat, salam, dan keberkahan senantiasa tercurah kepada beliau, keluarganya, [serta para sahabatnya], dan siapa saja yang berjalan di atas manhajnya hingga hari kiamat.
Amma ba’du.
Sesungguhnya, di antara bentuk rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya adalah Dia menjadikan dalam perjalanan hari-hari itu pos-pos perhentian di mana hati-hati yang hancur dipulihkan, dosa-dosa diampuni, dan berbagai rahmat diturunkan. Dan sungguh, hari Arafah adalah salah satu hari yang paling agung dan paling tinggi kedudukannya di sisi Allah.
Betapa banyak hari dan bulan berlalu pada manusia, kemudian berlalu begitu saja dan tidak menyisakan apa pun dalam catatan umur kecuali sekadar nama-nama yang lewat. Namun, Allah telah menetapkan dalam perjalanan waktu ini pos-pos perhentian yang tidak seperti perhentian lainnya, dan hari-hari yang tidak seperti hari-hari biasa. Di hari itu, Allah menyeru hamba-hamba-Nya dengan seruan rahmat: “Kemarilah menuju pintu-pintu karunia! Kemarilah menuju perbendaharaan pemberian, serta menuju medan-medan kebaikan dan rahmat!”
Hari Jibril (Pemulihan) dan Terkabulnya Harapan
Dan kini, hari Arafah telah datang menghampiri kita. Sebuah hari dari sebaik-baik hari; hari yang tidak seperti hari-hari lainnya. Hari di mana rahmat diturunkan, kesalahan-kesalahan dihapuskan, dan leher-leher dibebaskan dari api neraka. Sebuah hari yang apabila ia datang, datang bersamanya kabar gembira berupa keutamaan, bersinar cahaya harapan di dalam hati, dan terbentanglah telapak tangan orang-orang fakir menengadah kepada Tuhan Sang Penguasa langit dan bumi.
Hari Arafah adalah hari pemulihan setelah kehancuran, hari peristirahatan setelah kepenatan, dan hari kemenangan setelah panjangnya penantian. Ia adalah hari di mana seandainya hati-hati ini menyadari nilainya, niscaya mereka akan berdiri di depan pintu Tuhannya layaknya berdirinya orang yang sangat terdesak di pintu Sang Maha Pemurah, dan layaknya berdirinya orang yang kehausan di sumber air setelah panjangnya terik matahari. Mereka mengharap dari Allah embusan rahmat yang dapat menghidupkan hati, doa yang dapat mengangkat kesedihan, atau kasih sayang yang mampu mengubah seluruh jalan hidupnya.
Ini bukanlah sekadar hari yang numpang lewat dalam catatan sejarah. Ini adalah hari yang diagungkan dan dimuliakan oleh Allah, hingga Dia bersumpah dengannya.
Allah Jalla wa ‘Ala berfirman:
﴿وَشَاهِدٍ وَمَشْهُودٍ﴾
“Demi yang menyaksikan dan yang disaksikan.” (QS. Al-Buruj: 3)
Hari yang disaksikan (al-Masyhud), menurut pendapat sekelompok ahli tafsir, adalah hari Arafah. Ia adalah hari yang disaksikan oleh para malaikat, hari di mana rahmat turun, serta pintu-pintu pembebasan dan ampunan dibuka lebar.
Maka, apa dugaanmu, wahai Saudaraku dan Saudariku, terhadap sebuah hari yang Allah bersumpah dengannya? Hari di mana Allah menjadikan di dalamnya embusan-embusan karunia-Nya yang dapat menghapus dosa-dosa bertahun-tahun, mengangkat derajat, dan mengabulkan doa-doa.
Keutamaan Puasa Arafah dan Pembebasan dari Neraka
Hal yang semakin menambah kemuliaan dan kedudukan hari ini adalah bahwa Nabi ﷺ sangat menganjurkan umatnya untuk berpuasa di dalamnya dengan anjuran yang luar biasa.
Beliau ﷺ bersabda, menjelaskan keutamaan puasanya:
أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ، وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ.
“Aku berharap kepada Allah agar (puasa ini) menghapuskan (dosa) satu tahun sebelumnya dan satu tahun sesudahnya.”
Betapa ini merupakan perniagaan yang sangat menguntungkan! Satu hari berpuasa, Allah jadikannya sebagai sebab bagi terampuninya dosa-dosa selama dua tahun, sebagai bentuk karunia dan rahmat dari-Nya. Maka, bagaimana mungkin orang yang berakal bisa berpaling dari pintu kedermawanan yang telah dibuka lebar ini?
Di antara hal paling menakjubkan yang Allah titipkan pada hari ini berupa keutamaan adalah apa yang dikabarkan oleh Nabi ﷺ melalui sabdanya:
مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ
“Tidak ada hari di mana Allah lebih banyak membebaskan hamba dari api neraka daripada hari Arafah.”
Seolah-olah ia adalah jam-jam di mana rahmat langit turun ke bumi, pintu-pintu maaf dibuka seluas-luasnya, dan semilir angin keselamatan berhembus menerpa hati-hati manusia. Maka keluarlah sekelompok kaum dari hari ini dalam keadaan belenggu dosa telah patah dari leher mereka, dan telah ditetapkan bagi mereka kebebasan dari api neraka dengan karunia dari Yang Maha Pemurah lagi Maha Pengampun.
Puncak Kesempurnaan Agama
Di antara bukti kemuliaan hari Arafah dan tingginya kedudukan hari ini adalah bahwa Allah Jalla wa ‘Ala memilihnya untuk menjadi momentum pengumuman atas kesempurnaan agama yang agung ini. Pada hari itulah turun firman Allah Jalla wa ‘Ala:
﴿ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗا﴾
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Ma’idah: 3)
Hal itu tidak lain karena Islam adalah sebaik-baik agama, penutup segala agama, serta agama yang paling sempurna hidayah, rahmat, dan cahayanya. Maka Allah memilih hari yang sangat agung di antara hari-hari-Nya—yaitu hari Arafah—untuk mengumumkan kesempurnaannya. Agar hari ini terus menjadi saksi atas sempurnanya nikmat, bersinarnya cahaya risalah, dan tuntasnya karunia Allah atas umat ini.
Pada hari ini pula, para jemaah haji wukuf di padang Arafah dalam sebuah pemandangan yang membuat hati bergetar sebelum mata memandangnya. Mereka telah menanggalkan perhiasan dunia dan gelar-gelarnya, lalu mengenakan pakaian kefakiran kepada Allah dan kerendahan diri di hadapan-Nya, seraya menengadahkan telapak tangan penuh ketundukan kepada Tuhan mereka.
Betapa menakjubkannya pemandangan itu! Kerasnya jiwa akan meleleh saat menyaksikannya. Jutaan hamba Allah meninggalkan tanah air, harta, dan keluarga mereka, lalu datang dengan membawa hati mereka sebelum jasad mereka. Mereka tidak mencari apa pun kecuali rahmat dari Allah, dan tidak mengharap apa pun kecuali ampunan, rida, dan kedekatan dengan-Nya Subhanahu wa Ta’ala.
Keutamaan Arafah untuk Seluruh Umat
Di antara makna yang sering dilalaikan oleh banyak orang adalah bahwa keutamaan hari Arafah tidaklah terbatas hanya pada mereka yang sedang wukuf di Arafat saja. Akan tetapi, Allah menjadikan dari keberkahan hari ini bagian yang melimpah untuk seluruh umat; bagi jemaah haji di tempat wukufnya, bagi orang yang jauh di mihrabnya, bagi orang yang berpuasa dengan puasanya, bagi orang yang berdoa dengan kekhusyukannya, dan bagi orang yang bertakbir dengan takbirnya.
Seakan-akan Allah menghendaki agar pintu-pintu hari ini tidak ditutup di hadapan orang yang terhalang jarak dari tempat-tempat suci. Sebaliknya, Allah menjadikan baginya bagian dari embusan rahmat-Nya, porsi dari kasih sayang-Nya, dan pintu pemberian yang terbuka bagi setiap hati yang menghadap Allah dengan kejujuran dan harapan.
Makna ini dikuatkan oleh perkataan Ibnu Rajab rahimahullah ketika beliau berkata:
وَيَوْمُ عَرَفَةَ هُوَ يَوْمُ الْعِتْقِ مِنَ النَّارِ، فَيُعْتِقُ اللَّهُ مِنَ النَّارِ مَنْ وَقَفَ بِعَرَفَةَ وَمَنْ لَمْ يَقِفْ بِهَا مِنْ أَهْلِ الْأَمْصَارِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ، فَلِذَلِكَ صَارَ الْيَوْمُ الَّذِي يَلِيهِ عِيدًا لِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ فِي جَمِيعِ أَمْصَارِهِمْ، مَنْ شَهِدَ الْمَوْسِمَ مِنْهُمْ وَمَنْ لَمْ يَشْهَدْهُ لِاشْتِرَاكِهِمْ فِي الْعِتْقِ وَالْمَغْفِرَةِ يَوْمَ عَرَفَةَ.
“Dan hari Arafah adalah hari pembebasan dari api neraka. Maka Allah membebaskan dari api neraka siapa saja yang wukuf di Arafah maupun yang tidak wukuf dari kalangan penduduk berbagai negeri dari kaum muslimin. Oleh karena itu, hari setelahnya (Iduladha) menjadi hari raya bagi seluruh kaum muslimin di seluruh negeri mereka, baik yang mengikuti musim haji maupun yang tidak mengikutinya, karena mereka berserikat (sama-sama mendapatkan bagian) dalam pembebasan dari neraka dan ampunan pada hari Arafah.” — Selesai kutipan perkataan beliau.
Kemudian beliau menjelaskan rahimahullah, bahwa hari Nahar (Iduladha) menjadi hari raya bagi seluruh [kaum muslimin] karena kebersamaan mereka dalam meraih atsar (jejak) karunia tersebut serta hembusan pembebasan dan ampunan. Dengan demikian, rahmat hari Arafah tidak berhenti pada batas geografis Arafat semata, melainkan naungannya membentang ke seluruh penjuru agar setiap muslim di mana pun ia berada merasa bahwa pada hari ini ia memiliki jatah pemaafan, bagian rahmat, dan perolehan dari limpahan Sang Maha Dermawan lagi Maha Pemberi.
Hari Doa dan Ketundukan
Di antara keutamaan hari ini adalah bahwa ia merupakan hari berdoa, merendahkan diri, dan menunjukkan kefakiran serta kehancuran hati di hadapan Allah Jalla wa ‘Ala. Nabi ﷺ telah bersabda:
خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ
“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah.”
Anda dapat memperhatikan di sini bahwa Nabi alaihisshalatu wassalam memutlakkan sifat kebaikannya. “Sebaik-baik” (khairiyyah) di sini bersifat mutlak, yang mencakup kebaikan dalam hal penerimaan (dikabulkan), kebaikan dalam hal keberkahan, kebaikan dalam pengaruhnya yang berkepanjangan, serta apa yang Allah tuangkan ke dalam hidup sang hamba berupa kelembutan dan pembukaan jalan (futuh). Jadi, kebaikannya di sini mutlak.
Demi Allah, betapa banyak doa yang terucap di hari ini dari hati yang hancur (tunduk), lalu kembali kepada pelakunya menjadi jalan keluar setelah kesempitan, petunjuk setelah kebingungan, dan kebahagiaan yang pengaruhnya membentang di sisa hari-hari dan tahun-tahun hidupnya. Seolah-olah doa-doa pada hari ini keluar dari hati-hati manusia dalam bentuk “harapan”, lalu kembali kepadanya dalam bentuk rahmat, ketenangan, pertolongan tersembunyi, dan jalan keluar yang jejak serta keberkahannya dapat disaksikan dalam hari-hari, usia, dan takdir-takdirnya.
Oleh karena itu, berdoa di hari ini adalah termasuk ibadah yang paling agung dan paling mulia, serta cara terbaik untuk menghabiskan waktu pada hari tersebut. Sebab Nabi ﷺ bersabda: “Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah.”
Namun, yang terpenting di hari Arafah bukanlah semata-mata memperbanyak mengulang-ulang untaian kata belaka. Yang menjadi inti perkaranya adalah engkau datang dengan hati yang hadir, jiwa yang tunduk hancur, dan diri yang menumpahkan seluruh kefakirannya di depan pintu Tuhannya. Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada kefasihan lisan, melainkan pada kejujuran rasa butuh (kefakiran) yang ada di dalam hati.
Betapa banyak orang yang dirundung duka memasuki hari Arafah, ia memikul beban berat di dadanya, lalu ia keluar dalam keadaan Allah memakaikannya ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Betapa banyak orang yang tertimpa musibah datang menyeret kesedihannya, lalu ia pulang dengan hati yang lebih ringan dari semilir angin fajar. Dan betapa banyak doa yang telah tertahan bertahun-tahun di depan pintu, menanti saat-saat diizinkan, lalu ketika hari Arafah tiba, pintu-pintu langit dibukakan baginya dan Tuhan Penguasa langit mengizinkan doa itu untuk naik dan didengar. Ya!
Nasihat untuk yang Tidak Sedang Wukuf
Maka wahai Saudaraku dan Saudariku! Janganlah kalian biarkan jam-jam di hari yang mulia ini menyelinap pergi dari kalian dalam kesibukan yang tidak meninggalkan jejak dan tidak menghidupkan hati. Akan tetapi, jadikanlah bagi kalian waktu untuk menyendiri bersama Allah, di mana hati dapat bermunajat kepada Tuhannya. Bukalah mushaf-mushaf Al-Qur’an, perbanyaklah zikir, perpanjanglah berdiri di pintu doa, dan mintalah kepada Allah apa saja yang kalian inginkan dari kebaikan dunia dan akhirat. Mintalah kesalehan hati, hidayah bagi keturunan, keberkahan umur, rahmat untuk kedua orang tua, husnulkhatimah, dan apa pun yang kalian kehendaki dari kebaikan dunia dan akhirat.
Demi Allah, tidaklah seorang hamba berdiri di pintu Tuhannya dengan kejujuran rasa butuh melainkan akan dibukakan baginya; dan tidaklah diangkat kepada-Nya dua tangan yang bergetar penuh ketundukan melainkan keduanya akan kembali dengan membawa kelembutan, rahmat, karunia, dan kecukupan.
Bagi engkau wahai Saudaraku dan Saudariku, yang belum ditakdirkan untuk bisa wukuf di Arafah: hati-hatilah! Sekali-kali jangan sampai setan mencuri dari hati kalian jatah keuntungan dari hari ini, atau ia menipu kalian bahwa pintu-pintu kebaikan telah ditutup bagi kalian dan bahwa karunia itu hanya terbatas bagi mereka yang berada di tempat wukuf saja. Tidak, demi Allah! Sesungguhnya hari Arafah itu lebih luas dari sekadar ruang, dan rahmat-rahmatnya terlalu lapang untuk hanya dibatasi di satu wilayah tertentu. Keberkahannya, cahayanya, dan kebaikannya membentang kepada jemaah haji di tempat wukufnya, dan kepada seorang muslim di rumah, masjid, dan mihrabnya, serta kepada seorang wanita di rumah dan tempat salatnya; bagi siapa saja yang menghadap kepada Allah dengan segenap hatinya dan bersimpuh di hadapan-Nya dengan penuh kepasrahan dan harapan.
Sesungguhnya Tuhan yang memiliki Arafah tidaklah jauh dari kalian, bahkan Dia lebih dekat kepada kalian daripada urat leher. Maka bukalah perbincangan yang panjang antara kalian dan Dia. Angkatlah tangan kalian penuh dengan desakan permohonan, serta perbanyaklah zikir dan doa. Betapa banyak doa yang keluar dari hati yang tulus, di mana pun tempatnya, lalu doa itu menembus hingga ke langit tertinggi. Dan betapa banyak hamba yang tidak wukuf di Arafah, namun ia “wukuf” dengan jujur di pintu Allah, maka ia pun pulang dengan membawa bagian dari penerimaan amalan, jatah dari ampunan, serta pembebasan dan kemerdekaan dari api neraka.
Memperbanyak Pujian dan Memohon Pertolongan
Di antara hal paling agung untuk memakmurkan hari Arafah adalah menghiasi doa-doa dengan memperbanyak sanjungan dan pujian kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Sesungguhnya ketika Nabi ﷺ bersabda, “Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah,” beliau menyambungnya dengan ucapan:
وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Dan sebaik-baik ucapan yang aku dan para nabi sebelumku ucapkan adalah: ‘Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya lah segala kerajaan dan milik-Nya lah segala pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu’.”
Seakan-akan Nabi ﷺ membukakan untuk hati manusia satu pintu lagi dari pintu-pintu menghadap kepada Allah, yaitu pintu pujian dan pengagungan sebelum meminta, saat meminta, dan sesudahnya. Maka jadikanlah harimu ini sebagai hari yang dipenuhi oleh ratapan pujian dan pengagungan. Perbanyaklah menyanjung Tuhanmu sebelum engkau memanjatkan doamu. Sesungguhnya pujian adalah kunci dikabulkannya permintaan, dan Allah mencintai pujian, serta tidak ada seorang pun yang lebih menyukai pujian melebihi Allah. Sebagaimana disabdakan oleh Nabi ﷺ:
لَيْسَ أَحَدٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ الْمَدْحُ مِنَ اللَّهِ
“Tidak ada seorang pun yang lebih menyukai pujian daripada Allah.”
Maka barang siapa yang mengagungkan Tuhannya dengan lisan dan hatinya, serta menyanjung-Nya dengan pujian yang layak bagi-Nya, ia akan lebih dekat untuk dibukakan baginya pintu-pintu harapan, dikabulkan doa-doanya, dan diturunkan kepadanya rahmat-rahmat Sang Maha Pemurah lagi Maha Pemberi. Betapa banyak doa yang dibukakan baginya pintu penerimaan, mengapa? Karena pelakunya mendahului doanya dengan puji-pujian yang tulus dan sanjungan yang keluar dari hati yang mengenal Tuhannya lalu mengagungkan-Nya.
Termasuk hal yang paling agung untuk meminta pertolongan agar bisa memanfaatkan hari ini dengan baik adalah engkau meminta pertolongan kepada Allah. Sesungguhnya taufik itu berada di tangan Allah, dan segala urusan adalah milik-Nya. Tidaklah pintu kebaikan dibukakan untuk seorang hamba melainkan dengan pertolongan Allah. Dan tidaklah seorang hamba diserahkan pada dirinya sendiri melainkan ia akan tersesat dan merugi.
Maka mintalah kepada Allah sejak detik ini agar Dia menaungi kalian dengan kelembutan-Nya, agar Dia tidak menyerahkan kalian kepada diri kalian sendiri walaupun hanya sekejap mata, agar Dia membukakan untuk kalian pintu-pintu rahmat-Nya, dan menjadikan kalian sebagai orang yang paling berbahagia dengan keberkahan, kebaikan, hembusan rahmat, dan cahaya hari ini. Jadikanlah wasiat Nabawi ini—wasiat Nabi ﷺ kepada Mu’adz—sebagai penolong:
اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
“Ya Allah, tolonglah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan baik.”
Tidaklah dibukakan bagi seorang hamba pintu kebaikan melainkan dengan pertolongan Allah. Tidaklah seorang hamba menempuh jalan kesuksesan melainkan dengan kemudahan dari Allah. Dan tidaklah manusia diserahkan kepada dirinya sendiri melainkan jiwanya akan menelantarkannya, lalu kelemahannya serta datangnya keterhalangan akan menyeretnya menuju jurang kerugian.
Doa Penutup
Ya Allah, wahai Yang Maha Luas ampunan-Nya, wahai Yang Maha Luas rahmat-Nya, wahai Yang Maha Agung karunia dan keutamaan-Nya, kami memohon kepada-Mu agar Engkau menjadikan kami pada hari ini orang yang paling banyak mendapatkan jatah dan bagian dari rahmat-Mu, ampunan-Mu, dan keridaan-Mu.
Ya Allah, lapangkanlah dada kami dan mudahkanlah urusan kami. Ya Allah, perbaikilah hati kami dan keturunan kami. Ya Allah, berkahilah amal-amal kami. Ya Allah, janganlah Engkau serahkan kami pada diri kami sendiri meskipun hanya sekejap mata, dan tolonglah kami untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan baik. Bukakanlah bagi kami pada hari ini pintu-pintu penerimaan amal, rahmat, dan hidayah.
Semoga selawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.


