Haji & Umrah

Renungan Setelah Haji

Ada getar di dada yang tak mampu dirumuskan kata. Ada desir angin lembut yang datang dari arah Kabah, membawa haru, menggugah rindu, menyiram hati yang haus akan telaga hidayah. Setelah haji, bukan hanya tubuh yang kembali, tapi juga ruh yang telah ditempa di tanah suci. Haji bukan sekadar perjalanan fisik, ia adalah hijrah jiwa, mikraj kalbu.

Di bawah langit Makkah yang biru namun panas, setiap langkah adalah doa, setiap keringat adalah saksi, setiap air mata adalah benih cinta kepada Ilahi. Kita datang dalam pakaian yang sama, kain ihram putih yang menghapus warna dunia, tak ada pangkat, tak ada gelar, tak ada perbedaan. Kita semua hanya hamba, lemah, terbuka, dan tidak memiliki apa-apa dibandingkan dengan kekayaan serta keagungan-Nya.

Kini, ketika kaki telah kembali menginjak bumi pertiwi, jiwa bertanya:

“Apakah aku telah benar-benar kembali dalam keadaan baru? Ataukah aku sama saja dengan diriku yang dahulu?”

Masih terekam jelas dalam ingatan, saat tubuh ini mengitari Kabah, goyah rindu akan kabah sangat memenuhi kalbu “Inikah….kiblat yang aku tuju dalam setiap shalatku?”. Terus berputar mengelilingi setiap sudutnya, dalam putaran itu, seolah seluruh dunia beredar dalam pusaran tauhid. Dunia dengan segala godanya menjadi samar. Yang nyata hanya satu: Allah. Laa ilaaha illallah.

Tawaf bukan hanya ritual, Ia adalah simbol bahwa hidup ini terus berputar di sekitar poros ke Esaan-Nya. Tawaf mengajarkan kita pusat dari segala gerak: yaitu keikhlasan. Maka sepulang haji, bukankah seharusnya seluruh gerak langkah kita berpusat pada Allah semata? Apakah setelah haji, kita masih memutar hidup kita di sekitar ambisi dunia, ataukah kini kita telah menjadikan Ikhlas kepada-Nya sebagai pusat orbit jiwa?

Lari kecil antara Shafa dan Marwah bukan sekadar mengenang langkah Siti Hajar. Ia adalah pelajaran agung tentang harapan, tentang keyakinan dalam keputusasaan. Ketika semua terlihat buntu, Siti Hajar tak diam dan meratapi keadaan, Ia berlari. Ia berdoa. Ia percaya. Dan dari kegigihannya, Allah pancarkan zamzam: air kehidupan.

Sepulang haji, apakah kita membawa semangat sa’i itu ke dalam hidup? Ketika ujian datang, apakah kita akan pasrah tanpa usaha? Meratapi keadaan dan melemparkan kesalahan ke orang lain? Ataukah kita akan meniru jejak Siti Hajar—berlari dalam sabar, bergerak dalam doa, menanti dalam yakin?

Di Arafah, jutaan manusia berdiam dalam sunyi, namun bising. Setiap lisan berlantun dan memanggil nama Allah, setiap mata basah memohon ampunan. Tak ada hari yang lebih mulia daripada saat wukuf. Karena di sanalah, manusia bersimpuh, jujur dalam pengakuan, tulus akan penyesalan, bukankan ini makna penghambaan yang sejati?

Kita menangis, menyesali dosa, mengadu luka, membuka hati yang lama terkunci. Wukuf adalah sejenak berdiam agar kita benar-benar mendengar suara jiwa. Bahwa selama ini, kita terlalu sibuk berlari, hingga lupa bahwa hidup bukan hanya tentang lari dan sampai, tapi juga tentang diam dan kembali.

Setelah haji, apakah kita masih punya waktu untuk duduk diam, menyimak suara hati, merenungi diri sendiri dan mengadu pada Tuhan? Ataukah kita kembali hanyut dalam hiruk-pikuk dunia yang tak henti menuntut?

Di Mina, kita melempar batu ke tiga tiang yang mewakili setan. Tapi sebenarnya, yang kita lempar adalah segala godaan, syahwat, dan keburukan dalam diri. Batu kecil itu adalah tekad untuk berubah. Untuk melepaskan ikatan dunia yang menggoda jiwa. Tekad kecil kita layak batu kecil itu, kecil….tapi ada.

Setan tak selalu datang dalam wujud menakutkan. Kadang ia menyamar dalam segala bentuk keindahan, harta, jabatan, popularitas, atau bahkan kesombongan atas ibadah.

Sepulang haji, sudahkah kita benar-benar membuang “setan-setan” itu? Ataukah kita masih menyimpannya diam-diam, merawatnya dalam hati, dan membiarkannya tumbuh kembali?

Sebenarnya, dengan batu kecil itu, kita ingin menghapus dan melenyapkan apa? Setan ataukah diri kita sendiri?

Haji Mabrur bukan sebuah gelar, tapi jalan seumur hidup yang harus ditempuh. Rasulullah ﷺ bersabda, “Haji yang mabrur, tidak memiliki balasan lain kecuali surga.” Tapi haji mabrur bukan terletak pada berapa kali kita ke tanah suci. Bukan pula pada kemegahan cerita yang kita bawa pulang, sehingga orang kampung berdecak kagum. Haji mabrur terletak pada perubahan, atau setidaknya…..upaya untuk berubah. Mabrur itu pada bagaimana hati menjadi lebih lembut, lisan menjadi lebih jujur, dan amal menjadi lebih tulus.

Haji adalah awal. Bukan akhir. Ia adalah titik tolak untuk hidup yang lebih suci, lebih lurus, lebih jernih.

Maka mari bertanya pada diri:

Apakah aku telah menjadi lebih sabar setelah haji?

Apakah aku lebih bersyukur akan nikmat-Nya?

Apakah ibadahku bertambah setelah haji?

Apakah aku lebih peka terhadap sesama?

Apakah salatku lebih khusyuk?

Apakah lisanku lebih terjaga setelah haji?

Apakah mataku lebih kujaga setelah haji?

Apakah aku lebih ringan memberi, lebih tulus memaafkan, lebih dalam menghargai?

Apakah…..Apakah…..Apakah……

Jika jawabannya iya, maka semoga itu adalah pertanda bahwa Allah telah menerima tamu-Nya, memuliakan, serta memberinya bekal pulang ke Bumi Pertiwi, tidak ada bekal yang lebih mulia kecuali bekal takwa dari-Nya.

Jika belum, maka jangan berputus asa. Karena haji mengajarkan bahwa Allah Maha Menerima Taubat, selama kita terus berusaha memperbaiki diri. Teruslah renungi makna dari setiap langkah kaki Anda dalam perjalanan haji, masuki setiap relung hati, dapatkan sebuah arti yang mungkin tidak akan dipungut kecuali oleh Anda. Setelah itu….maknai, dan perbaiki diri.

Kini, haji telah usai. Tapi sejatinya, “haji” kita belum selesai. Karena setiap hari adalah kesempatan untuk tawaf dalam keikhlasan, sa’i dalam harapan, wukuf dalam perenungan, melontar godaan yang menggerogoti kalbu serta iman.

Jadikan hidup sebagai haji yang terus berlangsung. Biarkan setiap langkah menjadi zikir, setiap perbuatan menjadi amal, setiap kata menjadi doa. Sebab yang paling indah dari haji bukanlah kisahnya, tapi buah dan renungannya. Bukan pada betapa megahnya perjalanan, tapi pada betapa teduhnya perubahan.

Semoga kita semua menjadi hamba yang kembali, bukan hanya kembali dari Makkah, tapi kembali kepada Allah.

Allahu Akbar. Labbaik Allahumma Labbaik, Labbaika Laa Syariika Laka Labbaik.

Usamah Maming, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button