Dzulqa’dah Bulan Haram

Keutamaan Dzulqa’dah
Segala puji bagi Allah yang menjadikan bulan-bulan sebagai musim ketaatan, meninggikan derajat orang-orang yang mengagungkan perkara-perkara yang Dia muliakan, serta mengkhususkan di antaranya bulan-bulan haram yang memiliki kedudukan tinggi dan kehormatan besar. Dia-lah yang berhak dipuji dan disyukuri. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga Hari Kiamat.
Takwa kepada Allah adalah wasiat Allah bagi umat-umat terdahulu dan umat ini. Allah Ta’ala berfirman:
﴿ وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ ﴾
Sungguh, Kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang diberi Kitab sebelum kalian dan juga kepada kalian: bertakwalah kepada Allah.
QS. An-Nisā’: 131
Musim-musim kebaikan terus datang silih berganti. Salah satunya adalah ketika memasuki bulan haram. Dzulqa’dah termasuk salah satu dari bulan-bulan haram yang diagungkan Allah dalam Kitab-Nya. Allah Ta’ala berfirman:
﴿ إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ﴾
Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah adalah dua belas bulan dalam ketetapan Allah pada hari Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah menzalimi diri kalian di dalamnya.
QS. At-Taubah: 36
Bangsa Arab pada masa jahiliah pun memuliakan bulan ini. Mereka menghentikan peperangan pada masa Dzulqa’dah. Lalu Islam menetapkan pengagungan itu dan menambah kehormatan serta kesuciannya. Az-Zamakhsyari rahimahullah menjelaskan bahwa firman Allah, ﴿ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ﴾, menunjukkan bahwa pengharaman empat bulan tersebut merupakan agama yang lurus, yaitu agama Ibrahim dan Ismail, dan bangsa Arab tetap berpegang padanya sebagai warisan dari keduanya.
Sudah sepantasnya seorang muslim menjalani waktunya dengan penuh kerendahan diri, penghambaan, harapan, dan kekhusyukan. Pada bulan-bulan haram, keimanan semestinya semakin bertambah, diiringi dengan istigfar atas masa lalu dan kesungguhan memanfaatkan waktu yang masih tersisa. Dzulqa’dah juga termasuk bulan-bulan haji. Allah Ta’ala berfirman:
﴿ الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ ﴾
(Haji itu) dilaksanakan pada bulan-bulan yang telah diketahui.
QS. Al-Baqarah: 197
Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata:
“أشهر الحج: شوال، وذو القعدة، وعشر من ذي الحجة”
“Bulan-bulan haji adalah Syawal, Dzulqa’dah, dan sepuluh hari dari Dzulhijjah.”
HR. Bukhari
Pada bulan ini hati mulai diarahkan untuk bersiap menyambut hari-hari terbaik di dunia, serta mempersiapkan jiwa untuk menyongsong sepuluh hari Dzulhijjah. Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:
«إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلَاثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو الْقَعْدَةِ، وَذُو الْحِجَّةِ، وَالْمُحَرَّمُ، وَرَجَبٌ شَهْرُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ»
“Sesungguhnya zaman telah kembali seperti keadaannya pada hari Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram. Tiga berturut-turut: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab Mudhar yang berada antara Jumadal Akhirah dan Sya’ban.”
HR. Muslim no. 1679, Bukhari no. 4406
Penyebutan khusus ini menunjukkan kedudukan dan keutamaannya. Karena itu, para salaf mengagungkan bulan ini dan menjauhi kezaliman di dalamnya sebagai bentuk pengagungan terhadap apa yang diagungkan Allah. Qatadah rahimahullah berkata bahwa kezaliman pada bulan-bulan haram lebih besar dosa dan bebannya daripada kezaliman pada selainnya, meskipun kezaliman dalam setiap keadaan tetap merupakan perkara besar.
Bulan yang mulia ini juga menyaksikan peristiwa-peristiwa agung. Di antaranya adalah Baiat Ridwan yang dipuji Allah dalam Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman:
﴿ لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ ﴾
Sungguh, Allah telah meridai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon.
QS. Al-Fath: 18
Pada bulan ini juga terjadi Umrah Hudaibiyah. Selain itu, Nabi ﷺ melaksanakan tiga umrah secara terpisah pada bulan Dzulqa’dah, sedangkan umrah yang keempat dilakukan bersama Haji Wada’. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu:
«اعْتَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَرْبَعَ عُمَرٍ، كُلُّهُنَّ فِي ذِي الْقَعْدَةِ، إِلَّا الَّتِي مَعَ حَجَّتِهِ»
“Rasulullah ﷺ melaksanakan empat umrah, semuanya pada bulan Dzulqa’dah, kecuali umrah yang bersamaan dengan hajinya.”
HR. Bukhari no. 4148
Ini menunjukkan keutamaan umrah pada bulan tersebut dan menunjukkan bahwa bulan ini merupakan waktu yang dipilih untuk ibadah manasik.
Dzulqa’dah juga menjadi gerbang menuju Dzulhijjah, yaitu bulan yang di dalamnya terdapat hari-hari terbaik di dunia. Nabi ﷺ bersabda:
«ما من أيامٍ العملُ الصالحُ فيها أحبُّ إلى اللهِ من هذه الأيام»
“Tidak ada hari-hari yang amal saleh di dalamnya lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini.”
Yang dimaksud adalah sepuluh hari pertama Dzulhijjah.
HR. Tirmidzi no. 757
Karena itu, Dzulqa’dah menjadi masa persiapan, kesempatan untuk bertobat, dan waktu yang tepat untuk memperbanyak amal saleh.
Bersikap tenang dan tidak tergesa-gesa memang terpuji dalam banyak urusan, tetapi dalam amal saleh dan kembali kepada Allah, yang diperintahkan adalah bersegera dan berlomba-lomba. Allah Ta’ala berfirman:
﴿ أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ ﴾
Mereka itulah orang-orang yang bersegera dalam kebaikan, dan mereka adalah orang-orang yang paling dahulu mencapainya.
QS. Al-Mu’minūn: 61
Dan Allah Ta’ala berfirman:
﴿ سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ﴾
Berlomba-lombalah menuju ampunan dari Rabb kalian dan menuju surga yang luasnya seperti langit dan bumi.
QS. Al-Hadīd: 21
Maka sudah semestinya bulan ini dimanfaatkan untuk ketaatan, menjauhi kezaliman dan kemaksiatan, serta menghadirkan rasa pengagungan terhadap waktu yang telah Allah muliakan, dengan harapan memperoleh keridaan dan keberkahan-Nya.
Ketaatan adalah cahaya yang memenuhi hati dan ketenangan yang turun ke dalam jiwa. Ia merupakan karunia dari Allah yang membuka banyak pintu kebaikan. Di antara rahmat Allah kepada hamba-Nya adalah bahwa satu ketaatan bisa menarik kepada ketaatan berikutnya, serta menanamkan dalam hati keinginan untuk semakin dekat kepada Allah. Sampai pada titik seorang hamba merasa akrab dengan ketaatan dan justru merasa berat terhadap maksiat. Sebagian salaf mengatakan, “Ketaatan adalah tanda diterimanya amal. Siapa yang diberi taufik melakukan amal saleh setelah amal saleh sebelumnya, maka itu termasuk kabar gembira.”
Adapun maksiat, maka bahayanya besar pada setiap waktu, tetapi dosanya menjadi lebih besar dan dampaknya lebih buruk bila terjadi pada waktu yang Allah muliakan, seperti bulan-bulan haram. Allah عز وجل berfirman:
﴿ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ﴾
Di antaranya 4 bulan haram
QS. At-Taubah: 36
Empat bulan tersebut adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Maka bulan-bulan ini memiliki kehormatan khusus. Dosa yang dilakukan padanya menjadi lebih berat. Para ulama menjelaskan bahwa keburukan yang terjadi pada bulan-bulan ini bukan hanya sekadar maksiat, tetapi juga bentuk meremehkan kehormatan waktu yang telah Allah agungkan. Orang yang berani melakukannya telah menggabungkan antara perbuatan maksiat dan buruk adab kepada Allah.
Qatadah rahimahullah berkata, “Amal saleh pada bulan-bulan haram lebih besar pahalanya, dan kezaliman di dalamnya lebih besar dosanya.” Karena itu, sangat rugi bila bulan-bulan yang mulia justru dijadikan waktu kelalaian dan mengikuti hawa nafsu. Hal semacam itu dapat membawa kesialan dalam jiwa, rumah tangga, dan hari-hari yang dijalani. Bahkan bisa jadi setelah itu seseorang terhalang dari ketaatan atau mendapati hatinya menjadi gelap dan sempit.
Sebaliknya, siapa yang mengagungkan musim-musim ibadah ini dan bersungguh-sungguh dalam ketaatan, Allah akan memuliakannya dengan buah-buah kebaikan yang datang berturut-turut, taufik yang terus diperbarui, ketenangan yang tidak dapat dibeli, serta ketepatan dalam pandangan dan amal. Ketaatan melahirkan ketaatan berikutnya. Siapa yang telah merasakan manisnya ketaatan akan mengetahui bahwa salah satu keberkahannya adalah menguatkan diri untuk terus melakukan kebaikan dan melindungi dari terjatuh ke dalam kebinasaan.
Karena itu, hendaknya bulan-bulan yang mulia ini dijadikan sebagai kesempatan untuk membersihkan jiwa, menghadirkan kebesaran Allah, dan mengingat betapa agung Zat yang didurhakai ketika seseorang bermaksiat. Perlu diyakini bahwa apabila Allah melihat kejujuran dan kesungguhan, Dia akan membukakan pintu-pintu rahmat, menjaga dari keburukan diri sendiri, serta menyertai dalam malam dan siang.
Siapa yang mengagungkan apa yang diagungkan Allah, maka itu merupakan tanda hidupnya hati, lurusnya fitrah, dan benarnya tobat. Allah Ta’ala berfirman:
﴿ ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ ﴾
Demikianlah, dan siapa yang mengagungkan perkara-perkara yang dimuliakan oleh Allah, maka itu lebih baik baginya di sisi Rabbnya.
QS. Al-Hajj: 30
Segala puji bagi Allah yang tidak ada sesuatu pun tersembunyi dari-Nya. Takwa kepada Allah, baik saat sendiri maupun di hadapan manusia, merupakan bekal terbaik untuk bertemu dengan-Nya. Allah Ta’ala berfirman:
﴿ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ﴾
Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.
QS. At-Thalāq: 2-3
Dosa-dosa yang dilakukan saat sendirian termasuk perkara yang sangat berbahaya, karena itulah ujian kejujuran di hadapan Allah. Dosa tersebut dilakukan jauh dari pandangan manusia, tetapi tidak pernah tersembunyi dari Allah جل جلاله. Allah Ta’ala berfirman:
﴿ يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ ﴾
Dia mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.
QS. Ghāfir: 19
Nabi ﷺ bersabda:
«لَأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِي يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا، فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا»
ثَوْبَانُ قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا، جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لَا نَكُونَ مِنْهُمْ، وَنَحْنُ لَا نَعْلَمُ، قَالَ:
«أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ، وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ، وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ، وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا»
“Sungguh, benar-benar akan ada sekelompok orang dari umatku yang datang pada Hari Kiamat dengan membawa kebaikan sebesar gunung-gunung Tihamah yang putih, lalu Allah menjadikannya debu yang beterbangan.” Tsauban berkata, “Wahai Rasulullah, jelaskan sifat mereka kepada kami, terangkan siapa mereka, agar kami tidak termasuk golongan itu tanpa menyadarinya.” Beliau bersabda, “Ketahuilah, mereka itu adalah saudara-saudara seagama, dari kalangan yang sama, dan mereka juga mengambil bagian dari malam sebagaimana yang lain mengambil bagian. Tetapi mereka adalah kaum yang apabila bersendirian dengan perkara-perkara yang diharamkan Allah, mereka justru melanggarnya.”
HR. Ibnu Majah no. 4245, dishahihkan Al-Albani
Maksiat yang dilakukan secara tersembunyi tidaklah tersembunyi bagi Allah Yang Maha Mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi lagi. Jika Allah telah menutupi aib seorang hamba, maka tidak sepantasnya balasan terhadap tutupan itu adalah dengan melanggar batas-batas-Nya. Maka tobat kepada Allah adalah jalan keselamatan. Tobat yang dilakukan saat sepi, jauh dari pandangan manusia, lebih dicintai Allah daripada tampilan lahiriah yang seolah saleh tetapi batinnya rusak.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿ إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ ﴾
Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Rabbnya dalam keadaan tidak terlihat oleh manusia, bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.
QS. Al-Mulk: 12
Semoga Allah menjadikan keadaan batin lebih baik daripada keadaan lahir, menutupi aib dengan penutup yang indah di dunia dan akhirat, serta mengampuni dosa yang tersembunyi maupun yang tampak. Sesungguhnya Dia Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad. Allah Ta’ala berfirman:
﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ﴾
Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.
QS. Al-Ahzāb: 56
Wallahu a’lam



