Janji: Surga Bag 3

8) Jumlah Pintunya Ada Delapan
Berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
“Surga itu memiliki delapan pintu.” (hadis hasan sebagaimana dalam Shahih al-Jāmi‘ al-Shaghir no. 3119).
Adapun tentang luasnya pintu-pintu itu, keadaannya seperti seluruh perkara yang ada di surga: tidak terlintas dalam benak manusia. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya jarak antara dua daun pintu dari pintu-pintu surga adalah sejauh perjalanan empat puluh tahun, dan sungguh akan datang satu hari ketika pintu-pintu itu penuh sesak karena banyaknya orang yang berdesak-desakan.” (Hadis sahih sebagaimana dalam Shahih al-Jāmi‘ al-Shaghir no. 2190)
Maka, pantaskah kita bercita-cita untuk menjadi bagian dari kerumunan itu? Dan apa yang sudah engkau persembahkan di jalan menuju ke sana? Di mana lembar catatan amalmu?
Di mana bukti keimananmu?
Amal salehmu semata adalah kunci yang bisa membuka pintu-pintu surga; bukan angan-angan, bukan mimpi, bukan sekadar kata-kata lisan. Tidak ada yang menjadi kunci selain amal perbuatan.
Maka siapkanlah kuncimu, wahai orang yang bertekad kuat.
Ash-Shiddiq yang Membenarkan (Mewujudkan Impiannya)
Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu menginginkan untuk masuk surga melalui delapan pintunya. Untuk itu, beliau mempersiapkan amal saleh yang akan mengantarkannya kepada apa yang ia harapkan di masa depan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa menginfakkan dua (pasang) di jalan Allah, niscaya ia akan dipanggil dari pintu-pintu surga: Wahai hamba Allah, inilah kebaikan. Siapa yang termasuk ahli shalat akan dipanggil dari pintu shalat; siapa yang termasuk ahli jihad akan dipanggil dari pintu jihad; siapa yang termasuk ahli puasa akan dipanggil dari pintu Ar-Rayyan; dan siapa yang termasuk ahli sedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.” (Hadis sahih sebagaimana dalam Shahih al-Jāmi‘ al-Shaghir no. 6109).
Abu Bakar berkata, “Apakah ada seseorang yang dipanggil dari semua pintu itu sekaligus?”
Rasulullah ﷺ bersabda, “Ada, dan aku berharap engkau termasuk di antara mereka.”
Pintu-Pintu Yang Tertutup
Salim bin ‘Abdillah bin ‘Umar berkata:
“Aku melihat dalam mimpi, seakan-akan delapan pintu surga semuanya terbuka, kecuali satu pintu saja. Maka aku bertanya, ‘Ada apa dengan pintu ini?’ Dijawab, ‘Ini adalah pintu jihad, sementara engkau belum berjihad.’
Pagi harinya aku pun segera membeli seekor kuda tunggangan yang digunakan untuk berperang.”
9) Tidurnya Ahli Surga
Di dunia, manusia mengenal makna lelah, payah, susah, dan sengsara. Kata-kata seperti itu sama sekali tidak ada dalam kamus surga. Di sana ada kenikmatan istirahat yang abadi, tanpa kelelahan; dan ketenangan yang kekal, tanpa kegundahan ataupun kesedihan.
Karena penduduk surga tidak pernah lelah, maka mereka tidak tidur; sebab tidur itu sebenarnya adalah istirahatnya orang-orang yang letih dan bersusah payah. Sedangkan di sana tidak ada lagi susah payah ataupun kerja berat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidur itu saudara kematian, sedangkan penduduk surga tidak mati.” (Hadis sahih sebagaimana dalam Shahih al-Jāmi‘ al-Shaghir no. 6808)
10) Cahaya Surga
Karena di surga tidak ada tidur, maka tidak dibutuhkan adanya malam. Di surga tidak ada malam; ia hanyalah cahaya yang disusul cahaya, sinar yang berganti dengan sinar berikutnya.
Al-Qurthubi dan ulama lain berkata: “Di surga tidak ada malam dan siang, tidak ada matahari dan tidak ada bulan. Mereka berada dalam cahaya yang terus-menerus selamanya. Mereka hanya mengetahui kadar ‘malam’ ketika tirai-tirai diturunkan dan pintu-pintu ditutup, dan mengetahui kadar ‘siang’ ketika tirai-tirai diangkat dan pintu-pintu dibuka.”
11) “Dan Di Sisi Kami Ada Tambahan (Kenikmatan)”
Para ahli tafsir sepakat bahwa al-mazîd dalam ayat ini adalah memandang Wajah Allah. Itulah kenikmatan terindah di surga, puncak kelezatan dan puncak kenikmatan yang tidak ada nikmat lain yang mampu menandinginya. Nikmat itu tidak bisa dilukiskan ataupun dibatasi dengan bahasa dan kata-kata manusia.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila penduduk surga telah masuk ke dalam surga, Allah berfirman: ‘Apakah kalian menginginkan sesuatu yang Aku tambahkan lagi untuk kalian?’ Mereka menjawab: ‘Bukankah Engkau telah memutihkan wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka?’ Maka hijab pun disingkap, dan tidaklah mereka diberi sesuatu yang lebih mereka cintai daripada memandang Rabb mereka.”
(Hadis sahih sebagaimana terdapat dalam Shahih al-Jāmi‘ al-Shaghir no. 523)
Maka bagaimana mungkin engkau tidak meminta kepada Allah agar Dia menganugerahkan kenikmatan memandang Wajah-Nya? Dan bagaimana engkau tidak berdoa dengan doa yang diajarkan dari Nabi ﷺ:
“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kenikmatan yang tidak pernah habis, penyejuk mata yang tidak terputus, dan lezatnya memandang Wajah-Mu yang mulia.”
12) Keridaan Allah Menghapus Rasa Takut dan Sedih
Takut adalah perasaan terhadap sesuatu yang akan datang di masa depan, sedangkan sedih adalah perasaan akibat sesuatu yang telah berlalu. Manusia di dunia merasa takut terhadap rezekinya, takut atas dirinya, takut atas keluarganya, takut terhadap kezhaliman, takut dari sesuatu yang tidak diketahui, takut akan kematian, takut akan kemiskinan, dan takut dari banyak hal lainnya…
Di saat yang sama, ia juga bersedih karena kehilangan anak, hilangnya rezeki, wafatnya orang yang dicintai, permusuhan kerabat, tidak dikaruniai keturunan, dan berbagai musibah lainnya.
Keadaan-keadaan ini bisa jadi merupakan hukuman atas suatu dosa, atau ujian yang dengannya Allah mengangkat derajat orang-orang beriman. Itu semua terjadi di dunia.
Adapun di akhirat, tidak ada lagi hukuman dan tidak ada ujian, yang ada hanyalah rahmat dan keridaan Allah yang menghapus makna rasa takut. Karena itu, di surga tidak ada rasa takut dan tidak ada kesedihan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila penduduk surga telah masuk ke dalam surga, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘Apakah kalian menginginkan sesuatu sehingga Aku menambahkannya bagi kalian?’ Mereka menjawab: ‘Wahai Rabb kami, adakah lagi yang lebih tinggi dari apa yang telah Engkau berikan kepada kami?’ Maka Allah berfirman: ‘Keridaan-Ku lebih besar.’” (Hadis sahih sebagaimana dalam Shahih al-Jāmi‘ al-Shaghir no. 524)
Lathifah (Faidah Indah)
Ahmad bin Harb berkata:
“Kita ini lebih memilih berteduh daripada terkena panas matahari. Lalu mengapa kita tidak lebih memilih surga daripada neraka?!”
13) Orang Terakhir Yang Masuk Surga
Dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa orang terakhir dari penghuni surga yang masuk surga adalah seorang lelaki. Allah berfirman kepadanya: “Berangan-anganlah!”
Maka ia pun memohon kepada Rabbnya dan berangan-angan. Sampai-sampai Allah – karena kemurahan dan kebaikan-Nya – mengingatkannya berbagai nikmat yang ia minta. Hingga ketika semua keinginannya habis, Allah berfirman:
“Itu semua untukmu, dan yang semisalnya bersamamu lagi.”
‘Atha bin Yazid berkata: Orang yang meriwayatkan hadis ini dari Abu Hurairah berkata:
“Abu Sa‘id waktu itu bersama Abu Hurairah, dan beliau tidak menolak sedikit pun hadisnya, sampai ketika Abu Hurairah menyebutkan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla berfirman kepada lelaki itu: ‘dan yang semisalnya bersamamu,’ Abu Sa‘id berkata:
‘Dan sepuluh kali lipat semisal itu lagi bersamanya, wahai Abu Hurairah!’
Abu Sa‘id berkata: ‘Aku bersaksi bahwa aku menghafal dari Rasulullah ﷺ sabdanya: “Itu untukmu dan sepuluh kali lipat semisalnya.”’
Abu Hurairah berkata: ‘Itulah orang terakhir dari penghuni surga yang masuk surga.’
Hadis ini sahih sebagaimana dalam Shahih al-Jāmi‘ al-Shaghir no. 1557.
(Diterjemahkan dari kita Hibbi Ya Rihal Iman, karya Khalid Abu Syadi)



