KETIKA HARI RAYA BERTEPATAN DENGAN HARI JUM’AT

KETIKA HARI RAYA BERTEPATAN DENGAN HARI JUM’AT
Abdullah bin Abduh bin Ali bin al Kariri asy Syarifi
Makkah Al-Mukarramah
Tanggal: 30 / 9 / 1447 H
Tanggal: 19 / 3 / 2026 M
Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda:
«قَدِ اجْتَمَعَ فِي يَوْمِكُمْ هَذَا عِيدَانِ، فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ، وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ»
“Telah berkumpul pada hari kalian ini dua hari raya. Maka barang siapa di antara kalian yang mau, maka shalat ‘Id sudah mencukupinya dari kewajiban shalat Jumat. Dan sesungguhnya kami tetap akan melaksanakan (shalat Jumat), insyaAllah.”
(HR. Abu Dawud no. 1073 dan Ibnu Majah no. 1311, dishahihkan oleh Al-Albani)
Telah banyak pertanyaan tentang jika hari raya bertepatan dengan hari Jumat, sehingga berkumpul dua hari raya:
Idul Fitri atau Idul Adha dengan hari Jumat.
Apakah wajib shalat Jumat bagi orang yang telah menghadiri shalat ‘Id, ataukah cukup dengan shalat ‘Id saja, lalu ia mengganti Jumat dengan shalat Zuhur di masjid atau tidak?
Dalam masalah ini terdapat beberapa hadits marfu’ (sampai kepada Nabi ﷺ) dan atsar (riwayat sahabat), di antaranya:
1. Hadits Zaid bin Arqam radliallahu ‘anhu
Bahwa Mu’awiyah bin Abi Sufyan radliallahu ‘anhu bertanya kepadanya:
سَأَلَ مُعَاوِيَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ: أَشَهِدْتَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ عِيدَيْنِ اجْتَمَعَا فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ؟
قَالَ: نَعَمْ.
قَالَ: فَكَيْفَ صَنَعَ؟
قَالَ:
«صَلَّى الْعِيدَ، ثُمَّ رَخَّصَ فِي الْجُمُعَةِ، فَقَالَ: مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُصَلِّ»
“Apakah engkau pernah menyaksikan dua hari raya berkumpul dalam satu hari bersama Nabi ﷺ?”
Ia menjawab: “Ya.”
Mu’awiyah bertanya: “Bagaimana beliau melakukannya?”
Ia menjawab:
“Beliau melaksanakan shalat ‘Id, kemudian memberikan keringanan dalam shalat Jumat, lalu bersabda:
‘Barang siapa yang ingin shalat (Jumat), maka hendaklah ia shalat.’”
(HR. Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah; dishahihkan oleh Al-Albani)
2. Dan penguat (syahid) yang disebutkan adalah Hadits Abu Hurairah radliallahu ‘anhu
Bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
«قَدِ اجْتَمَعَ فِي يَوْمِكُمْ هَذَا عِيدَانِ، فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ، وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ»
“Telah berkumpul pada hari kalian ini dua hari raya. Maka barang siapa di antara kalian yang mau, maka shalat ‘Id sudah mencukupinya dari (kewajiban) Jumat. Dan kami tetap akan melaksanakan (shalat Jumat), insyaAllah.”
(HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah; dishahihkan oleh Al-Albani)
3. Hadits Ibnu Umar radliallahu ‘anhuma
Beliau berkata:
«اجْتَمَعَ عِيدَانِ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، فَصَلَّى بِالنَّاسِ، ثُمَّ قَالَ: مَنْ شَاءَ أَنْ يَأْتِيَ الْجُمُعَةَ فَلْيَأْتِهَا، وَمَنْ شَاءَ أَنْ يَتَخَلَّفَ فَلْيَتَخَلَّفْ»
“Telah berkumpul dua hari raya pada masa Rasulullah ﷺ. Maka beliau shalat ‘Id bersama manusia, kemudian bersabda:
‘Barang siapa yang ingin datang ke shalat Jumat maka hendaklah ia datang, dan barang siapa yang ingin tidak hadir maka boleh tidak hadir.’”
(HR. Ibnu Majah dan Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir)
Dalam riwayat lain dengan lafazh:
«اجْتَمَعَ عِيدَانِ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فِي يَوْمِ فِطْرٍ وَجُمُعَةٍ، فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ صَلَاةَ الْعِيدِ، ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْهِمْ بِوَجْهِهِ فَقَالَ:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّكُمْ قَدْ أَصَبْتُمْ خَيْرًا وَأَجْرًا، وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ، فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يُجَمِّعَ فَلْيُجَمِّعْ، وَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى أَهْلِهِ فَلْيَرْجِعْ»
“Telah berkumpul dua hari raya pada masa Rasulullah ﷺ. Hari itu adalah hari Idul Fitri sekaligus hari Jumat. Maka beliau melaksanakan shalat ‘Id, kemudian menghadap kepada para sahabat dengan wajahnya lalu bersabda:
‘Wahai manusia, sesungguhnya kalian telah mendapatkan kebaikan dan pahala. Dan sesungguhnya kami tetap akan melaksanakan (shalat Jumat). Maka barang siapa yang ingin menghadirinya (shalat Jumat), hendaklah ia hadir. Dan barang siapa yang ingin kembali kepada keluarganya, maka silakan ia kembali.’”
Dari ‘Atha’ bin Abi Rabah rahimahullāh, ia berkata:
«صَلَّى بِنَا ابْنُ الزُّبَيْرِ فِي يَوْمِ عِيدٍ فِي يَوْمِ جُمُعَةٍ أَوَّلَ النَّهَارِ، ثُمَّ رُحْنَا إِلَى الْجُمُعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْنَا»
“Ibnu Az-Zubair pernah mengimami kami shalat pada hari ‘Id yang bertepatan dengan hari Jumat di awal siang. Kemudian kami pergi untuk menghadiri shalat Jumat, namun beliau tidak keluar (untuk melaksanakannya), maka kami shalat Jum’at, setelah beliau datang kita beritahukan kejadiannya, dan beliau berkata:
«أَصَابَ السُّنَّةَ»
“Ia telah sesuai dengan sunnah.”
(Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dengan lafazh lain, dan oleh Abu Dawud)
Dan dalam riwayat lain ditambahkan:
“Aku pernah melihat Umar bin Al-Khattab radliallahu ‘anhuma melakukan seperti ini.”
5. Atsar dari Abu ‘Ubaid rahimahullāh
Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muwaththa Imam Malik, dari Abu ‘Ubaid maula Ibnu Azhar, ia berkata:
«شَهِدْتُ الْعِيدَ مَعَ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رضي الله عنه، وَكَانَ ذَلِكَ فِي يَوْمِ جُمُعَةٍ، فَصَلَّى، ثُمَّ انْصَرَفَ فَخَطَبَ، فَقَالَ: إِنَّهُ قَدِ اجْتَمَعَ لَكُمْ فِي يَوْمِكُمْ هَذَا عِيدَانِ، فَمَنْ أَحَبَّ مِنْ أَهْلِ الْعَالِيَةِ أَنْ يَنْتَظِرَ الْجُمُعَةَ فَلْيَنْتَظِرْهَا، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَرْجِعَ فَقَدْ أَذِنْتُ لَهُ»
“Aku pernah menghadiri hari ‘Id bersama Utsman bin ‘Affan radliallahu ‘anhu, dan hari itu bertepatan dengan hari Jumat. Maka beliau shalat (Id), kemudian selesai, lalu berkhutbah dan berkata:
‘Sesungguhnya telah berkumpul pada hari kalian ini dua hari raya. Maka siapa yang ingin menunggu shalat Jumat, silakan menunggunya. Dan siapa yang ingin kembali (ke rumahnya), maka aku telah mengizinkannya (yakni penduduk daerah sekitar Madinah).’”
6. Atsar dari Ali bin Abi Thalib radliallahu ‘anhu
Diriwayatkan bahwa beliau berkata:
«إِذَا اجْتَمَعَ عِيدَانِ فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ، فَمَنْ شَاءَ أَنْ يُجَمِّعَ فَلْيُجَمِّعْ، وَمَنْ شَاءَ أَنْ يَجْلِسَ فَلْيَجْلِسْ».
“Apabila berkumpul dua hari raya dalam satu hari, maka barang siapa yang ingin menghadiri Jumat hendaklah ia menghadirinya, dan barang siapa yang ingin duduk (tidak menghadiri), maka silakan ia duduk (di rumahnya).”
Kesimpulan hukum dari dalil-dalil tersebut:
Berdasarkan hadits-hadits marfu’ (dari Nabi ﷺ) dan atsar para sahabat, serta pendapat mayoritas ulama, maka dijelaskan hukum sebagai berikut:
Pertama:
Orang yang telah menghadiri shalat ‘Id, maka diberi keringanan untuk tidak menghadiri shalat Jumat, dan ia menggantinya dengan shalat Zuhur pada waktunya. Namun jika ia tetap menghadiri Jumat bersama kaum muslimin, maka itu lebih utama.
Kedua:
Orang yang tidak menghadiri shalat ‘Id, maka tidak mendapatkan keringanan. Oleh karena itu, kewajiban shalat Jumat tetap berlaku baginya, dan ia wajib berangkat ke masjid untuk melaksanakannya. Jika tidak terpenuhi jumlah untuk Jumat, maka diganti dengan shalat Zuhur.
Ketiga:
Imam masjid tetap wajib menegakkan shalat Jumat pada hari tersebut, agar dapat dihadiri oleh orang yang ingin menghadirinya, atau yang tidak menghadiri shalat ‘Id, selama terpenuhi jumlah minimal jamaah. Jika tidak, maka dilaksanakan shalat Zuhur.
Keempat:
Orang yang telah menghadiri shalat ‘Id dan mengambil rukhsah (keringanan) untuk tidak menghadiri Jumat, maka ia tetap wajib shalat Zuhur setelah masuk waktunya.
Kelima:
Tidak disyariatkan adzan untuk shalat Zuhur pada hari itu, kecuali di masjid yang memang menyelenggarakan shalat Jumat.
Keenam:
Pendapat yang mengatakan bahwa orang yang telah menghadiri shalat ‘Id gugur darinya kewajiban shalat Jumat dan Zuhur sekaligus adalah pendapat yang tidak benar. Para ulama menganggapnya sebagai pendapat yang keliru dan menyelisihi sunnah, karena menggugurkan kewajiban tanpa dalil, dan kemungkinan orang yang berpendapat demikian belum sampai kepadanya sunnah-sunnah dan atsar-atsar dalam masalah ini yang memberikan keringanan bagi orang yang telah menghadiri shalat ‘Id untuk tidak menghadiri shalat Jumat, namun tetap wajib baginya shalat Zuhur. Dan Allah Ta‘ala lebih mengetahui.
Oleh karena itu, riwayat pertama yang dijadikan hujjah oleh sebagian orang bahwa Ibnu Az-Zubair menggugurkan shalat Zuhur, tidak menunjukkan hal tersebut.
Ash Shan’ani rahimahullāh berkata:
«ولا يخفى أن عطاءً أخبر أنه لم يخرج ابن الزبير لصلاة الجمعة، وليس ذلك بنصٍّ قاطعٍ على أنه لم يصلِّ الظهر في منزله، فاللازم بأن مذهب ابن الزبير سقوط صلاة الظهر في يوم الجمعة إذا وافق العيد غير صحيح؛ لاحتمال أنه صلّى الظهر في منزله، بل في قول عطاء أنهم صلّوا ما يشعر بأنه لا قائل بسقوطه، ولا يقال إن مراده صلّوا الجمعة وحداناً؛ فإنها لا تصح إلا جماعةً إجماعاً»
Dan tidak tersembunyi bahwa ‘Atha’ hanya mengabarkan bahwa Ibnu Az-Zubair tidak keluar untuk shalat Jumat. Namun ini bukan dalil tegas bahwa beliau tidak shalat Zuhur di rumahnya. Maka menyimpulkan bahwa madzhab Ibnu Az-Zubair adalah menggugurkan shalat Zuhur bagi orang yang telah shalat ‘Id adalah kesimpulan yang tidak benar. Karena sangat mungkin beliau shalat Zuhur di rumahnya.
Bahkan dalam ucapan ‘Atha’ terdapat isyarat bahwa mereka tetap shalat Zuhur. Sebab tidak mungkin dipahami bahwa mereka hanya shalat Jumat sendirian, karena shalat Jumat tidak sah kecuali dengan berjamaah menurut ijma’.
(Sumber: Subul As-Salam, 2/53)
Bahkan Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dengan sanadnya dari ‘Atha’, ia berkata:
«اجتمع عيدان في عهد ابن الزبير، فصلّى بهم العيد، ثم صلّى بهم الظهر أربعاً»
“Ketika dua hari raya berkumpul pada masa Ibnu Az-Zubair, beliau mengimami kami shalat ‘Id, kemudian beliau juga shalat bersama kami shalat Zuhur empat rakaat.”
(Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, 2/187, sanadnya shahih)
Syaikh Mahmud Khattab As-Subki berkata:
«قوله: صلّى بنا ابن الزبير، أي صلّى بنا عبد الله بن الزبير صلاة العيد في يوم جمعة أول النهار، ثم لم يخرج إلى صلاة الجمعة، فصلّينا وحداناً، يعني صلّوا الظهر منفردين لا الجمعة؛ لأنها لا تصح إلا في جماعة كما تقدّم، ولما حكاه النووي من الإجماع على أنها لا تصح إلا في جماعة»
Makna ucapan “Ibnu Az-Zubair mengimami kami” adalah: beliau mengimami kami shalat ‘Id pada hari Jumat di awal siang, kemudian beliau tidak keluar untuk shalat Jumat. Maka kami pun shalat sendiri-sendiri, maksudnya mereka shalat Zuhur secara individu, bukan shalat Jumat, karena shalat Jumat tidak sah kecuali dengan berjamaah sebagaimana telah dijelaskan.
Dan telah dinukil oleh An-Nawawi adanya ijma’ bahwa shalat Jumat tidak sah kecuali dengan berjamaah dan merupakan kewajiban atas setiap muslim secara berjamaah.
(Al-Manhal Al-‘Adzb Al-Maurud, 6/221)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullāh menjelaskan dalam masalah berkumpulnya ‘Id dan Jumat bahwa para ulama memiliki tiga pendapat. Setelah menyebutkan dua pendapat pertama, beliau berkata:
«والصحيح أن من شهد العيد سقطت عنه الجمعة، لكن على الإمام أن يقيم الجمعة ليشهدها من شاء شهودها ومن لم يشهد العيد».
“Pendapat yang benar adalah: barang siapa yang telah menghadiri shalat ‘Id, maka gugur darinya kewajiban shalat Jumat. Akan tetapi imam tetap wajib menegakkan shalat Jumat agar dihadiri oleh orang yang ingin menghadirinya dan oleh orang yang tidak menghadiri shalat ‘Id.”
Dan beliau menegaskan bahwa pendapat ini diriwayatkan dari Nabi ﷺ dan para sahabat seperti Umar, Utsman, Ibnu Mas‘ud, Ibnu Abbas, Ibnu Az-Zubair, dan lainnya.
Beliau juga menjelaskan:
«فإنه إذا شهد العيد حصل مقصود الاجتماع، ثم إنه يصلّي الظهر إذا لم يشهد الجمعة، فتكون الظهر في وقتها».
“Apabila seseorang telah menghadiri shalat ‘Id, maka telah tercapai salah satu tujuan dari Jumat, yaitu berkumpulnya manusia. Namun tetap wajib baginya shalat Zuhur jika ia tidak menghadiri shalat Jumat.”
(Majmu‘ Al-Fatawa, 24/211)
Adapun kesimpulan masalah ini:
Jika berkumpul hari ‘Id dan Jumat, maka yang lebih utama bagi orang yang telah shalat ‘Id adalah tetap menghadiri shalat Jumat sebagai bentuk keluar dari khilaf. Namun jika ia tidak menghadirinya, maka wajib baginya shalat Zuhur.
Dan tidak benar pendapat yang mengatakan gugurnya shalat Zuhur. Bahkan pendapat tersebut jelas batil, dan tidak ada pegangan dalil yang kuat bagi orang yang berpendapat demikian dari riwayat Ibnu Az-Zubair maupun ‘Atha’.
Karena hal itu bertentangan dengan dalil-dalil yang kuat dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah ﷺ.
وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ، وَعَلَيْهِ التُّكْلَانُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ
“Dan dengan (pertolongan) Allah-lah taufik, kepada-Nya tempat bersandar (bertawakkal), dan tidak ada daya serta tidak ada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.”



