Khutbah Jumat: Boleh Jadi Apa yang Kita Benci Justru Membawa Banyak Kebaikan
Boleh Jadi Apa yang Kita Benci Justru Membawa Banyak Kebaikan
☷ Daftar Isi Artikel
Khutbah Pertama
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah.
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Ketahuilah bahwa kehidupan di dunia ini tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan kita.
Ada saatnya kita mendapatkan apa yang kita harapkan. Namun, ada pula saatnya kita harus menerima sesuatu yang tidak kita inginkan.
Ada orang yang ingin mendapatkan pekerjaan, tetapi belum juga mendapatkannya.
Ada orang yang ingin sembuh dari penyakit, tetapi masih harus menjalani pengobatan.
Ada orang yang mengharapkan keturunan, tetapi bertahun-tahun belum juga dikaruniai anak.
Ada pula orang yang kehilangan harta, kehilangan pekerjaan, atau ditinggalkan oleh orang yang sangat dicintainya.
Semua itu merupakan bagian dari kehidupan yang telah Allah tetapkan.
Namun, sebagai orang beriman, kita harus meyakini bahwa tidak semua yang kita sukai membawa kebaikan, dan tidak semua yang kita benci membawa keburukan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah.
Ayat ini mengajarkan kepada kita sebuah pelajaran yang sangat penting.
Yaitu bahwa pengetahuan manusia sangat terbatas, sedangkan ilmu Allah tidak memiliki batas.
Kita hanya mengetahui apa yang terlihat di hadapan kita. Kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi besok, bulan depan, atau tahun depan.
Bahkan, terkadang sesuatu yang hari ini membuat kita menangis, beberapa tahun kemudian justru menjadi sebab kita bersyukur kepada Allah.
Sebaliknya, sesuatu yang hari ini membuat kita sangat bahagia, mungkin saja di kemudian hari menjadi sebab datangnya kesulitan.
Oleh karena itu, jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa sesuatu yang menimpa kita pasti buruk.
Bisa jadi di balik kesulitan tersebut terdapat kebaikan yang belum kita ketahui.
Allah Ta’ala berfirman:
فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
“Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa: 19)
Perhatikanlah, jamaah sekalian.
Allah tidak hanya menyebutkan adanya kebaikan, tetapi menyebutkan kebaikan yang banyak.
Artinya, sesuatu yang awalnya terasa berat bisa saja menjadi jalan menuju berbagai kebaikan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Jamaah Jumat yang berbahagia.
Ada tiga sikap yang perlu kita tanamkan ketika menghadapi sesuatu yang tidak kita sukai.
Pertama, Berbaik Sangka kepada Allah
Seorang muslim harus yakin bahwa Allah Maha Mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya.
Ketika doa kita belum dikabulkan sesuai keinginan, jangan langsung berputus asa.
Ketika usaha kita belum berhasil, jangan langsung menganggap bahwa Allah tidak menyayangi kita.
Boleh jadi Allah sedang menjauhkan kita dari sesuatu yang membahayakan. Boleh jadi Allah sedang mempersiapkan kebaikan melalui jalan yang tidak kita ketahui.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruh urusannya merupakan kebaikan baginya. Hal itu tidak dimiliki siapa pun kecuali orang beriman. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ditimpa kesulitan, ia bersabar, dan itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa seorang mukmin dapat memperoleh kebaikan dalam dua keadaan.
Ketika mendapatkan nikmat, ia bersyukur.
Ketika mendapatkan musibah, ia bersabar.
Dengan demikian, baik dalam keadaan lapang maupun sempit, seorang mukmin tetap memiliki kesempatan untuk mendapatkan pahala dari Allah.
Kedua, Tetap Berusaha dan Bertawakal kepada Allah
Beriman kepada takdir bukan berarti kita berhenti berusaha.
Orang yang sakit tetap harus berobat.
Orang yang membutuhkan pekerjaan tetap harus mencari pekerjaan.
Orang yang menghadapi masalah keluarga tetap harus berusaha menyelesaikannya.
Dan orang yang melihat kemungkaran tetap berkewajiban mengingkarinya sesuai kemampuan dan tuntunan agama.
Kita tidak boleh menggunakan alasan takdir untuk membenarkan kemalasan atau membiarkan kemungkaran.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ
“Bersungguh-sungguhlah dalam perkara yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan bersikap lemah.” (HR. Muslim)
Inilah sikap seorang muslim.
Ia berusaha semampunya, berdoa kepada Allah, kemudian menyerahkan hasilnya kepada-Nya.
Apabila hasilnya sesuai harapan, ia bersyukur.
Apabila hasilnya berbeda dari harapan, ia tetap bersabar dan berbaik sangka kepada Allah.
Jamaah yang dirahmati Allah.
Ketiga, Jangan Berputus Asa ketika Menghadapi Kesulitan
Terkadang seseorang merasa bahwa masalah yang dihadapinya terlalu berat.
Ia merasa semua jalan telah tertutup. Ia merasa tidak ada lagi harapan.
Padahal, Allah Maha Kuasa mengubah keadaan.
Allah berfirman:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh: 5–6)
Karena itu, jangan pernah berhenti berharap kepada Allah.
Jangan tinggalkan salat karena masalah.
Jangan berhenti berdoa karena doa belum terkabul.
Jangan meninggalkan ketaatan hanya karena keadaan hidup sedang sulit.
Tetaplah berada di jalan Allah, karena kita tidak mengetahui kapan dan melalui jalan apa Allah akan memberikan pertolongan-Nya.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang senantiasa bersyukur ketika mendapatkan nikmat dan bersabar ketika menghadapi musibah.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.
أَمَّا بَعْدُ، فَاتَّقُوا اللَّهَ عِبَادَ اللَّهِ.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah.
Di dalam Al-Qur’an, Allah telah menceritakan banyak peristiwa yang mengajarkan bahwa sesuatu yang awalnya terlihat buruk ternyata dapat membawa kebaikan yang besar.
Marilah kita memperhatikan beberapa kisah berikut.
Pertama, Kisah Nabi Musa ‘Alaihissalam
Ketika Nabi Musa masih bayi, Fir’aun memerintahkan pembunuhan terhadap bayi laki-laki dari Bani Israil.
Dalam keadaan yang sangat menakutkan itu, Allah memberikan ilham kepada ibu Musa agar meletakkan bayinya di dalam peti dan menghanyutkannya ke sungai.
Bayangkan perasaan seorang ibu yang harus berpisah dengan bayi yang sangat dicintainya.
Secara manusiawi, tindakan itu tampak sangat berbahaya.
Namun, siapa yang menyangka bahwa bayi tersebut justru akan ditemukan oleh keluarga Fir’aun, kemudian dibesarkan di istana Fir’aun sendiri?
Allah menyelamatkan Musa dan mengembalikannya kepada ibunya. Kelak Musa menjadi nabi dan rasul yang diutus untuk menghadapi Fir’aun.
Dari kisah ini kita belajar bahwa Allah mampu menghadirkan keselamatan melalui jalan yang tidak pernah dibayangkan manusia.
Kedua, Kisah Nabi Yusuf ‘Alaihissalam
Nabi Yusuf mengalami berbagai kesulitan sejak kecil.
Beliau dibuang oleh saudara-saudaranya ke dalam sumur, dipisahkan dari ayahnya, dijual sebagai budak, kemudian dimasukkan ke dalam penjara meskipun tidak bersalah.
Jika kita hanya melihat satu per satu kejadian tersebut, semuanya tampak sebagai penderitaan.
Namun, ternyata Allah memiliki ketetapan yang penuh hikmah.
Setelah melewati berbagai ujian, Nabi Yusuf akhirnya mendapatkan kedudukan penting di Mesir.
Melalui ilmu dan kemampuan yang Allah berikan kepadanya, beliau menjadi sebab terselamatkannya banyak orang dari kesulitan akibat musim paceklik.
Beliau juga kembali dipertemukan dengan keluarganya.
Nabi Yusuf berkata:
إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِمَا يَشَاءُ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
“Sesungguhnya Tuhanku Mahalembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (QS. Yusuf: 100)
Kisah ini mengajarkan bahwa perjalanan menuju kebaikan terkadang harus melewati berbagai kesulitan.
Ketiga, Kisah Ummu Salamah Radhiyallahu ‘Anha
Ketika suaminya, Abu Salamah, meninggal dunia, Ummu Salamah mengalami kesedihan yang mendalam.
Namun, beliau mengingat doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika tertimpa musibah:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا
“Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya kita kembali. Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku dan gantilah untukku dengan sesuatu yang lebih baik darinya.” (HR. Muslim)
Pada awalnya, Ummu Salamah bertanya dalam hatinya, siapakah yang lebih baik daripada Abu Salamah?
Namun, Allah kemudian memberikan pengganti yang sangat mulia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Ummu Salamah, sehingga beliau menjadi salah seorang Ummul Mukminin.
Dari kisah ini kita belajar bahwa kehilangan sesuatu yang sangat kita cintai bukan berarti berakhirnya seluruh kebaikan dalam kehidupan.
Allah mampu memberikan pengganti yang lebih baik menurut ilmu dan hikmah-Nya.
Pelajaran dari Tiga Kisah
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah.
Tiga kisah ini memberikan satu pelajaran yang sama:
Jangan menilai seluruh perjalanan hidup hanya berdasarkan kesulitan yang sedang kita hadapi hari ini.
Bisa jadi kita belum memahami hikmah di balik suatu peristiwa.
Namun, perlu kita ingat bahwa tidak setiap musibah pasti akan berakhir dengan keberhasilan duniawi sebagaimana kisah-kisah tersebut.
Ada hikmah yang Allah tampakkan ketika kita masih hidup. Ada pula hikmah yang tidak kita ketahui sampai akhir hayat.
Karena itu, kewajiban kita bukan memastikan bahwa semua keinginan akan terpenuhi, melainkan berusaha, bersabar, bertawakal, dan tetap menaati Allah dalam segala keadaan.
Apabila kita kehilangan pekerjaan, jangan kehilangan kepercayaan kepada Allah.
Apabila kita diuji dengan penyakit, jangan kehilangan harapan terhadap rahmat Allah.
Apabila kita mengalami kegagalan, jangan berhenti memperbaiki diri.
Dan apabila kita mendapatkan sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan, ingatlah firman Allah:
وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Doa Penutup
Semoga Allah memberikan kepada kita hati yang lapang dalam menerima ketetapan-Nya, kesabaran ketika menghadapi ujian, dan rasa syukur atas setiap nikmat yang diberikan-Nya.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَاشْرَحْ صُدُورَنَا، وَيَسِّرْ أُمُورَنَا، وَاغْفِرْ ذُنُوبَنَا.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الصَّبْرَ عِنْدَ الْبَلَاءِ، وَالشُّكْرَ عِنْدَ الرَّخَاءِ، وَالرِّضَا بِقَضَائِكَ وَقَدَرِكَ.
اللَّهُمَّ اشْفِ مَرْضَانَا، وَارْحَمْ مَوْتَانَا، وَفَرِّجْ هُمُومَنَا، وَنَفِّسْ كُرُوبَنَا، وَاقْضِ حَوَائِجَنَا.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَانْصُرِ الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنْهُمْ، وَاجْعَلْ لَهُمْ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.
✦ ✦ ✦
Informasi Penerbit
Diterbitkan oleh:
Tim Ilmiah Markaz Inayah Indonesia
Indonesian Community Care Center
Media dan kontak resmi:
Facebook: markazinayahofficial
YouTube: @markazinayah
Telegram: t.me/markaz_inayah
Instagram: @markazinayah
TikTok: @markazinayah
Snapchat: add/markaz_inayah
Pinterest: pin.it/27A9yFJT5
Threads: @markazinayah
X: @markazinayah
Website: www.markazinayah.com
WhatsApp: +6285333345252