Mimbar Jumat

Berbakti kepada Kedua Orang Tua

Khutbah Jumat: Berbakti kepada Kedua Orang Tua

☷ Daftar Isi Artikel
  1. Khutbah 1 — Khutbah Pertama
  2. Khutbah 2 — Khutbah Kedua
Pengaturan Bacaan

Khutbah pertama:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوذُ بِهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، إِلَهُ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ، وَقَيُّومُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرَضِينَ، أَرْسَلَ رُسُلَهُ حُجَّةً عَلَى الْعَالَمِينَ؛ لِيَحْيَا مَنْ حَيَّ عَنْ بَيِّنَةٍ، وَيَهْلِكَ مَنْ هَلَكَ عَنْ بَيِّنَةٍ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، الْبَشِيرُ النَّذِيرُ، وَالسِّرَاجُ الْمُنِيرُ، تَرَكَ أُمَّتَهُ عَلَى الْمَحَجَّةِ الْبَيْضَاءِ، لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا، لَا يَزِيغُ عَنْهَا إِلَّا هَالِكٌ، فَصَلَوَاتُ رَبِّي وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ مَا تَعَاقَبَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ، وَصَلَوَاتُ رَبِّي وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ مَا ذَكَرَهُ الذَّاكِرُونَ الْأَبْرَارُ، وَصَلَوَاتُ رَبِّي وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ مَا غَفَلَ عَنْ ذِكْرِهِ الْغَافِلُونَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَمَنِ اقْتَفَى أَثَرَهُ، وَاسْتَنَّ بِسُنَّتِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ؛

أَمَّا بَعْدُ:

عِبَادَ اللَّهِ: فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوهُ، وَابْتَدِرُوا أَمْرَهُ وَلَا تَعْصُوهُ، وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ دُنْيَاكُمْ وَأُخْرَاكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ. تبارك وتعالى: ﴿ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ﴾ [الطلاق: 2، 3]، ﴿ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا ﴾ [الطلاق: 5]،

﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا ﴾ [الأنفال: 29]، ﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا ﴾ [الأحزاب: 70، 71].

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Sesungguhnya di antara hak yang paling besar dan paling wajib bagi seorang Muslim adalah hak kedua orang tua. Oleh karena itu, Allah Ta’ala menyandingkan perintah berbakti kepada orang tua dengan perintah menyembah-Nya, sebagaimana firman-Nya:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak.” (QS. An-Nisa: 36)

Bahkan, Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan untuk tetap berbuat baik dan bergaul dengan bijak kepada keduanya meskipun keduanya kafir, selama tidak menuruti perintah untuk bermaksiat atau menyekutukan Allah. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ * وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 14-15)

Berbakti kepada orang tua juga merupakan sifat para Nabi yang dipuji oleh Allah. Sebagaimana firman Allah tentang Nabi Yahya ‘Alaihissalam:

وَبَرًّا بِوَالِدَيْهِ وَلَمْ يَكُنْ جَبَّارًا عَصِيًّا

“Dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia seorang yang sombong lagi durhaka.” (QS. Maryam: 14)

Dan firman-Nya tentang Nabi Isa ‘Alaihissalam:

وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا

“Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.” (QS. Maryam: 32)

Hamba-hamba Allah,

Maksud dari Birrul Walidain (berbakti kepada kedua orang tua) adalah berbuat baik kepada keduanya dengan segala bentuk kebaikan, baik perkataan maupun perbuatan. Seperti berbicara dengan tutur kata yang lembut, merendahkan suara di hadapan keduanya, menyambung silaturahmi secara terus-menerus, membantu dengan tenaga dan harta, memenuhi kebutuhan mereka, serta menjaga perasaan dan membahagiakan hati keduanya.

Banyak sekali nash dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang memotivasi kita untuk berbakti dan memperingatkan dari bahaya durhaka (uquq). Allah Ta’ala berfirman:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا * وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mengasuhku waktu kecil’.” (QS. Al-Isra: 23-24)

Dalam ayat ini, Allah melarang bahkan sekadar mengucapkan kata “ah” (uff) yang menunjukkan rasa kesal, serta melarang membentak mereka. Allah memerintahkan untuk merendahkan diri di hadapan keduanya seperti burung yang menurunkan sayapnya karena rasa sayang kepada anak-anaknya, serta mendoakan keselamatan dan kasih sayang bagi keduanya.

Rasulullah ﷺ juga mendahulukan berbakti kepada orang tua di atas jihad fi sabilillah. Dari Abdullah bin Mas’ud RA, ia bertanya kepada Nabi ﷺ: “Amalan apakah yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab: “Shalat pada waktunya.” Aku bertanya lagi: “Kemudian apa?” Beliau menjawab: “Berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya lagi: “Kemudian apa?” Beliau menjawab: “Jihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Bahkan ketika seorang lelaki datang meminta izin untuk ikut berjihad, Nabi ﷺ bertanya: “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Ia menjawab: “Ya.” Beliau bersabda: “Maka pada keduanyalah engkau berjihad (berbakti).” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah ﷺ juga bersabda tentang besarnya keutamaan merawat orang tua di usia senja:

رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ

“Celakalah ia, kemudian celakalah ia, kemudian celakalah ia!” Ada yang bertanya: “Siapa wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Barangsiapa yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya di usia lanjut, namun ia tidak masuk surga (karena tidak berbakti kepada keduanya).” (HR. Muslim)

Wahai para pemuda Muslim, ketahuilah bahwa bakti dan taatmu kepada orang tua adalah bukti kejujuran jiwamu, tanda kemuliaan akhlakmu, dan sebab kebahagiaanmu di dunia dan akhirat. Orang tuamu adalah sebab keberadaanmu. Ibu mengandungmu selama sembilan bulan dengan penuh kesusahan, dan ayahmu membanting tulang membiayai serta mendidikmu.

Hati-hatilah dari sikap durhaka (uquq). Rasulullah ﷺ memasukkan durhaka kepada orang tua sebagai salah satu dosa besar yang paling membinasakan:

“Dosa-dosa besar adalah: menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh jiwa, dan sumpah palsu.” (HR. Bukhari)

Banyak orang saat ini menggantungkan perawatan orang tuanya secara penuh kepada pembantu atau sopir. Meskipun menyediakan pembantu adalah bentuk kebaikan, hendaknya anak tidak lepas tangan dari kehadiran fisik dan perhatian langsung. Sentuhan, senyuman, dan kehadiran seorang anak tidak akan pernah bisa digantikan oleh siapa pun.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah kedua:

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. قَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

Jamaah Shalat Jumat yang Dirahmati Allah,

Ketahuilah bahwa berbakti kepada kedua orang tua tidak terputus dengan kematian mereka. Amal bakti tetap berlanjut setelah mereka meninggal dunia melalui:

  1. Mendoakan dan memohonkan ampunan untuk keduanya.
  2. Bersedekah atas nama keduanya.
  3. Menyambung tali silaturahmi dengan kerabat dari pihak ayah dan ibu.
  4. Memuliakan sahabat dan teman dekat kedua orang tua.

Rasulullah ﷺ bersabda ketika ditanya oleh seorang sahabat tentang apakah masih ada bakti yang tersisa setelah orang tua meninggal:

نَعَمْ، خِصَالٌ أَرْبَعٌ: الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا، وَالاسْتِغْفَارُ لَهُمَا، وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا، وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا، وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا رَحِمَ لَكَ إِلَّا مِنْ قِبَلِهِمَا

“Ya, ada empat hal: mendoakan keduanya, memohonkan ampunan untuk keduanya, menepati janji/wasiat keduanya, memuliakan sahabat keduanya, dan menyambung silaturahmi yang tidak terhubung kecuali melalui keduanya.” (HR. Ahmad)

Bahkan, sungguh luas rahmat Allah, barangsiapa yang mungkin pernah melalaikan hak orang tuanya semasa hidup, lalu ia terus-menerus mendoakan dan memohonkan ampunan untuk keduanya setelah meninggal, maka Allah dapat mencatatnya sebagai anak yang berbakti (barran).

هَذَا، وَصَلُّوا – رَحِمَكُمُ اللَّهُ – عَلَى خَيْرِ الْبَرِيَّةِ، وَأَزْكَى الْبَشَرِيَّةِ: مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، صَاحِبِ الْحَوْضِ وَالشَّفَاعَةِ؛ فَقَدْ أَمَرَكُمُ اللَّهُ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَأَيَّدَهُ بِكُمْ – أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ -، فَقَالَ – جَلَّ وَعَلَا -: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾ [الْأَحْزَابِ: 56].

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَزِدْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الْأَرْبَعَةِ: أَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِعَفْوِكَ وَجُودِكَ وَكَرَمِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِينَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اللَّهُمَّ فَرِّجْ هَمَّ الْمَهْمُومِينَ، وَنَفِّسْ كَرْبَ الْمَكْرُوبِينَ، وَاقْضِ الدَّيْنَ عَنِ الْمَدِينِينَ، وَاشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَى الْمُسْلِمِينَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِنَا وَأَمْوَالِنَا وَأَهْلِينَا يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَاجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا سَخَاءً رَخَاءً وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ.

اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِينَ فِي دِينِهِمْ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ عَلَى مَنْ ظَلَمَهُمْ وَخَذَلَهُمْ، اللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ، اللَّهُمَّ اجْعَلْ شَأْنَ عَدُوِّهِمْ فِي سِفَالٍ، وَأَمْرَهُ فِي وَبَالٍ، اللَّهُمَّ عَجِّلْ لَهُمْ بِالنَّصْرِ وَالْفَرَجِ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ، يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ.

اللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا، وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُورِنَا، وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ…

﴿ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴾ [البقرة: 201].

سُبْحَانَ رَبِّنَا رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

عِبَادَ اللَّهِ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ ﴾ [النحل: 90].

فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ الْجَلِيلَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى آلَائِهِ وَنِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

  

Faisal Reza Saputra, B.A.

Program Magister Manajemen Pendidikan King Saud University, Arab Saudi

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button