Sejarah Islam

001. Bab I: Sejarah Kuno Sebelum Islam

Bagian 001 / 144

الْبَابُ الْأَوَّلُ

التَّارِيخُ الْقَدِيمُ قَبْلَ الْإِسْلَامِ

Bab I: Sejarah Kuno Sebelum Islam

مِنْ بَدْءِ الْخَلِيقَةِ (عَهْدِ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ) إِلَى مَا قَبْلَ بَعْثَةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari awal penciptaan (masa Adam عليه السلام) hingga sebelum diutusnya Muhammad ﷺ.

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal. (QS. Yusuf: 111)

☷ Daftar Isi Artikel

الْفَصْلُ الْأَوَّلُ: بَدْءُ الْخَلِيقَةِ — Pembahasan I: Awal Penciptaan↥ Daftar isi

تَعْرِيفُ الْأُمَّةِ الْإِسْلَامِيَّةِ — Definisi umat Islam↥ Daftar isi

الْأُمَّةُ الْإِسْلَامِيَّةُ هِيَ الْجَمَاعَةُ الَّتِي تَجْمَعُهَا الْعَقِيدَةُ الْإِسْلَامِيَّةُ عَلَى مَدَارِ التَّارِيخِ؛ فَالَّذِينَ اتَّبَعُوا أَنْبِيَاءَهُمْ مِنْ عَهْدِ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ إِلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمَنْ سَيَسِيرُ عَلَى هَدْيِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، فَيُؤْمِنُ بِرَبِّهِ وَيُصَدِّقُ الرُّسُلَ، هُمْ جَمِيعًا الْأُمَّةُ الْإِسْلَامِيَّةُ. فَالرَّابِطَةُ الْأَصِيلَةُ هِيَ الْعَقِيدَةُ، وَلَيْسَتِ اللُّغَةَ أَوِ التَّارِيخَ أَوِ الْمَكَانَ أَوِ الْأَصْلَ أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ.

Umat Islam adalah kelompok yang sepanjang sejarah dipersatukan oleh akidah Islam. Orang-orang yang mengikuti para nabi sejak zaman Adam عليه السلام hingga Muhammad ﷺ, serta orang-orang yang mengikuti petunjuk beliau sampai hari kiamat, beriman kepada Rabb mereka dan membenarkan para rasul, semuanya termasuk umat Islam. Ikatan yang mendasar adalah akidah, bukan bahasa, sejarah, tempat, asal-usul, atau hal lainnya.

الْمَخْلُوقُ الْأَوَّلُ: آدَمُ عَلَيْهِ السَّلَامُ (أَوَّلُ الْأَنْبِيَاءِ) — Makhluk pertama: Adam عليه السلام, nabi pertama↥ Daftar isi

اقْتَضَتْ حِكْمَةُ اللَّهِ أَنْ يَسْتَخْلِفَ مَخْلُوقًا عَلَى هَذِهِ الْأَرْضِ، وَيُسَخِّرَ لَهُ كُلَّ كُنُوزِهَا وَطَاقَاتِهَا. فَكَانَ هَذَا الْمَخْلُوقُ آدَمَ؛ خَلَقَهُ اللَّهُ مِنْ تُرَابٍ، وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ، وَعَلَّمَهُ أَسْمَاءَ كُلِّ شَيْءٍ، وَأَمَرَ الْمَلَائِكَةَ بِالسُّجُودِ لَهُ. وَطَرَدَ إِبْلِيسَ وَلَعَنَهُ لَمَّا رَفَضَ السُّجُودَ لِآدَمَ امْتِثَالًا لِأَمْرِ اللَّهِ.

Hikmah Allah menetapkan adanya makhluk yang dijadikan khalifah di bumi dan diberi manfaat dari seluruh khazanah serta potensi yang ada padanya. Makhluk itu adalah Adam. Allah menciptakannya dari tanah, meniupkan kepadanya roh ciptaan-Nya, mengajarinya nama segala sesuatu, dan memerintahkan para malaikat agar bersujud kepadanya. Iblis terusir dan dilaknat ketika menolak bersujud kepada Adam sebagai bentuk ketidaktaatan terhadap perintah Allah.

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.’ Mereka berkata, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?’ Dia berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’” (QS. Al-Baqarah: 30)

ثُمَّ خَلَقَ اللَّهُ لِآدَمَ حَوَّاءَ زَوْجًا لَهُ مِنْ ضِلْعِهِ الْأَيْسَرِ، وَأَسْكَنَهُمَا فِي الْجَنَّةِ. وَإِنَّ إِبْلِيسَ الَّذِي تَوَعَّدَ بِغَوَايَةِ آدَمَ وَذُرِّيَّتِهِ مَا زَالَ بِهِمَا حَتَّى أَغْوَاهُمَا وَجَعَلَهُمَا يَأْكُلَانِ مِنَ الشَّجَرَةِ الْمُحَرَّمَةِ. بَعْدَهَا نَدِمَا وَتَابَا إِلَى اللَّهِ، فَتَابَ عَلَيْهِمَا وَأَنْزَلَهُمَا إِلَى الْأَرْضِ. وَعَلَّمَ جِبْرِيلُ آدَمَ طُرُقَ الْمَعِيشَةِ عَلَى الْأَرْضِ مِنْ زِرَاعَةٍ وَرَعْيٍ وَغَيْرِهِ. فَزَرَعَ وَأَكَلَ، وَكَانَ يَجْتَهِدُ لِلْحُصُولِ عَلَى قُوتِهِ، ثُمَّ رَزَقَهُمَا اللَّهُ بِالْأَوْلَادِ.

Kemudian Allah menciptakan Hawa sebagai istri Adam dari tulang rusuk kirinya, lalu menempatkan keduanya di surga. Iblis telah berjanji akan menyesatkan Adam dan keturunannya. Ia terus menggoda keduanya hingga berhasil menyesatkan mereka dan membuat mereka memakan buah dari pohon yang dilarang. Setelah itu, keduanya menyesal dan bertobat kepada Allah. Allah menerima tobat mereka, lalu menurunkan mereka ke bumi. Jibril mengajarkan kepada Adam cara-cara menjalani kehidupan di bumi, seperti bercocok tanam dan menggembala. Adam bercocok tanam dan memakan hasilnya, serta berusaha mendapatkan penghidupannya. Kemudian Allah menganugerahkan kepada keduanya anak-anak.

وَحَصَلَ اخْتِلَافٌ فِي مَكَانِ نُزُولِهِمَا عَلَى سَطْحِ الْأَرْضِ، وَأَكْثَرُ الْأَقْوَالِ أَنَّهُ كَانَ بِجَزِيرَةِ الْعَرَبِ. وَكَانَ الْإِنْسَانُ مُنْذُ ذَلِكَ الْيَوْمِ فِي صُورَتِهِ الْجَمِيلَةِ الْمُتَكَامِلَةِ، وَلَمْ يَتَدَرَّجْ وَيَتَطَوَّرْ مِنْ صُورَةِ الْقِرْدِ كَمَا يَدَّعِي الْمَادِّيُّونَ أَصْحَابُ نَظَرِيَّةِ التَّطَوُّرِ الْبَاطِلَةِ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ﴾ [التِّينِ: ٤].

Tempat turunnya Adam dan Hawa di bumi diperselisihkan. Pendapat yang paling banyak disebutkan menyatakan bahwa tempat itu berada di Jazirah Arab. Sejak saat itu, manusia telah diciptakan dalam bentuknya yang indah dan sempurna; ia tidak berkembang secara bertahap dari wujud kera sebagaimana diklaim oleh kaum materialis dalam teori evolusi yang batil. Allah Ta‘ala berfirman, “Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin: 4)

قَابِيلُ وَهَابِيلُ وَأَوَّلُ جَرِيمَةٍ عَلَى الْأَرْضِ — Qabil, Habil, dan kejahatan pertama di bumi↥ Daftar isi

قَابِيلُ وَهَابِيلُ هُمَا أَوَّلُ ابْنَيْ آدَمَ. وَكَانَتْ شَرِيعَةُ اللَّهِ أَنْ يَتَزَوَّجَ ذَكَرُ كُلِّ بَطْنٍ بِأُنْثَى الْبَطْنِ الْآخَرِ، وَكَانَتْ حَوَّاءُ تَحْمِلُ فِي كُلِّ بَطْنٍ ذَكَرًا وَأُنْثَى. فَأَرَادَ قَابِيلٌ، وَهُوَ الْأَكْبَرُ، أُخْتَ بَطْنِهِ، وَهِيَ شَرْعًا لِأَخِيهِ، فَرَفَضَ هَابِيلُ. ثُمَّ قَدَّمَا قُرْبَانًا لِلَّهِ، فَتَقَبَّلَ اللَّهُ مِنْ هَابِيلَ قُرْبَانَهُ، وَهُوَ كَبْشٌ طَيِّبٌ، وَلَمْ يَتَقَبَّلْ مِنْ قَابِيلَ الزَّرْعَ الْفَاسِدَ الَّذِي قَدَّمَهُ لِلَّهِ. فَحَسَدَهُ قَابِيلُ وَقَتَلَهُ، فَكَانَتْ أَوَّلَ جَرِيمَةٍ يَرْتَكِبُهَا بَشَرٌ عَلَى سَطْحِ الْأَرْضِ.

Qabil dan Habil adalah dua putra Adam yang pertama. Syariat Allah menetapkan agar anak laki-laki dari satu kelahiran menikah dengan anak perempuan dari kelahiran yang lain. Hawa melahirkan seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan dalam setiap kelahiran. Qabil, yang lebih tua, menginginkan saudari kembar dari kelahirannya sendiri, padahal menurut syariat saudari itu diperuntukkan bagi saudaranya. Habil menolaknya. Kemudian keduanya mempersembahkan kurban kepada Allah. Allah menerima kurban Habil, berupa seekor domba yang baik, dan tidak menerima hasil tanaman yang buruk yang dipersembahkan Qabil. Qabil pun dengki kepada Habil lalu membunuhnya. Itulah kejahatan pertama yang dilakukan manusia di muka bumi.

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Bacakanlah (Nabi Muhammad) kepada mereka berita tentang dua putra Adam dengan sebenarnya. Ketika keduanya mempersembahkan kurban, diterima dari salah satunya (Habil), tetapi tidak diterima dari yang lain (Qabil). Dia (Qabil) berkata, ‘Sungguh, aku pasti membunuhmu.’ Dia (Habil) berkata, ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.’” (QS. Al-Ma’idah: 27)

ثُمَّ رَزَقَ اللَّهُ آدَمَ شِيثًا، ثُمَّ رَزَقَهُ الْبَنِينَ وَالْبَنَاتِ الَّذِينَ تَزَوَّجُوا وَتَكَاثَرَ نَسْلُهُمْ، وَكَانَ آدَمُ يُعَلِّمُهُمُ التَّوْحِيدَ وَيُبَلِّغُهُمْ دَعْوَةَ اللَّهِ إِلَى أَنْ مَاتَ.

Kemudian Allah menganugerahkan Syits kepada Adam, lalu menganugerahkan putra-putri lainnya. Mereka menikah dan keturunan mereka bertambah banyak. Adam mengajarkan tauhid kepada mereka dan menyampaikan dakwah Allah hingga wafat.

وَقَدْ رَوَى ابْنُ حِبَّانَ فِي صَحِيحِهِ عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَمِ الْأَنْبِيَاءُ؟ قَالَ: «مِائَةُ أَلْفٍ وَأَرْبَعَةٌ وَعِشْرُونَ أَلْفًا». قُلْتُ: كَمِ الرُّسُلُ مِنْهُمْ؟ قَالَ: «ثَلَاثُمِائَةٍ وَثَلَاثَةَ عَشَرَ، جَمٌّ غَفِيرٌ». قُلْتُ: مَنْ كَانَ أَوَّلَهُمْ؟ قَالَ: «آدَمُ». وَمَاتَ آدَمُ، وَاخْتُلِفَ فِي عُمُرِهِ، وَأَصَحُّ الْأَقْوَالِ أَنَّهُ بَيْنَ تِسْعِمِائَةٍ وَخَمْسِينَ وَأَلْفِ سَنَةٍ (١).

Ibnu Hibban meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya dari Abu Dzarr. Ia berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, berapa jumlah nabi?’ Beliau menjawab, ‘Seratus dua puluh empat ribu.’ Aku bertanya, ‘Berapa jumlah rasul di antara mereka?’ Beliau menjawab, ‘Tiga ratus tiga belas; jumlah yang sangat banyak.’ Aku bertanya, ‘Siapakah yang pertama di antara mereka?’ Beliau menjawab, ‘Adam.’” Adam pun wafat. Usia beliau diperselisihkan. Pendapat yang paling kuat menyebutkan usia antara 950 hingga 1.000 tahun.[1]

Syits bin Adam عليه السلام↥ Daftar isi

شِيثُ بْنُ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ: هُوَ مِنْ أَبْنَاءِ آدَمَ، وَكَانَ نَبِيًّا، وَاسْتَمَرَّ فِي الدَّعْوَةِ إِلَى اللَّهِ وَإِقَامَةِ شَرِيعَتِهِ فِي الْأَرْضِ.

Syits adalah salah seorang putra Adam dan seorang nabi. Ia melanjutkan dakwah kepada Allah serta menegakkan syariat-Nya di bumi.

Idris عليه السلام↥ Daftar isi

إِدْرِيسُ عَلَيْهِ السَّلَامُ هُوَ النَّبِيُّ بَعْدَ آدَمَ وَشِيثٍ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِدْرِيسَ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا ۝ وَرَفَعْنَاهُ مَكَانًا عَلِيًّا﴾ [مَرْيَمَ: ٥٦-٥٧]. وَاسْتَمَرَّ إِدْرِيسُ فِي الْحُكْمِ بِشَرِيعَةِ اللَّهِ إِلَى أَنْ قَبَضَهُ اللَّهُ. وَذَكَرَ ابْنُ إِسْحَاقَ أَنَّهُ أَوَّلُ مَنْ خَطَّ بِالْقَلَمِ.

Idris adalah nabi setelah Adam dan Syits. Allah Ta‘ala berfirman, “Ceritakanlah (Nabi Muhammad, kisah) Idris di dalam Kitab (Al-Qur’an). Sesungguhnya dia seorang yang sangat mencintai kebenaran dan seorang nabi. Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.” (QS. Maryam: 56–57) Idris terus memerintah dengan syariat Allah hingga Allah mewafatkannya. Ibnu Ishaq menyebutkan bahwa Idris adalah orang pertama yang menulis dengan pena.

وَكَانَ الْغَرَضُ مِنْ إِرْسَالِ الرُّسُلِ اسْتِمْرَارَ شَرِيعَةِ اللَّهِ، وَإِقَامَةَ الْحُجَّةِ عَلَى النَّاسِ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا﴾ [الْإِسْرَاءِ: ١٥]. وَقَالَ: ﴿وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ﴾ [النَّحْلِ: ٣٦].

Tujuan diutusnya para rasul adalah agar syariat Allah terus berlaku dan hujah ditegakkan atas manusia. Allah Ta‘ala berfirman, “Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS. Al-Isra’: 15) Allah juga berfirman, “Sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah dan jauhilah tagut!’” (QS. An-Nahl: 36)

الْهِجْرَاتُ الْبَشَرِيَّةُ — Perpindahan manusia↥ Daftar isi

تَكَاثَرَ السُّكَّانُ بِجَزِيرَةِ الْعَرَبِ (فِي الْحِجَازِ عَلَى أَكْثَرِ الِاحْتِمَالَاتِ)، فَأَخَذُوا يُهَاجِرُونَ مِنْهَا، وَكَانَتِ الْهِجْرَاتُ تَأْخُذُ الِاتِّجَاهَاتِ التَّالِيَةَ:

Jumlah penduduk di Jazirah Arab bertambah—kemungkinan besar di Hijaz—lalu mereka mulai berpindah dari sana. Perpindahan itu mengambil arah-arah berikut:

  1. نَحْوَ الشَّمَالِ الشَّرْقِيِّ: حَيْثُ اسْتَقَرُّوا فِي الْعِرَاقِ، ثُمَّ وَاصَلَتْ جَمَاعَاتٌ مِنْهُمْ إِلَى آسِيَا وَأَمْرِيكَا.

    Ke arah timur laut: mereka menetap di Irak, kemudian sejumlah kelompok melanjutkan perjalanan ke Asia dan Amerika.

  2. نَحْوَ الشَّمَالِ: بِاتِّجَاهِ الشَّامِ، ثُمَّ انْتَقَلَتْ جَمَاعَاتٌ إِلَى مَنَاطِقِ الْبَحْرِ الْمُتَوَسِّطِ.

    Ke arah utara, menuju Syam; kemudian sejumlah kelompok berpindah ke wilayah-wilayah Laut Tengah.

  3. نَحْوَ الْجَنُوبِ: بِاتِّجَاهِ بِلَادِ الْيَمَنِ، وَمِنْهَا هَاجَرَتْ جَمَاعَاتٌ إِلَى أَفْرِيقِيَا وَالْهِنْدِ.

    Ke arah selatan, menuju negeri Yaman. Dari sana, sejumlah kelompok berpindah ke Afrika dan India.

وَسَنُلَاحِظُ أَنَّ الْأَنْبِيَاءَ خَرَجُوا مِنْ جَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَالشَّامِ وَالْعِرَاقِ وَمِصْرَ، فَهِيَ كَانَتْ أَوَّلَ الْمَنَاطِقِ الْمَعْمُورَةِ عَلَى الْأَرْضِ (١).

Kita akan melihat bahwa para nabi berasal dari Jazirah Arab, Syam, Irak, dan Mesir. Kawasan-kawasan tersebut merupakan wilayah pertama yang dihuni di bumi.[2]

أَوَّلُ الْحَضَارَاتِ — Peradaban pertama↥ Daftar isi

كَانَتِ الْحَضَارَةُ الْفِرْعَوْنِيَّةُ وَالْحَضَارَةُ السُّومَرِيَّةُ هِيَ أَوَّلَ وَأَقْدَمَ الْحَضَارَاتِ عَلَى مَسْرَحِ التَّارِيخِ (٢).

Peradaban Firaun dan peradaban Sumeria merupakan peradaban pertama dan tertua dalam panggung sejarah.[3]

[1] Qisas al-Anbiya’, Ibnu Katsir, hlm. 57.   [2] Mahmud Syakir, at-Tarikh al-Islami qabla al-Bi‘tsah, hlm. 35.   [3] H. G. Wells, Mujaz Tarikh al-‘Alam, hlm. 62.

Sumber rujukan

مُوجَزُ التَّارِيخِ الْإِسْلَامِيِّ مُنْذُ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ إِلَى عَصْرِنَا الْحَاضِرِ

Ahmad Ma’mur al-Asiri, Mūjaz al-Tārīkh al-Islāmī · PDF Tarikh Islami.pdf · halaman 11–18 (nomor halaman tercetak).

Pembahasan selanjutnya: Pembahasan Kedua.

Related Articles

Check Also
Close
Back to top button