Tatsqif

Cukuplah bagimu kecintaan Allah ‘Azza wa Jalla kepadamu

Cukuplah bagimu kecintaan Allah ‘Azza wa Jalla kepadamu

 

Dari Ibnu ‘Abbās raḍiyallāhu ‘anhumā, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

:«ما مِنْ أيَّامٍ العمَلُ الصَّالِحُ فيها أحبُّ إلى اللهِ مِن هذه الأيام» يعني أيامَ العشر، قالوا: يا رسُولَ الله، ولا الجهادُ في سبيلِ الله؟ قال: «ولا الجهادُ في سبيلِ الله، إلا رجلٌ خَرَجَ بنفسِه ومالِه فلم يَرْجِعْ من ذلك بشيءٍ».

“Tidak ada hari-hari di mana amal saleh pada hari-hari itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini,” yaitu sepuluh hari pertama Dzulhijjah.

 

Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, tidak juga jihad di jalan Allah?”

 

Beliau menjawab: “Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya, lalu ia tidak kembali sedikit pun dari keduanya.”

 

[Hadis sahih. Riwayat Muhammad al-Bukhari dan Abu Dawud, lafaz ini milik Abu Dawud]

 

Nabi ﷺ memilih kata “ُّأَحَب” “lebih dicintai” karena sepuluh hari pertama Dzulhijjah bukan hanya musim pahala besar, tetapi juga musim amal yang sangat dicintai Allah.

 

Maknanya: amal saleh di hari-hari ini memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah, mengandung penerimaan, kedekatan, ridha, dan perhatian Allah kepada hamba-Nya.

 

Nabi ﷺ juga menyebut secara umum “العمل الصالح”, “amal saleh” sehingga mencakup semua kebaikan dari yang paling ringan sampai yang paling berat dipandang, seperti: salat, zikir, puasa, sedekah, baca Al-Qur’an, bakti kepada orang tua, berbuat baik, dan ucapan yang baik dan lainnya.

 

Maka pertanyaan seorang mukmin bukan hanya: “Berapa pahala yang aku dapat?” tetapi: “Amal apa yang membuatku lebih dekat kepada cinta Allah?” “Amal apa yangbpaling dicintai Allah?”

 

Bahkan amal kecil seperti tasbih, sedekah sedikit, atau dua rakaat ringan bisa menjadi sangat agung karena dilakukan pada waktu yang dicintai Allah.

 

Sesungguhnya di antara hal yang paling diinginkan oleh setiap mukmin dalam kehidupan dunia ini adalah keyakinan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla mencintainya. Karena itu, dalam setiap keadaan hidupnya, ia selalu mencari dan merasakan jejak cinta Allah tersebut. Jika ia menghadapi suatu perkara, ia merenungkannya dan berusaha memahami hikmah di baliknya, tanpa bosan mencari tanda-tanda cinta Allah kepadanya.

 

Apabila ia tertimpa musibah, ia bersabar karena Allah Ta‘ālā, serta merasakan kelembutan dan kasih sayang Allah di dalam musibah itu, sebab bisa jadi dampaknya jauh lebih berat daripada yang benar-benar terjadi. Dan apabila ia mendapatkan nikmat, kebaikan, dan karunia, ia bersyukur kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā sambil takut jika pemberian itu hanyalah bentuk istidrāj dari Allah. Dahulu pernah dikatakan:

«كُلُّ مِنْحَةٍ وَافَقَتْ هَوَاكَ فَهِيَ مِحْنَةٌ، وَكُلُّ مِحْنَةٍ خَالَفَتْ هَوَاكَ فَهِيَ مِنْحَةٌ».

“Setiap nikmat yang sesuai dengan hawa nafsumu bisa jadi merupakan musibah, dan setiap musibah yang bertentangan dengan hawa nafsumu bisa jadi merupakan nikmat.”

 

Karena itu, seorang mukmin senantiasa berada dalam keadaan introspeksi dan kewaspadaan yang hampir tidak pernah meninggalkannya, baik siang maupun malam. Ketika orang kafir mengira bahwa pemberian Allah merupakan tanda cinta dan kemuliaan, seorang muslim justru meyakini bahwa pemberian dan penahanan dari Allah tidak berkaitan langsung dengan cinta atau kebencian-Nya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ:

” إن الله يعطي الدنيا من يحب ومن لايحب ولا يعطي الدين إلا من يحب ” رواه الترمذي .

“Sesungguhnya Allah memberikan dunia kepada orang yang Dia cintai maupun yang tidak Dia cintai, namun Dia tidak memberikan agama kecuali kepada orang yang Dia cintai.”

(HR. At-Tirmidzi)

 

Bahkan cinta Allah tidak dapat diraih kecuali dengan mengikuti manhaj-Nya yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi yang mulia. Mengikuti manhaj itulah yang mengantarkan kepada cinta Allah. Karena hakikat cinta tidak akan sempurna kecuali dengan loyal kepada yang dicintai, yaitu dengan mencintai apa yang ia cintai dan membenci apa yang ia benci. Allah mencintai iman dan ketakwaan, serta membenci kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan.

(Ṭibb al-Qulūb, Ibnu Taimiyah, hlm. 183)

 

Asy Syafi‘i berkata:

 

تَعصي الإِلَهَ وَأَنتَ تُظهِرُ حُبَّهُ

هَذا مَحالٌ في القِياسِ بَديعُ

 

“Engkau bermaksiat kepada Allah sementara engkau menampakkan cinta kepada-Nya,

ini adalah sesuatu yang mustahil menurut ukuran yang benar dan indah.”

 

لَو كانَ حُبُّكَ صادِقاً لَأَطَعتَهُ

إِنَّ المُحِبَّ لِمَن يُحِبُّ مُطيعُ

 

“Seandainya cintamu benar, niscaya engkau akan menaati-Nya,

karena sesungguhnya orang yang mencintai akan taat kepada yang dicintainya.”

 

في كُلِّ يَومٍ يَبتَديكَ بِنِعمَةٍ

مِنهُ وَأَنتَ لِشُكرِ ذاكَ مُضيعُ

 

“Setiap hari Allah memulai untukmu dengan berbagai nikmat dari-Nya,

sementara engkau melalaikan syukur atas semua nikmat itu.”

 

Meraih cinta Allah juga mengharuskan cinta seorang hamba kepada Allah disertai dengan cinta kepada Rasul-Nya ﷺ. Allah Ta‘ālā berfirman:

 

﴿ قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ ﴾

“Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian.”

(QS. Āli ‘Imrān: 31)

 

Tingkatan Cinta Allah ‘Azza wa Jalla

 

Cinta Allah kepada hamba-hamba-Nya memiliki tingkatan dan derajat yang berkaitan dengan kecintaan hamba kepada Allah. Semakin besar cinta seorang hamba kepada Allah dan Rasul-Nya, maka semakin besar pula cinta Allah kepada hamba tersebut.

 

Orang yang paling berhak mendapatkan cinta ini adalah para nabi Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā, yang Allah jadikan sebagai kekasih-kekasih-Nya. Allah berfirman:

 

﴿ وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا ﴾

“Dan Allah menjadikan Ibrahim sebagai khalil (kekasih-Nya).”

(QS. An-Nisā’: 125)

 

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

” إن الله اتخذني خليلاً كما اتخذ إبراهيم خليلاً ” أخرجه الحاكم .

“Sesungguhnya Allah telah menjadikanku sebagai khalil sebagaimana Dia menjadikan Ibrahim sebagai khalil.”

(HR. Al-Ḥākim)

 

Al-khullah (kedudukan sebagai kekasih) lebih khusus daripada sekadar cinta biasa, karena ia merupakan bentuk cinta yang paling sempurna. Cinta itu meresap sepenuhnya hingga yang dicintai dicintai karena dirinya sendiri, bukan karena selainnya.

(Ṭibb al-Qulūb, hlm. 229)

 

Setelah itu datanglah cinta Allah kepada kaum mukminin, yaitu para wali Allah yang bertakwa.

 

Kaum mukminin berbeda-beda tingkatannya dalam mendapatkan cinta Allah sesuai dengan kadar amal yang mendekatkan mereka kepada-Nya. Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman dalam hadis qudsi:

” من تقرب إليّ شبراً تقربت إليه ذراعاً ، ومن تقرّب إليّ ذراعاً تقربت إليه باعاً ، ومن أتاني يمشي أتيته هرولة ” رواه البخاري .

“Barang siapa mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Barang siapa mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Dan barang siapa datang kepada-Ku berjalan, Aku datang kepadanya berlari kecil.”

(HR. Al-Bukhārī)

 

Cara mendekatkan diri ini diketahui seorang hamba dengan mempelajari perintah dan larangan Allah, lalu melaksanakan perintah, menjauhi larangan, dan meninggalkan perkara yang dibenci, sebagaimana dilakukan oleh orang yang benar-benar mencintai.

“وما تقرب إليّ عبدي بشيء أحب إليّ مما افترضته عليه ” .

“Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan atasnya.”

 

Allah Ta‘ālā juga berfirman dalam lanjutan hadis qudsi tersebut:

” ولا يزال عبدي يتقرب إليّ بالنوافل حتى أحبه ، فإذا أحببته كنت سمعه الذي يسمع به وبصره الذي يبصر به ” رواه البخاري .

“Dan hamba-Ku senantiasa mendekat kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar dan penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat.”

(HR. Al-Bukhārī)

 

Al-Qur’an juga menyebutkan berbagai sifat yang mendekatkan seorang mukmin kepada Allah dan menjadikannya memperoleh cinta-Nya. Dalam Kitab-Nya disebutkan bahwa Allah mencintai orang-orang yang banyak bertaubat, mencintai orang-orang yang bersuci, mencintai orang-orang yang bertakwa, orang-orang yang sabar, orang-orang yang bertawakal, orang-orang yang adil, dan orang-orang yang berbuat ihsan.

 

Karena itu, seorang hamba hendaknya membangun hubungannya dengan Rabbnya, serta bersungguh-sungguh menghiasi dirinya dengan sifat-sifat yang mendekatkannya kepada Allah dan menguatkan rasa cinta kepada-Nya. Jika cinta itu telah kuat, maka ia termasuk orang-orang yang berhak mendapatkan cinta dan keridaan Allah.

 

ليس الشأن أن تُحِب إنما الشأن أن تُحَب

Bukan persoalannya sekadar engkau mencintai Allah, tetapi persoalannya adalah: apakah Allah mencintaimu?

 

Maka apakah Allah mencintaimu? Ini pertanyaan yang benar-benar membutuhkan jawaban darimu.

 

Apakah engkau layak? Apakah engkau pantas?

 

Kalau engkau duduk bersama manusia lalu berkata: “Allah mencintaiku,” maka orang akan berkata: “Atas dasar apa Allah mencintaimu? Apa yang membuat-Nya mencintaimu? Siapakah dirimu sampai Allah mencintaimu?”

 

Allah Yang Mahabesar. Allah Yang Mahaagung. Allah Yang Mahamulia. Allah Raja Yang Mahatinggi. Apakah layak bagi untuk Allah Mencintaimu?!!

 

Apa yang ada pada dirimu sehingga Allah mencintaimu?

 

Sangat mudah mengatakan: “Aku mencintai Allah.” Tetapi sulit mengatakan: “Allah mencintaiku.”

 

Kalau engkau berkata: “Ya, Allah mencintaiku. Apa pun yang aku minta selalu diberikan-Nya,” maka aku katakan: Itu bukan ukuran.

 

Sebab Allah juga memberi orang-orang kafir apa yang mereka inginkan. Apakah itu berarti Allah mencintai mereka? Masalah ini sangat serius, dan pembicaraan tentangnya juga serius.

 

Ibnu Al-Qayyim رحمه الله berdalil tentang hal ini dengan mengatakan: Bagaimana mungkin pemberian menjadi tanda cinta, padahal Allah juga memberi makhluk yang paling Dia benci?

 

Yaitu iblis. Ketika iblis meminta penangguhan umur, Allah memberikannya.

 

﴿قَالَ أَنْظِرْنِي إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ ۝ قَالَ إِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ﴾

(Iblis berkata: “Berilah aku penangguhan sampai hari mereka dibangkitkan.” Allah berfirman: “Sesungguhnya engkau termasuk yang diberi penangguhan.”)

 

Iblis meminta, lalu Allah memberinya. Apakah itu berarti Allah mencintainya? Tidak.

 

Maka tidak setiap pemberian berarti cinta.

 

Bisa jadi Allah memberimu karena Dia murka kepadamu. Seakan dikatakan: “Ambillah, aku tidak ingin mendengar suaramu.”

 

Karena itu, di antara kaidah penting: kesempurnaan kehinaan seorang hamba adalah ketika ia sibuk dengan nikmat hingga lupa kepada Sang Pemberi nikmat.

 

Apakah Allah mencintaimu? Dan apakah engkau mencintai Allah?

 

Kalau engkau berkata: “Ya, aku mencintai-Nya.” Maka apa buktinya?

 

Apakah ketika engkau berjalan menuju salat, hatimu berdebar bahagia karena akan bertemu dengan Rabbmu? Kalau tidak, ketahuilah bahwa engkau belum mencintai-Nya.

 

Ini logika yang jelas. Jika engkau tidak bahagia bertemu Allah, berada di rumah-Nya, dan bersama-Nya, maka engkau tidak mencintai-Nya.

 

Karena itu, siapa yang mengaku mencintai Allah tetapi hatinya lebih condong kepada dunia, maka ia dusta.

 

Ya, jika hatimu tidak bergetar karena cinta kepada-Nya, maka pengakuanmu dusta.

 

Persoalannya bukan sekadar engkau mencintai Allah. Persoalannya adalah Allah mencintaimu. Ya Allah, cintailah kami.

 

Jika Allah mencintaimu, engkau akan mendapatkan kebahagiaan dan kedekatan.

 

Ibnu Al-Qayyim berkata: “Itu adalah cinta yang memutus waswas, membuat ibadah terasa nikmat, dan menghibur dari musibah.”

 

Jika Allah mencintaimu, waswas akan terputus darimu. Allah akan memenuhi hatimu dengan cinta kepada-Nya sehingga engkau tidak sibuk dengan selain-Nya.

 

Maka engkau akan mendapati dirimu sibuk dengan Allah siang dan malam. Tidak ada cita-citamu selain Allah, mencari ridha-Nya, dan sampai kepada-Nya.

 

Engkau beramal untuk melayani agama-Nya, dan terus sibuk dengan-Nya sepanjang hidupmu.

 

Jika Allah mencintaimu, Dia akan menyibukkan hatimu dengan cinta kepada-Nya, anggota tubuhmu dengan ketaatan kepada-Nya, dan pikiranmu dengan mengingat-Nya, hingga tidak tersisa ruang bagi selain-Nya dalam dirimu.

 

Jadikan hatimu, ketika melayani saudara-saudaramu, tetap sibuk dengan Allah. Rasakan pengawasan-Nya kepadamu, agar engkau semakin menikmati dan mencintai amal pelayanan itu.

 

Orang yang engkau cintai dan engkau bekerja untuknya, jika engkau merasa dia selalu melihatmu, maka engkau akan bekerja dengan cinta dan kenikmatan, dan maksimal, bukan hanya karena takut.

 

Karena pecinta senang dilihat oleh yang dicintainya ketika ia beramal untuknya.

 

Karena itu, jika engkau salat, ketahuilah bahwa Allah menghadapkan wajah-Nya kepadamu selama engkau tidak berpaling dalam salatmu.

 

Jika engkau berdiri salat, ketahuilah bahwa Allah sedang melihatmu.

 

Karena itu, sebagian salaf apabila berwudu berubah pucat wajahnya dan tubuhnya gemetar. Ketika ditanya: “Ada apa denganmu?” Ia menjawab: “Tahukah kalian di hadapan siapa aku akan berdiri?”

 

Di antara kaidah penting juga: menghadirkan hati sebelum masuk ke dalam ibadah adalah jalan menuju keikhlasan.

 

Wahai saudaraku, cinta membuat ibadah terasa nikmat.

 

Ya, cinta membuat pelayanan dan ibadah terasa lezat.

 

Amal menjadi sangat indah dirasakan.

 

Amīr Asy-Syu‘arā’ Ahmad Syauqi berkata tentang qiyamul-lail Nabi ﷺ yang beliau nikmati:

رضيّة نفسه لا تشتكى سأما… وما مع الحب إن أخلصت من سأم

“Jiwanya ridha, tidak merasa bosan. Dan bersama cinta yang tulus, tidak ada rasa jenuh.”

 

Salah seorang salaf menangis ketika hendak meninggal. Ketika ditanya: “Mengapa engkau menangis?” Ia menjawab: “Aku menangis karena aku akan mati sebelum puas dengan qiyamul-lail.”

 

Ia berkata: “Aku belum kenyang dengan salat malam.”

 

Sebagian salaf lain berkata saat menjelang wafat: “Ya Allah, jika Engkau menuliskan bagi seseorang bisa salat di dalam kuburnya, jadikan aku termasuk orang yang salat di kuburnya.”

 

Ia belum puas dengan salat dan ingin lebih banyak lagi.

 

Mereka mengatakan itu karena mereka mencintai Allah. Mereka menghadirkan hati dalam ibadah. Mereka beribadah dengan cinta, sehingga waswas hilang, ibadah terasa nikmat, dan cinta itu menghibur mereka dari segala musibah dan kelelahan.

 

Rasulullah ﷺ bersabda:

«وجعلت قرة عيني في الصلاة»

“Dijadikan penyejuk mataku pada salat.” (HR. Al-Albani menilai: hasan sahih)

 

Inilah kenikmatan yang sejati. Inilah benar-benar lezatnya ibadah.

 

Maka apakah engkau telah mencintai Rabbmu hingga merasakan kenikmatan ini?

 

Apakah engkau pernah merasakan manisnya cinta, keindahan, dan kenikmatannya setelah dahulu hidup dalam kelalaian?

 

Ketika kita mengingat Allah lalu mengucapkan: “Subḥānallāhil-‘Aẓīm Subḥānallāhi wa biḥamdih,” hati kita dipenuhi ketenangan dan kedamaian.

 

Hati manusia memang diciptakan mencintai siapa yang berbuat baik kepadanya.

 

Kalau ada seseorang memberimu uang hari ini, lalu besok memberi lagi, lalu lusa memberi lagi, dan terus bertambah setiap hari, tentu engkau akan sangat mencintainya.

 

Lalu bagaimana jika Yang memberi adalah Allah?

 

Allah telah memberimu nikmat yang tak terhitung. Berapa nilai matamu? Berapa nilai pendengaranmu?

 

Apa arti dunia jika engkau kehilangan penglihatanmu?

 

Allah terus memberimu nikmat tanpa henti.

 

Udara yang engkau hirup, seandainya setiap tarikan napas harus dibayar, berapa yang harus engkau keluarkan setiap hari?

 

Kalau Allah mengambil bayaran atas kemampuan berbicara dan mendengar, berapa yang harus engkau bayar?

 

Allah menciptakanmu mampu berbicara, tetapi Dia tidak meminta balasan apa pun darimu.

 

﴿قَالُوا أَنْطَقَنَا اللَّهُ الَّذِي أَنْطَقَ كُلَّ شَيْءٍ﴾

“Mereka berkata: Allah yang menjadikan segala sesuatu dapat berbicara telah menjadikan kami dapat berbicara.”

 

Ya Allah, sebagaimana Engkau telah membuat kami mampu berbicara dengan kekuasaan dan keagungan-Mu, anugerahkanlah kepada kami cinta-Mu.

 

Karuniakan kepada kami kemampuan memandang nikmat-nikmat-Mu agar kami mencintai-Mu.

 

Maka renungkanlah nikmat Allah, syukurilah, dan cintailah Dia sepenuh hati. Siapa yang terus melihat nikmat Allah yang datang bertubi-tubi kepadanya, niscaya ia akan luluh dalam cinta kepada Allah.

 

Allah memberi kepadamu tanpa mengharapkan apa pun darimu. Berbeda dengan makhluk. Semua pedagang bertransaksi agar mendapat keuntungan darimu. Sedangkan Allah, hanya Dia yang “bertransaksi” denganmu agar engkau yang mendapatkan keuntungan.

 

Dia memberi ketika melihat dalam hatimu cinta kepada-Nya. Maka cintailah Dia, karena Dialah Sang Pemberi.

 

Cintailah Dia agar Dia memberimu. Cintailah Dia agar Dia mencintaimu.

 

Intinya: cinta tumbuh dari merenungi nikmat.

 

Allah Ta‘ālā berfirman:

﴿فَاذْكُرُوا آلَاءَ اللَّهِ﴾

“Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah.”

 

Mengingat nikmat akan menumbuhkan cinta.

 

Ya Allah, karuniakanlah kepada kami cinta-Mu. Ya Allah, karuniakanlah kepada kami cinta-Mu, cinta kepada setiap hamba saleh yang mencintai-Mu, dan cinta kepada setiap amal saleh yang mendekatkan kami kepada cinta-Mu. Ya Allah, jadikan cinta-Mu lebih kami cintai daripada keluarga kami, diri kami sendiri, dan daripada air dingin bagi orang yang kehausan.

 

Semoga bermanfaat.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button