003. Pembahasan Ketiga
الْفَصْلُ الثَّالِثُ
Pembahasan Ketiga
حَضَارَاتٌ وَأَنْبِيَاءُ بِلَادِ الشَّامِ
Peradaban dan Para Nabi di Negeri Syam
وَصَلَ الْبَشَرُ إِلَى الشَّامِ، وَتَوَزَّعُوا عَلَى شَكْلِ تَجَمُّعَاتٍ مُتَفَرِّقَةٍ، أَكْبَرُهَا فِي غُوطَةِ دِمَشْقَ وَغَيْرِهَا، وَعَلَى السَّوَاحِلِ.
Manusia tiba di Syam dan menyebar dalam sejumlah permukiman yang terpisah. Permukiman terbesar berada di kawasan Ghuthah, sekitar Damaskus, dan wilayah lainnya serta di sepanjang pesisir.
☷ Daftar Isi Artikel
- بَقِيَّةُ قِصَّةِ إِبْرَاهِيمَ (فِي الشَّامِ) — Lanjutan Kisah Ibrahim di Syam
- لُوطٌ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَأَهْلُ سَدُومَ — Luth عليه السلام dan Penduduk Sodom
- عَوْدَةٌ إِلَى بَقِيَّةِ قِصَّةِ إِبْرَاهِيمَ — Kembali ke Lanjutan Kisah Ibrahim
- إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِمَا السَّلَامُ — Ishaq bin Ibrahim عليهما السلام
- يَعْقُوبُ بْنُ إِسْحَاقَ عَلَيْهِمَا السَّلَامُ — Ya‘qub bin Ishaq عليهما السلام
- يُوسُفُ بْنُ يَعْقُوبَ عَلَيْهِمَا السَّلَامُ وَانْتِقَالُ بَنِي إِسْرَائِيلَ إِلَى مِصْرَ — Yusuf bin Ya‘qub dan Perpindahan Bani Israil ke Mesir
- الْأَحْوَالُ فِي بِلَادِ الشَّامِ وَبَعْضُ أَنْبِيَاءِ وَحَضَارَاتِ هَذِهِ الْفَتْرَةِ — Keadaan Syam serta Sebagian Nabi dan Peradaban pada Masa Ini
- أَيُّوبُ عَلَيْهِ السَّلَامُ — Ayyub عليه السلام
- الْيَسَعُ عَلَيْهِ السَّلَامُ — Alyasa‘ عليه السلام
- يَاسِينَ عَلَيْهِ السَّلَامُ — Yasin عليه السلام
- إِلْيَاسُ عَلَيْهِ السَّلَامُ — Ilyas عليه السلام
- يُوشَعُ بْنُ نُونٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ — Yusya‘ bin Nun عليه السلام
- حِزْقِيلُ بْنُ بُوذِيٍّ عَلَيْهِ السَّلَامُ — Hizqil bin Budzi عليه السلام
- شَمْوِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ — Syamwil عليه السلام
- دَاوُودُ عَلَيْهِ السَّلَامُ — Dawud عليه السلام
- سُلَيْمَانُ عَلَيْهِ السَّلَامُ — Sulaiman عليه السلام
- شَعْيَا بْنُ أَمَصْيَا عَلَيْهِ السَّلَامُ — Sya‘ya bin Amasya عليه السلام
- خَرَابُ بَيْتِ الْمَقْدِسِ — Kehancuran Baitul Maqdis
- وُصُولُ الْعُمْرَانِ إِلَى أُورُوبَّا — Perpindahan Permukiman ke Eropa
- عَوْدَةٌ إِلَى بَقِيَّةِ تَارِيخِ بَنِي إِسْرَائِيلَ — Lanjutan Sejarah Bani Israil
- زَكَرِيَّا وَابْنُهُ يَحْيَى عَلَيْهِمَا السَّلَامُ — Zakariya dan Putranya, Yahya عليهما السلام
- عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ — Isa عليه السلام
بَقِيَّةُ قِصَّةِ إِبْرَاهِيمَ (فِي الشَّامِ) — Lanjutan Kisah Ibrahim di Syam↥ Daftar isi
كَانَ إِبْرَاهِيمُ قَدْ قَدِمَ مِنَ الْعِرَاقِ إِلَى الشَّامِ، فَسَكَنَ فِي بَلْدَةِ الْخَلِيلِ شَرْقَ بَيْتِ الْمَقْدِسِ. وَجَاءَتْ سَنَوَاتٌ عِجَافٌ، فَارْتَحَلَ مَعَ زَوْجِهِ إِلَى مِصْرَ. وَرَآهَا حَاكِمُ مِصْرَ فَأَرَادَهَا لِنَفْسِهِ، فَطَلَبَ مِنْهَا زَوْجُهَا أَنْ تَقُولَ عَنْهُ إِنَّهُ أَخُوهَا ـ وَهُوَ فِعْلًا أَخُوهَا فِي اللَّهِ ـ خَوْفًا مِنْ أَنْ يَقْتُلَهُ الْحَاكِمُ، فَفَعَلَتْ. ثُمَّ إِنَّ اللَّهَ حَمَاهَا مِنْ هَذَا الْمَلِكِ، فَكَانَ كُلَّمَا أَرَادَ لَمْسَهَا شُلَّتْ يَدُهُ، فَعَلِمَ حَقِيقَةَ أَمْرِهَا وَتَرَكَهَا، وَقَدَّمَ لَهَا أَمَةً تُدْعَى هَاجَرَ، وَأَمَرَهُمْ بِالْخُرُوجِ مِنْ مِصْرَ.
Ibrahim datang dari Irak ke Syam dan tinggal di kota al-Khalil, di sebelah timur Baitul Maqdis. Ketika terjadi masa paceklik, ia pergi bersama istrinya ke Mesir. Penguasa Mesir melihat Sarah dan menginginkannya untuk dirinya. Suaminya meminta Sarah mengatakan bahwa ia adalah saudara Ibrahim—dan memang saudaranya seiman—karena khawatir penguasa itu akan membunuhnya. Sarah melakukan hal tersebut. Allah kemudian melindunginya dari raja itu. Setiap kali raja hendak menyentuhnya, tangannya menjadi kaku. Setelah mengetahui keadaan Sarah, raja membiarkannya dan memberikan seorang hamba perempuan bernama Hajar, lalu memerintahkan mereka meninggalkan Mesir.
عَادَ إِبْرَاهِيمُ إِلَى الْخَلِيلِ بِالشَّامِ وَاسْتَقَرَّ هُنَاكَ. وَأَعْطَتْهُ سَارَةُ جَارِيَتَهَا هَاجَرَ، وَقَالَتْ: عَسَى اللَّهُ أَنْ يَرْزُقَنَا مِنْهَا غُلَامًا. فَفَعَلَ، وَحَمَلَتْ هَاجَرُ وَوَضَعَتْ وَلَدَهَا إِسْمَاعِيلَ. فَغَارَتْ سَارَةُ وَطَلَبَتْ مِنْهُ أَنْ يُغَيِّبَ عَنْهَا هَاجَرَ وَوَلَدَهَا. فَسَارَ بِهِمَا بِإِذْنِ اللَّهِ جَنُوبًا حَتَّى وَصَلَ إِلَى مَوْضِعِ مَكَّةَ الْمُكَرَّمَةِ، فَتَرَكَهُمَا هُنَاكَ، وَدَعَا قَائِلًا: ﴿رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ﴾ [إِبْرَاهِيمَ: ٣٧].
Ibrahim kembali ke al-Khalil di Syam dan menetap di sana. Sarah memberikan Hajar, hamba perempuannya, kepada Ibrahim seraya berkata, “Semoga Allah menganugerahkan seorang anak kepada kita melalui dirinya.” Hajar pun mengandung dan melahirkan Ismail. Sarah merasa cemburu dan meminta Ibrahim membawa Hajar dan anaknya pergi. Dengan izin Allah, Ibrahim membawa keduanya ke selatan hingga tiba di tempat Makkah. Ia meninggalkan mereka di sana dan berdoa, “Wahai Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Wahai Rabb kami, (demikian itu) agar mereka melaksanakan salat. Maka jadikanlah sebagian hati manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki berupa buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37)
عَادَ إِبْرَاهِيمُ إِلَى الشَّامِ. وَفِي مَكَّةَ، لَمَّا نَفِدَ الْمَاءُ عِنْدَ هَاجَرَ، أَخَذَتْ تَبْحَثُ عَنْهُ، فَسَعَتْ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ سَبْعًا وَهِيَ تَفْتِّشُ، حَتَّى دُلَّتْ عَلَى مَكَانِ زَمْزَمَ. فَضَرَبَهُ إِسْمَاعِيلُ بِقَدَمِهِ وَهُوَ يَبْكِي مِنْ شِدَّةِ الْعَطَشِ، فَانْبَجَسَ مِنْهُ الْمَاءُ بِإِذْنِ اللَّهِ، فَاسْتَقَرَّ مَقَامُهُمْ. وَهَاجَرَتْ قَبِيلَةُ جُرْهُمَ مِنَ الْيَمَنِ، وَمَرَّتْ بِمَكَّةَ، فَسَمَحَتْ لَهُمْ هَاجَرُ أَنْ يُقِيمُوا مَعَهَا، وَنَشَأَ إِسْمَاعِيلُ بَيْنَهُمْ. وَسَنُورِدُ قِصَّةَ إِسْمَاعِيلَ فِي مَوْضُوعِ جَزِيرَةِ الْعَرَبِ.
Ibrahim kembali ke Syam. Di Makkah, ketika persediaan air Hajar habis, ia mencari air dan berlari tujuh kali antara Shafa dan Marwah hingga ditunjukkan ke tempat sumur Zamzam. Ismail menghentakkan kakinya saat menangis kehausan, lalu dengan izin Allah air memancar dari tempat itu. Mereka pun menetap di sana. Kabilah Jurhum berhijrah dari Yaman dan melewati Makkah. Hajar mengizinkan mereka tinggal bersama dirinya. Ismail tumbuh di tengah-tengah mereka. Kisah Ismail akan disebutkan dalam pembahasan tentang Jazirah Arab.
لُوطٌ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَأَهْلُ سَدُومَ — Luth عليه السلام dan Penduduk Sodom↥ Daftar isi
هُوَ ابْنُ أَخِي إِبْرَاهِيمَ، وَقَدْ آمَنَ بِهِ وَهَاجَرَ مَعَهُ إِلَى الشَّامِ. وَأَقَامَ بِبَلْدَةِ سَدُومَ جَنُوبَ الْبَحْرِ الْمَيِّتِ، فَبَعَثَهُ اللَّهُ إِلَيْهِمْ. وَكَانُوا يُعَدُّونَ مِنْ أَفْجَرِ النَّاسِ وَأَكْفَرِهِمْ، وَابْتَدَعُوا فَاحِشَةً لَمْ يَسْبِقْهُمْ بِهَا أَحَدٌ مِنَ الْعَالَمِينَ، وَهِيَ إِتْيَانُ الذُّكْرَانِ (فِعْلُ اللِّوَاطِ). قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ﴾ [الْأَعْرَافِ: ٨٠-٨١].
Luth adalah keponakan Ibrahim. Ia beriman kepada Ibrahim dan berhijrah bersamanya ke Syam.[1] Luth tinggal di kota Sodom, di sebelah selatan Laut Mati. Allah mengutusnya kepada penduduk kota itu. Mereka termasuk kaum yang sangat durhaka dan kafir. Mereka melakukan perbuatan keji yang belum pernah dilakukan kaum lain sebelumnya, yaitu mendatangi laki-laki dengan syahwat. Allah Ta‘ala berfirman, “(Kami juga telah mengutus) Luth ketika dia berkata kepada kaumnya, ‘Apakah kalian melakukan perbuatan keji yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun sebelum kalian di dunia ini? Sungguh, kalian mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) syahwat, bukan kepada perempuan. Kalian benar-benar kaum yang melampaui batas.’” (QS. Al-A‘raf: 80–81)
أَرْسَلَ اللَّهُ إِلَى لُوطٍ مَلَائِكَةً فِي هَيْئَةِ بَشَرٍ، فَهَرَعَ الْكُفَّارُ إِلَيْهِمْ يُرِيدُونَ الْفَاحِشَةَ بِهِمْ، فَصَدَّهُمْ لُوطٌ وَقَالَ: ﴿يَا قَوْمِ هَؤُلَاءِ بَنَاتِي هُنَّ أَطْهَرُ لَكُمْ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَلَا تُخْزُونِ فِي ضَيْفِي أَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَشِيدٌ﴾ [هُودٍ: ٧٨]. طَمْأَنَتْهُ الْمَلَائِكَةُ، وَأَمَرَتْهُ بِمُغَادَرَةِ الْبَلْدَةِ مَعَ أَهْلِهِ لَيْلًا لِيَنْزِلَ اللَّهُ بِهِمُ الْعَذَابَ صَبَاحًا. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ مَنْضُودٍ مُسَوَّمَةً عِنْدَ رَبِّكَ وَمَا هِيَ مِنَ الظَّالِمِينَ بِبَعِيدٍ﴾ [هُودٍ: ٨٢-٨٣].
Allah mengutus sejumlah malaikat kepada Luth dalam rupa manusia. Orang-orang kafir bergegas mendatangi mereka dengan maksud melakukan perbuatan keji. Luth menghalangi mereka dan berkata, “Wahai kaumku, inilah putri-putriku; mereka lebih suci bagi kalian. Bertakwalah kepada Allah dan janganlah kalian mencemarkan kehormatanku di hadapan tamuku. Apakah di antara kalian tidak ada orang yang berakal?” (QS. Hud: 78) Para malaikat menenangkan Luth dan memerintahkannya meninggalkan kota bersama keluarganya pada malam hari, sebelum azab Allah turun pada pagi hari. Allah berfirman, “Maka ketika keputusan Kami datang, Kami menjungkirbalikkan negeri kaum Luth dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar secara bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Rabbmu. Azab itu tidak jauh dari orang-orang zalim.” (QS. Hud: 82–83)
[1] Al-Bidāyah wa an-Nihāyah, Ibnu Katsir, jilid 1, hlm. 176.
عَوْدَةٌ إِلَى بَقِيَّةِ قِصَّةِ إِبْرَاهِيمَ — Kembali ke Lanjutan Kisah Ibrahim↥ Daftar isi
بَشَّرَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ بِوَلَدٍ مِنْ سَارَةَ، بَعْدَ إِسْمَاعِيلَ بِثَلَاثَ عَشْرَةَ سَنَةً. وَكَانَ إِبْرَاهِيمُ قَدْ بَلَغَ مِنَ الْعُمُرِ عِتِيًّا، وَعَاشَ مِائَةً وَخَمْسًا وَسَبْعِينَ سَنَةً، وَكَانَتْ زَوْجُهُ عَجُوزًا عَقِيمًا. وَجَاءَتِ الْبُشْرَى عَنْ طَرِيقِ الْمَلَائِكَةِ، وَهُمْ فِي طَرِيقِهِمْ إِلَى قَوْمِ لُوطٍ لِيُهْلِكُوهُمْ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِنْ وَرَاءِ إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ﴾ [هُودٍ: ٧١].
Allah memberi kabar gembira kepada Ibrahim tentang seorang anak dari Sarah, tiga belas tahun setelah kelahiran Ismail. Saat itu Ibrahim telah berusia lanjut. Ia hidup selama 175 tahun, sedangkan istrinya sudah tua dan mandul. Kabar gembira itu disampaikan oleh para malaikat ketika mereka sedang menuju kaum Luth untuk membinasakan mereka. Allah berfirman, “Maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan setelah Ishaq (akan lahir) Ya‘qub.” (QS. Hud: 71)
إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِمَا السَّلَامُ — Ishaq bin Ibrahim عليهما السلام↥ Daftar isi
هُوَ وَلَدُ إِبْرَاهِيمَ، وَقَدْ نَشَأَ فِي مِنْطَقَةِ الْخَلِيلِ، وَرُزِقَ بِ يَعْقُوبَ (وَهُوَ إِسْرَائِيلُ). عَاشَ مِائَةً وَثَمَانِينَ عَامًا، وَتَابَعَ دَعْوَةَ أَبِيهِ إِبْرَاهِيمَ بَعْدَ مَوْتِهِ.
Ishaq adalah putra Ibrahim. Ia tumbuh di kawasan al-Khalil dan dikaruniai Ya‘qub, yang juga dikenal sebagai Israil. Ishaq hidup selama 180 tahun dan melanjutkan dakwah ayahnya, Ibrahim, setelah wafatnya.[1]
[1] Qashash al-Anbiyā’, Ibnu Katsir, hlm. 196.
يَعْقُوبُ بْنُ إِسْحَاقَ عَلَيْهِمَا السَّلَامُ — Ya‘qub bin Ishaq عليهما السلام↥ Daftar isi
هُوَ وَلَدُ إِسْحَاقَ، وَقَدْ هَاجَرَ إِلَى حَرَّانَ شَمَالَ بِلَادِ الشَّامِ، وَتَزَوَّجَ هُنَاكَ. وَرَزَقَهُ اللَّهُ بِاثْنَيْ عَشَرَ وَلَدًا، مِنْهُمْ يُوسُفُ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَبِنْيَامِينُ، وَهُمَا شَقِيقَانِ. تَابَعَ دَعْوَةَ أَبِيهِ إِسْحَاقَ وَجَدِّهِ إِبْرَاهِيمَ إِلَى عِبَادَةِ اللَّهِ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ. وَعَاشَ مِائَةً وَسَبْعًا وَأَرْبَعِينَ سَنَةً.
Ya‘qub adalah putra Ishaq. Ia berhijrah ke Haran, di sebelah utara negeri Syam, dan menikah di sana. Allah menganugerahinya dua belas orang anak, di antaranya Yusuf dan Bunyamin, yang merupakan saudara sekandung. Ya‘qub melanjutkan dakwah ayahnya, Ishaq, dan kakeknya, Ibrahim, agar manusia hanya menyembah Allah tanpa mempersekutukan-Nya. Ia hidup selama 147 tahun.
يُوسُفُ بْنُ يَعْقُوبَ عَلَيْهِمَا السَّلَامُ وَانْتِقَالُ بَنِي إِسْرَائِيلَ إِلَى مِصْرَ — Yusuf bin Ya‘qub dan Perpindahan Bani Israil ke Mesir↥ Daftar isi
هُوَ يُوسُفُ بْنُ يَعْقُوبَ بْنِ إِسْحَاقَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ. كَانَ يَعْقُوبُ يُحِبُّ ابْنَيْهِ الصَّغِيرَيْنِ بِنْيَامِينَ وَيُوسُفَ أَكْثَرَ مِنْ غَيْرِهِمَا، عَطْفًا عَلَيْهِمَا لِوَفَاةِ أُمِّهِمَا رَاحِيلَ.
Yusuf adalah putra Ya‘qub bin Ishaq bin Ibrahim. Ya‘qub lebih menyayangi kedua putranya yang masih kecil, Bunyamin dan Yusuf, karena ibu mereka, Rahil, telah wafat.
وَحَدَثَتْ لِيُوسُفَ الْقِصَّةُ الْمَشْهُورَةُ، وَمُلَخَّصُهَا أَنَّ إِخْوَتَهُ حَسَدُوهُ لِحُبِّ أَبِيهِ لَهُ، فَقَرَّرُوا التَّخَلُّصَ مِنْهُ. أَرْسَلَهُ أَبُوهُ مَعَهُمْ بَعْدَ إِلْحَاحٍ شَدِيدٍ، فَخَرَجُوا بِهِ وَأَلْقَوْهُ فِي الْجُبِّ، وَعَادُوا إِلَى أَبِيهِمْ يَبْكُونَ، وَادَّعَوْا أَنَّ الذِّئْبَ أَكَلَهُ. مَرَّتْ قَافِلَةٌ مُتَّجِهَةٌ مِنَ الشَّامِ إِلَى مِصْرَ، فَاسْتَخْرَجَتْهُ وَأَخَذَتْهُ إِلَى مِصْرَ وَبَاعَتْهُ هُنَاكَ. وَاشْتَرَاهُ عَزِيزُ مِصْرَ وَرَبَّاهُ. وَشَبَّ يُوسُفُ وَكَانَ فِي غَايَةِ الْجَمَالِ وَالْبَهَاءِ، فَرَاوَدَتْهُ امْرَأَةُ الْعَزِيزِ عَنْ نَفْسِهِ فَامْتَنَعَ، ثُمَّ ادَّعَتْ أَنَّهُ رَاوَدَهَا عَنْ نَفْسِهَا.
Kisah Yusuf yang terkenal bermula ketika saudara-saudaranya dengki karena ayah mereka menyayanginya. Mereka memutuskan menyingkirkannya. Setelah ayahnya lama didesak, Yusuf diizinkan pergi bersama mereka. Mereka membawanya lalu melemparkannya ke dalam sumur. Mereka pulang kepada ayah mereka sambil menangis dan mengaku bahwa Yusuf dimakan serigala. Sebuah kafilah yang melakukan perjalanan dari Syam ke Mesir menemukan Yusuf, membawanya ke Mesir, lalu menjualnya di sana. Pejabat tinggi Mesir membelinya dan membesarkannya. Yusuf tumbuh menjadi pemuda yang sangat tampan. Istri pejabat itu merayunya, tetapi Yusuf menolak. Perempuan itu kemudian menuduh bahwa Yusuflah yang merayunya.
وَقَدِ اقْتَنَعُوا جَمِيعًا بِصِدْقِهِ وَكَذِبِهَا، وَمَعَ ذَلِكَ أَدْخَلُوهُ السِّجْنَ، وَبَقِيَ فِيهِ بِضْعَ سِنِينَ. وَأَخْرَجَهُ الْحَاكِمُ بَعْدَ أَنْ فَسَّرَ لَهُ الرُّؤْيَا الَّتِي رَآهَا، وَبَعْدَ أَنْ اعْتَرَفَتِ امْرَأَةُ الْعَزِيزِ بِذَنْبِهَا. وَرَأَى الْحَاكِمُ فِيهِ الْقُدْرَةَ عَلَى إِدَارَةِ الْأَعْمَالِ، فَوَلَّاهُ الْخَزَائِنَ وَالتَّصْدِيرَ، فَكَانَ يَبِيعُ الْقَمْحَ لِلْبِلَادِ الْمُجَاوِرَةِ الَّتِي كَانَتْ تُعَانِي مِنَ الْقَحْطِ وَالْجَدْبِ. وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى مَدَى الرَّخَاءِ وَالْخِصْبِ فِي أَرْضِ مِصْرَ فِي تِلْكَ الْفَتْرَةِ.
Semua orang akhirnya meyakini bahwa Yusuf berkata benar dan perempuan itu berdusta. Meskipun demikian, Yusuf dimasukkan ke penjara dan tinggal di sana beberapa tahun. Penguasa mengeluarkannya setelah Yusuf menafsirkan mimpi sang penguasa dan istri pejabat itu mengakui kesalahannya. Penguasa melihat kemampuan Yusuf dalam mengelola urusan, lalu mengangkatnya untuk mengurus perbendaharaan dan distribusi pangan. Yusuf menjual gandum kepada negeri-negeri tetangga yang mengalami paceklik. Hal ini menunjukkan kemakmuran dan kesuburan Mesir pada masa itu.
وَجَاءَتْ قَوَافِلُ الشَّامِ لِشِرَاءِ الْحُبُوبِ، وَكَانَ مَعَهُمْ إِخْوَةُ يُوسُفَ، فَعَرَفَهُمْ وَلَمْ يَعْرِفُوهُ. فَبَاعَهُمْ وَطَلَبَ مِنْهُمْ إِحْضَارَ أَخِيهِمْ فِي الْمَرَّةِ الْقَادِمَةِ. ثُمَّ عَادُوا وَأَخْبَرُوا أَبَاهُمْ، فَرَفَضَ، وَلَمْ يُوَافِقْ إِلَّا بَعْدَ إِلْحَاحٍ شَدِيدٍ. فَذَهَبُوا إِلَى مِصْرَ وَاشْتَرَوْا، وَأَثْنَاءَ عَوْدَتِهِمْ قُبِضَ عَلَيْهِمْ وَاتُّهِمُوا بِسَرِقَةِ صُوَاعِ الْمَلِكِ. وَفُتِّشُوا فَوُجِدَ فِي رَحْلِ بِنْيَامِينَ، فَأَخَذَهُ يُوسُفُ، وَكَانَ كُلُّ ذَلِكَ بِتَدْبِيرٍ مِنْهُ. وَعَادُوا فَأَخْبَرُوا أَبَاهُمْ، فَحَزِنَ حُزْنًا أَذْهَبَ بَصَرَهُ، وَأَمَرَهُمْ بِالْبَحْثِ عَنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ. ذَهَبُوا إِلَى مِصْرَ، فَعَرَفُوا يُوسُفَ وَعَفَا عَنْهُمْ، وَطَلَبَ مِنْهُمْ أَنْ يَعُودُوا وَيَأْتُوا بِأَهْلِهِمْ جَمِيعًا، فَفَعَلُوا. وَهَكَذَا انْتَقَلَ بَنُو إِسْرَائِيلَ إِلَى مِصْرَ، وَكَانَ عَدَدُهُمْ لَا يَزِيدُ عَلَى الْمِائَةِ، وَبَقُوا فِيهَا خَمْسَمِائَةِ عَامٍ، ثُمَّ غَادَرُوهَا مَعَ مُوسَى وَهُمْ أَكْثَرُ مِنْ أَلْفٍ وَسِتِّمِائَةِ رَجُلٍ عَدَا الذُّرِّيَّاتِ. وَقِصَّةُ يُوسُفَ بِتَمَامِهَا مَذْكُورَةٌ فِي الْقُرْآنِ فِي سُورَةِ يُوسُفَ.
Kafilah-kafilah dari Syam datang untuk membeli gandum. Saudara-saudara Yusuf turut datang; Yusuf mengenali mereka, sedangkan mereka tidak mengenalinya. Yusuf menjual gandum kepada mereka dan meminta mereka membawa saudara mereka pada kedatangan berikutnya. Mereka pulang dan menyampaikan permintaan itu kepada ayah mereka. Ya‘qub menolak, lalu menyetujuinya setelah mereka mendesaknya dengan sungguh-sungguh. Mereka pergi ke Mesir dan membeli gandum. Dalam perjalanan pulang, mereka ditahan dan dituduh mencuri piala penguasa. Setelah barang bawaan mereka diperiksa, piala itu ditemukan di dalam barang milik Bunyamin. Yusuf pun menahan Bunyamin; semua itu merupakan siasat Yusuf. Saudara-saudaranya pulang dan memberitahu ayah mereka. Ya‘qub sangat bersedih hingga penglihatannya hilang, lalu memerintahkan mereka mencari Yusuf dan saudaranya. Mereka kembali ke Mesir, mengenali Yusuf, dan Yusuf memaafkan mereka. Ia meminta mereka pulang dan membawa seluruh keluarga mereka. Mereka pun melakukannya. Demikianlah Bani Israil berpindah ke Mesir. Jumlah mereka tidak lebih dari seratus orang. Mereka tinggal di sana selama 500 tahun, kemudian keluar bersama Musa dengan jumlah lebih dari 1.600 laki-laki, belum termasuk keturunan mereka. Kisah Yusuf secara lengkap disebutkan dalam Surah Yusuf.
الْأَحْوَالُ فِي بِلَادِ الشَّامِ وَبَعْضُ أَنْبِيَاءِ وَحَضَارَاتِ هَذِهِ الْفَتْرَةِ — Keadaan Syam serta Sebagian Nabi dan Peradaban pada Masa Ini↥ Daftar isi
حَصَلَتْ هِجْرَاتٌ كَثِيرَةٌ إِلَى بِلَادِ الشَّامِ مِنَ الْعِرَاقِ أَوِ الْجَزِيرَةِ، وَتَوَزَّعَ الْمُهَاجِرُونَ فِي الْمَنَاطِقِ الْخَصْبَةِ. فَقَامَتِ الدَّوْلَةُ الْعَمُّورِيَّةُ فِي الْمَنَاطِقِ الشَّمَالِيَّةِ، وَقَامَتِ الدَّوْلَةُ الْفِينِيقِيَّةُ عَلَى سَوَاحِلِ الْبَحْرِ الْمُتَوَسِّطِ، وَالدَّوْلَةُ الْكَنْعَانِيَّةُ فِي فِلَسْطِينَ وَمَا حَوْلَهَا. وَلَقَدْ أَشْرَكُوا جَمِيعًا بِاللَّهِ وَعَبَدُوا الْأَصْنَامَ، فَأَرْسَلَ اللَّهُ إِلَيْهِمْ كَثِيرًا مِنَ الرُّسُلِ، فَلَمْ يَجِدُوا إِلَّا التَّكْذِيبَ وَالتَّمَادِيَ فِي الْكُفْرِ.
Banyak perpindahan penduduk terjadi ke negeri Syam dari Irak dan Jazirah Arab. Para pendatang menyebar di wilayah-wilayah yang subur. Kerajaan Amori berdiri di kawasan utara, kerajaan Fenisia di pesisir Laut Tengah, dan kerajaan Kanaan di Palestina serta sekitarnya. Mereka semua mempersekutukan Allah dan menyembah berhala. Allah mengutus banyak rasul kepada mereka, tetapi mereka hanya mendustakan para rasul dan terus-menerus dalam kekufuran.[1]
[1] Al-Bidāyah wa an-Nihāyah, Ibnu Katsir, jilid 1, hlm. 197.
أَيُّوبُ عَلَيْهِ السَّلَامُ — Ayyub عليه السلام↥ Daftar isi
أَرْسَلَهُ اللَّهُ إِلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ، وَكَانَ كَثِيرَ الْمَالِ وَالْأَهْلِ، فَسُلِبَ مِنْهُ ذَلِكَ، وَابْتُلِيَ فِي جَسَدِهِ بِأَنْوَاعِ الْبَلَاءِ. وَلَمْ يَبْقَ مِنْهُ عُضْوٌ سَلِيمٌ سِوَى قَلْبِهِ وَلِسَانِهِ يَذْكُرُ اللَّهَ بِهِمَا، وَتَخَلَّى عَنْهُ الْجَمِيعُ إِلَّا زَوْجَتَهُ، وَأُلْقِيَ فِي الْمَزَابِلِ خَارِجَ الْبَلْدَةِ. وَاسْتَمَرَّ ابْتِلَاؤُهُ ثَمَانِيَ عَشْرَةَ سَنَةً، وَكَانَ ذَلِكَ امْتِحَانًا وَابْتِلَاءً لَهُ مِنَ اللَّهِ. ثُمَّ شَفَاهُ اللَّهُ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَىٰ لِلْعَابِدِينَ﴾ [الْأَنْبِيَاءِ: ٨٣-٨٤]. وَاسْتَمَرَّ يَتَنَقَّلُ فِي شَمَالِ سُورِيَا يَدْعُو إِلَى عِبَادَةِ اللَّهِ.
Allah mengutus Ayyub kepada Bani Israil. Ia memiliki banyak harta dan keluarga, tetapi semuanya kemudian diambil darinya. Ia juga diuji dengan berbagai penyakit. Tidak ada bagian tubuhnya yang sehat selain hati dan lisannya untuk berzikir kepada Allah. Semua orang meninggalkannya kecuali istrinya. Ia dibuang ke tempat pembuangan di luar kota. Ujiannya berlangsung selama 18 tahun sebagai cobaan dari Allah, kemudian Allah menyembuhkannya. Allah Ta‘ala berfirman, “(Ingatlah) Ayyub ketika dia berdoa kepada Rabbnya, ‘Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Rabb Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.’ Maka Kami kabulkan doanya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya, Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan (Kami lipatgandakan jumlah mereka) sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi semua orang yang menyembah Kami.” (QS. Al-Anbiya’: 83–84) Ia terus berpindah di wilayah utara Syam sambil mengajak manusia menyembah Allah.
الْيَسَعُ عَلَيْهِ السَّلَامُ — Alyasa‘ عليه السلام↥ Daftar isi
هُوَ مِنْ أَنْبِيَاءِ بَنِي إِسْرَائِيلَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿وَاذْكُرْ إِسْمَاعِيلَ وَالْيَسَعَ وَذَا الْكِفْلِ وَكُلٌّ مِنَ الْأَخْيَارِ﴾ [ص: ٤٨].
Alyasa‘ termasuk nabi dari kalangan Bani Israil. Allah Ta‘ala berfirman, “Ingatlah Ismail, Alyasa‘, dan Zulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik.” (QS. Shad: 48)
يَاسِينَ عَلَيْهِ السَّلَامُ — Yasin عليه السلام↥ Daftar isi
بَعَثَهُ اللَّهُ لِأَهْلِ الشَّامِ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا أَصْحَابَ الْقَرْيَةِ إِذْ جَاءَهَا الْمُرْسَلُونَ إِذْ أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوا إِنَّا إِلَيْكُمْ مُرْسَلُونَ﴾ [يَس: ١٣-١٤].
Allah mengutus Yasin kepada penduduk Syam. Allah Ta‘ala berfirman, “Buatlah suatu perumpamaan bagi mereka, yaitu penduduk suatu negeri ketika para utusan datang kepadanya. (Yaitu) ketika Kami mengutus dua orang kepada mereka, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga. Mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.’” (QS. Yasin: 13–14)
إِلْيَاسُ عَلَيْهِ السَّلَامُ — Ilyas عليه السلام↥ Daftar isi
أَرْسَلَهُ اللَّهُ إِلَى بَعْضِ بِلَادِ الشَّامِ. وَتَذْكُرُ بَعْضُ الْمَصَادِرِ أَنَّهُ بُعِثَ إِلَى أَهْلِ بَعْلَبَكَّ وَلُبْنَانَ، وَكَانُوا يَعْبُدُونَ صَنَمًا اسْمُهُ بَعْلٌ، فَدَعَاهُمْ إِلَى عِبَادَةِ اللَّهِ فَكَذَّبُوهُ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿وَإِنَّ إِلْيَاسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَلَا تَتَّقُونَ أَتَدْعُونَ بَعْلًا وَتَذَرُونَ أَحْسَنَ الْخَالِقِينَ﴾ [الصَّافَّاتِ: ١٢٣-١٢٥].
Allah mengutus Ilyas ke sebagian wilayah Syam. Sebagian sumber menyebut ia diutus kepada penduduk Ba‘labak dan Lebanon. Mereka menyembah sebuah berhala bernama Ba‘l. Ilyas mengajak mereka menyembah Allah, tetapi mereka mendustakannya. Allah Ta‘ala berfirman, “Sesungguhnya Ilyas benar-benar termasuk salah seorang rasul. (Ingatlah) ketika dia berkata kepada kaumnya, ‘Mengapa kalian tidak bertakwa? Patutkah kalian menyembah Ba‘l dan meninggalkan sebaik-baik Pencipta?’” (QS. Ash-Shaffat: 123–125)
نُلَاحِظُ أَنَّ الْأَنْبِيَاءَ كَثِيرُونَ لِهَذِهِ الْأَقْوَامِ، وَلَا نَعْرِفُ إِلَّا بَعْضَهُمُ الْمَذْكُورِينَ فِي الْقُرْآنِ، كَمَا أَنَّ الْمُؤْمِنِينَ بِهِمْ كَانُوا قَلِيلِينَ جِدًّا.
Kita melihat bahwa para nabi yang diutus kepada kaum-kaum tersebut sangat banyak. Kita hanya mengetahui sebagian dari mereka yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Orang-orang yang beriman kepada para nabi itu pun sangat sedikit.
يُوشَعُ بْنُ نُونٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ — Yusya‘ bin Nun عليه السلام↥ Daftar isi
هُوَ الَّذِي قَادَ بَنِي إِسْرَائِيلَ بَعْدَ مُوسَى. وَيُعْتَقَدُ أَنَّهُ الْمَقْصُودُ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَاهُ﴾ [الْكَهْفِ: ٦٠]. وَكَانَ هَارُونُ عَلَيْهِ السَّلَامُ قَدْ تُوُفِّيَ، وَبَنُو إِسْرَائِيلَ مَا زَالُوا فِي التِّيهِ وَالضَّيَاعِ الَّذِي كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ فِي صَحْرَاءِ سِينَاءَ. وَتُوُفِّيَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ أَيْضًا فِي تِلْكَ الْفَتْرَةِ، وَقَدِ اسْتَمَرَّ التِّيهُ أَرْبَعِينَ عَامًا. وَسَتَأْتِي قِصَّةُ مُوسَى فِي مَوْضُوعِ مِصْرَ.
Yusya‘ bin Nun memimpin Bani Israil setelah Musa. Yusya‘ diyakini sebagai orang yang dimaksud dalam firman Allah, “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada pembantunya.” (QS. Al-Kahfi: 60) Harun عليه السلام telah wafat, sementara Bani Israil masih berada dalam kebingungan dan pengembaraan di Gurun Sinai yang ditetapkan Allah bagi mereka. Musa عليه السلام juga wafat pada masa itu. Masa pengembaraan tersebut berlangsung selama 40 tahun. Kisah Musa akan dibahas pada bagian tentang Mesir.
وَالْمُهِمُّ أَنَّ مَنْ بَقِيَ مِنْهُمْ خَرَجَ مَعَ يُوشَعَ، فَذَهَبُوا إِلَى بَيْتِ الْمَقْدِسِ. وَنَظَّمَ يُوشَعُ جَيْشًا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ، وَقَسَّمَهُ إِلَى اثْنَيْ عَشَرَ قِسْمًا حَسَبَ الْأَسْبَاطِ، أَبْنَاءِ يَعْقُوبَ (إِسْرَائِيلَ). وَاسْتَطَاعَ أَنْ يَفْتَحَ بِهِمْ أَرِيحَا، ثُمَّ بَيْتَ الْمَقْدِسِ. ثُمَّ لَبِثَ فِيهِمْ سَبْعًا وَعِشْرِينَ سَنَةً يَحْكُمُ بِكِتَابِ اللَّهِ، وَبَعْدَ مَوْتِهِ عَادُوا إِلَى ضَلَالِهِمْ وَفَسَادِهِمْ.
Orang-orang yang tersisa dari mereka keluar bersama Yusya‘ menuju Baitul Maqdis. Yusya‘ membentuk pasukan Bani Israil dan membaginya menjadi dua belas kelompok sesuai jumlah suku, yaitu anak-anak Ya‘qub (Israil). Dengan pasukan itu ia berhasil menaklukkan Ariha, kemudian Baitul Maqdis. Ia memimpin mereka selama 27 tahun dengan berhukum kepada Kitab Allah. Setelah ia wafat, mereka kembali kepada kesesatan dan kerusakan.
وَفِي هَذِهِ الْفَتْرَةِ جَاءَتْ جَمَاعَاتٌ أُخْرَى مِنْ جَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَاسْتَقَرُّوا فِي سُورِيَا، وَهُمُ الْآرَامِيُّونَ، وَأَسَّسُوا مَمَالِكَ قَوِيَّةً فِي دِمَشْقَ وَحَمَاةَ وَغَيْرِهِمَا. وَقَدْ عَبَدُوا الْأَصْنَامَ، وَمِنْ أَشْهَرِ أَصْنَامِهِمْ عَشْتَارُ وَأَدُونِيسُ.
Pada masa ini, kelompok-kelompok lain dari Jazirah Arab datang dan menetap di Suriah. Mereka adalah bangsa Aram. Mereka mendirikan kerajaan-kerajaan kuat di Damaskus, Hama, dan tempat lainnya. Mereka menyembah berhala. Berhala mereka yang terkenal antara lain Asytar dan Adonis.
حِزْقِيلُ بْنُ بُوذِيٍّ عَلَيْهِ السَّلَامُ — Hizqil bin Budzi عليه السلام↥ Daftar isi
تَوَلَّى أَمْرَ بَنِي إِسْرَائِيلَ بَعْدَ يُوشَعَ بْنِ نُونٍ، وَلَمْ يَطُلْ عَهْدُهُ. وَتَفَرَّقَتْ بَعْدَهُ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَضَعُفَ أَمْرُهُمْ، فَكَانُوا يُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ وَيَقْتُلُونَ أَنْبِيَاءَهُمْ. فَسَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمُ الْأَعْدَاءَ، وَبَدَّلَ الْأَنْبِيَاءَ بِمُلُوكٍ جَبَّارِينَ طُغَاةٍ، فَسَفَكُوا دِمَاءَهُمْ ظُلْمًا وَعَذَّبُوهُمْ. وَتَغَلَّبَ عَلَيْهِمْ أَهْلُ غَزَّةَ وَعَسْقَلَانَ، وَسَلَبُوا مِنْهُمُ التَّابُوتَ الْمُقَدَّسَ ـ الَّذِي يَحْتَوِي عَلَى رُفَاتِ يُوسُفَ عَلَيْهِ السَّلَامُ ـ. ثُمَّ انْقَطَعَتِ النُّبُوَّةُ فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ، وَانْقَسَمَتْ دَوْلَتُهُمْ، وَاسْتَمَرُّوا عَلَى ذَلِكَ نَحْوَ أَرْبَعِمِائَةِ عَامٍ، إِلَى أَنْ بَعَثَ اللَّهُ إِلَيْهِمْ بَعْدَ ذَلِكَ شَمْوِيلَ نَبِيًّا.
Hizqil mengurus Bani Israil setelah Yusya‘ bin Nun, tetapi masa kepemimpinannya tidak lama. Setelah itu Bani Israil berpencar dan kekuatan mereka melemah. Mereka membuat kerusakan di bumi dan membunuh nabi-nabi mereka. Allah lalu menjadikan musuh-musuh menguasai mereka. Para nabi digantikan oleh raja-raja yang sewenang-wenang dan melampaui batas. Mereka menumpahkan darah Bani Israil secara zalim dan menyiksa mereka. Penduduk Gaza dan Asqalan mengalahkan mereka serta merampas Tabut Suci, yang berisi jasad Yusuf عليه السلام. Setelah itu, kenabian di kalangan Bani Israil terputus dan kerajaan mereka terpecah. Keadaan ini berlangsung sekitar 400 tahun hingga Allah mengutus Syamwil sebagai nabi kepada mereka.
شَمْوِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ — Syamwil عليه السلام↥ Daftar isi
طَالَبَ بَنُو إِسْرَائِيلَ بِالْقِتَالِ، وَأَنْ يُعَيِّنَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ مَلِكًا لِيُقَاتِلُوا تَحْتَ قِيَادَتِهِ، فَاخْتَارَ لَهُمْ طَالُوتَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا قَالُوا أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِنَ الْمَالِ﴾ [الْبَقَرَةِ: ٢٤٧]. فَمَاطَلُوا فِي الْبِدَايَةِ لِفَقْرِ طَالُوتَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ آيَةَ مُلْكِهِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ آلُ مُوسَىٰ وَآلُ هَارُونَ تَحْمِلُهُ الْمَلَائِكَةُ﴾ [الْبَقَرَةِ: ٢٤٨]. فَلَمَّا تَحَقَّقَتْ تِلْكَ الْمُعْجِزَةُ انْصَاعُوا وَانْضَوَوْا تَحْتَ قِيَادَتِهِ.
Bani Israil meminta agar berperang dan nabi mereka mengangkat seorang raja untuk memimpin mereka. Syamwil memilih Thalut. Allah Ta‘ala berfirman, “Nabi mereka berkata kepada mereka, ‘Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.’ Mereka menjawab, ‘Bagaimana Thalut memperoleh kerajaan atas kami, sedangkan kami lebih berhak atas kerajaan itu daripadanya, dan dia tidak diberi kekayaan yang banyak?’” (QS. Al-Baqarah: 247) Pada awalnya mereka menunda-nunda karena Thalut miskin. Nabi mereka kemudian berkata, “Sesungguhnya tanda kerajaannya ialah datangnya Tabut kepadamu yang di dalamnya terdapat ketenangan dari Rabbmu dan sisa peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun yang dibawa oleh malaikat.” (QS. Al-Baqarah: 248) Setelah tanda itu terbukti, mereka tunduk dan bergabung di bawah kepemimpinannya.
وَحَدَثَ الْقِتَالُ بَيْنَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَالْعَمَالِقَةِ بِقِيَادَةِ جَالُوتَ فِي مَرْجِ الصُّفَّرِ جَنُوبَ دِمَشْقَ. وَاسْتَطَاعَ دَاوُودُ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَنْ يَقْتُلَ جَالُوتَ الْجَبَّارَ بِحِجَارَةٍ وَمِقْلَاعٍ فَقَطْ. وَكَانَ دَاوُودُ غُلَامًا حَدَثًا فِي جَيْشِ طَالُوتَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿وَلَمَّا بَرَزُوا لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالُوا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ فَهَزَمُوهُمْ بِإِذْنِ اللَّهِ وَقَتَلَ دَاوُودُ جَالُوتَ وَآتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَهُ مِمَّا يَشَاءُ﴾ [الْبَقَرَةِ: ٢٥٠-٢٥١].
Terjadi peperangan antara Bani Israil dan bangsa Amalek yang dipimpin Jalut di Marj ash-Shaffar, sebelah selatan Damaskus. Dawud عليه السلام berhasil membunuh Jalut yang perkasa hanya dengan batu dan ketapel. Saat itu Dawud masih seorang pemuda dalam pasukan Thalut. Allah Ta‘ala berfirman, “Ketika mereka maju menghadapi Jalut dan tentaranya, mereka berdoa, ‘Wahai Rabb kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, teguhkanlah langkah kami, dan tolonglah kami menghadapi kaum kafir.’ Maka mereka mengalahkan musuh dengan izin Allah, dan Dawud membunuh Jalut. Allah memberinya kerajaan dan hikmah serta mengajarinya apa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Baqarah: 250–251)
دَاوُودُ عَلَيْهِ السَّلَامُ — Dawud عليه السلام↥ Daftar isi
اشْتَهَرَ دَاوُودُ بَيْنَ قَوْمِهِ. وَكَانَ طَالُوتُ قَدْ وَعَدَ أَنَّ مَنْ يَقْتُلْ جَالُوتَ يُعْطِهِ نِصْفَ مُلْكِهِ وَيُزَوِّجْهُ ابْنَتَهُ، لِذَلِكَ اضْطُرَّ إِلَى أَنْ يَتَنَازَلَ عَنِ الْمُلْكِ لِدَاوُودَ وَيُزَوِّجَهُ ابْنَتَهُ. فَآتَاهُ اللَّهُ النُّبُوَّةَ إِضَافَةً إِلَى الْمُلْكِ، فَأَقَامَ شَرِيعَةَ اللَّهِ فِيهِمْ، وَأَنْزَلَ اللَّهُ عَلَيْهِ كِتَابَ الزَّبُورِ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُورًا﴾. وَأَكْرَمَهُ اللَّهُ بِمُعْجِزَاتٍ. قَالَ تَعَالَى: ﴿وَلَقَدْ آتَيْنَا دَاوُودَ مِنَّا فَضْلًا يَا جِبَالُ أَوِّبِي مَعَهُ وَالطَّيْرَ وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ﴾ [سَبَإٍ: ١٠]. وَكَانَ مُجَاهِدًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ، كَثِيرَ الْعِبَادَةِ، لَا يَأْكُلُ إِلَّا مِنْ عَمَلِ يَدِهِ، وَكَانَ عَمَلُهُ الْحِدَادَةَ. وَخَلَفَهُ فِي الْمُلْكِ وَالنُّبُوَّةِ ابْنُهُ سُلَيْمَانُ. وَكَانَتْ فَتْرَةُ دَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ فَتْرَةَ الرَّخَاءِ وَالِاسْتِقْرَارِ الْوَحِيدَةَ الَّتِي قُدِّرَ لِلشُّعُوبِ الْعِبْرَانِيَّةِ أَنْ تَعِيشَهَا عَلَى مَرِّ الدَّهْرِ كُلِّهِ، كَمَا يَذْكُرُ الْمُؤَلِّفُ نَقْلًا عَنْ وِلْز.
Dawud menjadi terkenal di tengah kaumnya. Thalut pernah berjanji bahwa siapa pun yang membunuh Jalut akan mendapat setengah kerajaannya dan menikahi putrinya. Karena itu, Thalut menyerahkan kerajaan kepada Dawud dan menikahkannya dengan putrinya. Allah menganugerahkan kenabian kepada Dawud selain kerajaan. Dawud menegakkan syariat Allah di tengah mereka, dan Allah menurunkan kitab Zabur kepadanya. Allah berfirman, “Kami telah memberikan Zabur kepada Dawud.” Allah juga memuliakannya dengan mukjizat. Allah berfirman, “Sungguh, Kami telah menganugerahkan karunia kepada Dawud. (Kami berfirman), ‘Wahai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang kali bersama Dawud,’ dan Kami telah melunakkan besi untuknya.” (QS. Saba’: 10) Dawud berjihad di jalan Allah dan banyak beribadah. Ia hanya makan dari hasil kerja tangannya sendiri, yaitu pekerjaan pandai besi. Putranya, Sulaiman, mewarisi kerajaan dan kenabiannya. Masa Dawud dan Sulaiman merupakan satu-satunya masa kemakmuran dan kestabilan yang dialami bangsa Ibrani sepanjang sejarah mereka.[1]
[1] Mūjaz Tārīkh al-‘Ālam, H. G. Wells, hlm. 92.
سُلَيْمَانُ عَلَيْهِ السَّلَامُ — Sulaiman عليه السلام↥ Daftar isi
تَابَعَ جِهَادَ وَالِدِهِ، وَوَصَلَ إِلَى دِمَشْقَ، وَأَخْضَعَ الْيَمَنَ وَحُكَّامَهَا مِنَ السَّبَئِيِّينَ، وَتَزَوَّجَ مَلِكَتَهُمْ بَلْقِيسَ. وَأَبْقَاهَا عَلَى الْيَمَنِ خَاضِعَةً لَهُ، وَقَدْ آمَنَتْ بِاللَّهِ مَعَ أَكْثَرِ قَوْمِهَا بَعْدَ أَنْ كَانُوا يَعْبُدُونَ الْكَوَاكِبَ وَالشَّمْسَ. وَمِنْ أَعْمَالِهِ تَجْدِيدُ بِنَاءِ الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى، الَّذِي شَيَّدَهُ يَعْقُوبُ أَوْ أَبُوهُ إِسْحَاقُ بَعْدَ بِنَاءِ الْكَعْبَةِ بِأَرْبَعِينَ عَامًا، كَمَا يَذْكُرُ الْمُؤَلِّفُ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿وَوَرِثَ سُلَيْمَانُ دَاوُودَ وَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ عُلِّمْنَا مَنْطِقَ الطَّيْرِ وَأُوتِينَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْفَضْلُ الْمُبِينُ﴾ [النَّمْلِ: ١٦].
Sulaiman melanjutkan jihad ayahnya dan mencapai Damaskus. Ia menundukkan Yaman dan para penguasanya dari bangsa Saba’, lalu menikahi ratu mereka, Bilqis. Yaman tetap berada di bawah kekuasaannya. Bilqis dan sebagian besar kaumnya beriman kepada Allah setelah sebelumnya menyembah matahari dan benda-benda langit. Di antara pekerjaannya adalah memperbarui pembangunan Masjidil Aqsha, yang dibangun Ya‘qub atau ayahnya, Ishaq, empat puluh tahun setelah Ka‘bah dibangun. Allah Ta‘ala berfirman, “Sulaiman mewarisi Dawud dan berkata, ‘Wahai manusia, kami telah diajari bahasa burung dan kami diberi segala sesuatu. Sungguh, semua ini benar-benar karunia yang nyata.’” (QS. An-Naml: 16)
وَدَعَا سُلَيْمَانُ رَبَّهُ فَقَالَ: ﴿رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي﴾ [ص: ٣٥]. فَاسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ، وَسَخَّرَ لَهُ الرِّيحَ وَالْإِنْسَ وَالْجِنَّ، وَعَلَّمَهُ لُغَةَ الْحَيَوَانِ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿فَسَخَّرْنَا لَهُ الرِّيحَ تَجْرِي بِأَمْرِهِ رُخَاءً حَيْثُ أَصَابَ وَالشَّيَاطِينَ كُلَّ بَنَّاءٍ وَغَوَّاصٍ وَآخَرِينَ مُقَرَّنِينَ فِي الْأَصْفَادِ﴾ [ص: ٣٦-٣٨]. اسْتَمَرَّ فِي مُلْكِهِ عِشْرِينَ عَامًا يُقِيمُ شَرِيعَةَ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ. وَبَعْدَ مَوْتِهِ خَلَفَهُ ابْنُهُ رَحْبَعَامُ، وَضَعُفَ بَنُو إِسْرَائِيلَ مِنْ بَعْدِهِ وَزَادَ فَسَادُهُمْ.
Sulaiman berdoa kepada Rabbnya, “Wahai Rabbku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapa pun setelahku.” (QS. Shad: 35) Allah mengabulkan doanya, menundukkan angin, manusia, dan jin baginya, serta mengajarinya bahasa hewan. Allah berfirman, “Maka Kami tundukkan angin untuknya; angin itu berembus dengan baik menurut perintahnya ke mana saja yang dikehendakinya. (Kami tundukkan pula) setan-setan, semuanya ahli bangunan dan penyelam, serta setan-setan lain yang terikat dalam belenggu.” (QS. Shad: 36–38) Sulaiman memimpin selama 20 tahun dengan menegakkan syariat Allah di bumi. Setelah ia wafat, putranya, Rehabeam, menggantikannya. Bani Israil kemudian melemah dan kerusakan mereka bertambah.
شَعْيَا بْنُ أَمَصْيَا عَلَيْهِ السَّلَامُ — Sya‘ya bin Amasya عليه السلام↥ Daftar isi
هُوَ مِنْ أَنْبِيَاءِ هَذِهِ الْفَتْرَةِ. وَقَدْ حَاوَلَ الْكَلْدَانِيُّونَ دُخُولَ بَيْتِ الْمَقْدِسِ بِقِيَادَةِ مَلِكِهِمْ سَنْحَارِيبَ، فَأَهْلَكَهُمُ اللَّهُ بِدُعَاءِ هَذَا النَّبِيِّ. فَلَمْ يَزْدَدِ الْيَهُودُ إِلَّا شَرًّا وَفَسَادًا، فَقَتَلُوا نَبِيَّهُمْ شَعْيَا، كَمَا يَرْوِي الْمُؤَلِّفُ.
Sya‘ya termasuk nabi pada masa ini. Bangsa Kasdim berusaha memasuki Baitul Maqdis di bawah pimpinan raja mereka, Sanherib. Allah membinasakan mereka berkat doa nabi ini. Namun, kaum Yahudi justru semakin bertambah jahat dan rusak, lalu membunuh nabi mereka, Sya‘ya.[1]
[1] Qashash al-Anbiyā’, Ibnu Katsir, hlm. 447.
بَعَثَ اللَّهُ بَعْدَهُ النَّبِيَّ أَرْمِيَا بْنَ حَلَقِيَا عَلَيْهِ السَّلَامُ وَغَيْرَهُ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ، فَاسْتَمَرَّ الْيَهُودُ فِي تَكْذِيبِ أَنْبِيَائِهِمْ وَقَتْلِهِمْ.
Setelahnya, Allah mengutus Nabi Armia bin Hilqiya عليه السلام dan nabi-nabi lainnya. Kaum Yahudi terus mendustakan dan membunuh nabi-nabi mereka.
مُلَاحَظَةٌ: الْأَحْدَاثُ وَالْأَسْمَاءُ الَّتِي لَمْ تَرِدْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ أَوِ الْحَدِيثِ النَّبَوِيِّ مَأْخُوذَةٌ مِنَ الْإِسْرَائِيلِيَّاتِ الْمُدَوَّنَةِ فِي قَصَصِ الْأَنْبِيَاءِ وَتَفْسِيرِ الْقُرْآنِ لِابْنِ كَثِيرٍ. وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «حَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَا حَرَجَ»، وَقَالَ: «مَا حَدَّثَكُمْ بِهِ أَهْلُ الْكِتَابِ فَلَا تُصَدِّقُوهُمْ وَلَا تُكَذِّبُوهُمْ» أَوْ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ.
Catatan: Peristiwa dan nama yang tidak disebutkan dalam Al-Qur’an atau hadis Nabi diambil dari riwayat Israiliyat yang dicantumkan dalam Qashash al-Anbiyā’ dan tafsir Al-Qur’an karya Ibnu Katsir. Nabi ﷺ bersabda, “Ceritakanlah berita dari Bani Israil dan tidak mengapa.”[1] Beliau juga bersabda, “Apa yang disampaikan Ahli Kitab kepada kalian, jangan langsung kalian benarkan dan jangan pula kalian dustakan.”[2]
[1] Diriwayatkan al-Bukhari, at-Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad. [2] Sunan Abi Dawud, jilid 2, hlm. 285.
خَرَابُ بَيْتِ الْمَقْدِسِ — Kehancuran Baitul Maqdis↥ Daftar isi
سَلَّطَ اللَّهُ عَلَى الْيَهُودِ الْمَلِكَ الْكَلْدَانِيَّ (الْبَابِلِيَّ) بُخْتَنَصَّرَ (نَبُوخَذْنَصَّرَ)، فَهَدَمَ بَيْتَ الْمَقْدِسِ وَقَتَلَهُمْ وَشَرَّدَهُمْ. وَمِنْ ذَلِكَ الزَّمَانِ تَفَرَّقَ بَنُو إِسْرَائِيلَ فِي الْأَرْضِ، وَسَكَنُوا الْحِجَازَ وَمِصْرَ وَغَيْرَهُمَا. بَعْدَهَا قَضَى الْفُرْسُ عَلَى الْكَلْدَانِيِّينَ، وَاسْتَوْلَوْا عَلَى الشَّامِ وَمِصْرَ.
Allah menjadikan Nebukadnezar, raja Kasdim (Babilonia), berkuasa atas kaum Yahudi. Ia menghancurkan Baitul Maqdis, membunuh, dan mengusir mereka. Sejak saat itu Bani Israil berpencar ke berbagai penjuru bumi dan menetap di Hijaz, Mesir, serta tempat lainnya. Setelah itu bangsa Persia mengalahkan bangsa Kasdim dan menguasai Syam serta Mesir.
وُصُولُ الْعُمْرَانِ إِلَى أُورُوبَّا — Perpindahan Permukiman ke Eropa↥ Daftar isi
تَنَقَّلَ النَّاسُ مِنَ الشَّامِ بِاتِّجَاهِ الْأَنَاضُولِ وَجَنُوبِ أُورُوبَّا الْمُشْرِفِ عَلَى الْبَحْرِ الْمُتَوَسِّطِ، ثُمَّ امْتَدَّتِ الْهِجْرَاتُ إِلَى شَمَالِ أُورُوبَّا. وَكَانَتْ أَكْثَرُ الْجِهَاتِ عُمْرَانًا مِنْطَقَةَ الْبَلْقَانِ وَإِيطَالِيَا، وَقَدْ أَسَّسُوا حُكُومَاتٍ قَوِيَّةً هُنَاكَ، كَانَ أَبْرَزُهَا حَضَارَةُ الْإِغْرِيقِ ثُمَّ الرُّومَانِ.
Penduduk berpindah dari Syam menuju Anatolia dan Eropa bagian selatan yang menghadap Laut Tengah. Perpindahan itu kemudian meluas ke Eropa utara. Kawasan yang paling ramai dihuni adalah wilayah Balkan dan Italia. Mereka mendirikan pemerintahan-pemerintahan kuat di sana, yang paling menonjol adalah peradaban Yunani, lalu Romawi.
عَوْدَةٌ إِلَى بَقِيَّةِ تَارِيخِ بَنِي إِسْرَائِيلَ — Lanjutan Sejarah Bani Israil↥ Daftar isi
ضَعُفَ الْكَلْدَانِيُّونَ بَعْدَ مَوْتِ بُخْتَنَصَّرَ، فَعَادَ بَنُو إِسْرَائِيلَ إِلَى بَيْتِ الْمَقْدِسِ وَعَمَرُوهُ. وَلَكِنَّهُمْ بَقُوا ضُعَفَاءَ بِسَبَبِ تَكْذِيبِهِمْ وَقَتْلِهِمْ أَنْبِيَاءَهُمْ وَانْتِشَارِ الْمُنْكَرِ بَيْنَهُمْ، فَخَضَعُوا وَذَلُّوا لِلْفُرْسِ، ثُمَّ لِلْإِغْرِيقِ، ثُمَّ لِلرُّومَانِ.
Bangsa Kasdim melemah setelah Nebukadnezar wafat. Bani Israil kembali ke Baitul Maqdis dan membangunnya kembali. Namun, mereka tetap lemah karena mendustakan dan membunuh nabi-nabi serta tersebarnya kemungkaran di tengah mereka. Mereka pun tunduk kepada bangsa Persia, kemudian Yunani, lalu Romawi.
زَكَرِيَّا وَابْنُهُ يَحْيَى عَلَيْهِمَا السَّلَامُ — Zakariya dan Putranya, Yahya عليهما السلام↥ Daftar isi
هُمَا مِنْ أَوَاخِرِ أَنْبِيَاءِ بَنِي إِسْرَائِيلَ، وَلَمْ يَجِدَا مِنْ قَوْمِهِمَا إِلَّا التَّمَادِيَ فِي الطُّغْيَانِ وَالضَّلَالَةِ. وَاسْتَمَرَّا فِي الدَّعْوَةِ إِلَى اللَّهِ حَتَّى كَانَ مَقْتَلُهُمَا عَلَى أَيْدِيهِمْ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَىٰ لَمْ نَجْعَلْ لَهُ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا﴾ [مَرْيَمَ: ٧]. وَقَالَ تَعَالَى: ﴿وَزَكَرِيَّا وَيَحْيَىٰ وَعِيسَىٰ وَإِلْيَاسَ كُلٌّ مِنَ الصَّالِحِينَ﴾ [الْأَنْعَامِ: ٨٥].
Zakariya dan Yahya termasuk nabi-nabi terakhir dari Bani Israil. Mereka tidak mendapati dari kaum mereka kecuali sikap yang semakin melampaui batas dan sesat. Keduanya terus berdakwah kepada Allah hingga dibunuh oleh kaum mereka. Allah Ta‘ala berfirman, “Wahai Zakariya, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu tentang seorang anak laki-laki yang namanya Yahya. Kami belum pernah memberikan nama seperti itu sebelumnya.” (QS. Maryam: 7) Allah juga berfirman, “Zakariya, Yahya, Isa, dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al-An‘am: 85)
عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ — Isa عليه السلام↥ Daftar isi
هُوَ آخِرُ أَنْبِيَاءِ بَنِي إِسْرَائِيلَ. وُلِدَ فِي بَيْتِ لَحْمٍ بِفِلَسْطِينَ، وَوَالِدَتُهُ مَرْيَمُ الْعَذْرَاءُ، الَّتِي تَرَبَّتْ فِي بَيْتِ النَّبِيِّ زَكَرِيَّا، زَوْجِ خَالَتِهَا، وَعُرِفَتْ بِالْعِفَّةِ وَالطَّهَارَةِ. وَحَمَلَتْ بِهِ مِنْ غَيْرِ أَبٍ بِإِذْنِ اللَّهِ. فَكَانَتِ الْمُفَاجَأَةُ مُخِيفَةً لَهَا، وَاتَّهَمَهَا قَوْمُهَا فِي عِفَّتِهَا، فَأَشَارَتْ إِلَيْهِ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿فَأَتَتْ بِهِ قَوْمَهَا تَحْمِلُهُ قَالُوا يَا مَرْيَمُ لَقَدْ جِئْتِ شَيْئًا فَرِيًّا يَا أُخْتَ هَارُونَ مَا كَانَ أَبُوكِ امْرَأَ سَوْءٍ وَمَا كَانَتْ أُمُّكِ بَغِيًّا فَأَشَارَتْ إِلَيْهِ قَالُوا كَيْفَ نُكَلِّمُ مَنْ كَانَ فِي الْمَهْدِ صَبِيًّا قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا﴾ [مَرْيَمَ: ٢٧-٣١].
Isa adalah nabi terakhir dari Bani Israil. Ia lahir di Betlehem, Palestina. Ibunya adalah Maryam al-‘Adzra’, yang tumbuh di rumah Nabi Zakariya, suami bibinya. Maryam dikenal menjaga kehormatan diri dan suci. Dengan izin Allah, ia mengandung tanpa ayah. Peristiwa itu mengejutkannya dan kaumnya menuduhnya tidak menjaga kehormatan. Maryam menunjuk kepada Isa. Allah Ta‘ala berfirman, “Kemudian dia membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Mereka berkata, ‘Wahai Maryam, sungguh, engkau telah membawa sesuatu yang sangat mungkar. Wahai saudara perempuan Harun, ayahmu bukan seorang yang buruk dan ibumu bukan seorang pezina.’ Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata, ‘Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam buaian?’ Dia (Isa) berkata, ‘Sesungguhnya aku hamba Allah. Dia memberiku Kitab (Injil) dan menjadikanku seorang nabi. Dia menjadikanku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada dan memerintahkanku (melaksanakan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup.’” (QS. Maryam: 27–31).[1]
[1] Kisah ini terdapat dalam Surah Maryam.
أَقَامَ عِيسَى فِي النَّاصِرَةِ بِفِلَسْطِينَ، وَأَخَذَ يَدْعُو إِلَى عِبَادَةِ اللَّهِ. وَآتَاهُ اللَّهُ كِتَابَ الْإِنْجِيلِ، وَكَانَ يَعِظُ كُلَّ مَنْ يَلْتَقِي بِهِ. وَمِنْ مُعْجِزَاتِهِ شِفَاءُ الْمَرْضَى وَإِبْرَاءُ الْأَكْمَهِ وَالْأَبْرَصِ وَإِحْيَاءُ الْمَوْتَى بِإِذْنِ اللَّهِ. وَلَازَمَهُ الْحَوَارِيُّونَ فِي الدَّعْوَةِ، وَقَدْ أَرْسَلَ مَجْمُوعَاتٍ مِنْهُمْ إِلَى بَقِيَّةِ بِلَادِ الشَّامِ لِلدَّعْوَةِ. وَتَآمَرَ بَنُو إِسْرَائِيلَ عَلَى قَتْلِهِ، فَسَلَّمُوهُ إِلَى حَاكِمِ فِلَسْطِينَ الرُّومَانِيِّ بِيلاطُسَ، فَأَرَادَ الْقَضَاءَ عَلَيْهِ صَلْبًا، وَلَكِنَّ اللَّهَ نَجَّاهُ، حَيْثُ شُبِّهَ لَهُمْ بِغَيْرِهِ، وَرَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ.
Isa tinggal di Nazaret, Palestina, dan mengajak manusia menyembah Allah. Allah memberinya kitab Injil. Isa menasihati setiap orang yang ditemuinya. Di antara mukjizatnya adalah menyembuhkan orang sakit, menyembuhkan orang yang terlahir buta dan penderita kusta, serta menghidupkan orang mati dengan izin Allah. Para hawariyyun menyertainya dalam berdakwah. Isa mengirim beberapa kelompok dari mereka ke wilayah Syam lainnya untuk berdakwah. Bani Israil bersekongkol untuk membunuhnya dan menyerahkannya kepada penguasa Romawi di Palestina, Pilatus. Penguasa itu hendak membunuh Isa dengan menyalibnya, tetapi Allah menyelamatkannya. Isa diserupakan bagi mereka dengan orang lain, lalu Allah mengangkatnya kepada-Nya.
نَكَّلَ قَيَاصِرَةُ الرُّومِ، وَمَعَهُمْ بَنُو إِسْرَائِيلَ، بِأَتْبَاعِ السَّيِّدِ الْمَسِيحِ، فَضَعُفَ أَمْرُهُمْ كَثِيرًا. وَزَادَ الْأَذَى فِي عَهْدِ نِيرُونَ، الَّذِي اتَّهَمَهُمْ بِإِحْرَاقِ رُومَا حَوَالَيْ عَامِ ٥٥٨ ق.م / ٨٠م. هَاجَرَ قِسْمٌ مِنْهُمْ إِلَى الْحِجَازِ وَمَا حَوْلَهُ، ثُمَّ أَخَذَتِ النَّصْرَانِيَّةُ تَنْتَشِرُ حَتَّى أَصْبَحَتْ دِيَانَةَ الدَّوْلَةِ الرُّومَانِيَّةِ.
Kaisar-kaisar Romawi dan Bani Israil menindas para pengikut Al-Masih sehingga kekuatan mereka sangat melemah. Penindasan bertambah pada masa Nero, yang menuduh mereka membakar kota Roma sekitar tahun 558 SM/80 M. Sebagian dari mereka berhijrah ke Hijaz dan sekitarnya. Kemudian agama Nasrani terus menyebar hingga menjadi agama resmi negara Romawi.[2]
[2] Mahmud Syakir, at-Tārīkh al-Islāmī qabla al-Bi‘thah.