Hal-Hal yang Dimakruhkan dan Diharamkan dalam Puasa

Hal-Hal yang Dimakruhkan dan Diharamkan dalam Puasa
1. Dimakruhkan Mengkhususkan Bulan Rajab dengan Puasa
Dimakruhkan mengkhususkan bulan Rajab dengan puasa, karena hal itu termasuk syiar (kebiasaan) jahiliah; dahulu mereka mengagungkan bulan tersebut. Jika seseorang berpuasa Rajab bersama bulan lain, maka tidak makruh, karena saat itu ia tidak mengkhususkannya dengan puasa.
Diriwayatkan dari Ahmad bin Kharsyah bin al-Hurr, ia berkata:
كلوا، فإنما هو شهر كانت تعظمه الجاهلية
“Aku melihat Umar bin al-Khaththab memukul tangan orang-orang yang berpuasa Rajab hingga mereka meletakkannya ke makanan, dan beliau berkata: ‘Makanlah kalian, karena sesungguhnya itu hanyalah bulan yang dahulu diagungkan oleh orang-orang jahiliah.’” (Al-Albani menisbatkannya kepada Ibnu Abi Syaibah dan berkata: sahih. Irwa’ al-Ghalil 4/113)
2. Dimakruhkan Mengkhususkan Hari Jumat dengan Puasa
Berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
لا تصوموا يوم الجمعة، إلا أن تصوموا يومًا قبله أو يومًا بعده
“Janganlah kalian berpuasa pada hari Jumat, kecuali jika kalian berpuasa sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.” (HR. al-Bukhari no. 1985 dan Muslim no. 1144)
Jika ia berpuasa bersama hari lain, maka tidak mengapa berdasarkan hadis tersebut.
3. Dimakruhkan Mengkhususkan Hari Sabtu dengan Puasa
Berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
لا تصوموا يوم السبت إلا فيما افترض عليكم
“Janganlah kalian berpuasa pada hari Sabtu kecuali pada puasa yang diwajibkan atas kalian.” (HR. Abu Dawud no. 2421, at-Tirmidzi no. 744, Ibnu Majah no. 1726, al-Hakim 1/435; dinilai hasan oleh at-Tirmidzi, disahihkan al-Hakim sesuai syarat al-Bukhari dan disepakati adz-Dzahabi; disahihkan al-Albani)
Maksudnya adalah larangan mengkhususkan hari Sabtu dengan puasa. Jika digabungkan dengan hari lain maka tidak mengapa. Hal ini ditunjukkan oleh sabda Nabi ﷺ kepada Ummul Mukminin Juwairiyah ketika beliau masuk menemuinya pada hari Jumat dalam keadaan ia berpuasa:
أصمتِ أمس؟ قالت: لا. قال: تريدين أن تصومي غدًا؟ قالت: لا. قال: فأفطري
Beliau bersabda:
“Apakah engkau berpuasa kemarin?”
Ia menjawab: “Tidak.”
Beliau bertanya: “Apakah engkau ingin berpuasa besok?”
Ia menjawab: “Tidak.”
Beliau bersabda: “Maka berbukalah.”
(HR. al-Bukhari no. 1986)
Ucapan beliau ﷺ: “Apakah engkau ingin berpuasa besok?” menunjukkan bolehnya berpuasa hari Sabtu jika bersama hari lain.
Imam at-Tirmidzi رحمه الله berkata setelah meriwayatkan hadis larangan tersebut:
ومعنى الكراهية فى هذا: أن يختص الرجل يوم السبت بصيام؛ لأن اليهود يعظِّمون يوم السبت
“Makna kemakruhan di sini adalah seseorang mengkhususkan hari Sabtu dengan puasa, karena orang-orang Yahudi mengagungkan hari Sabtu.”
4. Haram Berpuasa pada Hari Syak (Hari yang Diragukan)
Yaitu hari ke-30 bulan Sya‘ban jika langit tertutup sehingga hilal tidak terlihat. Jika langit cerah maka tidak ada keraguan.
Dalil keharamannya adalah hadis ‘Ammar رضي الله عنه:
من صام اليوم الذي يشكُّ فيه فقد عصى أبا القاسم
“Barang siapa berpuasa pada hari yang diragukan, maka ia telah bermaksiat kepada Abul Qasim (Nabi ﷺ).” (Hadis ini disebutkan secara mu‘allaq oleh al-Bukhari dalam Shahihnya dengan sighat jazm, dan diriwayatkan secara bersambung oleh at-Tirmidzi no. 689 dan lainnya; ia berkata: hadis hasan sahih; disahihkan al-Albani)
Dan sabda Nabi ﷺ:
لا يتقدمَن أحدكم رمضان بصوم يوم أو يومين، إلا أن يكون رجل كان يصوم صومه فليصم ذلك اليوم
“Janganlah salah seorang di antara kalian mendahului Ramadan dengan berpuasa sehari atau dua hari sebelumnya, kecuali seseorang yang memang memiliki kebiasaan berpuasa, maka hendaklah ia berpuasa.” (HR. al-Bukhari no. 1914)
Maknanya: jangan mendahului Ramadan dengan berpuasa sehari yang dihitung sebagai bagian darinya karena kehati-hatian. Puasa Ramadan terkait dengan rukyat (melihat hilal), maka tidak perlu berlebihan.
Adapun orang yang memiliki kebiasaan puasa rutin, maka tidak mengapa karena itu bukan dalam rangka menyambut Ramadan. Demikian pula dikecualikan puasa qadha dan nazar karena keduanya wajib.
5. Haram Berpuasa pada Dua Hari Raya
Berdasarkan hadis Abu Sa‘id al-Khudri رضي الله عنه:
نهى النبي – ﷺ – عن صوم يوم الفطر والنحر
“Nabi ﷺ melarang berpuasa pada hari Idul Fitri dan Idul Adha.” (HR. al-Bukhari no. 1991)
Dan hadis Umar bin al-Khaththab رضي الله عنه:
هذان يومان نهى رسول الله – ﷺ – عن صيامهما: يوم فطركم من صيامكم، واليوم الآخر تأكلون فيه من نسككم
“Ini adalah dua hari yang Rasulullah ﷺ melarang berpuasa padanya: hari berbukanya kalian dari puasa kalian, dan hari kalian makan dari sembelihan (kurban) kalian.” (HR. al-Bukhari no. 1990)
6. Dimakruhkan Berpuasa pada Hari-Hari Tasyriq
Yaitu tiga hari setelah hari Nahr (Idul Adha): tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.
Berdasarkan sabda Nabi ﷺ tentang hari-hari tersebut:
أيام أكل وشرب وذكر لله عز وجل
“Hari-hari itu adalah hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Muslim no. 1141)
Dan sabda beliau ﷺ:
يوم عرفة ويوم النحر وأيام التشريق عيدنا أهل الإسلام، وهي أيام أكل وشرب
“Hari Arafah, hari Nahr, dan hari-hari Tasyriq adalah hari raya kita kaum Muslimin; itu adalah hari makan dan minum.” (HR. at-Tirmidzi no. 777; ia berkata: hasan sahih; disahihkan al-Albani)
Namun diberikan keringanan untuk berpuasa pada hari-hari tersebut bagi orang yang berhaji tamattu‘ atau qiran jika tidak mendapatkan hewan hadyu (kurban), berdasarkan hadis ‘Aisyah dan Ibnu Umar رضي الله عنهم:
لم يُرَخَّص في أيام التشريق أن يُصَمن إلا لمن لم يجد الهدي
“Tidak diberi keringanan untuk berpuasa pada hari-hari Tasyriq kecuali bagi orang yang tidak mendapatkan hewan hadyu.” (HR. al-Bukhari no. 1997–1998)
Sumber Fikih Muyassar



