Fikih Puasa Muyassar

Waktu Niat Puasa dan Hukumnya

Waktu niat puasa dan hukumnya:

Wajib bagi orang yang berpuasa untuk berniat puasa, dan niat merupakan salah satu rukun puasa sebagaimana telah berlalu; berdasarkan sabda Nabi ﷺ:

إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى

“Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.”

Dan ia berniat pada waktu malam untuk puasa wajib; seperti puasa Ramadan, kafarat, qadha, dan nadzar, meskipun hanya satu menit sebelum fajar; berdasarkan sabda Nabi ﷺ:

من لم يبيت الصيام قبل الفجر فلا صيام له

“Barang siapa tidak meniatkan puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya.” (HR. at-Tirmidzi no. 733, an-Nasa’i 4/196, Ibnu Majah no. 1700, dan al-Albani mensahihkannya dalam Shahih at-Tirmidzi no. 583).

Barang siapa berniat puasa pada siang hari, sementara ia belum makan apa pun, maka hal itu tidak mencukupi kecuali pada puasa sunnah; karena boleh berniat pada siang hari jika ia belum makan atau minum apa pun, berdasarkan hadis ‘Aisyah رضي الله عنها yang berkata: suatu hari Nabi ﷺ masuk menemuiku lalu bersabda:

هل عندكم من شيء؟

“Apakah kalian memiliki sesuatu (makanan)?”

Kami menjawab: “Tidak.” Beliau bersabda:

فإني إذنْ صائم

“Kalau begitu aku berpuasa.” (HR. Muslim no. 1154).

Adapun puasa wajib, maka tidak sah dengan niat pada siang hari, dan harus ada niat pada waktu malam.

Satu niat di awal Ramadan sudah mencukupi untuk seluruh bulan, dan disunnahkan untuk memperbaruinya setiap hari.

Sumber: Fikih Muyassar

Sayyid Syadly, Lc

Mahasiswa S2, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button