Shalat Tahajud dan Witir Setelah Masuk Waktu Subuh: Sah atau Tidak?

No Fatwa: 39 / 14-02-2026 / TF 03-MI
Dari Sdr.
Waktu: Sabtu, 26 Syakban 1447 H
Pertanyaan:
Pertanyaan: Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, izin bertanya, saya pernah bangun kesiangan mau tahajud dan witir sekitar jam setengah 5 disaat itu waktu subuh pukul 05.36 lalu saya buru-buru ke kamar mandi untuk buang air kecil dan wudhu setelah wudhu berkumandang azan subuh, selesai mendengarkan azan subuh saya lanjutkan niat saya salat tahajud dan witir kemudian saya lanjutkan salat sunnah qabliyah subuh dan saya bergegas berjamaah salat subuh ke masjid, apakah tahajud dan witir saya sah?
Jawaban:
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam. Dan semoga shalawat serta salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan seluruh sahabat beliau. Amma ba’du:
Shalat tahajud dan witir Anda tetap sah, insyaAllah.
Namun secara waktu, yang Anda lakukan itu bukan lagi qiyam malam pada waktunya, melainkan qadha (pengganti) setelah masuk waktu Subuh, dan ini dibolehkan menurut sunnah.
Syaikh Bin Baz rahimahullah menjawab pertanyaan serupa dengan mengatakan:
Tidak ada kewajiban bagimu untuk mengganti (shalat yang terlewat), tetapi yang lebih utama adalah menggantinya. Dahulu Nabi ﷺ apabila terlewat wirid malamnya, beliau menggantinya pada siang hari. Namun itu adalah ibadah sunnah yang dianjurkan.
Jika biasanya engkau shalat malam sepuluh rakaat ditambah satu rakaat witir (jadi sebelas rakaat), maka yang lebih utama bagimu adalah shalat pada siang hari dua belas rakaat, sebagaimana yang dilakukan Nabi ﷺ. Shalat dua rakaat dua rakaat dengan salam setiap dua rakaat.
Jika kebiasaanmu tujuh rakaat, maka shalatlah di siang hari delapan rakaat, dengan empat kali salam.
Demikian pula jika kebiasaanmu tiga rakaat, maka shalatlah di siang hari empat rakaat dengan dua kali salam. Itulah sunnahnya.
Aisyah رضي الله عنها berkata:
“كان النبي ﷺ إذا شغله عن صلاته بالليل مرض، أو نوم؛ صلى من النهار ثنتي عشرة ركعة”.
“Apabila Nabi ﷺ terhalang dari shalat malamnya karena sakit atau tidur, beliau shalat pada siang hari dua belas rakaat.”
Biasanya Nabi ﷺ pada malam hari shalat sebelas rakaat, salam setiap dua rakaat dan witir satu rakaat. Jika beliau terhalang karena sakit atau tidur, beliau menggantinya pada siang hari dan menambah satu rakaat sehingga menjadi dua belas rakaat, salam setiap dua rakaat. Itulah sunnahnya, ya. Selesai.
Semoga Allah Ta‘ālā menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang memilih ilmu yang bermanfaat, meninggalkan hal yang sia-sia, dan mengamalkan apa yang telah diketahui. Kami memohon kepada Allah Ta‘ālā agar memberikan taufik kepada kami dan kepada kalian semua untuk melakukan apa yang Dia cintai dan ridhai. Aamiin
وَاللَّهُ أَعْلَمُ، وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.
